Author Note: It chapter 3 guys!! Thank for all your review! I love to read all those review! And I hope, I will got more review for this story.
PLEASE READ AND REVIEW!!!
Me: Uh… Riku? Still mad at me???
Riku: not your business.
Me: (.) Still my business because I don't want you to hate me!
Riku: Whatever… (Leaving again)
Me: Don't worry Riku! Today the pairing is not just Sora and Roxas! It also You and Sora too! 'But more prefer to fighting. Hehehehe…'
Kingdom Heart : Keyblade War
Chapter 3
"Kenapa Kairi?" aku bertanya padanya.
"… Aku… ada masalah…" katanya sambil menatapku dan Riku dengan wajah sedih. "…Orang tuaku tak mengizinkanku pergi."
"Kenapa?!" kataku terkejut.
"Masalahnya mereka tak ingin aku dalam bahaya. Mereka takut terjadi sesuatu padaku jika aku pergi…"
Perlahan, Naminé keluar dari tubuh Kairi. "Mereka takut karena dulu Axel pernah menculik Kairi, mereka jadi tidak mempercayai keselamatan Kairi pada kalian bertiga sama sekali." Naminé menjelaskannya.
"Bertiga?" Riku heran mendengarnya.
"Kau, Sora, dan Roxas." Naminé menjelaskannya dengan tersenyum.
"Bagaimna ini…" Kairi terlihat sangat sedih. "…Apakah orang tua kalian mengizinkan kalian?" dia bertanya padaku dan Riku.
"Orang tuaku mengizinkanku, tapi mereka meminta kalau aku punya kesempatan untuk pulang, aku diwajibkan pulang." Aku menjelaskan pada Kairi. "Bagaimana denga kau Riku?"
"Tak ada masalah. Orang tuaku berkata asal aku baik-baik saja tidaklah masalah." Kata Riku tampa expresi.
Terkadang aku merasa sedih, orang tuanya Riku selalu dingin terhadapnya. Riku menjadi sangat dingin karena kekurangan kasih saying dari orang tuanya, tapi semenjak aku selalu bermain dengannya dulu, dia jadi tidak terlalu dingin.
"…" expresi Kairi bertambah sedih. "Jadi hanya aku saja yang berhalangan…"
"Tak apa-apa Kairi, mari kita pikirkan jalan keluarnya sama-sama." Aku berusaha menghiburnya.
"Makasih Sora…" Kairi sedikit tersenyum.
Other POV…
Ada tiga pria berambut silver menatap Sora dan kawan-kawan dari kejauhan…
"Hee~ jadi dia ya…" Kata pria yang berambut panjang.
"Ya, menurut informasi yang kudapat memang dia orangnya." Kata pria berambut pendek.
"Ini sangat menarik…" Kata pria yang rambutnya sepanjang bahu. "Bagaimana kalau kita beri salam dulu?"
"Salam ya…" kedua pria yang lain tersenyum sinis.
"Yup!" kata pria yang rambutnya sepanjang bahu. "Dan juga sebagai perkenalan!" katanya semangat sekali. "Kita beri hadiah juga!"
"Ide yang bagus Kadaj." Kata pria yang berambut panjang memuji pria yang rambutnya sepanjang bahu. "Ayo kita beri sambutan sekarang…"
Pria yang berambut panjang memanggil tiga buah heartless berukuran sedang.
"Tiga? Kan tidak meriah perkenalannya Yazoo…" Kadaj mengeluh pada pria yang berambut panjang yang juga saudaranya.
"Tiga saja cukup Kadaj, kudengar kekuatannya menurun. Kau hanya mau main-main sajakan? Ataukah kau mau langsung menghabisanya?" Tanya pria berambut pendek.
"Menurun ya…" Dia menghela napas. "…Jadi tak menarik deh. Mungkin temannya yang berambut silver itu cukup kuat, siapa yang mau bermain dengannya? Kau mau Loz?" Kadaj bertanya pada pria berambut pendek yang juga salah satu saudaranya.
"Tak masalah." Katanya sambil tersenyum sinis.
Kadaj ikut tersenyum sinis. "Aku ingin tau seberapa lemah keyblade master itu…"
Back to Sora POV…
Kami bertiga (Naminé already rejoin with Kairi) berjalan menuju sebuah toko yang menyediakan barang –barang kebutuhan kami. Kami membeli barang-barang untuk kebutuhan besok…
"Potion… ether…" aku mengambil beberapa potion dan ether. Kulihat Riku dan Kairi juga membelinya juga.
"Kau tak membeli sarung tangan Sora?" Kata Roxas mengingatkanku dari dari dalam kepalaku.
'Kau benar… makasih sudah mengingatkanku Roxas.' Aku berterima kasih padanya.
Aku mengambil sepasang sarung tangan. "…" tiba-tiba aku memutuskan untuk mengambil dua sarung tangan. 'Satu untuk Roxas…' pikirku. Aku segera kekasir dan segera membayar semua barang yang kubeli.
"Sudah selesai Sora?" Tanya Riku dari belakangku.
Aku menoleh kebelakang. "Yup! Beli apa Riku?"
"Beberapa potion dan ether, sama sepertimu." Katanya sedikit tersenyum.
"Beli apa Kairi?" kulihat Kairi juga menuju kasir.
"Beberapa ether dan sepasang sarung tangan." Katanya.
"Huh? Tidak membeli potion?" aku bertanya lagi.
"Tak perlu, soalnya aku bisa menggunakan magic cure jika aku terluka." Dia menjelaskan.
"Huh? Kamu belajar magic sama siapa?"
"Namine yang mengajari Sora." Katanya sambil tersenyum.
"Oh…" aku tak menyangka Naminé bisa menggunakan magic.
Setelah Riku dan Kairi membayar barang-barang yang mereka beli, kami berjalan keluar dari toko itu. Aku melihat beberapa orang berlarian dan panic sekali.
"Ada apa ya?" aku heran melihat orang-orang itu berlarian.
"…" sepertinya Riku tau kenapa mereka pada berlarian dan panic sekali. Dia terlihat waspada sekali. "…Heartless…"
"Heartless!?" aku sangat terkejut mendengarnya.
Riku mengangguk dan memanggil keybladenya. "Sebentar lagi heartless itu menuju kemari…"
Aku dan begitu juga Kairi segera memanggil keyblade kami.
"Kairi, Jika heartless ini memang terlalu kuat bagimu, kau boleh mundur jika memang tak sanggup melawannya." Aku memperingatkannya.
"Jangan khawatir Sora, aku sudah cukup sering berlatih…" Kairi meningkatkan kewaspadaannya.
Aku juga segera meningkatkan kewaspadaanku. Kulihat ada tiga heartless berukuran sedang, ketiga heartless itu munuju kemari dengan cepat sekali. Heartless itu memiliki empat kaki, makanya mereka berlari dengan sangat cepat. Aku segera maju dan menyerang heartless itu, tetapi heartless itu menghindar dan berpencar. Dua heartless berlari kearah Riku dan Kairi. Sedang heartless yang satunya menyerangku. Sepertinya ada yang mengontrol heartless-heartless ini, mereka bergerak seakan-akan mereka mempunyai pikiran. Heartless itu menyerang dengan mulutnya , seperti mau menerkam dan memakanku.
Aku menghindari semua terkamannya kuhindari sebisaku. Mendadak, aku tersandung oleh suatu benda dari belakang. Dalam sekejap aku kehilangan keseimbangan dan jatuh. Heartless itu langsug memanfaatkan kesempatan ini untuk menerkamku, tapi terkamannya kutahan dengan keybladeku.
Keringat membasahi keningku, tenaga heartless ini cukup besar tapi… "Haa!" kudorong heartless itu sekuat tenaga dan kupukul.
Heartless itu langsung marah, dia menggeram dengan kuat, menandakan bahwa heartless itu marah. Dari dalam mulutnya muncul sebuah asap, tiba-tiba saat mulutnya terbuka, ada sebuah bola api meluncur dari mulutnya dan mengarah padaku. Aku yang sangat terkejut karena melihat bola api itu tiba-tiba keluar dari mulutnya langsung menghindarinya dengan dadakan. Heartless itu tak hanya menembakan bola api itu sekali, tapi beberapa kali dan membuatku sedikit terdesak. Aku berlari mengelilingi heartless itu dan mendadak melompat ketubuh heartless itu. Heartless itu langsung memberontak dengan cara melompat-lompat dan terkadang berlari kearah tak menentu.
"Makan ini!" aku langsung menusukkan keybladeku kearah kepala heartless ini. Heartless itu menjadi tak berdaya dan mati. Perlahan tubuh heartless itu menghilang…
Aku langsung melihat keadaan Riku dan Kairi, kulihat Riku sedang membantu Kairi yang mengalami kesulitan dengan heartless itu. Kairi terlihat lelah. Aku segera berlari kearah mereka dan membantu mereka berdua mengalahkan heartless itu. Aku menyerang heartless itu dari arah belakang. Hanya dengan satu tebasan dari keybladeku, heartless itu segera mati dan perlahan menghilang…
Aku menghela napas. "Dimanakah heartless yang satu lagi?" aku mengamati sekelilingku, memastikan heartless itu tak terlalu dekat.
"Sudah kubunuh heartless yang satu lagi…" Kata Riku. Dia masih belum menurunkan kewaspadaannya. "…aku masih mencium bau kegelapan."
Aku meningkatkan kewaspadaanku lagi. "Kuatkah…?"
"Kira-kira hamper setara dengan Xemnes…" kulihat Riku berusaha membangkitkan kekuatan kegelapannya.
"Riku…" Kutatap dia dengan wajah khawatir. 'Ini tidaklah baik…' pikirku.
"Sora, coba kau perhatikan Riku baik-baik…" kata Roxas dalam pikiranku.
Aku menatap Riku dengan seksama, kulihat ada aura kegelapan yang mulai menyelimutinya. Warna matanya berubh menjadi kuning. "Riku! Jangan kau bangkitkan kekuatan kegelapanmu!" aku menperingatkannya. Aku merasa cemas sekali.
"Jangan khawatir Sora, aku dapat mengontrol kekuatanku dengan baik…" Katanya sambil tersenyum padaku. Matanya kembali ke warna yang semula sejenak…
"He~ Kau lumayan juga bisa mengalahkan heartless- heartless ini…" Datang seorang pria berambut silver,panjang rambutnya sepanjang bahu. "…Namaku Kadaj, senang berkenalan dengan kalian." Dia mengatakannya dengan senyum sinis.
"Apa maumu?!" aku bertanya padanya.
Dia tertawa mendengar pertanyaanku. "'Apa maumu' katamu? Aku kesini sekedar member salam saja. Yah~ sekalian mengetes kekuatanmu."
"Salam?" aku tidak mengerti apa maunya.
Mendadak seorang pria berambut pendek dan berwarna silver muncul dari belakang dan langsung menyerang Riku dengan tangan kosong. Riku mencoba menahan serangannya tetapi terlambat. Dia terkena pukulan itu dan terlempar dengan satu pukulannya.
"Riku!" aku langsung menyerang pria berambut pendek dan berwarna silver itu dan dia menahan seranganku.
"Sora! Dibelakangmu!" Kairi memperingatkanku.
Aku langsung menoleh kebelakang, kulihat ada seorang pria berambut panjang dan berwarna silver sedang mengambil ancang-ancang untuk menembakku. Pria berambut pendek dan berwarna silver langsung beranjak dari tempat dia berada. Pria berambut panjang dan berwarna silver itu langsung menembakiku dengan peluru. Aku menghindari dan menahan beberapa peluru itu. Kairi segera menembakkan fireball kearahnya, tetapi dia mengindarinya.
"Dia milikku Yazoo!" teriak Kadaj.
Dia langsung berlari kearahku dan menyerangku menggunakan dua buah knife. Serangannya sangatlah cepat, lebih cepat dari heartless yang sebelumnya menyerangku. Aku terkena sabetan knifenya beberapa kali.
"Ugh…" aku merasakan sakit setiap kali terkena sabetannya.
"Kenapa?" Katanya sambil tersenyum sinis. "Tak bisa menghindari seranganku?!" Dia mengejekku.
"Ugh! Terima ini!" kataku terpancing emosi.
Aku berusaha menyerangnya, tetapi semua seranganku sia-sia. Dia bisa menghindari semua seranganku dan…
"Soraaa!!!" Roxas berteriak dari kepalaku.
…Knifenya ditusukannya ke tubuhku. Wajah Kadaj begitu dekat dengan wajahku, dia tersenyum jahat(A/N: I mean… ' He was smile evilish' lebih tepatnya...). aku langsung melangkah mundur sebelum knifenya tertusuk lebih dalam.
Roxas langsung keluar dari tubuhku dalam sekejap dan langsung menyerang Kadaj.
Mata dan badanku terasa berat sekali. Kepalaku juga pusing dan pandanganku sedikit kabur, sepertinya darahku mengalir terlalu banyak…
Riku POV…
Mendadak seorang pria berambut pendek dan berwarna silver muncul dari belakang dan langsung menyerangku dengan tangan kosong. Aku mencoba menahan serangannya tetapi terlambat. Aku terkena pukulan itu dan terlempar dengan satu pukulannya, tubuhku terbentur sama tanah…
"Riku!" Sora langsung menyerang pria berambut pendek dan berwarna silver itu dan dia menahan serangan Sora.
"Sora! Dibelakangmu!" Kairi memperingatkan Sora.
Kulihat ada seorang pria berambut panjang dan berwarna silver sedang mengambil ancang-ancang untuk menembak Sora dari kejauhan. Pria berambut pendek dan berwarna silver langsung beranjak dari tempat dia berada, dia berlari kearahku. Pria berambut panjang dan berwarna silver itu langsung menembaki Sora dengan peluru. Sora menghindari dan menahan beberapa peluru itu. Kairi segera menembakkan fireball kearahnya, tetapi dia mengindarinya.
Kulihat pria bernama Kadaj berlari kearah Sora dan menyerangnya. Aku ingin membantu Sora, tapi pria berambut pendek dan berwarna silver yang tadi berlari kearahku menghalangiku.
"Minggir!" aku menyerangnya dengan brutal.
Dia menahan seluruh seranganku dengan lengannya, lengannya dilindungi oleh sarung besi. Dia juga membalas seranganku, tapi bisa kuhindari karena gerakannya sedikit lambat dari heartless sebelumnya. Meski begitu, aku tak boleh meremehkan kekuatannya. Dia serangannya memang lambat, tapi sekali terkena serangannya pastilah mematikan. Aku memperhatikan gerakannya baik-baik, pasti dia memiliki celah yang bisa kuserang…
"Kenapa nak? Sudah menyerah?" dia mengejekku.
"Namaku bukan 'nak' tapi Riku." Aku berusaha menyerangnya lagi, tapi seperti sebelumnya, dia menahan semua seranganku.
"Namaku Loz…" Katanya memperkenalkan diri sambil tersenyum sinis.
"Beraninya kau!!!" aku mendengar teriakan Roxas. Aku segera mengalihkan pandanganku kearah Sora berada, dia terluka cukup parah dan dia terduduk ditanah. Sepertinya dia sangat kesakitan…
"Celah!" Loz langsung menyerangku saat aku lengah.
"Ugh!" Aku menahan serangannya sebisaku. Kutahan serangannya dengan keybladeku, tapi pertahananku tidak sempurna dan nyaris membuatku terlempar oleh pukulannya. Mungkin jika aku tidak menahan serangannya, sekarang pasti ada beberapa tulangku yang patah…
Aku memutuskan membangkitkan kekuatan kegelapanku sampai sempurna…
Mata Riku perlahan berubah menjadi warna kuning dan disekitarnya terlihat aura kegelapan yang sangat kuat mengelilinginya (A/N: Riku will not turn to ansem/Xehenort, because I hate them.). Kekuatan Riku meningkat drastic, bukan hanya kekuatannya, kecepatannyapun meningkat. Hanya dengan sekejap, Riku langsung membuat Loz sangat terdesak. Bukan hanya terdesak, Loz juga tak punya kesempatan untuk menyerang balik sama sekali. Tampa ragu-ragu, Riku menembakkan dark firaga ketubuhnya Loz. Gantian Loz yang terlempar karena serangan dark firaganya Riku. Riku tak langsung menghabisinya, dia berlari kearah Roxas dan segera membantunya…
Kairi POV…
Mendadak seorang pria berambut pendek dan berwarna silver muncul dari belakang dan langsung menyerang Riku dengan tangan kosong. Riku mencoba menahan serangannya tetapi terlambat. Dia terkena pukulan itu dan terlempar dengan satu pukulannya.
"Riku!" Sora langsung menyerang pria berambut pendek dan berwarna silver itu dan dia menahan serangan Sora.
Kulihat ada seorang pria berambut panjang dan berwarna silver sedang mengambil ancang-ancang untuk menembaki Sora. "Sora! Dibelakangmu!" Aku memperingatinya.
Pria berambut pendek dan berwarna silver langsung beranjak dari tempat dia berada. Pria berambut panjang dan berwarna silver itu langsung menembaki Sora dengan peluru. Sora menghindari dan menahan beberapa peluru itu. Aku segera menembakkan fireball kearahnya, tetapi dia mengindarinya.
"Dia milikku Yazoo!" teriak Kadaj.
Kadaj langsung berlari kearah Sora dan menyerangnya menggunakan dua buah knife. Pria bernama Yazoo yang tadi menyerang Sora beralih menyerangku. Dia menembakkan peluru kearahku dan aku segera berlari untuk menghindari peluru-peluru itu.
"Bagaimana ini Naminé?" Aku bertanya padanya.
"Coba kau tembakan magicmu, trus kau coba dekati dia dan serang jarak dekat. Biasanya kalau seseorang menyerang jarak jauh, dia lemah dijarak dekat…" Naminé memberikan saran.
Kuikuti saran Naminé, kutembakkan beberapa magic blizzard kearahnya. Yazoo menghindarinya dan menembakiku juga. Aku berusaha mendekatinya, tapi dia selalu menjauh dariku dan menjaga jarak. Aku berlari kesebuah rumah kosong dan bersandar didinding rumah itu.
"Su…susahnya…" kataku dengan napas terengah-engah dan sedikit mengeluh.
"Pelan-pelan saja Kairi, Kalau memang tak sanggup kau boleh mundur. Bukankah Sora sudah mengatakannya?" kata Naminé dari dalam kepalaku.
"Kau benar… tapi aku tak akan mundur. Aku tak ingin merepotkan Sora dan yang lainnya, jika Sora bisa melawannya, aku juga bisa." Kataku yakin.
"Ya… kita memang tak boleh merepotkan mereka jika kita memang mampu melawannya." Aku dapat merasakan bahwa Naminé sedang tersenyum didalam diriku. "Ayo kita kalahkan dia bersama-sama Kairi." Naminé keluar dari dalam diriku.
"Ya!"
Roxas POV…
Sora berusaha mati-matian menyerangnya, tetapi semua serangannya sia-sia. Dia bisa menghindari semua serangannya dan knifenya ditusukannya ke tubuh Sora.
"Soraaa!!!" Teriakku.
Sora langsung melangkah mundur sebelum knifenya tertusuk lebih dalam.
Aku langsung keluar dari tubuh Sora dalam sekejap dan langsung menyerang Kadaj.
"Beraninya KAU!!!" aku berteriak kepadanya.
"He~ jadi kau ini nobodynya ya?" Kadaj terlihat gembira melihatku keluar dari Sora. "Menarik…menarik…" katanya sambil tersenyum sinis.
Amarahku bertambah mendengar kata-katanya. Aku langsung memanggil Oathkeeper dan Oblivious, aku menyerangnya mnggunakan kedua keyblade ini. Aku terus menerus menyerangnya tampa berhenti hingga aku menemukan beberapa celahnya. Awalnya aku mengira dengan menyerang celah-celahnya, dia akan terdesak. Tetapi bukannya terdesak, dia malah memanfaatkan celahnya untuk membalas seranganku. Meski awal-awalnya aku dapat menahan semua serangannya, kondisiku yang sekarang membuatku semakin sulit menahan semua serangannya. Karena Sora mengalami luka yang cukup serius, aku merasakan sakit yang dia alami juga meski tubuhku tidak terluka.
Salah satu keybladeku terlempar saat berusaha menahan serangannya, pertahananku turun drastic jika aku hanya menahan serangannya hanya dengan satu keyblade. Tiba-tiba Riku datang dan menyerang Kadaj. Perlahan, Kadaj mulai terdesak karena aku dan Riku menyerangnya bersamaan. Sedikit demi sedikit dia tambah terdesak dan saa dia sudah sangat terdesak, ada seseorang pria berambut panjang dan berwarna silver bernama Yazoo menghentikan kami berdua…
"Sebaiknya kalian berdua berhenti atau teman baik kalian akan kubunuh."
Dia memegangi Sora yang tidak berdaya, dia mengarahkan gunbladenya kearah leher Sora. Sora terlihat sangat kesakitan dengan luka-lukanya. Aku dapat merasakannya karena aku juga merasakan sakit yang sama dengannya…
"Lepaskan dia!" Riku terlihat sangat marah, sepertinya kegelapan sedang mengendalikannya.
"Mengapa aku harus melepaskannya?" Katanya sambil tersenyum sinis. Lalu dia memegang wajah Sora. "Tidak kusangka, kau… seorang keyblade master bisa selemah ini?! Kau yang selalu dibicarakan oleh seluruh dunia karena kekuatanmu dan sebagai orang yang paling kuat! Ternyata kau sangatlah lemah!!!" katanya sambil menertawakan Sora.
Riku sepertinya sangat marah karena dia telah merendahkan Sora. Tetapi emosiku tidak ikut terpancing karena omongannya. Aku menghela napas, pasti ada cara untuk menolong Sora.
"Apa yang sebenarnya kaian ingin lakukan disini?" aku bertanya pada mereka dengan tenang.
Kulihat pria yang berambut pendek dan berwarna silver yang tadi menyerang Riku muncul dan berjalan mendekati Yazoo. Kadaj juga berjalan mendekati Yazoo. Setelah mereka bertiga berkumpul mereka mengatakan sesuatu bersama-sama.
"Untuk menghancurkan dunia yang telah rusak ini…" kata mereka bertiga.
Aku dan Riku hanya bisa menatap mereka dengan heran.
"Aku…" Sora berusaha mengatakan sesuatu. "…tak akan…membiar…kan… kalian… melakukannya!" Kata Sora terengah-engah. Dia langsung memaksakan dirinya untuk bergerak dan melepaskan diri dari pegangan Yazoo. Dia juga berusaha menyerang mereka dengan sisa tenaganya.
"Sora!"
Aku dan Riku segera menyerang Kadaj dan yang lainnya. Mereka bertiga langsung menghindar dan berpencar. Aku langsung menangkap Sora yang hamper tumbang. Mukanya terlihat sangat pucat dan badannya terasa dingin.
"Bertahanlah Sora…" kataku sambil membisikan ditelinganya.
"Hm…" Dia terlihat lelah dan kesakitan.
"He~ kau lumayan juga, masih dapat bergerak meski tubuhmu sudah diambang batas…" Kadaj memujinya. "… tapi perkenalannya sampai disini saja. Kami bertiga masih ada urusan lain." Kedua pria berambut silver segera pergi, tetapi Kadaj masih berdiam diri ditempat. "Oh ya, soal kami akan menghancurkan dunia ini, kurasa kami akan melakukannya lain kali." Katanya sambil tersenyum sinis dan berjalan meninggalkan kami. " Dan satu lagi…" Dia berhenti sejenak. "…aku ada hadiah untuk keyblade master itu. Kuharap dia menyukai hadiah itu." Katanya sambil tertawa dan segera pergi.
Mendengarkan perkataanya, membuatku merasakan firasat buruk. Kuharap ini hanya perasaanku saja…
Sora POV…
Aku pingsan setelah Roxas memegangi tubuhku dan ketika aku sadar, aku sudah berada dikamarku…
Aku bangun dan keluar dari kamarku, aku mendengar suara Roxas, sepertinya dia terdengar sangat sedih. Aku berusaha mendekati tempat dimana Roxas berada, tubuhku terasa sakit sekali setiap aku melangkahkan kakiku mendekati ruangan dimana Roxas berada.
"Aku tidak percaya mereka melakukan ini!" Aku mendengar Roxas tiba-tiba berteriak dari ruang tamu, aku mendekati ruang tamu… "Padahal aku baru saja menjadi bagian dari keluarga ini beberapa hari saja!" Dia sepertinya mengatakannya sambil menangis. "Mengapa!!! Mengapa ini harus terjadi!!!" dia terdengar sangat dan sangat marah sekaligus sedih.
"Tenang Roxas!" Aku mendengar suara Naminé dari ruang tamu juga. "Sora sedang istirahat Roxas, dia sedang memulihkan kondisi tubuhnya…" Naminé berusaha menenangkannya.
"Dia benar Roxas, kau tak ingin membangunkannya kan?" Aku juga mendengar suara Kairi didalam, dia juga berusaha menenangkan Roxas.
"Tapi bagaimana kau dapat menjelaskannya ke Sora! Bagaimana…" Roxas sepertinya sangat bingung dan sedih…
'Apa yang ingin dia jelaskan?' pikirku. Aku mengintip kedalam ruang tamu.
"Roxas…" aku melihat Naminé memegang bahunya Roxas. "…Kita bisa jelaskan ini bersama-sama."
"Tapi aku tak sanggup mengatakannya ke Sora Naminé!" Dia terlihat frustasi. "Aku tak sanggup melihat hatinya terluka! Aku tak bisa mengatakannya bahwa ayah dan ibu meninggal!!! Aku tak bisa…"
Jantungku terasa berhenti berdetak selama beberapa detik. 'ayah dan ibu meniggal!!!' itu kata Roxas…
To Be Continued…
Author Note: like I said!!! Isn't this more sad??? Hope you like.
Please REVIEW!!!
