CAST

Park Chanyeol (25)

Byun Baekhyun (19)

.

.

Aku menggeliat di atas ranjang dan beberapa kali mengerjap saat seberkas cahaya memaksa masuk melalui celah mataku. Memutar badanku kekiri memilih menghindari sisi ranjang yang terkena cahaya matahari untuk bisa melanjutkan tidurku. Tapi kemudian aku mengeryit saat tanganku tak merasakan tubuh seseorang yang membuat mulutku menjerit semalam.

"Chanyeol ?", panggilku ketika mendudukan diriku diatas ranjang.

Kesadaranku mulai terkumpul, mengedarkan pandanganku keseluruh sisi kamar. Kupikir dia sedang dikamar mandi, tapi pikiran itu menghilang ketika bahkan gemercik air pun tak terdengar. Terakhir kali Chanyeol meninggalkanku tidur saat dia akan pergi ke Manhattan. Kali ini apa lagi ?. Tidak, tidak, tidak lagi. Tanganku menyibak selimut dan segera mencoba menemukan celana piyama lalu kemejaku yang tersampir diatas meja. Memakainya asal-asalan dan segera membawa kedua kakiku berlari keluar kamar dan menuruni tangga. Aku mulai gelisah saat melihat seorang laki-laki berjas hitam berdiri di ruang tengah, seperti tengah bersiap untuk pergi.

"Dimana Chanyeol ?" Tanyaku seketika ketika langkahku telah sampai didekat orang itu.

"Selamat pagi Tuan Byun. Saya Kang Tae Won. Presdir Park telah berangkat ke kantor setengah jam yang lalu. Perihal mengapa saya disini karena Presdir menyuruh saya untuk mengambil berkasnya yang ketinggalan sekaligus mengambil undangan pernikahan Presdir Park dan anda yang telah jadi" ucapnya dengan sebuah paper bag di tangan kanannya. Lalu aku mengedarkan pandangan mencari jam dinding. Jam setengah 8. Kenapa pagi sekali dia ke kantor ?.

"Bisakah aku melihat undangannya ?" Tanyaku.

Pria itu mengangguk dan menyerahkan paper bagnya kepadaku. Aku menerimanya dan mengambil salah satu undangan didalamnya. Itu seperti sebuah kertas karton persegi panjang bewarna hitam, mengkilap saat bias cahaya matahari mengenainya. Lalu tulisan yang tertera disana berwarna perak bercahaya. Jantungku berdegup menari didalam sana ketika namaku dan Chanyeol berada disana. Ini benar-benar akan dilaksanakan beberapa hari setelah kelulusanku.

"Apakah hari ini undangan akan disebar ?" Tanyaku sambil mengembalikan undangan dan paper bag kepada pria itu.

"Benar Tuan"

"Bukankah ini terlalu awal untuk menyebar undangan ?" Tanyaku. Karena ya, bahkan kelulusanku masih seminggu lagi.

"Tidak Tuan. Presdir Park ingin semuanya hadir. Maka dari itu undangan disebar awal agar relasi juga rekan kerja presdir bisa meluangkan waktu untuk hadir di pernikahan anda dan presdir" jelasnya.

Ah.. itu masuk akal juga. Tunggu, apakah Kyungsoo juga diundang ? Tapi jika undangan disebar hari ini bukankah itu berarti Kyungsoo juga akan menerimanya ?. Tidak, Kyungsoo bahkan belum tahu jika aku akan menikah. Dia pasti marah besar.

"Bisakah anda mencarikan nama Do Kyungsoo diantara undangan itu ?" Tanyaku.

"Tentu Tuan" ucapnya lalu tangannya segera bergerak mencari nama Kyungsoo.

Aku menoleh kearah dapur ketika saraf penciumanku mencium bau panggangan. Apa bibi Yoon sedang memasak ?, batinku.

"Ini Tuan", ucap pria itu sambil menyerahkan undangan dengan nama Kyungsoo.

Benar, dia diundang.

"Apakah seseorang bernama Kai juga diundang ?" Tanyaku.

" Karena Tuan Kai juga relasi sekaligus sahabat dekat presdir. Saya kira Tuan Kai juga diundang" jelasnya.

Sial, bagaimana jika Kyungsoo diberitahu kekasihnya lebih dulu. Aku harus meminta bantuan kepada Chanyeol untuk ini.

"O-oke, kalau begitu terimakasih. Untuk undangan ini biarkan aku yang menyerahkannya sendiri lagipula ini teman sekolahku"

"Baik Tuan, kalau begitu saya permisi", pria itu membungkuk lalu berlalu meninggalkan penthouse.

Kakiku kubawa untuk berlari menaiki tangga menuju kamar untuk mengambil handphone dan segera menelpon Chanyeol. Pada dering ketiga panggilanku diangkat.

"Chanyeol !"

"Halo baby.. hei sudah bangun ?, kau terdengar baru saja berlari"

"Ya, itu.. tadi aku bertemu dengan Kang.. Kang Tae.. uhh siapa aku lupa"

"Kang Tae Woo ?"

"Ya ! Benar. Dia membawa undangan pernikahan kita tadi"

"Dan ?"

"Jadi begini.. aku belum memberitahu Kyungsoo perihal pernikahan kita dan kata pria tadi undangan disebar hari ini. Jadi aku mengambil undangan Kyungsoo dan bermaksud untuk memberikannya sendiri. Boleh kan ?"

"Tentu saja boleh. Lagipula dia temanmu. Jadi, kau menelponku untuk menanyakan ini ?"

"Bukan itu saja"

"Lalu ?"

"Bisakah aku meminta tolong padamu ?"

"Apapun dear, katakan"

"Aku dengar temanmu yang bernama Kai itu juga diundang. Kau tau kan jika dia dan Kyungsoo berpacaran. Bisakah kau katakan padanya untuk tidak memberitahu Kyungsoo dahulu ?"

"Tentu saja, hanya itu ?"

"Umm dan.. dan oh, aku kesal pagi ini karena terbangun sendirian"

"Maafkan aku, oke ?. Aku ada janji pagi ini"

"Tidak kumaafkan" ucapku sambil mengulum bibirku menahan senyum.

"Dear.. jangan seperti ini"

"Aku maafkan jika kau datang tepat waktu saat kelulusanku !"

Lalu terdengar gelak tawa Chanyeol diseberang.

"Baiklah, tepat waktu dan.. sekarang turun dan sarapan"

Baik, dia benar-benar suka memerintah.

"Dimengerti ahjussi.."

"Hey-"

Aku memutus sambungan telepon begitu saja dan setelahnya terkikik membayangkan wajah kesalnya. Tangan kananku reflek berada diperutku ketika suara aneh terdengar dari dalam sana seakan memberitahu jika aku memang membutuhkan sarapan pagiku. Aku menuruni tangga menuju dapur.

"Bi-" ucapanku terhenti ketika melihat Bibi Yoon memasukkan sesuatu kedalam gelas jus.

"Bibi apa itu ?" Tanyaku.

Bahunya tersentak diikuti oleh kedua matanya yang melebar. Kenapa reaksinya seperti itu ?.

"T-tuan Baekhyun.."

Aku mengeryitkan dahi saat tangannya dibawa kebelakang punggungnya, menyembunyikan. Aku menghela napasku.

"Bibi, berikan itu padaku sekarang" ucapku begitu serius.

"Maaf Tuan, ta-tapi Tuan Chanyeol-"

"Chanyeol ?" Ulangku.

Apa hubungannya dengan Chanyeol ?. Bibi Yoon mendesah dengan kerutan didahinya semakin dalam dengan raut gelisah diwajahnya. Membawa kedua lenganku untuk bersedekap, menghembuskan napas.

"Bibi Yoon, tolong katakan jujur padaku tentang apa itu, siapa yang menyuruhnya, dan kenapa ?"

"Tuan Chanyeol mengatakan untuk memasukan obat ini kedalam jus anda"

"Obat ? Aku tidak sakit. Dan kenapa bibi menyembunyikan obat itu ?" Tanyaku.

"Tuan Chanyeol berpesan agar jangan sampai anda tahu"

Apa ?. Mengapa ?. Pertanyaan itu terus menerus berputar didalam kepalaku. Aku harus mencari tahu ini. Tapi bagaimana ? Bertanya kepada Chanyeol ?. Tidak, jangan gegabah Baekhyun. Bibi Yoon telah mengatakan jika Chanyeol tidak ingin aku tahu tentang ini, pasti Chanyeol memiliki alasan.

"Tuan..", pikiran itu pergi ketika bibi Yoon memanggilku.

"Bibi aku akan sarapan, tapi tidak dengan meminum jus itu dan jangan katakan kepada Chanyeol jika aku mengetahuinya" ucapku.

"Tapi-"

"Aku tidak ingin bertengkar dengan Chanyeol karena ini. Aku akan mandi dulu" ucapku lalu segera meninggalkan dapur.

.

.

.

Merendam tubuhku di bath up sekaligus berpikir bagaimana mencari tahu tentang obat itu. Ah ! Dokter Zhang, pasti dia tahu sesuatu. Ya, aku harus menemuinya. Hei, tapi aku bahkan tidak tahu alamat rumahnya atau sekedar dimana rumah sakit tempat dia bekerja. Kartu nama, Chanyeol pasti memilikinya.

Menyelesaikan mandiku dan meraih bathrobe sekaligus handuk untuk mengeringkan rambut basahku. Mengusaknya asal-asalan lalu segera berganti baju. Kemudian aku segera membuka satu-persatu laci dikamar, berharap menemukan nomor telepon atau kartu nama Dokter Zhang. Menutup laci terakhir dengan keras ketika tidak juga menemukannya. Menggigit bibir bawahku berpikir dimana lagi aku harus mencarinya. Ruang kerja Chanyeol, ya, pasti disana. Kemudian membawa langkahku menuju ruang kerja Chanyeol. Aku belum pernah kesana sebelumnya, karena ya, tidak ada apapun yang membuatku harus kesana.

"Tuan Baekhyun sarapan anda !", suara itu terdengar ketika aku berlalu melewati dapur.

"Nanti saja !" Jawabku tanpa menoleh meneruskan langkahku menuju ruang kerja Chanyeol.

Seperti yang kutebak, seorang Park Chanyeol, monoton. Ruang kerjanya didominasi warna hitam metalik, putih, dan oh, hijau tua. Aku sempat berpikir bahwa abu-abu akan menjadi kombinasinya, tapi ternyata tidak, tidak tertebak. Disisi kanan dipenuhi buku-buku tertata rapi didalam rak yang menjulang. Dia tidak sedang memberitahu bahwa dia adalah pria yang tinggi sehingga menggunakan rak seperti itu kan ?. Dia memang tinggi, batinku menyahut. Aku segera berjalan menuju laci mejanya. Membukanya persatu-satu. Sebisa mungkin aku tidak membuatnya berantakan karena seorang Park Chanyeol adalah seorang yang teliti, mungkin. Aku tidak bisa tidak berpikir jika dia akan berpikir jika ada orang yang lancang masuk membuka laci ruang kerjanya jika aku membuatnya berantakan sedikit saja. Alisku bertaut, berkonsentrasi mencari sesuatu yang bisa membuatku bisa menemui atau sekedar menelpon Dokter Zhang. Dapat !. Sebuah kartu bewarna biru tertera nama Dr. Yixing Zhang disana sekaligus nomor teleponnya, sempurna. Mengeluarkan handphoneku lalu menfotonya. Setelah itu mengembalikannya lagi kedalam laci. Aku segera keluar setelah sebelumnya menata kembali isi laci itu dan meninggalkannya seperti semula.

.

.

.

Aku menyuapkan sarapanku kedalam mulut dengan handphone menempel ditelinga kananku, menunggu seseorang menjawabnya diseberang sana. Menggerutu ketika panggilanku tidak juga diangkat. Menelpon nomor itu kembali dan menunggu.

"Halo"

Menghentikan suapanku ketika akhirnya Dokter Zhang mengangkat panggilan. Tanganku meraih jus disebelah kananku dan segera meminumnya untuk sekedar membuat tenggorokanku tidak kering.

"Tuan Baekhyun jus-"

"Sst.. aku sedang menelpon seseorang"

Baiklah Baekhyun, nyatanya kau baru saja meminum jus tadi.

"Um.. halo"

"Maaf dengan siapa saya berbicara ?"

"Saya Baekhyun"

"Oh Baekhyun-ssi. Ada apa ?"

"Bisakah kita bertemu ? Ada yang ingin kutanyakan"

"Bertemu ?. Baiklah, saya memiliki waktu setelah jam 10 pagi"

"Apakah anda sedang bekerja dirumah sakit ?"

"Ya, tentu saja"

"Saya akan menunggu anda di kantin rumah sakit saja. Diatas jam 10"

"Tidak masalah"

"Kalau begitu, sampai nanti"

"Sampai nanti Baekhyun-ssi"

Menghembuskan napasku ketika panggilan itu berakhir. Haruskah aku memberitahu Chanyeol ? Atau.. mencari tahu ini terlebih dahulu ?. Kurasa pilihan dua lebih baik.

"Tuan.."

"Apa bi ?"

"Jusnya.."

"Sudah kubilang aku tidak akan meminumnya kan ?"

"Tapi anda baru saja meminumnya Tuan"

"Apa !"

Mataku melebar ketika melihat jus yang berada didalam gelas tinggal setengah. Bodoh, Baekhyun. Astaga, bagaimana aku bisa meminumnya tanpa tahu obat apa yang ada didalamnya.

.

.

.

"Baekhyun, kau serius ?" Tanyanya sambil melihat kertas hitam didepannya.

Menelan ludahku ketika ekspresi Kyungsoo sedikit tidak bersahabat seperti biasanya. Aku menghubunginya untuk bisa bertemu disuatu tempat setelah mencoba memuntahkan jusku, walaupun itu tidak berhasil.

"Baekhyun"

"Aku minta maaf tidak memberitahumu lebih awal. Tapi tentang tanggalnya aku memang tidak mengetahui apa-apa. Aku hanya tahu jika itu akan dilaksanakan setelah kelulusan"

"Setidaknya beritahu aku jika kau akan menikah Baek"

Menghembuskan napasku.

"Aku bersalah, oke ? Aku minta maaf, hm ? Maafkan aku Kyung~"

Merapatkan kedua telapak tanganku didepan memohon maaf.

"Aish.. mana bisa aku marah padamu. Jadi, ini benar ? Kau akan menikah ?"

Menganggukkan kepalaku atas pertanyaannya.

"Baekhyun, kau tidak hamil kan ? Kau masih murid SMA, Tuhan" ucapnya.

"Hei ! Mana bisa aku hamil. Aku tahu ini masih terlalu tiba-tiba. Tapi Kyung, Chanyeol akan tetap membiarkanku kuliah dan sebagainya. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan"

"Baiklah... hahaha. Jika begitu aku akan turut senang atas pernikahanmu. Kau sahabatku yang paling berharga Baek, aku ingin kau selalu bahagia"

"Tentu, Terimakasih Kyungsoo"

.

.

.

Aku mengecek kembali foto di handphoneku bahwa ini benar-benar rumah sakit tempat bekerja Dokter Zhang. Aku menghampiri salah satu suster disini dan bertanya dimana letak kantin rumah sakit. Suster itu menjawab dengan sangat cepat dan tergesa-gesa sehingga aku harus berpikir berulang kali untuk mencerna kalimatnya. Seharusnya aku bertanya pada seseorang di resepsionis saja. Tempat ini benar-benar dipenuhi bau obat, ya, rumah sakit. Dimana tempat orang-orang sakit berada, kau tidak harus heran Baekhyun. Aku berjalan menghampiri salah satu meja di kantin yang masih kosong. Memilih kursi paling pojok kanan didalam kantin. Mendudukan diriku disana lalu kembali mengecek handphoneku. Jam 09.58. Aku memutuskan untuk bermain game di handphoneku sambil menunggu dokter itu datang. Tidak lama kemudian..

"Baekhyun-ssi ?"

Aku tersentak kaget sehingga handphoneku jatuh dimeja kantin. Lalu aku segera mengambilnya dengan perasaan sedikit malu.

"Maaf membuat anda kaget" ucapnya.

"Tidak papa" ucapku sambil menggelengkan kepalaku.

Dokter itu mengambil tempat didepanku.

"Sebelumnya apakah anda sudah sarapan ?"

"Sudah, maksudku ya-tentu" , tenangkan dirimu Baekhyun.

Dokter itu tersenyum.

"Baiklah, jadi apa yang ingin anda tanyakan ?"

Berdehem sebentar sebelum menyodorkan sebuah botol kecil bewarna putih dimeja.

"Saya yakin anda tahu sesuatu tentang itu" ucapku. Tangannya meraih botol obat itu dan mengangguk.

"Tentu saya tahu. Tuan Chanyeol sendiri yang memintanya"

"Kenapa ?. Obat apa itu ?"

"Ini digunakan secara berkala. Bukankah anda masih murid SMA dan sebentar lagi akan melanjutkan ke perguruan tinggi ?"

"Ya, sebentar lagi saya akan melanjutkan ke perguruan tinggi" jawabku.

"Karena itulah Tuan Chanyeol memberikan obat ini kepada anda secara berkala. Saya yakin orang tua anda juga melakukannya. Ini untuk mencegah sekolah anda terganggu"

"Terganggu ? Terganggu oleh apa ?"

"Baekhyun-ssi, anda benar belum tahu ini obat apa ?"

"Belum, saya tidak tahu. Sama sekali tidak tahu" jawabku.

"Maka sebaiknya anda bertanya kepada Tuan Chanyeol sendiri" , dahinya berkerut ketika mengucapkannya.

"Tidak, kumohon beritahu aku"

Dokter itu sedikit membenarkan letak duduknya sebelum berbicara.

"Baiklah, Baekhyun-ssi, anda adalah laki-laki spesial"

"Aku tidak mengerti" jawabku.

"Jika anda tidak minum obat ini secara berkala, akan ada nyawa yang sekarang hidup didalam tubuh anda"

"Apa yang anda katakan ? Apakah anda mencoba mengatakan jika saya bisa-"

"Hamil, ya, anda bisa hamil. Tuhan menganugerahkan sesuatu yang tidak dimiliki laki-laki lain didalam tubuh anda" jawabnya.

Wajahnya begitu serius, mencegahku untuk berharap bahwa dokter itu sedang bercanda. Tapi nyatanya tidak.

Apakah ini sebuah lelucon ?. Jiwaku serasa bertebaran. Batinku terdiam entah harus bahagia ataupun sebaliknya. Kenapa tidak ada yang memberitahuku perihal ini ? ataukah mereka memang menyembunyikan ini dariku ?. Lalu pusaran pertanyaan itu menenggelamkan diriku.

.

.

Thankyou soo much para reader-nim yang sudah foll/fav dan meluangkan waktu untuk mengetik review kalian. How about this chapter ! Don't forget for review ! See u !