Rate: saat ini masih T… semoga sampai akhir bakal tetep T….

Pairing : Stony, Stucky, SpideyPool(ntar,kalo inget… tapi kayanya ga jd)
Genre: family, bromance,sismance, boys love, shonen ai, hurt... author patah hati, dll...

Disclaimer :
Mas Tony dan mas Steve saling memiliki~
Semua chara di sini punya marvel~
Saya Cuma minjem... tapi ga bilang...
tidak ada keuntungan material apapun yang Yuharu dapet dari penulisan ff ini. Hanya keuntungan batin berbagi kegalauan bersama pecinta stony...

WARNING: ff ini mengandung unsur BL/Buah Love#plak! Maksudnya percintaan sesama lelaki, beberapa adegan kekerasan dan baper...

Note: Disini Steve ama Tony udah nikah, tinggal di Tower bareng beberapa avenger lainnya. Mereka punya anak yg namanya Peter. Sekarang Peter kelas 2 smp dan dia bukan spiderman~ atau setidaknya belum…. Dia masih SMP.

Oh karena ada beberapa yg nanyain ini peter parker atau bukan...

Jawabannya iya, dia ini peter parker spiderman... tapi belum jadi spiderman... karna dia ga pernah digigit laba-laba dan yah nama belakangnya Stark-Rogers karena dia ga pernah jd Parker... rahasia kelahirannya seperti yang telah dijelaskan di chapter 3, jadi begitulah...

Kalau ada typo tolong kasih tau yo~
saya ga baca ulang lagi soalnya... dan ga punya beta...

Happy reading~
:3

"aku masih tidak percaya kita akan melakukan ini" kata Tony sambil memandang seorang bayi lelaki yang tertidur dalam keranjang. Bayi itu memiliki rambut coklat yang sedikit lebih terang dari milik Tony, mungkin pengaruh rambut pirang Steve yang membuatnya begitu, perpaduan yang tidak buruk juga menurut Tony.

"jika kau mau mengembalikannya ke Fury dan membiarkan anak ini dibesarkan sebagai agen SHIELD…" Tanya Steve yang juga memandangi bayi yang dinyatakan sebagai anaknya lima jam lalu. Steve menjulurkan tangannya untuk menyentuh jemari-jemari kecil si bayi dan rasa hangat di dadanya kembali lagi. Steve menyukai rasa itu.

"dan membiarkan anak yang memiliki DNA-ku memakai agent sebagai nama depannya seperti Coulson? Lupakan saja" kata Tony, sambil mendudukan dirinya ke sofa. Keduanya sedang berada di ruang bersantai di Avenger Tower. Sejam yang lalu keduanya memutuskan untuk meninggalan anak itu dibawah perlindungan SHIELD sampai akhirnya keduanya melihat anak itu, melihat diri mereka dalam bayi itu. Kemudian keduanya sadar kalau mereka tidak ingin meninggalkan anak itu, ngin pun mereka tidak bisa.

"yah, sekarang lebih baik kita segera pikirkan langkah selanjutnya" kata Steve sambil ikut mendudukan dirinya di samping Tony, tidak terlalu dekat karna lutut keduanya tidak saling bersentuhan.

"yups, first thing first… pertama kita harus putuskan nama untuknya." Kata Tony

"James?" Tanya Steve, dia pernah berjanji untuk menamai anaknya seperti sahabatnya yang gugur di medan perang. Lebih tepatnya dikira gugur di medan perang.

"James? Seperti James Bond? kau ingin dia jadi mata-mata Inggris? Tidak kita sudah punya dua mata-mata yang menyusahkan, aku tidak mau anakku bicara dengan bahasa rusia atau tidur siang di lubang ventilasi. Jadi tidak, terimakasih."

"howard?" Steve kembali mencoba, siapa tahu Tony juga merindukan ayahnya. Steve cukup dekat dengan Howard di masa lalu, dan itu adalah ayah Tony jadi rasanya itu nama yang punya cukup koneksi untuknya dan Tony mengingat pereka hanya rekan satu team. Keduanya tidak pernah kurang dan tidak pernah lebih dari itu.

"Captain Fuddy Duddy… kau tahu kan aku punya sedikit masalah dengan ayahku? Lalu kau mau menamai anakku dengan namanya? Aku tidak mau menjadi dia seumur hidupku! Kau pikir aku mau anakku menjadi seperti dirinya?!" Tony mulai tergannggu, ayahnya dulu menelantarkan Tony, atau setidaknya itulah yang Tony rasakan. Menamai anakmu seperti ayah yang menelantarkanmu bukanlah hal yang ingin Tony lakukan sampai akhir hayatnya.

"lalu aku harus menamainya siapa?!" Tanya Steve yang mulai kehabisan kesabaran.

"siapa sangka Captain America punya sense of naming yang buruk" ejek Tony.

"kata seseorang yang menamai robotnya DUMMY"balas Steve yang mulai terganggu dengan kelakuan partnernya.

"oh! Sekarang kau membawa-bawa robot kecilku yang manis dan tak berguna? Aku tidak suka caramu Cap, DUM-E tidak ada hubungannya dengan ini! Dan namanya dieja D-U-M-E!" hanya ada satu orang yang boleh mengejek robot-robot kecil Tony dan itu adalah dirinya sendiri.

"lalu aku harus menamainya siapa?! Stan Lee?!" teriak Steve frustasi. Terkadang Tony bisa menjadi teman yang enak untuk bicara sebelum pembicaraan mereka berubah menjadi debad tak berguna seperti yang terjadi sekarang.

"SIAPA PULA ITU STAN LEE?!" Tanya Tony yang juga ikut frustasi. Keduanya kemudian saling berteriak satu sama lain, kelelahan setelah misi dan memiliki seorang anak secara mendadak bukanlah keadaan yang baik untuk memulai pembicaraan. Tidak sadar kalau teriakan keduanya berhasil membangunkan bayi kecil yang tadinya sedang tertidur lelap.

"OOWEEEE… OOwewheee… " suara bayi mulai memenuhi ruangan begitu kedua orang dewasa itu sadar apa yang telah mereka perbuat. Steve segera memangku bayi itu dan berusaha menenangkannya.

[sir, hasil scene menunjukan bayi yang digendong Captain sedang merasa lapar.] suara Jarvis yang tenang berhasil menarik perhatian Tony dan Steve. Steve segera menyerahkan bayi itu ke gendongan Tony.

"apa yang kau lakukan?" Tanya Tony begitu diserahi bayi yang masih menangis. Tony sudah sempat menggendong bayi ini sebelumnya, tapi tidak saat menangis.

"aku akan membuat susu? Tadi agen 13 memberiku beberapa kaleng susu dan botol bayi untuk jaga-jaga." Kata Steve sebelum pergi meninggalkan Tony dan bayi yang masih menangis, Tony yakin saat semua ini selesai telinganya akan tuli.

Maka tinggalah Tony hanya berdua dengan bayi yang masih menangis dalam gendongannya itu. Tony berusaha menimang si bayi, coba mengingat adegan menenangkan bayi yang pernah ditontonnya, bahkan mencoba menenangkan si bayi dengan memasang lagu nina bobo yang sjustru membuat Tony mengantuk. Kemudian Tony mengangkan bayi itu tinggi, menajaknya main kapal-kapalan, siapa sangka cara itu berhasil. Tidak lama suara tangisan anak itu berubah menjadi tawa kecil yang manis. Tony semakin berani, dilemparkannya bayi itu ke udara, perlahan tentunya, hanya untuk membuat bayi itu sedikit melayang dan tertawa makin lebar.

Tidak lama keduanya asik dengan permainan baru mereka, tidak sadar dengan kedatangan Steve jika pahlawan yang bagaikan bendera America berjalan itu tidak memekik kaget melihat Tony melempar beyi itu ke udara, "Apa ang kau lakukan?!" katanya sambil berlari secepat mungkin mendekati keduanya.

"oh, hai Cap, sepertinya Peter Pan kecil ini sukup senang dibawa keudara. Itu pasti karna gen-ku, tunggu dia besar sedikit dan akan kubawa dia terbang dengan mark baruku "kata Tony sambil menggelitiki si bayi yang moodnya sudah membaik. "atau lebih baik, akan kubuatkan dia iron suit sendiri"

"kalian terlihat akrab" kata Steve sambil menyerahkan botol yang dibawanya kepada Tony, membiarkan si Jenius yang memberi makan bayi itu.

"well… he is mine" kata Tony sambil menimang si bayi yang asik meminum susunya. Matanya kemudian melihat raut tidak suka di wajah Steve, "I mean ours" koreksi Tony begitu mengingat bahwa DNA Steve juga mengalir dalam si bayi. "but mostly mine…" tambahnya tidak mau kalah.

"lalu soal namanya?" Tanya Steve, tidak mau memperpanjang masalah. Mata Steve kemudian beralih kea rah flashdisk yang tergeletak di samping keranjan Peter.

"soal itu…"Tony mengikuti arah pandang Steve, dilihatnya Flashdisk yan g diberikan ilmuan wanita kepada Steve sebelum bunuh diri. Tulisan P3T312 yang ada di Flashdisk itu sudah memudar, tapi masih cukup jelas. P3T312 adalah cara Hydra memanggil bayi ini, satu-satunya percobaan yang berhasil bertahan hidup.

"Peter"

"Peter"

Kata Steve dan Tony bersamaan, keduanya memandang satu sama lain tidak percaya sebelum keduanya tertawa. "peter nama yang bagus, seperti peter pan yang selalu bahagia dan bisa terbang sesukanya di neverland." Kata Steve sambil menatap bayi itu. "aku pernah melihat pertunjukan balet tentangnya dan itu cukup bagus."

"seriously cap? Ballet?" Tanya Tony tidak percaya bahwa Captain America memilih ballet sebagai tontonanyya. Bukan Tonny mau mengejek tentu saja, Tony sendiri cukup senang melihat paha seksi para ballerina saat menari. Tapi Captain America dan ballet? Itu sama seperti menaburkan selai kacang ke atas steak!

"lupakan, yang penting kita sudah punya sebuah nama untuk memanggilnya." Kata Steve sambil menyentuh jemarri-jemari mungil itu lagi. Tapi kali ini jemari-jemari itu balas meraih telunjuk besar Steve, digenggamnya jari Steve erat. Steve memandang tidak percaya pada jarinya yang digenggam oleh jari-jari mungil Peter.

Tony yang sejak tadi melihat kejadian itu segera menatap Steve, lalu jari Steve yang digenggam peter, kemudian mata Peter yang juga sedang menatapnya. Tony tecekat, "oh my god… oh my god… Cap…. Cap… Steve…" Tony kehilangan kata-kata saat melihat Peter. Steve yang sadar bahwa ada sesuatu yang tidak beres segera menatap Peter panik.

"Steve…. Look at him! He has your big baby blue eyes!" jerit Tony begitu menyadari keidentikan mata bayi itu dengan milik Steve. Jika tidak ingat bahwa Tony sedang menggendong Peter, ingin rasanya Steve membenturkan kepala Tony ke dinding terdekat.

XXXXXxxxxxx-(Author istirahat dulu ya)- xxxxxxXXXXX

Steve membuka matanya begitu mengingat saat-saat pertama dia dan Tony membawa Peter pulang ke tower. Rasanya baru kemarin dia dan Tony mendebatkan nama untuk Peter, dan sekarang anak itu sudah ada di tingkat dua junior high school. Steve masih ingat popok pertama yang diganti olehnya, masih ingat angkah pertama Peter saat bayi itu coba menangkap DUM-E di lab Tony, dan pertamaa kalinya Peter memanggilnya Papa. Steve masih mengingat semuanya sangat jelas seolah kejadian-kejadian itu baru terjadi kemarin.

Steve ingat tiap detik yang dihabiskannya bersama peter. Steve ingat bagaimana rasa cinta mulai tumbuh dihatinya berkat peter, dan kemudian rasa cinta pada Peter membawanya untuk mencintai Tony. Berawal dari keterpaksaan merawat Peter, rasa tanggung jawab itu kemudian menyatukan rasa saling memliki satu sama lain. Membuat ketiganya saling tergantung dan bergantung, menjadi sebuah keluarga bahkan sebelum mereka menyadarinya.

Steve kemudian mengingat kejadian belakangan. Steve ingat bagaimana dia memukul Tony, Steve ingat rasa darah yang menempel ditangannya. Steve masih ingat saat tubuh Peter terpelanting terkena pukulannya, Steve ingat bagaimana tubuh Peter tergeletak tak berdaya. Steve ingat tatapan ketakutan Tony yang terarah padanya, Steve ingat tatapan bingung Peter yang tak mengenalinya.

Steve ingat betapa dia menyayangi Peter dan Tony, Steve ingat bagaimana dia melukai kedua orang paling berharga dalam hidupnya. Tapi Steve tidak ingat dari mana semua ini bermula, tidak juga Steve ingat sejak kapan dia berubah menjadi monster. Steve ingat dia, Tony dan peter selalu bahagia meski banyak kekacauan sepanjang hidup mereka. Namun entah bagaimana Steve tidak bisa ingat kapan terakhirkalinya mereka bertiga tertawa bersama. Steve mengerang frustasi kemudian memukul samsak dihadapannya sekuat mungkin, menghempaskan samsak itu hingga membentur dinding dan mengeluarkan pasir dari robekannya.

"hei, kau kelihatan haus" kata Clint sambil melemparkan sebuah botol air kearah Steve. Clint kemudian duduk di bangku tidak jauh dari tempat Steve yang menggantung samsak lain.

"jadi?" Tanya Steve sambil duduk di sebelah Clint dan mulai meminum air yang diberikan Clint.

"hei, um.. begini… aku bukan mau ikut campur masalah rumah tangga kalian atau apa… tapi jika kau butuh seseorang untuk cerita mungkin kau mau… yeah…." Clint sama sekali bukan ahli dalam hal bicara dari hati ke hati, tentu saja dia canggung. Kalau masalahnya tidak sampai seserius ini mungkin dia akan tetap diam di ventilasi rumah sakit dan menjaga Peter.

"entahlah… aku tahu kau berusaha membantuku… tapi…. Aku tidak yakin…." Kata Steve perlahan, Clint bisa melihat bahwa jiwa Steve tidak pernah sekalipun beranjak dari rumah sakit.

"yeah, kau tahu. Beberapa hari ini kau memang tidak seperti dirimu, kau tahu… kau terlihat lebih pemarah? Kau seperti… err… Seperti Nat saat sedang datang bulan? Hanya saja lebih kuat, dan macho tentu saja… " Clint mengutuk kebodohan yang keluar dari mulutnya. Datang bulan yang macho? Yang benar saja Clint…

"haaah…. Aku sendiri tidak mengerti bagaimana ini berawal… setelah Bucky, aku seperti sering kehilangan kendali akan diriku." Steve menghela nafas lelah. Clint ingat kejadian itu, ingat bagaimana Steve memutuskan untuk pergi bersama Bucky dan muninggalkan Tony dan Peter. Clint ingat bagaimana perseteruan itu hampir membuat peter menjadi yatim piatu.

"yah, kita semua berubah karena kejadian itu." Kata Clint yang memang saat itu ikut bersama team Steve dan Bucky. Hal yang disesalinya begitu sadar bahwa apa yang dipikirkannya dan coba dilakukan Stark adalah dua hal yang berbeda.

Sayangnya salah paham itu terlanjur membuat kedua pihak bertarung terlalu jauh sebelum sempat diluruskan. Meninggalkan luka menganga di masing-masing pihak tanpa penyelesaian masalah yang jelas. Setidaknya sampai Nat memberi tahu bagaimana Tony berusaha melindungi punggung Steve saat seluruh dunia mengincarnya, sayangnya punggung yang dilindungi Tony tidak pernah berbalik untuk melihat apa yang dilakukan Tony. Tidak bahkan setelah semunya selesai, punggung itu tetap diam dan menjadi semakin dingin.

Steve tidak pernah tahu bagaimana Tony harus menemui badut-badut pemeritah dan mencoba membujuk mereka untuk tidak menangkap Steve dengan menerbangkan senjata nuklir ke arah tameng bersinarnya. Tapi Tony memang tidak pernah bilang dan Clint tidak akan pernah Tahu seandainya Nat tidak membeeritahunya. Tony mengambil semua resiko yang bisa diambilnya jika itu bisa menyelamatkan Steve, Tidak perduli jika itu membuat Steve dan seluruh dunia membencinya. Dibesarkan di lingkungan penuh kekuasaan dan uang membuat sifat Noblesse oblige menempel dalam diri Tony bahkan meski orangnya sama sekali tidak sadar.

Mulut Tony memang tajam, dan sifatnya yang suka seenaknya sendiri dan keras kepala tentunya tidak membuat segalanya lebih baik. Clint tahu Tony tidak akan pernah menceritakan kebaikannya pada orang lain, karena Tony tidak pernah berusaha membuat dirinya terlihat baik di mata orang lain, tidak di mata siapapun, termasuk di mata Steve. Maka inilah yang harus Clint lakukan, dia harus memberitahu Steve apa yang sebenarnya terjadi. Bahwa apa yang Tony lakukan adalah untuk melindungi Steve, Peter dan Avengers dari dunia. Bahwa bukan Tonylah yang berusaha membunuh Bucky, bahkan meskipun ditangan Tonylah darah Bucky mengalir.

"Steve… aku tahu waktunya tidak tepat, tapi aku tidak yakin kita punya cukup waktu untuk membuat waktu yang tepat. Jadi biarkan aku menyelesaikan semuanya, jangan memotongku, dan cukup dengarkan. Aku akan menjawab pertanyaanmu nanti setelah aku selesai, oke?" Steve mengangguk dan mulailah Clint membeberkan kejadian yang dialami Tony, nat dan orang-orang di sisi lain. Sementara itu Steve hanya bisa mendengar, tidak sepatah katapun keluar dari bibir itu bahkan setelah Clint selesai.

XXXXXxxxxxx-(Author istirahat dulu ya)- xxxxxxXXXXX

Tony dan Natasha duduk dengan sebuah Tumblr di tangan mashing-masing. Happy baru saja mengantar Pepper pulang jadi hanya ada Tony, Natasha dan Bruce yang sedang memeriksa keadaan Peter di dalam. Tony tahu ada yang salah dengan anaknya dan tidak ada yang bisa dilakukannya untuk memperbaiki hal itu. Sekarang yang bisa dilakukannya hanya duduk dan menunggu, berharap semua akan baik-baik saja.

Tony yang sedang tenggelam dalam pikirannya langsung berdiri begitu melihat Bruce dan dokter yang memeriksa Peter keluar dari kamar rawat Peter, "apa yang terjadi?" Tanya Tony pada dokter dan Bruce yang baru selesai memeriksa keadaan Peter. Disebelahnya Natasha berdiri diam, namun dengan tatapan penuh Tanya dan rasa Khawatir yang tidak jauh beda dengan milik Tony.

"tidak apa, biar aku yang menjelaskan pada mereka" kata Bruce kepada dokter wanita yang keluar bersamanya. Dokter itu hanya mengangguk sebelum pergi meninggalkan ketiga orang itu.

"apa-apaan itu? Dia tidak mengingat St- Captain. Dan kakinya tidak bisa digerakan!" jerit Tony begitu menyadari keanehan yang dialami oleh Peter.

"haah…. Sebaiknya kita cari tempat yang cocok untuk bicara." Kata Bruce sebelum ketiganya pergi ke ruang VVIP yang disewa Tony selema peter di rumah sakit.

Ketiga orang dewasa itu berusaha menyamankan diri di sofa yang Natasha yakini sebagai sofa di ruang santai Avengers tower. Sayangnya sofa kesayangan mereka tidak membantu mengurangi tensi di ruang tersebut. Tony menatap Bruce tanpa berkata apapun, menyisakan keheningan janggal diantara ketiganya. Tony tau Pepper dan Happy sedang menjaga Peter yang tertidur, tapi tetap saja dia ingin menjaga putranya, duduk disampingnya sampai kedua manik biru itu kembali terbuka.

"jadi?" Tanya Natasha yang tidak ingin menunggu lebih lama lagi informasi mengenai keponakan kesayangannya. Tony masih berusaha menenangkan dirinya dengan meneguk kopinya hingga habis, tidak banyak membantu.

"peter mengalami amnesia dan kelumpuhan pada tubuh bagian bawahnya."

Prrrakkk…

Suara retakan dari tumblr Tony mengambil perhatian dua orang dewasa lainnya di ruangan itu. "aku belum selesai, untuk kelumpuhan di kakinya hanya bersifat sementara. Itu bisa disembuhkan setelah beberapa proses terapi" kata Bruce berusaha menenangkan Tony. "kita beruntung karna segera menanganinya, jika kita terlambat sedikit mungkin kelumpuhannya bisa jadi permanen"

"BERUNTUNG?! Anakku hampir lumpuh dank au bilang KITA BERUNTUNG?!" bentak Tony yang kehilangan kendali atas dirinya.

"DIA BISA SAJA SUDAH TEWAS! Dengar Tony, aku menyayangimu dan peter, kalian adalah hal yang paling mendekati keluarga yang pernah kumiliki… tapi kau harus tenangkan dirimu atau the other guy akan sangat senang mematahkan beberapa rusukmu yang lain" kata Bruce sambil menenangkan dirinya sendiri, desampingnya Natasha mengelus punggung Bruce perlahan, berusaha menenangkannya.

"tenang… kita tidak butuh idiot disaat seperti ini. Jadi gunakan otak kalian yang digosipkan jenius itu dan jernihkan pikiran kalian" kata Natasha sambil menenangkan keduanya. Menuntun Tony untuk duduk dengan tatapannya sementara tangannya memegangi pundak dan bahu Bruce, mengusapnya lembut hingga ahli Gamma itu kembali terduduk.

"peter kehilangan ingatannya tentang Steve, tapi selain itu dia bisa mengingat sisanya. Kemampuan bicara, dan motoric tubuh bagian atasnya juga normal. Jadi amnesia yang dialaminya lebih karena alasan Psikologi." Jelas Bruce

"apa itu membahayakan dirinya?" Tanya Tony

"untuk saat ini tidak. itu hanya mengubur ingatan Peter tentang Steve." Bruce menyimpulkan.

"maka kita biarkan seperti itu" lanjut Tony.

"Tony, kau tidak bisa melenyapkan Steve begitu saja" kata Natasha. "dan aku tidak yakin peter akan suka kau menyembunyikan fakta tentang ayahnya yang lain"

"apa Peter akan senang mengetahiu ayah kandungnya nyaris membunuhnya?" Tanya Tony pada Natasha, ditatapnya wanita itu dalam. Kemudian Natasha hanya menutup matanya, mengert apa yang ingin disampaikan Tony. Dan kemudain Tony mulai tertawa, menggantikan Tangis yang tak bisa dikeluarkannya, air matanya sudah mongering.

"Tony…" Natasha mulai khawatir temannya ini kehilangan beberapa sekrup di otaknya.

"kalian tahu,selama ini aku selau bertindak tanpa memikirkan keselamatan. Tidak pernah sekalipun terpikirkan untuk hidup tenang didalam rumah bercat putih dan berhenti menghajar beberapa penjahat dijalanan. Aku akan hidup selamanya sebagai Ironman yang menyelamatkan dunia atau mati saat mencoba melakukannya, atau malah mungkin mati karena terlalu banyak berpesta." Tony kemudian bangkit dan mengeluarkan Starkphone miliknya. Diletakannya Starkphone itu di lantai dan selang tiga detik gambar dan video hologram bermunculan dan memenuhi segala ruangan, semua tentang peter.

"Kemudian bayi ini datang dan merubah segalanya. Kalian boleh tidak percaya, tapi aku mulai mengharapkan apple pie life dimana aku bisa melihatnya tumbuh tanpa harus khawatir sesuatu yang buruk akan terjadi padanya. Aku tidak butuh serangan alien, terroris, atau super soldier disekitar kami." Kata Tony sambil melihat foto-foto peter. Diujung ruangan ada sebuah foto berisi dirinya, peter dan Steve. Ulang tahun keempat Peter, Tony masih ingat hari dimana dia membuat keputusan yang paling disesalinya saat ini. Diambilnya hologram itu dan diremasnya sebelum dihapus dari Starkphone miliknya untuk selamanya, Tony berharap dia bisa menghapus eksistensi seorang Steve Rogers semudah itu dari hatinya.

XXXXXxxxxxx-(Author istirahat dulu ya)- xxxxxxXXXXX

Steve baru selesai mandi dan sedang memilih pakaiannya, ini adalah kali pertama dia kembali ke kamarnya danTony setelah kejadian itu. Dilihatnya pecahan pot dan vas juga beberapa tetesan darah yang sudah mengering, darah Peter. Jadi setelah memastikan dia mengenakan celana dan kaus yang menurut Tony terlalu ketat dibagian dadanya, diambilnya alat-alat pembersih dan mulai membersihkan serpihan keramik itu dengan perlahan. Tony belum pernah sekalipun meninggalkan rumah sakit untuk pulang, dan jika Tony pulang maka Steve tidak ingin mengingatkannya akan kejadian malam itu dengan pecahan keramik dan darah.

Diantara pecahan keramik itu Steve menemukan sebuah bingkai foto yang kacanya sudah pecah dan berserakan bersama keramik-keramik lainnya. Foto itu ukurannya tidak terlalu besar, mungkin hanya setengah dari A4 dengan bingkai kayu mahoni yang mengeluarkan harum yang disukainya. Foto itu sangat sederhana, tapi diambil di hari yang tidak akan pernah dilupakan Steve, ulang tahun keempat Peter.

Flashback : ON

Steve sedang meniup berapa Banon bersama Thor sementara Natasha sedang menata makanan di meja makan sambil berusaha menjauhkan tangan Clint sebelum dia menghabiskan semua sandwich sendirian, di dapur Bruce sedang berusaha membuat beberapa kudapan yang entah dari mana asalnya, tapi kemungkinan arab, atau india, atau indonesia, atau negara lain yang menggunakan banyak rempah di dalamnya, entahlah Steve tidak begitu pandai memasak makanan dari negara lain.

[sir, dan young sir akan segera sampai dalam 5 menit] suara Jarvis menginterupsi kegiatan semuanya. Meninggalkan kekacauan yang tidak penting, Steve segera mengambil alih dan menenangkan rekan-rekannya sebelum mereka menghancurkan segalanya, menempatkn semuanya sesuai rencana, he is man with a plan after all. Maka semuanya berdiri di depan Lift dengan confetti dan terompet yang siap ditembakan dan dibunyikan untuk peter.

Dan begitu si bocah keluar dari lift mata birunya melebar melihat semua orang kesayangannya berkumpul dengan nya hari itu. "dad, apa ini ulangtahunmu? Aku tidak punya kado untukmu!" kata bocah itu sambil melihat ke arah Tony panik. Semua Orang dewasa diruangan itu tertawa melihat kepolosan Peter.

"bukan peter pan, ini ulang tahunmu" kata Steve sambil memangku peter

"tapi ulang tahunku hari jumat dan sekarang minggu, jadi tidak mungkin" kata Peter polos, tidak mengerti kenapa hari ulang tahunnya berubah.

"iya, tahun lalu tapi tahun ini ulang tahunmu hari minggu. Uum…ulang tahun itu setiap tahun harinya akan berbeda tapi tanggalnya tetap sama." jelas Steve berharap ucapannya dapat dimengerti oleh bocah yang sekarang berumur empat tahun itu.

"apa itu artinya aku bisa ulang tahun setiap jumat dan minggu?" Tanya Peter, ulang tahun dua kali seminggu pasti akan jadi sangat luar biasa.

"hahahah, berpesta dua kali seminggu pasti menyenangkan. Sayangnya itu hanya ulang minggu dan bukan ulang tahun, dan ulang minggu tidak terlalu menyenanngkan karna cake nya tidak akan sebagus cake ulang tahun dan hadiahnya membosakan, dan semua orang akan berhenti datang. Jadi bagaimana kalau sekarang kita rayakan ulang tahunmu saja dengan cake super enak dan kado-kado super keren?" bujuk Tony sambil mengusap kepala Putranya sayang.

"oke… waaw... aku lima tahun sekarang!" jerit peter bahagia sambil melompat turun dari pangkuan Steve. Begitu menyadari kue besar tiga tingkat wana merah dan biru dengan miniature seluruh avengers sebagai hiasannya.

"hahahahaha... maaf sobat, tapi umurmu empat tahun sekarang." Kata Steve sambil mengacungkan empat jarinya.

"tidak bisakah kita merayakan ulang tahunku yang kelima sekarang? Dan tahun depan kita rayakan yang ke empat?" kata peter sambil berusaha melipat jempolnya agar hanya empat jarinya yang teracung seperti milik Steve.

"hm... itu terdengar menarik. Tapi kita tidak ingin kau menciut kembali saat merayakan ulang tahun nanti" mendengar permintaan Tony Peter Tercekat, tidak mau dirinya kembali menciut.

"aku akan jadi kecil lagi? " Tanya Peter dengan raut wajah terkejut. "jadi kalau aku merayakan ulang tahun pertamaku aku akan kembali menjadi bayi?" Tanya peter, mulai sekarang dia akan memastikan lilin ulang tahunnya , takut kalau dia salah meniup lilin dia akan kembali menciut.

"itu teori yang menarik, kau mau coba menuip lilin untuk umur setahun?" Tanya Tony lagi sementara Steve hanya diam memandang Tony mengganggu anaknya, anak mereka. Mendengar tawaran Tony, Peter menggeleng keras menolak untuk kembali menjadi bayi.

"aku baru tahu orang Midgard bisa kembali menjadi bayi karna salah merayakan uang tahun dan meniup lilin" kata Thor yang mendengar percakapan Peter dan Tony dengan serius. Membuat beberapa Avengers lain ingin membenturkan kepalanya ke dinding terdekat.

"biar kujelaskan Thor" kata Nat sambil membisikan sesuatu ke telinga Thor yang tertawa mendengarnya. Sementara Clint kembali mencomot beberapa sandwich. Bruce memangku Peter yang ingin melihat bagian teratas kue ulang tahunnya. Sementara Tony memperhatikan semua kejadian itu Steve memperhatikan Tony, melihat mata lelaki itu berbinar bahagia dan tersenyum saat putranya kemudian menjerit bahagia saat Thor mengangkatnya tinggi-tinggi, Peter selalu senang ketinggian. Natasha kemudian memangku Peter dan mencium keningnya membisikan sesuatu dan berhasil membuat bocah itu tertawa sebelum diambil alih oleh Clint yang menggelitikinya.

Sebuah keluarga, itu lah yang selalu diinginkan Tony bahkan meski dia tidak menyadarinya. Pertemuannya dan Yinsen di Afganistan menyadarkan Tony bahwa hal yang paling ingin dimilikinya adalah keluarga, tapi mengingat siapa dirinya Tony sadar hal itu mustahil. Dia disebut merchant of death bukan tanpa alasan, dia tidak mungkin memiliki keluaga tanpa resiko akan membuat mereka Terbunuh. Pepper tahu itu dan sudah tidak sanggup bersama Tony, keduanya menyayangkan akan perpisahan mereka tapi tidak pernah menyesalinya karena itu adalah hal yang harus dilakukan. Laipula Pepper dan Tony masih bersahabat dan keduanya merasa lebih nyaman dengan keadaan tersebut, selain itu pepper juga bisa lebih fokus mengurus Stark Industry.

Ngomong-ngomong soal Pepper, wanita dengan setelan putuh yang dijait khusus untuknya itu baru saja muncul bersama Happy dan beberapa kado. Peter segera melompat girang mengahampiri Aunt Peppernya, Pepper memeluk bocah itu dan mengucapkan selamat ulang tahun untuknya. Pepper sangat senang memeluk Peter, dan Peter tidak pernah keberatan dipeluk olehnya. Tony tidak sabar menunggu Peter memasuki masa remajanya dan menolak untuk dipeluk oleh Pepper atau bahkan mungkin dirinya dan Steve. Tapi untuk sekarang biarkan bocah itu menjadi teddy bear mereka.

"hei…" kata Steve yang kini sudah berada di samping Tony. Tony agak terkejut mendapati lelaki tinggi pirang dan tampan itu sudah berlutut di hadapannya sekarang, sepertinya tali sepatunya Lepas. Tunggu, mereka selalu memakai sandal rumahan atau malah bertelanjang kaki. Jangan bilang kalau….

"Tony, maukah kau menikah denganku?" Tanya Steve sambil membuka sebuah kotak cincin dengan beberapa berlian yang berpendar biru mengelilingi lingkaran cahaya yang seperti arc reactor miliknya. Hanya saja dengan ukuran yang lebih kecil dan nyala yang lebih lembut, seperti mata Steve.

"what?! Tunggu, oke ini seharusnya ulang Tahun Peter." Tony kehilangan kata-katanya dia bingung "bukannya aku tidak mau tapi apakah itu?"

"ya Tony, ini miniature Arc reaktormu dan vibranium yang kulebur dari Shieldku" Kata Steve sambil memperlihatkan cicncin itu lebih jelas pada Tony "Bruce dan Jarvis membantuku membuatnya" dan Tony bisa melihat Bruce Tersenyum lebar ke arahnya bersama Natasha.

"Waaw… ini, aku… entahlah… kau tahu aku… apa itu berlian? Darimana kau punya uang untuk membeli… satu, dua, tiga... sebelas berlian" Tanya Tony melihat Cincin itu, berharap dia bisa punya tambahan waktu atau mengalihkan sementara si Super Soldier sehingga dia tidak perlu menjawab petanyaan itu.

"aku punya gaji pensiun selama tujuh puluh tahun, dan berhenti mengalihkan pembicaraan Tony…" kata Steve yang menyadari kemana arah pembicaraan mereka.

"entahlah…. Maksudku kau lelaki muda dengan hati malaikat, pirang dan sexy sementara aku hanya lelaki paruh baya super tampan dan jenius dengan seorang anak…"

"Tony, peter itu anakku juga… jadi jangan pakai dia sebagai alasan, sebaliknya aku ingin menghadiahkannya jika kau mau menerimaku." Lanjut Steve

"kau mau menghadiahkan pernikahan kita?"

"bukan Tony, aku menghadiahkan sebuah keluarga yang utuh untuknya" lanjut Steve

"kau curang, seharusnya tahun ini aku yang memberikan hadiah terkeren untuk Peter" kata Tony sambil mengambil cincin itu dan memakainya ditangannya, pas.

"jadi , kau menerimaku?"

"hanya untuk cincinnya, berterimakasihlah pada Bruce dan Jarvis" kata Tony sambil menunjukan cincinnya pada Bruce dan Nat yang tersenyum makin lebar. Tony baru tahu Natasha bisa tersenyum selebar itu.

"I love you, Thanks. Aku pasti akan menjagamu dan Peter" kata Steve sambil memeluk Tony erat, tidak menyadari Peter menghampiri kedua ayahnya penasaran. Peter sering dipeluk oleh keduanya tapi tidak pernah melihat keduanya berpelukan, jadi pasti ada sesuatu yang sangat luarbiasa.

"dad, pop, kenapa kalian tidak mengajakku?" Tanya bocah itu sambil melompat-lompat, berusaha memanjat kedua Ayahnya yang tertawa melihat kelakuan putra mereka.

"hei laba-laba kecil, aku punya sebuah hadiah yang lebih besar lagi untukmu" kata Steve sambil menunduk sebelum mengangkat Peter ke pelukannya. "aku dan daddymu akan menikah"

"ha! Itu artinya aku akan punya adik?" kata Peter tidak percaya, teman-temannya di taman Kanak-kanak ada yang punya adik dan mereka terlihat sangat keren dan hebat saat melakukannya.

"huh? Kenapa kau berpikir begitu?" Tanya Steve heran

"orang tua Andrew menikah dan setelah itu dia punya seorang adik, orangtua Tobby juga menikah kemudian Tobby mendapat adik kembar. Apa aku bisa dapat adik kembar juga?" Kata Peter yang juga ingin memiliki adik.

"err… entahlah, mungkin itu bisa kita pertimbangkan nanti" kata Tony tidak yakin, bukannya Tony tidak ingin memilik seorang atau dua orang anak lagi. Tapi untuk saat ini dia ingin fokus pada peter dan Steve.

"lalu kalau bukan karena aku akan punya adik kenapa kalian menikah? bisakah aku menikahi Dad dan Pop juga?" Tanya Peter yang masih belum mengerti konsep pernikahan.

"tidak peter kau akan menikah suatu saat nanti, tapi bukan denganku atau ayah merah putih dan birumu. Dan kenapa kita menikah…." Tony menatap Steve yang tersenyum

"agar kita menjadi keluarga sepenuhnya" kata Steve sambil menatap putranya yang masih kebingungan.

"ini seperti ohana di film lilo and stitch" Tony berusaha menjelaskan dengan film kesukaan putranya.

"aku akan memelihara Stitch? Aku boleh memelihara alien?" kata Peter bertanya penuh harap, dia benar-benar menyukai Stitch.

"bukan sayang….oh, dan jangan menggunakan kata alien karena paman Thor agak sensitif soal itu lalu… keluarga itu artinya tidak ada yang ditinggalkan dan dilupakan…." Kata Tony sambil tersenyum., membiarkan bibir Steve menyentuh bibirnya lembut.

Flashback : OFF

Steve melihan jarinya yang mulai meneteskan darah, tidak sadar telah menggenggam pecahan kaca terlalu keras. "tidak ada yang ditinggalkan dan dilupakan…." Kata Steve sambil meletakan bingkai dengan tangannya yang tidak terluka, takut mengotori foto itu dengan darahnya. Steve kemudian pergi ke kamar mandi untuk membersihkan lukanya dan mengambil kotak P3k di lemari kamar mandi. Perlahan dibalut luka melintang sepanjang telapaknya dengan kassa, tidak terlalu rapih karena dikerjakan dengan satu tangan.

Steve segera membuang pecahan keramik dan kaca begitu memastikan tidak ada pecahan yang mungkin tertingggal. Steve tidak menyadari kehadiran sosok lain di ruangan itu dan pergi brgitu saja. Sosok itu memandang foto yang tadi ditinggalkan Steve dan mengeluarkan foto itu dari bingkainya. "ohana" kata sosok itu begitu membaca tulisan khas bocah dibalik foto itu, tulisan Peter. Sosok itu kemudian mengeluarkan ponsel miliknya dan menekan beberapa tombol. "mr coke cane, kuterima tawaranmu. Kapan aku harus membunuh Captain Spangels?" tanyanya sebelum menghilang dibalik bayangan, meninggalkan bingkai kayu mahoni yang kosong di atas ranjang.

XXXXXxxxxxx-(Bersambung dulu ya)- xxxxxxXXXXX

Oke, yg mau bunuh Author mana suaranyaaaa~?

XD

Autors note: btw... saya ngerjain chap ini sambil dengerin lagunya Atsushi EXILE yg judulnya [Itsuka Kitto...] atau [いつか きっと。。。] atau kalau dibaha indo jadi [suatu saat pasti...] lagu ini tuh lagu theme song Civil War di jepang. Saya ga tau negara lain, tapi emang Jepang itu kalau ada film luar yang masuk pasti ada theme song bahasa Jepangnya. Dan di bioskopnya kalau mau nonton ada 2 pilihan, yang bahasa asli sama yang udah di dubber ama bahasa Jepang. Hal yang unik adalah versi bahasa asli biasaanya lebih mahal daripada yg udah di dubber... agak aneh mengingat buat versi jepang itu kan harus bayar seiyuu(pengisi suara) lagi... tapi yasudahlah...

pokonya ini lagu enak sekale dan recommended banget buat baper-baperan ama Stony...

Dan Chap ini dibuat kebut-kebutan sama jam tayang Civil war... dan Author yang galau gara-gara ditinggalin temen ke singapur buat nonton premire... setan banget tuh orang, awas kalau ga bawa oleh-oleh pulangnya... (Q.Q)

Bisa dibilang ini adalah chap yg paling syusah buat dibikin... karena selain kondsi badaan lg jelek, tugas kuliah, lomba, kerja, dan kostum... masih dibikin galau sama civil war yg udah betebaran spoilernya tapi belum tayang juga di sini... dan saya ga berani noton sebelum nyelesein ini Chapter... ditambah saya lg pengen banget matiin salah satu karakter… entah itu steve, tony, ato malah si peter….

Doakan saja saya masih punya hati dan jiwa setelah nonton civil war buat lanjutin ini ff...dan saya jadi khawatir ini ff bakalan hiatus... makanya please review... karena itu tenaga buat ngelanjutin ini ff laknat...

Oh iya ngomong2 soal review…. sekarang waktunya bales Review~

Karena satu dan lain hal saya bales review yg bukan pm ke sini ya~
:3

.

.

aoiru -pecinta melon rider dr kelas C-

terimakasih syudah berkunjung~ :3

maaf bukan saya yg bikin cerita ini gantung…. Tapi imajinasi dan tugas yg digantung dosen~
XD
iya, maafkan typo betebaran… abis tau kan aku suka malu sendiri baca ff yg udah selese…. Dan suka pengen ngapus yg udah ketulis….. dan kadang ilang sampe setengah cerita….

Iya, kutunggu sisa 3 cerita lg~
:D

.

.

Senandung Dewi Utari

Makasih atas doanya~ :D

Wahhh… maafin karna bikin nangis….. Q.Q

Kalau soal Tony dan Steve bisa balikan lg attau ngga… um…. Gimana yah? Rasanya susah setelah apa yg dia lakuin ke Peter….

Dan ikrar Tony itu saya buat tanpa sadar… karena entah kenapa saya yakin Tony itu pasti bakal nambah-nambahin dan komen soal ikrar pernikahan meski itu ikrar pernikahannya sendiri… XD

Dan aku juga patah hati banget sama spoiler civil war ampe ini ff entah bagaimana bisa tercitpa dan diluar dugaan lanjut ampe sekarang…. Doakan saja saya diberi pencerahan biar ini ff bisa kelar.

.

.

TheColorsAquarius

Iya, bagian terakhir sebenernya syudah ditahan dari chapter 1…

dan disebut bisa ngaduk perasaan orang itu sesuatu yg baru, biasanya saya ngaduk es campur atau belakangan obat batuk cair yg rasa melon…. Asli meski judulnya melon rasanya ga enak… (maafin malah numpang curhat) XD

Bruce ada, lg ganti baju pas Peter bangun tuh. Fury sehat meski masih botak *dibunuh*

Untuk tanggepan Furry…. Chap depan ya, itu jga kalau ada sih…. Ga yakin bisa ngerjain chapter lima…. Hiks…hiks…hiks…hiks….

dan saya ga tau harus seneng atau sedih dibilang punya bakat di bidang angst karena saya pengennya nulis komedi…. Tapi karna bakat berarti berkah, klo berkah berarti harus disyukuri, makasih ya TheColorsAquarius :*

dan makasih karna udah review selama ini, asli klo ga ada reviewan darimu mungkin ini cerita Cuma membatu ampe chap 2…. Keep review please~
:D

.

.

svtAlien

kyyyaaaa~ ceritaku dibaca alien~ ini yg waktu itu nyerang New York? #plak!

Dan makasih udah baca~
dan iya…. Sampai sekarang yg namanya Typo itu seolah penyakit yg ga bisa ilang… mungkin karena saya selalu malu sendiri klo baca tulisan saya dan jd pengn ngapus sebagian(atau kadang malah semuanya) klo baca chapter yg udah beres… dan karena ga punya beta, akhirnya terpaksa dibiarkan begitu saja…. karena takut setengah atau malah semua chapter ini ilang...

oh, tapi kalau soal pembatas, udah saya coba benerin :D

Makasih udah baca dan review~ sangat bermanfaat dan membantu sekali~

:D

.

.

Sekian dari saya~

btw, seperti biasa~

yg mau request silahkan review

yg mau ngoreksi silahkan review

yg mu ngajak berantem juga review aja #Plak!

see you next time~
:D