Disclimer: I Do Not Own The Story. J.K. Rowling Does. I Only Own The Plot. Enjoy!

AKU SUDAH GILA

Chapter 4: Hogsmeade and Slytherin

"Mione..! bangun Mione..!" kata Ginny mengguncang-guncangkan Hermione yang masih menggeliat di kasur.

"Tunggulah 5 menit Gin. Ini hari terakhir aku bisa berguling dikasurku" kata Hermione malas.

"Ugh.. baiklah! Kutunggu kau di ruang rekreasi jadi bergegaslah. Tak lucu jika Daphne datang dan kau belum siap-siap" kata Ginny kesal dan meninggalkan Hermione yang masih menggeliat dan mengerjapkan mata.

Setelah nyawa Hermione terkumpul, ia melirik jam di rak sebelah kasurnya. Masih menunjukan pukul setengah 5 pagi. 'Tak mungkin ada Slytherin yang bangun sebegini pagi di hari Minggu' batin Hermione lalu bangun dan melangkah ke kamar mandi.

••****••

"Ginny Weasley!" celetuk Hermione memisahkan Ginny yang sedang memagut mesra Harry di depan perapian ruang rekreasi Gryffindor. Tak dapat dipungkiri sepasang kekasih itu kini merona merah.

"Sudahlah Mione. Ini hari terakhir Harry juga berada di Gryffindor. Nanti malam ia sudah tidur di asrama Ravenclaw" kata Ginny masih memandang Harry dan begitu pula Harry.

"Baiklah… Baiklah… Dimana Ron?" tanya Hermione masih memakan sisa coklat kodok tempo hari.

"Mungkin masih mandi mione" kata Harry sambil terkekeh mengingat Ron yang malas bangun pagi.

"Guys aku lapar" kata Ginny menerawang.

"Tunggu beberapa menit lagi Gin. Kita tunggu kakakmu Ron" kata Hermione memandang perapian.

Tak lama mungkin sekitar 15 menit, Ron muncul sudah wangi. "Selamat pagi warga Gryffindor yang nanti akan pindah asrama plus Ginny Weasly, aku lapar. Ayo turun" kata Ron dengan satu tarikan nafas.

"Kau memang aneh Ron" kata Ginny sambil melempar salah satu bantal yang bertengger manis di sofa.

"Hei! Aku lapar. Apa salahku?" kata Ron menggidik melihat adiknya.

"Sudahlah ayo turun" akhirnya Harry angkat bicara menyudahi pertengkaran yang sebenarnya tak perlu seperti ini.

••****••

Great Hall masih sangat sepi mengingat ini hari Minggu. Hanya ada beberapa pentolan saja yang hari ini terlihat bersemangat. Para Professor sudah duduk di tempatnya untuk mengisi perut. Tak lain juga Trio Gryffindor dan Ginny juga melenggang ke arah meja Gryffindor. Sesampainya di meja Gryffindor, mereka langsung mengisi piring masing-masing dengan menu hari itu. Hermione mengisi mangkuknya dengan cereal dan susu dingin, Harry mengisi dengan oatmeal dan susu hangat. Tak lain dengan Ginny yang mengisi piringnya dengan campuran antara makanan Harry dan Hermione ditambah roti panggang. Dan Ron–

"Kau memang menjijikan Ron!" kata Ginny dengan tatapan mencela dan mendelik melihat makanan Ron.

"Sudahlah Gin. Nikmatilah makanan selagi masih hidup. Eh kau pikir piringmu tidak penuh? Lihatlah dirimu sendiri." Jawab Ron dengan mantap mengambil banyak sekali daging Bacon dan Ham panggang, Omellete Jamur, Roti panggang dengan selai strawberry dan butter, sedikit cereal dan oatmeal yang digabung dengan susu dingin.

"Sudahlah Guys, tak baik bertengkar di depan makanan" kata Hermione malas disambut anggukan dari Harry yang masih fokus dengan oatmealnya.

Tak lama setelah itu, munculah lengkingan yang ramah bukan lengkingan mengerikan seperti hari-hari sebelumnya. Yap. Pansy dan teman-temanya datang ke meja Gryffindor bermaksud untuk bergabung.

"Hai Guys! Pagi benar kalian sarapan. Padahal hari ini merupakan rekor bagi Slytherin untuk turun dipagi hari" sambil melirik ke arah meja panjang Slytherin yang masih kosong. Benar-benar kosong.

"Boleh kami duduk disini?" kata Daphne dengan ramah.

"Pagi Pans! Silahkan saja Daph" jawab mereka berempat dengan ramah juga.

Mereka ber-6 duduk bercengkrama dan saling melontarkan lelucon-lelucon seakan sudah mengenal akrab satu sama lain. Tak lama pula, Draco, Blaise dan Theo sudah muncul di depan batang hidung mereka.

"Bolehkah kami ikut bergabung disini?" seringai Blaise diikuti Draco dan Theo.

"Tentu saja silahkan" kata Harry dengan senyum.

Draco duduk di depan Hermione yang masih makan cerealnya dengan anggun. "Hey Hermione. Boleh kan aku memanggilmu Hermione?" tanya Draco dengan seringaianya.

"Hey, silahkan saja" Hermione menatap pemilik mata kelabu itu. "Asal aku juga boleh memanggilmu Draco" sambungnya dengan menyeringai.

'Ya Tuhan, seringainya sungguh sempurna tak seperti seringai anak anjing milik Pansy dan seringai ramah milik Daphne. Sungguh Slytherin' batin Draco dalam hati "Sudah mulai berlatih menyeringai eh?" kata Draco mulai mengisi piringnya dengan makanan serupa dengan Hermione.

"Mau tak mau. Mengingat mulai nanti jam 10 pagi aku sudah menjadi bagian dari Slytherin" kata Hermione kembali menyeringai.

"Pintar sekali nona. Kau lebih cantik jika menyeringai seperti itu" goda Draco.

"Ku anggap itu sebagai pujian." Kali ini Hermione tersenyum bukan menyeringai lalu ikut teman-teman yang lain membuat lelucon-lelucon.

"Apa kalian nanti ingin ke Hogsmeade?" tanya Ginny disela-sela tawa gelak teman-temanya.

"Ide yang bagus. Jam berapa Gin?" tanya Theo bersemangat.

"Bagaimana kalau sekarang? Sebelum kalian semua pindah-pindah asrama?" kata Ginny diikuti Harry dengan anggukan.

"Berangkat!" tukas Pansy gembira.

Mereka ber-9 cepat-cepat menyelesaikan makananya dan pergi dari great hall menuju gerbang sekolah. Sungguh kombinasi yang tidak biasa 4 Gryffindor dan 5 Slytherin yang berjalan bersama menuju Hogsmeade. Dumbledore pasti tersenyum di kuburnya dan Voldemort mati membusuk di neraka. Harry dan Ginny di depan. Blaise dan Pansy dibelakangnya diikuti Daphne, Theo dan Ron lalu yang paling belakang Draco dan Hermione.

Menghilangkan kecanggungan yang aneh Draco mulai pembicaraan. "Hermione apa seragam Slytherinmu sudah kau ambil di Prof. Snape?" tanya Draco berbasa-basi.

"Tentu Draco. Aku sudah siap pindah asrama. Kemarin malam Pansy membantu membawakan seragam Slytherin ke kamarku sekalian membantuku membereskan baju-bajuku" kata Hermione ringan sambil tetap fokus pada jalanan. Tapi tak dapat dipungkiri, Hermione sendiri merasa nyaman berbicara seperti ini dengan Draco meskipun agak canggung.

"Jadi kau sekamar dengan Pansy?" tanya Draco lagi menutupi kegugupanya. Draco mengumpat dalam hati. Dia pasti ditertawakan oleh leluhurnya dalam kubur karena gugup hanya dengan berhadapan dengan wanita.

"Tepat sekali. Semacam bertukar kamar dengan Daphne." Kata Hermione tersenyum melihat ke arah Draco.

"Hermione, kau tak perlu merasa risih ketika murid-murid Slytherin nantinya melihatmu dengan pandangan agak mesum karena pada dasarnya memang seperti itu" Draco menasehati lalu memelankan suaranya pada 4 kata terakhir seperti bergumam pada diri sendiri.

"Tentunya sepertimu juga" kata Hermione menyeringai kembali.

"Hey! Aku tidak mesum!" protes Draco menyangkal sambil melotot lalu melihat nakal pada Hermione.

"Kau! Hentikan pandanganmu!" Hermione memukul Draco dengan buku tebal yang ia bawa dan Draco berlari lalu dikejar oleh Hermione. "Kembalilah musang pirang bodoh!" kata Hermione berteriak. "Kejar saja kalau bisa berang-berang" teriak Draco yang sudah lebih unggul dari Hermione.

7 orang lain yang ditinggal dibelakang menatap penuh arti kepada dua orang yang berlari-lari di depan. "Aku rasa memang mereka cocok. Ini pertanda alam demi celana kolor Merlin!" Pansy kembali memekik.

"Yah… semoga rencana kita berhasil" kata Ginny memandang ke arah orang-orang tersebut disambut anggukan dan seringai yang lebar.

••****••

"Musang aku lelah mengejarmu! Diamlah! Tunggu yang lain disini" kata Hermione menatap Draco dengan melotot horror dan ngos-ngosan.

"Salahmu sendiri berang-berang mengejarku. Atau memang kau suka mengerjarku? Kata Draco menatap pada mata Hazel milik Hermione sambil ngos-ngosan juga. Lalu menyeringai.

"Huh! Diamlah! Itu karena kau menatap mesum Draco" Hermione menatap Draco jengkel.

"Kan sudah kubilang pada dasarnya Slytherin memang begitu." Kata Draco meninggikan dagunya. "Memangnya kau tidak?" tanya Draco kembali menantang.

"Tentu tidak bodoh. Kalaupun Iya, pasti aku tidak menunjukanya pada banyak orang. Tidak sepertimu" Jawab Hermione ketus.

"Oh begitu? Berarti jika iya, kau melakukanya sendiri?" tanya Draco sadar Hermione sudah masuk perangkapnya. Lalu menyeringai.

Hermione yang mengutuk dirinya sendiri karena keceplosan akhirnya memutar otak lagi untuk mencari alibi yang lebih berbobot. "Baiklah. Akan kuperjelas Draco. Aku tidak mesum seperti yang kau katakan!" kata Hermione lebih tenang.

"Memangnya aku tadi mengataimu mesum eh, Hermione?" Draco menyeringai kembali.

Hermione mengutuk dirinya sekali lagi. Betapa bodohnya lalu ia mengingat-ingat sebelumnya Draco hanya bertanya dan tidak memberi statement. "Terserah kau Draco" Kata Hermione sengit menyilangkan tanganya. Dan Draco tertawa disambut muka Hermione yang tambah cemberut.

"Mukamu lucu sekali ketika cemberut!" kata Draco mengelus pipi Hermione. Dan Hermione terdiam. Mereka menatap intens satu sama lain. Dan tak sadar teman-temanya sudah berada di sebelahnya lagi.

"Menikmati momen Draco?" kata Theo memecah keheningan. Hermione dan Draco melepaskan satu sama lain dan muka Hermione memerah seketika. Teman-temanya lalu tertawa melihat dua orang yang salah tingkah tersebut.

"Hey kalian diamlah! Itu tidak lucu" kata Draco kepada 7 orang itu ditambah death glare. Dan mereka semua terdiam.

"Bagaimana kalau kita masuk sekarang ke Three Broom Stick? Aku sudah lapar lagi" kata Ron memecah keheningan.

"Kau menjijikan Ron!" kata Pansy dengan tatapan mencela.

"Kau lihatkan Ron. Bukan Cuma aku saja yang menganggap kau menjijikan. Lihatlah makananmu sudah segunung tadi pagi dan sekarang sudah lapar" sahut Ginny.

"Ugh oke-oke ayo masuk" kata Daphne tak ingin terjadi pertengkaran saudara mereka lalu masuk mengambil meja paling panjang.

••****••

Madam Rosmerta yang cantik mendatangi meja mereka dan mengernyit melihat kombinasi aneh dari costomer di depanya. Harry menatap Madam Rosmerta singkat dan seakan mengerti ia pun menyodorkan menu. "Mau apa kids?" tanyanya seramah mungkin.

"7 Butterbeer dan 5 Pastel labu please?" jawab Hermione.

"Oh 2 Firewhiskey please?" kata Blaise melihat teman-temanya meminta persetujuan dan teman-temanya hanya mendengus sudah mengetahui maksud Blaise.

"Alright. Tunggu sebentar ku ambilkan." Kata Madam Rosmerta kembali ke dapur untuk mengambil pesanan.

Gryffindor dan Slytherin itun pun bercengkrama seperti teman lama. Draco dan Hermione pun terlihat semakin akrab dan saling mengejek dengan maksud bercanda. Tidak ada lagi sebutan darah lumpur yang menghantui Hermione. Semua tertawa seperti tidak ada beban.

"Guys aku punya bocoran sesuatu. Ini titipan dari Professor McGonagall tadi malam mengirimiku dan Parvati surat melalui burung hantu." Kata Theo bersemangat. "seminggu kedepan kita bebas pelajaran! Katanya untuk beradaptasi di asrama yang baru" Ron membelalak antusias. Semuanya bersukacita bertepuk tangan sampai Hermione–

"APA? Lalu essay Transfigurasi sepanjang 1 meter 10 inches? Grafik Arithmancy? Terjemahan Rune Kuno?" kata Hermione frustasi sambil terus menyebutkan tugas-tugas yang sekarang berputar-putar di kepalanya.

"Woahh… Easy Hermione. Kau terlihat seperti berang-berang kesurupan. Sudahalah simpan dulu tugasmu itu lalu bersenang-senanglah sedikit. Aku yakin tugasmu sudah selesai semua untuk minggu depan?" kata Draco mengangkat alisnya disambut gelak tawa yang lain.

"Dengarkan Draco Hermione, kau memang mirip berang-berang kesurupan jika sudah berhadapan dengan tugas" kata Ron sambil tertawa.

"Huh.. terserah kau ron." Kata Hermione kesal.

"Tak apalah Hermione. Mungkin kita bisa menyusun agenda kegiatan Slytherin untuk 1 minggu kedepan? tentu kalian semua bisa datang ke Slytherin sebagai undangan khusus" kata Pansy girang menatap Hermione lalu melihat semuanya.

"That would be a pleasant invitation Pans" kata Ginny diikuti anggukan Harry.

"Whoops! Kurasa sudah waktunya kembali Guys, sekarang sudah jam setengah Sembilan. Better get prepared" kata Blaise ditengah-tengah tawa teman-temanya.

Semua mengeluarkan uangnya dan membayar sesuai pesananya. Kecuali Hermione yang tanganya ditahan oleh Draco "Biarkan aku mentraktirku my lady" kata Draco dengan nada bangsawan.

"Tak usah repot-repot Draco" kata Hermione menatap mata abu-abu Draco kembali.

"Please this time Mione?" kata Draco memelas.

"Oh baiklah" kata Hermione tersenyum.

Sekeluarnya mereka dari Three Broom Sticks, Draco menggandeng Hermione. Hermione yang terkejut hanya bisa diam. Dan tak ada yang memecahkan keheningan tersebut sampai disekolah. Draco kembali menatap Hermione. "Beritahu lewat patronusmu jika kau sudah siap Mione? Nanti kau akan kujemput dan kuantar ke Slytherin" kata Draco tersenyum.

Hermione yang salah tingkah tersenyum dan mengangguk. Lalu mereka berpisah jalan dan kembali ke asrama masing-masing untuk berbenah.

••****••

"Gin. Apa yang kau rasakan ketika kau menatap Harry?" tanya Hermione sambil mengemas beberapa barang yang tersisa lalu memasukanya pada tas manik kecilnya yang sudah dimantrai mantra perluasan tak terdeteksi.

"Aku merasa nyaman dan hangat lalu membuatku yakin ia orang yang tepat. Memangnya ada apa mione?" tanya Ginny setengah berharap.

"Taka pa Gin. Apa Harry dan Ron sudah siap di pintu ruang rekreasi?" tanya Hermione

"Kelihatanya sudah. Ayo turun." Kata Ginny menyeret koper milik Hermione dan turun ke ruang rekreasi.

"Okay boys, apa kalian sudah siap?" tanya Ginny mengerling ke arah Harry dan menatap Ron mencela.

"Ready" jawab Harry dan Ron bebarengan.

Expecto Patronum! Kata Hermione mebisikan sesuatu pada berang-berangnya untuk dikirim ke Draco. "Ada apa Mione? Apa sekarang sedang dalam bahaya?" tanya Harry instingnya mulai bekerja.

"Oh tidak Harry tenanglah. Aku hanya memanggil Draco. Ia menyuruhku untuk memanggilnya ketika aku sudah siap" cerocos Hermione dengan senyum mengembang.

Tak lama dari itu Draco, Pansy dan Daphne datang ke Gryffindor. Mereka lalu membantu Daphne menaikan kopernya dibantu Ginny dan Hermione menjelaskan letak tempat tidur dan letak kamar mandi.

Setelah itu Hermione, Ginny, Pansy, Daphne, Draco, Harry dan Ron keluar dari Gryffindor. Mereka mengantar Harry ke Ravenclaw dan Ron ke Hufflepuff meninggalkan mereka disana dan berjanji nanti malam seusai makan siang bersama asrama masing-masing mereka akan berkumpul di meja Slytherin. Tersisa Hermione yang masih dalam perjalanan menuju asrama Slytherin. Kopernya yang berat diseret oleh Draco dan Hermione berbincang-bincang masalah perawatan kulit dengan sisik naga bersama Pansy, Ginny dan Daphne. Akhirnya mereka sampai di asrama Slytherin.

"Basilisk tail" kata Draco pelan, perlahan tembok kosong tersebut mengayun terbuka dan sampailah mereka di Slytherin.

Draco tetap bersikeras membawa koper Hermione sampai di depan kamar perempuan. Lalu si pemilik koper menyeret masuk kamarnya bersama Pansy, Ginny dan Daphne. Meninggalkan Draco yang kembali ke ruang rekreasi Slytherin dan duduk bersama Blaise dan Theo di depan perapian.

"Akhirnya mimpimu menjadi kenyataan Drake" kata Blaise menyeringai.

"Mimpi apa maksudmu?" tanya Draco masih memandangi perapian.

"Sudahlah mate akhiri saja sandirwaramu. Aku dan Blaise tau kau sudah menyukai Hermione sejak kau pertama kali melihatnya di kereta saat tingkat 1 bukan?" tanya Theo sambil terkekeh.

"Baiklah. Aku bersyukur akhirnya pengorbananku untuk melihat bintang jatuh Hogwarts yang dikabarkan punya kekuatan magis jika dilihat dari bukit dekat pondok Hagrid terkabulkan." Kata Draco tersenyum

"Akhirnya sejak dulu kau menunggu bintang jatuh itu. Mengabulkanmu bahkan setiap malam sejak kau melihatnya, kau menyelinap keluar kastil." Kata Theo kembali terkekeh.

"Always" kata Draco tersenyum

Dari sudut ruangan ternyata ada yang mendengar pembicaraan mereka dengan gigi bergemeletuk dan mata berkilat penuh amarah berkata "Draco, kau tidak akan semudah itu lolos dariku dan pergi bersama mudblood itu. Aku yang ditakdirkan untukmu sejak kita lahir" Astoria Greengrass adik Daphne Greengrass menggeram dan menutup dirinya dibalik buku.

••****••

"Baiklah sudah beres Thanks Guys." kata Hermione kembali mencermati struktur kasur dan tempat penyimpananya.

"Baiklah ayo sekarang turun. Aku sudah lapar" kata Daphne

"Ayo!" kata Ginny dan Pansy serempak.

3 pria yang berbincang ringan mengikuti 4 wanita yang sekarang hendak turun ke great hall dengan santai. Lalu menjemput Harry dan Ron yang berbeda asrama. Astaga merlin pun tak mungkin percaya mereka akhirnya bisa kompak. Bahkan setelah pertandingan Quidditch lalu yang membuat Gryffindor kalah. Sesampainya mereka di great hall, mereka langsung berpencar Ginny dan Daphne ke Gryffindor, Harry ke Ravenclaw, Ron ke Hufflepuff dan Hermione, Pansy, Draco, Blaise dan Theo ke Slytherin. Tak lama kemudian setelah makan siang berakhir, Harry, Ron disusul Ginny dan Daphne duduk di meja Slytherin dan saling menanyakan keadaan bagaimana mereka di asrama yang baru. So far, mereka merasa fine dengan perlakuan dari para murid lama yang mendiami asrama itu.

Lama mereka berbincang tak terasa sudah menunjukan pukul 4 sore waktu minum teh. Mereka pun melanjutkan perbincangan sambil minum teh dan makan biscuit mengakrabkan satu sama lain. Tak lama Astoria Greengrass datang dengan mata menatap hina pada Hermione lalu memanggil Daphne.

"Daph, kita butuh bicara" nadanya dingin.

"Baiklah Tori." Sambil memberi tatapan permisi pada teman-temanya.

Astoria menarik baju kakaknya Daphne keluar great hall. "Apa maksudmu mendekati Hermione mudblood sialan yang mencuri Draco dariku?" tanya Astoria tajam.

"Jangan berani-berani memanggil Hermione dengan nama Mudblood tori. Terbukalah menerima keadaan. Draco tak menyukaimu." Kata Daphne tak kalah tajam.

"Tunggu saja Daph. Kita lihat siapa yang menang." Kata Astoria menyeringai penuh amarah.

"Kuperingatkan kau Astoria. Jangan mendekati Hermione". Kata Daphne meninggalkan Astoria dengan mata berair.

Ia berjalan tergesa-gesa menuju tempatnya tadi. "Maaf lama menunggu" katanya tersenyum.

"Dengan siapa kau bicara tadi Daph? Dia menatapku dengan dingin" tanya Hermione penuh selidik.

"Biarkan saja. Dia hanya jealous karena sekarang Draco dekat denganmu" senyuman nakal Daphne membuat semua tertawa.

Hermione mendengus kesal dan tak berniat melanjutkan pertanyaan lainya karena berpotensi diledek habis-habisan dengan teman-temanya.

-TBC-

Review lainya masih ditunggu ya guys! Thank You for reading. XO!