"BREATHLESS"
ㅡI Love You. But It's Killing Me ㅡ
Pairing: Markhyuck ; Markchan
Warning: typo(s), OOC, yaoi
DLDR, Happy Reading
Cr: SuperUnloyal
.
.
.
Selama perjalanan pulang menuju dorm, Donghyuck hanya berdiam diri dipojok belakang mobil van milik NCT. Ia sudah diberi tahu oleh sang Manajer jikalau seluruh member sudah menantinya di dorm 127 untuk mengetahui keadaannya.
Ia tak sadar kapan mobil itu sudah memasuki pekarangan parkiran dorm, bahkan ia juga tak sadar kapan ia turun dari mobil van. Benaknya terlalu penuh oleh imajinasi-imajinasi menyeramkan yang akan ia hadapi di masa depan.
Sibuk dengan pikirannya, Donghyuckpun kembali tidak menyadari kalau ia sudah duduk di ruang tamu dengan seluruh member ada disekelilingnya sampai sebuah tepukan dari Doyounglah yang menyadarkannya.
"Kau baik-baik saja?"
Hanya satu pertanyaan singkat dari Doyoung yang membuat air mata akhirnya menetes dari kedua mata bulat Donghyuck. Jaehyun dan Doyoung yang memang ada disamping Donghyuckpun langsung memeluk lelaki itu dengat erat. Member-member lain hanya terdiam bingung ditempatnya, melihat salah satu adik kecil mereka menangis sesegukan sembari mengucapkan kata-kata tidak jelas. Mereka hanya bisa melihat bagaimana Jaehyun dan Doyoung menghibur serta mencoba membuat Donghyuck berhenti menangis.
.
.
.
Donghyuck menyamankan dirinya dalam pelukan hangat dari Jaehyun. Sudah hampir lima belas menit setelah ia menangis tadi, dan ia yakin semua orang yang ada diruangan itu sudah penasaran dengan apa yang terjadi. Pegangannya pada amplop besar berisi hasil rontgennya mengerat. Pandangan matanya juga menelisik keseluruh ruangan.
Baru pada saat itu ia menyadari, Mark tidak ada disana.
"M-Mark hyung dimana?" Tanya Donghyuck dengan suara serak khas orang baru menangis.
"Ia masih menghadiri makan malam yang diadakan kru music show yang dibawakannya. Apa kau ingin menunggu ia pulang dulu sebelum menceritakannya?"
Donghyuck menggeleng kencang sebagai pengganti jawaban untuk pertanyaan Taeyong. Satu-satunya hal yang paling ingin Donghyuck lakukan sekarang adalah menceritakan penyakit bodohnya pada Mark.
"Akan lebih baik kalau Mark hyung tidak tahu. Mark tidak boleh tahu." Gumam Donghyuck pelan. Namun sayangnya masih cukup keras untuk didengar oleh Jaehyun yang memang ada dibelakangnya.
"Apa yang Mark tidak boleh tahu?"
Badan Donghyuck menegang mendengar pertanyaan dari Jaehyun. Ia tahu sekarang adalah saat yang tepat untuk menceritakan diagnosis dari Dokter Choi, tapi ada keraguan untuk jujur pada membernya. Informasi bahwa dirinya mencintai Mark diketahui oleh member lain bukanlah hal yang membuatnya ragu, karena ia yakin hampir semua orang menyadari perasaan bodohnya itu (kecuali Mark, tentunya). Namun reaksi member lain tentang penyakitnyalah yang membuatnya ragu. Ia tak ingin membuat yang lain sedih. Julukannya adalah Full Sun. Sudah sepatutnya ia membuat lingkungannya bahagia, bukannya bersedih.
"Haechan-ah."
Ia mengeluarkan napasnya pelan, berusaha membuat dirinya untuk lebih tenang sebelum membuka amplop berisi hasil rontgennya dan memulai untuk menceritakan apa yang dikatakan dokter Choi tadi. Selama bercerita, sebisa mungkin ia menghindari kontak mata dengan member lainnya. Ia yakin, jika ia melihat muka seeih satu dari enam belas orang yang ada disana ia akan kehilangan kekuatan untuk menyelesaikan cerita mengenai apa yang tengah ia derita.
"ㅡsetelah ini aku harus rutin ke rumah sakit agar Dokter Choi dapat melihat progres penyakit ini dan mendapatkan solusi lain untuk menyembuhkannya." ucap Donghyuck mengakhiri ceritanya. Ia menghela napas lagi, sebelum memberanikan diri menatap kembali member-membernya.
Sesuai dugaannya, air muka para member saat ini penuh dengan kesedihan dan luka. Ia juga bisa melihat ketiga sahabat satu umurnya menatapnya tajam penuh rasa ingin memeluknya saat itu juga. Donghyuck hanya bisa menggeleng lemah sembari memberikan senyum miris, mencoba menenangkan tidak hanya ketiganya, namun semua orang yang ada disana.
"Manajer hyung tadi mengatakan mungkin aku akan melakukan hiatus sampai solusi untuk penyakit ini ditemukan. Karena sebagaimana yang tadi kukatakan, aku bertemu jalan buntu untuk sembuh saat ini." sambung Donghyuck ditengah senyumnya. Ia bisa merasakan pelukan Jaehyun mengerat dibelakangnya.
"Kenapa tidak mencoba untuk berbicara dengan Mark seperti yang diusulkan Dokter Choi?" Celetuk Ten yang sekarang ikut duduk disampingnya, mengelus lembut kepala Donghyuck yang ada didada Jaehyun.
"Tidak bisa, hyung."
"Kenapa tidak bisa? Haechan, Mark adalah sahabatmu. Aku yakin kalau Mark tahu, ia akan mencoba untuk menolongmu." Sanggah Jaehyun lembut.
Donghyuck semakin menggelengkan kepalanya. "Kalian tidak mengerti hyung, Mark tidak bisa menolong apa-apa!"
"Apa yang tidak kami mengerti, Chan-ah! Memang menyebalkan mengetahui kalau ternyata Mark tidak memiliki perasaan yang sama sepertimu, tapi bukan berarti tidak bisa tumbuh kan? Mark hyung adalah sahabatmu. Diantara kami semua, ia paling peduli padamu. Ia pasti mau belajar untuk mencintaimu sampai hanahaki bodoh itu pergi!" Seru Jaemin jengkel. Jeno dan Renjun yang ada disampingnya mencoba untuk menenangkan Jaemin, namun sayang ucapan Jaemin tadi sudah terlebih dahulu membuat Donghyuck kesal.
"Justru karena itu aku tak mau Mark hyung menolong apa-apa! Justru karena aku tahu ia akan melakukan apapun untuk membuatku sembuh yang membuatku tak mau memberitahunya sekarang! Sedari awal aku juga sadar, Mark hyung pasti akan mencoba sekuat yang ia bisa untuk mencoba mencintaiku. Tapi aku tak mau memaksanya untuk itu. Aku tidak ingin dia merasakan sesuatu yang sebenarnya tak mau ia rasakan hanya untukku. Jika memang bisa, dengan senang hati kulakukan operasi untuk mengangkat sulur berduri ini. Jika saja bisa, jika saja sulur itu tidak mencengkram mimpiku sebagai seorang penyaㅡohok!"
.
.
.
Mark melepas sepatunya sebelum masuk kedalam dorm. Awalnya ia mengira akan menemukan ruang tamu yang ramai, karena manajer mengatakan tadi kalau semua member tengah berkumpul disana. Namun yang ditemuinya hanya Jungwoo yang tengah berpelukan dengan Lucas serta Taeyong, Doyoung, dan Ten yang tengah membicarakan sesuatu entah apapun itu.
"Ah, Mark sudah pulang?"
Mark menoleh kearah dapur untuk melihat Johnny berjalan sembari membawa gelas berisi susu lalu mengangguk sebagai balasan atas pertanyaan Johnny.
"Kudengar semua sedang ada disini?" tanya Mark.
"Ya memang, tapi ada yang sudah tidur dan ada juga yang pergi keluar untuk mencari angin. Kau mau istirahat, kan? Hari ini tidurlah bersama Haechan, karena semua akan menginap disini. Sekalian berikan susu ini jika Haechan sudah bangun. Tadi ia kembali batuk."
Mark kembali mengangguk lalu meraih gelas susu yang diberikan Johnny padanya. Ia bisa merasakan jemari besar Johnny menggusak rambutnya sebelum ia bergegas menuju kamar Donghyuck.
Membuka pintu perlahan, ia bisa melihat siluet sahabatnya yang masih tertidur lelap diatas ranjangnya. Mark berjalan pelan kearah Donghyuck lalu ikut membaringkan badannya disamping Donghyuck setelah meletakkan susu pemberian Johnny diatas meja nakas. Senyum kecil tersampir pada belah tipis bibir Mark melihat wajah tenang milik Donghyuck. Pelan tapi pasti, tangannya melingkari pinggang Donghyuck untuk membawa pemuda itu mendekat padanya. Persetan dengan dirinya yang belum mandi ataupun berganti baju, yang ingin Mark lakukan sekarang adalah memeluk Donghyuck.
Sebenarnya ia cukup kesal tatkala tahu Donghyuck masih terbatuk-batuk, padahal seingatnya hari ini lelaki bersurai coklat kejinggaan itu ada jadwal pemeriksaan ke rumah sakit. Ia mengutuk kebodohannya yang tidak bertanya pada Johnny tadi. Mungkin kalau Donghyuck terbangun nanti, ia akan langsung menanyakannya. Sudah cukup rasa khawatir yang terus menerus berkembang didadanya tiap kali ia memikirkan Donghyuck. Bahkan saat bekerja tadipun tak satu menitpun ia lewatkan tanpa memikirkan kondisi sahabatnya itu. Ia sangat menyayangi Donghyuck. Apapun yang tengah menyerang Donghyuck sekarang, Mark tau bukanlah hal yang main-main. Memang yang Mark inginkan saat ini agar sahabatnya itu sembuh, tapi memikirkan harus berada diatas panggung tanpa keberadaan lelaki bermata bak beruang itu membuatnya sesak.
Terlalu sibuk pada pikirannya membuat Mark tak sadar kelopak mata pemuda dalam pelukannya terbuka berlahan.
"Hyung?"
Mendengar suara serak Donghyuck membuat perhatiannya kembali pada wajah Donghyuck. Ia bisa melihat senyum kecil yang tersampir pada bibir merah Donghyuck kala menanyakan apakah ia baru pulang ataupun tidak.
"Baru saja kok. Kau mau minum? Johnny hyung tadi membuatkan susu, tapi kalau kau mau minum air putih akan kuambilkan."
Donghyuck semakin mendekatkan kepalanya pada dada Mark sebelum menggeleng, "Nanti saja, sekarang peluk aku dulu."
Terkekeh pelan, Markpun melakukan yang diminta Donghyuck. Tangannya mengusap lembut punggung milik Donghyuck, sedangkan bibirnya tak henti-henti mengecupi pucuk kepala Donghyuck. Ia bisa merasakan badan Donghyuck semakin rileks dipelukannya dan dengkuran halus kembali terdengar ditengah kesunyian kamar.
Mark menghela napasnya, memutuskan untuk bertanya besok saja dan ikut memejamkan matanya, menyusul Donghyuck melang-lang buana ke alam mimpi.
.
.
.
TBC
Halo!
Ada yang inget cerita ini? Hehe, maaf menghilang kemarin. Wifi rumah rusak yang bikin mood ngedown dan jadi agak lelet ngerjainnya!
Gimana gimana? Makin aneh? Makin bingung? Makin ngedrama ftv?
Ada yang bisa tebak perasaan Mark tuh sebenarnya gimana?
Pokoknya, terima kasih untuk yang sudah baca, review, favorite, dan follow cerita aneh ini! Wuvyu semua~
