HELLO TEACHER
Kris x Baekhyun (KrisBaek)
GENDERSWITCH (GS), NC.
.
.
.
I'm back dari hiatusku yang singkat. Cuma sebulan.
Ini spesial, lebih panjang dari tiga sebelumnya. Ini hampir empat ribuan words yang sebelum-sebelumnya cuma duaribuan words. Ini juga full Baekhyun POV. Aku udah lama gak nulis pake POV jadi terasa sedikit aneh–bagiku. Ah dan yang ini tak se-hot yang sebelumnya. Maaf :(
.
This is for you all. Semoga suka.
.
.
.
Happy Reading ^^
.
.
.
Aku melepaskan bibirku dari sela bibir Kris dan mendongak hendak menatapnya tapi ia malah menurunkan wajahnya. Nafas hangatnya menerpa leherku, dan bibirnya terus menciumi area leherku.
"Aa~ Krish sudah~" Pintaku, sedikit mendesah.
Bukan sengaja untuk menggodanya, tapi memang sangat sulit mengontrol desahanku saat kedua tangannya bermain-main di dada dan sela pahaku, belum lagi bibirnya yang berada di leherku. Tubuhku sudah sangat lemas, jangan sampai aku orgasme ketiga kalinya saat miliknya masih belum menyentuh milikku sama sekali.
"Krishh~" Aku merengek. Lututku sudah gemetaran menahan rangsangannya tapi ia masih betah mempermainkaku.
"Songsaengnim~" Panggilku. Biasanya ia selalu menurutiku saat aku memanggilnya 'Songsaengnim'.
Aku bersyukur bibirnya sedang berada di leherku, jadi aku masih bisa mendesah dan merengek padanya.
Ia berhenti, menarik tangan bibirnya dariku.
"Ayo masukkan milikmu~" Pintaku. Terengah dan berkeringat. Aku menginginkannya di dalamku sekarang dan dia hanya diam, tangannya bertumpu di dinding tepat di samping kepalaku dan mentapku. Aku tau ia menginginkaku juga.
"Sangat tidak sabaran, hm." Godanya dengan senyum miringnya yang tampan.
Aku mengangguk dan menggigit bibirku, sudah cukup bermain dengan bibir dan tangannya, aku mau miliknya.
Ia tertawa, mengejek. Tapi kuacuhkan, ia juga menginginkaku. Aku tau itu. Karena sekarang ia sedang menelanjangkan dirinya sendiri.
"Ouh Baekhyun-ku, kau sungguh nakal." Ucapnya, masih dengan senyum miringnya. Tubuhnya telanjang sekarang, sama sepertiku dan ia sangat seksi, rambut pirangnya yang berantakan, titik-titik keringat di tubuhnya, miliknya yang menegang, wajahnya, semua sangat seksi. Aku menginginkannya.
Ia melangkah dan langsung memelukku. Miliknya yang mengeras menyentuh perutku dan aku mendongak menatapnya.
"Anak nakal harus dihukum Songsaengnim." Ucapku manis.
Ia menunduk, wajahnya mendekat, hidungnya menyentuh hidungku, aku merasakan nafasnya yang memburu.
"Aku tak akan menghukummu, baby. Aku akan memberikanmu sedikit kenikmatan."
"Oh, terimakasih." Aku tersenyum malu-malu menjawabnya. Sengaja untuk menggodanya.
"Berhenti, itu membuatku terangsang dan makin menginginkanmu." Bisiknya, suaranya serak dan seksi.
"Yes, aku milikmu."
Dan setelah mengucapkan kata itu ia berkedip, sedetik kemudian bibirnya telah menguasai bibirku. Ia menuntunku ke sofa lagi sementara bibirnya masih terus bergelut dengan bibirku.
Aku berbaring di sofa tempatku tidur tadi dengan tubuhnya yang berada di atasku, bibirnya masih berada di mulutku. Mendominasi, tak memberikan kesempatan padaku untuk sekedar membalas ciumannya. Ia begitu liar, aku kewalahan tapi aku suka.
Ciumannya berhenti, ia mengangkat tubuhnya sedikit dan mulai mengarahkan miliknya yang keras dan besar memasukiku.
Aku menggigit bibirku saat ia tiba-tiba menghentakkan miliknya dan menggapai bibirku, menciumnya dengan ganas sambil menggerakkan pinggulnya dengan cepat.
Aku hanya bisa meremas lengan kokohnya, ia begitu bersemangat dan aku begitu lemas. Aku bersyukur karena ia membawaku kesofa, karena aku yakin kakiku tak akan kuat bercinta sambil berdiri dengan songsaengnim-ku yang sangat bersemangat ini.
"Baby~" ia menggeram, aku mencengkeram lengannya makin kuat.
Ia menghentakku dengan kasar dan dalam. Aku tak tahan, cairan cintaku keluar. Aku sudah sangat lemas di bawahnya. Ia masih terus berusaha mencapai orgasmenya, menusukku cepat dan dalam. Beberapa kali tusukan, ia akhirnya tumpah di dalamku. Ah syukurlah.
.
Aku memejamkan mata, menyandarkan kepalaku, lelah tapi juga puas. Tubuhku terasa ringan. Setelah bercinta di ruangannya, kami langsung pulang. Tentunya setelah ia merapikan ruanganya terlebih dahulu.
Kami masih dalam perjalanan pulang. Butuh beberapa menit dari sekolah untuk tiba di rumah Kris. Dan aku menggunakan waktu itu untuk mengistirahatkan tubuhku. Malam ini aku akan menginap di rumahnya dan aku yakin, bercinta akan menjadi kegiatan pembuka kami sebelum akhirnya tertidur.
Aku tak bisa menahan untuk tak tersenyum. Aku bahagia bersamanya, yah meski umur kita berbeda jauh tapi dia tampan, baik, perhatian, posesif, bekecukupan dan oh bernafsu. Itu sudah lebih dari cukup untuk membuatku bahagia menjadi kekasihnya. Kekasih kecilnya.
Aku melirik ke arahnya, dia sedang serius memperhatikan jalan raya. Dia sangat tampan, sangat baik, sangat pintar, sangat sempurna. Semua wanita ingin menjadi miliknya. Ouh, aku memutar mataku karena mengingat seorang guru wanita centil yang selalu mendekati Kris Songsaengnim-ku. Hei, dia milikku.
Setidaknya, itu yang selalu aku pikirkan.
Aku meliriknya lagi. Melihat sosoknya yang sempurna, rasa ragu tiba-tiba mejalari hatiku. Apa dia benar-benar milikku, hatinya? Tubuhnya? Seperti halnya aku. Tanpa ia meminta, aku sudah menjadi miliknya seutuhnya.
Aku memejamkan mataku, mereka ulang semua kebersamaan kami. Seberapa sering ia mengucapkan cinta padaku.
Berpikir ... Berpikir ... Berpikir.
Ah, yang ku ingat hanya beberapa kali dan itupun karena aku bertanya padanya.
Kami sudah menjadi sepasang kekasih selama sekitar lima bulan. Cukup lama kan? Kami bercinta saat hari pertama aku menjadi kekasihnya dan jadi lebih sering setelahnya. Ya, hari dimana aku ke rumahnya untuk belajar dan memakai baju yang tipis dan bawahan yang pendek. Aku berterimakasih pada Do Kyungsoo, sahabatku yang telah memilih baju itu untuk aku pakai. Dan sedikit merutuki kebiasaanku yang tak suka memakai bra, karena di situasi itu dia jadi lebih mudah menggodaku.
Hari itu juga aku menjadi kekasihnya dan dia juga mengatakan dia mencintaiku. Dia mengucapkannya setelah selesai bercinta. Tapi kenapa aku tampak sangat murahan dan kenapa dia terkesan hanya menyukai tubuhku saja.
"Baby, ada apa?"
Aku berbalik mentapnya, menggeleng dan memberikan senyum kecil padanya dan kembali menatap ke luar jendela. Aku ragu padanya, benar-benar ragu. Selama lima bulan dia hanya mengucapkan cinta padaku beberapa kali? Suho, kekasih Kyungsoo bahkan mengatakan kata cinta tiap jam. Dan bodoh, kenapa aku baru sadar sekarang? Kenapa aku begitu bodoh? Apa karena dia begitu tampan dan aku begitu menyukainya hingga aku benar-benar tak menyadari hal itu?
"Baekhyun, apa yang kau pikirkan?"
Suaranya terdengar lagi, lembut dan terdengar penasaran.
"Tidak ada." Jawabku, aku bahkan tak sanggup berbalik untuk memberikannya senyum padanya.
"Kita sudah sampai, baby. Dan kau masih terus duduk disitu. Apa yang mengganggu pikiranmu?"
Apa? Sudah sampai? Ugh, Kris benar-benar mengalihkan duniaku. Aku bahkan tak sadar saat suara mesin mobil di matikan.
"Tidak, aku hanya lelah."
Aku membuka pintu mobil dan berjalan keluar. Berdiri di dekat pintu sambil menunggu Kris yang baru saja keluar dari mobil.
Saat ia sudah membuka pintunya, aku langsung saja masuk kedalam. Bertingkah layaknya akulah sang tuan rumah. Biarlah, suasana hatiku sedang kacau. Kris pasti menyadari tingkahku.
Kau sangat percaya diri.
Bisikan itu. Ya, aku mungkin sangat percaya diri. Aku tak yakin apa dia mencintaiku, kenapa aku bisa yakin kalau dia menyadari tingkahku.
Aku menapaki tangga, berhenti di depan pintu dekat tangga dan tanpa segan langsung masuk ke dalamnya. Ini kamar Kris. Aku sudah beberapa kali menginap di sini, dia tinggal sendiri jadi aku bebas.
Aku membuka lemarinya, menarik salah satu t-shirt-nya dan langsung memasuki kamar mandi. Membersihkan wajahku, sikat gigi, cuci kaki, cuci tangan dan terakhir aku membuka baju seragamku dan memakai t-shirt Kris. Warnanya hitam, kainnya nyaman dan terasa lembut, kebesaran untukku tapi itu bagus karena setidaknya t-shirt itu bisa mentupi pantatku dan tentu saja yang di depan juga. Aku tak tau di mana Kris menyimpan underwearku saat ia membukanya tadi siang.
Aku sudah bersih dan lebih segar. Tidur mungkin lebih baik. Aku mugkin akan menolak bercinta dengan Kris malam ini, pikiranku sedang kacau. Tapi aku tak yakin, dia bisa saja memaksaku. Bukan dalam artian buruk. Maksudku dia bisa saja memaksaku dengan cara menggodaku. Ya, dia tau tubuhku dari ujung bawah sampai ujung atas, bagian sensitifku, dia tau semua. Dia bisa saja mengandalkan itu kan?
Ck, biarlah. Aku mungkin bisa menghadapinya. Aku menarik nafas dalam sebelum, membuka pintu.
Dia berdiri tepat di depat pintu, dan jantungku melompat karena kaget. Ia sudah melepas jasnya, juga dasi, dua kancing teratas kemejanya juga sudah terbuka dan sudah tak berada dalam celana lagi. Dia terlihat seksi.
"Hai." Sapaku canggung.
Dia diam, melipat tangan di dada dan menatapku dengan satu alis terangkat.
"Kau mau masuk? Aku sudah selesai ... Mmm silakan~" Lanjutku, menggeser tubuhku ke samping agar dia bisa lewat.
Dia masih diam, malah mengangkat alisnya makin tinggi. Aaa apa yang dia inginkan?
Aku menjilati bibir atasku karena gugup.
"Ah, aku meminjam bajumu. Aku tak bawa baju." Ucapku lagi sambil mengangkat bahu mencoba terlihat acuh.
Dia menghela nafas, alisnya sudah turun tapi sekarang kakinya ia ketuk-ketukkan di lantai. Aku benar-benar gugup. Tapi kenapa? Aku tak mencuri.
Aku menghela nafas berat, bahuku turun, wajah cemberut, sangat tidak feminin dan berkelas. Biar saja, aku baru kelas dua menengah atas kan?
Berjalan maju dan mencoba menerobos Kris melalui celah disampingnya.
"Kau mau kemana, Nona? Kau punya urusan denganku." Ujarnya dingin.
Aish, tinggal satu langkah dan aku bisa keluar tapi dia menghalangiku.
Aku mundur satu langkah dan mendongak menatapnya. "Urusan apa? Bisakah kita bicarakan di tempat yang lebih nyaman?"
Dia menatapku tajam. "Tidak, kau ada urusan denganku. Disini."
Apa? Kita baru saja bercinta, bibirnya di bibirku, miliknya di dalamku dan tak sampai satu jam suasannya jadi setegang ini. Hebat. Ada apa dengan Kris songsaengnim-ku ini? Ataukah ada apa denganku?
Aku memberikan tatapan bertanya padanya.
"Apa yang kau sembunyikan dariku? Apa yang kau pikirkan?" Tanyanya.
"Apa yang kupikirkan? Well, yang ada dipikiranku adalah urusan penting apa antara kau dan aku di pintu kamar mandi."
Kulihat rahangnya mengeras, bibirnya mengatup kuat dan rasa berani yang terpancar dari suaraku tadi, sekarang sudah benar-benar hilang.
"Apa yang kau pikirkan saat kita berada di mobil. Kutebak, itu ada hubungannya denganku. Kau mengabaikanku, kau menyembunyikan sesuatu dariku dan aku tak menyukai hal itu, Nona Kecil."
"Bersihkan badanmu, aku menunggumu di tempat tidur." Ucapku lemas. Bisikan-bisikan bahwa Kris tak mencintaiku terus berdengung di kepalaku, itu menggangu dan juga menyakitkan.
Ekspresi wajahnya berubah lembut, ia menggeser tubuhnya sedikit hingga aku bisa lewat. Dia tak segera masuk di kamar mandi, tapi aku aku tak berbalik. Berjalan terus menuju kasur besar di depanku, membaringkan tubuhku di atasnya. Dan aku mendengar suara pintu kamar mandi di tutup setelahnya. Aku meringkuk, menarik selimut untuk menutupi bagian bawahku.
Kenapa suasananya jadi begini? Apa sekarang kami sedang bertengkar?
Beberapa menit kemudian, Kris keluar dari kamar mandi. Kulihat ia sedang mengganti bajunya. Ia membuka baju dan celananya dengan nyaman, seperti hanya dia saja yang berada di kamar ini.
Sesaat aku mengagumi tubuhnya. Sangat indah, seperti melihat pertunjukan seni secara langsung.
Ia tak memakai baju, hanya memakai celana pendek yang nyaman dan berjalan dengan santai ke arahku. Berbaring di belakangku dan lengannya merengkuhku. Kenapa rasanya aku ingin menangis?
"Baby, ceritakan padaku. Apa yang mengganggu pikiranmu?" Tanyanya lembut.
Apa yang terjadi padanya di kamar mandi? Sebelum memasuki kamar mandi dia adalah Kris yang dingin dan galak, setelah keluar ia jadi Kris yang lembut.
Aku tak langsung menjawab. Mendadak aku jadi ragu lagi.
Beberapa menit berlalu, dia masih diam. Tak menuntutku untuk bicara.
"Apa kau mencintaiku?" Suaraku sangat kecil, tapi aku yakin dia mendengarku.
"Apa aku mencintaimu, begitu?" Tanyanya.
Aku bergumam menanggapinya.
"Hmm jadi itu yang mengganggu pikiranmu?"
Aku menggeleng.
"Jadi?"
"Apa kau hanya menyukai tubuhku saja?"
Suaraku tambah kecil, berbisik. Tubuhnya tersentak di belakangku. Dadaku bergedebum kencang menunggunya membuka mulut.
"Kau benar-benar ingin mengetahuinya?"
Aku tak menjawab.
"Hmm~" Dia bergumam, berpikir mungkin. Tapi apa yang perlu di pikirkan? Kalau dia memang mencintaiku, kenapa harus berpikir. Jadi apa itu berarti dia tak mencintaiku dan hanya menyukai tubuhku saja? Oh, air mata sudah menggenang di mataku.
"Dengar baik-baik. Anggaplah aku membeli kue dan mendapat bonus permen. Begitulah situasinya. Apa kau mengerti?"
Alisku mengkerut, air mataku tak jadi jatuh. Apa maksud perkataannya. Kue? Permen? Apa hubungannya?
Dia menghela nafas, tangannya mengerat membungkus tubuhku.
"Kau adalah kue dan tubuhmu adalah permen."
Aku berbalik, menatapnya bingung.
"Kue? Permen? Aku? Aku tak mengerti." Tanyaku bingung.
Dia memejamkan matanya sejenak lalu menatapku.
"Jangan memasang ekspresi itu, Baby. Itu membuatku ingin membawa tubuhmu mengangkang di bawahku."
Mengangkang di bawahnya? Menarik, tapi sayangnya aku sedang dalam mood yang buruk untuk mau mengangkang di bawahnya.
"Aku tak mengerti, Kris. Jelaskan padaku." Desakku.
Dia mendorongku, mengubah posisi hingga sekarang aku sudah berada di bawahnya. Tapi tidak mengangkang!
Sikunya bertumpu di samping tubuhku dan tangannya yang lain memainkan rambutku. Aku menelan ludahku, apa ia menggodaku?
"Kue disini adalah dirimu, Byun Baekhyun. Aku mencintaimu. Sedangkan permen itu adalah tubuhmu dan itu adalah bonusku karena telah mencintaimu. Hmm aku juga suka bonusnya."
"Benarkah?"
"Iya, baby. Aku mencintaimu."
Aku susah payah menahan senyumku, dan berusaha cemberut.
"Yang jelas, Kris Wu."
Dia mengecup bibirku dan menempelkan dahinya di dahiku. Matanya menatapku dalam, lembut dan aku tak dapat mengalihkan pandangaku.
"Aku mencintaimu."
Bisiknya lembut, sangat lembut. Aku berkedip, mendengar ungkapan cintanya rasanya seperti mendapat Ice Cream gratis di tengah panasnya matahari.
"Ucapkan lagi."
"Aku mencintaimu."
"Lagi."
"Aku mencintaimu."
"Sekali lagi."
"Aku mencintaimu."
"Sekali lagi, yang terakhir."
"Aku Kris Wu, menyatakan dengan sepenuh hati bahwa aku mencintai Byun Baekhyun dan akan selalu mencintainya."
Dia tiba-tiba menciumku, membawa bibirku di sela bibirnya dan menghisapnya lembut.
"Buka matamu, baby." Bisiknya disela bibirku.
Aku membuka mataku, matanya menatap lembut ke dalam mataku. Aku diam menatapnya sementara bibirku masih berada di sela bibirnya. Sesaat aku terlena karena ciumannya yang lembut, aku hendak menutup mataku tapi ia menggeram kecil dan aku kembali menatap matanya. Bibirnya berhenti.
"Aku mencintaimu ... Sangat mencintaimu." Bisiknya di bibirku.
Ini sangat manis, aku tak menyangka Kris Songsaengnim-ku bisa berbuat semanis ini. Ini memang hanya pernyataan cinta yang teramat biasa tapi ini benar-benar manis bagiku, aku rasanya ingin menangis. Ini adalah hal termanis yang pernah dia lakukan padaku. Aku merasakan cintanya dan aku juga mencintainya.
Aku meraih bibirnya, mengecupnya dan menggit bibir bawahnya, menariknya dengan gigiku lalu melepasnya.
"Aku juga mencintaimu." Balasku.
Ia tersenyum, "Tapi aku lebih mencintaimu." Setelah berucap demikian, ia kembali membawa bibirku di sela bibirnya. Melumatnya, sangat lembut. Lidahnya bergerak di dalam mulutku, menggoda lidahku.
Aku melenguh, menarik tengkuknya. Saat ingin membalas ciumannya ia menarik bibirnya lalu mengecup bibirku. Pindah ke pipiku, bibirnya basah.
Aku menutup mataku, bibir Kris menjelajahi leherku dengan lidah dan bibirnya. Mengecup dan menjilatnya, rasanya basah dan lembut.
Tangannya meraih salah satu tanganku yang berada di lehernya lalu menggenggamnya, meremasnya dengan lembut. Ia menarik kepalanya dari leherku, aku terengah begitupun dengan dia.
"Aku mencintaimu."
Bisiknya lagi, mencium punggung tanganku yang ia genggam.
"Jangan meragukanku."
Aku menggeleng keras. Aku tak akan meragukannya lagi.
Ia tersenyum, dan kembali menciumku.
Aku mencintainya, dan aku dengan senang hati bersedia mengangkang dan mendesah di bawahnya. Yeah, aku suka itu.
Kris bangkit dari atasku, ia langsung berbaring di sampingku, menghadapku dengan tangan yang menyangga kepalanya. Tangannya yang satu bermain dengan rambutku. Ia hanya diam menatapku, senyum kecil tersungging di bibirnya. Senyumnya menular padaku.
Aku menjilat bibirku, "Tak ingin menciumku lagi?" Tawarku.
Ia terkekeh sebentar, lalu tangannya yang memainkan rambutku beralih mengusap bibir bawahku.
"Sangat ingin. Tapi aku tak ingin hilang kendali, kau tak pakai celana di bawah sana, menciummu sekarang terlalu beresiko. Aku harus mengontrol diriku dan tak melakukan itu sebelum kau jadi istriku."
Sejenak, aku diam menunggu otakku memproses kata-katanya. Wajahnya sangat serius saat mengucapkannya. Dia sungguh-sungguh? Aku menahan mataku agar tak melotot.
"Maksudmu?" Tanyaku.
"Ayolah, baby. Aku tak ingin kau meragukanku lagi, jadi tidak ada bercinta sebelum kita benar-benar telah menikah."
"Menikah? Kau melamarku?"
Terkejut? Tentu saja. Apa ia sedang melamarku? Apa aku bahagia? Aaaaa tentu saja.
"Bisa dibilang iya, tapi belum. Aku tak ingin melamar seseorang yang hanya memakai t-shirt kebesaran yang pantatnya kelihatan. Aku ingin melamarmu dengan cara yang spesial. Dan tentu saja, itu setelah kau besar, Baby."
Dia menggodaku? Dia sungguh-sungguh menggodaku. Kebahagiaanku menguap berubah jadi rasa malu. Pantatku kelihatan? Kemana selimutku? Tapi apa yang salah jika pantatku kelihatan, dia juga sering melihatnya. Dan lagi, aku sudah besar.
"Aku sudah besar, pak tua. Aku sudah bercinta." Ucapku bangga dan menatapnya sangar. Tapi dia malah terkekeh.
"Ya ya ya... Kau sudah bercinta, dengan si pak tua ini." Candanya.
Kemarahanku menguap lagi. Aku ikut tertawa bersamanya.
"Aku mencintaimu, pak tua."
"Aku juga mencintaimu, anak kecil nakal."
Dia mencubit hidungku. "Kalau begitu, bercintalah dengan anak kecil nakal ini." Pintaku, semoga dia sudah berubah pikiran.
"No. Kau harus tidur, sekarang."
Aku cemberut, "Ayolah, songsaengnim."
"Tidak Baekhyun. Aku tak mau kau meragukanku."
Aku menggeleng. Mendorong tubuhnya hingga terlentang dan langsung menindihnya.
"Kris~ aku tak akan meragukanmu lagi. Aku berjanji."
Ia tersenyum, "Itu bagus. Sekarang kita bisa tidur."
Kalau tak mengingat umurku, aku ingin menangis meraung-raung memanggil eomma-ku sekarang.
"Tidak, songsaengnim. Iish kau sangat mengesalkan."
Aku bangkit dari atas tubuhnya. Berbaring dan memunggunginya. Aku meringkuk, aku tau pantatku pasti kelihatan, tapi biar saja. Mungkin itu bisa merubah pikirannya.
Lagipula, kenapa bisa dia berpikiran seperti itu. Aku hanya ingin dia mengatakan kata cinta padaku. Bukannya tak ingin bercinta.
Saat mencoba untuk tidur, aku merasakan pergerakan Kris di belakangku. Ia memeluku dari belakang, menciumi tengkukku.
"Apa aku membuatmu sedih?" Bisiknya.
"Sangat. Kau menolakku dan itu mengesalkan."
Ia menghirup dalam leherku. "Maaf."
Kenapa dia minta maaf? Apa ia sengaja ingin membuatku menangis? Sesuatu mengganjal di tenggerokanku dan itu tandanya air mataku sudah akan keluar. Oh tidak. Aku tak bisa menjawabnya kalau tidak aku benar-benar akan menangis.
Ia mengeratkan pelukannya, menggumamkan maaf lagi.
"Maaf~"
Aku sudah menangis. Haah benar-benar cengeng.
Aku mencoba tetap diam. Dia akan terus mengataiku anak kecil jika tau aku menangis.
"Jangan menangis, kumohon."
Ia menarikku dengan lembut hingga aku kini sudah menghadapnya. Aku terisak, air mataku membasahi dadanya yang telanjang.
Aku tak terlalu lama menangis, tapi aku tetap bergelung dalam pelukannya saat tangisku sudah reda.
"Apa tawaranmu masih berlaku?" Tanyanya ragu.
"Kau akan menolakku lagi."
"Tidak, asalkan kau mau berjanji bahwa kau tak akan meragukanku lagi."
"Tentu saja."
Ia menyeringai mesum. Pertanda bagus.
Ia lalu mendorongku jadi terlentang dan menciumku. Aku dengan senang hati menyambut bibirnya.
Aku menggeliat saat merasakan jarinya menelusuri tubuhku, pinggang, perut paha dan di sela pahaku. Aku melebarkan kakiku untuk memberinya jalan.
Bibirnya tak sengaja kugigit saat tangannya menyentuh bagian tersensitifku di bawah sana. Dengan cepat kukulum bibirnya yang sudah kugigit tapi ia menarik diri.
"Sudah basah, hm." Ia menyeringai dan menatap jarinya yang baru saja menyinggahi sela pahaku.
"Boleh kubuat lebih basah lagi?" Tanyanya.
"Silakan, tuan Wu."
Ia menciumku lagi, tangannya membelai kulitku. Paha, perut dan merayap memasuki t-shirt yang kupakai. Aku meleguh, tak sabar menunggu jarinya di dadaku.
Jarinya meremas dengan lembut dadaku, sementara aku terus bergulat dengan lidah dan bibirnya.
Ia menarik bibirnya, memutuskan ciuman panas kami dan menutupnya dengan kecupan singkat di bibirku. Hidungnya menelusuri garis rahangku, berhenti di belakang telingaku, ia menghembuskan nafas di sana dan aku merinding. Dadaku membusung hingga makin menempel dengan telapak tangannya.
Kurasakan ia berbisik aku mencintaimu sebelum bibirnya mengecup area belakang telingaku, menjilatnya dan menghisapnya dengan lembut. Ia membuat tanda, syukurlah karena tempatnya cukup tersembunyi.
Aku tersenyum, apa yang lebih indah dari pernyataan cinta Kris, jari dan mulutnya? /eaaa/
Aku mencengkeram erat sprei di bawahku, jarinya bermain dengan puncak payudaraku, meletakkannya diantara ibu jari dan telunjuk lalu memutarnya. Rasanya geli, geli yang nikmat. Ia terus melakukannya sambil meninggalkan kecupan-kecupan di leherku.
Ia meninggalkan leherku, jarinya menarik t-shirt yang kukenakan keatas dan dengan cepat dan susah payah dia menanggalkannya dari tubuhku. Aku telanjang –lagi– di depannya.
Aku menatapnya, ia sedang menatap dadaku dengan matanya yang berkilat mesum. Ia melirikku dan memberikan senyum lembut padaku sebelum wajahnya mendekat di dadaku.
Ujung hidungnya menyentuh putingku, oh sentuhan kecil yang menyengat. Lalu kurasakan putingku di sela bibirnya, menjilatnya dan memberikan hisapan kecil.
"Ah~ Kris..."
Ia makin bersemangat mengerjai dadaku dengan mulut dan jarinya. Aku melirik kebawah, ia memejamkan matanya menikmati dadaku. Aku membusungkan dadaku hingga wajahnya tenggelam di dadaku, ia melirikku dan membebaskan wajahnya.
"Aku mencintaimu." Bisiknya, aku hanya membalasnya dengan senyuman dan ia lalu memberikan gigitan pada putingku. Aku mendesah keras.
Aku baru bisa bernafas stabil saat tangan dan bibirnya lepas dari tubuhku. Ia berada di atasku, menopang tangan di sampingku, menatapku dengan senyum mesumnya.
"Senang bisa mengangkang di bawahmu, songsaengnim." Ucapku di sela nafasku yang masih tersengal.
Ia mengecup bibirku dan tersenyum manis padaku. "Tak sabar mendengar desahanmu, sayang."
Ia menunduk, wajahnya di dekatku. Ia berbisik 'aku mencintaimu' bersamaan dengan miliknya yang memasukiku. Aku bahkan tak ingat kapan ia melepas celananya.
Aku memejamkan mataku, otakku mereka ulang bisikan suara rendah Kris di telingaku sementara tubuh bawahku terasa penuh dan sesak.
Ia mulai bergerak, pelan, sangat pelan dan ia menyebutkan namaku di sela desisan nikmatnya. Senyum kecil tak mampu kucegah mendengarnya, aku ingin menjawab tapi nyatanya aku hanya mendesah pelan dan memeluk tubuhnya erat.
Ia terus menciumi leherku saat miliknya yang keras terus menyentak keluar masuk di dalamku.
"Rasakan aku, baby." Bisiknya.
"Ya ... Hmm ... aku mencintaimu ... Kris."
Aku berpegang erat pada bahunya, pinggulnya terus bergerak dengan teratur. Aku ingin berteriak menyurunya bergerak lebih cepat tapi aku juga suka ia bergerak lambat begini. Rasanya lebih intim, dan aku merasakan cintanya.
Perutku melilit, rasa aneh yang tak asing menyerangku. Aku mendesah frustasi saat Kris tetap tak mempercepat gerakannya. Aku mengigit bibirku gemas karena gerakan slow motion-nya.
Sesuatu mendesak ingin keluar, ia menciumi bibirku penuh nafsu dan satu tangannya memilin putingku. Setelah beberapa kali gerakan keluar masuknya di dalamku ditambah rangsangan dari tangannya akupun keluar. Kris menyusul setelah beberapa kali menyodokku dengan cepat. Memenuhiku dengan cairannya yang hangat.
"I love you..."
Bisiknya disela deru nafasnya, yang kubalas dengan anggukan kecil. Terlalu lemah untuk mengeluarkan suaraku.
Ia memutar posisi hingga aku kini berbaring di atasnya. Kami sama-sama terengah.
"Bagaimana?" Tanyanya.
"Menyenangkan. Dan kau?"
"Sangat luar biasa."
Aku mengangkat tubuhku, mencoba melepaskan tautan kami di bawah sana. Aku segera bergelung di sampingnya dan ia merengkuhku dalam lengannya.
"Kau milikku." Bisiknya di telingaku.
"Ya, aku milikmu."
"Aku tak ingin orang lain selain diriku menikmati tubuhmu." Bisiknya lagi.
Apa maksudnya? Apa dia tau apa yang kulakukan dengan Kai siang tadi.
"Ya, aku mengerti." Jawabku.
"Anak pintar."
Fiuhh syukurlah, dia tak tau. Dan semoga dia tak akan pernah tau. Hubungan kami sudah mengalami peningkatan dan aku tak ingin mengalami penurunan.
Hening sejenak, berada di keheningan membuatku memikirkan sesuatu.
"Kris, dulu kenapa kau tak pernah mengucapkan itu padaku?" Tanyaku sedih.
"Hmm yah ... Kau tau ... Perbedaan umur kita, jadi aku hanya sedikit ... Mmm yah ... malu."
Kris malu? Aku menertawainya dalam hati. Bersyukurlah dia karena aku sedang memunggunginya.
"Aku mengerti, jadi sekarang kau tak malu lagi kan?"
"Tentu saja, baby. Aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu, Songsaengnim-ku yang tampan dan mesum."
"Aku sangat sangat mencintaimu, muridku yang nakal dan juga mesum."
Apa? Dia mengataiku mesum? Kalau nakal, aku masih terima karena memang begitulah kenyataannya. Tapi mesum?
"Aku tak mesum, Kris." Protesku.
"Ya, kau mesum, baby. Kau baru saja mengajakku bercinta."
Hmm ya~ itu memang benar.
Memalukan.
"Tapi kau yang mengajariku jadi mesum, Songsaengnim."
"Dan kau belajar dengan baik."
Benar kan? Dia yang mengajariku.
"Tidurlah, baby." Ucapnya, ia mengeratkan pelukannya.
Aku menurut, aku segera memejamkan mataku dan tertidur dalam pelukannya yang hangat. Dan aku bermimpi kami berada di taman bunga, berbaring di atas rumput dan memandangi awan putih. Dia berbisik di telingaku. 'Aku mencintaimu.'
.
.
.
~TAMAT~
Huuaaaaaaaa, di atas aku udah bilang kan, udah lama gak nulis pake POV jadi aku udah pesimis dari awal ngetik. Takut ngecewain chingu-deul semua. tapi ini aku bikinnya sepenuh hati dan jiwaku.
Dan semoga gak bosan baca kalimat "aku cinta kamu" Ya... harap maklumin KrisBaek yang lagi dilanda cinta :D
Balasan Review:
CussonsBaekBy: Mian chingu, mungkin review kamu nyangkut makanya namanya gak ada. Tapi aku liat review kamu di If it's Wrong 2; Bagaimana? Apa ini sudah sesuai dengan permintaan? Tapi ini gak hot. Makasih udah review ^^
andiani. sujuelfkpop: di cut soalnya udah kepanjangan TT... fb? Raemii Raem. Makasih udah review ^^
Sarang: AAAAAAAKKKKK /apa ini/ ... Makasih udah review ^^
pandarkn: KaiBaek NC? Aa gak janji ya, takut di amuk naga. Makasih udah review ^^
ritaanjani4: Ya kan Baek di ajarin Kris makanya jadi pervert gitu. Pemanasannya HOT, tapi kegiatan intinya malah gak hot, haduuh mian. Makasih udah review ^^
AnitaLee: Anak muridnya siapa coba? Anak muridnya Kris kan, makanya si Baek jadi gitu. Yaa kan kalau Baek sms kyak gitu ortunya bisa langsung nikahin dia sama Kris. Makasih udah review ^^
miszshanty05: iya, di cut soalnya udah kepanjangan jadi gak seimbang sama chap sebelumnya. Makasih udah review ^^
Byun JinkiWook: Ya ya, di atas udah masuk kan? tapi ini gak se-hot sebelumnya loh. Mian. Makasih udah review ^^
KaiHunnieEXO: iya, mau marah tapi kasian authornya dimarahin jadinya cuma bisa diam dan bersedih(?). Aku juga suka KaiHun, tapi aku belum pernah nyoba bikin kaiHun NC-an, malah aku bikin mereka jadi anak kecil U.U ... Makasih udah review ^^
littel prince07kris: Bagus? Ah terimakasih. Ini sudah dilanjutkan. Makasih udah review ^^
ayumKim: kan Bacon diajarin Kris. Baguslah kalau yadong kamu kumat lagi, kalau gak kumat kamu gak bakak baca ff ini. Aku suka yadongin couple ini, Kris mukanya kan mesum dan baek mukanya polos jadi cocok aja. Makasih udah review ^^
fitri: aaaaaakkk udah gak gantung kan? Aaaaaaakkkk ... Makasih udah review ^^
chika love baby baekhyun: Aduh, ff ini sengaja gak aku kasih konflik karena awalnya ini cuma oneshot tapi pada minta sequel jadi aku bikinin. Makasih udah review ^^
hyunieeeh: Sudah dilanjutin. Ah iya, ceritanya lelet banget ya. Keseluruhan cerita ini cuma berlangsung sejak siang hari, sampai malam hari. haah salah aku. Makasih udah review ^^
shinelightseeker: Aduh aku jadi gak tau mau bales bagaimana hehee... pokoknya senang lah kalau kamu betah bacanya. Mainnya udah di selesaiin kan? Gak gantung lagi kan? Makasih udah review ^^
baekggu: Syukurlah kalau hot. Yaa baek mau cepet dinikahin ama Kris makanya dia ngirim sms gitu sama org tuanya, biar oratunya nikahin mereka gitu. Baeknya modus. Makasih udah review ^^
Keepbeef Chiken Chubu: Iya nih si Kris mesum, tapi kalau pedo? Itu salah Baek yang udah goda Kris, tapi Kris juga salah kenapa dia tergoda, udah tau si Baek anak kecil, tapi yang goda Kris duluan kan si baek jadi ini salah Baek, tapi kris kan udah dewasa seharusnya— stop. Makasih udah review ^^
cookiemonster: /sodorin Kai/ Makasih udah review ^^
babyyming: Aaa Hyuna Hyungseuuunggggg... ah gak apa, asal jangan bayangin aku ama Sehun aja ya.. Makasih udah review.
ohristi95: oh oh /siramin air segalon/ udah segar? Yang ini gak se-hot yang kemarin huhuuu TT tapi semoga masih suka yaa... aku? Spesialis apa? Aku masih polos, mama... Makasih udah review ^^
keripikxo: Kai? Ah gak ada celah buat masukin nasib kai jadi gak aku masukin. Maaf :( ... Makasih udah review ^^
kwondami: Ah makasih ya. Syukurlah kalau ff ini enak di baca. Kalau kerapian? Ahh masih banyak typo-nya, terutama huruf yang nyelip haduh ... jangan tersinggung sama curhatanku kemarin yah, gak maksud nyinggung author-author lain kok, aku cuma sedih ff yang aku suka diberentiin hiks. /curhat lagi/ Makasih udah review ^^
tehehe: Kan yang penting di hati Baek cuma ada Kris, Baek cuma di jebak ama Kai. Gak kebablasan kok, di sini Kai cuma muncul di pikiran Baek doang kkkkk. Ah~ nama kamu lucu ya... Makasih udah review ^^
L. JoEXOhmyGukkie: Lah kan ruangannya Kris di kunci, kecuali kalau ada yang ngintip lewat jendela O.O ... Udah gak gantung kan? Makasih udah review ^^
Tatiana12: Baguslah kalau suka. Makasih udah review ^^
Uchinami temeXdobe: Demi pori-pori tubuh spogebob yang gede bingit, aku minta maaf. Lanjutannya gak hot hiks. Maaf ya... Makasih udah review ^^
haecha lee: Pokoknya jangan sampai kris tau kalau baek udah disentuh ama Kai. KrisBaek juga favorit aku, tentunya setelah KaiHun. Udah gak kok ^^ Makasih udah review ^^
krisbaek shiper: udah dilanjutin kan? Ah aku liat review kamu di if it's wrong 2 itu akan di update besok loh. Makasih udah review ^^
BALASAN REVIEW SPESIAL BUAT 'GUEST'
Guest: ANDA BENAR-BENAR AUTOR YG MUNAFIK ! LABIL
GAMPANG SUKA YG BARU , AND LUPAIN YG LAMA , BENAR2 MUNAFIK !
- Apa anda begitu mengenal saya sampai anda bilang saya munafik dan labil? Kenapa gak login biar bisa saya balas lewat PM? Kalau balas di sini bisa saja anda gak liat kan? Dan saya benar-benar tidak mengerti apa maksud anda dengan "author munafik, gampang suka yang baru dan lupain yang lama." Kalau anda liat ini, mohon di perjelas lagi ya. Makasih udah review ^^
Terimakasih sudah nyempetin waktu buat review. Buat yang favorit dan follow juga terimakasih. Aku cinta kalian~ :*
Maafkan typo yang ada.
yang suka KrisBaek, jangan lupa mampir di "If it's Wrong 2" *promosi*
Sampai juma di ff-ku yang lain ;)
INFO: If it's Wrong 2 chapter 5 di post besok.
28 November 2013
