Sebuah Rahasia

LeoN

Ravi, Ken, Hongbin

VIXX

T

Mystery/Romance/Hurt

.

.

.

.

.

.

Selamat Membaca !

.

.

.

.

Chapter 4 : Tangkap Atau Lindungi Dia

5 Jam sebelumnya….

"Hiks .. hikss."

"Sudahlah, Hyung. Nanti kita ke kantor polisi, ok?"

"Dia tidak bersalah Bin-ah, bukan Taekwoon"

Hakyeon tak hentinya menangis sejak Taekwoon digiring para polisi untuk diintrogasi. Berapa kalipun Hakyeon menelepon Taekwoon, tidak pernah diangkat, membuat Hakyeon semakin cemas.

"Iya, aku tau. Ssssttt, sudah Hyung, semua akan baik – baik saja" Hongbin memeluk bahu Hakyeon erat. Dia mengusap air mata Hakyeon sayang. Entah kenapa, hatinya terasa teriris melihat Hakyeon menangis sedih seperti ini.

.

.

.

Ceklek

Hongbin menutup pintu kamar Hakyeon, setelah menempatkan Hakyeon tidur di kasurnya. Sedari tadi Hakyeon terus menangis hingga dia tertidur di pelukan Hongbin.

Hongbin mengambil ponselnya di dalam saku celana, dicarinya nama Taekwoon Hyung. kemudian menulis beberapa pesan.

'Hyung, baik – baik saja?'

Hingbin menekan tombol send.

"Haaahh, bagaimana ini?" Guman Hongbin seraya memasukkan kembali ponselnya kedalam saku celananya.

Hongbin melangkah pergi menuju kamarnya, yang bersebelahan dengan kamar Hakyeon.

Hari ini terasa begitu melelahkan. Semenjak kedatangannya kesini beberapa jam lalu, bukannya menjadi kesenangan malah berakhir dengan seperti ini. Ingin rasanya Hongbin kembali lagi ke Amerika. Akan lebih menyenangkan jika dia tidak kesini karena permintaan sang Kakak itu.

Hongbin berjalan menuju kasurnya, dan menjatuhkan tubuhnya begitu saja di atas kasur. Dia mulai menutup mata, mengistirahatkan tubuhnya sebentar.

DRRRTTT DRRRRT

Ponsel disaku Hongbin bergetar, membangunkan kembali sang pemilik ke alam sadarnya.

Dengan terpaksa Hongbin menjawab panggilan itu, tanpa bangun dari posisi tidurnya.

"Halo"

"Hyung, bagaimana? Sudah sampai?" tanya seseorang dari seberang sana.

"Hmmm"

"Eeh, apa terjadi sesuatu?"

"Hmm, sedikit. Hoaaaaaam, melelahkan sekali disini, sayaang~. Aku merindukanmu"

"Eiih, baru juga sampai, Hyung"

"Hehehe, Oh iya, Hyukiee, Ibu bagaimana?"

"Maaf Hyung, aku tidak bisa mencegahnya. Lusa Bibi benar – benar akan pulang"

SRAAAAAGH

"APA? LUSA?!"

Hongbin sontak terbangun dari tidurnya. Dia benar – benar terkejut dengan ucapan Hyuk.

"Ck. Masalah besar" Gumam Hongbin resah.

"Apa yang harus aku lakukan, Hyung?" si penelepon aka Hyuk, bertanya pada Hongbin sang kekasih.

Hyuk dan Hongbin adalah sepasang kekasih. Hyuk tinggal di Amerika bersama Hongbin dan Ibunya. Mereka sudah sangat dekat, layaknya keluarga.

"Kau ikutlah Ibu pulang. Sisanya biar kami yang urus"

"Hmm, Aku mengerti. Ya sudah, aku tutup ya?"

"Oke. Aku mencintaimu"

"Aku juga mencintaimu"

PIIIIP

Setelah Hongbin menutup panggilannya dengan Hyuk, dia menatap kearah dinding di depannya.

Entah apa yang dilihatnya, tatapan Hongbin seketika berubah menjadi khawatir, dia mengepalkan kedua tangannya.

"Bagaimana ini, Hyung?"

.

.

.

.

.

.

Kantor Polisi Changwon

Jaehwan dan beberapa polisi masuk kedalam kantor, tidak lupa bersama sang tersangka, Jung Taekwoon.

Mereka mengawal Taekwoon layaknya buronan yang sewaktu – waktu akan kabur jika mereka lengah.

"Biar aku yang membawanya"

Jaehwan mengambil alih Taekwoon dari tangan polisi. Dia menggiring Taekwoon masuk kedalam ruang penyelidikan.

Didalam ruangan itu ternyata sudah ada Wonshik yang duduk dengan laptop dan beberapa dokumen diatas meja.

"Bawa kemari!"

Jaehwan mendudukan Taekwoon dikursi, berhadapan dengan Wonshik. Kemudian Jaehwan keluar meninggalkan kedua namja tersebut.

Kedua namja tadi, Wonshik dan Taekwoon hanya saling berbalas pandang. Sunyi. Itu yang terjadi diantara mereka. Tidak ada yang memulai pembicaraan, mereka hanya terus diam.

"…."

"…."

"…."

"Haaahh, apa maumu?" Taekwoon akhirnya memulai pembicaraan.

Wonshik melipat kedua tanganya di dada, dia menatap sombong Taekwoon.

"Itu kau bukan?"

"…."

"Jung Taekwoon. Anak dari seorang Dokter Psychology yang meninggal mengenaskan tanpa sebab 8 tahun lalu, benar bukan?"

"…."

Wonshik meletakkan kedua tanganya diatas meja. Dia menatap Taekwoon serius.

"Apa alasanmu melakukan ini? Balas dendam, hah?"

"…." Taekwoon hanya diam saja. Dia seperti menjadi pendengar yang baik tanpa menjawab satupun pertanyaan Wonshik.

"Kau dan Ayahm. Kalian dengan Keluarga Cha. Kalian membenci mereka bukan?"

Taekwoon menatap sengit Wonshik. Sepertinya pertanyaan yang dilontarkan Wonshik benar – benar menarik suasana hati Taekwoon.

"Woooaah, jangan menatapku seperti itu, Dr. Jung"

SRAAAAAK

Wonshik melempar sebuah dokumen kearah Taekwoon.

Taekwoon menatap dokumen itu sejenak lalu menatap kembali Wonshik. Tatapannya kembali normal, datar seperti biasa.

"Kau masih belum mengerti, hah?"

"Hm"

"Kau yang membunuh orang tua Cha Hakyeon. Karena ayahmu meninggal, jawab!"

"Hm"

"Katakan, iya atau tidak?!"

"Hm"

BRAAAKK

Wonshik menggebrak meja yang menjadi pembatas antara dia dan Taekwoon. Saat ini Taekwoon sedang diintrogasi, tetapi informasi yang didapatkan Wonshik sangat tidak memuaskan.

"Kau ini!" Wonshik menunjuk Taekwoon dengan jarinya.

Taekwoon hanya menatap datar Wonshik.

"Astaga! Aku bisa gila!" Wonshik berdiri dari duduknya.

"Kalau begitu lepaskan aku"

"Apa?! Lepas?!. Kau bahkan belum menjawab pertanyaanku. Brengsek!"

"Aku sudah menjawabnya" Taekwoon masih saja bersikap tenang ketika lawan bicaranya sudah murka hingga urat – urat sarafnya terlihat.

"Kau sedari tadi hanya menjawab 'Hm'. Kau bilang itu menjawab, hah?!"

"Hm",

"ASTAGAA! Keparat ini benar – benar, ck"

DRRRT DRRT DRRRT DRRRT

Sebuah ponsel diatas meja terus bordering. Wonshik menatap Taekwoon dan beralih pada ponsel Taekwoon.

"Haaahh. Cepat angkat !"

Taekwoon sontak meraih ponselnya dan menerima panggilan yang ternyata dari Hongbin.

"Halo?"

.

.

.

.

.

.

.

BRAAAAKK

"Aaaaaaaaaakh!"

Suara jeritan terdengar dari luar kamar Hongbin.

Hongbin yang sedang tertidur lantas terbangun, dia menoleh karah pintu kamarnya yang terbuka.

"Aaaaaakhh, sialan kau!"

Suara itu terdengar lagi.

BRAAAAK

Kali ini terdengar suara benda yang seperti dipukul.

Raut wajah Hongbin mulai terlihat cemas, dia beranjak dari kasurnya dan berjalan menuju sumber suara.

"Aaaakh! Brengsek!"

PYAAAAR

Hongbin terlojak kaget mendengar suara pecahan benda. Suara itu berasal dari kamar disebelahnya.

Kamar Hakyeon.

….

Di dekatinya kamar itu ragu – ragu.

Hongbin mengepalkan tangannya cemas. Diraihnya gagang pintu, dan dibukanya pelan.

Hongbin membelalakan matanya kaget setelah melihat apa yang terjadi dibalik pintu itu.

Dia melihat Hakyeon…

Hakyeon sedang melukai dirinya sendiri.

Hakyeon memukul – mukulkan badanya kesetiap benda keras yang ada disana. Dia mengambil pecahan kaca dan menggoreskan pecahan kaca itu pada leher dan pergelangan tangannya. Bukannya menjerit kesakitan, Hakyeon malah menjerit marah, ketakutan, dan murka. Entah dia tujukan kepada siapa. Tetapi Hakyeon terus saja melukai dirinya hingga darah mulai keluar dari dalam tubuhnya.

"Astaga, Hyung!" Hongbin berlari menuju Hakyeon berada, dan mencegah kedua tanggan Hakyeon yang akan melukainya dirinya lagi.

"Lepas kau brengsek!" Hakyeon menatap murka Hongbin.

Hongbin syok setelah melihat raut wajah Hakyeon.

"Astaga, tidak mungkin" Hongbin tiba – tiba melepaskan pegangannya pada Hanyeon, dia mundur menjauhi Hakyeon. Ekspresi Hongbin berubah menjadi sangat panic dan ketakutan. Tubuhnya tiba – tiba bergetar.

"Mau apa kau? Membunuhku lagi, melenyapkanku lagi, HAH!" Hanyeon menudingkan pecahan kaca kearah Hongbin.

"Bagaimana bisa, kau… sudah lenyap" Hongbin melangkah mundur perlahan – lahan.

"Hahahaha, ini tubuhku, kalian tidak bisa membuangku. INI TUBUHKU!"

Hakyeon menyerang Hongbin, berusaha menusukkan pecahan kaca pada Hongbim. Namu Hongbin berhasil lari dan menjauh dari Hakyeon.

Hakyeon mengambil sebuah kursi, kemudian berlari mengejar Hongbin.

Sementara itu Hongbin yang sudah agak menajuh dari Hakyeon, berlari memasukki sebuah ruangan, ruangan itu hanya berisi sebuah meja, dan dipenuhi beberapa rak buku yang didalamnya terdapat bermacam – macam buku.

Hongbin langsung bersembunyi dibawah meja. Satu – satunya tempat yang terlintas dipikirannya untuk bersembunyi.

Hongbin mengambil ponselnya disaku celananya, dan menelepon seseorang.

TuuuuT TuuuuT

"Angkat Hyung, angkat"

TuuuutT TuuuuT

"Halo?" seseorang disana menerima telepon dari Hongbin.

"Hyung..hah hah hah..dia" Hongbin berusaha berbicara disaat nafasnya tak stabil karena berlari.

CEKLEK

Terdengar suara pintu yang terbuka. Hongbin mengintip dari bawah meja. Dia melihat kaki seseorang masuk kedalam ruangan tempat persembunyiannya. Hongbin kembali panic.

"Dia kembali..hah..hah tolong Hyung. hah..hah Orang itu kembali" kata Hongbin panic.

"Hakyeon, dimana?"

"Dia-"

TEEP

Hongbin merasakan tangan seseorang menyentuh bahunya. Dia menolrh perlahan – lahan kebelakang.

"Hai" Hakyeon, orang itu tersenyum lembut kearah Hongbin.

Sekejap kemudian senyum itu lenyap begitu saja menjadi tampang menakutkan nan sadis. Hakyeon mendelik murka kearah Hongbin.

BUAAAGH

"AAAAAKKH!"

.

.

.

.

.

.

Ngiung ngiung ngiung ngiung

Beberapa mobil polisi berhenti dirumah Taekwoon. Wonshik salah seorang yang berada diantara polisi – polisi tersebut, langsung masuk tanpa menunggu perintah.

Dia berlari menaikki tangga. Diamatinya keadaan rumah yang sudah seperti kapal pecah.

"Ada yang terluka!" salah seorang polisi berteriak member tanda.

Wonshik lantas berlari menuju tempat polisi itu dan melihat seorang namja terkapar tak berdaya dengan darah yang mengalir deras di pelipis dan setiap sudut wajahnya.

"Dia mati?" tanya Wonshik pada polisi itu.

Polisi itu segera mengecek nadi di tangan kiri namja tersebut.

"Dia masih hidup"

"Bagus"

GREP

Namja tadi mencengkram lemas lengan polisi.

"Di..a di ru..ang…uhuk..ker..ja. To..lonh uhuk"

Wonshik lantas berlari mencari ruang kerja yang dimaksud Hongbin. Ketika dia melihat sebuah ruangan yang terbuka lebar, dan terlihat secercah cahaya diruangan itu.

Wonshik dengan segera meraih pistolnya, bersiap menembak. Dimasukkinya ruangan itu perlahan – lahan.

"khekhekhe, apa kabar, Dokter Jung"

"Angkat tangan!"

Wonshik menodongkan pistol kearah orang yang tengah asik bertelepon dengan seseorang.

Beberapa polisi juga turut hadir diruangan tersebut, dan ikut menodongkan pistol.

"Angkat tanganmu, dan berbalik!"

Orang yang di perintah segera berbalik tanpa mengangkat kedua tanganya.

Wonshik menatap kaget orang yang berdiri didepannya itu.

"Hakyeon Hyung?" perlahan – lahan Wonshik menurunkan pistolnya.

"Kalian juga mau mati, eoh?"

"Hyung? Apa yang terjadi?"

Hakyeon berjalan mendekat kearah Wonshik.

"Aku bukan Hakyeon. Tubuh ini milikku. Tubuh ini milik Dolbaeki. AKU INI DOLBAEKI!"

Hakyeon berlari menyerah Wonshik.

DOOOOOOR

Namu sayang sebuah peluru telah ditembakkan dan mengenai perut Hakyeon. Hakyeon terdiam dan memenggang perutnya yang mulai mengeluarkan darah. Dia tersenyum mengejek kearah para polisi.

"Aku Dolbaeki, kekeke"

BRUUUK

"Hakyeon Hyung!"

.

.

.

.

.

.

Ceklek

Wonshik masuk kedalam ruang penyelidikkan. Disana masih ada Taekwoon yang duduk menunggu.

"Bagaimana?" Tanya Taekwoon cemas.

Wonshik hanya menatap datar Taekwoon.

"Apa yang terjadi?"

Wonshik duduk di hadapan Taekwoon dengan tidak semangat. Padangannya semakin terlihat nanar.

"Orang itu.."

..

"Orang itu Hakyeon Hyung, iya?" Wonshik menatap sedih Taekwoon

"…."

"Aku mohon jawab. Bukan Hakyeon Hyung kan? Bukan dia kan"

Taekwoon hanya menundukkan kepalanya. Dia mengepalkan kedua tangannya diatas meja.

"Astaga" gumam Wonshik sedih. Dia memenggangi kepalannya dengan kedua tangan.

"Kim Wonshik. Jangna tangkap dia"

Wonshik hanya memandang Taekwoon sekilas.

"Aku sedang berusaha menemukan cara menyembuhkannya. Tinggal sebentar lagi, berikan aku waktu"

"Apa yang sebenarnya terjadi?"

"Kau sudah membaca dokumen itu kan, pasien ayahku adalah dia"

"Apa?" Wonshik memandang Taekwoon tak percaya.

"Dia mengalami trauma berat diusiannya ke 8 tahun. Saat umurnya 10 tahun, dia sering berperilaku aneh, melukai dirinya. Dan saat ayahku memeriksanya dia menderita Dissociative Identity Disorder. Penyakit kepribadian ganda"

"Lalu?"

"Saat itu orang tua Hakyeon ingin melenyapkan kepriadian lain Hakyeon. Tapi kepribadian itu menolak dan mengamuk."

"Dia membunuh ayahmu?"

Taekwoon hanya menganggukkan kepalannya.

"Berikan aku waktu. Hanya 2 bulan"

Wonshik tampak berpikir, dia menatap Taekwoon yang memberikan tatapan memohon.

"Baik. Hanya 2 bulan. Aku akan menutup sementar kasus ini. Tolong selamatkan Hakyeon Hyung, Dr, Jung"

.

.

.

.

.

.

.

Honbing duduk diatas kasur rumah sakit, dia menerawang keluar jendela. Padangannya kosong,

Ceklek

Hongbin menoleh kearah pintu, dia melihat Taekwoon berajalan kearahnya dan duduk didekat kasur.

"Bagaimana keadaanmu?"

"Baik. Hakyeon Hyung bagaimana?" Tanya Hongbin cemas

"Dia masih belum sadar"

Hongbin menundukan kepalanya. Kedua tanganya meremas selimut yang dipakainnya.

Taekwoon menatap tak suka dengan sikap Hongbin. Dia melihat keganjalan pada sikap Hongbin ke Hakyeon sekarang.

"Hongbin-"

"Ibu akan pulang lusa" kata Hongbin tiba - tiba

"Apa?"

"Apa yang harus kita lakukan? Ibu tidak boleh tau Hakyeon Hyung bersama kita"

Taekwoon hanya terdiam, memikirkan sesuatu.

"Hyung?"

"Hakyeon adalah pasien pribadi ayah. Hakyeon adalah sahabatku, dia kekasihku. Dia juga pasienku. Aku akan melindunginya" Taekwoon menatap serius Hongbin

Hongbin kaget dengan jawaban Taekwoon, ada secercah rasa tidak suka ketika Taekwoon mengatakan itu.

Tapi kemudian Hongbin tersenyum.

"Dia juga pasienku Hyung"

Taekwoon menatap tajam Hongbin.

"Baik. Kita lindungi dia bersama"

Mereka saling berpandang beberapa saat, kemudian mereka saling tersenyum tulus.

"Mari kita selamatkan dia, Dr. Jung Hongbin"

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

Nah selesaikan chapter 4 nya.

Maaf, sangat maaf bagi yang nunggu lama, ini bisa nulis Cuma hari minggu. Jadwal padat buat pemadatan ujian, huwaaa

Tapi nggak apa-apa yang penting masih bisa lanjut kan.

[ emma ] Nah banyak tanya kan, looh nih uda baca chapter 4nya kan.. hehehe uda nggak bingung kan..

[ Amanda ] Hyuk? Bukan deh, kan uda jelas namanya Dolbaeki pasti Hakyeon itu mah

[ chelle ] ok ini sudah update

[ key love VIXX ] hehe bukan eonni ini dari drama hyde, Jekyll and me. Ambil cerita penyakitnya aja. bener eon, si jungtaek dokter… tau aja ah hehehe

[ sulli otter ] eeyyyyyh juga lah eon … yap bener eonni, tapi yang main bukan woonbin, ealaah eonni hyunbin hahaaha,, #kabur

[ ayhuu795 ] ini sudah update

.

Terima kasih yang telah menunggu, membaca dan meriview.

Ditunggu chapter selanjutnya yaa..

Nnnnyeooooong~