.

.

.

Love Shake

Jeon Wonwoo l Kim Mingyu l Other Cast

Rated : T

Disclaimer : Cerita hasil imajinasi saya sedangkan castnya milik bersama

.

.

.

Wonwoo keluar dari kamar mandi dengan handuk yang mengalung di lehernya. Ia mengeringkan rambutnya dengan handuk kemudian menaruh handuk beserta baju kotornya kedalam keranjang. Hyosung sering menitipkan Wonwoo pada Jieun atau Sunhwa saat ia sedang dapat tugas keluar kota dan keluarga bibi Jeon sedang berlibur. Jadi, Jieun pasti punya sepasang atau dua pasang baju Wonwoo yang menyelip diantara tumpukan bajunya.

Wonwoo berjalan menghampiri Jieun yang sedang menyantap sarapannya di meja makan. Ia menarik kursi yang berhadapan dengan Jieun kemudian mendudukinya.

"Sunhwa Noona pergi kemana pagi-pagi sekali?" tanya Wonwoo sambil menyendok nasi goreng ke piringnya.

Jieun menelan makanan yang berada di mulutnya terlebih dahulu sebelum berbicara, "Tanyakan pada Noonamu dan calon suaminya, mengapa mereka mau mengunjungi butik Sunhwa pagi-pagi sekali."

"Kupikir mereka bercanda saat bilang akan menikah."

"Kau tak tahu saja mereka sudah memasanku untuk menyanyi di acara pernikahan mereka nanti," cibir Jieun, "Sunhwa dapat bagian mengurus pakaiannya dan Hana mencari gedung serta konsumsi. Untuk undangan, mereka yang akan cari sendiri."

"Lalu kau?"

"Aku sibuk mempersiapkan grup asuhanku yang ingin debut. Suara mereka masih parah sekali. Aku sebagai pelatih vokalnya saja ingin menangis saat mendengarnya," Jieun memijit pelipisnya. Mengingat betapa hancurnya suara anak didiknya.

"Saat mereka debut dan sukses pasti kau juga akan bangga. Namamu pasti disebut saat mereka menerima penghargaan nanti," Wonwoo menyemangati. Tak tega melihat wajah cantik Jieun berubah menjadi frustasi.

"Semoga saja. Pencipta lagu mereka bukanlah orang biasanya. Jadi aku tak begitu percaya diri walaupun lagunya bagus."

"Kau ini pesimis sekali, Noona."

Jieun memakan suapan nasi goreng yang terakhirnya. Ia lalu menaruh sendoknya degan keadaan telungkup diatas piring. "Terserah apa katamu. Tinggalkan saja piringnya jika kau merasa piringnya akan bersih sendiri."

Dibalik ucapan Jieun terselip perintah untuk mencuci piring. Wonwoo paham. Dulu, Ia pernah pura-pura tak paham dan berakhir dengan Jieun yang mengomel dan memukuli Wonwoo dengan bantal layaknya ibu tiri.

"Oh iya Noona," Wonwoo berucap setelah keheningan melanda hampir beberapa menit. Wonwoo menghabiskan sarapannya sedangkan Jieun sibuk bermain ponsel.

"Apa?" jawab Jieun tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.

"Ponselku rusak" Wonwoo mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana kemudian menunjukkannya pada Jieun, "Tolong diperbaiki. Hari ini juga harus benar."

"Kau tinggal membawanya ke tukang service Wonwoo-ya."

"Tapi aku pasti akan disuruh menunggu tiga hari sampai ponselku benar. Kasusnya serupa dengan ponselmu dulu, Noona. Ayolah~"

"Baiklah," Jieun baru menatap Wonwoo. Ia kemudian mengantongi ponsel Wonwoo, "Jangan lupa cuci piringnya. Aku harus kembali ke bekerja. Titipkan saja kuncinya pada penjaga."

Wonwoo mengangguk beberapa kali. Tangannya dengan cekatan menumpuk piring kotor yang ada diatas meja makan kemudian membawanya ke tempat cuci piring.

"Wonwoo-ya aku pergi. Jangan lupa kunci apartemenku nanti."

Setelahnya terdengar suara pintu yang ditutup dengan lumayan keras. Semoga saja setelah ini tak ada tetangga yang datang lalu mengomel karena merasa terganggu dengan keributan yang Jieun buat.

.

.

.

.

.

Wonwoo menitipkan kunci apartemen Jieun pada penjaga. Ia kemudian berjalan keluar dari apartemen Jieun dengan santainya. Lupakan soal kelas pagi. Kelas pagi yang ia maksud adalah mengumpulkan tugas. Deadlinenya sampai jam sembilan nanti. Sekarang masih sekitar pukul delapan. Wonwoo hanya menebak dari betapa teriknya sinar matahari. Ia sedang tak memakai jam dan tak ada ponsel.

"Sudah bertemu dengan Jieun?" tanya seorang lelaki yang bersandar di salah satu batang pohon dengan segelas kopi ditangannya.

Wonwoo berhenti lalu menoleh, "Kau siapa?"

"Aku orang yang tadi."

Dahi Wonwoo mengerut. Ia memandangi lelaki itu dari atas ke bawah. Perasaan ia tak pernah bertemu dengan lelaki itu sebelumnya.

"Aku baru melepaskan jaket dan topi saja kau sudah tak mengenaliku," gerutu lelaki itu, "Aku orang yang tadi memberitahumu kalau Sunhwa sudah pergi."

Ekspresi bingung Wonwoo langsung lenyap seketika. Ia mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali, "Sebenarnya ahjussi siapa? Apa kita saling kenal?"

Lelaki itu menyesap kopinya kemudian memiringkan kepalanya sedikit, "Apa kau mengenalku?" Lelaki itu balik bertanya seraya menunjuk dirinya sendiri.

Wonwoo menggeleng, "Tidak."

"Berarti kita tidak saling kenal."

Setelahnya lelaki itu melenggang pergi. Kembali masuk kedalam gedung apartemennya. Wonwoo ditinggal begitu saja dengan ribuan tanda tanya yang hinggap di kepalanya.

Sampai akhirnya suara klakson mobil menyadarkan Wonwoo. Ia menoleh dan mendapati mobil berwarna merah menyala berhenti dengan kepala Junhui yang menyembul dari balik kaca mobil. Wonwoo segera menghampirinya.

"Kau mau kemana?" tanya Wonwoo.

"Tempatku menuntut ilmu."

"Untuk apa kau ke apartemenku kemarin jika hari ini kau ada kelas?!" Wonwoo hampir saja memukul Junhui jika lelaki itu tidak memundurkan tubuhnya.

"Bukan kelas, Jeon. Aku ingin mengumpulkan tugas. Mana kutahu kalau kau juga ada kelas pagi."

"Aku hanya ada kelas siang hari ini. Pagi ini aku bernasib sama sepertimu."

"Kalau begitu, Ayo naik."

Wonwoo mengangguk kemudian berjalan kesisi sebelah kanan mobil Jun. Ia membuka pintu mobil, duduk, kemudian menutup kembali pintunya dengan lumayan keras.

"Ya tuhan pintu mobilku, Jeon!"

"Sudah cepat jalan. Tugasku lebih penting daripada pintu mobilmu!"

.

.

.

.

.

Mingyu turun dari mobil. Tangan kanannya mengeluarkan masker hitam dari saku celana kemudian memakainya. Ia berjalan dengan tergesa-gesa memasuki area sekolah dengan kepala yang sedikit di tundukkan.

Sekolah masih sangat sepi. Hanya ada beberapa siswa dan siswi yang mayoritas berkacamata berkeliaran di koridor sekolah. Tipe-tipe pelajar yang terlalu rajin. Sisanya akan datang maksimal dua puluh menit sebelum masuk. Itu juga mereka tak akan langsung masuk ke kelas. Pasti mampir dulu ke atap, taman belakang, atau mengobrol di koridor.

Mingyu berbelok di tikungan. Ia kemudian masuk kedalam toilet. Di depan cermin besar, Ia membuka maskernya kemudian memandangi pantulan dirinya. Hampir semenit Mingyu melakukan itu. Ia lalu mengeluarkan minyak rambut serta kacamata dari dalam tasnya. Dengan bantuan Minyak rambut, Ia mengubah tatanan rambutnya menjadi klimis. Ia lalu mengenakan kaca matanya. Berubah sudah penampilannya.

"Ucapkan selamat tinggal pada Kim Mingyu yang tampan," monolog Mingyu dengan raut sedih yang dibuat-buat.

Mingyu memasukkan kembali minyak rambutnya kedalam tas. Ia terkejut mendapati koridor telah ramai saat keluar dari kamar mandi. Mungkin hari ini ia sedikit kesiangan. Gong Ahjussi harus memutar jalan untuk sampai ke sekolahnya setelah menurunkan Wonwoo di kompleks apartemen belakang universitasnya. Padahal sedikit lagi Wonwoo sampai.

Mingyu segera memutar arah saat ia berpapasan dengan Jooheon dan teman-temannya. Tas Mingyu lebih dulu ditarik oleh Jooheon saat ia hendak kabur.

"Mau kemana Kim idiot Mingyu?" Jooheon bertanya dengan nada manis yang dibuat-buat.

Mereka melupakan fakta bahwa orang yang dipanggil idiot adalah seorang juara umum di sekolah. Sedangkan mereka hanyalah tiga orang yang langganan menempati posisi terakhir.

"Lupakan si idiot ini. kita akan bermain-main dengan anak kelas satu hari ini," salah satu teman Jooheon memainkan tangan siswa berpenampilan lebih culun dari Mingyu disebelahnya.

Mingyu bernafas lega. Jooheon dan ketiga temannya pergi. Mingyu yakin tujuan mereka adalah kamar mandi yang ia pakai beberapa menit yang lalu. Kamar mandi itu jarang digunakan karena menjadi tempat langganan pembullyan. Mingyu adalah salah satu penghuni tetap daftar bullyan Jooheon di kamar mandi itu.

Mingyu tak jadi memutar arah. Ia kembali berjalan lalu berhenti di depan lokernya. Ia membuat tiga kombinasi angka pada gembok berwarna biru yang menjadi pengaman lokernya. Ia melepas gemboknya kemudian sedikit menjauh dari lokernya.

"Satu.. dua.. tiga,"

Mingyu menganga. Puluhan surat dengan berbagai warna menumpuk diatas buku-bukunya. Biasanya lokernya dipenuhi berbagai macam sampah. Itu alasan mengapa Mingyu harus sedikit menjauh dari lokernya dan memberi aba-aba terlebih dahulu sebelum membuka loker. Sampah akan langsung berjatuhan dari dalam lokernya saat ia baru saja membukanya.

Mingyu menemukan post it berwarna merah muda tertempel di belakang pintu lokernya. Ia mengambilnya kemudian membaca isinya.

Semua surat ini untuk Choi Hansol. Lokernya sudah terisi penuh jadi kami menaruhnya di lokermu. Hanya lokermulah yang kami tahu kata sandinya. lokermu juga bersebelahan dengan Hansol.

Ingat untuk Choi Hansol bukan untukmu!

Mingyu meremas post it itu kemudian membuangnya ke sembarang arah. Ia mengumpulkan semua suratnya menjadi satu, "Rasanya seperti kembali ke masa Junior High School. Mendapat surat dengan berbagai bentuk dan warna."

"Kau mendapat banyak surat Mingyu-ah," ucap Hansol yang melihat Mingyu memegang banyak surat. Ia kemudian membuka lokernya dan beberapa surat langsung berjatuhan dari dalam lokernya, "Woah, kenapa bisa sebanyak ini," Hansol menatap takjub lokernya yang dipenuhi dengan surat, hadiah dan cokelat.

"Lokermu benar-benar penuh," komentar Mingyu setelah melihat isi loker Hansol, "Pantas saja mereka menaruh surat untukmu di lokerku."

"Lokermu?"

Mingyu mengangguk lalu menyerahkan surat-surat yang sudah ditumpuk jadi satu pada Hansol, "Mungkin karena sebentar lagi kau lulus jadi mereka memberimu ucapan selamat dan kenang-kenangan."

"Aku tak mungkin membaca semuanya, kan?" Hansol mengambil cokelat-cokelat yang berada ditumpukan surat dan hadiah, "Aku juga tak mungkin memakan ini semua, kan?"

"Kau bisa membagikannya ke temanmu? Memberikannya pada Seungkwan?"

"Satu untukmu," Hansol memberikan satu batang cokelat pada Mingyu, "Seungkwan bosan makan cokelat."

"Terimakasih. Kau harus mengumumkan hubunganmu dengan Seungkwan. Mereka mungkin akan berhenti setelahnya."

"Aku malah berfikiran kalau mereka akan meneror Seungkwan."

"Percayalah padaku. Aku pernah tampan dan menjadi populer sepertimu."

Hansol menatap Mingyu dengan dahi yang berkerut, "Kau bercanda?"

"Terserah padamu mau percaya atau tidak," Mingyu menutup lokernya kemudian memasang gemboknya, "Ayo masuk kelas."

Mingyu berjalan lebih dulu. Ia tak peduli dengan Hansol yang mengikutinya atau tidak. Lagipula ia jengah dengan tatapan sinis para siswi yang lewat saat ia sedang mengobrol dengan Hansol.

Memang salah seorang Kim Mingyu yang berpenampilan culun mengobrol dengan Choi Hansol yang tampan dan populer?

Mingyu juga tak kalah populer kok. Dengan gelar Juara umum yang disandangnya.

"Mingyu-ssi" seorang gadis berkacamata dengan rambut yang diikat dua dan poni yang hampir menutupi matanya menghadang Mingyu.

"Ada apa Dahyun-ssi?"

"Untukmu," Dahyun menyerahkan sebatang cokelat pada Mingyu kemudian berlari meninggalkan Mingyu.

Tapi Mingyu terkenal di kalangan para siswa dan siswi berkacamata dan para guru.

.

.

.

.

.

Mingyu memasuki kelas yang sudah lumayan ramai. disusul Hansol di belakangnya. Ia berjalan kepojok kelas dan mendudukkan tubuhnya di kursi dekat jendela. Hansol menempati kursi sebelahnya. Mereka memang teman semeja. Hanya Hansol yang mau duduk dengan Mingyu. Hanya Hansol juga teman sekelas Mingyu yang mau mengobrol dengan Mingyu.

Tak lama kemudian Min Songsaenim memasuki kelas. Tak ada buku dan rotan yang biasa di bawa guru cantik namun galak itu. Kelas tiga sudah bebas. Tinggal menunggu kelulusan saja.

"Selamat pagi murid-muridku sayang" ucap Min Songsaenim sekedar untuk basa basi. "Tak terasa kalian sebentar lagi lulus. Aku ingin meminta maaf jika aku terlalu keras dalam mengajar kalian. Kalian pasti memaafkanku, kan?"

Kelas hening. Sampai akhirnya Min Songsaenim memukul papan tulis dengan tangannya.

"NE SONGSAENIM!" mereka berteriak dengan kompak. Min Songsaenim tersenyum menanggapinya.

"Terimakasih juga untuk Kim Mingyu yang telah menjadi ketua kelas dan mengharumkan kelas 3-4 dengan nilai-nilaimu."

Mingyu hanya tersenyum saja. Hansol yang disebelahnya menepuk-nepuk punggung Mingyu. Merasa bangga menjadi teman semeja Mingyu.

"Songsaenim!" Min Songsaenim mengalihkan pandangannya pada Yujin yang mengangkat tangan. "Nilaiku juga bagus. Tapi kenapa kau tak pernah membanggakanku."

"Kau urutan ke berapa memang?"

"Dua puluh tujuh."

"Kau harus masuk lima besar dulu baru aku akan membanggakanmu."

"Tapi aku paling pintar di kelas, Saem," lalu suara Yujin memelan, "Setelah Mingyu."

Teman-temannya langsung tertawa kencang sekali sedangkan Min Songsaenim hanya terkekeh, "Sekarang kalian ke lapangan. Jung Songsaenim dan anak kelas 3-2 sudah menunggu. Sedikit olahraga sebelum kelulusan."

Semua murid langsung bersorak. Satu persatu dari mereka keluar melalui pintu belakang. Min Songsaenim ikut keluar melalui pintu depan.

"Kelas 3-2. kelas Jooheon dan teman-temannya," gumam Mingyu.

"Tenang saja. Kali ini aku tak akan kabur saat kau diganggu Jooheon nanti," ucap Hansol yang ternyata mendengar gumaman Mingyu.

"Serius?"

"Aku ingin berbuat baik padamu sesekali," Hansol merogoh kolong mejanya lalu mengeluarkan beberapa surat. "Masih ada juga? Mereka niat sekali melakukannya."

Hansol mengeluarkan semua surat dan cokelat dari kolong mejanya. Ia berniat mengambil beberapa bukunya yang sengaja di tinggal di kolong. Tapi ternyata buku-bukunya tak ada. Kolongnya hanya dipenuhi dengan surat dan cokelat.

"Ya tuhan mereka kemanakan buku-bukuku?!" ucap Hansol kesal.

Mingyu meraba kolong mejanya dan menemukan setumpuk buku di kolongnya. Ia tak pernah menaruh apapun di kolongnya. Apalagi buku pelajaran. Pasti Habis di coret-coret oleh teman-temannya.

Mingyu membaca nama yang tertera di pojok atas buku satu persatu. Semua bukunya milik orang yang sama. Semuanya milik Choi Hansol.

"Hansol-ah, Milikmu" Mingyu menyerahkan setumpuk buku yang dipegangnya pada Hansol.

Hansol langsung memasukkan buku-bukunya kedalam tas, "Disaat seperti ini, aku menyesal dilahirkan dengan wajah yang tampan."

"Seharusnya kau bersyukur."

"Mendapat puluhan surat dan hadiah setiap harinya itu merepotkan. Belum lagi mereka juga sering menerorku."

"Separah itukah?"

Hansol mengangguk, "Aku ingin menjadi sepertimu. Tapi aku tak ingin menjadi korban bully sepertimu."

Mingyu tersenyum. Hansol beruntung hanya mengalami itu saja. dulu saat Mingyu masih menjadi tampan, Ia bukan hanya diteror bahkan hampir dicelakai oleh seorang siswi dari sekolah tetangga karena ditolak olehnya. Ia juga pernah hampir menjadi korban bully preman sekolah. Namun, Ia melawannya sampai orang tuanya dipanggil. Hansol jauh lebih beruntung dari Mingyu. Kim Mingyu yang culun juga lebih beruntung dari Kim Mingyu yang tampan.

"Ayo cepat. Mereka pasti menunggumu."

Mingyu berdiri dan Hansol ikut berdiri. Entah ada angin apa, Hansol berjinjit sedikit untuk merangkul pundak Mingyu kemudian mereka berdua berjalan beriringan keluar kelas.

.

.

.

.

.

Hansol menepati ucapannya. Ia tak ikut bermain basket bersama teman-temannya yang lain. Ia memilih duduk di kursi penonton bersama Mingyu disebelah kanannya dan Seungkwan disebelah kiri.

Mingyu fikir Hansol tak sepenuhnya mau menemani dirinya. Buktinya ia asyik mengobrol dengan Seungkwan dan mendiamkannya. Walaupun begitu ia merasa aman berada di sebelah Choi Hansol. Jooheon tak mungkin menganggunya. Ia akan diamuk oleh puluhan penggemar Hansol nanti karena telah menganggu ketenangan pangeran mereka.

Bukkk

Sebuah bola melayang melewati kepala Hansol hingga membentur kursi penonton di belakang Hansol. Jooheon dan teman-temannya panik. Kentara sekali kalau mereka pelakunya dan Kim Mingyu sebagai sasarannya. Namun bolanya malah hampir mengenai Hansol.

"Yak Lee Jooheon! Kau mau melukai wajah tampanku?!" semprot Hansol seraya menunjuk-nunjuk wajahnya sendiri.

"Siapa suruh kau duduk di sebelah Kim idiot Mingyu," Jooheon membela diri.

"Nayeon-ah, Jooheon menganggu ketenangan pangeran Choi!" Seungkwan berteriak.

Nayeon adalah ketua kelas 3-2 dan merupakan salah satu penggemar Hansol. Dari sekian banyak siswa dan siswi, Jooheon hanya takut pada Nayeon. Selain karena ia ketua kelas, pukulan Nayeon itu tidak main-main. Pernah Jooheon dipukuli dengan sapu hingga sapunya hampir patah.

Mungkin jika Mingyu dekat dengan Nayeon hidup Mingyu akan aman. Sayangnya Nayeon termasuk orang yang paling membenci Mingyu. Entah apa sebabnya.

Nayeon yang sedang bermain dengan teman-temannya langsung berhenti dan berkacak pinggang. "Yak Lee Jooheon!"

"Sialan kau Boo Seungkwan,"

Jooheon dan teman-temannya langsung menjauh. Seungkwan tertawa puas sekali sampai posisinya berubah dari duduk menjadi tiduran di paha Hansol dengan memegangi perutnya. Sang pemilik paha tersenyum lembut lalu mengusap-ngusap kepala Seungkwan.

"Kalian mau mengumumkan hubungan kalian sekarang?" tanya Mingyu.

Seungkwan segera bangun. Ia berdehem sebentar kemudian melenggang pergi.

"Kau mengganggu, Kim!" omel Hansol.

"Aku hanya menyelamatkan Seungkwan dari tatapan tajam para penggemarmu, Choi" Mingyu membela diri.

Mingyu bangun lalu melenggang pergi. Bosan hanya menjadi penonton saja. Ia juga kesal melihat permainan basket teman-temannya. tak ada satupun yang bagus. Rasanya Mingyu ingin ikut bermain lalu mengajari teman-temannya cara bermain basket yang benar. Tapi pasti ia akan berakhir dengan ditimpuki bola oleh mereka.

"Kau mau kemana?" tanya Hansol.

Mingyu berhenti lalu menoleh, "Perpustakaan. Mau ikut?"

Hansol menggeleng dengan cepat, "Sudah sana."

Tipe siswa seperti Hansol bukanlah orang yang betah berlama-lama di perpustakaan. Malah ia termasuk anti dengan perpustakaan. Mingyu dulu juga seperti itu. Ia awalnya memaksakan diri duduk diam di perpustakaan karena Jooheon dan teman-temannya tak mungkin berbuat keributan di perpustakaan. Tapi sekarang perpustakaan menjadi tempat favoritnya disekolah.

.

.

.

.

.

Kelas Wonwoo baru saja usai. Ia merapikan buku dan alat tulisnya lalu keluar kelas. Setelah ini, Ia akan pulang dan beristirahat di kamarnya. Teman-temannya hari ini sibuk semua. Jeonghan ada kelas sampai sore. Jisoo dan Seungcheol sibuk dengan tugas. Junhui dipastikan sudah pulang karena hari ini ia seharusnya libur. Soonyoung dan Jihoon entah sedang apa. Wonwoo masih malas berurusan dengan mereka.

Baru satu langkah Wonwoo melewati gerbang, Sebuah mobil berwarna merah menyala tiba-tiba saja berhenti disebelah Wonwoo. Junhui meurunkan kaca mobilnya lalu menyembulkan kepalanya. Kenapa Junhui baru pulang? Pasti ia harus mengulag tugasnya karena banyak kesalahan. Itu sudah kebiasaan rutin Junhui di hari pengumpulan tugas

"Ayo naik. Jieun Noona mengirimiku pesan kalau ponselmu sudah benar dan dititipkan pada Seungkwan."

Wonwoo menjerit tertahan dan buru-buru naik ke mobil Junhui. Sang pemilik mobil langsung melajukan mobilnya setelah Wonwoo menutup pintunya. Di perjalanan, Wonwoo bercerita panjang lebar pada Junhui mengenai ponselnya. Junhui hanya menanggapi seperlunya. Menyetir itu butuh konsentrasi ekstra.

Mobil Junhui berhenti agak jauh dari gerbang sekolah Seungkwan. Keduanya turun dan langsung berjalan menuju gerbang. Sesampainya di gerbang mereka hanya berdiam diri.

"Kau saja yang masuk. Aku tunggu disini." ucap Junhui.

"Aku tak tahu kelas Seungkwan dimana."

"Tanyakan."

"Kau saja."

Junhui menghela nafas kemudian menarik Wonwoo untuk masuk. Mereka berdua menghampiri seorang siswa yang hendak pulang.

"Permisi, Apa kau tahu dimana kelas Boo Seungkwan?" tanya Junhui.

"Seungkwan ya?" Siswa itu tampak berfikir sambil melihat kesana-kemari. "Seungkwan-ssi!" siswa itu berteriak dengan tangan yang melambai-lambai.

Seungkwan yang merasa dipanggil mencari sumber suara. Ia langsung berlari saat melihat anak dari kelas sebelah melambaikan tangan.

"Hyung!" teriak Seungkwan sambil berlari.

"Ayo kita bicara diluar saja Seungkwan-ah."

Wonwoo menggandeng Seungkwan lalu keduanya berjalan beriringan. Junhui tak mengikuti keduanya. Ia beralih menatap siswa tadi yang masih berdiri didepannya.

"Dilihat dari wajahmu, Sepertinya kita memiliki kesamaan. Siapa namamu?"

"Xu Minghao."

"Kita berasal dari negara yang sama! Aku Wen Junhui. Panggil aku Junhui gege."

.

.

.

.

.

Mingyu keluar dari perpustakaan dengan dua buku tebal ditangannya. Ia menghabiskan berjam-jam untuk membaca. Dari lima buku yang dipilihnya tersisa dua buku yang belum dibaca. Ia berniat membacanya dirumah dan mengembalikannya besok.

Mingyu berhenti di depan lokernya. Ia membuka gemboknya kemudian membuka lokernya. Seperti tadi pagi, lokernya masih bersih namun tak ada surat berbagai warna dan bentuk lagi di dalam lokernya. Ia memasukkan semua bukunya yang berada di loker ke dalam tas.

"Kupikir kau membolos." ucap Hansol yang berdiri disebelah Mingyu. Hansol berniat mengosongkan lokernya juga sama seperti Mingyu.

Mingyu menutup kembali lokernya lalu menggemboknya. "Aku di perpustakaan sejak tadi."

"Betah sekali kau berada disana." dari suaranya, Hansol berniat mengejek Mingyu.

"Perpustakaan adalah tempat teraman untukku," Mingyu tersenyum, "Butuh bantuan mengosongkan lokermu?"

Loker Hansol sangat penuh. Sepertinya surat, cokelat dan hadiahnya bertambah. Mingyu merebut plastik hitam besar yang dibawa Hansol lalu memasukkan surat-surat berbagai warna itu kedalam plastik. Hansol ikut membantu. Setelah penuh, Mingyu mengikat plastiknya dan memberikannya pada Hansol.

"Cokelat dan hadiahnya bagaimana? Aku yakin kau pasti membuang semua surat-suratnya," Mingyu melirik plastik hitam yang dipegang Hansol.

"Satu lagi untukmu," Hansol memberikan cokelat dengan pita merah muda pada Mingyu, "Sisanya ku bersihkan besok."

"Terimakasih."

Mingyu membuka pita merah muda yang menyegel cokelatnya lalu membuka bungkus cokelatnya. Ia mengigit ujung kanan cokelatnya lalu mengunyahnya.

"Yak! Yak! Kim Mingyu! kenapa kau memakan cokelatnya?! kau pasti mencurinya dari loker Hansol," Nayeon datang tiba-tiba dan berkacang pinggang di depan Mingyu.

Mingyu menunduk. Ia memainkan ujung seragamnya. "Ma..maafkan aku Nayeon-ssi. Tapi, Hansol yang memberikannya padaku."

"Maaf tapi aku harus pergi sekarang," Hansol menatap Mingyu dan Nayeon bergantian kemudian melenggang pergi. Ia tak mau terlibat dengan segela bentuk pembullyan yang sering dilakukan teman-temannya.

"Kemarikan tanganmu," Nayeon menarik tangan kanan Mingyu, "Sekarang muntahkan cokelat yang masih ada dimulutmu!"

Mingyu diam saja. Ia sudah menelan cokelat yang dimakannya saat Nayeon datang. tersisa sedikit cokelat yang masih menempel pada dinding-dinding mulutnya saja.

"Sekarang Kim idiot Mingyu!"

Mingyu mengangkat kepalanya. Ia menatap takut kearah Nayeon. Jooheon yang tukang bully saja takut padanya apalagi Mingyu. Perlahan, Ia arahkan tangan kanannya kemulutnya kemudian mengeluarkan semua cokelat yang masih tersisa.

"Coba perlihatkan padaku."

Mingyu memperlihatkan telapak tangannya yang penuh dengan cokelat dan air liurnya pada Nayeon.

"Ewhh menjijikan."

"Nayeon-ah stop melakukan itu dan cepat lihat ponselmu!" Mina berteriak dari kejauhan kemudian berlari menghampiri Nayeon.

"Ada apa?" tanya Nayeon.

"Buka grup chat kelas, klub atau apapun itu. Ada berita menarik."

Nayeon segera mengeluarkan ponselnya dari saku roknya. Ia langsung membuka grup chat kelasnya. Matanya langsung membulat setelah melihat kiriman beserta foto dari Boo Seungkwan.

"Serius? Bagaimana Seungkwan bisa mendapatkan fotonya?" tanya Nayeon. Mina hanya mengedikkan bahunya.

"Ikut aku," Nayeon menarik tas Mingyu secara paksa. Mingyu tak memberontak sama sekali. Ia hanya mencoba berjalan dengan benar karena ia berjalan mundur.

Nayeon menarik Mingyu ke depan sekolah. Para siswa dan siswi yang melintas langsung berhenti dan mengerubungi Nayeon, Mina dan Mingyu. siswa dan siswi yang sudah berada di gerbang bahkan berbalik dan menghampiri kerumunan itu.

Bisik-bisik langsung terdengar. Mayoritas siswa dan siswi yang berkumpul semuanya memegang ponsel. Sesekali mereka menatap kearah Nayeon, Mingyu dan Mina yang berdiri di tengah. Mingyu tak mengerti apa yang sedang terjadi. Apalagi Mina tadi membawa-bawa kata 'grup chat'. Mingyu tak masuk grup chat manapun. Ia bahkan di keluarkan saat masuk grup chat kelas.

"Bisa jelaskan siapa orang yang ada difoto ini?" Nayeon menunjukkan sebuah foto seorang lelaki di ponselnya.

Mingyu langsung memucat. Itu fotonya dalam mode tampan. Bagaimana bisa Nayeon mendapatkan fotonya?! Ahh iya Nayeon menemukannya di grup chat dan yang menyebarkannya adalah Boo Seungkwan.

Boo Seungkwan? Shit Mingyu benar-benar akan memotong jari kelingking Wonwoo setelah ini. Kalau bisa Mingyu ingin memotong semua jari Wonwoo.

Mingyu memandang lagi fotonya di ponsel Nayeon. Fotonya sama persis dengan foto yang ditunjukkan Wonwoo dihari pertama mereka bertemu. Benar-benar Jeon Wonwoo sialan.

"Selain idiot kau juga bisu ya? Cepat jawab!" suara Nayeon meninggi.

Mingyu meghela nafas. Tak ada yang bisa dilakukannya lagi selain mengaku. Padahal ia ingin membuat kejutan di hari kelulusannya nanti dengan datang sebagai Kim Mingyu yang tampan.

Mingyu melepas kacamatanya lalu meginjaknya sampai remuk. Ia mengacak-ngacak rambutnya kemudian menyeringai kearah Nayeon.

"Apa aku masih harus menjawab pertanyaanmu?"

Decakan kagum para siswi terdengar. Banyak diantara mereka yang langsung mengambil gambar Mingyu. pasti setelah ini semua grup chat ramai membicarakan tentang perubahannya.

"Ke..kenapa kau melakukan ini? berpura-pura menjadi orang lain!" Mina buka suara.

"Karena aku ingin hidup tenang. Gangguan terberatku selama ini hanya berasal dari Jooheon dan teman-temannya. Tidak seperti Hansol yang populer dan hidup penuh gangguan dari penggemarnya sendiri. Setahun aku menjadi teman semeja Hansol dan aku tahu apa yang dia rasakan. Aku pernah diposisinya saat Junior High School dulu. bahkan lebih parah," jelas Mingyu panjang lebar.

"Tak masuk akal." Teriak seorang gadis di barisan paling belakang.

"Memang. Tapi karena ini semua aku bisa menjadi juara umum dan masa depanku akan sangat-sangat cerah." Mingyu tersenyum meremehkan.

"Tapi kau kan tak perlu melakukan semua ini." Gadis tadi bersuara lagi. Dia sepertinya paling tidak suka dengan perbuataan Mingyu.

"Kau tahu? Hidup dengan banyak gangguan itu tak nyaman. Puluhan surat, cokelat hadiah bahkan peneroran. Aku tak suka hidup yag begitu. Pembullyan yang dilakukan Jooheon jauh lebih baik karena sifatnya yang tak setiap hari. Pegucilan yang kalian lakukan padaku juga membuatku lebih banyak memiliki waktu belajar. Sampah-sampah di lokerku membuatku mau tak mau membawa pulang semua bukuku. Aku belajar semua pelajaran di rumah tanpa terkecuali karena hal itu."

Hening. Tak ada yang berkomentar lagi. Sebagian dari mereka menundukkan kepalanya. Mungkin merasa malu dengan apa yang telah mereka lakukan. Tapi dari sekian banyak orang, Mingyu tak menemukan sosok Seungkwan. Seharusnya Seungkwan berdiri di baris paling depan karena dia yang menyebarkan semuanya.

"Dimana Boo Seungkwan?" tanya Mingyu.

"Tadi aku melihatnya mengobrol didepan bersama seorang lelaki," jawab Dahyun dengan mata berbinar. Gadis itu pasti akan semakin mengagumi Mingyu setelah semuanya terbongkar.

Mingyu langsung menerobos kerumunan. Ia berjalan dengan cepat dan berhenti saat melihat Minghao yang sedang mengobrol dengan seseorang.

"Hao-ah, kau lihat Boo Seungkwan?" tanya Mingyu.

Minghao tak lekas menjawab. Ia memandang bingung Mingyu, "Min..Mingyu? Kau.."

"Iya Hao sayang ini Kim Mingyu yang tampan. Semuanya baru saja terbongkar. Jadi, dimana Boo Seungkwan?"

Minghao tahu semuanya. Ia tetangga Mingyu dan teman satu-satunya yang Mingyu punya disekolah. Walaupun Mingyu tak dekat dengan Minghao di sekolah tapi Minghao sering membantu Mingyu saat Mingyu dibully. Setidaknya Minghao tulus berteman dengan Mingyu. tidak seperti Hansol yang status 'teman'nya masih diragukan.

"Tadi Seungkwan dicari seseorang dan mungkin mereka sedang mengobrol di depan," jawab Minghao.

"Terimakasih, Hao."

Mingyu langsung berlari keluar sekolah. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri saat sudah berada di depan gerbang. Ia melihat Wonwoo yang sedang mengobrol dengan seorang siswa berseragam sama dengannya tak jauh dari tempatnya berdiri. Posisi siswa itu membelakangi Mingyu. tapi dilihat dari rambut dan bentuk tubuhnya, Mingyu yakin itu pasti Seungkwan. Mingyu langsung berlari menghampiri mereka berdua.

"Boo Seungkwan," Mingyu menepuk pundak Seungkwan.

Seungkwan dan Wonwoo langsung berhenti mengobrol. Seungkwan lalu menoleh.

"Mingyu?!" itu bukan Seungkwan tapi Wonwoo yang bersuara.

Mingyu mengangkat tangan kananya, "Annyeong Jeon Wonwoo. Tak kusangka kita akan bertemu disini."

"Itu artinya nasib buruk sedang menimpaku."

"Aku ada urusan denganmu."

"Urusan? Urusan apa?"

Sebuah taksi kebetulan melintas dan Mingyu langsung memberhentikannya. Ia membuka pintunya dan menarik Wonwoo untuk masuk. Mingyu menyusul setelah Wonwoo di dalam. Ia menutup pintunya dan taksi pun melaju. Seungkwan hanya tercengang melihat taksi itu melaju meninggalkannya.

"Apa itu Mingyu?" tanya Minghao yang datang menghampiri Seungkwan.

"Ya itu Mingyu bersama Wonwoo Hyung."

"Apa mereka pacaran?"

"Siapa yang pacaran? Kita?" Seorang lelaki tiba-tiba saja ikut bergabung dalam percakapan Minghao dan Seungkwan.

"Junhui Hyung! Sejak kapan kau menengenal Minghao?!"

.

.

.

.

.

Tbc

.

.

.

.

.

Wahh ini panjang sekali. Semoga kalian tidak bosan membacanya. Seharusnya masih panjang lagi. kata 'Tbc' nya seharusnya bukan disitu. Masih ada satu scene /? Lagi setelah itu baru tbc. Tapi pasti nanti kepajangan.

Maaf menghilang selama dua minggu. Seminggu pertama aku ada persiapan untuk lomba lalu Minggu kedua aku full sakit karena kelelahan berfikir untuk lomba. Bahkan dokter disekolah menyarankan aku untuk periksa ke dokter saraf karena pusingnya tak sembuh-sembuh. Tapi akhirnya sembuh juga.

Aku juga ingin ikut mengucapkan selamat untuk Seventeen dan para Carat untuk kemenangan kalian. Aku belum sempat melihatnya tapi aku ikut senang. Awalnya aku kecewa saat melihat mv mereka. aku kurang maksud sama Mv mereka hiks ;; Tapi setelah aku lihat comeback stagenya aku berubah fikiran. Comeback mereka keren dan rambut Jeon Wonwoo keren sekali. Mereka harus seperti Gfriend yang menang banyak sekali. Kalau bisa lebih dari Gfriend.

Setelah Seventeen Comeback semoga saja setelah ini Pledis memunculkan Orange Caramel atau After School atau Lizzy menyanyi solo lagi. Aku terlalu mencintai Lizzy Eonni dan aku senang sekali saat Lizzy Eonni mempost album Seventeen beserta tanda tangan membernya di Instagramnya. Raina Eonni juga ikut mempromosikan di akun twitternya. Aku senang melihat sunbae dan hoobae berhubungan baik.

Kali ini cuap-cuapku banyak sekali dan menggunakan bahasa baku /?. Aku kurang yakin dengan Chap ini tapi aku janji akan memperpaiki di chap selanjutnya.

For the last, Review Juseyo ~^^