[[maaf telat update]]
(*****)
Chapter 4 : The Tales of a Gentlemand and Lady in London.
England with Hungary. EngHung if you can say.
Hetalia milik Himaruya Hidekazu.
(*****)
Siapa bilang karena letak geografinya, Inggris terkucil dari negara-negara Eropa yang lainnya? Dalam buku-buku travel, Inggris termasuk salah satu dari lis "Must Visit". Setelah Perancis, Spanyol dan Amerika tentunya.
London, kota nomor dua di dunia setelah New York, adalah kota yang penuh sejarah tetapi diiringi oleh kemajuan zaman. Big Ben, Buckingham Palace, Westminster, Trafalgar Square dan monumen-monumen bersejarah lainnya berdiri dengan asri diiringi bangunan-bangunan indah nan moderen. Seperti New York, orang-orang yang tinggal di sana datang dari berbagai bangsa dan ras. Hidup serasi dan teratur. England sangat tahu ini, oleh karena itu dia sangat bangga terhadap kota kelahirannya.
Tak hanya para turis yang datang, tetapi rekan negaranya suka datang kepada kota ini. Tetapi jarang sekali yang mau bertamu ke rumahnya.
Hari ini agak lain, Hungary akan datang bertamu dan England harus menjemputnya di bandara Heathrow.
"Aku ke sini hanya untuk mewakili Austria," kata Hungary dengan acuh saat England akhirnya menemuinya. Dia juga menarik kopernya saat ingin diraih England.
England berusaha menahan emosinya. Sebenarnya siapa sih yang tidak marah kalau sudah berniat baik tetapi tidak disambut penghargaan. "Ya sudah kenapa malah Austria tidak datang?"
"Dia menderita tifus," Hungary menarik kopernya.
Tifus? Kenapa kau tidak menyalahkan dirimu karena tidak becus menjaganya? England menahan perkataan itu lalu berjalan disamping Hungary.
"Ayo kita cepat sampai di rumahmu lalu meluruskan bisnismu dengan Austria lalu selesai," kata Hungary dengan nada tegas.
"Ohh ya? Secepat itu? Lalu mau apa koper yang besar itu?"
Hungary menatapnya tepat di matanya, "Bukan urusanmu."
England hanya bisa diam. Percakapan selesai.
Mereka terus berjalan melalui bandara Heathrow yang katanya tersibuk nomor satu di dunia. Hungary berjalan seperti menghentak-hentakkan kakinya. Sementara England hanya bisa mendesah dan berjalan dengan kaku seperti biasa. Karena kesibukan di bandara itu beberapa kali mereka harus berhenti lalu bertabrakan dengan orang-orang. Karena sudah terbiasa, beberapa kali England harus menarik Hungary -beserta kopernya- untuk menghindar atau menyusup melewati.
"Kau tampak seperti lady, tetapi kau bertingkah seperti pria, tetapi akhirnya kau tetaplah seorang lady," kata England sambil menarik lengan Hungary.
"Apa maksudmu berkata seperti itu?"
England hanya memutar matanya lalu mengembalikan fokusnya ke jalan.
"Ini karena rok panjang yang merepotkan ini!" serunya kesal.
Mereka akhirnya sampai di luar dan kini berjalan ke parkiran. Tempat England dengan Audi hitamnya diparkir.
"Kalau begitu kau harus cepat-cepat mengganti itu. Kau akan menghadapi masalah yang sama di London nanti," ujar England sambil menatap Hungary dan koper besarnya.
Hungary menarik kopernya, pipinya agak memerah karena malu, "Aku bilang hanya akan meluruskan pekerjaan Austria! Setelah itu pulang."
England tersenyum, lalu badannya dicondongkan ke arah Hungary, "Percayalah, tak ada yang bisa mengelak keindahan London,"
"Aku bisa! Dan mau apa kau dekat-dekat?" seru Hungary yang sedari tadi mundur sampai akhirnya menyentuh sebuah mobil.
England mengedipkan matanya, entah kenapa ekspresinya seperti Austria yang tidak tahu menahu bahwa cara membuat kuenya salah. Begitulah yang dilihat Hungary sehingga dia agak terkejut.
"Tetapi mobilku ada di sini,"
Hungary mendorongnya keras, "Bilang dong dari tadi!"
(******)
"Kalau kau mau menginap di London selama beberapa hari, rumahku selalu available untuk tamu-tamu sepertimu," kata England melihat Hungary dari tepian matanya.
"Ohh ya? Aku tak tahu kau suka menerima tamu," kata Hungary. Dia akhirnya tak bisa berbohong lagi dan mengaku secara tak langsung bahwa dia memang akan berada di London selama beberapa hari. "Tidak terimakasih. Aku tak mau Austria cemburu," dia menyilangkan tangannya sambil bersandar di kursi mobil.
England menarik mobil ke luar dari jalan tol, mobil cepat menemui kemacetan.
"Cemburu? Memangnya aku melakukan apa padamu?" katanya setengah tertawa.
Hungary lantas memerah wajahnya. "Apa sih-"
"Kau suka teh? Di London ada toko perlengkapan alat teh yang sangat lengkap, mungkin kau harus mengunjunginya."
Hungary terdiam. Kenapa England mudah mengalihkan pembicaraan. "Aku suka. Kau ingin menemaniku kan?"
England menoleh kepadanya, "Oke! Lalu kita bisa belikan sesuatu untuk Austria!"
(*******)
England terus mengemudikan mobilnya hingga sampai di sebuah spot dekat River Thames, Westminster, Big Ben, Jembatan dan Millennium Wheel. Hungary yang menginginkan ini.
"Kotamu sungguh indah, England," kata Hungary menatap ke arah sungai Thames. Di seberang sana berdiri kota London dengan segala arsitektur moderennya. Sementara di belakang mereka berdiri dengan megah Big Ben. "Setelah Wina di Austria tentunya,"
"Bagaimana kalau kita naik Millennium Wheel? Nanti kita lihat kota siapa yang lebih bagus."
Hungary tersenyum, "Ohh tentunya tetap Wina, tetapi baiklah. Ayo kita naiki biang lala itu!"
(*******)
Sepanjang sore mereka berjalan-jalan keliling London. Tentunya dengan England yang menemani. Hungary tak bisa memungkiri bahwa dia ingin seseorang menemaninya di kota yang belum sama sekali dia jamah.
Kenapa harus susah-susah mencari tour guide kalau sudah ada England? Mengapa dia harus congkak dan mengatakan bahwa dia tak suka bersama England dan ingin cepat-cepat meninggalkannya? Toh akhirnya bersama England dia dapat menikmati perjalanan itu.
"Sudah hampir jam minum teh. Bagaimana kalau kita ke toko yang kusebutkan tadi di mobil? Kedai mereka dikhususkan untuk jam minum teh!"
Hungary mengangguk. "Jauh tidak dari sini?"
"Hanya berjalan sedikit!" kata England. Tentunya dia telah merencanakan ini semua.
"Baiklah!" Hungary meraih tangan pria itu. "Sudah cukup aku tersandung lagi!" katanya dengan muka agak merah.
"Di sana kau ganti saja dengan rok yang kupilih tadi," kata England menggenggam jemari Hungary yang kecil dan lentik itu.
Hungary hanya bisa mengangguk lalu menarik tangan itu berjalan. Tadi memang mereka telah berbelanja sedikit, dan hampir semua busananya England yang pilih. Entah kenapa Hungary membiarkannya. Mungkin Hungary percaya bahwa orang itu sangat mengerti keperluan wanita. Lagipula baju yang dia pillih juga tergolong mahal dan bagus.
"Uh, untuk rok dan baju-baju itu..."
"Kenapa?"
"Aku tidak membawa uang banyak, yang kubawa adalah uang milik Austria. Aku akan menggantinya..."
"Tidak perlu." England tersenyum padanya. "Itu tidak seberapa untuk wanita yang cantik sepertimu."
Hungary menoleh. Dia berusaha keras menyembunyikan kemerahan di wajahnya.
(******)
England sangat menikmati perjalanan itu. Karena tak seperti biasanya dia ditemani seseorang. Bukan Frog, bukan American Brat, apalagi Spanish Dog, tetapi wanita cantik dari Eropa Barat yaitu Hungary. Jarang sekali orang mau bersamanya lama-lama.
"Ini karena Austria tidak bisa datang bersamaku," kata Hungary dengan kecongkakakannya yang khas.
England hanya bisa memaklumi. Biarlah sebagai pengganti Austria untuk sementara. Setidaknya dia tidak sendiri, untuk sementara.
(******)
A/N :
Agak panjang yah? Maaf ;u;
England/Hungary emang termasuk pairing favorit saya... atau emang saya sukanya England sama cewek, siapa aja, Hungary, Belgium, Liechtenstein sampai Belarus kecuali Seychelles yah. Karena England bisa benar-benar jadi gentleman.
Bikin sambil dengerin Gallows Bell covernya Nano. Nyentuh banget. Semoga gak memengaruhi ceritanya yah.
next chapter : kembali ke mainstream pairing... Japan!
