Halo semuanya. Terima kasih bagi yang sudah membaca maupun mereview. Langsung saja. Selamat membaca! :D
Captain Tsubasa Fanfiction
Disclaimer: Captain Tsubasa belongs to Yoichi Takahashi-sensei. I don't own the original story, nor the characters. I only own this amateur fanmade fiction, including the plot and other OC(s)/OOC-ness.
Fourteen-Teller presents….
-The Story of A Broken Heart-
Chapter 4: Yayoi and Her Close Friend
Ketika gadis itu meninggalkan kota kelahirannya, usianya baru 1 tahun. Ia adalah bayi perempuan yang cantik, lucu, juga sehat. Jika bayi seumurnya mungkin bisa mengalami masalah kesehatan akibat adaptasi lingkungan baru, maka dia tidak begitu. Selain imunitasnya kuat, ia punya orangtua yang sangat care terhadapnya.
Ayahnya lulus cumlaude dari universitas ternama di Tokyo. Bidang arsitektur yang dipilihnya, mengantarkannya pada posisi cukup tinggi di perusahaan ia bekerja, meskipun ia harus rela untuk tinggal jauh dari sanak keluarga. Sang ibu adalah seorang karyawan swasta, juga aktif di organisasi kemasyarakatan lingkungan tempat tinggalnya. Namun, sesibuk apapun mereka, nyatanya si anak perempuan tidak pernah kehilangan perhatian. Mereka membesarkannya dengan baik.
Anak itu tumbuh menjadi gadis kecil yang semakin cantik. Rambut merahnya sengaja dirawat dan dipertahankan panjang oleh sang ibu. Ia paling suka dikuncir dua dengan pita. Menurutnya, dengan begitu ia tampil lebih cantik. Itulah, saat pertama ia mulai tertarik dengan seseorang.
"Tsubasa-kun…. Main yuk!"
Ia berdiri di depan pagar sebuah rumah bersama dua teman perempuannya. Hari ini ia menyisir rambutnya sendiri. Cukup rapi, namun, kuncirannya berat sebelah. Ia memilih sendiri baju mainnya, sesuai warna favoritnya.
"Iya! Yayoi-chan…."
Seorang anak laki-laki berlari keluar rumah. Itu adalah teman TK-nya. Rumah mereka berdekatan. Bocah lelaki itu tersenyum lebar. Sebuah bola sepak berada di dekapannya.
"Mau main apa?"
"Petak umpet yuk!" Gadis kecil itu berkata mantap. Kedua temannya mengangguk-angguk saja.
"Kita main di taman saja!" Ia menambahkan.
"Hee…. Petak umpet lagi?"
Bocah lelaki itu menjatuhkan bolanya. Oleh kakinya, ia gerakkan benda bulat itu naik turun secara konstan. "Main sepakbola saja yuk!"
Ia tersenyum cengengesan. Ketiga temannya manut saja. Pada akhirnya, mereka cuma jadi penonton.
"Tsubasa-kun suka sepakbola ya?"
Itu bukan kali pertama bagi si gadis cilik melihat temannya memainkan si kulit bundar. Setiap hari, meski tak ada rekan yang bisa diajaknya, anak lelaki itu tetap saja tak lepas dari bola.
"Tentu saja!"
Bocah lelaki berucap mantap sebelum mulai mendribble bolanya memutari taman. Gadis kecil berkuncir dua berdiri di dekat bak pasir, sementara kedua teman lainnya, seolah tak peduli dengan topik sepakbola, asyik bermain perosotan.
"Apa enaknya main bola?" Gadis cilik itu berseru. Si anak lelaki sudah bergerak lebih jauh. Ia menemukan sebuah dinding, pagar pembatas taman, dan ia pantul-pantulkan bola kesayangannya disana.
Ia menoleh, namun bola itu tak meleset dari kakinya. "Sepakbola itu menyenangkan, Yayoi-chan!"
"Menyenangkan?"
Si gadis tak beranjak dari tempatnya. Raut mukanya, dibanding menyiratkan rasa antusias terhadap minat temannya, ia justru heran. Namun, kebingungan itu hilang begitu dilihatnya, lagi-lagi, si anak lelaki tersenyum dengan penuh semangat.
"Ya! Coba saja!"
Dia memang anak perempuan. Tapi, sesekali ia lemah terhadap ajakan temannya, dan akhirnya ikut bermain bola bersamanya. Namun, hal ini tidak berlangsung lama. Ia lebih suka melihat. Mungkin karena ia sering menerima ejekan teman-teman lainnya, kenapa main bola, kenapa tidak main boneka saja. Tentu saja anak itu suka boneka. Dia sebenarnya sama dengan yang lainnya. Namun, melihat anak lelaki itu bermain bola, baginya lebih menyenangkan dari bermain rumah-rumahan, atau menyisir rambut dan memakaikan gaun boneka Barbie-nya. Dan inipun menjadi kebiasaan, sampai ia berada di tahun terakhir kelas 5 SD.
"Yayoi, kau tidak ke rumah Tsubasa-kun?"
Ia baru selesai sarapan. Hari Minggu, namun sang ibu kali ini masih harus berangkat bekerja. Ia bahkan sudah berpakaian rapi. Sang anak, tahu ibunya terburu-buru, ia ambil alih tugas cuci piring. Ah, hari ini pun ia harus mencuci pakaian. Adik lelakinya pergi main dengan teman-temannya.
"Memangnya kenapa, ma?" Ia berucap. Tangannya penuh dengan busa.
Sang ibu melepas apronnya, menaruhnya dengan rapi di sandaran kursi makan. "Lho, tidak tahu ya? Hari ini, Tsubasa-kun pindah, kan?"
"Eh?" Yayoi menghentikan aktivitasnya. Air keran masih mengalir. "Tapi, dia bilang minggu depan…." Ia menoleh ke arah ibunya.
"Tapi, semalam mama dengar dari ibunya kalau mereka pindah hari ini."
"Eh….?"
"Tsubasa-kun tidak bilang ya?"
Yayoi tidak perlu menjawab pertanyaan ibunya. Kakinya, tanpa menunggu perintah, segera membawanya keluar rumah. Ia tidak pernah punya catatan bagus dalam atletik. Lari seratus meter saja ia payah. Namun, kali ini, jika kebetulan guru olahraganya melihat, mungkin nilainya akan ada sedikit perbaikan.
Ia melihat mobil pindahan lewat di pertigaan, melaju dari arah rumah temannya. Gadis itu berhenti sejenak untuk mengambil napas. Baru ketika ia melihat samar-samar sosok anak yang dikenalnya dengan baik, ia berlari lagi, semakin kencang.
"Tsubasa-kun!"
Jaraknya dengan mobil itu mungkin sekitar 10-15 meter. Ia tahu akan mustahil untuk mengejar, namun ia tetap berlari.
"Tsubasa-kun!"
Ia berteriak semampunya. "Tsubasa-kun! Tsubasa-kun!"
Ia suka bernyanyi. Keterlibatannya di grup paduan suara SD-nya, membuatnya sering berlatih teknik vokal dan pernapasan. Kini, tampaknya suara soprannya sedikit membantu.
"Ah! Yayoi-chan!"
Itu adalah teriakan dari bagian belakang mobil box terbuka. Anak laki-laki itu tersenyum melambaikan tangan. Di dekapannya, seperti biasa, sebuah bola sepak.
"Tsubasa-kunnnn!"
Ia ingin anak laki-laki itu berhenti dan menunggunya. Masih banyak hal yang ingin ia sampaikan. Namun, mobil itu terus melaju, tak mempedulikannya. Si bocah bola tetap melambaikan tangan, tak ada kesedihan di wajahnya. Senyumnya, ekspresi riangnya, seperti menggambarkan bahwa ia sangat menantikan kepindahannya.
Kota itu bernama Shizuoka. Si bocah lelaki sudah memastikan akan melanjutkan sekolah di SD yang punya klub sepakbola disana. Selama ini ia cuma bisa bermain seorang diri, dan Yayoi tahu itu. Dia juga tahu bahwa sepakbola adalah segalanya bagi anak itu.
Ia semakin lelah berlari. Kecepatannya menurun. Yah, dia kan payah. Sambil memandang mobil itu untuk terakhir kali, ia mencoba mengeluarkan teriakan yang jauh lebih lantang dari sebelumnya, sampai di oktaf maksimal yang mampu ia capai.
"Tsubasa-kun…. Jangan lupakan aku!"
Gadis itu ngos-ngosan. Mobil box kini sudah tidak terlihat. Sedih? Tentu saja. Anak laki-laki itu adalah teman baiknya., yang ia idolakan secara diam-diam. Sudah sering ia dibilang aneh olah teman-temannya karena mengagumi seseorang yang terobsesi dengan sepakbola, seperti maniak. Namun, gadis itu tetap pada pendiriannya. Baginya, dia yang selalu berjuang menggapai impiannya bersama sepakbola, adalah anak yang istimewa.
Berkali-kali ia dengar anak itu bilang ingin menjadi pemain bola profesional. Tak peduli di sekolah, rumah, kantin, kamar mandi, ketika sedang makan, maupun mau tidur. Anak yang bercita-cita mulia ini, ia ingin selalu percaya. Ia pun percaya, dalam waktu dekat, akan bertemu lagi dengannya.
Namun, kepindahan memang menyedihkan. Ia harus merasakannya juga ketika sekeluarga pindah ke Tokyo, ke lingkungan yang asing, jauh dari teman-teman yang selama ini sangat dekat dengannya. Sisi baiknya, sekolahnya kini jauh lebih bagus dari yang lama. Dia yang pindah dari desa, cukup canggung dengan modernitas ibukota. Ia punya sikap yang kikuk, namun di saat yang sama juga begitu riang dan bersahabat. Tak butuh waktu lama baginya untuk mendapatkan banyak teman baru. Salah satunya, adalah yang saat ini sangat ia pedulikan.
"Kapten, perkenalkan, dia Tsubasa Ozora. Tsubasa-kun, dia kapten tim kami, Jun Misugi."
Pada akhirnya, datang hari ketika gadis itu bisa bertatap muka secara langsung dengan teman lamanya. Takdir mempertemukan mereka di turnamen nasional sepakbola tingkat SD. Raut wajahnya sumringah. Di kanan-kirinya dua anak laki-laki saling berjabat tangan.
"Jun Misugi. Senang berkenalan denganmu." Seperti biasa, sang kapten mengeluarkan senyuman ramah diplomatis ala seorang pangeran.
"Ah. Aku Tsubasa Ozora. Senang berkenalan denganmu juga." Sebaliknya, anak ini punya senyuman super riang, mirip anak kecil yang diberi permen oleh seseorang.
"Aoba-kun banyak bercerita tentangmu. Kulihat, reputasi tim kalian makin bagus. Aku akan sangat senang jika kita punya kesempatan untuk bertanding satu sama lain."
Dia mungkin cuma bocah kelas 6 SD. Namun, jangan heran jika ia punya tutur kata yang sangat rapi dan sopan. Banyak yang menyebutnya bangsawan. Barangkali ia menghabiskan beberapa tahun hidupnya untuk pelajaran tata karma. Yah, siapa tahu?
"Sama denganku! Aku akan menantikannya."
Mata si anak Shizuoka bersinar. Senyumnya semakin lebar. Ia selalu senang mendapat rival tanding baru.
"Baiklah. Sampai bertemu lagi." Laki-laki berambut cokelat membungkuk sebentar. "Ayo, manajer!" Ia menoleh ke arah gadis di samping kanannya.
Gadis itu mengatupkan kedua tangannya. "Maaf, kapten duluan saja. Nanti aku menyusul. Hehehe." Ia menyeringai. Biasanya ia pantang menolak perintah sang kapten. Beruntungnya, tampaknya pemimpin timnya itu mengerti.
"Ah. Baiklah." Anak itu berlalu, menuju rekan Musashi FC yang lain berkumpul.
"Senangnya! Akhirnya kita bisa ketemu lagi, Tsubasa-kun!" Gadis itu hampir melompat, cukup histeris, sedikit lagi mungkin bisa menyerupai fans fanatik kaptennya.
"Hahaha. Iya, Yayoi-chan. Aku juga." Anak laki-laki berambut hitam itu tetap tersenyum. Teman-temannya di belakang mulai menyorakinya.
"Bagaimana kabar bibi Natsuko? Ah, paman masih berlayar?"
Yayoi masih begitu antusias. Sebaliknya, si anak lelaki tampak berjuang menyembunyikan perasaan yang mengganggunya, bahwa saat ini juga, sebenarnya ia ingin segera berlatih sepakbola.
"Ah. Mama baik kok. Dia sering menanyakanmu juga. Kalau ayah, seperti biasa, masih di laut. Beberapa bulan lagi pulang katanya."
"Ah, syukurlah…. Tsubasa-kun sehat?"
"Ya. Seperti yang kau lihat. Yayoi-chan?"
"Aku selalu sehat, kan? Hehehe."
"Hm. Benar. Benar." Anak lelaki itu melirik ke arah para pemain Musashi FC. "Ah. Yayoi-chan…." Ia mulai berbisik di dekat telinga temannya.
"Ya?"
"Jun Misugi itu…. Apa sangat hebat?"
"Eh?"
"Tidak apa-apa, kan, aku minta sedikit bocoran tentangnya? Hehehe."
Dia mulai lagi. Selalu saja sepakbola yang utama. Yayoi menoleh ke arah sang kapten, yang kini tampak berbincang dengan rekan lainnya. Ia mendesah sebentar, kemudian tersenyum, kembali menatap lawan bicaranya.
"Kau akan melihatnya sendiri, Tsubasa-kun…."
"Iya sih…. Tapi, sedikit saja, kasih info tentangnya, Yayoi-chan! Kelihatannya dia kuat. Bahkan aku sudah kalah tinggi darinya…."
"Kau bisa melihat permainannya besok, kan?"
"Iya sih…. Tapi, aku penasaran! Ah! Kalau tidak salah, aku pernah melihatnya di surat kabar olahraga. Benar! Itu dia orangnya! Dia yang dijuluki 'Pangeran Lapangan' itu kan?"
Yayoi mengangguk, sedikit senyuman ia torehkan. "Ya, Tsubasa-kun. Dia sangat kuat."
"Hmm…. Jadi benar, ya? Kalau begitu, aku harus berjuang lebih keras!"
"Ya." Gadis itu menambahkan, melirik kembali ke arah teman-temannya. "Sudah ya, Tsubasa-kun. Sampai ketemu lagi. Semoga beruntung!" Ia pun berlalu, berlari menuju tempatnya yang seharusnya.
"Sudah selesai?" Sang kapten bertanya. Segera dibalas oleh gadis itu dengan senyuman.
"Begitulah. Hehe."
"Temanmu itu…. Aku punya firasat akan bertanding dengannya di turnamen ini. Yah, meskipun kita tidak satu grup sih…. Mungkin di perempat final, semifinal, lebih bagus lagi kalau bertemu di final."
"Eh?" Gadis itu mendongak bengong.
Lelaki berambut cokelat tersenyum. "Firasatku sering tepat lho."
Mereka mulai berjalan keluar ruangan, menuju asrama, tempat para pemain beristirahat. Besok, pertandingan perdana Musashi FC, tampaknya akan mudah. Tim dari Shizuoka pun begitu.
Dan pada akhirnya, takdir benar-benar mempermainkan mereka.
-End of chapter 4-
Author's note:
Halo semuanya. Maaf, kali ini lebih sedikit. Lebih enak seperti ini, biar gak membosankan. Hehehe.
Aku ingat episode pertama Captain Tsubasa (versi 1). Disitu, Yayoi, yang bukan karakter mayor anime tersebut, dimunculkan bahkan di episode perdana. Aku sebenarnya suka dengan hubungan Yayoi dengan Tsubasa. Cukup menarik, apalagi jika dihubungkan dengan munculnya Misugi. Jika Takahashi-sensei konsisten dengan hubungan mereka bertiga dan lebih memperdalam hal tersebut, pasti akan seru. Ini menurutku sih, jadinya subjektif. Hehe.
Sayangnya, Tsubasa digambarkan sebagai anak yang lebih berorientasi terhadap impian. Makanya, setelah ia pergi ke Brazil, skenario mengenai hubungan mereka bertiga tidak bisa di follow-up. Jadilah cuma Jun-Yayoi dan Tsubasa-Sanae. Hehehe.
Untungnya, dalam fanfic kita boleh bebas berimajinasi. Dan itulah yang saat ini author lakukan. Maafkan saya, Takahashi-sensei, cerita Anda jadi seperti ini. Hehehe.
Sekian dulu ya. Terima kasih telah membaca. Feel free to review!
Akhir kata. Mari majukan karya sastra Indonesia! Hehe. :D
