Disclaimer : Karakter milik Masashi Kishimoto.

Warning : gak ada yang aneh-aneh di chapter ini.

A/N : Saya bahagia banget dengan review yang saya terima. Bahkan review kalian membuat saya mendapatkan Ide untuk mengembangkan ceritanya. Makasih banyak ya. Selamat membaca

Souless Eyes, Darkest Blood

.

Chapter 04

Dead End.

.

.

Butiran air hujan memerciki jendela. Suara gemuruh ombak dan guntur berpadu di tengah lautan dan langit yang sedang bergejolak. Ino menatap keluar dengan pandangan kosong. Di mata wanita itu semua terlihat suram dan kelabu. Badai di dalam hatinya tak akan pernah tenang. Emosi berkecamuk dan berputar-putar, memaksa untuk keluar tapi wanita itu memendamnya. Tak ada suara, isak tangis dan air mata. Dia hanya terdiam, membisu dan mematung. Semuanya tak lagi bermakna.

Ino bergulat dengan dukanya. Mencoba menyangkal dan lari dari kenyataan yang menyakitkan. Kehilangan suaminya membuat dirinya merasa seseorang telah mencabut jantung dari tubuhnya. Sasuke tewas di depannya tanpa Ino bisa berbuat apa-apa. Dia mati karena dirinya. Mengapa Sasuke begitu bodoh. Apa dia tak tahu tanpa-nya Ino tak lagi punya alasan untuk hidup. Ino menanti-nanti kapan sang penculik akan mengeksekusinya.

Sai bersandar di daun pintu, Menatap Ino dengan khawatir. Sudah dua hari wanita itu tak bicara, tak makan dan minum hanya menatap ke luar jendela. Raut wajahnya tak menunjukkan gairah untuk hidup. Seharusnya ia menghabisinya tetapi Sai tak menemukan kenikmatan membunuh orang yang ingin mati. Dia tak habis pikir mengapa dia membiarkan tawanannya menyita waktunya. Ino bahkan tak lagi berguna.

Pria itu menghembuskan nafas dan mengusap wajahnya dengan telapak tangan. Ia kesal semua berjalan tak sesuai dengan rencana. Dua hari sudah dia memilih bersembunyi di rumah peristirahatannya. Sebuah Villa yang di bangun di atas tebing batu yang tak jauh dari lautan. Tempat ini cukup terisolir dari villa-villa mewah lainnya yang juga berdiri di area ini. Tak ada kabar tentang kematian Sasuke Uchiha di mana-mana. Apa polisi menutupinya? Atau tembakannya memang melenceng.

Sai tak bisa berlama-lama di Jepang. Dia harus segera kembali ke Hong Kong. Semuanya jadi berantakan di sana begitu dia pergi. Sai masih menatap Ino dan memikirkan apa yang dia kejar di sini. Tak ada yang tersisa untuknya selain kenangan masa lalu. Bukankah dia tak ingin menjadi pria sentimental yang bodoh?, Bila dia berpikir logis untuk apa dia membahayakan dirinya dengan mengejar dendam. Tentu semua itu tak ada untungnya karena jepang tak lagi arena bermain utamanya. Barangkali dia harus melupakan rencana balas dendamnya dan mencari tujuan hidup yang lebih bermakna, Tapi apa?. Kini dia juga punya masalah lain. Dia tak bisa membunuh Yamanaka Ino entah mengapa dia tak ingin membunuh wanita itu dengan tangannya sendiri, tapi membiarkan dia hidup dan melepaskannya juga bukan pilihan karena Ino tahu terlalu banyak. Ino akan jadi membahayakan.

Ino tak tahu sepasang mata gelap tengah mengamatinya, Dia telah mengubur kesadarannya di tempat yang aman. Jauh dari realitas hingga ia tak lagi memedulikan sekitarnya, Tapi ia tak bisa mengabaikan rasa mual di perutnya. Dia merasa sakit dan lelah. Pandangannya berputar-putar dan perlahan menjadi buram sebelum akhirnya dia hanya melihat gelap.

Sai berlari memasuki kamar ketika melihat tubuh wanita itu mulai lunglai dan bergoyang dari kursinya. Beruntung dia tepat waktu menangkap tubuh Ino yang pingsan sebelum menyentuh lantai. Dia membopong dan membaringkan Ino di ranjang. Wajar ini terjadi, Sai menculiknya selama dua minggu. Wanita ini tak makan dengan layak, dia bahkan berhenti makan.

Harusnya dia tak merasa simpati, Dia tak mengenal perasaan itu. Tapi melihat wanita yang berbaring lemah, ringkih dan layu. Ia tak bisa berhenti memikirkan akibat dari perbuatannya. Ino yang dia tahu dari semua foto dan data yang dia kumpulkan sungguh berbeda dengan wanita yang kini hancur. Dia suka memandangi foto Yamanaka Ino. Dia selalu tampak gembira dan memiliki senyum secerah mentari dan Sai selalu bertanya mengapa wanita ini bisa tersenyum seperti itu. Sai tak pernah melihat wanita-wanita lain tersenyum dengan cara yang sama. Dia heran apa yang membuat Ino bahagia. Sementara Sai, dia sadar dirinya tak pernah tersenyum selain senyum palsu yang terpaksa dia berikan. Dia selalu membayangkan mungkin kah suatu hari dia bisa mencicipi sedikit kebahagiaan yang mampu membuat dirinya tersenyum seperti wanita itu. Mungkin tidak, Sai merasa tak punya modal untuk merasa bahagia.

Sai memanggil seorang dokter untuk memeriksa Ino. Dia berbohong dengan mengatakan Ino adalah istrinya yang sedang mengalami depresi dan psychotic pasca kematian orang tuanya. Sang dokter tak banyak bertanya. Ia melakukan pemeriksaan dan memberitahu Sai Ino mengalami kelelahan dan malnutrisi. Pria tua itu juga mengambil sampel darah Ino untuk pengecekan lebih lanjut dan menyarankan Sai membawa Ino ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan lebih baik, tapi pria berambut hitam itu menolak dengan alasan istrinya akan syok dan mengamuk. Dokter itu pergi dan berjanji akan mengirimkan hasil pemeriksaan lab besok.

Sai tak beranjak dari sisi tempat tidur. Dia cemas Ino belum bangun-bangun juga. Sai membenci dirinya sendiri yang bersikap lemah. Mengapa dia tak membunuhnya saja kemudian melanjutkan hidupnya seperti biasa. Dia malah duduk disini mencemaskan istri musuhnya.

Ino berkedip dan membuka mata. Hal pertama yang dia lihat adalah wajah pucat penculiknya. Langsung saja dia merasa ingin muntah. Pria yang dia tak tahu namanya memang makhluk hina dan menjijikkan wajar membuatnya mual-mual. Ino amat sangat membencinya. Pria itu dengan dingin menembak Sasuke yang tanpa senjata, cedera dan tak berdaya. Sungguh penculiknya tak lebih dari seorang pengecut. Ino meliriknya sedikit. Mengapa pria itu tampak lega?

"Kau sudah sadar?" Sai bertanya dengan suara yang lembut.

Ino langsung membuang muka, Dia tak perlu perhatian pria ini karena dia lah penyebab semua malapetaka yang menimpanya.

Didiamkan oleh wanita pirang itu, Sai tak lagi mencoba bicara. Dia pergi ke dapur menyiapkan semangkuk kaldu hangat dan membawanya ke kamar Ino.

"Dokter bilang kau harus makan bila masih ingin hidup" Dia meletakan nampan itu di nakas yang terletak di sisi ranjang, Mengambil mangkuk dan sendok mencoba menyuapi Ino. Tapi wanita itu tak mau buka mulut. Sai menyerah. Dia meletakan kembali sup itu di nampan.

"Bila kau ingin mati ya sudah, Bagus untukku karena aku tak sanggup membunuhmu dengan tanganku sendiri"

Pria berambut hitam itu pun pergi dengan membanting pintu. Ino hanya menatap kosong pada dinding polos berwarna krem. Dia hanya memikirkan Sasuke.

Sai pergi ke ruang tamu menyibukkan diri dengan urusan-urusannya. Tangan kanannya Lin sudah mengiriminya pesan untuk segera kembali ke Hongkong. Kekacauan di sana tak lagi bisa di selesaikan tanpa dirinya dia harus pergi tapi apa yang harus dia lakukan pada wanita itu. Sepanjang hari itu Sai tak lagi menengok Ino. Bila wanita itu ingin mati dan membusuk di sana silakan saja. Dia tak peduli.

.

.

"Bagaimana keadaan Sasuke?" Sakura baru saja tiba di rumah sakit setelah dua hari terakhir melakukan penyelidikan intensif tentang kelompok bertopeng yang menyerang Sasuke. Kelima orang bertopeng itu tewas tertembak dan sang Boss berhasil meloloskan diri dari dermaga bersama Ino. Sakura tak menemukan bukti dan petunjuk. Mungkin bila Sasuke sadar penyelidikan ini bisa berkembang. Untuk sementara semuanya buntu.

Naruto bersandar di tembok, Mereka menutupi kasus ini dari media tak ada yang perlu tahu tragedi sedang menimpa keluarga Uchiha, "Dia akan baik-baik saja, Peluru menghancurkan tulang pinggulnya. Butuh beberapa kali operasi dan rehabilitasi yang panjang hingga Sasuke bisa berjalan kembali"

"Aku lega mendengar Sasuke selamat"

"Lalu bagaimana penyidikannya?"

"Buntu, Kita tak punya petunjuk sedikit pun"

"Tapi kita tahu pelaku secara spesifik mengincar Sasuke. Apa kau tahu seseorang yang tak suka pada Sasuke?"

" Terlalu banyak kemungkinan. Keluarga Uchiha cukup tak disukai banyak pihak, mulai dari politisi hingga kaum mafia. Setiap saat ada saja orang-orang yang ingin menggoyang Fugaku dari posisinya sebagai kepala kepolisian Jepang"

"Mungkin kita bisa memulai investigasi dari sana?"

"Itu mustahil Naruto, Atas dasar apa kita mendatangi dan menanyai mereka satu per satu. Mungkin bila Sasuke sadar kita akan mendengar sesuatu darinya"

"Barangkali, Kita jadi tak tahu nasib Ino sekarang"

.

.

Sai menuangkan Brendi ke gelas kristalnya. Hari masih siang dan ia membutuhkan alkohol untuk menenangkan diri. Tadi pagi dia menerima kabar dari sang dokter yang membuatnya cukup terkejut. Tentu dia harus menyampaikannya pada Ino. Ini membuatnya merasa amat buruk tanpa dia sadari dia telah menyiksa wanita hamil.

Dia menghabiskan isi gelasnya dalam beberapa teguk. Lalu berjalan menuju kamar di mana dia menyekap Ino.

Sai tak tahu apa Ino bisa mendengarkannya atau tidak karena dia bisa melihat wanita itu tak lagi terhubung dengan kesadarannya. Yang tersisa dari wanita itu hanya sebuah cangkang yang kosong.

"Ino aku harap kau bisa mendengarku. Dokter memberitahuku kau sedang hamil empat minggu. Semuanya sekarang terserah dirimu. Kau bisa mati bersama anak itu atau kau hidup untuk membesarkannya, tapi kau akan selamanya jadi tawananku karena tak mungkin aku membiarkanmu bebas dan membahayakan diriku"

Ino tertegun mendengar semua itu. Bayinya dan Sasuke. Ia ingat saat ulang tahun pernikahan mereka Sasuke berkata menginginkan seorang anak. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Sasuke pasti tak akan memaafkannya bila Ino dengan sengaja membunuh calon buah hati mereka.

Ino meneteskan air mata. Sasuke tak benar-benar meninggalkannya. Dia sangat bersyukur kini ia menemukan sebuah alasan untuk tetap hidup. Anaknya. Dia harus menjaga satu-satunya hal yang Sasuke tinggalkan untuknya.

"Aku akan membesarkan anak ini tak peduli apa yang akan kau lakukan padaku" Suaranya begitu serak dan lemah.

"Kalau begitu kau akan ikut denganku ke Hongkong. Aku tak akan lagi melanjutkan urusanku dengan Uchiha" Sai membiarkan Ino sendirian. Dia harus menyusun rencana. Dia berbohong pada Ino. Dia akan kembali untuk balas dendam tapi tidak sekarang. Dia bisa menggunakan anak yang di kandung Ino untuk melakukan rencana liciknya.

Ia akan membiarkan Ino melahirkan bayi itu dan menjadikannya sandera dengan begitu Ino akan selalu menurutinya. Sai berniat untuk membesarkan anak Sasuke Uchiha sebagai seorang Shimura dan membuat anak itu membenci keluarganya sendiri terdengar seperti rencana yang sempurna baginya.

Ino terisak, Dia memegangi perutnya yang rata "Maafkan mama, Kalau tanpa sengaja menyakitimu" Ino tahu membuat dirinya kelaparan dan stres tak baik untuk janinnya dan dia merasa bersalah. Mulai sekarang Ino akan berusaha untuk makan dan berpikir positif demi janin yang dikandungnya. Dia hanya akan hidup demi melindungi sebuah nyawa yang dititipkan Sasuke padanya meski itu artinya dia akan menggadaikan kebebasannya.

Dalam beberapa hari kondisi Ino mulai membaik. Rona segar kembali menjalari wajahnya yang tadinya pucat. Dia dan pria itu tak banyak bicara. Situasi tak beruba, pria itu hanya datang untuk memberikannya makan. Begitu Ino sudah cukup kuat untuk turun dari ranjang. Pria itu mengizinkan Ino keluar dari kamarnya. Tak ada telepon maupun alat komunikasi yang dia bisa gunakan. Lagi pula bila ia pergi ke luar hanya untuk sekedar mencari udara segar pria itu akan mengikutinya dan mengawasinya seperti elang. Sungguh aneh di rumah sebesar itu tak terlihat ada pelayan. Hanya ada dia dan pria itu yang masih tak dia ketahui namanya.

Sudah sepuluh hari dia di sini. Dokter bilang Ino sudah siap untuk bepergian. Sai menanti cukup lama untuk membuat paspor dan identitas palsu untuk Ino. Tanpa dokumen di tanggangnya mereka tak bisa keluar dari jepang. Ia juga perlu sedikit mengubah penampilan wanita itu agar tak terlalu mencurigakan.

Ino duduk membaca, kini dia telah terbiasa dengan keberadaan penculiknya. Pria itu tak lagi suka mengancamnya. Dia kebanyakan diam dan membiarkan Ino melakukan kegiatan ini-itu untuk menghabiskan waktunya. Bukan berarti Ino lupa apa yang telah pria itu lakukan. Dia hanya tak punya banyak pilihan. Ino memutuskan untuk menurut dan mengikuti apa yang pria itu perintahkan karena Ino tahu menentangnya hanya akan membuat situasi lebih berbahaya.

Pria itu duduk di sampingnya. Ino menurunkan bukunya dan menyimak apa yang pria itu akan ucapkan.

"Kita akan meninggalkan Jepang besok dan hari ini kita pergi ke kota. Kau perlu sedikit penyamaran. Aku ingin kau berpura-pura jadi istriku"

Ino mengangguk, "Baiklah"

Sai membeli koper dan pakaian untuknya dan dia juga harus memotong rambutnya menjadi sangat pendek dan memakai kontak lens. Ino menatap bayangannya di cermin. Dia tampak seperti orang lain. Pria itu bahkan memberinya nama baru yang terdengar kebarat-baratan. Maria Huan. Entah bagaimana caranya pria itu berhasil mendapatkan paspor tiongkok dengan fotonya Ino tak tahu.

Sebelum mereka pergi Ino akhirnya tahu nama pria itu. Dia meminta Ino untuk memanggilnya Ren, tapi Ino yakin itu bukan nama aslinya. Wanita itu menitikkan air mata saat meninggalkan jepang. Dia berjanji dalam hati ia akan kembali untuk membawa anaknya menemui keluarganya.

.

.

Empat bulan berlalu. Sasuke Uchiha masih berada di atas kursi roda. Pemulihannya berjalan cukup lambat tapi semakin hari dia semakin sehat. Naruto dan Sakura kerap menjengguknya. Sasuke bergelut dalam penderitaan. Empat bulan berlalu tanpa ada tanda di mana Ino berada. Orang-orang sudah mulai menyerah mencarinya. Tapi Sasuke tak ingin percaya Ino meninggal sampai ia melihat buktinya sendiri.

Terdengar suara ketukan pintu di kamarnya. "Masuk"

Sakura dan Naruto datang dengan wajah muram. Mereka tak tahu harus bagaimana memberitahu Sasuke berita buruk ini

"Ada apa kalian datang dengan wajah muram begitu?"

"Sasuke, Ayahmu meminta menghentikan penyidikan atas hilangnya Ino. Kita sudah melakukan penyidikan panjang tanpa hasil dan ayahmu bilang sebaiknya polisi memfokuskan diri untuk menyelesaikan kasus lainnya"

"Tak bisa, Kalian harus melanjutkan kasus ini aku yakin Ino masih hidup"

"Sasuke apa kau berpikir penjahatnya akan membiarkan Ino hidup setelah mengetahui terlalu banyak? Itu tak mungkin. Pria yang menembakmu tak pernah meninggalkan bukti" Ucap Sakura.

"Apa yang dikatakan Sakura benar, Peluang hidup Ino sangat kecil. Kami tahu tragedi ini amat berat bagimu dan keluargamu tapi Sasuke sebaiknya kau menerima kenyataan dan berusaha melanjutkan hidupmu"

Bahu pria berambut raven itu merosot dalam kesedihan. Dia tertunduk di atas kursi rodanya. Kata-kata mereka ada benarnya. Ino tak mungkin selamat tapi ia masih sangat ingin berharap. Siapa yang tega merenggut wanita yang dia cintai dari sisinya. Sasuke berjanji akan menemukan pelakunya tak peduli dia akan membutuhkan waktu bertahun-tahun dia akan mencari sendiri keadilan itu.

.

.

Ino duduk di beranda apartemennya. Wanita itu mengelus-ngelus perutnya yang tampak mulai membulat. Dia dan Ren tinggal bersama dan mereka pura-pura menjadi suami istri. Pria itu satu-satunya yang Ino ajak bersosialisasi. Dia tak mengenal siapa pun di sini dan dia juga tak mengerti bahasanya. Semua begitu asing. Ino tak ambil pusing dengan rasa terasingnya karena dia hanya fokus pada kehamilannya.

Ino merasa Ren terlalu misterius. Ia tak pernah bertanya apa yang pria itu lakukan. Sering dia pulang larut malam atau dini hari dengan pakaian bernoda darah. Kadang dia juga kembali dengan tubuh terluka, Tapi Ino tak pernah memusingkannya. Hal yang mereka lakukan bersama barangkali hanya makan dan terkadang ia juga membawanya ke acara pesta.

Ren mengajarkannya untuk menggunakan pistol tentu saja Ino tidak menolak, barangkali kemampuan itu sangat berguna suatu saat. Tiap kali Ino pergi keluar. Penculiknya selalu menyiapkan body guard dan sopir. Ino paham dia tak ingin memberikan Ino kesempatan untuk melarikan diri. Ponsel Ino bahkan terus menerus di pantau olehnya. Ia bagaikan burung dalam sangkar.

Sering kali Ino sendirian di rumah. Ren sudah pergi pagi-pagi sekali dan pulang malam. Dia tak bisa kabur karena pria itu pasti tahu. Rumah ini penuh dengan cctv dan Ren juga memiliki jaringan dimana-mana. Ino tak pernah mengerti pria itu. Dia sangat dingin tapi bila diperlukan pria itu muncul.

Tiga bulan awal kehamilannya begitu membuatnya sengsara. Ia terus-menerus mual dan muntah. Ia juga merasa sangat lelah dan penculiknya selalu menemaninya. Dia membantu Ino ke kamar mandi. Mengabulkan semua permintaan yang merepotkan dikala dia sedang mengidam. Pria itu bahkan dengan rajin mengantarkannya ke dokter untuk memeriksakan kehamilannya.

Ino membuat makan malam saat pria itu kembali. Ia tampak lelah dan Ino tak bertanya ada apa. Ren jarang menceritakan tentang dirinya. Pria itu melempar tas kerjanya ke sofa disusul jas dan dasinya.

"Mau makan malam di rumah?"

Pria itu mengangguk. Dia selalu memilih makan di rumah bersama Ino bila bisa. Sai duduk di meja makan sambil menunggu Ino menghidangkan pasta buatannya.

Ino muncul dengan dua piring di tangannya dan meletakkan satu di hadapan Sai. Dia juga mengambil sebotol bir dingin dari kulkas untuk pria itu. Tinggal hampir empat bulan bersama membuat Ino hafal akan kebiasaannya.

Ino mulai menyuapi dirinya dan dia bingung mengapa teman serumahnya masih diam, "Kenapa belum makan?"

"Kau belum mencicipi piringku"

"Kau terlalu paranoid, Apa aku pernah mencoba meracunimu?" Dengan garpunya Ino meraih sejumput pasta dari piring Sai dan memasukkan ke mulutnya, "Kau lihat aman, Aku heran mengapa kau begitu paranoid"

Sai mulai makan," Aku harus selalu waspada. Kau tetap salah satu orang yang punya alasan kuat untuk melihatku mati"

"Kau pikir aku bisa membunuh?"

"Siapa yang tahu. Aku sudah mengajarimu menembak bukan"

"Mengapa kau mengajariku melindungi diri dan memberikanku pistol?"

"Musuhku ada banyak, karena aku membuat kesan kalau kau adalah istriku. Mereka mungkin akan datang dan menculikmu untuk menekanku"

"Persis seperti yang kau lakukan pada Sasuke" Ino jadi marah mengingat soal itu.

"Tapi aku tak akan berakhir seperti suamimu. Karena aku tak akan menukarkan nyawaku untukmu. Kau harus berusaha melindungi dirimu sendiri"

Mendengar itu Ino menggebrak meja dan pergi ke kamarnya. Meninggalkan makan malamnya tidak tersentuh.

Sai bingung mengapa wanita itu jadi tersinggung dia hanya mengungkapkan kenyataan. Mungkin dia tak sensitif membawa- bawa nama suami wanita itu. Sampai sekarang Sai belum tahu nasib Sasuke Uchiha. Tak ada kabar tentang kematiannya besar kemungkinan pria itu masih hidup tapi Sai tak akan pernah memberitahu Ino.

.

.

Sai mondar-mandir di depan ruang bersalin. Sudah dua jam Ino di dalam sana dia jadi sangat khawatir. Wanita itu bukan istrinya dan bayi dalam perutnya juga bukan anaknya tapi Sai terlanjur membuat koneksi dengan mereka. Dia menghabiskan banyak waktu bersama Ino mempersiapkan kedatangan bayi itu. Dia bahkan menjadikan salah satu kamar di apartemennya menjadi ruang bayi. Dia membiarkan Ino menghabiskan uangnya untuk membeli semua peralatan bayi dan sejujurnya dia merasa tegang.

Bayi itu memang anak Uchiha Sasuke tapi Sai sudah berniat untuk membesarkan anak itu di bawah naungannya. Tapi apa yang dia tahu tentang bayi. Dia hanya tahu soal memanipulasi dan membunuh. Terdengar suara tangisan bayi dari dalam sana. Seorang suster memanggilnya.

"Tuan, Putra anda sudah lahir"

Sai bergegas masuk. Dia menemukan Ino terbaring lemah sementara sosok bayi mungil telungkup di dadanya. Sai memperhatikan bayi itu memiliki rambut pirang seperti Ibunya. Suster mengambil bayi itu dan sang bayi mulai menangis. Suster menyerahkannya pada Sai yang tampak bingung.

"Gendong lah putra anda"

Sai dengan canggung mengendong bayi mungil yang masih menangis. Ia takut bila ia tanpa sengaja menyakiti bayi mungil yang rapuh itu. Begitu bayi itu ditangannya tangisnya langsung berhenti. Sepasang bola mata berwarna aquamarine menatapnya dengan polos dan penuh kepercayaan. Tangan mungilnya mencoba mengapai-gapai pipi Sai. Tiba-tiba saja pria itu merasakan perasaan yang tak pernah dia rasakan. Sesuatu yang hangat dan menyenangkan menyentuh hatinya yang dingin. Sai membiarkan tangan-tangan mungil itu menyentuh hidungnya dan pria itu tersenyum.

Ino terkejut melihat ekspresi yang dibuat penculiknya. Ren tersenyum. Selama ini Ino tak pernah melihat pria itu benar-benar tersenyum dan kini seorang bayi yang merupakan anak dari musuhnya membuat pria itu senang. Ino tak mengerti mengapa nasib begitu aneh. Seharusnya Sasuke yang berdiri di sana dengan bangga mengendong bayinya tapi yang terjadi malah si pembunuh yang menggantikan tempat Sasuke. Ino tak memungkiri Ren dengan aktif ikut mengurusi kehamilannya meskipun dengan terpaksa tapi dia tak pernah membiarkan Ino menghadapi kesulitannya sendiri. Kadang Ino tak habis pikir mengapa orang yang begitu jahat repot-repot mengurusinya.

Sai kembali menyerahkan sang bayi pada Ibunya. "Apa kau sudah memberinya nama"

"Inojin, itu namanya"

"Hai Inojin, Aku akan jadi penjagamu mulai hari ini" ucap Sai dengan lembut pada bayi mungil itu.

"Aku punya permintaan"

"Apa?" Sai menatap wanita yang dia paksa menemaninya.

"Aku ingin suatu hari Inojin pulang ke Jepang. Aku ingin dia tahu tempat kelahiran Ibunya"

"Tentu saja Ino. Suatu hari kita akan membawanya pulang ke Jepang"