Journals
Thanks for : , Ms. Loonely Lovegood, chynthia, Delphinus Malfoy, bubble, chiekaakeihc.
Journals by D. Ar. N.
Harry Potter milik J. K. Rowling
Chapter 4
The other Side (Demons)
Chapter sebelumnya,
"Apa yang kau maksud itu Granger, Drake?"celetus Theo tiba-tiba.
Draco dan Blaise langsung menatap ke arah Theo. Sejujurnya Blaise juga ingin menanyakan hal yang sama. 'Apakah Granger orangnya?'.
Draco hanya memilih diam, tidak menanggapi pertanyaan dari Theo.
Blaise dan Theo juga bingung dengan bungkamnya Draco, tapi menurut pepatah 'diam berarti emas', jadi secara sepihak mereka meyakini, bahwa gadis itu adalah Hermione J. Granger, dengan penuh kemantapan hati(?).
.
.
.
Hermione akan beranjak dari kursinya, jika saja seseorang berambut merah tak menghampirinya.
"Mione, kau dan Malfoy di suruh ke ruangan kepala sekolah, sekarang !" ucap Ginny menyampaikan pesan ke Hermione.
"Oh, thanks, Gin."ucap Hermione sambil berlalu pergi. Sebelum pergi keluar aula besar, Hermione mengamati sekelilingnya, mencari partner ketua muridnya. Namun hasilnya nihil, dia tidak menemukan Draco, lalu seorang murid slytherin menghampirinya, kalau tidak salah dia murid tahun ke-3.
"Miss. Granger, apakah kamu mencari Mr. Malfoy?" tanya siswi itu.
Hermione hanya mengangguk cepat, sambil berharap gadis di depannya ini dapat memberinya informasi yang bermanfaat.
"Dia ada di Asrama Slytherin"
Hermione lalu berterima kasih setelah mendengar informasi tentang keberadaan partnernya itu. Dia segera bergegas menuju asrama bawah tanah itu, di perjalanan dia merasa beberapa murid sedang bergosip tentangnya, lebih tepatnya tentang masalah kemarin, namun Hermione sama sekali tidak peduli dengan ucapan mereka, dia hanya melanjutkan langkahnya ke tempat tujuannya.
.
.
"Granger!" seru seseorang dengan nada lantang.
Hermione menghentikan langkahnya sejenak dengan kesal 'siapa sih?', apa orang itu tidak tau kalau dia sedang terburu-buru. Hermione sama sekali tidak mengindahkan panggilan itu, dia tetap melanjutkan perjalananya.
Belum sampai selangkah, dia mendengar lagi, "Granger!". Sepertinnya dia mengenal suara itu, suara yang cukup familiar.
"Granger, kau diam di tempat!" perintah suara itu tegas dan agak jengkel.
Hermione lalu membalikkan badannya dengan jengkel.
"Ya, Malfoy!" sambil memutar bola matanya malas.
"Kau itu darima saja sih? Kau tau kita sekarang di panggil oleh kepala sekolah untuk ke ruangannya. Kau itu merepotkan!" bentak Hermione mengungkapkan semua kekesalannya.
Draco menghela nafas pelan, "Calm down! Mione". Meskipun dia tau bahwa gadis di depannya ini adalah gadis yang menggebu-gebu. Mungkin di kamus hidupnya tidak ada kata calm down, mungkin?.
Hermione hanya memutar bola matanya malas. Hermione lalu berkata untuk segera pergi ke ruangan KepSek, Draco hanya menganggukkan kepalanya. Hermione berjalan beriringan dengan Draco, tak ada satupun dari mereka berdua yang mencoba memulai percakapan, hanya hening. Entah mengapa dari suasana hening itu, kini berubah menjadi kecanggungan di antara mereka berdua.
'Ekhhmm!' Draco berdehem untuk menghilangkan suasana canggung diantara mereka berdua.
"Granger, bisa kau lebih percepat langkahmu?" perintah Draco dengan suara yang halus, tidak seperti biasannya, yang menggunakan nada arogan khas Malfoy.
Hermione mempercepat langkahnya seperti yang diminta Draco, kali ini dia menjalankan permintaan Draco tanpa protes.
.
.
.
Hermione dan Draco berdiri di depan gargoyle, mereka lalu mengucapkan kata sandinya, 'Secretly!' selanjutnya mereka memasuki ruangan kepala sekolah.
"Mr. Malfoy, Miss Granger akhirnya kalian datang, aku sudah menunggu kalian" sambut Prof. Minerva McGonagall.
"Ma'af, Prof. Kami terlambat!" Ucap Hermione dengan nada menyesal.
Minerva hanya memadang mereka berdua sejenak, sepertinya mereka tidak terlambat karena adu mulut seperti biasanya.
"No problem, kalian duduklah ! itu bukanlah sebuah masalah selama kalian tidak terlambat karena bertengkar." Ucapnya dengan memandang tegas ke arah mereka.
Hermione dan Draco hanya mengangguk patuh mendengar wenjangan dari sang kepala sekolah.
Minerva duduk di kursinya, sambil memandang mereka berdua lekat.
"Kalian berdua aku kumpulkan disini untuk menanyakan bagaimana persiapan pesta musim dingin kali ini?"
"Persiapannya masih belum selesai semunya, Prof.!" Jawab Draco, memang masih ada beberapa hal yang masih belum fix, dan juga masih harus dipertimbangkan lagi, setidaknya dia mencoba adil dengan semua asrama, mekipun itu bukanlah sikap aslinya sebagai seorang Slytherin sejati, yang licik.
"Kenapa masih belum selesai sepenuhnya, Mr. Malfoy?" tuntut Minerva.
"Karena kami masih harus mempertimbangkan beberapa hal, Prof., agar adil. Dan penyebab utamanya adalah prefek Gryffindor yang tidak pernah merasa puas dan seenaknya sendiri, Prof." papar Draco dengan penuh percaya diri.
Ucapan Draco mendapat tatapan tajam dari sang Putri Gryffindor, jika tatapan itu bisa membunuh pasti Draco sekarang sudah tewas tak berdetak (flatline). Bagaimna bisa dia hanya menyalahkan Gryffindor, padahal Slytherin juga seenaknya sendiri, so unfair, jika hanya Gryffindor yang disalahkan.
"Tunggu, Prof., tidak sepenuhnya ini salah Gryffindor, Slytherin juga selalu menolak mentah-mentah usulan, dan mereka juga selalu menginginkan apa yang mereka mau, ooh.. tunggu prefek Slytherin juga tidak hadir di rapat prefek terakhir, Prof., jadi Slytherin juga cukup menghambat persiapan.!" Sanggah Hermione dengan nada sinis.
"Oh, Granger kau jangan coba membela Gryffindor, dengan cara menyalahkan Slytherin,dan juga prefek Slytherin tidak hadir karena ada latihan Quiditch!" Draco merasa tidak terima dengan apa yang disampaikan oleh Hermione.
"Latihan Quiditch, Malfoy? Kenapa setelah rapat usai aku melihat salah satu perfek asramamu berkencan dengan GADIS RAVENCLAW!" ucap Hermione penuh penekanan pada kalimat terakhirnya.
"Kau jangan mengada-ada, Granger!"
"Mengada-ada katamu? Dasar kau ferret pirang idiot!"
Minerva hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan dua anak didiknya ini, baru saja diingatkan untuk tidak bertengkar lagi, sekarang coba lihat apa yang mereka berdua lakukan.
Mereka berdua masih melanjutkan debat di antara mereka, tanpa memedulikan tatapan tajam dari sang kepala sekolah.
"Mr. Malfoy! Miss. Granger!APA KALIAN BISA BERHENTI BERTENGKAR?!" teriak sang kepala sekolah karena sudah jengkel dengan kelakukan kedua murid didiknya ini, yang seperti anjing dan kucing.
Draco dan Hermione segera menghentikan adu mulut mereka setelah mendengar teguran dari Kepala Sekolah. Minerva bernafas lega setelah tidak mendengar suara bising di ruangannya ini.
"Ekhm.. ma'afkan kami, Prof.!" Draco berinisiatif untuk meminta ma'af. Hermione hanya menundukkan kepalanya tanda dia menyesal dan meminta ma'af.
Minerva segera mengungkapkan apa yang akan dia uncapkan sedari tadi, jika tidak terpotong oleh adu mulut di antara Draco dan Hermione
"Baiklah. Sebaiknya kalian berdua segera mengadakan rapat prefek, agar persiapan pesta cepat selesai, dan jika sudah selesai kalian harus menyerahkan laporannya, mengerti?"
"Ya, Prof!" sahut mereka bersamaan.
Setelah itu Minerva mengijinkan mereka untuk segera mengikuti kelas mereka, dalam kata lain dia mengijinkan Draco dan Hermione untuk pergi.
Mereka lalu keluar dari ruang kepala sekolah, dan berjalan beriringan.
"Bagaimana kalau rapat prefeknya setelah jam pelajaran selesai?" saran Hermione di tengah perjalannya.
"Tidak bisa hari ini ada latihan quiditch!" tolak Draco. Sebentar lagi kan ada pertandingan quiditch melawan Ravenclaw
"Lalu kapan, heh?" tuntutnya ke Draco. Apa para lelaki tidak bisa sejenak saja tanpa quiditch, tidak hanya Draco, tapi juga Harry dan... Ron. Mereka adalah penggila permainan quiditch. Mengingat Ron masih membuat hatinya sesak, dan sedikit mengganjal. Mengingat laki-laki yag pernah mengisi hidupmu dan hatimu, dan terluka karenanya.
Draco melihat perubahan ekspresi di wajah Hermione, raut wajahnya berubah menjadi sedih, mungkin.
"Granger, kau baik-baik saja?" tanyanya dengan nada khawatir.
Hermione tersentak dari lamunanya, "Apa maksudmu dengan baik-baik saja?"
Draco sedikit kelabakan dengan pertanyaan dari Hermione, mana mungkin seorang Malfoy akan mengakui kekhawatirannya, "Rapat setelah makan malam, bagaimana?" tanya Draco mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
Hermione mengerti jika Draco sedang mencoba mengalihkan topik pembicaraan, tapi sudahlah dia tidak peduli, meskipun ada rasa penasaran.
"Baiklah, dan jangan lupa pastikan prefek asramamu tidak terlambat!" perintah Hermione dengan nada bossy.
"Granger, sebelum kau menyuruhku memastikan prefek asramaku, kau juga harus memastikan dulu asramamu terlebih dahulu!" balas Draco dengan nada sinis.
"Jangan mencoba menyangkal, Malfoy! Bukankah prefek asramamu sudah telat tiga kali?" Hermione bertanya dengan nada mengejek.
"Oh ya, bukankah rapat yang kemarin perfekmu malah kencan dengan gadis RAVENCLAW, heh! Dan kau malah bilang mereka sedang latihan Quiditch, jangan-jangan mereka tidak bisa setelah jam pelajaran selesai karena kencan, atau mungkin kau juga kencan dengan gadis-gadismu, Malfoy?" tambah Hermione dalam satu tarikan nafas.
"Stop it! Semak!" Draco mulai tersulut amarah dengan ucapan Hermione.
"Ferret albino, benar kan apa yang aku katakan, bahwa kau dan komplotanmu akan berkencan bukan berlatih quiditch?" Hermione menatap tajam ke arah Draco.
Draco sudah benar-benar bingung dan marah dengan apa yang baru saja di ucapkan oleh sang Head Girl dihadapannya ini. Draco mendekatkan wajahnya ke arah Hermione dan menatapnya tajam. Kedua tangannya memegang bahu Hermione.
"Granger, dengarkan aku baik-baik, aku tidak berkencan dengan siapapun, dan hari ini memang ada latihan quiditch, jadi kau tidak perlu marah dan percayalah padaku!" ucap Draco penuh penekanan.
Hermione hanya menatap lekat wajah tampan di hadapannya, wajah orang yang beberapakali menjadi tempat bersandarnya.
Jarak diantara mereka berdua semakin tereliminasi, perlahan tapi pasti bibir mereka saling bertemu, Hermione menutup matanya rapat, dia merasakan kupu-kupu berterbangan di perutnya, terasa menggelitik. Draco menciumnya penuh kelembutan, seakan ingin mengunggapkan perasaannya,seakan dia adalah barang paling berharga yang pernah dimiliki.
Draco menarik tubuh Hermione mendekat untuk memperdalam ciumannya. Ciuman yang tadinya lembut kini menjadi penuh nafsu, Hermione menelusupkan tangannya di rambut pirang platina Draco. Mereka ingin mendapatkan lebih dan lebih, terutama Draco, baginya Hermione adalah candu yang memabukkan untuknya, candu yang membuatnya gila.
Hermione menggambil jarak dari Draco, menghentikan ciuman mereka, jantungnya berdetak tak karuan, "Bukankah ini salah, Malfoy?" ditatapnya Draco, mencoba mencari jawaban.
Draco mengusap bibir Hermione dengan jarinya, lalu ditatapnya gadis itu, tatapan yang meyakinkan, "Jika kau menganggap ini sebuah kesalahan, teruslah berfikir seperti itu. Namun satu hal yag harus kau tau, ini bukanlah hal yang salah untukku, Mione!"
Hermione hanya bisa terdiam mendengar jawaban Draco, baginya ini adalah sebuah kesalahan seharusnya Malfoy juga berfikir begitu. Tapi apakah benar ini bukanlah sebuah hal yang salah. Hermione berjalan terlebih dahulu, mencoba menenangkan detak jantungnya yang lebih cepat dari biasanya.
Draco hanya menatap punggung Hermione yang semakin menjauh darinya,
"Tentu ini bukanlah kesalahan, meskipun semua ini adalah kesalahan terbesar dalam hidupku" gumamnya sambil berlalu pergi, senyuman tercetak di wajah tampannya.
Hermione membawa beberapa buku tebal untuk di kembaikan ke perpustakan, ya masak ke apotek.
"Hai, Mione!" sapa seorang gadis berambut merah khas Weasley, siapa lagi kalau bukan Ginerva Weasley. Dan disampingnya ada,
"Hai, Granger!" Blaise Zabini
Hermione menolehkan kepalanya, "Hai, Gin dan... Zabini, tumben kalian berdua bersama?" Hermione memasang wajah curiga dan penuh tanya ke arah mereka berdua, kan tidak biasanya mereka berjalan berdua.
Mereka berdua merasa jika Hermione memandang penuh curiga, "Jangan memandang seperti itu, Granger. Kami hanya baru saja mendiskusikan tentang tugas ramuan Prof. Slughron. Dan aku juga tidak mau berurusan dengan Weasley ini, bisa-bisa aku dibunuh Potter" jelas Blaise dengan memasang wajah ngeri pada kalimat terakhirnya.
Ginny hanya menganggukkan kepala tanda setuju dengan ucapan Baise.
Hermione hanya bisa ber-Oh-ria, sebelum dia memberi sebuah wenjangan "Kalian jangan telat rapat prefek kali ini!".
"Tenang saja, Mione, aku tidak akan terlambat!" Ginny.
Hermione kembali melajutkan langkahnya, namun lagi-lagi harus terhenti karena ada seseorang yang menghalangi jalannya, "Sore, Grangie!" sapa seorang laki-laki.
Hermione menatap tajam ke arah laki-laki itu, "Jangan mengubah nama keluargaku menjadi menjijikkan seperti itu, Notty!"
Theo terlihat menghela nafas, "Apa kau mau ke perpus, Granger?"
"Ya. Ada urusan apa sampai kau harus menghalangiku?"
"Aku hanya ingin membicarakan tentang tugas ramuan, so kita bicarakan di perpus?" tawar Theo.
Hermione terlihat berfikir sejenak, sebelum mengiyakan ajakan Theo. Tidak ada salahnya juga mendiskusikan tentang tugas, dan juga itu juga untuk dirinya sendiri.
Theo mengamati Hermione, dalam hati dia bertanya-tanya apa benar orang yang disukai sahabatnya adalah Hermione, dan jika gadis yang dicintai Draco adalah benar Hermione, apakah Hermione tahu siapa sebenarya Draco itu?. Tetu saja tidak, bukankah Draco adalah orang yang selalu apik dalam menyembunyikan rahasiannya.
%^%^%
Draco menyandarkan tubuhnya disebuah lorong, dia merasakan rasa sakit yang menjalar di seluruh tubuhnya, dia mengepalkan kuat kedua tanggannya, mencoba menahan rasa sakit yang semakin bertambah.
Dia menatap dua botol kecil yang sudah kosong, bahkan ramuan ini tidak berpengaruh, sialan!.
"Drake, kau tidak apa-apa?" tanya seorang gadis dengan penuh nada khawatir.
Draco hanya menatap dingin gadis Parkinson itu dengan nafas yang terengah-engah. Dia sudah tidak dapat menahannya, rasa haus nan menyakitkan terlanjur menggerogoti kesabarannya. Ditariknya Pansy, gerakan tersebut membuat Pansy tersentak, di dalam pikirannya Pansy berpikir bahwa Draco menginginkannya. Namun pikiran itu harus lenyap saat dia merasakan rasa sakit di sekujur tubuhnya.
Draco terus menghisap darah dari tubuh gadis Parkinson ini, sudah lama sekali dia tidak merasakan darah, seperti saat ini. Saat ini rasanya seperti euforia, sungguh ini lebih enak daripada ramuan yang selalu diminumnya, dia mengisap darah itu terus menerus. Dia sama sekali tidak peduli dengan gadis ini asalkan rasa hausnya akan darah bisa terpenuhi dan rasa sakit ini agar segera menghilang.
Meskipun begitu dia masih memiliki hati, dihentikannya kegiatan itu. Setidaknya ini lebih dari cukup.
Draco menyenderkan Pansy, lalu ditatapnya gadis itu sejenak dengan matanya yang masih menyala merah tajam, dan kedua taring yang masih terlihat jelas. Diambilnya ramuan berwarna hijau terang dari sakunya, lalu meminumkannya ke Pansy. Ramuan itu berguna untuk menggembalikan energi dan menghilangkan ingatan (bukan seluruh ingatan).
Sekali lagi ditatapnya Pansy yang sedang pingsan, "Terima kasih untuk darahu, Pans!".
Diusapnya darah yang masih tersisa dipinggir bibirnya dengan ujung lidahnya, lalu berlalu pergi dengan wajah dingin khas Malfoy.
Bukankah kalian tau siapa aku?
Jangan pernah mendekat ke arahku, saat aku berada disisi lain, saat aku berada di kegelapanku, saat rasa sakit ini menggerogoti jiwaku. Dimana kerajaanku tersembunyi, semuanya akan terungkap siapa aku sebenarnya, Demon.
#^#^#
Dia masih menatap penuh ketidak percayaan dengan apa yang baru saja dilihatnya, sungguh ini sebuah kejutan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Tubunya terasa lemas, benar-benar lemas. Jika saja tidak ada orang disebelahnya yang menyangganya mungkin dia sudah merosot jatuh ke lantai.
T.B.C.
Pojokan :
Sebelumnya saya meminta ma'af atas keterlambtan updatenya, soalnya baru-baru ini ada UTS, jadi saya benar-benar meminta ma'af. Saya berharap chapter ini tidak mencewakan dan sesuai harapan para readers. *pundung dipojokan sambil merapal do'a* abaikan.
Saya juga berterima kasih kepada semuanya, yang sudah membaca, dan memberikan review. Dan juga untuk yang sudah me-follow dan favorite cerita saya sangat senang dan berterima kasih.
Untuk silent reader saya juga berterima kasih karena sudah mau membaca karya saya, saya berharap kalian mau memberikan review. *H2R*
Apabila masih ada kesalahan, saya meminta ma'af , saya sudah berusaha untuk tidak melakukan kesalahan.
Jangan lupa untuk me-review, review kalian semangat saya.
See you next chapter! Jangan lupa review...
The Secret
D. Ar. N.
