My Love
Cast:
Kim Ryeowook
Cho Jong Woon / Yesung
Lee Eunhyuk
Lee Donghae
Choi Siwon
Kim Kibum
Cho Kyuhyun
Lee Sungmin and other
Genre : Romance, Friendship etc.
Declaimer : Semua cast di FF ini milik semua orang yang memiliki mereka, author hanya meminjam nama mereka saja. Tapi, FF ini asli dari hasil pemikiran author.
Warning : Gender Switch, Typho(s) merajalela.
Don't Like? Don't Read! Okay guys!
Last chapter...
"Aku ingin kau mendekatinya untukku." Jawab Kyuhyun santai dan berhasil membuat Jong Woon menatapnya tak percaya.
"Kau menyukainya? Bagaimana bisa?" tanya Jong Woon masih dengan tatapan shock-nya.
"Memangnya kenapa?" tanya Kyuhyun yang melihat jelas guratan kecemburuan di wajah Jong Woon.
"Tidak apa. Hanya saja.. Aku kira kau tidak menyukainya, bahkan kau membencinya." Jawab Jong Woon polos dan memalingkan pandangannya dari Kyuhyun.
Kyuhyun mengeluarkan smirk-nya tanpa di sadari Jong Woon. "Lakukan saja yang aku katakan. Bukankah kau bilang kau tidak menyukainya?" Kyuhyun tersenyum licik. Lalu beranjak dari duduknya meninggalkan Jong Woon yang masih terdiam dengan wajahnya yang masih ditekuk akibat pengakuan Kyuhyun barusan. Dalam hati Jong Woon mengutuk dirinya karena telah membiarkan Kyuhyun membuat permintaan bodoh seperti itu.
Chapter IV
Happy Reading~!
Siang ini matahari bersinar begitu terang. Hangatnya cahaya yang dihasilkannya mampu membuat panas permukaan kulit semua orang di bawahnya.
"Eonni dimana? Kenapa lama sekali?" suara mengeluh seorang anak perempuan itu terdengar setelah beberapa kali terlihat menelepon seseorang. "Apa? Lalu bagaimana?" terlihat dia diam sejenak mendengarkan penuturan seseorang di seberang telepon. "Baiklah. Aku pulang naik taksi saja." Suara dan raut wajahnya terlihat tidak ikhlas sama sekali. Tapi, mau bagaimana lagi? Kakaknya tidak bisa menjemputnya segera. Dan dia tidak mau menghabiskan waktu hanya untuk menunggu di sana sendiri.
"Bahkan aku tidak pernah melihat ada taksi lewat di sekitar jalan ini." keluh Ryeowook setelah sejenak melihat ke kanan kiri jalan. "Sepertinya hari ini aku harus berjalan jauh." Sambungnya meratapi nasibnya hari ini. lalu beranjak berjalan menyusuri jalan di depan sekolahnya untuk mencapai pertigaan jalan raya.
Tiin..
"Ryeowook!" suara klakson dan suara berat seseorang menghentikan langkah kaki Ryeowook dan menoleh ke arah sumber suara.
"Ah, oppa. Ada apa?" sapanya setelah mengenali siapa yang memanggilnya.
"Kenapa jalan kaki?" tanya Jong Woon merasa heran. Karena setaunya biasanya dia Ryeowook dijemput oleh kakak perempuannya. Bukan hanya tahu-tahu begitu saja. Bahkan dia tahu betul, karena setiap hari dia akan menunggu Ryeowook hingga dijemput baru dia akan pulang. Dan tidak menutup kemungkinan jika sedari tadi Jong Woon menunggu Ryeowook dari kejauhan.
"Hemm. Eonni ada urusan mendadak dan katanya sangat penting. Jadi, aku harus pulang sendiri hari ini." tutur Ryeowook memperlihatkan wajah bersedih.
"Lalu kenapa jalan kaki?" tanya Jong Woon heran dan membuatnya kelihatan bodoh.
"Oppa. Aku tidak pernah melihat taksi lewat di sekitar daerah ini. jadi, sepertinya aku harus berjalan ke pertigaan sana." Kata Ryeowook sambil menunjuk arah tujuannya tadi.
"Oh, iya. Kau benar." Jong Woon menggaruk tengkuknya yang mendadak gatal. "Bagaimana jika oppa antar pulang saja?" tawar Jong Woon.
"Apa tidak merepotkan?" Ryeowook merasa tidak enak.
"Tentu saja tidak." Jawab Jong Woon semangat.
"Baiklah." Ryeowook setuju setelah beberapa saat berpikir.
Jong Woon menghidupkan mesin motornya kemudian Ryeowook naik dan mereka meninggalkan tempat itu.
.
.
"Terima kasih banyak oppa." Ryeowook tersenyum begitu manis kepada orang yang telah mengantarkannya pulang.
"Sama-sama Ryeowook." Jong Woon balas tersenyum.
"Oppa tidak mau mampir untuk minum sebentar?" tawar Ryeowook, mungkin ini bisa menjadi ucapan terima kasihnya.
"Nanti aku malah merepotkan." Jong Woon sedikit tidak yakin untuk mampir.
"Tentu saja tidak. Anggap saja sebagai ucapan terima kasih karena telah mengantarku. Bagaimana?" Ryeowook memberi alasan yang membuat Jong Woon tak bisa menolak.
"Baiklah kalau begitu." Jong Woon pun mengikuti langkah Ryeowook memasuki rumah Ryeowook.
.
.
"Ini oppa minumlah." Ryeowook menyodorkan segelas jus jeruk kepada Jong Woon, yang langsung diterima dengan senang hati oleh Jong Woon.
"Terima kasih Ryeowook." Jong Woon tersenyum senang. "Kenapa di sini sunyi sekali? Apa tidak ada orang di rumah?" Jong Woon memperhatikan sekitarnya.
"Tidak ada oppa. Eunhyuk eonni masih di kantor." Terang Ryeowook.
"Lalu eomma dan appa-mu?" tanya Jong Woon lagi.
"Mereka." Seketika ekspresi Ryeowook berubah menjadi sedikit muram. "Mereka sudah tidak ada." Lanjutnya dengan senyum yang dipaksakan.
"Mianhae Ryeowook. Aku tidak tahu. Aku tidak bermaksud..."
"Gwaenchana oppa. Aku tidak apa." Ryeowook tersenyum lebar karena melihat ekspresi takut Jong Woon yang berlebihan. "Sebentar ya oppa aku ambilkan cemilan." Ryeowook beranjak dari duduknya menuju dapur.
Jong Woon berjalan-jalan di sekitar ruang tamu di rumah Ryeowook yang menurutnya terlalu besar, karena hanya ditempati oleh dua orang saja. Melihat-lihat beberapa foto yang dipajang di dinding dan beberapa di meja hias dekat ruang tamu.
"Foto ini.." Jong Woon berucap setengah berbisik dan seperti mencoba mengingat sesuatu.
"Oppa." Ryeowook membuyarkan lamunan Jong Woon.
"Iya." Jong Woon beranjak dari tempatnya berdiri dan kembali duduk di sofa dekat Ryeowook.
.
.
"Sepertinya ada yang sudah berubah pikiran." Suara bass Kyuhyun mengusik lamunan Jong Woon. "Berubah pikiran atau lebih pantas tepatnya aku sebut seperti.." Kyuhyun menggantungkan kata-katanya. "Menjilat ludah sendiri?" Kata-kata pedas Kyuhyun membuat Jong Woon membulatkan matanya menatap tak percaya kepada adiknya yang bermulut pedas itu. Seperti yang dikatakan Ryeowook beberapa hari yang lalu.
"Apa maksudmu?" Jong Woon mencoba tidak terpancing.
"Aku melihat seseorang membonceng Ryeowook tadi siang." Jawab Kyuhyun jujur dan dengan tampang sok polosnya.
"Lalu?" Jong Woon masih mecoba bersikap santai.
"Tidak apa sebenarnya. Itu bagus. Dekati terus dia seperti yang ku katakan." Jawab Kyuhyun tak kalah santai. Namun sebenarnya antara Jong Woon dan Kyuhyun bisa meledak kapan saja. "Ada beberapa hal yang aku ingin tahu tentangnya." Sambung Kyuhyun. "Yang pertama, nomor ponselnya. Kedua, alamatnya." Lanjutnya. "Aku pikir itu saja dulu. Aku akan memberitahukan jika ada yang lain." Lanjut Kyuhyun membuat Jong Woon merasa seperti sedang menjadi seorang waiters sekarang.
Kyuhyun beranjak dari duduknya meninggalkan Jong Woon sendiri dengan raut wajahnya yang terlihat kesal. Membuat Kyuhyun ingin tertawa terbahak-bahak, namun dia menahannya.
"Dasar devil. Benar kata Ryeowook, dia itu memang devil." Umpat Jong Woon setelah Kyuhyun tidak terlihat lagi. "Tapi, kenapa baru sekarang aku menyadarinya?" Jong Woon mengusap-usap kepalanya kasar dan membuat rambutnya berantakan. Frustasi? Mungkin saja.
"Tapi, Ryeowook. Kenapa foto itu..." Jong Woon mengingat kembali tentang foto yang dilihatnya di rumah Ryeowook. "Ryeowook dan Wookie. Sepertinya mirip. Tapi, apa mereka adalah orang yang sama?" Jong Woon kembali bingung dengan hal yang membuatnya berpikir keras saat ini.
.
.
"Pagi Wookie." Suara lembut Sungmin mmenyapa Ryeowook yang baru saja memasuki kelasnya.
"Pagi Min." Ryeowook tersenyum begitu lembut. "Kenapa kau suka sekali memanggilku Wookie?" tiba-tiba Ryeowook menanyakan alasan panggilan Sungmin.
"Aku hanya suka saja. Memangnya kenapa? Kau tidak suka ya?" Sungmin merasa bersalah jika Ryeowook merasa terganggu dengan panggilannya kepada Ryeowook.
"Ah. Tidak. Bukan begitu." Ryeowook menjadi salah tingkah melihat perubahan di wajah Sungmin. "Hanya saja. Tidak pernah ada lagi yang pernah memanngilku seperti itu." Ryeowook menjelaskan.
"Memangnya dulu pernah ada?" Sungmin jadi penasaran.
"Ya." Jawab Ryeowook singkat.
"Siapa?" sepertinya, gadis bergigi kelinci itu sangat tertarik membahas tentang nama panggilan itu.
"Teman. Teman masa kecil tepatnya." Ryeowook mengingat-ingat. "Sudahlah. Jangan menatapku seperti itu! Aku jadi merasa seperti seorang pendongeng." Ryeowook mem-pout-kan bibirnya.
"Ya. Baiklah." Sungmin mengalah dan mengalihkan pandangannya. Kembali berkutat pada buku yang tadi di bacanya.
Ryeowook memandang keluar kelas dari kaca jendela di sampingnya. Melamun mengingat seseorang yang dulu selalu ada untuknya. Merindukannya? Bisa saja.
.
.
"Ryeowook. Sepertinya aku harus mencaritahu tentangnya." Gumam seorang bersuara bariton sambil memperhatikan Ryeowook yang terlihat dari kaca jendela dari kejauhan.
.
.
.
"Mana?" Kyuhyun menengadahkan tangan kanannya di depan Jong Woon.
"Apa?" Jong Woon berpura-pura tidak mengerti maksud Kyuhyun.
"Nomor ponsel dan alamatnya tentu saja. Aku harap kau tidak setua itu untuk melupakannya." Ujar Kyuhyun dengan wajah datarnya dan tangannya yang masih terus di depan wajah Jong Woon.
"Ini." jong Woon memberikan selembar kertas berisi nomor ponsel dan alamat orang yang dimaksud Kyuhyun sambil mendengus kesal.
"Bagus! Terima kasih." Kyuhyun mengucapkan terima kasih? Itu hal yang mengejutkan karena itu bisa menjadi salah satu keajaiban dunia karena terlalu langkanya, meskipun dia mengucapkannya dengan nada mengejek.
Jong Woon mengerang frustasi sambil mengacak-acak rambut hitamnya selepas kepergian Kyuhyun.
.
.
"Mana orang itu? Kenapa sampai sekarang belum muncul juga?" Ryeowook mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya berusaha mencari orang yang ditunggunya sejak 15 menit yang lalu. "Jangan-jangan orang itu hanya ingin mengerjaiku?" gumam Ryeowook menghentikan sebentar kegiatan mengintai sekelilingnya. "Jangan-jangan benar!" pekiknya dengan suara yang lebih nyaring. "Kenapa aku bodoh sekali mau ditipu oleh orang yang bahkan tidak ku kenal?" keluh Ryeowook pada dirinya sendiri. "Bahkan orang yang mengirimku pesan tadi malam tidak memberitahukan namanya. Tapi kenapa aku memenuhi permintaannya semudah ini?" gumam Ryeowook kembali meratapi hal yang menurutnya bodoh dan sudah terlanjur dia lakukan. "Lebih baik aku pulang saja! Kalau tidak aku bisa kelihatan bodoh lebih lama lagi." Gumamnya pada dirinya sendiri dan hendak beranjak dari kursi yang sejak tadi menemaninya di taman yang terletak di tangah kota itu.
"Hei! Sudah lama?" seseorang tiba-tiba datang menyapa dan memegang pundak Ryeowook dari arah belakang ketika Ryeowook akan bangkit dari duduknya.
Ryeowook menoleh dengan cepat karena merasa mengenali suara orang yang memegang pundaknya.
"Kyuhyun?" gumamnya.
"Ya. Ini aku." Jawab Kyuhyun dengan cengiran yang menurut Ryeowook aneh. Karena menurut beberapa orang di sekolahnya, Kyuhyun adalah orang yang super dingin dan bahkan untuk berbicara saja dia jarang. Tapi, kenapa sekarang Ryeowook melihat Kyuhyun dengan cengiran yang begitu bertentangan dengan deskripsi orang-orang terhadapnya?
"Sedang apa kau di sini?" Tanya Ryeowook bingung.
"Aku ingin menemuimu." Jawab Kyuhyun mendatarkan wajahnya.
"Untuk apa? Ada perlu apa denganku?" tanya Ryeowook semakin tak mengerti.
"Ck!" Kyuhyun berdecak kesal dan memutar bola matanya kesal karena kepolosan Ryeowook. Kepolosan? Kepolosan atau sebenarnya kebodohannya?
"Oh! Jangan-jangan kau yang..."
"Iya. Aku yang mengirimimu pesan tadi malam." Sambar Kyuhyun.
"Haaa?" Ryeowook menganga lebar. "Benarkah?" Ryeowook semakin menganga bahkan menatap Kyuhyun tanpa berkedip.
"Iya! Hentikan pertanyaan konyolmu yang jawabannya sudah jelas itu!" bentak Kyuhyun. "Dan juga ekspresi horror mu itu!" tambah Kyuhyun dengan muka masam.
"Tapi, ada apa? Untuk apa kau ingin menemuiku?" tanya Ryeowook setelah menutup rapat bibirnya beberapa saat.
"Tentu saja ada hal yang sangat penting. Kau pikir aku mau berbicara untuk hal-hal yang tidak penting?" jawab Kyuhyun kesal. Sepertinya sifat aslinya sudah mulai keluar. Padahal dia sudah berusaha untuk terlihat ramah hari ini. Tapi sepertinya ke-babo-an Ryeowook berhasil menghancurkan persiapan untuk berbasa-basi yang sudah disiapkan Kyuhyun sebelum menemui gadis manis itu.
"Iya. Aku tahu. Tentu saja apa yang akan kau bicarakan adalah hal yang sangat penting." Jawab Ryeowook dengan tampang gugupnya. Kyuhyun hanya mencebikkan bibirnya. "Jadi? Apa yang ingin kau sampaikan?" tanya Ryeowook memecahkan keheningan di antara mereka.
"Sepertinya tidak di sini. Bisa ikut aku? Kita cari tempat yang enak untuk berbicara." Ajak Kyuhyun.
"Baiklah." Ryeowook pun menurut dan mengikuti Kyuhyun berjalan ke arah mobil Kyuhyun yang terparkir tak jauh dari tempat mereka mengobrol singkat tadi.
.
.
"Dari mana saja kau?" Jong Woon menginterupsi langkah Kyuhyun yang baru saja memasuki rumah dan akan berjalan ke arah tangga penghubung ke lantai 2 rumah itu.
"Menemui Ryeowook. Ternyata dia orang yang lumayan asik untuk diajak berbicara." Jawab Kyuhyun dengan wajah datar yang membuat Jong Woon semakin kesal terhadapnya. "Memangnya kenapa?" tanya Kyuhyun balik.
"Tidak apa-apa." Jawab Jong Woon kesal dan segera mengalihkan pandangannya dari Kyuhyun, kembali berfokus pada majalah yang sejak tadi di pegangnya di pangkuannya.
Kyuhyun menyeringai sekilas menatap Jong Woon sebelum dia kembali melanjutkan langkahnya menuju ke lantai dua tepatnya menuju kamarnya.
.
.
"Pagi Wookie!" sapa Sungmin dengan senyum yang merekah di bibir shape-M miliknya.
"Pagi Min!" balas Ryeowook dengan senyum yang tak kalah manis.
Sungmin segera menduduki kursinya di samping Ryeowook. Melepaskan tas ranselnya dan memasukkannya ke dalam laci mejanya. "Apa ini?" gumamnya ketika merasa ada sesuatu yang mengganjal di dalam lacinya.
"Ada apa?" tanya Ryeowook heran.
Sungmin kembali mengeluarkan tasnya dan meletakkannya di atas meja. "Apa ini?" tanya Sungmin dengan kening mengerut sambil mengeluarkan sebuah kotak dari dalam lacinya.
"Apa itu?" tanya Ryeowook yang ikut mengamati kotak dengan bungkusan rapi yang sekarang berada di tangan Sungmin.
"Molla." Jawab Sungmin yang mengamati keliling kotak dengan bungkusan rapi berwarna pink itu. "Di sini tertulis untuk ku." Jawabnya sambil membaca sebuah tulisan dengan tinta berwarna biru tua di bagian tengah atas kotak itu.
"Buka saja!" usul Ryeowook.
"Aku takut." Rengek Sungmin.
"Takut kenapa?" tanya Ryeowook terlihat bingung.
"Bagaimana kalau isinya adalah sesuatu yang menakutkan?" tanya Sungmin dengan sedikit bergidik.
"Bagaimana mungkin kotak dengan bungkusan rapi dan berwarna pink seperti ini bisa berisi hal semacam itu?" kesal Ryeowook karena Sungmin terlalu mendramatisir keadaan.
"Wujud dan cover luar tidak bisa menjamin apa isi di dalamnya Wookie." Bantah Sungmin.
"Kau terlalu berlebihan. Pasti kau terlalu banyak menonton sinetron." Cibir Ryeowook malas. "Kalau takut membukanya sebaiknya dibuang saja." Usul Ryeowook dengan nada malas.
"Tapi, aku penasaran apa isinya." Tolak Sungmin.
"Kalau begitu buka sekarang!" kata Ryeowook dengan nada suara yang agak meninggi.
Sungmin mendengus menatap Ryeowook yang sedikit berang. Kemudian kembali menatap kotak cantik dan rapi itu.
Perlahan tangan mungil Sungmin membuka pita berwarna pink yang mengikat kotak itu. Kemudian membuka dengan lebih pelan tutup kotak itu.
"Boneka bunny?" pekik Sungmin dengan wajah dan nada ceria yang seketika menggantikan ekspresi takutnya beberapa saat yang lalu. "Berwarna pink. Cantik!" lanjutnya dan memeluk erat boneka dengan senyum yang menampakkan gigi kelincinya.
"Sudah kubilang, tidak mungkin kotak dengan warna seperti itu berisi hal yang buruk." Cibir Ryeowook melirik Sungmin yang masih memeluk bunny yang baru didapatnya.
"Tapi, dari siapa ya?" Sungmin menghentikan acara memeluk boneka barunya dan menatap lekat ke mata bulat boneka berwarna pink itu.
"Memangnya tidak ada surat, kartu atau apapun yang menuliskan nama atau inisial pengirimnya?" tanya Ryeowook.
Sungmin meletakkan boneka itu di atas tasnya yang terletak di atas mejanya. Kemudian kembali mengibrak-abrik kotak dan pembungkus boneka imut itu. "Ada kartu ucapannya!" seru Sungmin setelah menemukan sebuah kartu kecil di dalam kotak itu.
"Dari siapa?" tanya Ryeowook antusias dengan wajah raut penasarannya.
"Boneka kelinci imut untuk yeoja kelinci yang tak kalah imut. Your secret admire 'K'." Sungmin membacakan tulisan yang ada di kartu itu. "Siapa 'K'?" tanya Sungmin bingung mengernyitkan keningnya.
"Memangnya siapa namja berinisial K yang dekat denganmu?" tanya Ryeowook membuat Sungmin berpikir sesaat.
"Tidak ada." Jawabnya singkat.
"Masa tidak ada? Coba ingat baik-baik!" tanya Ryeowook meyakinkan.
"Tidak ada Wookie." Jawab Sungmin serius.
"Lalu siapa?" Ryeowook ikut terlihat bingung. "Jangan-jangan..." Ryeowook menggantungkan kata-katanya dengan ekspresi bebinar-binarnya.
"Siapa?" tanya Sungmin penasaran dengan siapa yang dimaksud Ryeowook.
"K untuk Kyuhyun?" tebak Ryeowook.
Seketika Sungmin nampak terpelongo namun dengan raut wajah yang menyiratkan kebahagiaan. "Tapi itu tidak mungkin." Katanya dengan wajah yang tiba-tiba masam. Seperti seseorang yang putus asa.
"Kenapa tidak mungkin?" tanya Ryeowook.
"Dia adalah salah satu namja perfect di sekolah ini. Banyak yeoja cantik di sekolah ini yang sudah berusaha mendekatinya, tapi usaha mereka semua sia-sia. Jangankan bisa mendapatkan hatinya, mendapat balasan sapaan atau senyum saja itu hal yang sangat sulit." Papar Sungmin yang diakhiri dengan bibirnya yang dikerucutkan.
"Mungkin saja dia tidak menyukai gadis yang agersif dan terlihat tidak berharga karena mengejar-ngejarnya?" tebak Ryeowook.
"Maksudmu?" tanya Sungmin tak mengerti.
"Bisa saja kan? Kyuhyun tidak menyukai yeoja yang dengan terang-terangan mengejar-ngejarnya karena terlihat menakutkan? Dia menyukai gadis sepertimu. Gadis yang tidak mau terlihat bodoh hanya untuk mengejar-ngejar seorang namja." Terang Ryeowook dengan sangat yakin.
"Kau terlalu banyak mengkhayal." Ucap Sungmin dengan wajah datarnya. "Bahkan ekspresi datar, tatapan tajam dan ucapan pedas Kyuhyun lebih menakutkan daripada yeoja-yeoja genit yang mengejarnya."
"Ck. Teserahmu saja." Ryeowook malas berdebat lebih lama lagi dengan teman manisnya itu. "Kalau suatu saat nanti terbukti boneka itu memang dari Kyuhyun, kau harus mentraktirku makan ice cream selama sebulan." Ancam Ryeowook dan memalingkan pandangannya dari Sungmin yang kembali menatap sayang boneka bunny-nya.
"Hm." Sungmin hanya bergumam tidak jelas menanggapi pernyataan Ryeowook yang menurutnya tidak masuk akal. Membuat Ryeowook semakin didera kekesalan karena Sungmin mengabaikan keseriusannya.
"Ryeowook!" suara berat seorang namja memanggil Ryeowook dengan sesikit berteriak. Memecah ketenangan di sekitar koridor sekolah itu.
Ryeowook yang merasa dipanggil pun menoleh dan mencari sumber suara yang memaksanya untuk menghentikan langkahnya. Ryeowook menatap heran dan segera melemparkan senyumnya ketika menangkap sesosok namja tinggi bermata sipit teduh yang setengah berlari ke arahnya.
"Ada apa oppa?" tanya Ryeowook ketika namja bermata sipit itu sudah berada tepat di depannya.
"Apa kau hari ini sibuk?" tanya Yesung, namja bermata sipit itu kepada Ryeowook yang masih memperhatikannya.
"Memangnya kenapa?" Ryeowook balik bertanya.
"Aku ingin mengajakmu jalan-jalan. Apa kau bisa?" Tanya Yesung dengan wajah meyakinkan dan penuh harap dan mata sipit dengan tatapan tajamnya yang menatap Ryeowook tanpa berkedip.
'Apa? Dia mengajakku jalan-jalan? Ini bukan kencan atau sejenisnya kan?' batin Ryeowook.
.
.
.
~TBC~
.
Mian ne..
Karena update-nya lama..
Mian juga, Lanjutannya pasti membosankan dan gak memuaskan..
Ini lagi gak ada waktu juga untuk lanjut dan minimnya ide apa yang mau ditulis..
Mian juga kalau banyak typho(s)-nya.. Maklumi saja, karena saya Cuma penulis FF yang memang abal-abal.. :3
For the last , terima kasih, thank you, gomawo untuk yang udah bersedia membaca dan nge_riview..
See ya at the next chapter!
Jeongmal Gomawoyo
