Pairing : KanaFemZero

Rating : T (untuk saat ini)

Keterangan :

"FlashBack"

'Mind'


Sebelumnya...

Bulan sudah mencapai puncaknya, rumah keluarga Kiryu begitu sepi, karena semua penghuninya yang sedang tidur. Mereka tidak menyadari apabila ada sosok yang mendekati rumah mereka.

"Malam ini. Malam ini aku akan membalaskan dendammu, sayangku" Shizuka berkata sambil berjalan memasuki rumah keluarga Kiryu.


~Bab 4~

.

.

Brak

Suara bantingan pintu depan rumah keluarga Kiryu yang dibuka paksa oleh Shizuka. Shizuka terus berjalan mencari mangsanya mengabaikan pintu depan yang dibantingnya tadi, dia tidak peduli lagi apabila suara bantingan pintu membangunkan penghuni rumah ini.

Suara langkah kaki yang berlari menuju kearahnya membuat kaki Shizuka berhenti di depan anak tangga yang akan di lewatinya.

"Halo" Shizuka berkata sambil tersenyum kepada Takuya yang berdiri di ujung tangga.

"Apa. Bagaimana kamu bisa masuk kedalam rumah ini" Shizuka bisa mendengar suara Takuya yang terkejut dan takut. Shizuka juga bisa melihat tangan Takuya yang memegang senjata Hunternya bergetar. Aah bagaimana dia sangat menyukai reaksi manusia yang seperti itu.

"Kamu pikir penghalang seperti itu akan menghalangiku dari mangsaku. Tut tut tut Kiryu-Kun bagaimana naif" Shizuka berkata dengan nada main-main.

"Pergi dari rumah ini, kami akan membunuhmu jika kamu tidak pergi sekarang " Suara baru menambahkan. Shizuka menoleh kearah suara baru tersebut, hanya untuk melihat Hana yang sudah membawa senjata Hunter miliknya.

"Membunuhku" Shizuka berkata sambil tertawa meremehkan.

Setelah mengatakana itu Shizuka menghilang menggunakan kekuatan Vampirenya dan muncul dibelakang Takuya.

"Bagaimana lucu dari kalian. Kalian pikir Hunter Level kalian bisa membunuhku" Shizuka berkata berbisik di telinga Takuya.

"Bagaim-" belum selesai Takuya berkata, Shizuka sudah merobek leher Takuya, tidak membunuhnya secara langsung namun Shizuka memberikan kematian yang lambat.

Hana yang melihat suaminya terbunuh perlahan-lahan didepannya hanya bisa terkejut dan terpaku ditempatnya.

Shizuka yang melihat ini memanfaatkan situasi dan menggunakan kecepatan Vampirnya untuk muncul dibelakang Hana.

"Kamu tau, mungkin aku harus berterima kasih kepadamu, karena tanpamu dan suamimu Zero-Chan tidak akan membantuku. Tapi dimana Zero-Chan, Kiryu-Chan bukankah sebagai putri dari tuan rumah dia juga harus ikut untuk menyambutku. Dan dia tidak boleh ketinggalan pesta kami, kan." Shizuka berbisik ditelinga Hana.

"Zero tidak mungkin melakukan itu, Zero mencintai keluarganya, dia tidak mungkin melakukan itu" Hana berkata dengan marah, melupakan jika dia masih dalam genggaman Shizuka.

"Benarkah, bagaimana kamu tau, setelah semua kamu dan suamimu menyingkirkan satu satunya orang yang Zero-Chan anggap keluarga" Shizuka berkata sambil memperketat genggamannya di leher Hana.

"Mak - sud - mu" Hana berkata terbata bata karena genggaman kuat Shizuka di lehernya.

"Ichiru" Shizuka berkata berbisik pelan ditelinga Hana dan Shizuka bisa melihat mata Hana yang terbelalak terkejut.

Setelah mengatakan itu tangan Shizuka langsung menembus tubuh Hana dan merobek jantungnya dengan kuku-kukunya yang tajam. Shizuka pun melepaskan tubuh Hana dan tubuh Hana pun langsung tergeletak tepat disebelah suaminya. Shizuka hanya bisa menatap kosong pada mayat pasangan Kiryu yang baru saja di bunuhnya, ketika suara baru mengejutkannya.

"Kau terlihat bosan Shizuka" kata suara baru tersebut. Shizuka pun menoleh hanya untuk melihat putri tertua Kiryu yang sedang bersandar di dinding tak jauh dari tempatnya berdiri dan menatap kosong mayat orangtuanya.

"mah mah Zero-Chan akhirnya memutuskan untuk bergabung" Shizuka berkata sambil tersenyum.

"Mereka begitu membosankan. Ternyata mereka tidak sehebat yang dibicarakan" Shizuka menambahkan karena dia tidak mendapat reaksi apapun dari Zero.

"Apa kamu ingin bermain Zero-Chan. Aku harap kamu tidak membosankan seperti mereka" Shizuka berkata dan dia masih tidak mendapat respon apapun kecuali Zero yang saat ini menatapnya dengan pandangan kosong. Melihat itu membuat Shizuka kesal, karena dia tidak terbiasa diabaikan oleh seseorang dan sebagai putri DarahMurni, Shizuka terbiasa jika seseorang yang akan berlomba-lomba untuk mendapatkan perhatiannya, dan Zero hanya mengabaikannya.

"Jika kamu tidak ingin bermain, bagaimana jika aku bermain dengan Ichiru-Chan saja, dia berada di rumah Kaien Cross kan" Shizuka menambahkan sambil tersenyum berbahaya kepada Zero.

Begitu kata-kata selesai keluar dari bibir Shizuka. Shizuka bisa merasakan rumah itu saat ini depenuhi aura pembunuh yang kuat, hal itu membuat Shizuka tegang. Dia tahu seharusnya dia tidak pernah memancing amarah dari putri tertua Kiryu, bukannya dia tidak bisa menang pada saat melawan gadis itu setelah semua gadis itu hanya berumur 13 tahun dan Shizuka sendiri lebih banyak pengalaman dalam berurusan dengan Hunter.

Namun saat ini kekuatan Shizuka belum pulih sempurna. Karena dia sudah lama belum meminum darah siapapun baik selama dia berada di penjara karena sebagai hukuman atau selama dia lolos dari penjara karena terobsesi dengan balas dendam. Karena bagi Shizuka membunuh Kiryu akan terasa kurang baginya, mungkin dia harus menggigit salah satu dari anak Kiryu sambil meminum darah salah satu dari mereka dan setelah semua meminum darah pertama dari anak-anak Kiryu akan sangat nikmat setelah sekian lama tidak minum darah siapapun dan merubah salah satu dari mereka menjadi Vampire adalah bonus tambahan.

"Mari kita bermain Shizuka" begitu kata-kata itu terdengar dari bibir tertua Kiryu membuat Shizuka semakin tegang karena saat ini gadis itu tersenyum misterius padanya.

Tiba-tiba Shizuka bisa merasakan jika ada yang mengikat pergelangan kakinya. Shizuka pun melihat kebawah pada kakinya dan dia bisa melihat sulur mawar berduri yang membelit pergelangan kakinya dan terus tumbuh hingga menutupi pinggannya dan masih terus tumbuh lagi hingga melilit lehernya, Shizuka juga bisa merasakan duri yang hampir menusuk di kulit lehernya.

"Ada apa Shizuka, bukannya kamu ingin bermain" Shizuka bisa mendengar suara Zero yang perlahan mendekat kearahnya.

"Mah mah Zero-Chan, kamu begitu licik" Shizuka berkata dengan tenang sambil mencoba melepaskan sulur mawar yang membelit tubuhnya dengan menggunakan kekuatan Darahmurninya.

"Aku tidak suka mengulur waktu Shizuka. Dan kamu sudah membuatku marah" gadis itu berkata dengan tenang.

Shizuka masih berusaha melepaskan lilitan sulur mawar yang disekitar tubuhnya dengan menggunakan kekuatan DarahMurninya, namun sulur itu bukannya merenggang tapi malah memperketat hingga duri sulur mawar itu menorehkan luka di lehernya dan Shizuka bisa merasakan darah miliknya yang mengalir dari lehernya yang terluka.

"Apa yang kamu lakukan" Shizuka bertanya dengan geram.

"Ada apa Shizuka. Oh lehermu terluka, bagaimana disayangkan" Shizuka bisa mendengar jika gadis itu bermain dengannya.

"Mah mah Zero-Chan bagaimana jika kamu melepaskan aku" Shizuka berkata kepada Zero dengan nada main-main.

"Dan kenapa aku harus melakukan itu" Zero berkata kemabali kepada Shizuka.

"Karena mungkin aku akan memberikan kematian yang cepat tanpa rasa sakit untukmu dan aku akan melepaskan Ichiru dan meninggalkan dia sendiri" Shizuka berkata sambil tersenyum berbahaya.

"Baiklah" Shizuka mendengar gadis itu berkata dengan tenang.

Begitu sulur mawar itu menghilang. Shizuka langsung menerjang ke arah Zero. Namun yang tidak diperhitungkan Shizuka adalah sesuatu yang tiba-tiba menembus tubuhnya. Shizuka berhenti dan melihat tubuhnya hanya untuk melihat darah yang berasal dari dadanya. Shizuka pun melihat kembali kearah gadis itu terkejut dan dia bisa melihat jika gadis itu mengarahkan senjatanya ke arahnya sambil tersenyum kecil penuh kemenangan.

"Game Over" Shizuka bisa mendengar gadis itu berkata sambil terus memberikan senyum penuh kemenangan ke arahnya. Hal terakhir yang didengar dan dirasakan Shizuka sebelum dirinya berubah menjadi abu adalah suara tembakan dan rasa sakit dari peluru yang menembus jantungnya dan suara kaki yang berlari menaiki tangga.


Zero sudah terbangun begitu dia merasakan Shizuka memasuki rumahnya. Zero juga bisa mendengar suara pintu yang terbanting terbuka serta suara ayahnya dan tak lama Zero juga bisa mendengar suara ibunya yang menghampiri ayahnya. Zero tahu jika ibunya pasti sudah menghubungi salah satu Hunter sebelum menghampiri ayahnya.

"Sudah dimulai ya" Zero berkata sambil melihat keluar jendela. Zero pun turun dari tempat tidurnya dan mengambil Bloody Rose miliknya yang dia letakkan di bawah bantalnya.

"Mari kita cepat selesaikan, sebelum ada yang datang" Zero berkata sambil mengelus Bloody Rose miliknya dan berjalan keluar kamar.

Begitu dia keluar dari kamar. Adegan yang dilihatnya adalah tangan Shizuka yang menembus tubuh ibunya.

"Kau terlihat bosan Shizuka" Zero berkata setelah melihat tubuh ibunya yang terjatuh disebelah mayat ayahnya.

"mah mah Zero-Chan akhirnya memutuskan untuk bergabung" Shizuka berkata sambil tersenyum. Zero ingin melihat berapa lama senyum itu akan bertahan pada saat dia menembakkan peluru Bloody Rose ketubuh Shizuka.

"Mereka begitu membosankan. Ternyata mereka tidak sehebat yang dibicarakan" Shizuka menambahkan. Zero tahu jika Shizuka sedang mamancing reaksinya.

"Apa kamu ingin bermain Zero-Chan. Aku harap kamu tidak membosankan seperti mereka" Shizuka berkata lagi dan kali ini Zero hanya menatap Shizuka dengan kosong. Zero bisa melihat jika Shizuka mulai kesal, karena tidak reaksi apapun darinya.

"Jika kamu tidak ingin bermain, bagaimana jika aku bermain dengan Ichiru-Chan saja, dia berada di rumah Kaien Cross kan" Shizuka menambahkan sambil tersenyum berbahaya.

Begitu kata-kata selesai keluar dari mulut Shizuka. Zero begitu marah, bagaimana wanita ini berani mengancamnya dengan menggunakan Ichiru, jika wanita ini ingin bermain maka Zero akan layani, dan melihat siapa yang akan menang di akhir.

"Mari kita bermain Shizuka" Zero berkata dengan tenang sambil tersenyum misterius pada Shizuka.

Zero bisa melihat Shizuka yang melihat kebawah pada kakinya hanya untuk melihat sulur mawar berduri yang membelit pergelangan kakinya dan terus tumbuh hingga menutupi pinggan Shizuka dan masih akan terus tumbuh lagi hingga melilit leher Shizuka. Zero juga bisa melihat jika duri dari sulur mawar itu hampir menusuk kulit leher Shizuka.

"Ada apa Shizuka, bukannya kamu ingin bermain" Zero berkata sambil perlahan mendekat kearah Shizuka.

"Mah mah Zero-Chan, kamu begitu licik" Shizuka berkata dengan tenang. Namun Zero bisa melihat jika Shizuka berusaha melepaskan sulur mawar yang membelit tubuhnya dengan menggunakan kekuatan Darahmurninya.

"Aku tidak suka mengulur waktu Shizuka. Dan kamu sudah membuatku marah" Zero berkata dengan tenang kepada Shizuka.

Zero bisa melihat jika Shizuka masih berusaha melepaskan lilitan sulur mawar yang disekitar tubuhnya dengan menggunakan kekuatan DarahMurninya, namun Shizuka harus tahu atau mungkin tidak jika sulur mawar itu tidak akan terlepas dari tubuh Shizuka walau sebesar apapun usaha yang diterapkan Shizuka karena sulur mawar itu hanya akan mentaati perintah Zero dan Zero tidak berniat untuk melepaskan dari tubuh Shizuka dengan cepat. Zero malah memperketat lilitan sulur mawar itu ketubuh Shizuka hingga hingga duri sulur mawar itu menorehkan luka di leher Shizuka dan Zero bisa melihat darah yang mengalir dari luka tersebut.

"Apa yang kamu lakukan" Zero bisa mendengar Shizuka bertanya dengan geram.

"Ada apa Shizuka. Oh lehermu terluka, bagaimana disayangkan" Zero berkata main-main kepada Shizuka. Bukankah Shizuka yang awalnya mengajak nya bermain, jadi jangan salahkan dia jika Zero memilih permainan yang akan menguntungkan baginya.

"Mah mah Zero-Chan bagaimana jika kamu melepaskan aku" Zero mendengar Shizuka berkata dengan nada main-main.

"Dan kenapa aku harus melakukan itu" Zero berkata kembali kepada Shizuka.

"Karena mungkin aku akan memberikan kematian yang cepat tanpa rasa sakit untukmu dan aku akan melepaskan Ichiru dan meninggalkan dia sendiri" begitu kata-kata itu keluar dari bibir Shizuka. Zero hanya terus menatap kosong padanya

"Baiklah" Zero berkata dengan tenang sambil menghilangkan sulur mawar yang melilit tubuh Shizuka.

Begitu sulur mawar itu menghilang. Zero bisa melihat jika Shizuka langsung menerjang ke arahnya. Namun sebelum Shizuka menyadari Zero sudah mengarahkan Bloddy Rose miliknya ke arah Shizuka dan melepaskan tembakan pertamanya kearah Shizuka. Zero bisa melihat Shizuka yang terhenti dan memeriksa tubuhnya dan dia bisa melihat Shizuka yang melihat kearahnya dengan terkejut. Melihat itu membuat Zero memberikan tersenyum kecil penuh kemenangan kepada Shizuka.

"Game Over" Zero berkata sambil memberikan tembakan keduanya yang saat ini menembus jantung Shizuka. Zero hanya menatap kosong dimana tempat Shizuka sebelumnya yang telah berubah menjadi abu. Zero bisa melihat jika Yagari-sensei terkejut melihat tumpukan abu Shizuka.

"Zero!?" Zero bisa mendengar suara Yagari-Sensei berlari kearahnya.

"Zero, kamu tidak apa-apa" Zero mendengar suara Yagari-Sensei. Dan Zero hanya bisa memberikan tatapan kosong kepada Yagari-Sansei.


Yagari berlari memasuki rumah keluarga Kiryu, dia tadi di hubungi oleh temannya Hana jika seorang vampire DarahMurni berhasil memasuki rumahnya. setelah itu Yagari langsung pergi mengendarai mobil menuju rumah keluarga Kiryu. Begitu dia memasuki rumah, Yagari bisa melihat mayat temannya yang saat ini tergeletek di lantai atas dekat tangga, dia pun berlari menaiki tangga hanya untuk melihat Shizuka yang berlari menerjang Zero. Belum sempat Yagari menembakkan senjatanya yang dia pegang saat ini untuk menyerang Shizuka,maka terdengar suara tembakan yang mengejutkan Yagari, dia tahu jika itu adalah Zero dan Yagari pun menghampiri dimana Zero berada, baru sampai di ujung tangga Yagari bisa mendengar suara tembakan kedua dan melihat langsung jika tembakan kedua ini langsung menembus kearah jantung Shizuka dan langsung merubah Shizuka menjadi tumpukan abu.

Yagari terkejut melihat kejadian itu dan tidak bisa bergerak karena dia baru saja melihat seorang gadis berumur 13 tahun membunuh seorang Vampire DarahMurni dewasa, dia tidak tahu harus bangga atau khawatir, karena pastinya kejadian ini akan membuat gempar baik kalangan Hunter atau Vampire. Namun Yagari tidak ingin mempermasalahkan ini terlebih dahulu, yang terpenting sekarang adalah kondisi murid kesayangannya.

"Zero!?" Yagari pun langsung berlari kearah Zero. Dan memeriksa kondisi muridnya.

"Zero, kamu tidak apa-apa" Yagari bertanya kepada Zero, namun Zero hanya memberikan tatapan kosong padanya.

"Apa yang terjadi" Yagari bertanya kepada Zero.

"Aku mendengar suara ribut-ribut diluar kamar dan pergi memeriksa, begitu keluar aku melihat jika Shizuka membunuh ayah dan menahan ibu. Aku mendekat untuk membantu ibu, namun begitu aku mulai mendekat aku melihat jika tangan Shizuka menembus tubuh ibu, aku terkejut. Dan Shizuka merasakan kehadiranku dan berlari kearahku, aku hanya mengikuti refleks Hunter ku dan menembakkan peluru yang berasal dari Bloody Rose yang kubawa kearahnya" Yagari mendengar penjelasan Zero.

Mendengar penjelasan Zero, Yagari tidak bisa untuk tidak merasa bangga, dia juga bisa menggunakan penjelasan Zero sebagai alasan yang baik untuk menghadapi Dewan Hunter dan Dewan Vampire, mengingat seorang Hunter selalu di latih saat usia muda dan dengan kejadian yang menimpa Zero mereka tidak bisa menyalahkan dia karena refleks Hunternya apabila ada Vampire yang tiba-tiba menyerang.

"Baiklah Zero. Tapi dimana Ichiru" Yagari bertanya kepada Zero karena tidak melihat atau merasakan kehadiran Ichiru.

"Ichiru berada dirumah Kaien Cross" Zero menjawab pertanyaan Yagari.

"Ok baiklah, untuk saat ini kamu tinggal bersamaku" Yagari berkata kepada Zero.

"Bisakah aku tinggal bersama Ichiru, aku hanya ingin bersama Ichiru sekarang" Zero berkata kepada Yagari.

"Baiklah, aku akan menghubungi Kaien nanti. Untuk sekarang mari kita keluar dari sini terlebih dahulu" Yagari berkata sambil membawa Zero keluar rumah Kiryu.

"Bagaimana dengan mereka" Yagari bisa mendengar suara Zero yang menanyakan tentang orangtuanya.

"Mereka akan ada yang mengurus, aku sudah menghubungi yang lain pada saat dalam perjalanan untuk membantu dan mereka akan mengurus orangtuamu nanti" Yagari berkata menjawab pertanyaan Zero.

"Baiklah" Zero berkata dengan tenang mengikuti Yagari keluar rumah.


Setelah memberikan penjelasan yang masuk akal kepada Yagari-Sensei tanpa menceritakan kejadian yang sebenarnya yang terjadi dan tidak menunjukkan kekuatannya yang sebenarnya kepada Yagari-Sensei pada saat melawan Shizuka.

'Karena setelah semua akan lebih baik jika kita memiliki kartu rahasia kan' Zero berpikir sambil tersenyum dalam hati. Namun diluar Zero masih terus memasang wajah tanpa emosi kepada Yagari-sensei.

"Baiklah Zero. Tapi dimana Ichiru" Suara Yagari-Sensei membangunkan Zero dari pikirannya.

"Ichiru berada dirumah Kaien Cross" Zero menjawab pertanyaan Yagari.

"Ok baiklah, untuk saat ini kamu tinggal bersamaku" Yagari berkata kepada Zero.

"Bisakah aku tinggal bersama Ichiru, aku hanya ingin bersama Ichiru sekarang" Zero berkata kepada Yagari.

"Baiklah, aku akan menghubungi Kaien nanti. Untuk sekarang mari kita keluar dari sini terlebih dahulu" Yagari berkata sambil membawa Zero keluar rumah Kiryu.

"Bagaimana dengan mereka" Zero bertanya kepada Yagari tentang orangtuanya.

"Mereka akan ada yang mengurus, aku sudah menghubungi yang lain pada saat dalam perjalanan untuk membantu dan mereka akan mengurus orangtuamu nanti" Yagari berkata kepada Zero.

"Baiklah" Zero berkata dengan tenang mengikuti Yagari keluar rumah. Zero menoleh sedikit ke arah rumahnya dan memberikan senyum kecil sebelum berjalan menyusul Yagari yang sudah mendekati mobil.


~Tbc~

.

.

Please Review