chapter 3...
hohoho...
akhirnya oh akhirnya Gray (saya salut kepadamu nak)
Disclaimer: Hiro Mashima (selalu) hanya ide cerita (dibantai pak Hiro)
Rating: M.
Pairing : GrayJuvia.
Warning : geje, abal, tdk sesuai dgn EYD, aneh, OOC.
not like don't read
hehe..
jangan lupa review ya, buat masukkannya XD
sebelumnya :
"Ini pertama kalinya kau melakukan hal seperti tu, rasanya menakutkan juga ya. Dan apa-apaan dada itu. Kenapa dia tidak memakai bra saja, untung dia masih memakai celana dalam," Gray melepas bajunya. Dan ikut masuk ked alam selimut.
"Sial, kenapa dadanya besar sekali," Gray berusaha memeluk Juvia dan merasa aneh dengan dada Juvia yang menggesek-gesek dada bidangnya.
"Kenapa pada saat ini aku malah kepikiran apa yang dilakukan oleh teman-temanku ya," Gray berusaha melawan hasratnya untuk meremas dada Juvia dan tidur dalam keadaan memeluk Juvia.
Beberapa saat berlalu Juvia merasa dia tidak bisa bernapas dengan bebas. Saat dia membuka matanya dia melihat Gray-nya ada di depannya. Pertamanya Juvia merasakan bahwa dia telah mimpi indah saat terbangun melihat Gray-nya tidur bersamanya.
Tapi setelah beberapa saat Juvia tersadar bahwa itu bukan mimpi, Juvia meilhat Gray-nya tidak memakai baju seperti biasanya. Tapi dia merasa ada yang aneh. Saat Juvia melihat dirinya dia tidak memakai baju sama seperti Gray-nya.
Juvia tidak langsung berteriak tapi akibat kegarakan yang ditimbulkan Juvia, Gray terbangun.
"Juvia? Kau sudah bangun?," Gray bertanya dengan tampang baru bangun tidurnya.
"G…Gray-sama," Muka Juvia pucat.
"Hei, kau tidak apa-apakan? Tidak ada yang sakit? Apakah kau masih kedinginan?," Gray langsung menyentuh kening Juvia.
Juvia terlonjak kaget.
"Gray-sama… apa yang kau lakukan di kamarku?," Juvia bertanya masih dengan tampang shocknya.
"Apa yang aku lakukan? Justru aku yang harus bertanya kepadamu. Kenapa kau bisa berada di kamarku," Gray menjelaskan sambil menguap.
"A…Aku… di kamar Gray-sama… aku…," Juvia berkata dengan bingung dan mukanya sudah merah.
"berhenti memanggilku Gray-sama. Panggil aku hanya dengan Gray saja. Dan kenapa kau. Mukamu merah," Gray diam sesaat dan akhirnya menyadari posisi mereka.
"Eh, Juvia. Tenang aku bisa menjelaskan keadaan kita," Muka Gray sudah sama merahnya dengan Juvia.
"Tapi… aku… ," Juvia tergagap.
Pertama Gray melihat Juvia malu seperti ini. Dan hal itu langsung membuat dirinya terpengaruh. Tiba-tiba muncul ide. Gray langsung tersenyum. Juvia merasakan firasat buruk.
"Anu… err… Gray-sama. Mungkin aku harus kembali ke kamarku," Juvia siap-siap untuk bangun tapi ditahan oleh Gray.
"Kau mau kemana Juvia?," Gray dengan senyum mesumnya.
"A…aku harus…," Juvia memerah melihat senyuman Gray.
"Kau harus apa? Ini sudah larut malam. Sebaiknya kau tidur disini saja," Gray masih memegang Juvia.
"Eh, tapi…," Juvia bingung harus menjawab apa.
"Ayo sini," Gray menarik tanggan Juvia dan memeluknya sambil posisi tiduran.
"Ah… Gray-sama… aku harus memakai baju dulu," Juvia berusaha melepaskan diri dari Gray.
"Kau berhenti memanggilku dengan sebutan –sama . Lagian kenapa kau harus memakai bajumu. Dari tadi kita tidur seperti ini," Gray mulai lagi dengan senyuman mesumnya.
"Ta.. Tapi aku merasa tidak enak seperti ini," Juvia merasa bahwa mukanya sudah semerah tomat.
Gara-gara melihat Juvia seperti itu, ditambah dari tadi dia sudah melihat teman-temannya melakukan 'itu' dan sekarang dia bisa merasakan gesekan dada Juvia lalu 'punya'nya sudah setengah keras. Pertama-tama Gray mengurungkan niatnya untuk menyentuh Juvia. Tapi karena Juvia dari tadi tidak bisa diam menggesek-gesekkan dadanya itu semakin menambah perasaan untuk meremas dada Juvia.
"Juvia… apakah kau merasakannya," Gray dengan tampak mupengnya.
"Me…merasakan? Merasakan ap-," sebelum bisa menjawab Juvia sudah di cium oleh Gray.
Pertama-tama hanya ciuman sekilas. Tapi tampaknya Gray tidak puas dia melanjutkan dengan penuh nafsu.
"Tung… tunggu dulu Gray-sama… ak-," Gray mencium Juvia dengan penekanan "berhenti memanggilku dengan –sama," Gray menatap Juvia seakan makanan.
Gray mencium sebentar Juvia dan akhirnya turun ke lehernya, berbisik di telinganya "Juvia, aku sudah lama menantikan ini," sambil berkata Gray mencium leher jenjang Juvia dan meninggalkan tanda di sana.
"Su..sudah lama," Juvia baru melihat mata akan hasrat di mata Gray. Sesaat dia merasa takut. Bahwa Gray-nya telah berubah.
"Kau tidak perlu takut Juvia, aku akan memperlakukanmu dengan sangat baik," Gray yang menyadari ketakutan Juvia tersenyum lembut dan mencium dengan penuh kasih sayang.
"Gray aku," dengan suara yang hamper mirip desahan. Menyebabkan Gray bersemangat.
Gray mulai mencium Juvia dengan bersemangat dengan tangannya yang mulai meremas dadanya. Lalu beralih mengjilat, menghisap, dan menggigit dada Juvia. Sehingga membuat Juvia mendesah tertahan. Gray senang melihat perubahan ekspresi Juvia. Dia muali memainkan kedua dada Juvia dan meninggalkan tanda di kedua dadanya.
Juvia mendesah sambil memanggil nama Gray. Itu cukup membuat Gray berani melakukan hal-hal yang baru agas Juvia bisa memanggil namanya lagi. Sambil menghisap Dadanya tanggan Gray mulai beralih turun ke 'kewanitaan' Juvia.
Sesaat Juvia terkejut tapi akhirnya bisa menikmatinya.
"Hn… Ah… Gray… itu sangat menyenangan… ah…," Juvia merasa kesenangan atas sensasi yang di berikan Gray.
Gray mulai menggunakan lidahnya untuk bermain. Juvia langsung berteriak memanggil namanya.
"Juvia kau sangat basah," Gray tersenyum mengejek.
"AKu sangat menyukai sensasinya Gray," Juvia mencium Gray.
"Juvia aku sudah tidak tahan, bolehkan aku…," Gray bertanya sambil menjilat dan mencium tonjolan di daerah 'kewanitaan'nya.
"Hn.. yaeh… ," Juvia agak ragu-ragu sesaat. Tapi Gray menciumnya lembut dan membisikkan kata-kata manis.
Lalu Gray memasukkan 'itu' ke dalam lubang kewanitaan Juvia. Sesaat Juvia tidak bisa merasakan yang namanya bernapas. Juvia sangat aneh saat merasakan sensasinya antara sakit dan senang. Tampaknya hal tersebut juga dirasakan oleh Gray (maklum baru pertama pertama kali).
Pertama-tama Gray bergerak lambat. Tapi Juvia meminta untuk bergerak cepat. Gray menurutinya karena Gray juga ingin merasakan sensasinya.
"Juvia kau begitu ketat," Gray tersenyum mengejek.
"Ah.. ah.. Gray… kau… kau bergerak dalam diriku… ughh… Gray…"
"Juvia… tampaknya aku sudah… bolehkah aku melakukannya di dalam mu?"
"Ah.. iya… aku … kau di dalam ku… ah… Gray…"
Akhirnya Gray dan Juvia telah berhasil melakukannya untuk pertama kali (yey sembah sujud).
"Hah…ha… Juvia aku tidak mengira. Seharusnya kita melakukannya lebih cepat," Gray tersenyum dan memeluk Juvia.
"hehe… aku mencintaimu Gray-sama," Juvia tersenyum.
"Kan sudah kubilang jangan memanggilku dengan sebutan Gray-sama," Gray merenggut.
"An… Gray… kau jangan marah," Juvia memasang tampang innocentnya dan bermain-main dengan leher Gray.
kha!
terwujud juga mimpi bikin ini
hehe XD
RnR ya
