Saya dapet comment dari temen saya. Katanya fic yang saya buat ini terlalu panjang, jadi pusing juga kalo terus-terusan mandang ke layar handphone. Terus saya mikir, bener juga sih… so, ada baiknya kalo saya kurangi sebagian isi dari fic. Oleh karena itu, di chapter ini saya buat sedikit aja.
Warning : short story, typo(s), etc.
Well, enjoy….
-oOo-
"Ugh...!"
Tubuhku ambruk karena merasakan sakit yang mulai menjalar akibat pisau yang bersarang dibahu kananku. Darah mulai mengalir deras. Aku dapat mencium baunya. Sial!
"Meninggalkan balas dendammu, melanggar kontrak kita."
Eh?
Mataku makin terbelalak saat melihat siapa yang baru saja datang. Ditangannya terdapat beberapa pisau perak. Tatapannya dingin dan auranya menakutkan, seolah ia akan memporak-porandakan dunia ini.
"Se.. Sebastian...?", ujarku gemetar karena menahan sakit.
Lelaki beriris ruby itu mendekatiku. "Kau benar-benar hanya membuang waktuku. Tidak ada gunanya lagi mempertahankan kontrak jika kau melupakan dendammu. Sungguh akhir yang membosankan."
"Apa maksudmu, Sebastian?!"
"Sudahlah. Sekarang aku meminta imbalanku."
Lelaki itu semakin mendekat dan itu membuatku ketakutan, sama seperti saat di rumah papa. Belum sampai di dekatku, seseorang telah berdiri di hadapanku seraya merentangkan tangannya.
"Get away from her!"
Jazzy...
Sebastian tertawa geli. "Oh.. My, my, siapa yang telah membalik keadaan?" Sekarang dia menatap tajam. "Menyingkir. Kau tidak ada sangkut-pautnya dalam masalah ini."
"Kau benar. Tapi aku tidak akan membiarkan iblis sepertimu melukai sahabatku!"
"Kau pikir kau siapa? Malaikat yang datang melindunginya? Sadarlah, kau iblis, sama sepertiku. Sekarang menyingkir."
"Tidak akan!" Jazzy melirik ke belakangnya. "Louise! Bunuh iblis itu!"
Seketika itu, datang serangan yang menghantam Sebastian. Si penyerang adalah lelaki asing yang telah membawaku ketempat ini. Entah siapa lelaki itu bagi Jazzy.
Sementara si lelaki yang bernama Louise tersebut mengalihkan perhatian Sebastian, Jazzy berusaha mencabut pisau ini dari bahuku dengan sangat hati-hati. Aku mengerang kesakitan namun berusaha menahannya. Pada akhirnya, pisau perak ini berhasil dilenyapkan walau aku harus kehilangan sebagian kecil darahku.
"Terima kasih, Jazzy..." Nafasku terengah.
"Apa terasa sakit? Gawat! Aku tidak membawa perban! Iblis juga bukan tipe penyembuh seperti nymph! Bagaimana ini?!"
"Tenanglah... Tidak perlu khawatir. Aku kuat, kok..."
"Bodoh! Kau selalu saja seperti ini!"
"Hehe... Aku tidak tahu... Kalau kau memperhatikan sikapku..."
"Kita sudah bersama selama 2 tahun lebih! Mana mungkin aku tidak mengenalmu!"
Aku senang Jazzy berkata begitu. Tapi... Sebastian... Aku tidak menyangka ia akan melakukan ini. Ternyata benar ucapan Jazzy. Lelaki itu akan melukaiku. Apa artinya... Perasaanku ini tidak tersampaikan ya? Sebastian bodoh! Dia bilang iblis tidak memiliki perasaan! Tapi lihat, Jazzy khawatir padaku. Dia bohong.
Ugh...! Sakit...
Mataku melihat pertarungan di hadapanku. Sebastian melemparkan pisau perak kearah Louise. Namun lelaki pirang itu dapat menghindarinya dengan mudah. Dengan tangan hampa tanpa senjata apapun, Louise melayangkan tinjunya. Seperti yang kutebak, serangan tinju itu tak ada apa-apanya untuk Sebastian.
Sebagai balasannya, Sebastian bersalto ke udara seraya melemparkan pisau yang masih ia simpan di balik jasnya. Louise bersalto beberapa kali ke belakang, tak satupun pisau perak itu yang mengenai si lelaki pirang. Ketika sudah berdiri tegak, Louise mencari sosok Sebastian. Bahkan aku dan Jazzy juga mencari kemana sosok itu.
"Pertahan belakangmu kosong."
Eh?!
Entah sejak kapan, Sebastian tiba-tiba saja berada di belakang Louise. Dilayangkannya sebuah tendangan keras sehingga tubuh tinggi Louise terpelanting dan menghantam dinding. Terkena serangan, Louise mendecih kesal. Dia membuang darah yang ada di dalam rongga mulutnya.
"Kurang ajar!", rutuk Louise. Ia segera bangkit lalu menerjang Sebastian dan siap membalas serangan lawannya. "Mati kau!"
Kepalan tangan Louise diselimuti aura hitam. Dan itu membuatku menyadari sesuatu.
Louise juga iblis?
Setelah menghilangkan jarak, Louise meninjukan pukulannya kearah Sebastian. Mata kami membulat lebar. Serangan Louise sampai kepada Sebastian. Lelaki bersurai hitam itu tampak terdiam. Dia tidak bergeming sedikit pun bahkan untuk menangkis atau menghindar.
"Hmph..! Ahahahah...!" Suara tawa Sebastian memenuhi gendang telingaku.
Kenapa dia tertawa?
Louise terbelalak melihat reaksi lawannya. "Apa?! Gagal?!"
Louise menarik tangannya kembali. Tubuhnya tampak gemetar. Matanya yang masih membulat lebar menatap Sebastian dengan tatapan yang sama sepertiku saat melihat aura Sebastian yang menakutkan. Aku mengerti apa yang dirasakan Louise. Dilanda rasa takut yang luar biasa. Saking gemetarannya, Louise sampai terjatuh.
Diwajah Sebastian terpampang seringaian yang menyeramkan. Tampak beberapa taring seperti dracula dideret giginya. Matanya jadi merah menyala. Setelah itu, sosoknya jadi samar karena tertutup bulu-bulu hitam seperti bulu burung gagak. Tidak hanya itu, aura yang iblis itu pancarkan lebih menakutkan 5 kali lipat!
"Nah... Bagaimana jika aku akhiri permainan ini?"
Bahkan suara Sebastian terdengar sangat rendah dan dingin!
Sekelebat bayangan hitam yang menyerupai tangan dengan kuku yang tajam menyerang Louise. Bayangan itu membuat luka cukup serius didada si lelaki pirang. Louise mengerang kesakitan. Dia kemudian terbatuk. Dari bibirnya mengalir darah yang lumayan banyak.
Aku yakin luka itu dapat membunuh Louise kapan saja saking sakitnya.
"Louise!" Jazzy berteriak.
Jazzy berdiri dari duduknya. Awalnya kupikir dia ingin menyuruh temannya itu bertahan dan membalik keadaan. Namun aku salah besar. Gadis di sampingku ini berlari kearah sabit yang tadi ia buang. Setelah itu, dia memungut senjata tersebut lalu mengarahkannya kepada Sebastian.
"Cukup! Tak akan kubiarkan kau melukai Louise lebih dari itu!" Mata Jazzy tampak membara. Ia marah besar. "LAWAN AKU!"
Mendengar itu aku tersentak. "Jazzy! Apa yang kau katakan?!"
"Aku akan menolong Louise. Kami memang iblis lemah, tapi aku tidak bisa membiarkan Louise mati." Dia berlari menuju dua iblis di hadapan kami.
"Tunggu! Jazzy!" Sial! Aku tidak bisa berdiri!
Gawat! Bisa-bisa Jazzy juga ikut celaka! Ini semua salahku yang ingin membalas dendam! Seandainya saja aku ikhlas menerima kenyataan, pasti kami semua akan baik-baik saja! Kurang ajar!
Kulihat Jazzy berlari menerjang Sebastian. Diangkatnya tinggi-tinggi sabit besarnya itu. Setelah cukup dekat dengan targetnya, Jazzy mengayunkan sabitnya dengan penuh amarah. Namun sayang, serangan Jazzy hanya menghantam udara. Targetnya telah menghilang.
Tidak. Sebastian tidak menghilang. Dia berpindah tempat. Dan sekarang, dia ada di belakang Jazzy! Gawat! Sebastian akan menyerang Jazzy!
"Awas! Belakangmu!", teriakku memperingati bahaya yang akan menimpa sahabatku.
Refleks, gadis itu membalikan tubuhnya dan segera menempatkan sabit yang ia pegang di depan tubuhnya, guna menangkis serangan yang datang. Untungnya tepat waktu. Jazzy tampak baik-baik saja. Walau ia mendapat luka gores dipipi kirinya.
Jazzy mendecak kesal. Dengan serangan membabi-buta ia terus menghunuskan sabitnya itu. Tapi yang ia lakukan percuma. Tak satupun serangannya yang mengenai Sebastian.
Sampai disatu arah, sabit Jazzy berhenti membabi-buta. Bukan Jazzy yang menghentikannya. Tetapi ada bayangan hitam yang menggenggam ujung sabit tajam tersebut. Jazzy terkesiap melihatnya. Ia berusaha melepaskan sabit miliknya dari genggaman bayangan hitam itu.
Berangsur-angsur muncul sesuatu dari dalam kumpulan bulu-bulu burung gagak yang menyelimuti Sebastian. Sesuatu itu terlihat seperti tangan. Tangan dengan kuku tajam yang sama dengan tangan yang telah melukai Louise. Tangan itu mendekati wajah Jazzy. Awalnya Jazzy tampak ketakutan. Tetapi tiba-tiba saja raut wajahnya berubah, seolah dibakar amarah yang membara. Tatapan matanya tajam.
Jazzy melangkah mundur, menciptakan jarak di antara mereka. Setelah cukup jauh, gadis manis itu segera menebaskan sabit tajam tersebut kearah bayangan mirip tangan yang ada di hadapannya.
Lagi-lagi... Jazzy gagal. Dia tidak bisa melukai Sebastian dengan sabitnya.
"Now it's my turn."
Celaka! Jazzy!
Aku melihat asap hitam berputar-putar mengitari Jazzy dengan skala jarak yang cukup luas. Seperkian detik selanjutnya, gadis tersebut pun menyadarinya juga. Dia terkesiap. Digenggamnya sabit itu erat-erat. Bola mata Jazzy melihat ke kanan, kiri, atas, dan bawah. Begitupun denganku yang juga memerhatikan sekeliling, mencari sosok Sebastian yang lagi-lagi menghilang.
Selang beberapa detik selanjutnya, Muncul bayangan hitam. Kali ini bukan tangan. Tapi kepala! Walau tidak dapat disebut kepala sungguhan. Itu bayangan hitam yang serupa dengan bentuk kepala ditambah dua mata yang merah menyala seperti darah. Sepasang mata itu menatap tajam kearah Jazzy.
Aku tidak tahu apa yang terjadi. Tiba-tiba saja Jazzy terdiam. Mereka hanya saling tatap. Sampai akhirnya, tubuh Jazzy terjatuh di atas kedua lututnya. Tangannya yang semula memegang sabit dengan erat, seketika itu juga mengendur dan membiarkan sabit tersebut terlepas dari tangannya.
Apa yang terjadi?
"HYAAA...!"
Astaga! Kenapa?! Kenapa Jazzy berteriak?!
"Jazzy!"
Dengan susah payah aku bangkit berdiri. Kakiku berusaha menopang berat tubuhku. Sial! Sulit sekali berdiri dengan tegak! Selain karena sakit dibahuku, jantungku juga terasa sakit. Sesak. Nafasku tercekat akibat melihat kejadian berdarah dan mengerikan tadi.
Kulangkahkan kakiku dengan perlahan. "Jazzy!" Mataku terus melihat Jazzy yang sedang menutup wajah dengan kedua tangannya. "Jazzy! Ada apa?! Jazzy!"
Jazzy tak bergeming. Dia tetap menutupi wajahnya. Itu membuatku semakin takut. Sebenarnya apa yang terjadi? Ada apa dengan Jazzy? Apa yang dilakukan Sebastian padanya?
Sampai akhirnya, sahabatku itu menurunkan kedua tangannya. Ia menoleh kearahku.
Aahhh...
Mataku membulat lebar. "Ja.. Jazzy...?"
Aku terpaku. Itu sangat membuatku ingin mati ditempat. Aku yakin yang kulihat ini nyata. Jazzy... Dia... Matanya, hidungnya, bibirnya, semuanya itu... Mengeluarkan darah. Mungkin karena tadi Jazzy menutup wajahnya dengan telapak tangan, sekarang darah itu memenuhi wajah Jazzy.
Tangan Jazzy terulur kearahku. "Fi.. Fiel..."
Tidak... Tidak... Tidak ada yang boleh menyakiti sahabatku!
Tanganku menuding sosok dengan kumpulan bulu-bulu burung gagak yang mengelilinginya. "Kau! Kurang ajar! Hentikan sekarang juga! Kau tidak berhak menyakiti Jazzy!"
Sosok iblis itu mendekatiku. Terdengar suara tawa mengejek dari sana. "Oh... Begitu? Sayang sekali, aku tidak bisa memenuhi ucapanmu. Aku menikmati permainan ini."
"Jangan konyol! Hentikan sekarang juga! Ini perintah!"
"Perintah, hah? Setelah kau melanggar kontrak, apa kau pantas memberiku perintah?"
Tanpa menghiraukan ucapanku, iblis itu kembali berbalik kearah Jazzy. Sial! Jazzy sudah tidak berdaya lagi! Celaka jika membiarkannya diserang Sebastian!
Aku berusaha berlari ketika Sebastian mengeluarkan tangannya dan memegang kepala Jazzy. Sangat sulit bernafas. Nafasku makin tercekat setelah melihat keadaan Jazzy yang memprihatinkan.
"Tunggu! Hentikan!" Seperkian detik sebelum Sebastian membunuh Jazzy, aku memberanikan diriku. "Kumohon jangan bunuh Jazzy! Akulah... Yang kau inginkan."
Sebastian menarik tangannya kembali dan berjalan mendekatiku. "Bagus. Kau memilih pilihan yang tepat."
Aku tak dapat membendung air mataku lagi. Akhirnya aku menangis. Tanpa kusadari, ternyata iblis yang telah membuat kontrak denganku, tengah berdiri di hadapanku seraya menatapku dengan mata merah menyalanya.
Gawat! Aku sudah tidak kuat berdiri lebih lama lagi. Jadi dengan kaki yang benar-benar lemas, tubuhku ambruk. Namun aku heran, kenapa tubuhku tak kunjung menghantam atap sekolah? Saat kulihat apa yang terjadi, ternyata ada bayangan hitam menyerupai tangan yang menahanku agar tidak jatuh. Kutenggakan kepalaku. Seketika itu juga, tangisanku pecah.
Aku menangis sejadi-jadinya. "Dasar bodoh! Sebastian bodoh! Bodoh! Bodoh! Bodoh! Aku benci kau!"
"Tenang saja, semuanya akan segera berakhir, Fiel Granville.", ujarnya rendah.
"Aku benci kau! Kau dengar?!"
"Ya, ya, aku dengar."
Sosok di hadapanku menghapus air mataku dangan tangan bayangannya. Setelah itu, dia mulai menenggelamkanku bersamanya ke dalam bulu-bulu burung gagak itu.
Dengan sisa-sisa perasaan yang kupunya, aku tersenyum sebelum semuanya terlambat. "Aku ingin kau tahu." Mataku terpejam sepenuhnya. "Aku mencintaimu... Sebastian..."
FIN
-oOo-
Yosh! Selesai juga fic abal ini dengan ending yang what? Aneh. Yups! Saya sendiri merasa aneh sama endingnya *abaikan*
Terima kasih yang sudah meluangkan waktunya untuk membaca fic abal saya. Segera saya akan mempublish fic yang lainnya. Do'akan supaya semuanya lancar. Amin…
Okay guys, mind to review?
