HUSBAND
Pair: Lee Jeno/Huang Renjun (NOREN)
Happy Reading~~
.
.
Renjun masih gemetaran karena Jeno melakukannya lagi, bermain-main dengan tubuhnya dan di tempat yang sama sekali tidak ada rahasia. Di kantor. Meskipun ruangan Jeno tertutup, tapi para karyawan lain pasti bisa melihat bayangan saat Renjun berada di atas meja kerja Jeno dan di atas file-file penting itu. Juga saat Jeno mendaki tubuhnya dari betis sampai ke dahi. Karyawan lain pasti juga bisa mendengar erangannya saat orgasme meskipun sebenarnya Renjun sudah menahan diri untuk tidak bersuara. Dan sekarang Renjun harus melihat tatapan semua orang begitu dirinya keluar dari ruangan Bos.
Mereka pasti berfikir Renjun sudah menggoda Tuan Lee yang jadi idola mereka. Tuan Lee yang tampan itu sudah direbut oleh Huang Renjun yang hanya seorang pegawai Administrasi biasa. Harusnya ia tidak perlu perduli dengan pandangan orang-orang. Mereka semua mau apa? Walau bagaimanapun Renjun adalah istri sah dari Tuan Lee, tapi sayangnya mereka tidak tahu apa-apa.
Begitu kembali ke ruangannya, Renjun harus mendapati pandangan aneh yang sama dari Haechan. Pria itu meninggalkan katalog-katalognya dan mendekati Renjun. Haechan duduk di atas meja sambil menarik kemeja yang dipakai Renjun agar dia bisa melihat sesuatu ke dalam sana, beberapa tanda merah di dada membuat Haechan semakin terperangah.
"Kalian bercinta di kantor?" Tanyanya penasaran.
"Tidak sampai begitu, hanya bermesraan sedikit!"
"Tapi kau mendesah, Renjun!" Desis Haechan, ia berusaha untuk tidak bersuara dengan lantang. "Semua orang menonton bayangan erotis di dalam ruangan sajangnim tadi sambil menggigit bibir masing-masing. Kalian memutuskan untuk mengumumkannya dengan itu?"
"Entahlah." Renjun mengangkat bahu. Semuanya begitu tiba-tiba saat Jeno memanggilnya untuk masuk ke ruangannya dan menarik Renjun ke pangkuannya lalu mereka bercumbu, kemudian berlanjut ke hal yang lebih dari sekedar bercumbu. Renjun tahu kalau cepat atau lambat dirinya harus terbiasa dengan sikap Jeno yang satu ini. Tapi untuk melakukan itu di kantor, Jeno seolah-olah ingin dirinya mati karena pandangan teman-teman sekantornya.
"Sepertinya aku mau berhenti bekerja."
"Berhenti bekerja karena hal ini? Kau mau melarikan diri, Renjun?"
"Bukan, kenapa harus melarikan diri? Aku ini istri sah, bukan selingkuhan. Masalahnya aku lelah kalau harus bertemu dengannya setiap saat, di rumah, di kantor, lama-lama bisa bosan."
"Benarkah?" Jeno tiba-tiba saja sudah berdiri di depan pintu ruangan kerja Renjun. Laki-laki itu bertolak pinggang dan mengeluarkan wajah kecewanya. "Jadi bagimu aku semembosankan itu?"
Renjun menelan ludah lalu kembali saling pandang dengan Haechan, ia merasa sedang diliputi sebuah perasaan yang tidak bisa di sangkanya akan hadir di dalam dirinya. Takut Jeno marah dan meninggalkannya.
"Aku tidak…"
"Sudahlah. Aku kabulkan permintaanmu Huang Renjun. Kau dipecat dan mulai sekarang, tinggalah di rumah dan tidak perlu datang ke kantor lagi. Kau hanya perlu menghabiskan uang suamimu karena dia pasti bingung untuk siapa dirinya bekerja jika istrinya juga mencari uang. Sekarang ayo siapkan semua barangmu, kita harus pergi."
Spontan Renjun berusaha bergerak secepat mungkin sambil menggerutu, ia tidak bermaksud benar-benar akan berhenti bekerja, saat mengatakan itu tadi Renjun hanya kebingungan harus mengatakan apa. Tapi Jeno tidak menanggapi apa-apa, bahkan sebuah senyum pun tidak. Apa Jeno benar-benar sudah memecatnya dan ia tidak perlu datang lagi kemari?
Renjun berhenti menggerutu dan mendekati Jeno sambil bertanya mau kemana? Tapi Jeno tidak peduli dan terus menggandeng tangannya sambil memerintahkan sesuatu kepada Haechan.
"Lee Haechan, kau tidak perlu lagi merahasiakan apa-apa. Jika ada temanmu yang bertanya tentang kejadian tadi, katakan yang sesungguhnya. Tuan Lee dan Huang Renjun sudah menikah!"
Haechan tertawa senang, ya tentu saja Haechan senang. Ini akan jadi kali pertama ia menyebarkan gosip dimana semua gosip itu berawal dari dirinya dan hanya dirinyalah orang yang tahu. Bisa dibayangkan kalau hari ini dia akan menjadi pangeran dan semua karyawan yang ingin tahu akan mendekat kepadanya. Dia akan menceritakan semuanya dengan sangat heboh seolah-olah menceritakan kejadian gempa bumi.
.
.
Dalam sekejap Jeno sudah berhasil memindahkannya ke parkiran seolah-olah mereka berteleportasi. Padahal Renjun tidak yakin ada sihir di dunia ini, Renjun hanya terlalu lama berkhayal dan melewatkan pandangan teman-temannya yang lain saat dirinya digandeng oleh Jeno keluar kantor setelah mengeluarkan desahan berkali-kali beberapa waktu lalu. Ia ingin melihat wajah semua karyawan wanita saat Haechan memberi tahu kalau Renjun adalah istri sah dari Lee Jeno yang selalu mereka bicarakan di kantin. Tapi dia sudah di pecat, kan? Renjun tidak akan kembali ke kantor ini lagi besok.
"Kau serius memecatku?" Desis Renjun saat Jeno sibuk mencari mobilnya. Dia tidak parkir sendiri tadi, pasti menyuruh orang lain sehingga Jeno tidak tahu letak dimana mobilnya. Jeno tidak menjawab pertanyaan Renjun sampai ia menemukan mobilnya. Dengan wajah cerah lalu memaksa Renjun untuk masuk ke dalam mobil.
"Seharusnya kau memberiku pesangon yang besar, baru boleh memecatku!" Renjun bersuara lagi. "Kita mau kemana?"
"Siapa bilang kita mau pergi? Tidak makan siang sekali-kali tidak apa-apakan? Aku mau melanjutkan yang tadi." Jeno berbisik dikalimat terakhir lalu menjatuhkan bibirnya di belakang telinga Renjun.
Renjun sedikit bergidik, tapi tidak menghindar. Matanya berusaha melihat ke sekeliling takut jika ada yang memergoki mereka. Kaca mobil Jeno cukup jernih sehingga bila Jeno menelanjanginya sekarang, orang-orang bisa melihatnya begitu saja. Tapi tunggu! Mata Renjun menangkap sesuatu. Ada seseorang di sana yang memperhatikan segala kelakukan Jeno kepadanya. Itu Yukhei. Renjun yakin sekali dengan pandangannya.
Renjun seharusnya keluar dari mobil, mengejar Yukhei, memanggil namanya dan menanyakan apa yang sudah terjadi. Tapi dia sedang menanti sentuhan Jeno selanjutnya yang sudah sampai di pangkal pahanya, Renjun mendesah dan ia melihat senyum pahit Yukhei dari kejauhan. Laki-laki itu pergi.
"Kau kelihatannya sangat menikmatinya."
Lamunan Renjun buyar. Ia mempertajam pandangannya sekali lagi dan Yukhei benar-benar sudah tidak ada. Apa yang membuatnya sangat terlena pada sentuhan Jeno? Kejadian ini pasti menyakiti Yukhei dan Renjun menyesal memperlihatkan wajah sangat menikmati saat Yukhei memandangnya. Renjun mengerang sekali lagi sehingga nafasnya yang memburu mulai teratur secara pelan-pelan. Ia berusaha menjauhkan tangan Jeno dari tubuhnya, matanya memandang Jeno dengan kesal. Kehadiran Yukhei masih mempengaruhinya.
"Tentu saja aku menikmatinya, Lalu kau? Apa bisa menikmatinya hanya dengan menyentuh? Atau, Tuan Lee! Kau sebenarnya seorang maniak?"
Jeno tertawa terbahak-bahak. "Ya, aku memang seorang maniak. Aku cukup hanya dengan menyentuh saja. Lalu? Jangan katakan kalau kau mulai menginginkan sesuatu yang lebih dari ini!"
"Aku belum pernah melakukan ini sebelumnya atau seingatku begitu. Lalu bagaimana bisa aku menginginkan hal yang lebih?" Renjun berujar yakin.
Tapi dirinya sedang berbohong. Meskipun samar-samar, semua kenikmatan yang Jeno berikan sudah membuatnya ketagihan. Renjun mulai kelaparan, ia mulai menginginkan kenikmatan yang lebih dari yang pernah Jeno berikan, kenikmatan yang hanya bisa didapat melalui seks dalam arti sesungguhnya. Bukan main-main seperti saat ini.
"Kau yakin kalau tidak pernah melakukan ini sebelumnya?"
"Lalu? Apa kau benar-benar memecatku seperti yang kau ucapkan tadi?" Jeno tahu kalau Renjun sedang berusaha mengalihkan pembicaraan. Ia tidak mau membicarakan masalah seks lebih lanjut.
"Kita akan bertemu dengan kakakku!" Hanya itu. Jeno tidak memberikan jawaban yang Renjun inginkan. Tapi bukan masalah besar karena Renjun benar-benar tidak menginginkan jawaban apa-apa.
.
.
Beberapa waktu kemudian mereka melaju menuju restoran terdekat dan Jeno memperkenalkan Renjun dengan kakak sulungnya, Lee Taeyong yang datang bersama istri dan anak tunggalnya yang baru berusia empat tahun, namanya David. Taeyong sangat ramah tapi istrinya sangat galak. Pandangan istri kakak iparnya itu benar-benar membuat Renjun ingin menghilang seketika, pandangan yang sangat menghakimi seolah-olah Renjun sudah melakukan sebuah kesalahan karena menikah dengan adiknya.
Selanjutnya Renjun tidak banyak bicara, ia hanya menyimak obrolan dua bersaudara itu sambil sesekali diiringi celetukan dari Yuta hyung, istri Taeyong. Mereka berdua berencana untuk menjalankan bulan madu kedua mereka ke luar negeri. Sayangnya si kecil David sekarang menjadi kendala. Taeyong dan istrinya kebingungan kemana mereka harus menitipkan David selama seminggu, siapa yang bisa menjamin keadaan dan kesehatannya?
Yuta tidak begitu percaya kepada tempat penitipan anak, panti asuhan dan semacamnya. Ia takut David terpengaruh pergaulan liar di usia kanak-kanaknya. Pada saat seperti itulah Jeno tiba-tiba menawarkan diri untuk dititipi David karena katanya Renjun sudah mengundurkan diri dari pekerjaannya dan membutuhkan kegiatan untuk mengisi waktu. Setidaknya mengurusi David selama seminggu bisa memberikannya kesibukan.
Renjun mendengus dan berusaha menghabisi potongan-potongan cake di hadapannya dalam jumlah banyak karena ternyata Jeno serius memecatnya dari kantor, dan ia semakin tertekan saat Yuta hyung memandanginya tajam, mungkin fikirnya; apa Lee Jeno sudah gila? Menititipkan anakku kepada pria rakus begini?
Renjun berusaha menahan tawa karena fikirannya sambil menyumbat mulutnya dengan sesuap cake. Tapi walau bagaimanapun ia sangat kesulitan sehingga semua potongan cake yang ada di mulutnya tersembur dan membuat Yuta hyung menjadi sangat ribut. Renjun tertawa kecil lalu terbatuk-batuk. Ia berusaha tidak perduli terhadap gerutuan Yuta yang mengatakan kepada Jeno kalau adik iparnya itu sangat malang karena menikah dengan pria yang tidak sopan.
.
.
Renjun sedang sibuk memandangi sebuah katalog furnitur karena ia sedang ingin mengganti suasana di kamarnya. Renjun sudah mengganti sofa coklat di kamarnya dengan sofa Da Vinci berwarna putih. Renjun juga mengganti seprai dengan sutra berwarna blue baby. Sekarang ia ingin mencari gorden yang senada dengan seprainya, karena Renjun ingin mengembalikan nuansa kamarnya sesuai dengan kamarnya yang dulu.
Renjun benar-benar sedang berusaha menghabiskan uang Jeno. Laki-laki itu tidak lagi memberikannya kartu kredit, Jeno membiarkan Renjun memegang ATM-nya agar jumlah belanjanya terbatas. Jika tidak, Renjun bisa belanja sampai kartunya over limit dan Jeno bisa mati karena membayar hutang. Tapi tabungan Jeno cukup banyak dan Renjun juga tahu kalau kartu yang dipegangnya bukan satu-satunya.
Meskipun begitu, yang ada digenggamannyalah tabungan Jeno yang berisi uang dalam jumlah paling banyak. Sejauh ini Renjun hanya berbelanja untuk kepentingan bersama, tapi tidak menutup kemungkinan suatu saat nanti ia berbelanja untuk kepentingan sendiri. Salah Jeno sendiri yang mencetaknya menjadi istri yang disukainya, tinggal di rumah, bersikap manis dan belanja menghabiskan uang. Jika Jeno benar-benar suka dengan pria yang seperti itu, maka Renjun sama sekali tidak keberatan untuk berubah menjadi seperti yang Jeno inginkan.
Setelah keluar dari tempatnya bekerja, Renjun tidak menghabiskan harinya dengan sia-sia. Ia mulai mendaftarkan diri di sebuah Club Martial Art seperti yang dilakukannya ketika dirinya masih kuliah dulu, dan akan mengikuti latihan setidaknya setiap 3 kali dalam seminggu dan di mulai pada hari ini juga.
Sepulang dari Club Renjun langsung sibuk berkutat dengan berbagai contoh gorden dan katalog-katalog yang berisi macam-macam desain dan warna di sebuah galeri. Renjun menunjukkan gambar Gorden berwarna biru muda dengan sedikit sentuhan warna putih dikedua sisinya kepada pegawai yang sejak tadi menyertainya.
"Aku mau yang ini, bisa dipasang besok? Aku ingin melihatnya sudah terpasang setelah makan siang."
Pelayan itu mengangguk sopan. "Tentu saja Tuan. Kami bisa jamin itu. Anda tinggal menuliskan alamatnya dan pegawai kami akan mengecek kesana lebih dulu mengenai ukurannya. Kami menjanjikan pelayanan yang terbaik"
"Lalu dimana aku harus membayar?"
Tidak butuh waktu banyak bagi Renjun untuk menyelesaikan semua urusannya dan keluar dari galeri itu. Ia berjalan ke pinggir jalan untuk memanggil taksi sambil beberapa kali meneguk air putih yang sejak tadi terus dibawanya. Sayangnya tidak ada satu taksi pun yang datang, Renjun mendengus kesal. Ia harus segera pulang dan bersiap-siap karena hari ini David akan mulai tinggal bersamanya. Besok Renjun akan latihan menjadi 'ibu' setidaknya untuk seminggu kedepan.
"Kau sedang sibuk?"
Yukhei? Batin Renjun. Ia mengenal suara itu dan itu memang benar suara Yukhei. Spontan Renjun berbalik ke belakang dan melihat Yukhei berdiri menghadapnya. Laki-laki itu berusaha memberikan senyuman untuk menunjukkan kalau dirinya punya maksud yang baik.
"Keberatan kalau kita bicara?" Lanjut Yukhei lagi. Renjun sempat tertegun sebentar tapi kemudian segera mengangguk.
"Ya, Bisa! Aku baru pulang latihan martial arts dan punya banyak waktu luang."
"Keberatan kalau kita ke coffee shop?"
"Aku tidak keberatan. Tapi aku tidak minum apapun yang mengandung cafein. Aku sedang diet!"
Yukhei menghela nafas. "Kalau begitu kita bicara di sana saja!" Renjun menoleh ke sebuah tempat yang ditunjuk Yukhei.
Sebuah taman kecil yang cukup ramai. Tidak ada hal lain lagi yang bisa Renjun lakukan selain menyetujuinya. Dalam waktu singkat, Renjun dan Yukhei sudah berada di salah satu bangku di sudut taman. Ia merasa agak kikuk. Yukhei ada di sini bersamanya, laki-laki yang seharusnya menjadi suaminya ada di sebelahnya. Ia ingin bertanya mengapa dirinya dan Yukhei berpisah, tapi Renjun mengurungkannya. Baik Jeno maupun Halmeoni mengatakan kalau Renjunlah yang meninggalkan Yukhei dan menanyakan hal itu adalah tindakan bodoh yang akan merusak hati Yukhei.
"Kau baik-baik saja?" Yukhei kembali memulai pembicaraan.
"Menurutmu?"
"Aku lihat hidupmu sangat baik. Bagaimana dengan suamimu? Kau benar-benar mencintainya? Kau membatalkan pernikahanmu denganku karena mencintainya, kan?"
Renjun mengangkat bahu. "Mungkin saat mengatakan itu aku sedang mabuk!"
Yukhei tertawa sejenak "Aku minta maaf, Renjun. Aku sudah menyia-nyiakanmu dan tidak melawan saat kau direbut oleh orang lain. Saat laki-laki itu datang dan mengatakan kalau kau sudah menikah dengannya aku sama sekali tidak berusaha mengkonfirmasi dan malah melarikan diri."
Kening Renjun menjadi berlipat-lipat. Dirinya sama sekali tidak mengerti apa yang Yukhei katakan.
"Aku sudah tidak mengingatnya lagi."
"Ya, sepertinya akhir-akhir ini aku tidak melihat kalau kau sedang menyimpan masalah. Aku terus memperhatikanmu dan berdasarkan pengamatanku, kau sangat menikmati hidupmu yang baru tanpa aku." Yukhei mendesah. Ia memandangi Renjun berharap Renjun menyela dan memintanya berhenti berfikir kalau dia sedang menikmati pernikahannya.
Beberapa waktu lalu Renjun selalu datang kepadanya dan membicarakan tentang rencana pernikahan mereka dengan bahagia. Yukhei tidak bisa melupakan saat Renjun mengatakan kalau pria itu masih mencintainya dan bisa mati jika harus melihat orang lain yang bersamanya. Sekarang sepertinya Renjun bahkan tidak begitu merespon kata-kata Yukhei dengan serius.
"Kau mencintainya? Aku melihatmu bermesraan dengannya di parkiran waktu itu. Berarti kau mencintainya dan benar-benar melupakanku?"
Kali ini sepertinya Renjun merespon dengan lebih serius. Ia memandang wajah Yukhei sekilas lalu tersenyum getir dan segera menunduk.
"Aku hanya ingin menikmati apa yang sudah ku miliki. Pada awalnya aku masih memikirkan mengapa orang lain yang berada disampingku? Mengapa orang yang menyisihkan sayurannya untukku bukan dirimu? Mengapa harus dia yang ada di sampingku saat aku bangun tidur di pagi hari, dan bukan dirimu. Tapi ku fikir, terus begitu malah akan menyiksa. Aku sudah bersuami dan laki-laki itu, siapapun dia setidaknya selalu memberiku uang."
Renjun tertawa kecil. Yukhei menghela nafas. Ia salah mengira kalau Renjun sudah meresponnya dengan serius. Tapi Renjun benar, seharusnya ia menikmati hidupnya yang baru tanpa Yukhei. Seharusnya Yukhei merelakan Renjun yang dulu selalu datang kepadanya. Yang ada di hadapannya sekarang bukanlah Renjun yang bisa Yukhei anggap remeh karena selalu mengemis cintanya dan mengatakan akan melakukan apa saja demi membahagiakan Yukhei. Tapi Renjun yang sekarang adalah Renjun yang baru yang nyaris tidak pernah menghadirkan wajah sedihnya.
Yukhei tersadar dari lamunanya saat mendengar ponsel Renjun berbunyi nyaring. Pria itu mengambil ponsel dari dalam jaket yang di kenakannya. Renjun sedang membaca pesan.
"Aku harus pergi sekarang!" Renjun berbicara setelah ia mengamati ponselnya beberapa waktu. "Aku harus bersiap-siap menjadi ibu. Ada keponakan Jeno yang akan menginap di rumah selama seminggu."
"Sepertinya akan jadi minggu-minggu yang sibuk."
"Ya, sepertinya begitu. Setidaknya, aku pernah merasakan bagaimana rasanya mengurus anak!" Renjun tertawa lagi dan berbicara dengan lebih tangkas setelah tawanya reda.
"Baiklah. Aku pergi sekarang!"
"Tunggu Renjun! Apa kita masih bisa bertemu lagi? Atau mulai sekarang aku harus menjauh?."
Renjun memandangnya sejenak. "Kita bisa bertemu kapanpun. Aku menganggapmu sebagai teman. Jika suatu saat kita bertemu di suatu tempat, aku pasti menyapamu. Tapi jangan sengaja menghubungiku, ya? Aku tidak ingin bertengkar dengan Jeno, karena menurut orang-orang, pertengkaranku dengannya bisa merusak suasana hati banyak orang. Bisa kau bayangkan bagaimana?"
Yukhei hanya mampu tersenyum.
.
.
Sepanjang hari ini Renjun sama sekali tidak bisa melupakan pertemuannya dengan Yukhei tadi siang. Yukhei masih sama, sangat baik. Tapi saat benar-benar berdekatan seperti tadi sepertinya Renjun sudah tidak memiliki perasaan apa-apa lagi padanya. Lalu bagaimana dengan Jeno? Renjun mencintai Jeno? Tidak, hubungan mereka hanya sebatas interaksi fisik. Di sisi lain, Renjun menganggap Jeno sebagai saudara laki-laki yang tidak pernah di milikinya. Jadi sekarang hati Renjun sedang kosong? Sepertinya begitu, dirinya tidak merasakan debaran apapun saat berdekatan dengan siapapun. Semuanya sangat datar dan….hampa.
"David sudah sampai! Dia ada di dalam. Aku ditelpon Halmeoni makanya mengirim pesan padamu tadi. Tadi aku juga menelpon Taeyong hyung dan mereka bilang kalau mereka berdua sedang dalam perjalanan menuju bandara." Jeno terlihat sibuk merapikan barang-barang David.
Renjun yang tersadar karena kata-katanya barusan segera masuk ke dalam rumah tanpa mempedulikan Jeno. Ia menemukan Halmeoni yang sedang sibuk menonton drama di televisi. Begitu melihat Renjun, Halmeoni tersenyum memandanginya.
"David ada di kamarmu." Kalimat pertama yang diucapkan Halmeoni kepada Renjun. "Tadi orang tuanya datang dan dia sedang tidur. Jadi diletakkan di atas ranjangmu."
"Bagaimana dengan orang-orang yang memasang gorden baru? Apakah sudah datang?"
"Sudah, untungnya mereka menyelesaikan pekerjaannya sebelum David datang. Jadi ku fikir anak itu sedang tidur nyenyak di kamarmu sekarang dan tidak ada yang mengganggu." Renjun mengangguk mengerti.
Mereka memberikan pelayanan terbaik? Gallery Gorden itu sudah membuktikannya. Mereka bertindak sangat cepat. Sekarang Renjun akan segera masuk ke kamarnya, mengganti pakaian dan tidur. Entah mengapa saat ini ia selalu memikirkan nikmatnya berbaring di atas tempat tidur. Renjun permisi kepada Halmeoni-nya dan segera masuk ke kamar.
David sedang tidur? Halmeoni salah, anak itu tidak sedang tidur. David sedang melompat-lompat di atas sofa Da Vinci putihnya dengan brutal. Renjun nyaris saja berteriak tapi ia cukup bijaksana untuk mengurungkan niatnya. Perlahan Renjun melangkah dan mendekati David yang kelihatannya belum ingin berhenti melompat-lompat di sofa kesayangan Renjun seolah-olah benda itu adalah trampoline.
"David, lelah tidak? Main dengan ahjussi yuk?" Renjun berusaha berkata dengan penuh kasih.
Tapi sepertinya bujukannya tidak mempan, David masih melompat-lompat dan gerakannya di tambah lagi dengan menggeleng.
"David, jangan begitu. Nanti pusing!" Jeno masuk ke kamar tiba-tiba dan ikut memandangi David dengan terkesima.
Bocah itu masih tidak mau berhenti dan sepertinya kesabaran Renjun benar-benar sedang diuji. Hari pertamanya menjadi seorang 'ibu' menggantikan Yuta hyung harus diuji dengan sofa kesayangannya yang baru berusia sehari dan hari ini akan memasuki hari keduanya. Jeno memandangi Renjun yang masih berusaha membujuk David dan ia tersenyum. Renjun ternyata lebih sabar bila menghadapi anak-anak.
Jeno berusaha untuk tidak perduli dan membiarkan Renjun mengurusi David. Tapi David masih terus melompat bahkan setelah Jeno mandi dan berganti pakaian. Renjun sepertinya sudah menyerah dan hanya duduk diam memandangi David yang masih belum lelah sambil duduk di atas ranjang dan memeluk kedua lututnya. Jeno mendekat dan duduk di sebelahnya, ia ikut memandangi David seperti yang Renjun lakukan, Jeno bisa merasakan kalau Renjun memandangnya meskipun sebentar.
"Tontonan yang menarik!" Bisik Jeno.
Renjun mendengus. "Aku hanya menunggunya lelah. Kapan dia akan berhenti?"
"Dia tidak akan berhenti sebelum Sofa Da Vinci-mu rusak. Kau tidak mengkhawatirkan sofamu?"
"Aku bisa membelinya lagi. Uangmu masih banyak. Aku takut David sakit karena melompat-lompat seperti itu. Sudah satu jam dia melakukannya."
"I see!" Jeno mendesis. Ia mengerti dengan apa yang Renjun khawatirkan.
David masih merasa kalau Renjun adalah orang asing, karena itu ia masih berusaha membuat Renjun menjauh darinya. Tapi Renjun sepertinya juga mengerti kalau membujuk terus-terusan juga tidak ada gunanya. Ia membiarkan David lelah dengan sendirinya dan menunggu. Sayangnya Renjun seperti sedang berada di puncak kesabarannya. Ia berdiri dan mengambil dompetnya lalu menoleh kepada Jeno.
"Tolong jaga dia sebentar. Aku sedang menunggu sesuatu."
Dan Renjun menghilang di balik pintu. Jeno menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan David yang bahkan masih terus seperti itu meskipun Renjun sudah pergi. Jeno juga tidak tahu harus berbuat apa. Dia belum pernah memiliki anak dan tidak terlalu suka kepada anak-anak. Dia tidak mungkin bisa menjinakkan David. Selang beberapa waktu kemudian Renjun masuk membawa sekotak Pizza.
Ia meletakkan kotak Pizza di atas meja yang berada tepat di depan sofa Da Vinci yang sudah bertransformasi menjadi trampoline, Renjun lalu membukanya. Sepotong Pizza diambil dari tempatnya dan Renjun menggigitnya sedikit demi sedikit. Ia sedang membujuk David dengan cara yang unik dan kelihatannya berhasil. David berhenti menggeleng-geleng dan melompat. Bocah itu terdiam memandangi Renjun yang makan Pizza dengan nikmatnya. Jeno nyaris saja tertawa, Renjun merusak dietnya lagi demi David.
"David sayang, kau mau?" Tanya Renjun lembut sambil menyodorkan sisa Pizza di tangannya yang tinggal segigit lagi. David tidak langsung menjawab, tapi ia berteriak 'mau' begitu melihat Renjun menghabiskan Pizza potongan pertama.
Bocah itu turun dari sofa dan berdiri di sebelah Renjun dan memandangi Pizza dengan tatapan penuh harap. Renjun menggeser Pizza ke hadapan David dan David memandangnya sekali lagi. Begitu bocah itu yakin Renjun memperbolehkannya makan Pizza, jari-jari kecil David meraih sepotong dan duduk tenang di sebelahnya. Renjun memindahkan Pizza itu ke lantai agar bisa di jangkau oleh David jika ia ingin tambah lagi.
Renjun melupakan Jeno sejenak dan baru mengingatnya beberapa detik kemudian, Renjun segera menoleh kepada Jeno yang juga memandanginya dengan pandangan yang sama seperti tatapan David. Jeno juga ingin makan Pizza? Renjun hampir saja tertawa.
"Ayo! Kenapa diam saja." Renjun berujar lembut sambil menarik tangan Jeno sehingga Jeno berpindah ke sisinya.
Sekarang mereka bertiga duduk di atas lantai marmer sambil menyantap Pizza. Renjun sempat keluar sebentar dan kembali dengan membawa beberapa buah cangkir plastik dan sebotol besar air mineral. David makan dengan lahap, dua potong ternyata tidak cukup, ia kembali meraih potongan ketiga. Jeno hanya makan sepotong karena dirinya memang tidak makan dalam porsi banyak sekaligus. Perutnya selalu butuh jeda karena Jeno tidak memiliki lambung yang besar. Ia mengelus perutnya yang sudah terisi dan menoleh kepada Renjun yang sedang menggigit pizza potongan keduanya dengan gerakan seakan-akan ia tengah melakukan sebuah dosa. Dia sedang diet, tentu saja makan pizza adalah dosa besar bagi orang yang berdiet.
"Hentikanlah kalau memang kau tidak rela menghabiskannya." Jeno berbisik lagi.
Renjun menoleh kepadanya dan mendekatkan wajahnya ke telinga Jeno. "Jika aku tidak ikut makan, David akan segera sadar kalau dirinya sedang dipancing."
Pembicaraan berhenti sebentar. David menguap lalu merengek meminta minum. Segelas plastik air mineral sudah tertuang dan disodorkan kepadanya. David mengambilnya dari tangan Renjun dan meminumnya, selang beberapa detik bocah itu bersendawa dan bersandar kepada Renjun. Dia sudah mengantuk dan sepertinya tidak bisa di tahan lagi.
"Dia sudah lelah." Bisik Renjun.
"Kau bisa membantuku menyimpan cangkir-cangkir ini ke dapur? Aku sepertinya harus menidurkannya."
Jeno mengangguk mengerti. Perlahan dan hati-hati ia menumpuk gelas-gelas plastik itu di atas kotak Pizza dan membawanya keluar. Di dapur Jeno sempat bertemu Halmeoni yang mengajaknya makan malam dan Jeno mampir sebentar untuk makan sepotong roti. Renjun sedang menidurkan David dan tidak bisa menemani Halmeoni untuk makan malam seperti biasa. Lalu bagaimana bisa Jeno membiarkan Halmeoni makan malam sendirian?
Setelah ritual makan malam selesai, Jeno kembali ke kamar dan melihat David yang mengambil alih tempatnya di atas ranjang. Bocah itu memeluk Renjun tiba-tiba.
"Mommy…" Desisnya. David mengigau.
"Kenapa David tidur disini?" Jeno berbisik sambil naik ke atas tempat tidur dan duduk di dekat Renjun yang membelakanginya. Renjun menoleh sebentar lalu menarik lengan Jeno agar berbaring di dekatnya.
"Lalu dimana? Aku tidak mungkin membiarkannya tidur di kamar tamu sendirian."
Jeno berusaha menyingkirkan tangan David yang memeluk istrinya lalu menggantikan dengan lengannya.
"Mana boleh dia memelukmu tanpa seizinku!"
Jeno memeluk Renjun semakin erat dan lengannya menekan perut Renjun agar merapat kepadanya. Renjun tidak melawan.
"Kau ibu yang berbahaya. Yuta hyung saja tidak pernah mengizinkan David makan-makanan cepat saji." Jeno berbisik.
"Apa lagi yang bisa ku lakukan?"
David menggeliat, sepertinya bocah itu terganggu dengan bisik-bisik antara Jeno dan Renjun. Sesegera mungkin Renjun mengelus punggungnya hingga David bisa lebih tenang. Renjun menoleh kepada Jeno yang masih memeluknya dengan erat. Satu ciuman mendarat di pipinya, lalu leher dan bahu, Renjun menolak dengan mendorong kepala Jeno jauh-jauh.
"Jangan memancingku." Desis Renjun. "Sekarang tidur saja, atau David bisa terbangun dan menyaksikan ulahmu!"
Jeno mendengus kecewa, tapi ia tidak melepaskan pelukannya dan memejamkan mata. Bukan hanya David yang lelah. Tapi Jeno juga lelah. Perlahan-lahan Jeno kehabisan ketahanannya dan tertidur. Kepalanya bersandar di tengkuk Renjun dan ia pun benar-benar terlelap.
.
.
.
TBC
.
.
.
A/N :
Aku nggak tau mau ngomong apa di sini '-' Yang pasti maaf jika masih banyak typo. Terimakasih untuk yang sudah favorite, follow dan review ff ini. Maaf nggak bisa balas satu-persatu.
Thanks To :
ariarap, Hara22, Mastaxxx, nrlyukkeuri96, Cho Minseo, tryss, Min Milly, hyena lee, fangirlalala, Harororo, ajeng04, exxxoel, chittaphon27, KimRyeona19.
.
.
P.s : Maaf jika ada pair yang tidak kalian suka di sini.
P.s.s : Terimakasih banyak untuk yang sudah updatein ff ini!
Sampai jumpa di chapter selanjutnya!
