Naruto © Masashi Kishimoto

Naughty Kiss

A Naruto Fanfiction by UchiHaruno Misaki

.

[SasuSaku] x Toneri


Jam sudah menunjukkan pukul empat sore dan aku baru saja pulang dari sekolah. Lalu, aku tidak mungkin melupakan kejadian bagai mimpi yang menimpaku dua hari terakhir ini. Pertama, adalah Uchiha Sasuke yang menciumku di kelas berikut di kedai ramen keluargaku pada malam harinya. Kedua, di lapangan sekolah tadi. Di mana si freak menyebalkan itu memperkosa bibirku–lagi.

Kemudian, apa lagi ini? Kenapa lelaki ini ada di depanku? Haha! Ini tidak mungkin. Pasti ini mimpi. Ya, Tuhan ... tolong tampar aku sekarang! Ini tidak nyata. Ini khayalan. Ini pasti mimpiku. Hahaha! Ini pasti mimpi konyolku selanjutnya 'kan?

Ya, ini pasti—

"Jenong, kau 'kah itu?"

DEG! Ini nyata... oh, my God!

Dia, lelakiku ... ini nyata? Ya Tuhaaaaaaaaan! Tunggu ... apa katanya? Jenong? Je ... nong? J-e-n-o-ng? JENONG?! What the hell?! Dia masih mengingat panggilan sayangnya untukku!

Aku menatapnya shock, setengah tak percaya, setengah zebel, setengah kezel, setengah marah, setengah senang, sete—baiklah, cukup! Kenapa diriku memiliki banyak sekali setengah? Sebegitu lebarnya 'kah diriku? Setahuku, tubuhku hanya memiliki diameter, baiklah—sekali lagi—cukup! Memangnya aku barang yang bisa diukur dengan rumus panjang kali lebar? Oke, lupakan.

"Kau!" Aku berteriak histeris.

"Aku?" kulihat dia tersenyum kecil dan menunjuk dirinya sendiri. "Ada apa denganku? Tidak 'kah kau merindukanku, Jenong?"

Tanpa sadar kugigit bibir bawahku kuat-kuat hingga terasa keram dan kutatap mata birunya dengan pandangan buram. Ya ampun, sejak kapan mataku berkaca-kaca? "Kakak ..," gumamku lirih.

Dia melepaskan genggaman tangannya dari koper yang ia bawa, lalu ia melepas kacamata hitamnya. Dan terakhir dia membuka lebar kedua tangannya.

Entah sejak kapan aku memiliki kekuatan teleportasi seperti Jong In Oppa dalam video clip EXO yang berjudul MAMA. Yang aku tahu, tak sampai hitungan detik aku telah berada dalam dekapan hangat lelaki yang selama ini kurindukan.

"Apa kau merindukanku?" Dia berbisik pelan. Tak pelak aku pun langsung mengangguk pasti.

"Tentu saja. Aku merindukanmu, Kak Toneri. Sangat merindukanmu!"

Apa aku pernah menceritakan siapa kak Toneri? Yap, dia adalah Otsutsuki Toneri, pangeran berkuda putihku, pujaan hatiku, jodoh sejak lahirku dan suami masa depanku. Uhuk, maksudku, dia adalah mantan tetanggaku. Ya, setidaknya ia telah menjadi tetanggaku sejak aku lahir hingga aku berusia delapan tahun. Usia kami terpaut cukup jauh. Sepuluh tahun.

Yang aku tahu, kak Toneri harus pindah ke Otogakure untuk melanjutkan pendidikannya. Psst, kudengar Universitas di Otogakure bagus. Maka dari itu kak Toneri memilih untuk pindah ke sana. Masih sangat segar dalam ingatanku saat kak Toneri pindah aku menangis histeris. Bahkan ayah dan ibu dibuat kewalahan karena tangisanku tidak berhenti sampai dua hari dua malam. Geez!

"Apa sebegitu tampannya aku sampai membuatmu meneteskan air liur seperti itu?" Sedikit tersentak kaget, aku mengerjapkan mataku beberapa saat ketika kak Toneri ternyata sedang menatapku dalam dengan senyum kalemnya. Oh, wajahku terasa sangat panas. "Wajahmu memerah." Katanya sambil menusuk pipiku dengan jari telunjuknya.

"Hentikan," kutundukkan kepalaku sambil memakan es krim miliku yang ternyata sudah meleleh. Astaga, sudah berapa lama aku melamun? Sesekali kuintip wajah rupawan pangeranku dari sela poniku yang menyamping. Ya ampun, aku malu sekali.

Setelah acara reuni mengharukan di depan rumahku, kak Toneri mengajakku jalan-jalan dan di sinilah kami berakhir. Taka's Cafe. Jam telah menunjukkan pukul tujuh malam. Kami banyak bicara. Dan yang membuatku senang adalah kak Toneri ternyata akan menetap di sini. Menjadi tentanggaku lagi, lebih dari itu ... aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk membuatnya terpesona padaku.

Lelaki dewasa pasti menyukai wanita yang dewasa juga. Well, yeah ... aku memang bukan wanita dewasa, tapi aku wanita muda yang cukup menarik. Aku mempesona, seksi—uhuk, intinya siapa sih yang tidak tertarik pada daun muda sepertiku? Fufufu...

"Masih tidak berubah ternyata," katanya sambil meminum kopinya tanpa melepaskan tatapannya dariku. "Tapi, aku suka rona merah yang selalu menghiasi pipimu itu, Jenong?"

Tuh 'kan? Belum apa-apa dia sudah menyukaiku. Kyaaaaaaaa! Aku hanya bisa tersenyum gugup dan menyampirkan anak rambut yang menghalangi pandangan ke telingaku.

"Sakura," mataku sukses melotot ketika entah sejak kapan kak Toneri duduk di sampingku dan dalam hitungan detik aku memekik kecil ketika dia mengangkatku ke pangkuannya. Catat, ke pangkuannya! "Kau sudah tumbuh dewasa, dan terlihat semakin cantik. Kau membuatku bergairah dengan bentuk tubuhmu yang ini," katanya sambil meremas ... ya ampuuuuun!

"Kyaaaaaaaaaaa! Jangan! Jangan sentuh dadaku!" aku berteriak histeris sambil melindungi buah dadaku dengan kedua tanganku.

"Hah?!"

DEG! Tubuhku mematung ketika suasana mendadak hening. Kulihat seluruh pengunjung kafe menatapku cengo, lebih dari itu ... kulihat kak Toneri yang menatapku heran dari tempat duduknya tepat di hadapanku. Astaga, jadi tadi aku berkhayal melakukan adegan eksotis dengan kak Toneri?

Belum sempat rasa shock ini sembuh, mendadak aku merasa melayang. Dan ... mata kak Toneri terbelalak melihatku. Ada apa? "Sakura, awas!"

"Kyaaaaa!" ternyata bangku kafe yang aku duduki akan jatuh ke belakang akibat tanpa sadar tadi kudorong dengan punggungku. Ya Tuhan, kupejamkan kedua mataku erat. Aku akan jatuh. Menghitung detik demi detik kepalaku akan mendarat di lantai kafe yang keras membuatku bergidig. Namun, sudah lima detik, tapi kenapa aku masih merasa melayang? Dan, apa ini? Sesuatu yang ringan dan lembut menyentuh kedua sisi wajahku.

Kuberanikan untuk membuka mataku dan ... DEG! Rasanya bagai tersesat di langit malam tanpa bintang. Aku terpaku, menatap iris jelaga hitam sekelam malam yang sedang menatapku tenang. Mata itu ...

"Sudah puas kau berselingkuh di belakangku?" desisnya sinis.

... Astaga, Uchiha Sasuke? Tidaaaaaaaaaaak! Kenapa dia ada di sini?!

Kulihat ia berdiri setengah menunduk di belakang tubuhku dengan kedua tangan kekarnya yang menahan bangkuku. Ternyata sesuatu yang ringan dan lembut menyentuh kedua sisi wajahku adalah poninya. Che, apa-apaan itu? Mana kacamata culunnya?! Mau tampil sok keren di depanku? Cih. Dan apa katanya tadi, berselingkuh? Yang benar saja. Dia pikir dia siapa?

"Kau harus dihukum." Dia bersuara lagi.

Eh? A-apa? Jangan-jangan ... aku menatap Sasuke memelas. "Tidak, Sasuke ... kumohon, jangan lagi," ujarku pelan. Sasuke hanya diam, menatapku bengis dan ... kututup kedua mataku sambil menahan tangis ketika melihat Sasuke mendekatkan wajahnya padaku dengan bibir sedikit terbuka. Bersiap melahap bibirku lagi. Segilanya aku pasti hanya akan membiarkannya menciumku di tempat yang sepi, tapi ini ... di dalam kafe yang ramai dengan seluruh mata yang kuyakini mengarah padaku. Mempermalukanku eh, Uchiha?

Chu~

Tamatlah riwayatku. Aku membencimu—hah?! Ini terasa basah dan ... hangat. Dengan cepat kubuka kedua mataku dan menatapnya tidak percaya. "S-Sasuke?"

"Aku selalu suka ketika kau memanggil namaku," katanya tenang sambil mengusap sedikit salivanya yang membasahi keningku. Bekas kecupan basahnya. "Panggilah terus namaku. Tatap aku. Hanya aku dan mulai sekarang kau adalah pacarku. Pacar Uchiha Sasuke." Dia menatapku dengan tatapan yang tidak aku mengerti, tapi aku tahu ... dia tidak main-main dengan ucapannya.

"S-Sasuke, aku—"

"Aku tidak menerima penolakan. Lagipula ini bukan permintaan, tapi perintah." Katanya arogan.

Udara, di mana udara? Kenapa mendadak aku lupa caranya bernapas? Aku bahkan tak peduli dengan tatapan para pengunjung kafe yang menatap kami dengan senyum kecil di wajah mereka, dan ... kak Toneri. Astaga! Aku lupa dengannya. Kulihat kak Toneri sedang menatap kami—aku dan Sasuke, datar tanpa ekspresi.

Sasuke menyentuh daguku dan mengarahkan tatapanku kembali padanya. Iris matanya menatapku tajam. "Dan Uchiha selalu mendapatkan apa yang mereka inginkan." Ucapannya diakhiri dengan kecupan ringan di atas bibirku. Lagi.

Siapa saja, tolong tampar aku! Shannarooooo!

A/N : Baru nulis lagi setelah hibernasi sekian lama. Well, masih ingatkah dengan fic ini? :D