Disclaimer: Touken Ranbu is the property of DMM and Nitro+.

Sepertinya sudah waktunya saya balas guest reviews...

San: halo, terima kasih sudah mau me-review. Kamu guest reviewer pertama saya di sini ^^ Sebenernya saya mikir ide cerita kaya gini tuh udah mainstream banget loh. Saya udah banyak baca fanfiksi yang Saniwanya ikut berantem bareng Toudan. Jadi saya mikir 'hmm kalo Toudan-nya ga tau kalo yang selama ini ikut bareng mereka itu si aruji, mungkin impact sama tensionnya bakal lebih kena.' Akhirnya jadilah fanfiksi ini ^^

DAN OMG ICHIYAGEN ITU BENER-BENER PAIRING RARE ASTAGAAA /plak

FN: wah, halo lagi FN-san! sebelumnya terima kasih banyak atas reviewnya di chapter pertama. Iya, saya sengaja bikin Satoru di sini ga sempurna. Memang sebagai Saniwa, dia itu kuat banget, apalagi karena masa lalunya itu profesi dia sebagai... eh, saya ga bisa kasih tau dulu apa. Pokoknya berhubungan dengan masa lalu dan penyakit mental dia. Soal itu akan saya bahas lebih lanjut di chapter-chapter ke depan. Intinya, meskipun Satoru itu Saniwa, tetep aja dia itu manusia. Manusia bikin kesalahan banyak banget, dan pasti punya banyak masalah. So, di sini saya bikin Satoru struggle dengan depresinya sekaligus sifatnya yang terlalu menganggap remeh.

Hehehe, semua pairing yang kamu rekues itu masuk ke dalam daftar 5 biggest Tourabu OTP saya loh~ Kalo waktunya sudah tepat, saya akan sisipkan pairing yang kamu rekues di fanfiksi saya. Eh tapi itu tergantung polling juga loh.


Day 2


"Ekspedisi?"

Chibijiya-san mengangguk, "dengan perbaikan dari Yamanbagiri-san dan Gokotai-san kemarin, dan juga permintaan anda untuk membuat satu lagi pedang Tantou, persediaan air pendingin dan arang kita sudah menipis. Saya tentu bisa memperbaruinya lagi, tetapi itu akan makan waktu yang cukup lama. Akan lebih baik apabila aruji-sama mengirimkan setidaknya satu regu untuk pergi mencari kembali bahan-bahan kita yang kurang."

"Tidakkah itu berbahaya? Penyerangan mendadak dari revisionis sejarah bukannya tidak mungkin, dan aku tidak mau ada satu pun TouDan yang terluka selama mereka melakukan ekspedisi."

"Ekspedisi itu sendiri dijamin tak akan berbahaya, karena mereka sama sekali tidak akan bertemu dengan para revisionis," waktu 20 menit penempaan Tantou baru sudah habis, dan Chibijiya-san mengangkat pedang yang masih panas itu dengan hati-hati dan memasukkannya ke dalam bak penuh air, "jika aruji-sama masih juga kuatir, barangkali anda bisa mengirimkan mereka ke era yang damai? Mungkin di hari ketika tak ada satupun kejadian mayor yang terjadi."

Satoru mengerutkan keningnya, tanpa sadar mulutnya menggigit-gigit kuku ibu jarinya, gestur yang selalu ia lakukan jika ia sedang berpikir keras. Chibijiya-san masih dengan telaten mengangkat Tantou yang sudah mengeras itu dan menggosoknya dengan kain. Ia terlihat sama sekali tidak terganggu dengan semua gumaman tidak jelas dari Satoru.

"...barangkali Hakodate... revisionis sudah... tidak, tidak... mungkin Aizu... hanya dua TouDan... ah, tidak, pilihan yang buruk-"

"Aruji-sama," Satoru tertendang keluar dari pikirannya ketika sebuah Tantou baru disodorkan di hadapannya, "saya mohon pikirkan baik-baik tentang ide ekspedisi tadi. Ingatlah bahwa persediaan bukan hanya untuk menempa pedang baru, tetapi sebagai kompensasi perbaikan juga pembuatan tentara."


Sebelum kembali ke citadel, Satoru sempat singgah di sebuah kedai dango untuk membeli tiga bungkus makanan kenyal manis itu. Katakan saja sebagai perayaan datangnya Tantou baru di citadelnya.

Ngomong-ngomong soal Tantou baru ini, sang Saniwa mendapat firasat bahwa ia akan mendapatkan sebuah Tantou dari Awataguchi lagi. Gokotai pasti senang bahwa akan ada salah satu saudaranya yang kembali dan bisa menjadi teman mengobrolnya. Tentu ada Yamanbagiri yang menemaninya, tetapi Uchigatana itu bukanlah orang yang suka bersosialisasi atau sekadar mengobrol basa-basi demi mencairkan suasana. Apalagi keberadaan dirinya dan perasaannya yang suka bergonta-ganti ababil terkadang bisa membuat suhu ruangan menjadi lebih dingin dari yang semestinya.

Menggeleng-gelengkan kepalanya, Satoru bertanya-tanya apakah sudah saatnya ia membawa pulang pedang Kunihiro lain. Mungkin setelah persediaan mencukupi, ia akan mencoba menempa Horikawa.


Gokotai tersenyum sumringah, mulutnya penuh dengan dango. Sementara di sebelahnya, Yagen Toushirou duduk dengan tenang menyeruput teh. Piring berisi dango yang dibelikan Satoru sudah habis setengah, dan walaupun saudara satu Awataguchi di sebelahnya sudah mengingatkan, satu stik dango diberikan untuk kelima harimau putihnya. Hewan-hewan itu kini berebutan mengambil bola-bola warna-warni manis itu.

"Aku senang Yagen-nii akhirnya datang! Citadel ini terasa sepi tanpa nii-san... e-eh, tapi ada Yamanbagiri-san juga di sini..."

"Ya, aku senang bertemu denganmu lagi Gokotai," Yagen menghentikan kegiatannya, diamati tangannya yang berlapiskan sarung tangan hitam, "walaupun aku tak menyangka kita akan bertemu dengan wujud seperti ini... taishou benar-benar baik."

"Eh... apakah Yagen-nii bertemu aruji-sama? Selama ini beliau tidak pernah keluar..."

"Tidak. Aku hanya disambut seekor rubah. Konnosuke ya? Aku belum pernah melihat taisho..." mendengar helaan napas Gokotai yang sarat akan kekecewaan, Yagen mengangkat alisnya, "memangnya... kau tidak pernah melihat seperti apa taisho sebelumnya?"

Gokotai menggeleng, "a-aku pernah bertanya pada Yamanbagiri-san tetapi ia sendiri juga tidak tahu..."

"Bagaimana dengan Uchigatana yang satu lagi?"

"Ashiya-san? Ah... mungkin ia tahu, Ashiya-san adalah asisten dari aruji-sama..."

Seakan tahu ada yang membicarakannya, Satoru muncul dari balik ujung koridor. Seperti yang sudah-sudah dilakukannya tatkala pedang baru pulang ke citadel, air mukanya bersinar bahagia, mulutnya tak henti-hentinya melengkung ke atas. Setumpuk kertas bertuliskan beragam macam kanji dibawanya, beserta dengan sebotol penuh tinta dan kuas.

"Selamat siang, Gokotai-san, Yagen-dono," diletakkannya semua peralatan yang dibawanya di sebelah Gokotai dan duduk, "sepertinya aku mendengar namaku tadi disebut-sebut. Mungkinkah ada sesuatu yang kalian butuhkan?"

"A-ah! S-Soal itu-"

"Kami hanya ingin tahu bagaimana rupa dari taisho," Yagen memotong adiknya, "selama ini beliau tidak pernah keluar, dan kami pikir anda sebagai asistennya seharusnya tahu seperti apa taisho."

Satoru masih tersenyum, tetapi hatinya bergemuruh kencang. Ia tak pernah mempersiapkan jawaban jika ditanya hal seperti ini. Apakah ia harus berdusta lagi? Oh, betapa memalukannya, seorang Saniwa yang dapat melontarkan kebohongan demi kebohongan pada keluarganya dengan begitu seringnya!

"Ehm... soal aruji ya..." Satoru memutar matanya sedikit, "yah, menurutku ia adalah orang yang baik. Ia punya tinggi badan yang hampir setara denganku... dan terus... bagaimana ya..."

"Anda sendiri tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya?"

"Begitulah. Maafkan aku, aruji sendiri berpesan agar aku sendiri tidak terlalu banyak membicarakan tentang dirinya."

"Kenapa?" Gokotai bertanya dengan polos, "kenapa aruji-sama tidak mau kita terlalu banyak tahu tentangnya? Aku sangat ingin bertemu aruji-sama..."

Satoru, yang sadar bahwa jika ia mengucapkan sepatah kata lagi tidak menutup kemungkinan dirinya untuk tanpa sengaja membeberkan rahasianya, tidak berkata apapun. Haori putih yang dikenakannya sedikit melorot ke bawah ketika ia mengangkat bahunya.

"Mungkin akan ada waktunya taisho menampakkan dirinya," Satoru nyaris bersyukur ketika Yagen dengan kalimat itu menutup topik pembicaraan.

"Aruji mungkin hanya sedang sibuk, jadi ia tidak terlalu sering keluar," ujar Satoru.

"Souka... tetapi apakah akan ada hari di mana aku bisa melihat aruji-sama?"

"Tentu saja, Gokotai-san. Aruji sangat menyayangi kita semua, tentu saja beliau juga sangat ingin melihatmu, dan juga yang lainnya."


Satoru menulis nama 'Yagen Toushirou' di bagian Tantou, dan kembali menutup gulungan berisi data-data pedang yang telah pulang. Layar komputernya menyala terang, memperlihatkan peta dengan area-area yang sudah dilingkari. Lingkaran-lingkaran merah terdapat di setiap area itu, dan berkelap-kelip terus menerus seakan-akan menjadi peringatan tak bersuara akan kemungkinan munculnya revisionis di sana.

Tim ekspedisi yang dikirimkan Satoru baru saja berangkat, dan sekarang hanya tinggal ia dan Konnosuke di citadel ini. Yagen ditunjuknya sebagai kapten untuk tim kali ini, dan Tantou itu dengan senang hati menerima kepercayaan yang dilimpahkan taisho-nya padanya.

Walaupun hanya ekspedisi, tetapi Satoru masih was-was, dan berkali-kali ia mengecek ke arah luar jendelanya, karena siapa yang tahu jika para TouDan sudah kembali dan salah satu dari mereka membutuhkan perawatan. Tidak akan ada revisionis yang menyerang, seperti yang Konnosuke bilang, tetapi hatinya tetaplah kuatir.

Dari luar, ketuk pintu terdengar, dan kepala Konnosuke menyembul ke dalam ruangan Satoru.

"Ada yang kau butuhkan, Konnosuke?"

"Saya bertanya-tanya apakah anda ingin camilan sore anda sekarang," seakan berusaha menegaskan ucapannya, Konnosuke membuka pintu dengan lebih lebar, dan Satoru melihat nampan berisi senbei dan air dingin.

Baru disadari Satoru bahwa ia kelaparan. Ia melewatkan makan siang tadi dengan alasan dirinya tidak enak badan, padahal nyatanya, ia kembali ke ruangannya dan kembali menyortir data serta membereskan meja kerjanya. Entah mengapa, sejak percakapannya dengan Gokotai dan Yagen, hatinya keruh.

Mungkin karena ia dipaksa berbohong, karena keadaan yang memaksa. Padahal Satoru amat benci berdusta.

"Tepat pada waktunya! Kebetulan aku ingin sekali senbei," Konnosuke terlihat ingin protes ketika Satoru sendiri yang bangkit dan mengambil nampan itu. Konnosuke kemudian protes, dan mulai mengoceh tentang seharusnya ialah yang membawa makanan itu ke dalam, bukan Satoru sendiri, tetapi semua perkataan Konnosuke itu masuk kuping kiri keluar kuping kanan Saniwa itu.

Sambil mengunyah, tiba-tiba saja tersirat pikiran di dalam otak Satoru.

"Ne, Konnosuke," Satoru bertanya, "apa aku harus tetap tinggal di citadel ini terus menerus? Bolehkah aku kembali ke zamanku dulu, dan menyelesaikan beberapa urusan?"

"Anda hanya diperbolehkan untuk meninggalkan area citadel sekali sebulan," Konnosuke melompat ke atas meja, "tentu saja 'Pemerintah' memperbolehkan para Saniwa untuk kembali ke era kalian. Hanya saja, anda diharapkan untuk tetap tinggal di sini, setidaknya sampai perang melawan para revisionis berakhir."

"Hanya sampai perang ini berakhir, hmm?" mata Satoru memicing, "dan jika sudah selesai, apa yang akan terjadi dengan para Touken Danshi?"

"...tubuh mereka pada dasarnya adalah manifestasi dari wujud asli mereka," Konnosuke berkata lambat-lambat, tahu topik yang menyangkut tentang TouDan adalah topik sensitif bagi tuannya, "setelah perang ini berakhir... mereka akan kembali ke wujud asli mereka... selanjutnya nasib mereka tergantung pada 'Pemerintah'..."

Dan sampai tim ekspedisi kembali pulang, tidak ada satupun dari mereka yang berkata-kata. Satoru mengetik sesuatu di komputernya tanpa berkata apapun, sedangkan Konnosuke tetap duduk dengan tenang di atas meja sampai kedatangan tim ekspedisi memaksanya untuk keluar dan menyambut mereka.


"Total 10 batu tempa, 10 arang, dan satu request token," Yagen menjatuhkan semua batu tempa yang ia bawa, "dan juga... satu pedang-"

Yagen berhenti sejenak ketika Satoru menjerit kesenangan. Ia sudah mendengar dari Gokotai jika pedang asisten dari Taishou ini akan sangat, sangat antusias jika ada pedang lain yang pulang ke citadel, tetapi sampai sekarang ia tidak mengerti kenapa.

"...aku juga sempat mencari tanaman obat di sana, mungkin saja taishou atau siapapun membutuhkannya," Yagen menutup laporannya, "...hanya itu yang bisa kusampaikan."

Konnosuke menendang kaki Satoru yang terlihat tidak memperhatikan, tetapi sibuk memandangi pedang baru di tangan Yagen.

"Itte-! Iya, iya, aku mendengarkan! Baiklah, hanya itu saja? Akan kusampaikan pada aruji," kebahagiaan terlukis jelas di wajahnya, Satoru mengambil pedang di tangan Yagen dengan hati-hati, "selain itu, aruji pasti senang karena ada satu pedang lagi yang pulang ke tempat ini!"

Kelihatannya kau yang lebih senang ketimbang aruji, itulah yang di pikiran semua orang selain Satoru di situ.

"Aruji berpesan agar kalian segera beristirahat. Mungkin aku bisa membuat camilan sore untuk kalian...?"

"Baik."

"B-bolehkah aku ikut membantu?" Gokotai menyahut pelan. Yang dibalas anggukan antusias Satoru.

Yamanbagiri menarik penutup kepalanya, "...duplikat sepertiku tidak perlu camilan-"

"Yamanbagiri-dono, kau ikut membantu, ya."

"HAH?!"


Satoru dengan hati-hati menuliskan nama 'Yamatonokami Yasusada' di gulungan data khusus Uchigatana. Konnosuke bergelung tidur di sebelahnya. Udara malam itu dingin, tetapi meskipun buku-buku jarinya terasa membeku, Satoru tidak berhenti menulis dan membuat omamori.

Pedang terakhir Okita Souji itu baru saja ia bangkitkan setelah dirinya selesai membuat camilan sore. Tentu Yasusada terlihat sedikit kecewa ketika ia tahu bahwa Kashuu Kiyomitsu belum tiba di sini. Satoru berjanji pada dirinya sendiri untuk segera menempa atau setidaknya melakukan ekspedisi sendiri untuk membawa pulang Kiyomitsu.

Yasusada sudah cukup kehilangan tuannya yang benar-benar ia cintai. Setidaknya kehadiran teman seperjuangannya itu akan meringankan sedikit kesedihan dalam dirinya.

Menghela napas, rasanya ia harus tahan menghadapi Uchigatana yang sangat, sangat fanatik dengan seorang Okita Souji. Setelah makan malam saja, Yasusada tak henti-hentinya membicarakan kehebatan salah satu member inti Shinsengumi itu.

Saniwa itu merasa dirinya tidak pantas menjadi tuan baru dari Yasusada. Ia mengenyahkan pikiran itu dari benaknya. Ia tahu itu hanyalah suara hatinya yang destruktif, berusaha membuatnya terpuruk. Ia harus kuat. Lagipula Satoru sudah menempel catatan kecil di mejanya untuk meminum anti-depresannya.

Ya, ia pasti bisa.

Digulung kembali data-data pedang yang berhasil ia kumpulkan dengan rapi, dan tanpa membangunkan Konnosuke (rubah kecil itu pasti sangat kelelahan. Ialah yang berlari-lari seharian di citadel melakukan tugasnya sebagai asistennya dengan mencuci futon, menyiapkan sebagian besar makanan, dan tambahan lagi membersihkan sepertiga citadel sebelum Satoru dan Yagen yang menggantikannya), ia beranjak mematikan lentera kecil yang dibawanya.

Koridor itu sekarang gelap. Penerangan satu-satunya hanyalah dari lampu taman yang berjarak beberapa meter di depannya, juga beberapa kunang-kunang yang menari-nari mengitari citadel.

Satoru tidak peduli meskipun tidak ada futon ataupun bantal, dan meskipun udaranya sangat dingin, ia merebahkan dirinya di atas lantai koridor. Lantai kayu itu berderit sedikit. Kaki-kakinya ia biarkan tergantung di pinggir koridor. Ia melepas hakama-nya dan menggunakannya sebagai pengganti selimut.

Salah satu kunang-kunang mendarat di dekatnya. Satoru tertawa sedikit, karena melihat kunang-kunang itu, ia jadi teringat salah satu Ootachi yang sampai sekarang belumlah pulang.

"Ah... mungkinkah ini pertanda kau akan segera pulang, Hotarumaru-dono? Sungguh baik, tetapi semua pedang dari keluarga Rai belumlah pulang. Semoga kesepian tidak menyelimutimu, haha."

Malam menghantar Satoru pergi ke tidurnya, dan perkataannya dihembus angin, tidak terdengar siapapun.

Mungkin memang lebih baik begitu.

Ia bisa disangka orang gila yang berbicara sendirian tanpa ada satu jiwa pun yang sadar untuk mendengarkan.


TBC


...saya mohon maaf karena updatenya baru seminggu lebih setelah chapter ketiga...

Saya rela ditimpuk readers sekalian dengan satu boks doujin KogiMika sebagai hukumannya...

...eh? Salah ya. Sekali lagi saya mohon maaf sebesar-besarnya. Karena 1) update yang super duper telat dan 2) plot cerita yang makin ga jelas. Alasan karena telat update adalah saya berusaha ngepost chapter baru fancomic saya di Tapastic.

Sayang sekali saya tidak bisa ke Comifuro hari ini. Padahal merch Yuri on Ice sama Tourabu bejibun banyaknya. Mungkin comifuro berikutnya atau mungkin event Bijac no Tanjoiwai saya bisa muncul.

Semoga saja saya ga kehabisan merch Anmitsu sama Mika-jiji di situ...

Sekali lagi, saya berterima kasih untuk yang sudah mau singgah di fanfiksi ini, baik yang hanya sebagai silent reader, maupun yang sudah mau berbaik hati membagi waktunya untuk meninggalkan review. Ini membuat saya makin termotivasi, dan juga membaca support dari kalian semua selalu bisa membuat saya merasa jauh lebih baik. Semacam stress-reliever mungkin?

Terima kasih sudah mau membaca.

21/01/2017

Rhymos Ethereal