Baekhyun terhuyung melewati lantai ubin berwarna putih. Aroma antiseptik menyerang inderanya. Lelaki dan perempuan dalam pakaian rumah sakit biru dan hijau bergegas di antara ruangan dan pasien.

Dia melirik sekilas ke pos perawat sebelum melintasi ke lorong dimana Mr. Park berada. Saat Baekhyun akan melangkah masuk ke pintu, seorang perawat menahannya.

"Tidak. Anda tak dapat masuk kesana. Anda harus menunggu di ruang tunggu."

"Bagaimana dia?"

"Kami belum tahu apapun. Mereka sedang menjalani beberapa tes."

Si perawat mencengkeram bahu Baekhyun. "Jika anda duduk menunggu, seseorang akan- "

Baekhyun menggelengkan kepalanya dengan marah ke kiri dan kanan. "Aku mohon, ijinkan aku di sini. Aku tidak akan mengganggu, aku berjanji. Dia tak ingin aku meninggalkannya!"

Perawat itu melihat perut Baekhyun yang membengkak, dan ekspresinya melembut. Dia melirik melewati bahunya sebelum menghela nafas.

"Baiklah. Adakah orang lain yang harus kau telpon?"

Baekhyun telah begitu termakan oleh hantu masa lalunya bersama dengan kondisi Mr. Park, dia bahkan tidak terpikir untuk menelepon Chanyeol atau saudara-saudara perempuannya. Tangan Baekhyun terbang ke mulutnya.

"Ya Tuhan, aku tak percaya aku tak menghubungi anak-anaknya!"

"Tidak apa-apa, sayang. Aku yakin banyak yang harus kau pikirkan. Kenapa kau tak kesana?" perawat itu menunjuk ke meja dengan telepon hitam mengkilat di atasnya.

Baekhyun mengangguk dan berjalan meninggalkan pintu ruangan Mr. Park. Dia duduk di kursi plastik yang tidak nyaman.

Dengan saudara perempuan Chanyeol yang tinggal di luar kota, Chanyeol adalah yang paling dekat untuk datang ke rumah sakit.

Baekhyun mencoba menghubungi saudara Chanyeol terlebih dahulu, berharap dia dapat membuatnya menghubungi Chanyeol. Tapi dia tak mengangkat telponnya, jadi Baekhyun terpaksa meninggalkan pesan suara yang memintanya menghubungi Baekhyun sesegera mungkin.

Dengan jari yang bergetas, dia menekat nomor ponsel Chanyeol. Chanyeol menjawab di dering yang ketiga.

"Ini Chanyeol."

.

.

Suara Chanyeol yang dalam menggetarkan telinga Baekhyun membuat dadanya menegang. Untuk beberapa saat, dia tak dapat memproses pikirannya, dan pastinya tak dapat berbicara.

"Halo?" Chanyeol mendesak.

"Um, ini aku."

Chanyeol menarik nafas tajam di saluran seberang. "Baekhyun" cara dia menyebutkan namanya membuat Baekhyun gemetar.

Suaranya berdengung dengan campuran antara kegembiraan dan penderitaan. "Tuhan, benar-benar menyenangkan mendengar suaramu."

Baekhyun tetap tidak bergerak, tidak bicara, dan tidak berkedip. Chanyeol membuatnya lumpuh hanya dengan suaranya.

"Tolong katakan sesuatu. Tolong bicara padaku, Baekhyun," dia memohon.

Segeralah sadar sebuah suara dalam dirinya berteriak.

Dia menggelengkan kepalanya. "Aku tidak menelpon karena itu semua. Ini ayahmu. Kami di UGD."

Nada suara Chanyeol berubah dalam sekejap. "Tunggu, apa yang terjadi pada Ayah?"

"Aku belum tahu. Dia merasa sakit di dadanya dan terjatuh d VFW. Mereka sedang menjalankan beberapa tes. Dia sadar dan bernafas sendiri."

"F*ck, aku satu jam perjalanan." Dia menggeram dalam rasa frustasi.

"Aku akan secepatnya kesana."

"Oke," Baekhyun menjawab.

Dia menutup telepon sebelum Chanyeol dapat mengatakan yang lainnya. Baekhyun mengalihkan kembali perhatiannya ke pintu ruangan Mr. Park.

Sebuah keabadian yang lambat tampaknya berdetik saat Baekhyun menunggu berita. Dia berjalan mondar-mandir di luar ruangan. Setiap kali dokter atau perawat masuk, Jantungnya terasa berhenti.

Meremas-remas tangannya, doa tak berhenti di dalam pikirannya. Setelah tidak berhasil mencoba membujuk dua orang perawat untuk memberinya berita terbaru, dia mencegat orang berikutnya yang keluar dari pintu.

Melilitkan jari-jarinya pada jas putihnya, Baekhyun memegangnya erat-erat saat air mata menggenang di matanya.

"Tolong, aku mohon kau harus memberi tahuku apa yang terjadi!" dia menuntut.

Dokter itu membawa tangannya pada tangan Baekhyun, tapi bukannya mendorongnya menyingkir, dia menggenggamnya dengan lembut dalam tangannya. Dia melihat ke atas ke dalam sepasang mata coklat penuh perasaan yang memancarkan empati.

"Siapa namamu, sayang?" dia bertanya.

"Baekhyun."

Sebuah senyum hangat melintas di wajah tampannya-senyum yang bila terjadi di situasi yang lain akan menyebabkan jantung Baekhyun berdetak sedikit lebih cepat atau bahkan sebuah pergerakan di bawah pinggangnya.

"Baekhyun, Saya dr. Jaehyun Saya perlu Anda untuk mengambil nafas panjang dan tenang, oke?"

Baekhyun menggeleng dengan liar. "Tapi saya – dia – "

"Mr. Park akan baik-baik saja. Kami telah menstabilkannya saat kami melakukan beberapa tes. Tapi tampaknya tidak ada yang membahayakan jiwanya. Dia di tangan yang baik. Saya berjanji."

Berita itu membuat lutut Baekhyun lemas, dan dia akan jatuh ke lantai jika dr. Jaehyun tidak merangkulkan lengannya disekitar Baekhyun.

"Tenang." Dia melihat di balik bahunya.

"Ikut denganku."

Dengan satu lengan melingkar erat di sekeliling pinggangnya, dia menuntun Baekhyun ke ruangan di seberang ruangan Mr. Park.

"Tidak, aku harus tetap bersamanya," Baekhyun protes saat dr. Jaehyun menurunkannya di tempat tidur.

"Kau dapat melihat segalanya dari sini." Dia berlutut di depannya dan membawa jarinya ke pergelangan tangan Baekhyun.

"Denyut nadimu terlalu cepat. Kau harus tenang. Bolehkah aku meminta tolong perawat untuk menelpon suamimu?"

Baekhyun mengernyit, "Aku tak punya suami."

Ketika dr. Jaehyun akan membuka mulutnya, dia menggelengkan kepalanya. "Atau kekasih."

"Aku tahu kau khawatir, tapi kau harus memperhatikan dirimu sendiri dan si Kecil." Pandangannya jatuh ke perutnya.

"Berapa usia kandunganmu?"

"Dua puluh tiga minggu," Jawab Baekhyun.

"Ah, dan apakah kau tahu apa jenis kelaminnya?"

"Anak lelaki." Tangan Baekhyun menyentuh perutnya.

"Seorang anak laki-laki yang sangat aktif dilihat dari caranya menendang saat ini."

Dr. Jaehyun terkekeh. "Itu artinya dia kuat."

Baekhyun memutar matanya. "Aku tak tahu apakah dia anak yang sangat kuat atau anak yang berkemauan keras. Dia suka memberitahuku kapan dia pikir ini waktunya kami untuk makan."

Dr. Jaehyun membuka mulutnya, tapi dia diinterupsi oleh seorang perawat yang memunculkan kepalanya ke dalam.

"Dr. Jaehyun, kami membutuhkanmu di ruang Tiga."

Dr. Jaehyun melihat sekilas ke balik bahunya dan mengangguk. Dia lalu berbalik kembali ke Baekhyun.

"Aku minta maaf, tapi aku harus pergi."

Baekhyun tersenyum. "Senang bertemu dengan Anda, dr. Jaehyun"

"Tidak perlu terlalu formal. tapi kau dapat memanggilku Jaehyun saja." Dia tersenyum lebar.

"Sekarang aku mau kau berbaring dan taruh kakimu di atas sebentar. Tenang saja, oke?"

Menyentakkan ibu jarinya ke seberang lorong, Jaehyun berkata, "Dia akan baik-baik saja, dan aku yakin dia tidak akan mau kau khawatir di kondisimu."

Baekhyun tak dapat menahan tawanya. "Kondisiku? Aku hanya hamil."

Dr. Jaehyun menggoyangkan jarinya pada Baekhyun. "Aku serius. Aku tak mau melihatmu berdiri lagi sampai aku kembali. Mengerti?"

"Kau benar-benar suka memerintah," dia menjawab saat dia mengayunkan kakinya ke atas tempat tidur dan merapikan bajunya.

"Mereka mengajarkan itu pada kami di sekolah kedokteran," dr. Jaehyun menjawab sebelum dia mengarah keluar pintu.

Baekhyun menggelengkan kepalanya sebelum mengambil teleponnya dari dalam tasnya. Hanya ada sedikit jeda waktu antara pesan yang satu dengan yang lain.

Seorang perawat melongokkan kepalanya ke dalam dan menyebabkan Baekhyun terkejut.

"Maafkan aku. Dr. Jaehyun bilang aku harus –"

Perawat itu tersenyum. "Tidak apa-apa, sayang. Aku hanya mengirangira kenapa Dr. Jaehyun telah menandai bahwa ruangan ini digunakan, tapi tak ada catatan."

Dengan pandangan memahami, dia menjawab, "Tapi aku dapat melihat alasannya sekarang."

"Dia sangat baik."

"Dia salah satu yang terbaik yang kami punya-dokter terbaik dan paling sopan." Dia mengedipkan sebelah mata pada Baekhyun.

"Dan sejauh ini yang paling tampan."

Dengan pipi yang menghangat, Baekhyun menjawab, "Itu bagus."

"Jaga dirimu."

"Terima kasih."

Perawat itu belum pergi terlalu lama saat Jaehyun muncul kembali di pintu masuk. Baekhyun cepat-cepat mencoba menyembunyikan teleponnya. Terlebih lagi mengingat tanda yang memperingatkan tidak boleh menggunakan ponsel- tepat di sampingnya.

Baekhyun memberinya senyum malu-malu. "Maaf. Aku harus memberi tahu semua orang tentang keadaan Mr. Park."

Jaehyun tertawa. "Tidak apa-apa, Baekhyun. Aku tak akan memanggil keamanan untuk menangkapmu. Aku hanya senang kau tetap di tempat dan tidak kembali mondar-mandir."

Dia melangkah ke arah tempat tidur. Dengan kikuk, Baekhyun menarik dirinya ke posisi duduk. Matanya tertuju pada tas plastik di tangan Jaehyun.

Saat Baekhyun memberinya pandangan bertanya, Jaehyun membuka plastik dan memperlihatkan sebotol minuman soda, sebotol air mineral, sebungkus kraker selai kacang, dan sekantong keripik Doritos.

"Untuk apa semua itu?" Baekhyun bertanya.

"Sebagian dari simpanan makanan rahasiaku untuk memberi makan lelaki kecilmu."

Rasa panas membakar pipi dan leher Baekhyun, menyebabkan dia memainkan keliman bajunya.

"Kau tak harus melakukan itu."

"Dia lapar, kan?"

"Iya, tapi–"

Jaehyun tersenyum. "Jadi ini. Aku tak keberatan berbagi."

Alih-alih rasa lapar, perut Baekhyun serasa berisi kupu-kupu saat dia mengambil biskuit dari Jaehyun.

.

.

TBC