NOTE : SUDUT PANDANG DIUBAH JADI SUDUT PANDANG ORANG PERTAMA. READER'S POV.
I'm Yours?
Kuroko no Basuke - Fujimaki Tadatoshi-san
I'm Yours kupersembahkan sebagai wujud kecintaanku pada sang pangeran merah
Chapter 4 : I don't Understand (Part 1)
-READER'S POV-
.
.
"Kau suka padaku, benar 'kan?"
.
"—Sikap diammu aku anggap sebagai pembenaran."
.
"—kau tau apa yang harus kau perbuat, benar 'kan?"
.
"Apa kau tau—rasanya dikuliti?"
.
Gunting merah menyala yang digenggamnya menyentuh tiap sisi kulit punggung tanganku menimbulkan jejak garis-garis putih tak kasat mata. Dinginnya besi gunting menambah sensasi yang membuat tubuhku makin gemetar. Bulu kuduk pun berdiri. Wajahku pasti memucat. Jari-jarinya yang bertautan dengan jari-jariku seakan tidak mau lepas sampai aku mengerti dan menurut. Ya, keabsolutan terasa disetiap sentuhannya.
"Gu-Gunting? Kenapa kau membawa barang seperti itu, Akashi-kun?" Aku bertanya, berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Hm? Seingatku gunting ini berada dalam kuasaku beberapa minggu yang lalu," Akashi-kun mengangkat gunting itu tinggi-tinggi, memandangi pesona yang timbulkan dari pantulan cahaya. "—ya, beberapa minggu yang lalu, benda ini merupakan lucky item milik Midorima Shintarou." Ia kembali menatapku, jeda sebentar, "Cara yang bagus untuk mengalihkan topik, huh?"
Aku hanya terdiam. Seakan waktu berhenti. Impianku hancur begitu saja melihat perlakuannya padaku.
"Gunting ini adalah gunting yang bagus. Sangat disayangkan jika tidak dipertemukan dengan sesuatu yang bagus juga," Ia mempertemukan kembali gunting tersebut pada punggung tanganku. Iris mata heterokromnya seakan berkilat melihat reaksi terkejut di wajahku. "—kau punya tangan yang indah." Akashi-kun menyeringai membuatku merinding, "—Kurasa sangat cocok."
Hentikan memandangku begitu, Akashi-kun. Kau…mengerikan.
"Apa kau mengerti apa yang sedang kau katakan Akashi-kun?" Aku menelan ludah. Mengendalikan perasaan takut.
"Ya, aku sangat sadar akan diriku yang sedang berusaha memperingatkanmu."
Dahiku menyernyit, "Memperingatkanku?"
Akashi-kun menghela nafas. Ia kembali memainkan gunting tersebut di sekitar tanganku, sungguh, ada perasaan takut yang amat mendalam tersimpan di hatiku saat ini, "Aku tau, kau adalah orang yang pintar. Oleh karena itu, kau sudah mengerti maksudku. Terlebih lagi, kau mendengar pembicaraanku dengan gadis itu."
Gadis itu? ah, tidak mungkin. Jadi, Akashi-kun tau?
Kedua alisku yang bertautan kini mulai mengendur menunjukkan keterkejutan. Ya, Akashi-kun dipastikan telah mengetahui kalau aku menguping pernyataan cinta gadis manis kemarin. Sorot matanya menunjukkan, ia paham betul bahwa kata-katanya sore itu masih teringang jelas di dalam kepalaku. Apa yang harus aku lakukan?
"Jadi, kau tau aku menguping?"
Ia mengangguk pelan.
"Kau tau apa yang harus kau perbuat 'kan? Kau sangaaat mengerti," Akashi-kun mendesakku. Guntingnya bergerak mengeluarkan suara 'cekris' yang khas. Jari-jariku gemetar hebat. "—jangan menjadi pengganggu."
Apa?
Peng—ganggu, katanya?
Siapa?
Aku?
Tidak mungkin.
Aku salah dengar 'kan?
Jangan bercanda.
PLAK.
Aku menepis tangan Akashi-kun.
Sekali lagi, menepisnya.
Manik dwiwarnanya mendelik tajam. Tidak bisa kubiarkan.
Aku sontak berdiri dari tempatku duduk—memandangnya angkuh. Ya, geram. Aku tidak bisa menerimanya.
"Kurasa ada hal yang salah kau mengerti Akashi-kun. Semua yang kau katakan akan berlaku jika aku memang memilikinya, tetapi ada satu hal yang salah kau prediksi. Kenyataannya kau tidak selalu benar."
Alisnya bertekuk. Kelopak mata terbuka sepenuhnya. Semakin erat genggamannya pada benda besi berkilat itu.
PRAK!
Pundakku bergerak saat melihat gunting menancap di meja belajar menyebabkan bekas lubang kecil disekitarnya.
"Kau bermaksud membantahku?"
"Tidak." Aku menggeleng sekali penuh penegasan. Jangan, jangan takut!
"Jelas terlihat, kau membantah perintahku. Apa lagi, huh? Prediksiku salah? Bagaimana bisa? Lagi-lagi, kau—" Ia mengancungkan gunting padaku, aku hanya bisa memandangi wajahnya yang mulai dipenuhi amarah tidak seperti biasanya, "—meremehkanku."
Meremehkannya? Kapan aku melakukan itu?
"Kau pikir apa sebabnya aku mau mengajari Shinagawa-san?" Pertanyaan yang ia ajukan, kali ini sesungguhnya adalah pertanyaan yang aku ingin ketahui juga jawabannya. Awalnya, Akashi-kun menolak tetapi tiba-tiba menerimanya. Apa kata-kataku membuatnya merasa diremehkan?
Akashi-kun melanjutkan perkataannya, "—ya, karena kau bilang HANYA kau saja yang bisa mengajarkan Shinagawa-san. Jadi, menurutmu, aku tidak bisa melakukannya? Ya, kau meremehkanku."
"Aku tidak—"
Aku tidak pernah berpikir begitu. Waktu itu aku hanya sedang…..gugup.
"Iya, kau. Aku tidak suka orang memandang rendah diriku. Aku tidak suka pada siapapun yang menentangku. Tidak ada seorangpun yang boleh menentangku, dan sekarang apa?" Pandangan mata es-nya seakan meleleh akibat kemarahan, mengerikan, "—Aku memerintahkanmu untuk jangan menjadi pengganggu dan KAU? membantahku!"
Perkataannya yang sangat dalam ketika menyebut kata 'pengganggu' memasuki indera pendengaranku, membuat tubuhku memanas karena emosi. Aku tidak bisa menerima perlakuannya namun emosi masih dalam kendaliku. Aku tidak akan lari dari pendirianku. Ya, kau tidak bisa mengatakan apalagi memperlakukanku sebagai pengganggu.
"Tidak. Aku tidak membantah karena perintahmu tidak berlaku padaku. Ya, karena aku tidak suka padamu, A-ka-shi Se-i-juu-ro-kun."
Setelah mengatakan itu, aku bergegas membereskan barang. Berjalan pergi dari ruang kelas itu meninggalkan Akashi-kun yang masih terdiam di tempatnya. Walau begitu, Aku masih sempat menitipkan pesan pada Akashi-kun untuk Kana-chan—aku pulang duluan, tidak usah khawatir, lanjutkan saja belajarnya.
.
.
.
[Hari Sabtu—Dua Hari sebelum periode Ujian Tengah Semester]
Pagi yang cerah untuk hidupku yang suram. Ya, semenjak hari itu aku menyuram. Kenapa? Aku sendiri tidak tau apa sebabnya aku bisa bicara seperti itu pada Akashi-kun. Hanya saja aku tidak suka ia menyebutku 'pengganggu'. Padahal Aku…benar-benar…sudahlah.
Bayangkan, aku melawannya, melawan orang yang dikenal sebagai Sang Emperor, orang yang selalu berkata dirinya benar dan tak mau dibantah. Aku sukses membantahnya. Sepertinya, aku juga punya masalah dalam mengendalikan tindakanku.
Semenjak hari itu, aku menjauhi Akashi-kun walaupun kami memang jarang berkomunikasi satu sama lain. Setiap Kana-chan mengajak untuk belajar bersama, aku menolak dengan alasan ada urusan di rumah. Beberapa kali, aku melakukan bantahan habis-habisan setiap Kana-chan mulai meledek mengenai perasaanku pada Akashi-kun. Ya, hal itu mengingatkanku pada kejadian itu—gunting itu, ancaman itu, perintah itu, perlakuannya diluar batas kewajaran.
Tetapi, selama ini aku menganggap Akashi-kun adalah sosok yang patut dibanggakan dan dikagumi. Ia mempesona. Ia pintar. Ia jenius. Ia hebat. Ia tampan. Ia mencolok. Ia sempurna. Ia bisa melakukan apapun. Ia memang melebihi batas kewajaran. Melebihi batas kewajaran…..apakah itu salah satu penyebab dirinya selalu bersikap begitu? Batinku tak hentinya bertanya-tanya.
Aku memutuskan—aku tidak mau bertemu dengan tatapannya lagi. Jangan sampai melihat amarahnya seperti waktu itu. Sungguh, dalam hati, aku khawatir. Akankah aku melihat sosok menakutkannya lagi? Lalu, apa ganjaran yang akan aku dapat jika membantahnya? Persis seperti hal yang dikatakannya pada gadis sore itu—"Hentikan menyukaiku. Lupakan segera. Jika tidak menuruti perintahku, kau akan tau akibatnya."
Akibat yang dikatakannya, seperti apa?
Memikirkannya saja membuatku merinding.
Ingat, mata heterokromnya menyala terbakar amarah.
Ia tidak suka.
Sudah pasti tidak suka dengan kelakuanku.
Tapi, aku tidak rela. Apalagi harus minta maaf.
Aku bukan pengganggu. Aku benar-benar…ukh!
Oleh karena itu, menghindar saja.
Apa masalah akan beres?
Tidak, bukankah Akashi-kun adalah orang yang sempurna di mataku?
Tapi aku tidak bisa membiarkan diriku diperlakukan begitu.
Karena aku….aku…hah.
Sebenarnya Akashi Seijuuro adalah manusia seperti apa? Ia menakjubkan, ya, mengagumkan dan . . . menakutkan.
Lalu, mana Akashi-kun yang sesungguhnya?
Aku tidak mengerti. Aku tidak mengerti.
"Memikirkannya membuatku pusing," ujarku saat sedang menyisir rambut di depan kaca yang berada di meja belajar. Aku baru saja selesai mandi. Hari ini adalah hari sabtu. Ujian tengah semester akan dimulai hari senin. Selain memikirkan Akashi-kun, ada hal yang bisa aku kerjakan—belajar. Salah satu cara melupakan pikiran seperti itu adalah dengan berkonsentasi belajar, tetapi tetap saja terkadang gangguan itu datang. Habisnya. Mau bagaimana?
Untuk pagi ini, sebelum belajar, aku ingin jalan-jalan sebentar sepanjang kompleks rumah sekaligus menghilangkan penat. Dulu, saat sedang penat, biasanya aku main ke rumah Ryouta-kun tapi sekarang Ryouta-kun sudah pindah ke apartemen. Kalau rumahnya sih ada didekat rumahku. Kadang, aku masih suka mampir ke sana hanya sekedar untuk menyapa orang tua Ryouta-kun. Sejak kecil, aku dan keluarga Kise sangat akrab sudah seperti bersaudara. Sebenarnya, Ryouta-kun punya dua kakak perempuan tapi entah kenapa aku tidak bisa bergaul baik dengan mereka disebabkan mereka selalu saja memaksa mendandaniku. Aku tidak suka berdandan, lagipula untuk apa?
TOK TOK TOK!
"Neechan, Obaasan datang mau ketemu denganmu! Kaachan menyuruhmu cepat turun!" Suara adik laki-lakiku. Tumben sekali, dia sudah bangun pagi, biasanya hari libur bangun siang dan berakhir dimarah Okaachan. Lalu, Obaasan?
"Neechan!"
"IYA! Sebentar, aku belum rapi pakai baju!" teriakku. Terkadang, adikku itu bawel seperti perempuan, membuatku sebal saja.
Selesai berpakaian dan merapikan penampilan, aku turun ke lantai satu menuju ruang tamu. Disana, aku melihat wanita sudah cukup berumur namun wajahnya masih cantik berseri, pantas saja anaknya tampan seperti itu.
"Obaasan, ada perlu apa denganku?"
"Ano ne, hari ini Obaasan ada keperluan mendadak. Aku minta tolong, bisa kau antarkan persediaan makanan untuk Ryouta? Kemarin seharusnya persediaan makanan di kulkasnya sudah habis." pinta sang wanita. Ah, ya, wanita itu adalah Ibu dari Ryouta-kun.
"Oh.."
"Apa kau sibuk?"
"Ah, tidak kok Obaasan. Kebetulan aku sedang penat dan ingin jalan-jalan."
"Benarkah?" Wanita itu menghela nafas lega. Aku hanya bisa tersenyum melihatnya. "—kalau begitu, semua keperluannya ada di rumah Obaasan, kalau kau sudah siap berangkat langsung ke rumah Obaasan saja ya. Terima kasih, nak." Aku mengangguk. Kemudian, ia menghampiriku dan mengelus pelan wajahku. Kebiasaannya sejak dulu.
Sepengetahuanku, Ibu Ryouta-kun rutin mengantarkan persediaan makanan untuk putra tercintanya. Karena Ryouta-kun sangat sibuk, ia tidak sempat berbelanja. Oleh karena itu, Ibunya sering datang dua minggu sekali untuk memenuhi semua isi kulkas dan lemari makanan apartemen Ryouta-kun. Aku sendiri, sebelumnya belum pernah ke apartemen Ryouta-kun tetapi ia pernah bilang alamatnya dimana. Apartemen tempat tinggalnya sekarang adalah apartemen besar dan terkenal jadi tidak mungkin saja kalau aku tidak tau. Menemukan tempat Ryouta-kun tinggal sesungguhnya sangat mudah bagiku.
"Neechan! Aku ikut ya, sudah lama aku tidak ketemu Ryou-Nii," lagi-lagi adikku merengek meminta untuk diajak. Aku berikan saja pukulan pelan di kepalanya.
"Hari senin kau juga ujian, belajar saja sana! Main ke apartemen Ryou-Nii nanti saja."
"Eeeeeh?"
"Sudah belajar saja sana."
"Hai," katanya sambil cemberut kemudian berlalu masuk ke kamarnya. Dasar anak-anak.
Setelah pamit pada orang tuaku, aku pergi ke kediaman keluarga Kise yang berjarak dua rumah dari rumahku. Untung saja kedua kakak Ryouta-kun sedang tidak ada di rumah jadi aku selamat dari jeratan mereka. Ibu Ryouta-kun meminta bantuanku karena ia harus pergi ke pemakaman suami dari salah satu teman dekatnya. Tak kusangka, barang persediaan yang harus kubawa ada banyak sekali. Beratnya.
Aku berjalan lunglai menuju halte bus karena membawa dua buah kantong plastik besar. Isinya, ada sayuran dan juga makanan kaleng. Setelah dipikir-pikir, kenapa semua bahan makanan mentah? Apa Ryouta-kun bisa memasak? Aku sendiri tidak tau tentang kenyataan itu, lebih tepatnya tidak bisa membayangkan seperti apa jika Ryouta-kun ada di dapur. Ya, ia seorang model lentik yang cengeng dan kalau harus menyentuh alat dapur, rasanya….sesuatu sekali.
Perjalanan menuju apartemennya membutuhkan waktu sekitar 45 menit. Aku sudah diberikan alamat lengkap oleh Ibu Ryouta-kun, terlebih lagi aku juga mengetahui daerah sana jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Sesampainya di depan apartemen, aku tidak ada habisnya mengagumi gedung super besar berlantai 10 itu. Ya, apartemen mewah dengan desain interior dan ekterior yang sangat memukau. Cocok sekali jika ditempati oleh kalangan selebritis.
Apartemen Ryouta-kun ada di lantai 7 dengan nomor 77. Setiap lantai dipenuhi dengan 10 apartemen yang cukup luas. Menyusuri terus lantai 7, akhirnya aku menemukan nomor 77 yang terletak di dekat ujung gedung dan dekat lift arah selatan—aku naik lift dari arah utara. Kalau tau begitu, aku naik dari arah selatan saja. huh.
Aku mengamati seksama pintunya dan meyakinkan diri untuk menekan tombol bel.
TING TONG!
Aku menekan tombolnya. Tapi, kenapa tidak ada respon?
TING TONG!
Tekan lagi. Tidak ada respon juga. Hmm..
Apa Ryouta-kun tidak ada? Atau ia ada pekerjaan? Tapi, Ibunya bilang, pagi ini Ryouta-kun ada di apartemennya.
Saat aku ingin menekan bel lagi, tiba-tiba kenop pintu bergerak dan akhirnya pintu terbuka perlahan. Di balik pintu muncullah Ryouta-kun dengan wajah cemberut. Kenapa wajahnya cemberut begitu?
"Ohayou, Ryouta-kun." Aku menyapanya.
Ia mengerjap mata sekali. Dan dalam seketika,
GYUUT!
Aku dipeluk olehnya. Kebiasaan deh.
"Huaaa, kau datang ke sini karena kangen padaku ya?" Ia menunduk melihat wajahku yang masih terpendam di dadanya. Aku mendongak perlahan untuk menatapnya. Kau terlalu tinggi, Ryouta-kun.
"Ryouta-kun, lepaskan. Beraaat."
Ya, aku sedang mengalami masa sulit disebabkan oleh bawaanku, ditambah beban pelukan mautnya, maka jadilah bencana.
Ryouta-kun melongok ke bawah dan melihat kedua tanganku yang penuh dengan dua kantong besar. Ia melepaskan pelukannya dengan wajah kebingungan. "Apa yang kau bawa?" Ia mengambil alih kedua kantong itu dan melirik isinya. Huuft.. Akhirnya, aku bisa bernafas lega terbebas dari barang berat itu.
"Obaasan memintaku mengantarkannya padamu."
"Oh..persediaan makanan. Kebetulan sekali-ssu," Ryouta-kun menatapku. Mata manis semanis madunya menekuk karena terbentuknya senyuman lebar saat melihatku, sudah tidak cemberut lagi, huh?
"—Terima kasih." Ia memegang kedua plastik besar itu menggunakan satu tangan dengan mudahnya. Aku rasa, tenaga laki-laki memang berbeda. Tanpa basa-basi lama, Ryouta-kun menggenggam tanganku seperti biasa dan menarikku masuk ke dalam apartemennya, "Ayo, masuklah. Kau pasti lelah."
Setelah menutup pintu, aku digandeng Ryouta-kun menuju ruangan lain di apartemennya. Sesaat sebelum mencapai ruang tamunya, aku mendengar suara yang sepertinya pernah kudengar.
"Oi, Kise. Lama banget buka pintunya. Ayo, main lagi cepat."
"Iya, sebentar. Ada tamu-ssu. Hehe," Ia melirikku dan berbisik, "—kau akan aku kenalkan pada seseorang-ssu."
Siapa? Penasaran.
Sesampainya di ruang tamu, aku melihat seorang pemuda berkulit tan tengah duduk di lantai sembari memegang stick game PS. Di hadapannya, ada TV ukuran besar yang memantulkan gambar bergerak seperti game balapan mobil. Jadi, mereka sedang main game? Pasti Ryouta-kun kalah lagi sehingga mukanya cemberut seperti tadi. Hahaha.
Ah, aku ingat sesuatu. Sepertinya, aku pernah bertemu dengannya. Dimana ya?
Pemuda berkulit tan itu menoleh dan menyernyitkan dahinya, "Siapa itu, Kise? Hmmm…sepertinya, aku pernah melihatnya."
"Aominecchi, ini teman masa kecilku-ssu. Perkenalkan."
Aku menundukkan kepala, "Salam kenal." Hanya dibalas lambaian tangan dan, "Ossu! Aomine Daiki, rekan tim basket Kise."
Oh, Aomine Daiki? Ya, aku ingat! Ryouta-kun pernah bercerita panjang lebar tentang dirinya. Laki-laki yang menjadi idolanya dalam dunia basket, dan sekaligus jadi musuhnya dalam arti yang baik. Ryouta-kun sering bercerita tentang bagaimana ia selalu dikalahkan oleh Aomine-kun. Kadang juga, ia tidak sengaja kelepasan membongkar kebiasaan Aomine-kun, contohnya, Aomine-kun suka baca majalah model seksi Maichan. Jadi seperti ini rupa Aomine-kun? Seingatku, saat aku mencari orang itu di gym, aku juga melihatnya memanggil salah satu anggota yang sedang bicara padaku waktu itu—ah, pemuda mungil berambut biru langit dan berwajah datar.
"Doumo," sapa seseorang di sebelahku.
"UWAAAH! KUROKOCCHI! Jangan muncul tiba-tiba begitu-ssu! Aku kaget." Ryouta-kun benar-benar terkejut bahkan hampir manjatuhkan barang yang dibawanya. Kemudian, ia menaruhnya di meja. Kenapa terkejut begitu? Bukannya…?
"Maafkan aku, Kise-kun."
Kedua alisku naik, "Ah, doumo. Kenapa kau terkejut begitu, Ryouta-kun? Sejak tadi, Kuroko-kun ada disampingku," kataku dengan santai menghasilkan ekspresi 'masa iya' di wajah Ryouta-kun, sedangkan Aomine-kun sedang berusaha memainkan game sendirian.
Mata biru cerah Kuroko-kun mengedip sekali. Ekpresi yang sama ia tunjukkan saat bertemu pertama kali denganku. Ada apa dengannya? Apa ada yang salah lagi dengan wajahku?
"Bagaimana tidak? Kurokocchi suka muncul tiba-tiba-ssu. Eh? kau sudah kenal dengannya?" Ryouta-kun terkejut. Alisnya menekuk. Ah, aku belum sempat cerita padanya.
Aku menggangguk, kemudian memandang Kuroko-kun, "Aku pernah bertemu dengan Kuroko-kun di depan gym." Kuroko-kun mengangguk mengiyakan. Wajah datarnya masih saja sama. Apa ia hanya bisa berekpresi begitu ya?
"Sou-ssuka? Untuk apa kau ke gym?" Pertanyaan Ryouta-kun membuat kegelisahan kembali muncul di hatiku. Sebab, alasanku datang ke gym karena mencari orang itu. Aku hanya diam berusaha mencari jalan keluar dari pembicaraan ini.
"Dia mencari Akashi-kun waktu itu," ceplos Kuroko-kun dengan wajah tak berdosa. Uwah, kenapa aku lupa dengan keberadaan Kuroko-kun yang menjadi saksi mata? Hanya bisa mengangguk canggung sajalah diriku.
"Oh…" Wajah Ryouta-kun yang cerah tidak terlihat. Ia tampak berpikir. Mudah-mudahan Ryouta-kun tidak bertanya apa-apa lagi masalah itu. Aku bingung jika pembicaraan ini mulai lari kemana-mana, "—untuk apa kau mencari Akashicchi?" Ah, Ryouta-kun , kenapa harus bertanya itu sih? Aku menelan ludah mengingat hari itu. Sungguh hentikanlah.
"Hmm.. Kana-chan minta tolong padaku untuk mencarinya," sebatas itu yang bisa kuungkapkan, selebihnya hanya pengalihan arah obrolan, "—ngomong-ngomong, kenapa Aomine-kun dan Kuroko-kun ada disini?"
"Kami mau belajar bersama untuk ujian," ujar Aomine-kun masih sibuk dengan layar televisi. Katanya mau belajar, kenapa malah main game?
"Belajar? Kenapa malah main game?"
Mendengar ucapanku pasti Ryouta-kun panik.
"Iya, tolong, jangan marah dulu-ssu. Kami mau belajar bersama tapi gurunya belum datang, janjiannya jam 10 sih, dia datang selalu tepat waktu."
Tuh benar, panik 'kan? Aku sangat sensitif masalah ini. Dulu, Ryouta-kun dan aku suka belajar bersama tetapi ia menungguku sambil main PS, saat itu aku marah besar. Jika niat belajar, siapkanlah diri kalian, kenapa malah seenaknya main game. Atau aku orang yang terlalu kaku?
Tunggu dulu, Ryouta-kun bilang mereka sedang menunggu gurunya? Siapa? Gurunya datang jam 10, hmm, masih 15 menit lagi.
"Guru? Siapa?"
TING TONG!
Belum dijawab Ryouta-kun, tiba-tiba ada bunyi bel. Ah, apa itu gurunya?
"Hai~ Tunggu sebentar," Ryouta-kun pergi menyambut tamu selanjutnya, "—ah, Murasakicchi dan Momocchi! Untung saja kalian sudah datang jam segini."
"Iya, apa Aomine-kun sudah datang? Aku ditinggal nih. Payah. Mana dia, biar kumarahi," Suara wanita yang tidak kukenal itu semakin mendekat, siapa ya? Tak lama, muncullah gadis manis berambut pink memasuki ruang tamu disusul Ryouta-kun dan pemuda jangkung sekali berambut ungu yang sibuk mengunyah.
"Aomine-kun!"
"Geh, Satsuki!" Gadis itu menghampiri Aomine-kun dan menjewernya, "—ah, sakit, Satsuki!" Apa hubungan mereka? kelihatannya akrab.
"Habisnya, kau meninggalkanku, huh? Aku bilang tunggu 'kan?"
"Ck. Aku tidak mau, ah, kalau ke rumahmu. Nanti aku bisa sakit perut dipaksa sarapan masakanmu!"
"APA?"
Mereka lanjut berdebat. Biarkanlah.
"Kisechin, siapa gadis ini?" Pemuda jangkung itu menghampiriku, memperhatikan wajahku. Anehnya, ia tidak berhenti makan saat melihatku. Pandangan matanya polos bak anak kecil dan ekpresi malas-malasan.
"Ah, Perkenalkan, aku teman masa kecil Ryouta-kun."
"Ooh.."
Oh? Hanya itu saja? Lalu, ia pergi duduk dibangku? Orang aneh. Perkenalkan dirimu dulu seharusnya.
"Dia Murasakibara Atsushi. Rekan timku juga-ssu," Malah Ryouta-kun yang menyebut namanya.
"Ah, Ki-chan, jadi dia yang kau bilang waktu itu?" Gadis manis pink itu menghampiriku. Ia menatapku. Iris matanya cerah dan indah.
Ryouta-kun mengangguk.
"Maaf, perkenalkan, aku—"
"Iya, aku tau, namaku Momoi Satsuki. Kau boleh memanggilku apa saja kok!" sahutnya dengan nada gembira. Sepertinya, aku mendapat teman-teman baru yang unik.
"Baiklah, aku panggil Momoi-chan saja ya," Aku belum bisa memanggil nama kecilnya, baru kenal. Aku tidak enak hati.
Momoi-chan tersenyum padaku. Ia menarikku duduk dibangku dan mengajakku ngobrol. Entah kenapa ia selalu bertanya bagaimana hubunganku dengan Ryouta-kun, ada apa sih? Apa dia suka pada Ryouta-kun? Aku hanya teman sejak kecilnya saja kok. Daripada Momoi-chan salah paham, aku jelaskan saja detilnya.
Aku lihat Aomine-kun dan Ryouta-kun kembali main game. Kuroko-kun dan Murasakibara-kun duduk bersebelahan dan mengobrol. Lalu, kenapa belum dimulai juga belajarnya? Jadi, gurunya masih belum datang? Siapa sih?
TING TONG!
Ah, suara bel. Apa Gurunya sudah datang? Sudah jam 10 sih.
"Ah, sudah datang, ayo semua siap-siap, tolong rapikan ya, Aominecchi!"
"Kenapa harus aku? Oi, Tetsu, bantuin!"
Aomine-kun dan Kuroko-kun merapikan peralatan game-nya. Murakibara-kun masih sibuk makan. Momoi-chan masih sibuk berkoar tak jelas di hadapanku. Ryouta-kun menghampiri Sang Guru. Aku tidak bisa melihat tamu yang datang itu kalau dari tempat duduk disini.
"Selamat datang, Akashicchi-Sensei!"
Akashicchi?
"Kenapa kau senyum-senyum begitu, Ryouta?"
Suara itu? eh?
"Hehe, tidak apa-apa-ssu."
Tidak. Aku—tidak mungkin.
Aku memperhatikan sesekelilingku. Kenalan baruku semua berasal dari klub basket. Kenapa aku baru sadar?
"Yang lain sudah datang nanodayo?"
Ada suara lain lagi. Bukankan itu, Midorima-kun?
"Kalau ada yang terlambat, biar mereka tau akibatnya nanti."
Tau akibatnya nanti? Ya, suara itu. Kata-kata itu.
"Sudah lengkap-ssu. Bahkan ada tambahan satu orang, hehehehe."
Satu orang? Siapa yang kau maksud Ryouta-kun? Aku? Tidak! Jangan bawa-bawa aku.
"Tambahan satu orang? Siapa nanodayo?"
Aku harus pergi. Aku harus menghindarinya. Jangan sampai disini dulu, tahan mereka dulu, Ryouta-kun.
"Kau pasti kenal Akashicchi."
Tapi, aku harus kemana. Momoi-chan menghalangiku. Ia mengajakku ngobrol terus.
"Aku mengenalnya?"
Suara mereka semakin dekat. Bagaimana ini? Aku sudah berkeringat dingin. Apa terlihat dari wajahku? Sepertinya tidak.
Oh, tidak, Tuhan. Ku mohon.
Akhirnya mereka sampai di ruang tamu. Benar. Ah, tidak, manik heterokromnya bertemu dengan milikku.
"Teman sekelasmu dan juga teman masa kecilku-ssu."
Ia memandangiku yang mulai gelisah. Aku hanya bisa mengalihkan pandangan pada yang lain. Ah, Kuroko-kun saja, warna matanya membuatku sedikit lebih tenang.
"Hoo.."
Aku tau, wajahnya pasti tidak berubah dan dingin seperti biasa. Aku harus bagaimana? Suasana akan canggung jika aku tiba-tiba kabur. Akan terlihat kalau aku menghindarinya. Lalu, bagaimana? Apa yang harus aku lakukan?
Baiklah. Hilangkan rasa takutmu seperti tempo hari, tenanglah, diriku! Aku memberanikan diri menatapnya. Aku teringat kejadian itu. Bertahanlah. Jangan biarkan diriku dianggap 'pengganggu' lagi.
"Ohayou, Akashi-kun."
.
.
.
TBC…
Entahlah, gue bingung sama chapter ini. Hahaha. Tp baguslah, akhirnya ngumpul semua.
Oia, ingat ya, gak gue tulis lagi soalnya, reader disebut pengganggu karena Akashi kan bilang perasaan kek gitu cuma mengganggu. oke?
Sip, buat semua dukungan berupa fav, follow, reviewnya gue ucapin terima kasih.
See You~
