Chapter four!
Okay, jadi besok aku banyak tugas dan ulangan, so, aku takut lupa dan update hari ini, yehet!
Seperti biasa aku di sekolah dan pakai wifi gratis, LOL
Enjoy the story!
Of Fear and Hallucination
"Jangan mendekat, kau seharusnya tak mendekat." Ucapnya, masih terisak, memukul-mukul pelan pundak Sehun, dan remaja itu tak mencegahnya.
"Memang kenapa?" tanyanya, mengelus surai kecoklatan gadis yang menangis di pelukannya. Mengecup kepalanya dengan lembut.
Luhan meneguk air liurnya, menutup matanya untuk menahan air matanya agar tidak keluar. Yang merupakan hal sia-sia. Cairan itu terus mengalir, membasahi pipinya dan langsung ke baju Sehun yang sudah semakin basah akibat tangisnya.
"Kau bisa terluka." Adalah jawaban gadis itu.
Namun Sehun hanya tersenyum, mengecup kepala Luhan dengan penuh sayang, wajahnya lembut dan tenang. Dia mengelus rambut yang lebih muda, memperhatikan bintang yang berkelip di atas mereka, mengayunkan tubuh adiknya agar dia tenang.
"Aku tak masalah dengan itu."
Luhan menatapnya sedih, melepaskan diri dari pelukan remaja itu, mengusap air matanya kasar. Dia seharusnya tak seperti ini, ini sangat aneh baginya. Dia adalah Changeling, makhluk yang didesain untuk membunuh, bukannya menangis seperti ini.
"Aku ingin tidur, aku mengantuk."
Namun gadis itu tak tahu, Sehun terus menatapnya, menggenggam tangannya sementara dia menutup mata. Adiknya benar-benar aneh, apa yang membuatnya seperti tadi, menangis tanpa memberitahu apa yang terjadi. Biasanya dia akan bercerita dan Sehun akan memeluknya, namun sekarang?
Gadis itu sangat aneh.
Sementara Luhan telah kembali ke negeri orang mati tempat dia berasal. Kembali ke hutan tempat dia berada sebelumnya. Anak itu masih berada disana, tubuh biru pendek berdiri jauh di depannya.
Dan dia berlari lagi.
Akan sangat sia-sia untuk mengejarnya, anak itu berlari lebih cepat dari kilat. Hutan tampak sangat gelap, berbeda dengan apa yang dia lihat beberapa malam yang lalu. Dia harus menemui Oh Hani, dia benar-benar harus menemui gadis manusia itu. Dia hanya ingin bertanya mengenai kakaknya.
"Óchi." Luhan mengernyitkan dahinya, menatap anak yang tiba-tiba muncul di depannya. Dia benar-benar tak mengerti bahasa apa yang diucapkan anak itu. Dengan kecepatan yang lebih, Seer itu tiba-tiba sudah berada tepat di depan matanya. Benar-benar dekat, "Prépei na fýgete."
"Maaf?" Namun dia hanya diam, memperhatikannya dengan mata hitam kelam, seolah itu adalah sesuatu yang sangat jelas harus dia ketahui, "Aku tak tahu apa yang kau bicarakan, bisa kau jelaskan lagi?"
"Óchi." Ucapnya lagi.
"Braccas meas vescimini." Ucap seseorang dan untuk pertama kalinya, dia melihat Seer itu menjerit, gigi taring putih jernih muncul ketika dia mengeluarkan lengkingan beroktaf tinggi sebelum berdenyar menghilang.
Luhan menatap ke belakang, dan temannya menghela nafas. Menariknya pergi hingga ke sebuah padang lepas. "Xiumin, apa yang kau-"
Roh itu menamparnya, membuat Luhan menatapnya tak percaya, "Bangun." Pintanya, "Mereka mencarimu, kau harus bangun sebelum mereka datang." Mereka? Siapa mereka? Luhan tak bisa memikirkan siapapun yang mungkin saja mencarinya di negeri orang mati. "Aku sudah menahanmu disana selama mungkin, kau harus bangun SEKARANG!"
Dan Xiumin menamparnya lagi, "Beritahu aku siapa, setidaknya." Namun sudah sangat terlambat untuk bertanya, karena dia dapat merasakan tubuhnya berdenyar, selayaknya hologram, dan lenyap dari hadapan roh tersebut.
.
Luhan terbangun dengan keringat di dahinya, nafasnya berderu, dan tangannya bergetar. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa mereka mencarinya? Kenapa dia tak bisa kembali? Xiumin membuatnya merasa seperti seorang buronan.
Apa yang sebenarnya sedang terjadi?
Tanpa berpikir lagi, Luhan melonjak keluar dari selimutnya, berlari ke arah kamar kakaknya. Entah kenapa, Sehun-lah yang ada di pikirannya sekarang ini. Dia hanya mengerti jika Sehun adalah yang bisa memberinya ketenangan sekarang.
Sementara remaja itu sangat terkejut melihat adiknya datang dengan terengah, rambut panjangnya acak-acakan sementara keringatnya bercucuran. Dia membawanya masuk dengan segera menariknya untuk duduk.
"Ada apa?" tanyanya lembut, mengusap keringat di dahi yang lebih muda.
"Aku," Luhan menelan ludah, tak tahu bagaimana caranya dia menjelaskan kejadian yang dia alami, "Mimpi buruk, itu saja." Sehun mengangguk, masih menatapnya, "Aku tak mau tidur lagi, aku hanya akan mandi dan makan."
"Apa kau tahu sekarang jam berapa?" ujarnya, menunjukkan hpnya dengan tanda waktu yang besar, "Jam lima. Kau bisa terkena hipotermia jika mandi sepagi ini. Ini masih sangat dingin."
"Aku takkan sakit."
"Hani." Luhan menghela nafas, tatapan tajam kakaknya membuatnya merasa kecil dan gadis itu tak punya pilihan selain memeluk guling Sehun yang terbengkalai, "Aku akan disini saja kalau begitu."
Sehun mengelus kepala adiknya, merapikan selimut yang kemudian dia pakai, menunggu agar dia lebih tenang sebelum beranjak untuk minum ke dapur. Di depan meja makan, pandangannya terhenti ketika melihat sesosok makhluk berjongkok di atas kompor.
Remaja itu menghela nafas, "Setelah sekian lama kukira aku sudah tenang tanpa kalian." Ucapnya, bersikap biasa ketika sosok itu berdiri dan merangkak ke arahnya. "Aku takkan membantumu apapun yang terjadi, jadi enyahlah."
Xiumin menatap kakak dari Changeling yang telah menjadi temannya, "Kau," mulainya, "Lindungi dia." Pintanya dan Sehun mengernyitkan dahinya, "Lindungi..." dia nyaris mengatakan 'Luhan' jika tidak mengingat bahwa manusia di depannya menganggapnya sebagai orang lain, "...adikmu."
Sehun tertawa masam, "Tentu saja, jelas sekali, aku akan melindunginya darimu, jadi jangan ancam aku lagi."
Xiumin tersenyum, menampakkan gigi taring putihnya yang berjejer rapi di dalam mulut, rambutnya yang tergerai panjang berantakan tersibak ketika kepalanya menggeleng, "Bukan dariku."
.
Kata-kata Xiumin terbayang di kepalanya, adiknya terlihat sangat damai ketika tertidur. Luhan bilang dia takkan mau tidur, tapi gadis itu terpulas secepat kepalanya bersentuhan dengan bantal. Sehun mengelus kepalanya lagi, entah kenapa, rambutnya terasa lebih lembut setiap harinya.
Luhan terbangun tak lama kemudian, menyadari Sehun tertidur di sampingnya, tangan mereka saling menggenggam. Posisi yang sangat aneh bagi Changeling itu, sepertinya, dalam kunjungan singkatnya ke sel Oh Hani, manusia itu tak pernah mengatakan di pernah tidur seperti ini bersama kakaknya.
Sehun tampak semakin muda ketika tertidur, membuatnya tampak seperti anak kecil. Rambut pirang platinum yang cocok dengan kulit putihnya, hidung kecil dan bibir, ehem, seksi yang benar-benar membuat Luhan menelan ludah ketika berada di posisi seperti ini.
Luhan merasakan jantungnya berdetak kencang.
Ini benar-benar gila.
Dan dia teringat, Xiumin menamparnya, memintanya untuk pergi karena mereka mengejarnya. Apa yang sebenarnya terjadi di negeri orang mati? Kenapa dia tiba-tiba merasa seperti buronan?
Dengan segera, Luhan menyibakkan selimutnya, hendak pergi jika bukan karena Sehun yang menggenggam tangannya lebih erat. Gadis itu melepaskannya dengan hati-hati, membuka satu-persatu jemari yang mencengkramnya dan berlari keluar, berharap roh yang di cari ada di rumahnya.
Dan dia benar, Xiumin tengah berjongkok di pekarangan rumah, menatap bulan yang nyaris hilang karena fajar yang akan menyingsing. Roh itu berbalik untuk melihatnya, tersenyum lemah.
"Apa yang terjadi sebenarnya? Siapa yang mengejarku?" Desak Luhan, membuat yang lebih tua menundukkan wajah nanar. "Xiumin?"
"Aku," dia menghela nafas, "Tanpa kau sadari mereka mengawasimu, Luhan, jika itu bukan karena aku yang menutupi negeri orang mati dari mimpimu dengan kabut, mereka pasti sudah menangkapmu."
"Tapi kenapa?"
"Sehun." Terangnya, membuat Luhan mundur seketika, "Mereka tahu tentang kalian berdua."
"Tak ada apapun yang terjadi di antara kami."
"Tapi perasaan kalian sudah cukup." Bantah yang lebih tua, "Mereka akan membuatmu seperti aku dan Jongdae, pilihannya itu kau atau dia."
"Apa maksudmu?"
"Jika kau memilih Sehun, kau akan mati. Juga sebaliknya."
Sehun terbangun dari tidurnya, tak melihat sosok tertidur adiknya di sampingnya, membuat remaja itu bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke sekitar rumah. Ibunya masih tertidur, pasti kelelahan karena bekerja semalaman, tapi lampu tak ada yang menyala, seolah belum ada yang bangun sama sekali.
Mungkin Luhan sudah kembali ke kamarnya?
Tapi kamar itu kosong melompong, tak ada tanda-tanda gadis itu tertidur di bawah selimutnya. Sehun mengernyit, mencari keluar, di pekarangan. Gadis itu berada disana, terduduk dengan pikiran kosong di bawah pohon.
"Hani, apa yang kau lakukan?" tanyanya, melihat adiknya yang masih berbalut baju tipis, dan udara terlalu dingin. "Masuklah, kau bisa sakit."
Luhan menatapnya nanar, rasa sedih macam apa ini? Memilih? Xiumin pasti sudah gila, bagaimana dia bisa memilih antara Sehun atau dirinya. Benar sekali, ini sangat gila.
Namun jika dipikirkan lagi, tugasnya disini adalah membunuh. Jika dia tak melakukan itu, sudah sama dengan mengingkari apa yang diamanahkan padanya. Mungkin karena itu mereka mengejarnya, ya, mungkin saja.
Dengan menunduk, Luhan masuk ke dalam rumah, menghindari tatapan Sehun yang terus mengarah ke arahnya. "Aku akan siap-siap ke sekolah." Ucapnya pelan dan masuk ke kamar mandi, menerjunkan diri ke dalam shower yang mengalir deras.
.
Mereka terus mengganggunya, arwah-arwah di dalam kelasnya tak pernah membiarkannya belajar dengan tenang. Entah mereka akan berdiri di sampingnya, atau berdiri di belakang gurunya hingga Luhan harus mengalihkan perhatian.
Dia menghela nafas, "Aku tak bisa melakukan ini." Ucapnya, membuat Hyekyo di sampingnya menatapnya aneh. Gadis itu menggelengkan kepala, mengalihkan perhatian ke bukunya yang masih terbuka, mencoba mengabaikan wanita berlumur tanah di belakang gurunya.
Bahkan dalam perjalanan pulang, anak-anak tak terlihat berlarian mengitari dirinya, membuatnya merengsek ke dekat Sehun, mencoba melindungi dirinya sendiri. Entah kenapa, tak ada yang berani mendekati remaja itu, semakin dia mendekat, mereka semakin menjauh.
Hingga akhirnya Luhan bertemu mata dengan sesosok arwah yang sangat dikenalinya. Tubuh biru pendek berbalut kain putih tipis. Seer. Sosok yang sama yang mencegahnya ketika hendak pergi ke sel Oh Hani. Sebelum dia dapat mengatakan apapun, sosok itu berdenyar pergi.
"Kau tak apa?" tanya Sehun di sampingnya dan gadis itu mengangguk. "Kita sudah sampai, ayo."
Mereka berhenti di depan rumahnya. Tak ada yang berani masuk ke sana, sangat aneh memang, dan Changeling itu tak tahu kenapa, mungkin itu karena Sehun, mungkin itu karena yang lain.
Luhan dikejutkan oleh sesosok roh yang telah memasuki kamarnya terlebih dahulu.
"Xiumin," sapanya, membuat sosok yang berjongkok di atas tempat tidurnya mengangguk. "Sejak kapan kau disini?" Tanyanya, meletakkan tasnya, "Apa yang terjadi?"
"Kau tahu jelas kenapa aku kesini." Jawabnya tepat sasaran, menatap Luhan dengan mata hitam kosongnya. "Waktumu menipis, Luhan, kau harus segera menetapkan pilihan."
Gadis itu menggelengkan kepalanya, "Aku tak bisa melakukan itu, aku tak bisa."
"Aku tahu," balas yang lebih tua, merangkak lebih dekat ke arahnya, "Aku tahu jelas bagaimana rasanya. Tapi itu adalah pilihan, Luhan, kau harus melakukannya." Luhan menatap nanar roh di depannya.
"Itukah yang kau pikirkan ketika membunuh Jongdae?" balasnya, sukses membuat raut Xiumin melemah dan roh itu merangkak ke sudut ruangan. Seketika, gadis itu menyesali ucapannya, dia tahu jelas apa yang terjadi pada mereka berdua. "Maaf."
"Aku mencintainya." Akunya pelan, "Jika aku pergi, dia akan mengaggap Minseok telah mati, dia akan sangat terpuruk." Dia menjelaskan, "Lebih baik membunuhnya, dia pasti telah bersama Minseok sekarang."
Luhan menghela nafas. Pengorbanan Xiumin pasti lebih besar darinya. Sangat sulit untuk membunuh orang yang kau cintai, apalagi membiarkannya bersama orang lain setelah kematian. Luhan takkan mengerti perasaan itu, dia hanya tahu Sehun akan segera menghapuskan perasaannya terhadapnya.
"Aku akan pergi." Dia menetapkan, membuat roh itu membelalakkan matanya. Gadis itu menghela nafas, "Tak masalah jika aku pergi, Hani akan pulang, semuanya akan kembali semula."
"Bati takkan melepaskannya."
"Dia akan." Ucap Luhan, "Aku yakin. Ini akan menjadi seperti pertukaran, dia takkan berani melawan."
"Jangan lakukan ini, Luhan." Pinta Xiumin, kehabisan akal untuk mencegah yang lebih muda menetapkan pilihannya. "Ini tak mudah, ini takkan mudah, tubuh dan jiwamu akan kembali ke jelaga itu, kau akan terbakar di dalamnya. Itu menyakitkan."
Luhan tersenyum sedih, "Tak masalah bagiku." Gadis itu menarik selimutnya, tanpa mengganti seragamnya, dia menggulung diri di atas tempat tidur, "Aku lelah, pergilah tolong."
Roh itu menghela nafas, tak kuasa untuk tak meneteskan air mata menatap temannya. Kenapa harus ada lagi yang menjadi sepertinya ? kenapa harus ada lagi yang mendapatakan kehidupan pengganti seperti dirinya?
Namun Luhan memberi keputusan yang berbeda.
Dia akan menyerahkan dirinya agar keluarga itu tetap hidup. Pertukaran yang tak mungkin, karena setelah gadis itu dibawa pergi ke negeri orang mati, dia akan segera diadili, dia takkan pernah sempat untuk memberikan penawaran yang dia inginkan.
Namun takkan ada gunanya memberitahu Luhan, "Tidurlah. Kau pasti sangat lelah."
.
Siapa yang dia candai, tentu saja Luhan kembali ke negeri orang mati. Kekuatan Xiumin untuk menutupi dirinya hanya bertahan hingga beberapa hari, tak lama kemudian, Changeling itu sudah kembali ke tempat dimana dia berasal.
Dan Luhan takkan menyia-nyiakan hal itu, dia segera berlari ke sel Oh Hani, menanggung resiko bahwa akan ada beberapa Spartoi yang mungkin saja menyergapnya.
Seperti biasa, anak manusia itu tertidur di pelukan Bati, makhluk itu masih tak mau melepaskan rengkuhannya, meskipun gadis itu takkan pernah bisa lari, tidak dengan lutut yang terpotong dan dibelenggu oleh perunggu langit.
Gadis itu memohon pada Spartoi yang menjaganya untuk diam, dan setelah berhasil membuat makhluk tulang itu bergemeretak setuju, dia berbisik pada Hani, yang matanya mengerjap terbuka, untuk diam dan biarkan dia bicara.
"Kau tahu aku sedang dicari disini, kan?" Anak itu mengangguk, "Aku harus memberitahumu sesuatu," dia mengangguk lagi, memintanya untuk lanjut bicara, "Aku janji, kau akan pulang sebentar lagi."
Dengan cepat, Oh Hani menggeleng, "Tidak, dia takkan melepaskanku, lututku, aku sudah hancur, aku tak bisa pulang."
"Bisa." Tegas Luhan, mencengkram perunggu yang mengikat lutut tawanan itu, "Kau bisa pulang, aku janji." Suara gemeretak Spartoi lain terdengar dari jauh, membuat dua gadis itu berjengit, "Aku harus pergi sekarang, bertahanlah sebentar lagi."
"Tidak," namun Changeling itu tak menghiraukannya, "Tidak, Luhan, Luhan!"
.
"Hani!"
Gadis itu terlonjak bangun, menatap kakaknya yang sudah menyibak selimut dari tubuhnya, "Bangunlah, Eomma sudah menyiapkan makan malam."
Mereka makan dengan sunyi, seperti biasanya. Hanya saja, pikiran Luhan terasa sesak, seolah dia takkan pernah tenang lagi, gadis itu sangat yakin, ini dari Límni tis Dystychías, danau yang tak sengaja dia lewati tadi, ketika dia hendak menuju ke sel.
Ini membuatnya gila, dia tak pernah merasakan efek danau itu hingga hari ini, ketika suara-suara mengerikan berbisik tentang kematian, tentang jelaga yang menampung tulang Oh Hani berada, tempat paling awal dia terbentuk. Dia bahkan melihat bagaimana wanita di depannya mati, selang infus tertancap di tangannya. Dan Sehun yang menangis dengan mata memerah.
Apa itu?
Ini benar-benar gila.
Xiumin sudah pernah memperingatkannya tentang bagaimana danau itu berbahaya, tak fatal, hanya berbahaya. Namun Luhan tak pernah berpikir ini akan seperti ini.
"Hani?" Dia mendengar suara khawatir ibunya, "Kau tak apa?" Luhan mengangguk, meletakkan sumpit yang dia gunakan.
"Aku hanya," matanya berputar, mencari alasan, "Aku sedikit tak enak badan, permisi." Dengan cepat, gadis itu berlari naik ke atas, mencoba menghilangkan suara-suara yang memenuhi kepalanya.
Jelaga itu menunggumu.
Bunuh mereka.
Bunuh mereka semua.
Kau akan mati sebentar lagi.
"Pergi, pergi." Luhan terisak, tubuhnya bersandar di kaki tempat tidur tepat ketika kakinya tak lagi kuat untuk menopang dirinya. Tubuhnya gemetaran, Amphisbaena mendesis dan melata, untuk pertama kalinya mencoba mematuk kaki Changeling itu. "Tidak, pergilah."
Sesosok Banshee menyeringai di balik jendela, rambut hitam panjang dan gaun putihnya nampak jelas di matanya, membuat gadis itu ingin menjerit dan lari. Namun dia tak kuasa. Seolah semua makhluk astral berkumpul di kamarnya, mencarinya.
Mereka tahu dia ada disini.
Mereka akan menangkapnya.
Mereka akan memasukkannya kembali ke jelaga itu.
Namun semuanya berubah ketika sang kakak membuka pintu kamarnya, seolah cahaya yang terang masuk ke kamarnya, mengusir semua aura negatif dan makhluk yang muncul beberapa saat yang lalu.
"Hei, ada apa?" tanya Sehun, berlari untuk mengeceknya sesaat ketika melihat sang adik gemetaran di lantai dingin kamarnya. Remaja itu menggendongnya ke atas tempat tidur, mencoba membuatnya lebih tenang. "Apa yang terjadi? Kau gemetaran, kau sakit?"
Luhan menggelengkan kepalanya, dia tak sakit, dia hanya perlu pergi. Tapi apa yang menunggunya di negeri orang mati sepertinya tak jauh berbeda dari apa yang ia alami barusan. Roh-roh takkan tinggal diam melihat dirinya yang seolah berkhianat.
"Kau membuatku khawatir." Tanpa sadar, Luhan memejamkan matanya, merasakan ciuman lembut Sehun di keningnya, "Apa yang sebenarnya terjadi?" tanyanya lagi, menatap mata yang lebih muda.
Gadis itu menggelengkan kepalanya, "Tak ada." Jawabnya, "Tak ada apa-apa."
"Kau tahu lebih baik dari membohongiku."
"Aku janji, ini bukan apa-apa, aku hanya," Luhan menundukkan kepalanya ketika sepasang mata tajam menatapnya balik, meminta jawaban yang sebenarnya, "Aku benar-benar tak apa-apa."
Sehun melingkarkan lengannya di bahu Luhan, menghela nafas, "Aku tahu kau berbohong." Ujarnya, mengecup lagi kepala gadis itu, "Apapun yang kulakukan, kau takkan memberitahuku, kan?" tanyanya dan Luhan menatap mata dari orang yang menemaninya. "Aku benar, kan?"
"Maaf."
"Tak apa." Jawabnya, menarik selimut untuk menghangatkan adiknya, "Kau baru bangun tadi, kau yakin mau tidur lagi?" Luhan menggeleng, bukan karena dia tak lelah, tapi karena dia pasti akan kembali kesana, dan dia sangat yakin akan ada lebih banyak yang mengejarnya. "Aku akan menemanimu kalau begitu."
Tak banyak yang terjadi malam itu. Selayaknya kakak adik biasa, mereka mengobrol, terkadang Sehun akan mengambil satu buku pelajarannya dan memaksanya belajar dan Luhan akan menarik selimutnya, menggulung diri menjadi kepompong, dan remaja itu akan menyerah untuk memintanya mengulang apa yang dia pelajari di sekolah.
Tak lama kemudian mereka akan berbaring di tempat tidur, Sehun akan menceritakan bagaimana mereka dulu bersama ayah mereka – yang dia yakin tak diingat oleh adiknya – yang tak dia ketahui adalah Luhan benar-benar tidak tahu.
Beberapa saat, ketika waktu sudah satu jam menjelang pergantian hari, tangan mereka saling menggenggam, Sehun telah memeluk Luhan dari belakang, tertidur nyenyak setelah lama sekali mengobrol dan bermain. Gadis mungil itu terasa sangat pas dipelukan yang lebih tua, yang tanpa sadar kian memeluknya erat, seolah dia akan segera menghilang – yang memang benar adanya.
Dan Xiumin telah berhasil menyisipkan kabut agar Luhan tak kembali, membuat tidur gadis itu terasa lebih nyenyak dari biasanya.
Dan keduanya tak pernah menyadari, alih-alih mengapus perasaan mereka, hal itu justru semakin bertumbuh seiring tenggelamnya diri masing-masing akan kesadaran bahwa mereka tak bisa saling memiliki.
.
Luhan mengerjapkan matanya hingga terbuka, tubuhnya masih direngkuh oleh manusia yang sejak semalam tak mau meninggalkannya, yang sekarang masih tertidur dengan tenang di belakangnya.
Gadis itu dapat merasakan nafas Sehun, tangan mereka masih saling menggenggam – mungkin semalaman – namun Luhan tak merasakan apapun, dia tak merasa kesemutan atau kaku, hanya terasa nyaman. Dada Sehun yang naik turun teratur terasa sangat menenangkan.
Hingga akhirnya, seperti biasanya, Luhan harus melepaskan diri, menyadarkan dirinya bahwa dia tak bisa berlama-lama tinggal disini. Changeling itu menatap remaja yang tertidur di kasurnya setelah berhasil melepas pelukannya.
Rambutnya berantakan, tapi kenapa Sehun tampak sangat tampan? Dia tak berbohong jika dia tak mendengar teriakan Oh Hani ketika anak itu melihatnya dikejar oleh para Spartoi, dia takkan berbohong bahwa dia ketakutan saat itu, tapi ini akan selalu menjadi beban jika dia membunuh mereka.
Luhan nyaris menjerit ketika Sehun menariknya turun, membuatnya jatuh di atas dada remaja itu. "Ini jam berapa?" gadis itu menggeleng, membiarkan Sehun meraih jam di dekat meja, "Jam enam, ini masih pagi, kau mau kemana?"
"Aku," dia menelan ludah, "Aku perlu ke kamar mandi." Dia beralasan, mencoba menarik diri dari rengkuhan yang lebih tua, "Aku serius, aku tak mau ngompol disini."
Sehun menahan tawanya, "Bohong." Ucapnya lagi, menggelitik pinggangnya, membuat Luhan sedikit terlonjak, "Sudah kubilang, kau tahu lebih baik daripada berbohong padaku."
Gadis itu menenggelamkan kepalanya ke dada Sehun, menjerit sedikit, "Apa Oppa sadar betapa kacaunya posisi kita ini? Lepaskan saja aku." Pintanya, menggeliat untuk membuat Sehun melepaskan dirinya.
"Memang kenapa? Kau bahkan mengemut hidungku saat masih kecil."
"Oh, astaga, itu sangat menjijikkan. Minggir!" Rengeknya, mengernyit sedikit ketika bayangan Oh Hani yang menjilati hidung Sehun, itu benar-benar menggelikan. "Tidak, untuk apa Oppa menceritakan itu padaku, minggir kubilang."
Sehun tertawa, dengan sukarela melepaskan lengannya yang tadi masih melingkar di bahu Luhan, "Oke, sana, pergilah." Ujarnya, merebahkan dirinya lagi, memeluk bantal yang tak terpakai di sampingnya.
Luhan menghela nafas, menuju kamar mandi tanpa bicara apa-apa lagi. Xiumin berada di dalam situ, berjongkok di atas wastafel, rambutnya tergerai berantakan di depan wajahnya, seperti biasa.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya gadis itu tak acuh, mengabaikan arah di sampingnya.
"Aku tak bercanda masalah kau tengah dikejar, Lu," roh itu menatapnya tajam, mengawasi pergerakan yang lebih muda, "Bisa-bisanya kau menemui Oh Hani di selnya."
"Aku harus memastikan dia baik-baik saja, dia akan segera pergi dari sana, dia tak bisa terluka."
"Sudah kubilang, dia takkan bisa pergi!" bentak Xiumin, mata hitam kelamnya menatap balik gadis yang membelalak, "Kau kira pertukaran akan berhasil? Kau tahu lebih baik daripada melakukannya, bahkan Hades tak bisa dipercaya."
Luhan mengerjapkan mata. Dia tahu, dia tahu dengan sangat, amat, sangat jelas hingga ke detai kecilnya bahwa ada kemungkinan tawarannya tak berhasil, tapi setidaknya dia harus mencoba. Dia tak bisa mati dengan membiarkan Sehun berpikir adiknya sudah tiada, atau hidup dalam rasa bersalah sebagai Changeling tak sempurna.
Tidak.
Dia tak bisa membiarkan hal itu terjadi.
Hal terbaik yang bisa dia lakukan adalah pertukaran itu, Xiumin takkan mengerti.
"Aku," dia menelan ludah, "Aku akan berusaha."
Giliran roh itu yang menghela nafas, "Luhan,"
"Hani," terdengar suara Sehun memanggilnya dari luar, mengetuk kamar mandi yang tertutup, "Kau masih lama? Aku perlu mandi juga."
Luhan memberi roh itu isyarat untuk pergi dengan segera, berdenyar meninggalkan gadis itu sendirian yang dengan tergesa melepas gaun tidurnya dan masuk ke dalam air, "Aku, aku masih lama. Mandi di kamar Eomma saja."
.
Sekali lagi, Luhan menemukan dirinya di ruang kelas, bosan dan hampi mengantuk. Gurunya mengajarkan sesuatu yang menurutnya benar-benar tak menarik, membuat matanya nyaris tertutup jka bukan karena Hyekyo yang menyikutnya perlahan.
"Aku bisa gila," keluhnya, membanting kepalanya ke meja, "Aku sangat mengantuk."
Namun seorang guru datang, mengetuk pintu dengan sopan, dan memanggil namanya. Luhan dibawa keluar dari ruang kelas, berhadapan dengan guru yang memanggilnya tadi.
Entah apa yang harus dia rasakan. Rasa bersyukur karena harus pergi dari kelas membosankan itu, atau terpukul karena berita yang dia dapatkan. Guru itu menatapnya penuh simpati, "Ini tentang ibumu."
Dia dan Sehun bersama-sama lari di lorong rumah sakit, mencari-cari dimana orang yang seumur hidup dipanggil ibu tersebut berada. Tidak, ini tak mungkin terjadi, jantung Luhan berdegup kencang, membiarkan Sehun berlari di depannya.
Dia tertinggal.
Dan ketika Sehun memasuki sebuah ruangan, dia hanya bisa menatap dari luar.
Ada sesuatu yang diperingatkan padanya oleh dua roh yang membawanya, sudah lama sekali, Luhan nyaris lupa dibuatnya. Tapi kalimat itu kembali terulang ketika dia menatap Sehun yang menggenggam tangan ibunya, matanya yang berkilat khawatir bahkan tampak jelas dari luar.
"Kau adalah anak iblis, cepat atau lambat, kau akan membawa kesengsaraan."
Benar sekali.
Penyakit, kesengsaraan, kesedihan, apapun itu. Dia akan datang sebagai pengganti anak yang dibawa pergi, ditakdirkan untuk membunuh keluarga tersebut, namun sebelumnya, keluarga itu akan merasakan peedihan yang mendalam. Entah itu karena penyakit yang menimpa mereka, kematian yang tiba-tiba, atau bencana lain yang tak diduga.
Ini salahnya. Ini semua salahnya, itu pasti.
Ayah mereka telah meninggal, jika sekarang ibu mereka juga pergi menyusul, Sehun akan sendirian di dunia ini. Gadis itu tersenyum pahit, "Jadi itu yang kau maksud dalam aku atau Sehun."
Pilihannya hanya mereka berdua sekarang jika itu bukan Luhan yang bertahan dan hidup sendirian, itu akan menjadi Sehun yang menjadi sebatang kara dan sendirian dalam umurnya yang masih 17 tahun.
"Kau tak mau masuk?" Tanya roh yang tiba-tiba muncul di belakangnya. Anak kecil mengenakan baju rumah sakit, bibir dan kulitnya pucat. Matanya memperhatikan Luhan dengan penuh tanda tanya, "Aku kenal kau, Changeling pengkhianat." Dia menyeringai.
"Aku bukan pengkhianat." Bisik Luhan, menggenggam gagang pintu lebih erat.
"Katakan semua yang kau mau, kita lihat apakah aku bisa diterima di negeri orang mati dengan membawamu kesana, Buronan." Tangan anak itu mencengkramnya kuat, lebih kuat dari anak kecil pada umumnya, membuat gadis itu mengernyit kesakitan.
"Lepas kubilang." Perintahnya, menggeliatkan tangannya agar dilepas. "Kakakku ada di dalam, aku bisa berteriak jika kau melakukan macam-macam, asal kau tahu, dia bisa melihatmu." Ancam Luhan, namun anak itu menyeringai kembali.
"Apa kau bilang? Kakak? Maaf, dari yang kutahu, marga keluarga pasien di dalam adalah Oh, bisa kau beritahu nama lengkapmu?" Dengan begitu, mata Luhan berkilat marah, kalimat itu memukulnya tepat di dada, sakit rasanya. "Ups, apa aku mengatakan sesuatu yang buruk?"
"Sialan, kau-"
"Hani," panggil Sehun dari dalam, menyadari yang lebih muda tak mengikutinya masuk, "Dia tadi ada, dia tadi bersamaku."
Anak itu akhirnya melepaskan cengkramannya, "Waktunya aku pergi." Dan dengan kabut hitam, dia berdenyar pergi dari hadapan Luhan.
Dengan cepat, gadis itu mendorong pintu masuk, menemui wanita yang terbaring lemah. "Eomma."
"Hai." Dia tersenyum, mengelus tangan putrinya dengan lembut, "Kalian seharusnya sekolah."
"Sudah kubilang, kami akan menemani Eomma saja." Bantah Sehun, menggelengkan kepalanya.
"Kami tak apa membolos." Ucap Luhan, mendukung kakaknya, "Bukan, ini bukan bolos jika kami izin, kan?"
Sehun mengangguk setuju, "Lagipula," ujarnya lagi, "Kami senang kalau tak masuk kelas."
"Sehun." Tegur sang ibu, membuat remaja itu mengangkat tangan menyerah. Sementara mereka bercengkrama, Luhan sempat menanyakan apa penyakit ibunya, dan yang membuatnya terkejut adalah Leukimia yang telah lama menyerang wanita itu.
Bahkan Sehun tak mengetahui hal tersebut.
Dan kenapa baru kambuh sekarang?
"Kami akan membiarkan Eomma beristirahat." Ucap Sehun setelah sekian lama, menarik Luhan untuk pergi dan membiarkan ibu mereka tidur.
"Tunggu," tahannya, "Bisakah kau biarkan Hani disini?" tanyanya, membuat Luhan mengernyit, menatap Sehun yang sama bingungnya. Apa yang diinginkan ibu mereka padanya?
"Kenapa, Eomma? Wah, aku terluka, kenapa Eomma memintanya tinggal, bukan aku?"
"Sehun." Tegur ibunya lagi, membuat yang lebih tua menghela nafas dan meninggalkan adiknya berdua dengan sang ibu. Wanita itu menatap Luhan yang menundukkan kepala, "Kau terkejut, Hani?" tanyanya lembut dan gadis itu mengangguk pelan, "Maaf, aku hendak memberitahu kalian, tapi kematian Minjae sangat memukulku, memukul kita semua."
Sekali lagi, Luhan mengangguk, dia tak tahu apapun soal itu, dan diam adalah pilihan yang terbaik.
"Kau ingat kapan ayahmu meninggal?" Luhan menggeleng, membuat wanita itu menariknya untuk duduk. "Katakan pada Eomma," mulainya, nadanya seolah menekankan kata panggilan ibu, "Siapa namamu?"
Luhan menaikkan kepala, matanya membelalak karena terkejut, apa dia sudah tahu?
"Hani? Bukan Hani, kan?" tanyanya lagi, menaikkan alisnya.
.
Ibu Sehun melangkah untuk masuk ke kamar anaknya, berita putrinya yang pingsan di tengah pelajaran membuatnya segera pulang ke rumah, mengetahui Sehun telah mengantar adiknya untuk beristirahat di rumah.
"Aku hanya bingung." Dia mendengar anaknya berucap, dahinya berkerut, dia bicara dengan siapa? "Tapi aku tak yakin bisa menceritakan padamu atau tidak."
Dia mendengar anaknya bercerita panjang lebar.
Bagaimana rasa bimbang terus menyeruak setiap kali dia melihat wajah kakaknya, ketika dia telah menetapkan bahwa dia takkan bersikap lembut, wajah remaja itu akan muncul di pikirannya dan membuatnya goyah. Menyadarkan sisi kemanusiaannya yang awalnya memudar. Tunggu, sisi kemanusiaan?
Dan betapa hangatnya ibu Oh Hani padanya, membuatnya tak ingin menumpahkan darah wanita itu. Dia seolah seorang manusia yang terlalu baik untuk dibunuh. Dan sekali lagi, rasa kemanusiaannya muncul, walaupun lebih kuat ketika itu tentang Sehun. Kenapa anaknya sendiri menyebut namanya seolah dia adalah orang lain?
"Apa kau pernah merasakan hal seperti itu?" Terjadi jeda sedikit, "Benarkah?"
"Tapi kau dengan cepat menetapkan pilihanmu." Bisik anaknya pelan, penuh penyesalan, dan jeda kali ini lebih lama dari awalnya. "Pernah, sedikit, yah, lebih kurang."
"Tapi," Ucap putrinya lagi. "Tapi sepertinya kau belum rela melepaskan kemanusiaanmu." Dan sekarang ada jeda lagi. Jujur saja, wanita itu sangat tergelitik untuk masuk dan bertanya apakah ada seseorang di kamarnya. "Apa itu namanya? Keserakahan?" Dia menyernyit, "Karena itu kau tak bisa membunuh mereka?"
Sepertinya sudah tak ada lagi yang berbicara, membuatnya nyaris mendorong pintu agar terbuka ketika mendengar putrinya mengatakan, "Jadi aku benar-benar harus membunuh keluarga Oh Hani agar tetap hidup?"
.
Luhan benar-benar terpukul.
Gadis itu lemas di atas kursi, menatap wanita yang balas memperhatikannya dengan alis terangkat, menunggu jawaban darinya.
Benar sekali, siapa yang tahu ada yang menguping ketika dia berbicara dengan Xiumin, seharusnya dia dobrak saja pintu itu, akan lebih mudah dikatakan berhalusinasi daripada ketahuan seperti ini.
"Eom- Eomma," Luhan tergagap, "Aku benar-benar, ak- aku tak pernah," dia benar-benar mati kutu saat ini, apa yang terjadi saat ini benar-benar keluar dari apa yang dia harapkan, jauh dari ekspektasinya.
Dia mengharapkan ibunya yang mengajaknya berbincang selayaknya ibu dan anak biasa, menganggap dirinya sebagai putrinya, bukan arwah yang bertugas melenyapkan mereka dari dunia ini.
Dia menatap sekeliling, terlalu takut untuk melihat mata wanita yang masih terbaring di tempat tidur. Dia sangat ketakutan saat ini, dia ingin tidur, dia harus kembali sekarang, dia harus memberitahu Oh Hani.
Oh, astaga, anak itu. Sekarang dia benar-benar harus mencari cara bagaimana mengeluarkan gadis itu dari sel, sekarang ketika Nyonya Oh sudah tahu, akan sulit untuk hanya menghilang, dia harus membebaskan Oh Hani terlebih dahulu.
Tapi masalah yang lebih besar sekarang adalah sang ibu yang masih mengharapkan jawaban darinya, menatapnya dengan penuh sabar, tangan masih tergenggam. Luhan meneguk ludahnya sendiri untuk membasahi kerongkongannya yang telah kering.
Dia tak tahu apa yang harus dia katakan. Mengatakan, 'Hai, nama asliku Luhan, aku disini untuk menggantikan Oh Hani dan membunuh kalian karena anak yang asli sudah ditahan.' Gila.
Tapi tunggu.
Jika ibunya tahu, apakah Sehun juga tahu?
Remaja yang baru saja memeluknya saat tertidur tadi malam, apakah dia sudah tahu?
Apa perasaan Sehun nantinya ketika dia mengetahui kenyataan pahit ini? apakah dia akan membencinya? Apakah dia akan menghujatnya? Benar sekali, akan lebih mudah seperti itu, bukan? Jika Sehun menghujatnya, dia tak memiliki apapun untuk membuatnya merasa kehilangan, ini akan jauh lebih mudah, benar bukan?
"Bisakah kau beritahu aku namamu?" Tanya wanita itu lagi, membuyarkan pikiran Luhan yang tak karuan sedari tadi. yang lebih tua menghela nafas, "Aku hanya butuh namamu, tak lain hal, tak bisakah?"
Gadis itu menelan ludah kembali, dia benar-benar terdiam. Bagaimana dia bisa memberitahukan namanya sedangkan nama adalah senjata kuat yang bisa mengusirnya. Ibu Sehun tak bisa mengusirnya, dia harus mengembalikan Oh Hani sebelum pergi.
Jika dia diusir sekarang, dia takkan pernah bisa kembali lagi. Luhan tahu itu.
"Aku tak bisa memanggilmu Hani, iyakan?"
Dan sejenak, waktu seolah terhenti bagi Luhan, membuatnya tenggelam dalam banyak pikiran, seolah arwah-arwah dari Límni tis Dystychías menerjangnya kembali, memintanya untuk turun saja dan pergi, bebrapa memintanya untuk membunuh dan hidup.
Mereka terus berbisik, menutupi telinganya dengan jeritan pilu dan teriakan kesakitan mereka, membuat Luhan mengernyit, tak menghiraukan wanita di depannya dan hanya terus menutup telinganya yang kesakitan.
Luhan melemah, tubuhnya terjatuh ke kaki temapt tidur, turun dari kursi tempat dia duduk, gadis itu menutup telinganya rapat-rapat, ketakutan dengan semua yang didengarnya.
Nyonya Oh terkejut dan berusaha mendorong dirinya untuk duduk, membantu makhluk apapun itu yang menyamar menjadi anaknya. Namun Luhan terus meronta, menjerit serasi dengan teriakan arwah-arwah yang masuk ke kepalanya.
Bunuh mereka!
Mati!
Pulang!
Jelaga itu masih membara!
"Tidak!" Jeritnya, semakin meronta bahkan ketika wanita itu berusaha menggenggam lengan Luhan yang gemetaran, seluruh tubuhnya mengeluarkan keringat dingin, ini lebih parah dari episode ketika dia di kamar, malam itu ketika Sehun menemuinya.
"Tenanglah, tenang." Dia mendengar sayup suara orang yang dipanggil kembarannya sebagai ibu, namun dia tak bisa mematuhinya, ini terlalu sakit.
'Saat itu, aku benar-benar tak tahu, apa suara-suara di kepalaku adalah halusinasi atau rasa takut yang kuciptakan sendiri. Mungkin aku bahkan tak punya waktu yang cukup untuk merenungkannya. Mungkin aku tak punya waktu yang cukup untuk mencarinya. Namun rasa takut ini, rasa takut akan ditinggalkan oleh orang yang kusayangi semakin menghantuiku, menciptakan halusinasi aneh, menenggelamkanku jauh di bawah, menarikku dengan arus yang kian kencang. Hanya itu hal yang kuketahui, aku tak tahu apa itu, yang kutahu adalah perbedaan yang amat sangat tipis di antara rasa takut dan halusinasi. Dan hal terakhir yang kuingat adalah suaranya yang berteriak, menjeritkan nama yang bukan milikku, dan memelukku kian erat.'
What kind of plot twist did I just make?
God, ini sangat crappy.
Well, aku minta maaf, aku sangat desperate sebenarnya.
Juga, kalau ada apa-apa, kalian bisa katakan di review, aku akan berusaha memperbaikinya di chapter enam.
Benar sekali, chapter lima sudah selesai dan aku sedang mengerjakan chapter enam, LOL.
Oh! Aku membuat tanda waktu dengan titik, tapi kalian tolong beritahu aku kalau tak bisa melihatnya, jebal juseyo... (Karena terkadang dia menghilang)
Yoon Soo Ji, out!
