Title : The Runaway (Chapter 4)
Disclaimer : Fandomnya punya Hidekazu Himaruya, zombienya punya saya 8D
Summary : Ketika manusia terancam punah akibat serangan para zombie, bagaimana dengan mereka yang masih hidup menyelamatkan dunia ini?
Warning(s) : Miss typo
"Sialan! Sialan! Sialan! Sialan!" kata Arthur pasrah sambil bergerak mundur dan Alfred mengikuti gerakan yang sama, sementara Mix mempercepat gerakan melempar paku nya kearah zombie tersebut
Zombie itu terus berjalan maju ke arah dua manusia didepannya dan kedua manusia tersebut terus bergerak mundur
Tiba tiba ada sesuatu terjatuh dari saku baju Arthur
"Tongkat sihir ku!" Arthur kaget, ia pun ingat, ia menyimpan tongkat sihirnya di saku baju nya karena akan lebih mudah diambil disaat tersedak seperti tadi
Dengan segera, Arthur pun mengambil tongkat itu dan mengarahkannya kepada zombie yang berada di depannya itu
Seakan-akan tahu apa yang akan Arthur lakukan, zombie berbadan besar itu pun mempercepat gerakannya; ia berlari ke arah Arthur dan Arthur memejamkan matanya
"ARTHUUR !" Alfred berteriak, berharap Arthur tidak akan terluka ketika zombie itu semakin dekat dengan Arthur
"PETRAAVAAAA !"
Arthur berteriak sekencang-kencangnya, dan menjadi teriakan terbesarnya
Sebuah cahaya pun menyala dari bintang diujung tongkat sihirnya, dan menutup pandangan mata karena kesilauannya
Teriakan Arthur bergema kemana-mana, membuat seseorang mendengarnya dari kejauhan
"…Eh?..."
"Hmm? Ada apa, mon cher?"
"…Apa kau tidak mendengar sesuatu?"
"Mendengar apa? Dari tadi aku mendengar suara beruang mu yang kelaparan,"
"…Aku mendengar seseorang berteriak,"
"Mungkin saja korban zombie lagi,"
"…Apa sebaiknya tidak kita lihat? Mungkin kita bisa menolongnya,"
"Matthieu, kalaupun kita berhasil menolongnya, orang itu akan mati karena sudah diserang oleh para zombie, terlebih ia sudah terinfeksi racun. Dan kau tahu 'kan apa yang terjadi selanjutnya?"
"…Francis, tapi perasaan ku mengatakan kita harus ke asal suara itu,"
"Apa itu perasaan lubuk hati mu?"
"…Kurasa begitu…?"
"Kalau begitu ambil senapan mu, mon cher~! Kita kesana sekarang,"
"…Baik…!"
Kembali ke dalam bangunan yang sudah penuh dengan darah
Cahaya bintang itu pun redup, membuat Alfred, Arthur dan Mix membuka kedua mata mereka dengan perlahan
"….Berhasil…lagi?" mata Arthur melebar, tidak ada zombie sama sekali didepannya, hanya bercak bercak darah yang sangat besar, dan serpihan-serpihan kayu pintu yang dicabik-cabik oleh zombie
"Yahooouuuuuuu~! Kita sela-Ouukh!" Alfred berteriak senang namun teriakannya terpotong ketika ia kembali merasakan rasa sakit yang ada di pipi kirinya, keluar darah banyak sekali
"Al! Kau tak apa?" Arthur mendekat dan melihat luka cakaran Alfred
"Lukanya dalam! Mix! Apa dia terinfeksi?" kata Arthur sambil mengelap darah Alfred yang keluar dengan lengan bajunya
"Sakit…sakit…sakit…sakit…!" Alfred merintih, pipinya memerah namun Arthur tidak melihatnya karena tertutupi darah yang keluar
"Aku tidak tahu, fiih! Tapi tidak ada salahnya jika kau mencoba mengeluarkan racunnya!" kata Mix sambil menghampiri dua manusia itu
"M-mengeluarkan racunnya? B-bagaimana caranya?" pipi Arthur ikut memerah
"Caranya sama seperti ketika kau mengeluarkan racun bisa ular, fiih!"
"…APA?" batin Alfred dan Arthur, pipi mereka semakin memerah
"M-maksudmu menyedot racunnya keluar dengan m-mulut?"
"Iya! Kau mau teman (bodoh) mu selamat 'kan, fiih?"
Arthur terdiam, begitu juga Alfred, mereka pun saling memandang, dan melihat pipi mereka yang sangat merah
Arthur menarik nafasnya dalam-dalam, dan dengan segera, ia menempelkan mulutnya pada luka di pipi Alfred dan menyedot sedikit darah ke dalam mulutnya tapi tidak ditelan, lalu mengeluarkannya dan mengulangnya lagi
"R-rasanya…s-seperti…A-Arthur mencium pipi ku berkali-kali… S-sadarlah, Alfred! Dia mencoba mengeluarkan racun yang mungkin ada di luka pipi mu itu! Bodoh bodoh bodoh!" batin Alfred, pipi nya sudah sangat memerah, nafasnya menjadi berat, jantungnya berdetak cukup kencang
"K-kenapa…aku bergemetar ya? A-aku tidak menciumnya! A-aku… aku hanya mencoba mengeluarkan racunnya! H-hilangkan pikiran mu itu, Kirkland!" Arthur pun berhenti dan sebelum ia bisa menjauhkan wajahnya dari Alfred…
"Mon Dieu! Aku tidak percaya yang kulihat! Apa kau percaya ini, Matthieu? Ohonhonhon~" Francis Bonnefoy, teman sekelas Alfred dan menjadi rival berat Arthur melihat kedua temannya sedang berdekatan wajah dan berpikiran hal-hal yang belum tentu benar
"K-Kodook!" bertemu rival beratnya, sudah pasti Arthur sangat marah, apalagi ia tahu apa yang sedang rivalnya pikirkan (walaupun dalam hatinya ia sedikit senang karena mengetahui bahwa kodok menyebalkan itu ternyata masih hidup) "I-ini tidak seperti yang kau pikirkan, bodoh!"
"…Alfred!" Matthew Williams, adik angkat Alfred tidak percaya apa yang ia lihat; kakak Amerika nya masih hidup, walaupun dalam keadaan yang kurang bagus
"M-Matt!" Alfred sangat senang melihat adik Kanada nya hidup. Dengan segera, ia pun berdiri dan memeluk Matthew dengan erat, menghiraukan rasa sakit yang masih ada di pipi nya
"A-aku kira kau… kau…." Ia hampir menangis
"…Aku masih hidup…" Matthew tersenyum lalu menoleh ke arah Francis
"…Terima kasih kepada Francis. Aku berkali-kali hampir diserang zombie tapi ia selalu melindungiku,"
"Sama-sama, mon chere~! Yang lebih kuat memang harus melindungi yang lebih lemah. Iya 'kan Artie?" Francis menjentikan matanya ke arah Arthur
"Cuih!" hanya itu balasan dari Arthur
"Fiih! J-jadi kalian…?" Mix terbang ke arah Francis dengan tatapan kurang percaya
"Oh~! Kelinci aneh yang waktu itu, ya?"
"Kalian sudah kenal satu sama lain?" kata Arthur
"Begitulah! Sebelum bertemu kalian, aku bertemu mereka. Lalu beruang miliknya mencoba menangkap ku karena ia menganggapku makanannya. Dan yang ini terus mengatakan aku ini kelinci teraneh yang pernah ia lihat, fiih.." kata Mix melihat ke arah Matthew lalu ke arah Francis
"Aku hanya mengatakan hal yang jujur, kok~ Tapi, pardon moi kalau itu menyakiti hati mu," Francis menjawab dengan sangat mudah
"Kau sih seenaknya minta maaf, yang susah itu yang dimintai maafnya, fiih!"
"Oh~ Kalau kau tidak mau memaafkan juga tidak apa. Yang penting aku sudah minta maaf,"
Satu pukulan kecil dari Mix mengenai kepala Francis
"Ouch! Mon Dieu! Tidak usah pakai pukul!"
Mix tidak menjawab, ia hanya terbang menuju Arthur
"Sepertinya ia tidak menyukaimu, kodok. Heheh.."
"Huft…"
"Nggghhh… Grrrrrhhhh…" anak beruang Polar Matthew, Kumajiro. Mulai menggerak-gerakan tubuhnya, tanda ada sesuatu yang ia inginkan
"…K-Kumakichi? A-ada apa?"
"Oohh~ Kurasa ia lapar. Apa kalian punya makanan disini?" kata Francis sambil masuk ke dalam ruangan dan melihat-lihat
"Sepertinya kalian habis berkelahi dengan zombie-zombie, oui?"
"B-begitulah… dan aku mendapatkan tanda kenangan menyebalkan dari salah satu dari mereka, u-ukh!" Alfred menghampiri Francis sambil menyentuh lukanya dengan perlahan
"S-Sebenarnya tadi aku dan Arthur sedang mengecek dapurnya dan ternyata di dapur itu ada mayat yang siuman menjadi zombie. Lalu Arthur mengalahkan zombie itu dan ia datang,"
"Zombie-zombie itu?"
"B-bukan, kelinci terbang itu, namanya Mix. Lalu, Mix menjelaskan kalau ia sedang mencari orang yang bisa membaca sihir, dan orang itu adalah Arthur. Ia juga menjelaskan awal munculnya zombie-zombie disini, lalu yang bisa menghentikan semua ini cuma Arthur." Alfred melihat Arthur dan tersenyum kecil
"…Apa sih?"
"Ohonhon~ Kurasa aku ingin tahu selengkapnya, bisa diceritakan ulang dengan lebih lengkap?"
"Bagaimana jika di dapur? Karena aku juga lapar!"
"Hari pun juga sudah malam, kita mungkin akan bermalam disini, oui?" Francis menoleh ke arah Matthew, dan Matthew mengangguk
Semuanya pun kembali masuk ke bangunan itu, pintu ditutupi lemari besar untuk mencegah datangnya zombie kembali
Malam harinya, mereka semua berkumpul di ruang keluarga karena ruang dapur tercium bau darah yang menyengat. Mereka pun beruntung menemukan cukup banyak makanan yang tersimpan di kulkas yang sudah tidak menyala karena matinya listrik dan beberapa lemari makanan baik di dapur maupun di ruang keluarga
"Jadi.. bisa kau ceritakan cerita itu lagi Alfie?" Francis duduk di sofa sambil mengunyah makanannya
"Mix?" Alfred melihat ke arah Mix yang duduk di pangkuan Arthur
Mix menelan makanannya dan menceritakan kembali cerita Frederick Van Frankestein. Ia juga menjelaskan mengapa ia mencari orang yang bisa membaca sihir seperti Arthur. Dan mata Francis melebar mendengar semua itu
"Oh.. Kalau begitu, kita semua sekarang harus segera pergi ke rumah Merlin, dan Arthur akan membaca mantra itu, dan dunia akan kembali normal, oui?"
"Iya, fiih.. Tapi, kalian belum selesai begitu saja ketika Arthur sudah memutar balik waktu. Kalian harus segera pergi ke Russia, tepatnya rumah Frederick dan menghentikan Frederick agar ia tidak membuat ramuannya itu!"
"…Berarti Arthur memiliki peran yang penting saat ini, karena jika ia terbunuh…"
"Dunia sudah kehilangan satu-satunya harapan!" Alfred memotong perkataan Matthew
"Bisa dibilang, ia adalah 'Magician Hero' yang akan memutar balik waktu dan menyelamatkan dunia ini dari zombie!"
"Oi oi! Maksudmu 'Magician Hero' apa ?" Arthur agak kesal
"Hero yang memakai kekuatan sihir! Seperti Harry Potter!"
"Aku jadi bingung…" Francis menutupi stengah wajahnya dengan tangan kanannya
"Apa hubungannya Harry Potter dengan zombie, bodoh!"
"...Aku tidak tahu! Tapi yang jelas, kau adalah 'Hero'! "
"Lalu!" entah kenapa, pipi Arthur mulai memerah
"Yah.. K-karena aku juga Hero, aku akan menjadi Hero yang melindungi Hero!"
Semuanya bingung apa yang Alfred katakan, mungkin ia sudah mengantuk, jadi kata-katanya agak melantur
"Bodoh.. Sepertinya kau sudah mengantuk!" kata Arthur sambil memukul pelan kepala Alfred
"Cepat tidur!"
Alfred hanya cemberut seperti anak kecil, tapi ia mengangguk pelan dan membaringkan tubuhnya di salah satu sofa
"Kau akan mengerti maksudku, Arthur…" itulah kata-kata terakhir Alfred sebelum ia tertidur; karena ia memang sudah mengantuk
Ketika semuanya sudah terlelap, kecuali Arthur dan Mix. Mereka memandang pemandangan malam yang kurang bagus dari jendela bangunan, semuanya gelap, dan kata-kata Alfred terus terulang-ulang di benak Arthur dan membuatnya tidak bisa tidur. Ia menghela nafas panjang
"Mix..?"
"Fiih?"
"Apa.. kau tahu apa yang dimaksud Alfred?"
"Entahlah.. tapi aku yakin ada hubungannya dengan 'Ia akan selalu melindungimu' fiih.."
Pipi Arthur memerah
"Heh, melindungiku? Sejak tadi siang, saat pertama kalinya kami dikejar zombie, aku yang selalu melindunginya!"
"Karena itu, ia akan membalas melindungimu.."
Arthur terdiam
"Itu karena ia peduli padamu, Artie~"
Arthur cepat-cepat menoleh kebelakangnya dan melihat Francis sedang mengusap matanya, sementara Mix yang melihat, merasa sedikit terganggu dan langsung pergi tidur di dekat Matthew
"Kodok..! Sebaiknya kau kembali tidur!"
"Kenapa kau memanggilku 'Kodok'? Kau tahu, banyak yang memanggilku 'Pangeran' lho~"
"Kalau begitu kau itu Pangeran Kodok!"
"Setidaknya masih ada kata Pangeran, ohonhon~"
"Kurasa kau ingin ku sihir ya?"
"Non~ Pardon moi, mon chere~" kata Francis sambil mengangkat kedua tangannya tidak terlalu tinggi dan tersenyum seperti biasa
"Mau mu apa? Cepat kembali tidur!"
"Kau itu cepat sekali marah ya? Aku hanya ingin mengatakan kalau Alfred itu peduli sekali padamu,"
Pipi Arthur kembali memerah
"M-Maksudmu?"
"Asal kau tahu saja, ia sering curhat kepadaku tentangmu selama ini."
Arthur kembali terdiam, membuat Francis melanjutkan perkataannya
"Waktu itu, ia pernah curhat kepadaku,
"Francis… Aku cemburu…"
"Cemburu..? Honhonhon~ Pasti cemburu ke Artie ya~?"
"I-iya.. Akhir-akhir ini ia dekat sekali dengan Kiku.. Setiap pulang sekolah, ia pasti berjalan bersama Kiku, aku melihat ia senang sekali berbicara dengannya. Aku takut.. Ia…"
"Itu tidak mungkin Alfie~ Kau tahu? Artie berbicara dengan Kiku karena ia ingin tahu bagaimana caranya agar ia dan kau bisa semakin akrab~! Ia meminta sebuah saran dari Kiku agar kau bisa semakin dekat dengannya~"
"B-Bagaimana kau bisa tahu itu?"
"Artie sendiri yang bilang padaku~"
Sebelum Francis bisa melanjutkan perkataannya, Arthur memukul kepalanya dengan wajah yang sangat merah
"K-KODOOK ! SUDAH KUDUGA KAU ITU BUKAN PENJAGA RAHASIA DENGAN BAIK ! KENAPA KAU MEMBERI TAHU ALFRED KALAU—"
"HEEROOOO~~~~~!"
Arthur dan Francis kaget ketika mendengar Alfred tiba-tiba berteriak. Mereka pun cepat cepat menoleh ke arah Alfred
Ternyata ia hanya mengigau
"Artie.. kalau kau marah-marah sambil berteriak begitu, nanti ia bisa bangun, lho~! Sebaiknya kita harus tidur, soalnya kalau terus bangun begini, nanti aku melanjutkan yang tadi, dan kau kembali marah. Oui?"
Arthur terdiam lagi, lalu ia mengangguk pelan dan membuat Francis tersenyum lalu berkata
"Eh bien~ Nuit bonne mon chere, avoil un bon sommeil~" kata Francis sebelum menjentikkan matanya kembali ke Arthur dan membaringkan tubuhnya disebelah Matthew bersama Kumajiro
"…Dasar kodok! Padahal aku ingin tahu lebih banyak!" kata Arthur pelan
"…Nanti saja, Artie.. Oui?" ternyata Francis belum tidur, membuat Arthur sedikit kaget
"Grrrhh.. terserah kau sajalah!" Arthur pun duduk disebelah Alfred yang masih tertidur, ia melihat luka di pipi Alfred yang masih terbuka dan perlu diobati
Dengan segera, Arthur pun bergegas mencari kotak P3K, dengan suara pelan tentunya, karena takut kodok menyebalkan itu akan terbangun; ia gampang sekali dibangunkan
Untung saja Arthur dapat menemukan kotak P3K dengan cepat, ia pun mengambil kotak itu dan membukanya
Ternyata ada banyak obat-obatan, syukurlah
Ia pun kembali duduk disebelah Alfred dan mengobati lukanya dengan hati-hati
Ketika sebuah kapas yang dilumuri obat penyembuh luka menyentuh luka Alfred
Alfred mengerang kecil dan Arthur memperlambat gerakannya
"Sshh.. ssshhh.. shh…" Arthur mencoba menenangkan Alfred agar ia tidak terbangun, karena bila ia terbangun, ia pasti akan protes
Setelah Alfred terlihat lebih tenang, Arthur meneruskan mengobati luka Alfred
"….Pasti sakit ya?" batinnya
~To Be Continued~
Akhirnyaa.. (not) the real USUKnya nongol juga XDD
kalo ditanya, disini relasi Arthur sama Alfred itu tuh.. sebenernya mereka saling suka #eciee
Tapi pada tsun-tsun gitu pengen ngungkapin juga.. (apalagi si Iggy xD)
Nah si Furansu ini ceritanya pengen nyatuin mereka berdua.. dia kan the king of amour (?) #seenaknya
Aniweh~
Mon Cher/Mon Chere : My darling
Mon Dieu : My God
Pardon Moi : Pardon Me
Oui : Yes
Non : No
Nuit bonne mon chere : Good night My darling
(saya gapake Gugel translate lho.. #GAKNANYA)
~REVIEW~
