Si stoik Sasuke bersikap sok cool. Padahal jantungnya berdetak cepat layaknya pompa air kosan. Pounding and rustling. And he didn't know his chest could makes that sounds. Cintanya bersemi di kosan sederhana ini. | Setting: kosan di Indonesia. Just bear with me. BL, Ame Pan's.

=====sweet=====

I Just Wanna

By: Ame Pan

Genre:

Romance FTV dan humor krispi bumbu micin

Rate: T

Naruto © Masashi Kishimoto

Warning! OOC karena kebiasaan (?)

Keterangan: Setting kehidupan anak kosan di Indonesia, jadi mungkin kalian akan menemukan beberapa kearifan lokal (?). Diusahakan bahasa tidak 4L4y, tapi dijamin menggunakan kamus-lengkap-bahasa-kotor-untuk-menghujat edisi terbaru. Pfft. Agar lebih menghayati silahkan dengarkan lagu I Just Wanna – Amber ft. Eric Nam… tapi nanti, kalau sudah ada scene romance-nya *insert nasty laughing meme here*

Chapter 4

.

.

.

Siang itu lumayan terik. Tiga sekawan kita terlihat sedang sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Neji berkunjung ke kosan dengan tujuan mengerjakan tugas kelompoknya dengan Sasuke. Namun yang diajak jadi anak teladan sepertinya memang tidak dalam kondisi yang memadai untuk memikirkan masa depan pendidikan mereka. Toh tujuan awal tidak selalu menyenangkan untuk dilakukan. "Lagipula bergosip adalah kegiatan paling menyenangkan nomor 2 setelah nonton Anime Hentai," jelas saudara Kiba sang biang gosip.

"Jadi sekarang mau lo apa, Sas?" tanya Kiba dengan nada serius, berbeda 180 derajat dengan dirinya yang setelahnya membalik halaman komik dewasa 21 tahun keatas. Neji mengernyit jijik. Apa banget manusia ini. Apa nggak ada malunya baca komik mesum di depan orang lain?

"Tenang, yang bikin rating-nya 21 tahun keatas cuma karena tema ceritanya terlampau berat," bela Kiba.

"Hm, percaya." Iya, berat banget. Seberat payudara tokoh perempuan yang terlihat mengangkang di sampul buku. Neji menggeleng tak habis pikir.

Ketiganya kini berada di kamar kosan milik Kiba. Niatnya mau pakai kamar Sasuke saja –karena lebih nyaman ada AC-nya. Tapi mengingat bahan gosip mereka ada disebelah kamar dan mereka tidak yakin Naruto masih ada di kamarnya atau nggak, akhirnya mereka memutuskan memakai kamar Kiba. Ya fasilitas dua kipas angin dan sound system lah, lumayan. Tujuan sesi gosip (?) mereka adalah menyusun rencana dari misi 'Membebaskan Kelajangan Sasuke' dan meluruskan perasaan pemuda itu apakah ia benar suka pada si pirang anak baru atau hanya karena nafsu. Hm. Sangat harus diluruskan itu. Padahal entah apa beda pengaruhnya Sasuke suka pada Naruto atau Sasuke nafsu pada Naruto. INTINYA KAN SASUKE TETEP DOYAN SAMA NARUTO. Menyelesaikan masalah tanpa solusi, kalau begini, sih. Ampun Tuhan, Neji nggak sanggup dengan pola pikir kawan-kawannya.

"Jadi gimana, Sas?" lagi, Kiba bertanya.

"Apanya?" sahut Sasuke. Ia yang entah bosan atau malah salah tingkah karena menjadi concern kedua temannya itu sibuk menyusun tumpukan komik dewasa koleksi Kiba.

"Ya lo maunya gimana terhadap Naruto. Lo mau nembak dia?"

"Kan udah gue bilang, gue sendiri nggak yakin kalau gue suka sama anak itu."

"Tapi kan lo yang bilang juga, kalau lo selalu berdebar saat lihat dia. Itu tanda-tanda orang jatuh cinta, man."

"Iya sih. Tapi efeknya baru terasa empat hari kebelakang. Evidence-nya belum cukup."

"Yaelah, gue suka sama mantan gue di pandangan pertama, dua hari kemudian gue tembak."

"Iya, terus tiga bulan kemudian lo diduain, mampus!"

"Kok lo gitu? Punya dendam apa lo sama gue?!" emosi, Kiba hendak menerjang si rambut hitam namun tubuhnya ditahan Neji. Berdeham menenangkan diri, ia lalu melanjutkan, "yang mau gue tekankan disini adalah cinta bisa muncul dengan tiba-tiba, dude. Lo mungkin bisa menolak perasaan lo, tapi reaksi tubuh lo nggak bisa bohong. Naruto sudah bikin tubuh lo bereaksi dengan atau tanpa lo sadari."

"Ini gue yang overthinking atau kalimat lo barusan menjurus ke porno ya? Kesannya kayak Sasuke bakal selalu ngac*ng aja gitu kalau lihat Naruto," celetuk Neji, memotong suasana serius barusan.

"Well, sekarang belum. Nanti juga nafsu." Dan kepala Kiba kena lemparan komik dewasa. Pelakunya adalah Sasuke.

"Lagipula kalian itu sadar nggak sih? Daripada mempermasalahkan tentang Sasuke yang akan nembak Naruto, atau tentang Sasuke nafsu apa nggak sama Naruto, kayaknya fakta bahwa kita nggak tahu anak itu straight atau gay itu lebih penting, deh," jelas Neji setelah mengamankan Kiba menjauh dari Sasuke. "Percuma kalaupun lo akhirnya memantapkan hati akan nembak dia kalau ternyata dia straight. Ternyata dia homophobe, malah lebih parah, kan? Bisa habis reputasi lo kalau dia sebar-sebar berita ini ke khalayak banyak."

Sasuke yang hendak melempar PS 3 Kiba kepada si pemilik menghentikan tangannya di udara. Wajahnya tetap stoik, namun tatapannya menurun pada kakinya. Neji dan Kiba ikut terdiam, mereka iba. Kawannya itu pasti kalut saat ini. Sulit bagi sang Uchiha bungsu untuk jatuh cinta, yang sudah-sudah ia hanya dipacari karena tampang dan riwayat keluarganya. Sasuke mungkin terlihat cuek selama ini, tapi Kiba dan Neji tahu, pemuda itu juga diam-diam menanti sosok yang bisa ia labuhkan hatinya, dan menerima Sasuke sebagai 'Sasuke'. Hanya Sasuke.

"Kakak-kakak ada yang mau kue?"

"HUAAAA!" Tiga serangkai berteriak koor.

Mata bulat Naruto menatap kaget pada tiga seniornya yang sekarang saling memeluk di satu sudut dekat televisi. Padahal dia hanya mau menawarkan kue kiriman ibunya pada mereka. Naruto tidak sengaja mendengar ramai suara dari kamar Kiba, dan samar-samar ia mendengar suara Sasuke dari dalam, jadi dia berasumsi kakak tingkatnya itu sedang berkumpul disana.

"Err... saya mengganggu ya?" His bad. Mentang-mentang kamar Kiba terbuka lebar ia jadi main muncul saja.

Masih dalam posisi berpelukan, Kiba menyahut, "Eh? Ng-nggak kok, ngga-awh!"

"Iya lah, bodoh!" bisik Neji setelah memukul kepala Kiba.

"Loh, kenapa?" balas Kiba ikut berbisik.

"'Misi', Kib, 'Misi'."

"Ooh, oh iya ya. Tapi nggak enak sama dia."

"Ya elo sih, lagi gibah pintu bukannya ditutup."

"Ya mana gue tahu dia bakal muncul."

"Ada perlu apa?" Kiba dan Neji yang tengah seru bisik-bisikan menoleh cepat dengan tampang horror pada Sasuke. Masih saling berpelukan. Mereka sedang berjuang menyelamatkan Sasuke dari situasi awkward karena ketahuan ngomongin si pirang, doi malah menyahut. Mencari masalah. Gimana sih?

"Mau nawarin kue. Dari Mom," jawab Naruto takut-takut. Nggak tahu juga sih, dia takut atau jijik melihat tiga pemuda dewasa awal yang masih erat membuntal di hadapannya. "Kue-nya saya taruh di depan pintu ya? Maaf kalau saya mengganggu. Permisi." Fix, Naruto jijik.

"Tunggu!" Sasuke segera melepas jeratan tangannya (?) dari Neji dan Kiba, bangkit mengejar Naruto.

Naruto berhenti dan berbalik. Wajahnya menunjukkan raut bingung melihat sang kakak tingkat malah diam di dekat pintu. Terlihat ragu untuk mendekatinya.

"Ya?" tanya Naruto, menginisiasi.

Sasuke bersyukur ia terlahir dengan darah Uchiha yang sangat mahir menutupi ekspresi wajah apapun yang terjadi. Kalau tidak, dijamin saat ini Sasuke sudah megap-megap panik dengan wajah pucat. Bodoh sekali dia Yang Mulia. Untuk apa mengejar segala? Mau tanya Naruto straight atau gay? Mau nembak? Hah! Memangnya kau berani, Sas? Lihat wajah si pirang saja kau sudah gemetar-gemetar sedap begini, sok mau mengungkapkan perasaan.

"Sasuke, you ok?" tanya si pirang dengan nada khawatir sambil berjalan mendekat.

Mati lah sudah. Nggak ada Uchiha-Uchiha-an lagi. Takikardi plus takipnea. Ekstrimitas dingin dan gemetar. Wajah pucat dan berkeringat. Halo, Dokter?

"Kue-nya enak, Nar! Makasih ya!" Nice timing Kiba! Sumpah, sehabis ini Sasuke akan mengajak pemuda anjing itu makan enak di Mall. Hah? Oh, Sasuke bukan mengumpat, kok. Kiba memang senang hewan anjing. Di rumah keluarganya, ia pelihara selusin. Justru dia bangga punya sebutan demikian.

"Oh iya, Kak Kiba, sama-sama." Kepala Naruto kembali menoleh pada Sasuke. "Sasuke, tadi kenap-"

"Mau bilang: kue-nya enak, makasih," potong Sasuke, cepat.

Naruto senyum, tapi dipaksa dan dengan kerutan di dahi. "Iya, sama-sama. Tapi kamu belum nyobain kue-nya, lho. Kok bisa tahu kue-nya enak?"

"Pasti enak, kan buatan ibumu."

Senyum Naruto makin lebar, selaras dengan semakin dalamnya kerutan di dahinya. Barusan itu gombal? "Ah, iya makasih. Tapi Mom nggak bisa masak. Kue-nya beli di toko kue langganan."

"Oh."

"Iya."

"…"

"…"

"…"

"…"

Di dalam kamar, Kiba dan Neji mengurut dada, kasihan. Cringe-nya sampai tenggorokan. Bukan apa-apa, malunya itu lho. Tuhan, tolong ampuni dosa-dosa kawan kami.

"Ok. Kata Kiba enak, jadi ya…"

"Hum." Naruto mengangguk cepat. Berusaha mengurangi malu-nya sang kakak tingkat.

"Tapi kan tetap ibumu yang memilih kue-nya, jadi tetap salut sama beliau. Bisa tahu mana kue yang enak." Terkadang Sasuke bisa jadi tolol juga.

Geuleuh, ih! Meuni pengkuh pisan. Kiba sudah nggak kuat, sumpah.

Naruto sendiri, senyumnya nyaris hilang kalau ia tidak ingat sopan santun kepada senior. "Iya, syukur deh, kalau begitu. Aku balik ke kamar dulu, ya." Naruto melambai sekadarnya dan berbalik. Namun lagi-lagi langkahnya terhenti ketika Sasuke kali ini justru mencekal lengannya.

Naruto menoleh, dan spontan Sasuke kembali kaku. Aduh, Sas, ngapain lagi?!

"Ya?" kali ini ada nada menuntut dari Naruto.

Panik! Panik!

"Err…"

"Sorry, aku ada tugas, kalau nggak ada yang mau diomongin-"

"Ada."

"Don't worry, I'll give your thank-note to her."

"Bukan itu. Ada yang lain."

"Yaitu?"

"Err… I-can't-uh… It's you-"

"Me what?"

"You-well-you know, are you-"

"C'mon Sas."

"Sabar dong!" bentak Sasuke, kalut.

"Loh? Kok jadi aku yang dimarahin?"

"Nggak marah ke kamu."

"Tapi tadi ngebentak."

"Habisnya kamu nggak sabar!"

"Tuh, kan, pakai nada tinggi!"

"Nada bicaramu juga tinggi!"

"Habisnya kamu duluan!"

"Kamu yang nggak paham!"

"Nggak paham apa?! Kenapa jadi aku yang salah?"

"Kamu tuh nggak paham susahnya aku mau tanya kamu gay atau nggak!"

"Ya itu kan urusanmu! Kenapa jadi aku yang-"

"Iya lah kamu yang salah. Insensitive!"

"Apa?!"

"Apa? Mau kelahi?"

"Bukan! Tadi kamu tanya aku apa?"

"Apa?"

"Ih, yang tadi!"

"Yang mana?"

"Yang lo nanya dia gay atau nggak."

"Ooh itu."

"Nah," Naruto menyahuti sambil mengangguk mantap.

….

"!" kepala Sasuke dan Naruto menoleh cepat bersamaan. Dari balik kusen kamar Kiba, terlihat Neji mengacungkan jempolnya pada dua sejoli yang balas menatapnya pongah. Bangga dia, sudah kontribusi dalam perkelahian pasangan ala FTV tadi. Pemeran figuran, lumayan. Neji kembali menarik kepalanya, menghilang di balik pintu kamar yang ditutup perlahan.

=====sweet=====

Orang kalau baru jadian itu biasanya masih dimabuk asmara. Semua yang dilakukan pasangan pasti rasanya seperti melihat keindahan mutlak Surga. Semua yang dikatakan pasangan rasanya seperti mendengar lantunan puisi terindah Malaikat di hamparan padang bunga. Intinya semua tentang pasangan pasti indah. Awal-awal pacaran itu biasanya pasti masih lengket. Tidak melihat chat pacar sedetik saja rasanya rindu. Tidak mendengar suara pacar rasanya seperti pengguna NAPZA yang tidak dapat asupan, sakaw. Atau begitulah yang dijabarkan Mahaguru Dr. Kiba, S.P., S. P2LTB. Spesialis percintaan, spesialis pacaran paling lama tiga bulan. Tapi boro-boro teori itu berlaku untuk Sasuke. Jadian-pantat-nenekmu! Sudah 3 hari Naruto seperti melihat hantu kalau lewat depan kamar kosannya, apalagi melihat sosoknya. Jelas bukan main kalau anak itu menghindari Sasuke. Well, ia akui kalau ia akhir-akhir ini sakaw karena tidak bisa melihat Naruto dengan semestinya (?).

Setelah insiden keceplosan-bertanya-gay-atau-straight itu Sasuke kehilangan kesempatan bahkan untuk mendengar suara si pirang yang biasanya dengan ceria memanggil namanya. Pernah suatu waktu anak itu sedang mengobrol dengan Kiba dan matanya menangkap sosok Sasuke yang sedang mengunci pintu kosan –hendak kuliah- dari kejauhan. Naruto langsung bungkam dan pamit ke rumah temannya ingin main sampai sore pada Kiba. Ya Kiba heran. Kenapa harus izin padanya? Memangnya ia ibu si pirang sampai harus tahu Naruto mau kemana, sama siapa, alamatnya dimana. Rinci betul. Tapi serius, loh. Naruto sungguhan memberikan alamat lengkap temannya itu pada Kiba sebelum melesat pergi. Lah, mau kabur mah kabur saja, Mas, pulangnya minta dijemput atau bagaimana ini maksudnya? Kiba berasa ojek online.

"Fix homophobe kayaknya, Sas," celetuk Kiba sambil menyentik kepingan biji karambol. Ia berdecak kesal karena tidak ada yang masuk.

"Berisik lo," balas Sasuke. ia menabur bedak bayi banyak-banyak pada papan karambol. Kiba sampai batuk-batuk tersedak.

"Ya salah sendiri impulsif. Sudah tahu riskan, malah dicegat. Pakai berantem sinetron pula."

"Iya-iya, namanya juga khilaf." Sasuke ber-yes kecil melihat sudah tiga keping karambol yang masuk.

"Itu sih bukan khilaf, tapi tolol," sambung Neji sambil melanjutkan gilirannya. Ia sedang menginap di kosan Kiba. Niatnya sih menginap di kamar Sasuke, tapi ia urungkan karena yang punya sedang galau. Kan siapa tahu ada setan lewat, lalu Sasuke khilaf, melampiaskan frustrasi seksualnya pada Neji. Hii! Amait-amit jabang bayi. Neji masih doyan payudara besar tante-tante, Ya Gusti.

Sasuke akan melempari Neji dengan biji karambol ditangannya namun diurungkan karena Kiba sebagai yang punya keburu mengancam 'biji karambol gue hilang, lo ganti pakai biji lo'. Mahasiswa kere mah sadis saudara-saudara. Tiga pemuda itu lalu melanjutkan turnamen karambol mereka.

"Terus, sekarang gimana?" tanya Kiba pada Sasuke.

"Ya nggak gimana-gimana, Kib. Habis sudah manusia ini," malah Neji yang lebih dulu menjawab. "Berdoa saja di fakultas lo nggak muncul gosip Sasuke si HHH."

"Hah apaan tuh?" tanya Kiba.

"Handsome-handsome homo."

"Pfft."

"Bacot ya ini ibu-ibu berdua." Sasuke sudah akan membalik papan karambol kalau saja Kiba tidak buru-buru angkat suara.

"Eh, tapi kan Sasuke belum nembak Naruto. Baru tanya dia gay atau nggak, jadi belum tentu dia tahu kalau Sasuke gay." Suara Sasuke yang membela diri dengan 'gue nggak gay anj***' dihiraukannya. "Bagaimana kalau ternyata anak itu menghindari Sasuke karena tersinggung mengira lo menghakimi dia itu gay," lanjutnya sambil menunjuk tepat ke hidung bangir Sasuke.

Sasuke dan Neji diam.

"Kok lo bisa cerdas, Kib?" celetuk Neji setelah 2 menit lalu hening. Sasuke menggangguk setuju.

Hening lagi.

"Awas lo berdua kalau pinjam karambol gue lagi. Nggak sudi gue."

"Iya iya iya, ampun Kib, maaf." Neji buru-buru sungkem. Oh ayolah, begadang tanpa karambol itu bagai menyeduh kopi tanpa kopi. Hambar, rasa air panas doang. "Kalau memang begitu kasusnya, berarti lo tinggal minta maaf, Sas."

"Tinggal-mintamaaf-gondrongmu! Lihat wajah gue aja, anak itu langsung kabur. Lagipula, seandainya bisa pun, gue harus kasih alasan apa? Bilang ke dia gitu kalau maksud gue bukan judging, tapi karena gue pengen nembak dia seandainya dia gay? Ya sama saja keluar mulut singa, masuk mulut buaya."

Ketiganya lalu hening lagi.

Dalam hati Sasuke membatin sendu. Kenapa kehidupan percintaannya pelik begini. Kenapa juga dia harus jatuh cinta pada adik tingkatnya yang notabene pria itu. Mau marah tidak terima pada Tuhan juga percuma, toh sudah kejadian. Sudah kepalang suka. Neji dan Kiba sebagai sahabatnya juga merasakan kesedihan sang Uchiha bungsu. Mereka mulai menepuk punggung dan pundak Sasuke.

Keheningan tersebut lalu terpecah ketika ketiganya menyadari suara gemerisik yang tidak wajar. Neji menoleh ke semak-semak seberang kamar Kiba. Tidak ada pergerakan berarti yang bisa menghasilkan suara gemerisik sekeras itu. "Kalian dengar nggak?" tanyanya sanksi.

"Apaan?" tanya Sasuke balik, mencoba memastikan apa yang dimaksud temannya itu adalah suara yang sama dengan apa yang didengarnya.

"Suara gemerisik-"

Ngeeek. Suara engsel berkarat menggema diantara suara angin.

"Suara gerbang sih gue dengarnya," jawab Kiba sambil dengan polosnya menunjuk arah gerbang kosan yang berada di belakang punggungnya. Sasuke dan Neji mau tak mau jadi menoleh kearah tersebut. Tidak ada orang disana.

"Jam berapa ini?" tanya Sasuke tiba-tiba.

"Setengah dua pagi," Kiba menjawab.

Neji dan Sasuke mengangguk seirama. Lalu hening lagi.

Ngeeeeeek.

"Dingin, ya?" kali ini Neji yang bersuara.

"Iya." Sasuke.

"Ngantuk ya, bro." Neji.

"Iya." Sasuke dan Kiba kompak menjawab.

Krssk krssk.

"Gue nginep di kamar lo ya, Kib," pinta Sasuke.

"Nggak ah, sempit nanti kasur gue. Lo punya kamar sendiri juga."

"Si gondrong tidur di lantai deh."

"Apa-apaan! Kan gue yang izin nginep duluan. Kalau mau elo yang di lantai."

"Nggak biasa tidur di lantai gue, 'Ji."

"Ya lo pikir gue biasa tidur dimana? Lapangan?" Neji senewen

Ngeeeeeeeeek… "Uhuk uhuk!"

"'Ji, ada yang batuk, 'Ji." Sasuke sudah beringsut menempel pada Neji.

"Iya tahu. Nggak perlu peluk-peluk."

Krssk krssk. Ngeeeek. "Uhuk-uhuk. Ih!"

"Waduh, ada 'ih'-nya sekarang," celetuk Kiba menambahkan.

"Uhuk uhuk."

"Ya, Kib, gue nginep di kamar lo ya? Please."

"Uhuk uhuk uhuk."

"Kib, please"

"Ohok ohok!"

"KIB!"

"HUATCIIM!"

"WAAAAAAAAAAA!" Tiga pemuda tanggung itu menjerit dan berhamburan berebut pintu kosan Kiba.

"AWAS GUE DULUAN YANG MASUK!"

"APAAN LO, INI KAMAR GUE!"

"BERISIK KALIAN, MINGGIR!"

"BACOT LO, GONDRONG!"

"AAA KARAMBOL GUE. KARAMBOL GUEEE!"

Lalu pintu kamar milik Kiba ditutup dengan suara bantingan yang berhasil membangunkan ibu pemilik kos.

.

.

.

Pagi itu, pukul 7, Sasuke bangun dengan wajah yang teramat tidak segar. Sudah semalam begadang, dia harus tidur di lantai kamar Kiba pula. Dingin dan linu sebadan-badan. Dia mencoba merentangkan sendi-sendinya, dan bunyi gemeretak terdengar ramai serta menyakitkan. Sasuke menoleh pada ranjang. Kiba dan Neji masih tidur pulas, dengan kaki Kiba melintang di perut Neji. Ya, rasanya ia bersyukur juga tidak jadi tidur di ranjang. Ujung-ujungnya sama saja, badannya akan sama-sama sakit.

Ia lalu beranjak keluar kamar sambil mengusap mata dan wajahnya. Tepat ketika daun pintu terbuka, matanya bertemu dengan sepasangan iris biru yang membulat, kaget. Di hadapannya kini berdiri pemuda pirang dengan pakaian tebal dan muffler, yang semalam jadi bahan pembicaraan dengan kedua temannya. Pemuda itu berdiri tegak dan kaku, terlihat sangat tidak nyaman harus berpapasan dengan Sasuke. Ada rasa nyeri di dada Sasuke saat dia menyadari gestur itu. Berusaha menghiraukan perasaan tidak nyaman itu, Sasuke dengan cuek keluar kamar dan menutup pintu kamar Kiba. Ia lalu berjalan melewati Naruto tanpa mengatakan apapun. Dia kemudian bisa mendengar suara langkah kaki Naruto berjalan menjauh.

Pagi itu, angin yang berhembus cukup dingin. Sasuke menggosok hidungnya yang terasa agak kering. Ah, anak itu pasti tidak tahan dingin, batin Sasuke mengingat betapa tebal pakaiannya tadi. Sasuke tersenyum kecut. Bisa-bisanya dirinya merasa khawatir pada seseorang yang tidak ia kenal baik, tak peduli padanya, bahkan mungkin sekarang benci padanya.

"Uhuk uhuk!"

Sasuke menoleh kebelakang. Ia memandang dari jauh punggung kecil Naruto yang tersentak setiap kali batuk. Ada gemuruh tak nyaman di hatinya kala mendengar suara batuk itu. Si pirang terlihat mengusap kedua lengannya bergantian, mencoba menghangatkan tubuhnya. Lalu kembali berjalan menuju gerbang kos. Walau tubuh itu sudah menghilang dibalik tembok pagar kosan. Nyatanya Sasuke masih dapat mendengar sayup-sayup suara batuk Naruto. Ia menghela napas dan menggeleng, lalu berbalik dan melanjutkan perjalan ke kamarnya sendiri. Dahinya berkerut. Raut wajahnya berubah serius.

"Kenapa suara batuknya familiar, ya?" ucapnya pelan.

.

.

.

Bersambung.

Thanks a lot to:

1) Remah roti29 k c 7D babablacksheep bangor-nyan kucingkampunglucu Guest (s), who kindly gave this shitty ff all the nice reviews and support

2) To all who put this ff on your fave list and follow my update

3) And to you guys who kindly spent your time to read my ff

I'll try my best to finish this and all my stories in this account. Sorry to make u guys wait, please support me more

/tebar roti manis/

Love, Ame Pan.