Previous Chapter 3 :

``Hey Sunbae, ini aku, Jimin. Maaf sebelumnya telah lancang menulis di lembar jawabanmu . Tapi aku hanya ingin mengajakmu untuk bertemu di taman dekat halte bus kemarin setelah pulang sekolah. Apa kau mau? Jika kau mau aku akan menunggumu, sebab ada yang harus aku bicarakan denganmu. Tak apa jika kau sibuk, aku mengerti mungkin lain kali saja jika kau ada waktu untuk bertemu denganku.

Itu saja yang ingin aku sampaikan, maaf sekali lagi Sunbae, aku telah mencoret-coret lembar jawabanmu ini, heuheu. – Jimin.``

.

.

Title : ILLUMINATIVE

By : dyn_amity

Park Jimin & Min Yoongi

[MinGa/MinYoonMin]

And Other

Rated : T

Genre(s) : ?

Caution :

WARN! BL! BROMANCE! YAOI! BXB! TYPO!

DON'T BE A PLAGIAT || RnR Pleaseeu ...

DON'T JUDGE AUTHOR. OK!

.

.

';Cause You're The One, Who Illuminating me from the darkness;'

.

100 % Mine

.

_dyn_

Last Chapter

.

.

" Jimin Oppa?"

Jimin menoleh kearah belakangnya sesaat indra pendengarannya dimasuki seruan dari seorang gadis dibelakangnya. Awalnya dia sedikit terkejut akan kedatangan gadis pemilik nama Kim Ye Won itu, bukannya dia tadi mengajak Yoongi sunbae untuk menemuinya di taman waktu itu. Tapi kenapa sosok gadis imut ini yang datang mengarah kepadanya. Tidak mungkin bahwa sosok yang kini tengah ada dihadapannya adalah si Ketua kesisiwaaan itu tapi kini dengan rupa seorang gadis.

"Oh Ye Won-ie sedang apa disini?" si Park membalas seruan dari gadis berambut panjang itu. Dan dibals oleh gadis Kim itu dengan wajah cemberutnya.

Jimin tak salah berujarkan tadi. Tapi kenapa reaksi adik kelasnya seperti itu.

" Sudah kubilang, panggil saja aku Umji, Oppa. Bagaimana sih ... padahal aku sudah pernah bilang waktu itu. Masa kau tidak ingat." Ujar Kim Ye Won aka Umji itu dengan nada sedikit sebal di akhir. Jimin terkekeh sebentar, dia baru teringat bahwa dia pernah di suruh atau lebih tepatnya diancam oleh gadis ini untuk memanggilnya Umji saja jika sedang diluar sekolah. Mengingat bahwa dia dan Umji masih terikat hubungan keluarga, meskipun keluarga jauh.

Jimin berdehem sebentar, setelah terkekeh kecil. " Oh, Oke. Jadi sedang apa kau disini Umji~ya?" gadis itu mengembangkan senyum sumringahnya, pertanda senang. "nah, begitu dong. Aku sedang menunggu Eunha untuk jalan – jalan sore, dan kebetulan aku melihat Oppa disini. Jadi aku menghampirimu untuk membunuh waktu biar tak terlalu bosan menunggu. Kau sendiri, sedang apa disini Oppa?"

Sedari Umji menceritakan bagaimana dia bisa berada disini bersama si Park, Jimin masih mendengarkan meski hanya satu dua kalimat yang bisa ia dengar dari gadis itu. Dia tak fokus antara mendengarkan kalimat yang diutarakan oleh gadis itu dengan mendengar suara dari kepalanya yang uring – uringan mendengungkan kemungkinan jika si ketua osis itu tidak bisa menemuinya hari ini.

"Oppa, kau mendengar aku kan?" tanya Umji sedari tadi berusaha menyadarkan Park Jimin dari ketermenungannya. Sambil menggerakkan bahu kanan si Park, selang beberapa detik akhirnya si pemuda Park itu sadar juga.

"Oh, Umji kau tadi bicara apa. Maaf aku tidak dengar?" lalu setelahnya tawa kikuk Jimin terukir. Gadis itu menghela nafasnya sebentar kembali mengulang lagi pertanyaan pada Jimin. "Kau sedang apa disini Oppa?"

"Ohh, a-aku sedang menunggu seorang te-teman." Kata Jimin dengan sedikit terbata diujung kalimatnya. Tapi jawaban dari si Patrk tak mampu memenuhi keinginan adik kelasnya yang terlampau selalu ingin tahu segalanya. Gadis kecil dihadapannya kini tengah memicingkan matanya penuh selidik kepada si Park. "Benarkah? Cuma sekedar teman? Aku tidak percaya."

"Apa maksudnya si Umji ini?" batin Jimin menggumam bertanya-tanya.

"Apa yang kau maksud Umji~ya, aku tidak mengerti. Dan ya sudah kalau kau tidak percaya, yang penting aku sudah mengatakan tujuan aku datang kesini." Ujar Jimin panjang lebar berkata sekali nafas, banyak memikirkan si manis datar itu berpengaruh kepada Jimin. Contohnya jadi hilang fokus dan banyak mendapat tatapan bingung dan juga sindiran dari beberapa orang yang melihatnya.

"Dan tujuanku hanya satu yaitu menunggu Yoongi Sunbae." Untuk yang satu ini disuarakan Jimin dalam hatinya yang paling dalam.

Sebelum Umji bersiap memberondongi pertanyaan kepada Jimin lagi. Si Park akhirnya bisa bernafas sedikit lebih lega berkat panggilan telepon yang didapat oleh si gadis dihadapannya itu. Dia bisa terlepas dari jerat belenggunya sendiri dan juga si Umji tentunya. Karena selama ini dia terus dihantui perasaan hatinya sendiri apakah benar dia telah menetapkan hatinya untuk si Min judes Yoongi.

"Oh, kau sudah ada didepan halte. Aku ada di taman dekat halte. Oh, Arraseo aku akan segera kesana."

Umji menutup sambungan teleponnya itu dengan tidak bersemangat."Huh, padahal aku ingin memberondongimu pertanyaan seputar 'teman mu', Oppa. Lain kali saja, aku tanyakan lagi. Sekarang temanku sudah ada dihalte dan ..."

Belum sempat Umji menyelesaikan perkataannya Jimin dengan santainya menyela.

"Eoh, Arraseo. Cepat sana temui temanmu, nanti dia akan marah dan tidak mau lagi berteman denganmu. Dan jangan terlalu dipikirkan tentang teman ku, nanti kau akan suka lagi" Ujar Jimin dan dilanjutkan dalam hati " Seperti aku juga suka kepadanya."

" Kau tidak seru, Oppa. Baiklah aku pergi dulu. Oh, iya Oppa, Daahh " Kata Umji sambil terkekeh melenggang pergi meninggalkan Jimin sendiri di taman. Untung saja si Umji tak menghiraukan kalau teman yang di maksud Jimin adalah seorang teman laki – laki.

Laki – laki cantik maksudnya.

.

.

.

_dyn_

Dari jam 5 sore waktu setempat sampai jam mengarahkan jarum jamnya ke angka 7. Kaki Jimin seperti tertancap disana, di taman dekat halte hanya untuk menunggu kedatangan Sunbae Judesnya. Tapi memangnya siapa yang akan tahan untuk menunggu seseorang selama itu. Hanya orang bodoh dan tolol yang akan melakukannya meskipun pada hasil akhirnya tetap sama, yaitu orang yang akan ditunggu takan datang dan orang yang menunggu masih tetap saja berdiri mematung seperti idiot sedang tersesat dijalan buntu. Haruskah Pemuda Park termasuk kedalam golongan orang seperti yang tadi disebutkan?

Sebagian kecil dari hati Jimin memang memanas, mendapati bahwa akhir dari acara menunggunya tersebut mendapat nilai nol besar. Bahkan tak secuil dari organ tubuh dan raut wajah datar kebanggaan si Min dapat terlihat atau nampak oleh pelupuk mata kecil si Park. Tapi tak ada gunanya juga menyesali apa yang telah diperbuat, masih ada hari esok untuk mendapatkan hal yang kita ingin dihari berikutnya, dan dapat menghilangkan rasa sesal di hari kemarin bukan.

Jimin mencoba berpikir positif kepada seniornya tersebut. Mungkin saat pulang sekolah dia harus mengadakan rapat harian, mengingat dia juga sebagai ketua osis yang masa periode kekuasaannya akan lengser. Tugas terakhirnya adalah dengan menyiapkan acara tahunan untuk kelas sepuluh yaitu acara kemping di luar kota, dan dia yang akan jadi ketua pelaksananya. Ngomong – ngomong itu hanya pemikiran dari Jimin, tapi bisa jadi juga memang benar intuisi yang ada didalam benak si Park. Kalau memang benar si Min itu sedang sibuk sehingga tidak bisa memenuhi ajakan adik kelasnya. Park Jiminnya saja mungkin yang bodoh kenapa bisa- bisanya dia mengajak orang super sibuk seperti ketua Osis itu.

" Oyy, Park. Maaf terlambat."

Jimin berjengit kaget saat indra pendengarannya menangkap suara datar dan rendah milik si pucat Min. Si Park membalikkan badannya kebelakang ingin melihat apakah benar suara yang menginterupsinya tadi benar milik pemuda asal Daegu tersebut. Tenyata benar,ini nyata bukan hayalan semu ataupun angan kosong Jimin saja. Pemuda Min itu datang, mencoba memenuhi ajakan adik kelasnya. "Eoh, Sunbae!? Kupikir kau tidak akan datang?"

.

.

.

_dyn_

"Bodoh ..."

Tutur si Min kepada pemuda Busan itu. Dan tanggapan pemuda Park itu hanya mengedikan bahunya acuh tak merasa bahwa apa yang dilakukannya salah. Toh sekarang orang yang ditunggunya sudah ada dihadapannya. Jadi masalah selesai, Min Yoongi datang dan tinggal Park Jimin sekarang memikirkan bagaimana dia mengungkapkan apa yang ingin ia utarakan kepada pemuda manis tapi jutek dihadapannya.

" ... kalau aku jadi kau pasti aku sudah pergi sedari tadi, dan akan kupastikan orang yang kutunggu itu hanya akan tinggal nama saja di hari esok saat aku menemuinya." Ujar ketua kesiswaan itu, tapi Jimin seperti menganggapnya adalah sebuah bentuk penyesalan yang ingin disampaikan dengan cara yang lain. Dan hal itu membuat senyum Jimin terkembang meski hanya segaris tipis yang dapat diumbar olehnya.

Park Jimin kini semakin melebarkan senyumnya, dari awal dia tahu pasti pemuda Min ini akan menemuinya. Tapi memang jalannya saja yang tak begitu mulus yang harus ditempuh si Park. Dia harus melewati yang namanya kesabaran dan keteguhan hati menunggu si judes Yoongi menemuinya. Tak sia – sia dia mengorbankan banyak waktu hanya untuk seorang pemuda bermarga Min tersebut.

"Sunbae, kau terlalu berlebihan. Masih untung kau datang kalau tidak, besok kau pasti akan jadi seperti yang kau sebutkan tadi, hahaha." Sontak cuitan santai dari si Park dibuahi delikan tajam dari si pendengar.

"Sial. Apa aku tadi salah bicara ya?" rutuk si pemuda Park menyesali perkataannya barusan.

"Oh jadi kau berniat membunuhku jika saja aku tidak datang menemuimu, begitu Park? Tanya Yoongi terasa mengintimidasi Jimin. Dengan cepat si Park buru – buru menginterupsi sebelum terjadi kesalahpahaman nantinya. " Tidak, Sunbae. Maksudku, a-aku hanya bercanda, jangan terlalu diambil hati. heuheu. Dan juga aku tak keberatan jika harus menunggu untuk 3 jam kedepan asal kau mau datang aku tetap akan menunggu mu, Sunbae."

Pemuda Busan itu menunggu reaksi yang akan diciptakan pemuda Min dihadapannya. Takut – takut si Min akan mengeluarkan amukannya jika tadi memang benar dia salah ucap atau apapun.

" Ok, aku takan mempermasalahkan hal itu sekarang, Park. Yang penting sekarang cepat uraikan apa yang akan kudengar sekarang juga, karena aku juga sudah lelah ingin pulang segera. Dan kuingatkan jika kau berkata omong kosong, akan kupastikan jika yang besok akan tinggal nama saja itu kau!? Paham!"

Mungkin saat itu adalah akhir dari perjalan hidup Jimin. Selama delapan belas tahun perjalanan hidup si Park baru kali ini ia mengalami kegugupan yang setengah mati dia rasakan seperti sekarang. Ingin rasanya seorang Jimin menceburkan dirinya sendiri kedanau yang ada didekatnya tersebut sebelum ada campur tangan Min Yoongi yang akan membantunya tenggelam.

Apa yang harus Jimin lakukan sekarang. Dirinya sendiri pun bingung harus bagaimana dia menyampaikan ujaran yang akan diutarakannya kepada ketua kesiswaan itu.

"Jadi begini, Sunbae ..."

Jimin menjeda sebentar perkataanya untuk melihat bagaimana air muka abang kelasnya saat ini. "Masih tetap sama, datar." Ujar Jimin dalam hati. Entahlah menurut Jimin raut datar Yoongi memliki dua kesimpulan antara dia bosan atau memang dari struktur wajahnya yang memang terkesan cuek seperti itu. Si Park berharap bahwa opsinya yang pertama salah, semoga saja.

" ... a-aku ingin mengatakan a—apa kau mau jadi ke—kekasih ... ku, Sunbae?"

.

.

.

_dyn_

Sejak pengakuan cinta yang Jimin lontarkan kepada Yoongi. Si Park bingung apakah pernyataan cintanya disetujui si Min atau tidak. Pasalnya selang 5 detik setelah dia mengatakannya reaksi si ketua kesiswaan itu hanya diam seribu bahasa, hanya yang berubah dari sorot matanya yang mengarah tajam pada Jimin.

Seolah Min Yoongi ingin menelisik apakah ada raut kebohongan terpancar dari visualisasi seorang Park Jimin di hadapannya. Nyatanya memang benar tak ada apapun yang namanya kebohongan terpampang diwajah tampan si Park. Ini membuat Yoongi bingung, antara mengkonfirmasnya dengan ucapan 'ya' atau 'tidak'. Tapi entah dapat ilham darimana Yoongi pun tak tahu dia maju kedepan untuk mengeliminasi jarak antaratubuhnya dengan pemuda Busan itu.

CUP

Tolong seseorang sadarkan Park Jimin segera. Karena kalau tidak dia akan menjadi seorang maniak karena tengah tersenyum bodoh setelah insiden Yoongi menciumnya sekilas tepat di bibir. Dan si Pelaku kini telah hilang dari pandangan si Korban. Entah karena apa Jimin sendiri pun tak tahu, kenapa si Min bertindak seperti barusan. Setelah sadar dari keidiotannya, Jimin kini tengah terpaku pada pertanyaa di bathinnya sendiri. Apakah ketua kesiswaan itu menerimanya atau tidak.

Park Jimin berniat menanyakan keesokan harinya. Tapi sampai saat ini setelah hari ketiga dia menyatakannya. Batang hidung dan kulit pucat Min Yoongi belum secuil pun terlihat di kedua bola mata Jimin.

" Heol, ada dimana kau Min Sugar?" tanya si Park entah kepada siapa.

Mata kecil Park Jimin berbinar saat dia menangkap satu – satunya informan yang bisa mengorek informasi tentang Min Yoongi.

"Kookie!" Jimin bergegas menuju kearah berdirinya Jungkook, sambil berharap – harap cemas apakah adik kelasnya itu mengetahui keberadaan si manis sugar.

"Apa Hyung?" si Jeon menanggapi kakak kelasnya tersebut dengan berat hati. Karena dia sebenarnya tengah sibuk menyiapkan untuk acara kemping esok hari, terlihat dari dia membawa peralatan untuk berkemah ditanggannya.

Si Park mengembangkan senyumnya terlebih dahulu lalu berujar kepada pemuda yang lebih muda darinya. " Kook, kau tahu Yoongi Sunbae ada dimana?"

Si Jeon mendengus mendengar pertanyaan dari Jimin. " ck, Hyung kau to the point sekali. Tak mau berbasa – basi dulu apa?" kicau Jungkook sekaligus mengkode Jimin supaya membantunya membawakan barang – barang yang dibawanya.

Sontak hal itu mengundang dengusan juga dari si Park. " Yak Kookie, aku kesini bukan untuk membantu mu, aku cuma ingin bertanya dimana Yoongi Sunbae. Lagi pula kenapa dari kemarin aku hanya melihatmu saja yang sibuk kesana kemari mengurus keperluan untuk kemping? memangnya anggota kesiswaan yang lain kemana? Jangan bilang kalau hanya kau saja yang bekerja keras untuk hal ini Kook?"

Jungkook tercekat mendengar pernyataan dari si Park yang terdengar seperti menginterogasinya.

"Eh, tidak Hyung kau berlebihan sekali. Anggota yang lain sibuk dengan bagiannya masing – masing. Mungkin memang aku saja yang sedang sial, karena menerima tugas yang berat dan melelahkan ini." cetus si Jeon sekaligus curhat juga mengenai tugasnya menjadi anggota kesiswaan inti.

Pemuda yang lebih tua dari Jungkook, sedikit merasa iba dengan si Jeon. Tapi mau bagaimana lagi, kenapa juga dia mau menjadi anggota kesiswaan yang banyak menyita waktu belajarnya dan berletih ria dengan acara tahunan sekolah. Harusnya pihak sekolah yang menyiapkan segalanya, bukan malah meminta bantuan dari pihak Osis. "Anggotanya saja sudah kelelahan seperti ini, bagaimana dengan ketua Osisnya ya?" celetuk Jimin dalam hatinya.

" Yoongi Sunbae, sudah ada di lokasi kemping, di perkemahan Nanji dekat Sungai Han. Dia sedang membangun tenda bersama dengan anggota Osis kelas 12 lainnya, Hyung."

Ungkap Jungkook mencoba menyadarkan kakak kelasnya yang melongo ditempatnya. Lalu si Jeon beranjak pergi setelah mendegar ucapan terima kasih dari Jimin untuk melanjutkan tugasnya. Meninggalkan si Park dengan ketermenungannya, memikirkan apakah dia harus menyambangi Yoongi Sunbae kesana?

.

.

.

_dyn_

Disinilah Jimin berdiri bertempat disamping tenda khusus anggota kesiswaan, sambil menyilangkan kedua tangannya didepan dada,. Sambil sesekali sudut bibirnya mengembang melihat interaksi ketua kesiswaan itu ditengah acara camp. Saat sedang menjelaskan aturan acara camp dia akan menunjukkan ekspresi sumringahnya untuk membuat siswa kelas sepuluh itu semangat. Tapi berubah datar lagi saat wajahnya tak diperlihatkan kepada para adik kelasnya.

Jangan tanya kenapa Jimin juga ada disini, dan kebetulan sekali dia dan beberapa teman klub yang lainnya yang menjadi utusan dari klub basketnya untuk memperkenalkan organisasinya kepada kelas sepuluh agar berminat gabung dengan klubnya. Itu sebabnya Si Park beruntung kesini sekalian dia bisa berjumpa dengan ketua kesiswaan pujaan hatinya.

Langit sore sudah menampakan dirinya, berusaha menginterupsi kegiatan camp dibawahnya agar segera rehat sebentar dan meninggalkan lapangan rumput itu agar masuk ke tenda masing – masing. Begitu pun dengan sang ketua panitia camp tersebut beranjak dari tugasnya sebentar untuk merilekskan tubuhnya barang sedetik saja. Namun yang ada ketika Yoongi melihat tubuh tegap Jimin ada di hadapannya, tubuhnya bukannya rileks malah sekarang menegang karena terkejut.

"Hell, mau apa dia kesini? Menemuiku huh?" tanya Yoongi dalam hati.

"Sunbae ..." ujar Jimin kepada Yoongi, namun dengan segera si Min menyela kelanjutan kalimat dari si Park. " Kalau kau ingin membicarakan sesuatu denganku, tidak sekarang Park. Demi Tuhan, bukan aku bermaksud menghindar darimu, tapi biarkan aku beristirahat sejenak saja boleh?"

Jimin tertegun mendapati raut datar Yoongi tidak seperti biasanya. Dia juga ikut merasakan keletihan yang mendera si Min sekarang. Si Park juga tak ingin memaksakan kehendaknya untuk berbicara empat mata dengan pemuda Daegu itu.

" Baiklah, jika kau tak bisa bicara sekarang. Aku mengerti. Beritahu aku jika kau ada waktu untuk berbicara denganku Sunbae, kau punya nomor ku kan? Kalau tidak punya minta saja kepada Jungkook, arraseo."

Pemuda Busan yang ada dihadapan Min Yoongi terlalu berisik. Membuat Yoongi mengedikkan bahunya acuh, tapi dia mendengarkan hanya saja dia tak terlau ambil pusing atas pernyataan Si Park. Yang dia butuhkan sekarang hanya istirahat itu jika dia bisa, mengingat mungkin dia akan sibuk didatangi anggota kesiswaan yang bulak –balik datang untuk konsultasi mengenai acara yang berikutnya. Jadi Min Yoongi segera menghilang dari pandangan Jimin, karena tak ingin waktu sempitnya terganggu. Jimin hanya dapat memklumi tingkah kakak kelasnya tersebut, lalu berbalik memandangi Yoongi yang sedang berjalan kearah tenda khusus Osis." Jangan sampai sakit, Hyung! Nanti siapa yang akan menemanimu jika kau sakit, aku juga kan yang harus turun tangan." Teriak Jimin sambil setengah tertawa kepada si Min dan langsung dihadiahi delikan tajam oleh Yoongi. Tapi Jimin hanya bisa tertawa, gemas bisa menggoda Sunbae kesayangannya, bukan Sunbae lagi mungkin karena kalau tak salah dia tadi memanggilnya 'Hyung' .

.

.

.

_dyn_

Sebenarnya Jimin sudah tahu nomor ponsel ketua kesiswaan itu berapa. Jungkook yang memberitahunya dan itu karena si Park memaksa memberitahunya, kalau tidak dia akan dilaporkan Ibunya jika kemarin lusa Jimin melihat si Jeon keluar dari arena permainan bowling hingga larut malam. Dan mau tak mau pemilik gigi kelinci itu memberikan nomor ponsel Yoongi.

Park Jimin menatap layar ponselnya dengan senyum tercetak dibibirnya, disana tertera dengan jelas nama kontak Yoongi yang diberi nama'Min Sugar' oleh si empunya ponsel.

Tak berapa lama ponsel si Park berdering menandakan ada pesan yang masuk.

Sender : Min Sugar {0838xxx9843}

Jika ada yang ingin kau bicarakan, temui aku di dekat sungai Han setelah acara ini selesai, Park.

Tertanda : Ketua Osis SOPA High School – Min Yoongi.

Senyum si Park semakin mengembang mengetahui itu pesan dari si pria Daegu manis. Dia dengan cepat menekan tombol reply dan mengetik beberapa kata untuk di kirim kepada si Min.

To : Min Sugar {0838xxx9843}

Siap Hyung, eh maksudku Sunbae. Aku akan menemuimu disana :-D.

Tertanda : Si Malaikat yang punya nama – Park Jimin.

Laporan terkirim sukses, Jimin bersiap menunggu balasan dari kakak kelasnya. Tapi hingga 15 menit terlewat ponselnya masih diam tak ada nada dering lagi yang seolah menginterupsinya jika belum ada pesan yang masuk. Si Pria Busan menghela nafasnya kecewa, mengetahui bahwa sang ketua Osis itu tak merespon lagi balasannya.

.

.

.

_dyn_

Entahlah pemuda bermarga Min itu pun tak tahu pasti. Bahwa kini debaran jantung bergerak tak normal, hanya karena dirinya sedang menunggu kedatangan adik kelasnya. Sebelumnya dia sangat mengatisipasi yang namanya menunggu, apalagi menunggu di saat jarum jam hampir melewati tengah malam.

PUK

Sebuah tepukan berhasil mendarat di pundak sempit milik Yoongi. Sang pemilik pundak itu membalikkan badannya untuk mengetahui siapa pelakunya.

" Hei, Sunbae sudah lama menunggu ya?" tanya Jimin dan langsung dijawab oleh si Min. "Tidak, aku baru saja sampai beberapa menit yang lalu." Ungkap Yoongi, tapi sebenarnya dia sudah menunggu sejak satu jam yang lalu karena penasaran apa yang akan diujarkan si Park kepadanya. Cuman dia malu untuk mengungkap yang sebenarnya kepada si Park. Ketua kesiswaan itu punya malu juga rupanya, biasanya dia yang akan mempermalukan siswa yang terlambat dengan menghukumnya didepan siswa yang sedang berolahraga di lapangan.

Si Park hanya menganggukan kepalanya tanda mengerti. Tak ingin memperpanjang persoalan, meski dia tahu bahwa kini si Min tengah berbohong padanya. Sebenarnya dia tahu bahwa pria didepannya ini sudah menunggu sejak satu jam yang lalu, hanya saja dia menunggu terlebih dahulu apakah kalau dia terlambat Yoongi akan marah padanya atau tidak.

" Cepat katakan apa yang ingin kau katakan, Park."

Si Park meneguk ludahnya kasar, sungguh kini ia sangat gugup luar biasa.

" I-itu sebenarnya apa kemarin kita sudah resmi jadian, Sunbae? Kau membingungkan saat pergi begitu saja tanpa mengucapkan sesuatu apapun sesudah aku menyatakan perasaanku padamu. Dan juga aku tak mengerti dibagian kau men-ci-ciumku kemarin, Sunbae? "

Setelah Park Jimin mengatakan unek – unek yang ada dihati dan pikirannya, dia merasa sedikit lega tinggal dia mendengar jawaban dari pertanyaannya dari Min Yoongi.

Tinggal si manis datar Yoongi yang gugu harus menyahut apa. Tapi dia dengan tenang menutupi kegugupannya dan menjawab seadanya. Karena dia pikir mulai menyukai pemuda Park dihadapannya kini.

" Iya,kita kini sudah jadian, puas kau." Jawab Yoongi datar meski dalam hatinya tengah memborbardir keras. Memang tipikal si Min sekali yang suka menutupi emosi yang sebenarnya ia rasakan.

Terlalu berlebihan sekali jika si Park menyebut dunia ini hanya miliknya berdua dengan si Min sekarang. Jimin berharap kepada Tuhan kalau dia ingin meminjam sebentar dunia ini untuk menikmati saat paling membahagiakan dalam hidupnya berdua bersama Sunbae yang ada disebelahnya kini.

" Hei Sunbae, sekarang apa boleh aku memanggilmu Hyung?"

Yoongi sedikit terkejut mendengar ujaran dari si Park. " Eoh, terserahmu saja, Park." Si Min menjawab dengan santai diiringi senyum kecilnya.

.

.

.

_dyn_

Mereka berdua – Jimin dan Yoongi – berjalan beriringan dengan sesekali tangan mereka bertautan namun terlepas lagi saat ada orang lain lewat dihadapan keduanya. Suasana diantara kedua begitu terasa canggung, sampai salah satu diantaranya – Pemuda Busan - menghentikan langkahnya dan dihadiahi tatapan bingung dari Pemuda Daegu.

" Sunbae, eh maksudku Hyung..." Jimin memulai percakapannya dengan sebelumnya di menggengam terlebih dahulu tangan mulus milik Yoongi dan menatapnya dalam.

Si Min hanya diam dan menunggu kelanjutan ujaran si Park. " Aku rasa saat ini adalah moment paling indah bisa berada didekatmu Hyung. Aku tahu meski kesan pertama yang aku berikan padamu sangat menjengkelkan menurut sudut pandanganmu, tapi percayalah saat pertama kali aku melihat raga beserta raut datarmu itu aku langsung jatuh pada pesona dan aura yang kau pancarkan. Terlepas dari hal yang sangat membosankan dengan kau termasuk kedalam struktur organisasi Osis – dalam tingkat teratas pula – dengan orang – orang yang monoton ditambah sok berkuasa didalamnya. Aku suka semuanya, semua yang melekat pada dirimu adalah daya tarik seorang Min Yoongi yang hanya akan dipancarkan untuk dinikmati oleh seorang Park Jimin bukan.?"

" ck, Park belajar darimana kau kata-kata gula seperti itu, dari drama korea huh? Atau dari novel roman yang sering kau baca tiap akhir pekan?"

" Bagaimana Hyung tahu kalau setiap akhir pekan aku selalu membaca novel roman? Kau pasti menguntitku ya?"

Ujar Jimin dengan nada menggoda Yoongi. Yang jadi bahan godaan si Park hanya memasang raut sebal dengan kedua pipinya yang berubah warna merah semu.

"Percaya diri sekali kau Park." Cicit si Min seadanya karena tak tahu harus mengelak apa lagi.

Si Park hanya tersenyum setelah mendengarujaran dari Si Min. Kini dia memindahkan tangan kanannya ke surai lembut milik pemuda Daegi itu, yang semula mengenggam pergelang tangan putih Yoongi. Tangan Jimin mulai mengusak lembut helai kelam lelaki Min yang menguarkan bau khas bayi. Lalu tangan si Park yang lainnya berusaha membawa tubuh si Min mendekat kearahnya.

" Hyung, Saranghae."

Bisikan kalimat cinta mengalun indah disuarakan Jimin tepat didepan telinga Yoongi. Membuat pemilik telinga itu merinding dan debaran jantungnya semakin lama semakin cepat tempo bergeraknya.

" N-nado Jimin-ie, Saranghae."

Balas Min Yoongi sambil menampilkan gummy smilenya yang hanya ditunjukkan kepada seorang Park Jimin.

.

.

.

_dyn_

Kedua belah bibir itu bertemu saling melumat satu sama lain. Saat sang submisif lengah maka ini kesempatan untuk kelihaian sang dominant untuk melesakkan lidahnya memasuki gua hangat si submisif. Membuat si Min yang bertindak sebagai submisif hampir saja tersedak tapi tetap saja dia meladeni pekerjaan si dominant Park.

Kegiatan yang lumayan menguras keringat itu berakhir selang 30 detik, dan mulai merubah mode permainannya menjadi ciuman yang lembut dan tidak terburu – buru seperti sebelumnya. Menyesapnya lembut bibir mungil dan merah milik si Min dan sesekali menghujaninya kecupan kecil di sana lalu kembali menyesapnya lagi. Dan lagi Yoongi dibuat mabuk kepayang dengan pesona yang dikeluarkan oleh Jimin sekarang. Tubuh ramping si submisif hampir saja lunglai jika saja tangan sang dominant dengan cekatan menyangganya. Dengan hal itu pula Jimin berinisiatif menghentikan kegiatan mendominasi yang menjadi hobi barunya.

" Sepertinya kau lelah, Hyung. Mari kita kembali ke perkemahan sebelum aku berpikiran menghangatkan mu malam ini di pinggiran sungai Han."

Cubitan keras dari pemuda Min terasa mendarat di perut kotak – kotak si pemuda Park dan Jimin langsung mengaduh kesakitan karenanya.

" Apa maksud perkataan mu tadi, sialan?" ujar ketua Osis itu lalu melangkah pergi meninggalkan Jimin yang masih kesakitan.

Namun tak lama si Park dapat menyusul langkah cepat si Min didepannya. "Tapi kau sukakan yang tadi aku lakukan kepadamu, Hyung? Aku tahu dalam hati kau pasti berujar " God damn it, kenapa si Park ini begitu menggairahkan" benar begitu.?"

Yoongi memasang wajah datarnya tanpa menjawab ujaran dari si Park. Tapi Jimin tak berhenti diditu, dia terus menggoda si Min.

" Hyung, jawab aku. Kau menyukainya kan?"

Pada akhirnya Min Yoongi akan takluk juga pada Park Jimin.

" Oke, Park aku menyukainya puas kau! Dan jauhkan tangan laknatmu dari pantatku dasar Park mesum Jimin!"

.

.

.

KKEUT

END

SELESAI

10'13'2017

.

.

.

Dyn Note :

LAST CHAPTER IS UP!

Akhirnya selesai juga, niatnya sih mau lanjut lagi nanti tahun depan. Tapi ngga jadi, karena gw pikir ada gunanya juga nyelesai cepet2 ntar kalo ditunda bakal ilang mood buat nyelesainnya. Dan berhubung untuk nge-rayain ultahnya Mas Jimin, ciyee yg nambah tuwir haha, semoga panjang umur, sehat selalu, dan tambah sukses sama BTS yaaa. Fighting!

Dan hooplah chap 4 penuh dengan kegajean guweh, karena hanya ini yang terlintas di pikiran gue yg gabut akan kelas 12 yang banyak tugas, heuheu.

Hope U Like the ending guys, guweh ga bikin Yoongi di ini chap OOC kan? Karena guweh pikir kurang ahli dalam masalh endingnya.

And special thank's for Umji dari G-Friend yang udah mau nongol di chap. uuh makin hari makin cakep eonni ku yang satu ini.

Thank for Tuhan YME yg telah menganugerahkan ilham dan pemikirannya kepadaku sehingga terciptanya ff saya meskipun isinya seperti ini, dan orang2 sekitar yang menginspirasiku. Couple tercinta guweh YoonMin, tanpa kalian ff ini gak akan ada yg baca ,hehe. Tak lupa juga gomawo untuk yang sudah review, follow and favorite my ff, aku cinta kalian /tebar kisseu/

Reply for Review :

LittleOoh : iya ini dilanjut dan udah End. Gomawo udah sudi mampir beberapa kali di lapak buluk guweh.

Iis899 : wahh Jinjja, are u serious this ff so daebak! / ngomong apa sih lu dyn/ gomawo karena udah mengapresiasi ff low mutu guweh. Gak kepikiran juga sih kalau gaya penulisan guweh rapih karena guweh pernah mikir " ini tuh semacam pemborosan kata ngga sih?" cuzz guwe banyak memakai kosa kata yang banyak mengandung kata ambigu didalamnya, haha. Jangan heran kenapa ngga ada yang banyak baca, ya karena guweh ngga banyak promosi sana sini, LOL. Wah gue juga Yoongi, eh maksudnya komentar elu, thank's udah mau mampir dilapak bobrok milik gue yang masih bilik. Ini udah End dan jangan minta lanjut lagi, Ok.

Joah : /Yoongi : iya ini gue datang, malah gue yang nunggu si Park bantet datang coba -_-./ Ntuh udah dijawab langsung sama si Min, gue cuma mau bilang gomawo udah mampir dan memberikan 1 atau 2 patah kata yg sngt berharga.

B : bubar woyy, kenapa Note malah panjang kayak epep nya. || A : sheet, nyamber aja lu nyuk, udah selesai tah mulungnya? padahal guwe masih mau berkoar soal suka duka gue pas bikin ini ff :C || B: bodo amat :0.

.

See you in next my new project ! Bubayy

.

.

Last but not Least ... Review Juseyoooo

RnR nya boleh kok ditulis di kolom komentar :D

©dyn_amity