Disclamer :

This is collaboration story between Meyla Rahma and NoonaRyeo a. ka Choi Dande

This is just a story. All the cast in this story is owned by themselves and their agency. ^^

LOVE BETWEEN THEM

.

WonHyuk

HaeHyuk

.

Collaboration Story

Meyla Rahma

NoonaRyeo Choi Dande

.

Romance

Fluffy(?)

Series(?)

.

All cast is NOT mine.

But this plot is owned by Meyla Rahma and NoonaRyeo a. ka Choi Dande.

Typos may be applied in this story.

And I'm sorry for that. ^^

Don't copy anything in this story without Permission.

It just story. So be mature.

.

Summary :

Kau mencintaiku. Namun hati ini tak pernah terlepas dari dirinya

Haruskah aku memilih satu di antara kalian?

.

Let's begin . . .

.

.

"Jadi,ada apa?"

Sepasang mata teduh itu menyorot tegas padanya. Siwon terkekeh,memilih membuang tatapannya pada pada pohon maple yang berdiri angkuh tak jauh dari Cafe tempatnya berada. Memandang tak fokus dengan mata yang menerawang pada sosok yang selalu berada dipikirannya.

"Aku mengiyakan ajakanmu untuk bertemu bukan untuk menemanimu diam seperti ini."

Decakan pelan lelaki didepannya terdengar menyapa. Siwon mendengus sinis. Jika tidak ingat tentang tujuannya,ia juga tidak ingin bertemu,apalagi duduk satu meja dengan pria brengsek- menurutnya- didepannya.

"Ini soal Eunhyuk," mulai Siwon.

Tatapan matanya menyorot tak kalah tegas. Memandang lelaki didepannya tepat disepasang manik teduh itu.

"Jadi benar tebakanku?"

Donghae- nama lelaki itu- terkekeh sinis. Bibirnya kembali menyeruput coffe kesukaannya.

Siwon tidak menyahut. Fokus matanya tak teralihkan dari wajah tampan didepannya. Ada rasa kaget didalam dirinya mendengar ucapan Donghae, sebelum benaknya menggumam pelan. Memang jika bukan tentang Eunhyuk, adakah alasan lain yang mengharuskan keduanya bertemu? Mereka bahkan tidak pernah saling mengenal.

"Jadi?"

Sebelah alisnya terangkat menatap Siwon. Punggungnya menyandar nyaman pada kursi dibelakangnya dengan tangan yang saling menyilang angkuh. Melakukan hal serupa seperti apa yang tengah dilakukan Siwon. Membiarkan untuk sesaat kebisuan menemani keduanya dengan mata yang saling menatap.

Siwon mendesah pelan. Fokus matanya kembali teralih. Memutus kontak keduanya. Bibirnya mengukir senyum hambar seraya menatap kosong cangkir yang berisi latte kesukaannya.

"Aku akan melepas Eunhyuk untukmu."

Matanya menyorot tegas menatap Donghae. Tak ada keraguan disetiap kata yang diucapkannya. Donghae, sekalipun ada rasa kaget yang menghantamnya sesaat tadi tak pelak tawanya lah yang justru terdengar membahana.

"Apa yang kau katakan tuan Choi? Are you kidding, right?" Donghae terkekeh kecil. Jari tengahnya mengusap air yang keluar dari ujung matanya.

"Tidak."

Senyum Donghae sontak menghilang. Maniknya menatap lelaki tampan didepannya datar. Sebelum bibirnya mendengus sinis.

"Kau gila."

Donghae kembali menyereput minumannya. Sekedar membasahi kerongkongannya yang mendadak kering sesaat setelah mendengar ucapan Siwon. Ada rasa tak nyaman yang tengah bersarang didalam dadanya. Siwon tidak menyahut. Sekali lagi,membiarkan keheningan menemani keduanya dengan pikiran yang menerawang masing-masing. Detik berlalu bertemu menit,dan tak ada satupun dari keduanya yang ingin memecah kebisuan yang terjadi.

"Wae?"

Donghae menggumam. Tak menatap lelaki didepannya. Lebih memilih memfokuskan diri pada pikirannya yang tengah terpenuhi semua hal tentang apa yang sudah terjadi selama ini. Tentang dirinya,Eunhyuk, juga seseorang yang sudah memiliki hatinya.

"Mungkin ini batas kesanggupanku."

Siwon terkekeh kecil. Kedua bahunya terangkat tak acuh. Sebelum senyum mirisnya terukir hambar. Batinnya sudah terlalu lama menertawakan dirinya sendiri. Betapa lemah dirinya hanya karena sosok itu. Seseorang yang selalu menjadi prioritas utamanya.

"Kau tahu bukan itu maksudku Choi."

Penekanan disetiap kata yang diucapkannya membuat Siwon terdiam. Entahlah, Donghae tidak tahu apa yang tengah dirasakannya sekarang. Kesalkah ia? Marahkah ia? Tapi lebih dari itu, dirinya kesal pada siapa? Pada Siwon kah yang akhirnya memilih menyerah? Atau pada dirinya sendiri yang dulu memilih kembali? Tanpa tahu, jika seseorang yang sempat dicampakannya nyatanya masih memiliki rasa yang dulu sempat diberinya.

Siwon diam. Menatap lama mata Donghae. Mencoba mencari apa maksud ucapan lelaki tampan itu. Ia sama sekali tidak tahu. Sampai sudut bibirnya mendengus kecil.

Gadis itu eh?

"Jika aku memintamu untuk meninggalkan gadis itu untuk Eunhyuk, apa kau akan melakukannya?"

Hampir saja Donghae tersedak. Matanya sontak menilik tajam pada lelaki tampan didepannya. Batinnya berteriak keras memaki Siwon. Apa yang dikatakannya? Dia bilang, memutuskan Sandara demi untuk bersama Eunhyuk?

Dasar gila!

Siwon tidak tahu alasan apa yang membuatnya sampai mengatakan hal egois macam itu. Dia hanya terlalu bingung apa yang harus dilakukannya sekarang. Ia mencintai Eunhyuk. Sangat. Dia hanya ingin lelaki manis itu bahagia. Dan dirinya akan melakukan semua hal yang bisa membuat Eunhyuk bahagia. Mungkin keputusan untuk melepas Eunhyuk sekarang adalah hal yang terbaik. Eunhyuk tidak bahagia dengannya. Lelaki kurus itu memiliki sumber kebahagiaannya sendiri. Lee Donghae.

Tapi, fakta bahwa Donghae sudah memiliki seseorang yang lain lah yang membuatnya bimbang. Haruskah ia tetap kekeuh untuk melepas Eunhyuk, sementara Donghae sudah membiarkan Sandara memiliki hatinya?

Donghae terkekeh sarkastik melihat Siwon yang terdiam dengan mata yang menerawang kosong. Lelaki didepannya itu bodoh apa terlalu naif eh?

"Tidakkah kau merasa jika dirimu bodoh?"

Donghae mengucapkannya tanpa tedeng aling-aling. Ia bahkan tidak mengenal Siwon. Tapi, melihat bagaimana lelaki tampan itu sekarang entah kenapa ia merasa kesal sendiri. Siwon tidak menyahut. Hanya dengusan samarlah yang terdengar dari bibir tipisnya. Faktanya,ia memang bodohkan? Bodoh karena cintanya pada Eunhyuk.

"Kau tahu Choi, mungkin jika aku mau mengatakannya. Cintaku pada Eunhyuk tidaklah sama seperti dulu."

Untuk beberapa saat, tubuhnya berjengit kaget. Siwon memandang lekat-lekat wajah yang tengah terdiam itu. Begitu banyak pertanyaan yang langsung menyerangnya kini. Tentang Kenapa Donghae menerima Eunhyuk kembali sementara lelaki itu pun tahu jika cintanya sudah berbeda.

"Entahlah. Sampai sekarang pun aku masih bingung kenapa aku mau menerimanya kembali sementara aku sudah memiliki seseorang yang kucintai."

Donghae terkekeh sinis. Mengumpat pada dirinya sendiri. Jika saja ia tidak menerima Eunhyuk kembali, mungkin keadaannya tidak akan serumit ini. Ia tidak akan terjebak dengan cinta masa lalunya. Ia tidak akan terjebak diantara dua lelaki bodoh itu.

.

xxOOxx_Love Between Them_xxOOxx

.

Eunhyuk bukannya tidak sadar. Dia hanya mencoba berpikir positif. Mungkin saja Siwon memang sedang banyak pekerjaan, hingga membuatnya seperti menjadi sosok yang lain. Hei~ ia sudah lama mengenal lelaki kekar itu. Setidaknya ia juga paham bagaimana perangai Siwon. Tapi, semuanya seperti semakin jelas akhir-akhir ini. Yang ia tahu,s esuatu pasti telah terjadi dengannya. Hanya saja, ia tidak tahu sesuatu itu.

"Kau lebih pendiam akhir-akhir ini hyung."

Eunhyuk membalik lembaran kertas buku yang sedang dibacanya. Tidak menatap lelaki lain yang duduk tepat dibelakang tubuhnya. Mengingat besok akan diadakan kuis dikelasnya. Itu lah kenapa kini keduanya duduk bersama didepan layar tv yang menyala. Siwon selalu akan menyempatkan diri untuk menemaninya belajar sekalipun lelaki tampan itu hanya duduk diam dengan dokument kerjanya.

"Hm? Maksudmu?"

Kepalanya berputar. Eunhyuk memandang dalam diam wajah Siwon yang masih menekuni lembaran-lembaran yang dipegangnya. Tak lama sampai bibirnya mencebil kesal. Siwon tahu jika ia tidak suka diabaikan, tapi apa sekarang? Bahkan pria tampan itu tidak mau menatapnya sama sekali.

Tsk!

Eunhyuk menumpukan dagu lancipnya pada meja didepannya. Memandang masam buku-bukunya yang berserakan diatas meja. Jika saja ia tidak mengingat besok akan ada kuis, sudah dari tadi ia lempar kertas-kertas menyebalkan itu.

Napasnya berhembus berat. Eunhyuk menatap datar layar tv didepannya. Sedang pikirannya ia biarkan menerawang entah kemana. Bibirnya sontak mengukir senyum tipis saat sekelebat bayangan wajah Donghae menari indah dipikirannya. Tak lama sampai senyumnya memudar, diganti dengan bibirnya yang mendumel kesal. Ia ingat jika sudah beberapa hari ini sang kekasih sangat sulit dihubungi. Dan itu semakin membuatnya kesal sekarang. Cukup sudah dengan sikap aneh Siwon, dan kini Donghae juga bersikap aneh.

Menyebalkan!

Siwon melirik pada Eunhyuk lewat ekor matanya yang berbingkai lensa putih bening. Tersenyum kecil saat tubuh yang membelakanginya itu kini tengah membuka kasar setiap lembaran buku yang tengah dibacanya.

Tangannya terulur untuk meletakan dokumen yang sejak tadi dipelajarinya disisi meja yang lain. Tubuhnya beranjak dan memilih mendudukan diri disamping Eunhyuk. Ada rasa rindu yang selalu ditahannya beberapa hari ini yang bersarang didalam hatinya. Ia sadar jika dirinya akhir-akhir ini sudah mengabaikan Eunhyuk. Tidak dalam artian yang sebenarnya memang. Hanya saja, ia memang tidak melakukan kontak fisik sesering seperti sebelum-sebelumnya.

Entahlah. Sejak kejadian dimana ia menemukan Eunhyuk memeluk photo dirinya dan Donghae, seolah itu semua seperti menjadi sekat dirinya untuk menyadari posisinya. Ia bukannya tidak tahu akan maksud ucapan pria kecintaannya itu tadi, tapi ia sedang tidak ingin membahasnya sekarang.

Siwon memandang teduh sisi wajah Eunhyuk yang kini sudah kembali sibuk dengan bukunya. Jemarinya terulur untuk mengelus pipi putih itu. Membuat Eunhyuk berjengit untuk sesaat. Lekaki manis itu menoleh cepat padanya. Siwon tersenyum manis saat Eunhyuk mendengus dan membuang mukanya.

"Sudah melupakan kekasih tak bernyawamu itu eoh?"

"Eh?"

Eunhyuk mendecak. Tangannya terjulur untuk merapikan semua buku mata kuliahnya. Biarlah, ia sudah mulai bosan belajar sekarang.

"Heh? Yang benar saja. Kau cemburu pada kertas- kertas itu Hyukkie?"

Siwon tersenyum. Menatap menggoda pada Eunhyuk. Sementara tangannya sudah sibuk dengan surai lembut pria manis itu. Mengelusnya penuh kelembutan. Siwon tahu jika Eunhyuk sangat suka jika ada seseorang yang mengusap kepalanya dengan lembut. Entahlah, ia pun tidak tahu kenapa. Saat ia bertanya pun, Eunhyuk hanya akan menjawabnya jika ia suka. Menurutnya, dia seperti menjadi seseorang yang sangat disayang.

Terlalu naif.

"Hyukkie."

Eunhyuk tidak menyahut. Lelaki manis itu hanya membawa matanya untuk menatap Siwon. Memandangnya diam dengan tatapan bertanya.

"Apa kau sangat mencintai Donghae?"

Dan tubuh Eunhyuk menegang. Matanya menyorot kaget pada sepasang manik didepannya. Ada apa? Apa maksud Siwon menanyakan hal yang sangat sensitif seperti itu? Tidakkah Siwon berpikir jika pertanyaannya terlalu frontal? Tidakkah ia memikirkan perasaannya? Tidakkah Siwon memikirkan perasaannya sendiri?

"Kenapa menanyakan hal seperti itu hyung?"

Bola matanya bergerak liar. Ada rasa tak nyaman yang langsung menyerang hatinya. Ia bahkan tidak tahu kenapa harus merasakan perasaan seperti itu. Bukankah dengan ini,semuanya akan lebih mudah. Ia tidak memungkiri jika sudah beberapa hari ini dirinya mulai berpikir tentang hubungannya dengan Siwon.

"Jawab saja."

Matanya memandang dalam diam wajah manis Eunhyuk. Dalam kegelisahannya,S iwon menunggu kata apa yang akan meluncur dari bibir kissable sang pria manis. Sebenarnya, tanpa bertanya pun Siwon sudah bisa menebaknya. Hanya saja, ia ingin mendengar langsung dari bibir Eunhyuk.

"Y-ya."

Eunhyuk menggumam lirih. Nadanya mengalun ragu, dan Eunhyuk menyadari itu. Membuatnya bertanya-tanya dalam hati. Bahkan sekalipun matanya tak menatap pada Siwon. Benarkah aku masih mencintai Donghae?

.

xxOOxx_Love Between Them_xxOOxx

.

Cinta kadang membuat semua hal yang tersapa mata hanyalah bayang belaka. Apa yang terjerit dalam lubuk hati, hanya terdengar bak desisan angin lalu. Hal itulah yang tengah mendera diri Eunhyuk. Lelaki bergummy smile itu masihlah dilanda gundah hati yang seakan tak berkesudahan. Ia selalu menampik. Menampik segala desir hati yang ia rasa saat bersama Siwon. Dan lebih memilih ego serta obsesi untuk bersama cinta lamanya – Donghae.

Drrrt. . Drrrt. .

Getar ponsel di saku celanannya membuyarkan segala gamang yang melanda pikirannya. Sebait nama seseorang yang ia klaim sebagai yang paling ia kasihi itu sudah tak lagi mampu membuat bibirnya untuk mengulas senyum. Ia hanya menatap sepenggal pesan itu dengan raut sendu. Tak ada lagi gurat riang seperti yang dulu ia torehkan. Hanya ada sorotan sendu dan gamang yang kembali menyambangi hatinya.

To : Hyukkie

Kutunggu kau di taman tempat kita biasa bertemu.

Tak ada lagi bait penutup penuh cinta seperti yang biasa lelaki tampan itu berikan padanya di setiap pesan. Namun justru itu sama sekali tak mempengaruhi hati Eunhyuk. Ia masih diam, menatap kosong ponsel di tangannya.

"Kau baik – baik saja, Hyuk?"

Suara Sungmin berhasil mengembalikan alam sadarnya. Ia hanya tersenyum hambar. Terlalu hambar untuk disebut sebuah senyuman.

"Dari Donghae?" tanya Sungmin ragu.

Mereka baru saja menyelesaikan kelas mereka hari ini lebih awal. Mengingat Sungmin sedang sibuk mencari referensi untuk bahan skripsinya. Sedang Eunhyuk hanya ada kelas untuk kuis pagi tadi. Jadi mereka sekarang tengah bersantai di siang hari ini dalam kantin.

"Kalian ada masalah?" tanya Sungmin sembari menengguk jus alpukatnya.

"Entahlah hyung,"

Ada desah putus asa dalam nada Eunhyuk. Dan Sungmin menyadari itu. Kadang ia merasa iba melihat teman yang telah ia anggap seperti adiknya itu. Namun jika ia ingat betapa keras pendiriannya saat menginginkan untuk kembali bersama Donghae padahal ia masih berstatus kekasih Siwon. Disitu terkadang jengkel kembali memenuhi hatinya. Ia tak ingin sepenuhnya menyalahkan Eunhyuk. Hanya saja, entahlah ia sendiri juga tak tahu harus menasehati seperti apa.

"Apa aku masih mencintai Donghae seperti dulu?"

"Huh? Kau bilang apa barusan, Hyuk?"

"Ah, ani. Lupakan hyung,"

Eunhyuk berucap sembari berusaha mengulas senyum – walau gagal. Sungmin hanya mendengus kesal. Ia sudah jengah dengan sikap Eunhyuk dan Siwon yang selalu bersikap tak ada masalah dan terus membodohi semua orang di sekitar mereka.

"Haaah, kalian memang bodoh,"

"Bodoh? Yah, hyung," balas Eunhyuk tak terima.

"Kalian itu bodoh. B . O . D . O . H," Sungmin mencerca penuh penekanan,

"-kalian terlalu suka menyakiti diri kalian sendiri. Apa kalian masocist, huh?"

Eunhyuk hanya mengedipkan mata tak mengerti dengan semua perkataan Sungmin. Sedang di lain sisi Sungmin hanya mengumpat jengah dengan sikap lelaki manis itu. Kau itu kelewat naif atau memang bodoh?

"Terserah lah," Sungmin membereskan tumpukan buku ke dalam tasnya

"-kalian berdua memang pasangan yang menyedihkan," sebelum ia beranjak dari sana meninggalkan Eunhyuk seorang diri.

Eunhyuk hanya menatap punggung Sungmin yang perlahan menjauh dari pandangannya. Lelaki bergigi kelinci itu memang benar. Ia memang bodoh dan menyedihkan. Bersih keras untuk kembali bersama Donghae disaat ia masih berstatus kekasih Siwon. Dan sekarang merasa hambar dengan hubungannya dengan Donghae. Bukankah itu sama halnya dengan seorang yang brengsek?

"Otteoke. . ."

.

xxOOxx_Love Between Them_xxOOxx

.

Siwon menatap kosong hamparan gedung – gedung menjulang dari balik kaca ruang kerjanya. Bangunan beton yang menjulang seakan mencakar hamparan langit di atasnya. Ingatan lelaki tampan itu terflash back bagaimana sosok sang terkasihnya – Eunhyuk – begitu membenci gedung menjulang itu.

'Apa mereka tak bisa membangun gedung yang biasa saja?'

'Huh? WaeyoHyukkie?'

'Aku benci bagaimana bangunan beton itu menjulang seperti itu hyung,'

'Eh? Kenapa begitu?'

'Gedung – gedung tinggi itu menghalangi keindahan dunia kita yang seharusnya alami, hyung. Dan lagi,mereka seperti ingin menyaingi kuasa Tuhan yang membangun dunia ini,'

Siwon tersenyum mengingat betapa naif nya sosok Eunhyuk saat itu. Kekasih yang begitu ia cintai. Seluruh kasih yang telah ia tumpahkan pada lelaki manis itu seakan membuatnya kelimpungan saat ia di hadapkan dengan kenyataan jika Eunhyuk mencintai lelaki lain. Mencintai cinta pertamanya yang seakan menjadi obsesi jiwanya.

Drrrt. . Drrrt. .

Getar ponsel dalam saku membuat Siwon tertabrak kenyataan. Ia meraih benda persegi itu dan membaca sebuah pesan yang nampak di layar kaca itu. Sebuah pesan dari orang yang secara tak langsung sudah menghancurkan romansa kasihnya dengan Eunhyuk - Donghae.

To : Siwon

Ku tunggu kau di Taman Maple dipinggir kota. Aku mau semua kekonyolan ini berakhir.

Siwon hanya tersenyum kecut. Kekonyolan dia bilang? Donghae hanya tak tahu, seberapa besar pengorbanan hatinya selama ini, saat akhirnya Eunhyuk lebih memilih lelaki brunette itu dari pada dirinya. Donghae hanya tak tahu, betapa ia harus menahan besarnya rasa sakit akibat kasihnya yang tak lagi berbalas. Siwon satu - satunya pihak yang tersakiti namun ia lebih memilih bertahan dengan cintanya yang bertepuk sebelah tangan. Bodoh memang. Tapi itulah wujud cinta Siwon pada Eunhyuk.

Siwon bangun dari duduknya dan melangkah meninggalkan ruangannya. Berucap singkat pada sang sekretaris, lelaki berpostur bak model itu masuk menuju mobilnya dan membawanya melaju membelah jalanan kota. Siwon sadar pikirannya saat ini tak benar - benar ada dalam keadaan fokus. Gamang hatinya membuat semua hal terasa semu bagi lelaki berlesung pipi itu. Jalanan kota yang lumayan ramai bagai penggalan klise yang semu bagi pengelihatannya. Seakan semuanya berbaur dengan semua kenangan masa lalunya bersama Eunhyuk.

Ia bahkan tidak sadar tengah membawa laju mobil hitamnya dengan kecepatan di atas rata - rata. Kenangan menyakitkan itu terlalu jelas ia rasakan, saat bagaimana bayang wajah Eunhyuk yang tertawa membias di akalnya. Tawa manis yang ia tahu bukan lagi untuknya. Hanya sebuah bayang lamunan, namun sakit yang menghunus hatinya terasa begitu nyata.

Siwon tak lagi mampu membedakan mana kenyataan yang ia tapaki dan mana bagian dirinya yang tengah tenggelam dalam angan rasa sakitnya. Yang ia tahu, tubuhnya terguncang ketika benda baja yang menjadi tumpangannya berdentum hebat. Dentuman itu terdengar keras ditelinganya. Begitu memekakan hingga membuat kepalanya berdenyut sakit.

Maniknya terbuka lirih hanya untuk melihat bagaimana kini ia tahu jika posisi tubuhnya tidak lagi sama seperti seseorang yang duduk nyaman dibalik kemudi. Ia berusaha kembali meraih kesadarannya saat lagi-lagi rasa sakit menghantam kepalanya. Tangannya terulur, mencoba merasakan sesuatu yang membasahi rambutnya. Namun belum tahu apa yang menjadi jawabannya, gelap lebih dulu membekap pengelihatannya. Membawa kesadarannya pergi menjauh bersama rasa sakit yang mendera seluruh sendi tubuhnya.

.

.

.

"Aku akan menemui dirimu setelah ini, sayang," Donghae mengerem mobilnya di depan lampu merah.

"-aku sedang ada urusan dengan seseorang. Tunggulah di cafe tempat biasa kita bertemu oke,"

Terdengar suara decakan kesal dari seseorang dibalik sambungan telpon Donghae. Suara seorang wanita cantik yang terdengar tengah merajuk karena sang kekasih yang selalu terlambat saat bertemu dengannya.

"Hei, kau marah? Ayolah, aku tahu kau tidak akan bisa marah padaku,"

Donghae terkekeh saat mendengar gerutuan dari lawan bicaranya. Sandara, wanita itu lah yang sudah memiliki hatinya kini, seseorang yang hadir sesaat setelah ia berpisah dengan Eunhyuk. Ia memang memiliki ketertarikan pada wanita. Namun juga tak memungkiri jika ia tertarik dengan lelaki seperti Eunhyuk. Sebut saja ia seorang Biseksual.

Lelaki tampan itu masih sibuk dengan ponsel di telinganya. Sesekali pandangannya beralih menatap sebuah kado yang niatnya akan ia berikan pada Eunhyuk sebagai kenangan terakhir darinya. Lelaki berlengan kekar itu bahkan tak menyadari jika didepannya terlihat sebuah mobil yang tengah melaju dengan cepat. Saat ia sadar, ia hanya mengumpat keras dan membanting kemudinya kearah trotoar. Kepalanya terantuk setir kemudi yang membuat pengelihatannya memburam. Yang ia ingat hanya teriakan orang - orang yang berlarian menghampiri mobilnya yang ia tahu sudah menabrak pohon di pinggir jalan. Dan perlahan, buram di matanya semakin menenggelamkan kesadarannya.

.

xxOOxx_Love Between Them_xxOOxx

.

Eunhyuk berlari cepat di tengah koridor rumah sakit. Terlalu panik hingga mengabaikan lalu lalang beberapa orang yang sesekali tertabrak tubuhnya. Pikirannya terlalu kalut hingga membuatnya bahkan tidak mau menyempatkan diri untuk meminta maaf pada setiap orang yang ditabraknya. Bau rumah sakit begitu khas menguar di indera penciumannya. Ia terus berlari sembari mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Mencari keberadaan seseorang yang beberapa saat lalu ia dapatkan kabar tengah berada di unit gawat darurat rumah sakit tersebut.

'Yeoboseyo? Hae, kau dimana?'

'Maaf tuan, saat ini pemilik ponsel tengah mengalami kecelakan,'

'Apa?! Ini siapa? Maksudku, dimana Donghae sekarang? Apa dia baik – baik saja?'

'Tenanglah tuan, kami dari pihak kepolisian. Teman anda baru saja mengalami kecelakaan lalu lintas. Dan sekarang dalam perjalanan menuju rumah sakit,'

'Arraseo, dimana alamat rumah sakitnya?'

Eunhyuk menghirup nafas banyak-banyak sebelum membuangnya perlahan. Mencoba menekan diri untuk tetap bersikap tenang. Tubuhnya terdiam cukup lama didepan ruangan Unit Gawat Darurat milik rumah sakit terbesar di kota itu. Ruangan yang merupakan bangsal yang dilos dengan beberapa ranjang berjejer dengan sekat tiang infus di sisi kanan dan kirinya. Banyak orang yang terbaring lemah dengan pergelangan yang terhubung selang disana. Beberapa dari mereka mengenakan perban di lengan dan kepala akibat luka kecelakaan – mungkin.

Manik kelam itu masih tak berhenti menyisir tiap penghuni ruangan panjang itu. Hingga matanya menangkap sosok yang ia cari. Sosok tampan yang tengah terpejam dengan kepala berbalut perban dan terbias warna merah di sisi kiri kepalanya.

"Hae!"

Eunhyuk sudah akan melangkah menghampiri ranjang Donghae saat merasa seseorang dari belakang tubuhnya menabrak pelan bahunya – mendahului langkahnya. Dan berhenti tepat disamping tubuh Donghae yang tergolek lemah.

'Dia. .?'

"Hae, bangunlah. Kenapa bisa seperti hm? Apa yang terjadi?"

Eunhyuk bisa mendengar kata demi kata dari sosok yang baru saja menabraknya itu. Suara yang bergetar sarat dengan nada khawatir yang nyaris terdengar seperti jeritan. Beberapa perawat menghampiri wanita itu – menjelaskan apa yang telah dialami kekasihnya. Sedang Eunhyuk yang masih berdiri diam disana, terdiam bagai orang bodoh saat mendengar bagaimana setiap kalimat yang ia dengar dari mulut wanita itu mampu membuatnya mematung. Eunhyuk tahu siapa wanita mungil yang kini tengah menggenggam erat jemari Donghae.

Dia, , Sandara Park.

Putri dari rektor tempat ia kuliah. Park Jungsoo.

Dan sekarang wanita itu tengah membelai wajah Donghae dengan wajah tersedu. Ia menggenggam jemari Donghae erat. Jemari kokoh yang pernah membelai lembut wajahnya. Eunhyuk menggigit keras bibir dalamnya. Mencoba menahan rasa perih yang kini menyapa hati lelaki yang akan memasuki usia 23 tahun ini. Ia merasa terkhianati melihat bagaimana wanita itu menyentuh setiap bagian tubuh kekasihnya. Namun, satu sisi ia merasa bersalah. Untuk alas an yang bahkan ia sendiri tak tahu mengapa.

Tubuhnya berputar. Eunhyuk lebih memilih pergi meninggalkan dua orang itu. Hatinya tak terlalu kuat walau sekedar melihat romansa yang wanita itu tunjukkan pada diri Donghae yang masih terpejam. Katakan ia terlalu sensitif. Tapi terlalu munafik rasanya bila ia bilang ia baik - baik saja. Sejujurnya ia ingin menangis. Tapi egonya terlalu tinggi untuk mempersilahkan air matanya turun di hamparan pipinya.

Bugh. . .

"Maaf permisi tuan,"

Tubuh kurus itu terhuyung ke samping, menabrak dinding rumah sakit saat seseorang mendorongnya sembari menyeret sebuah kasur dorong dengan seseorang yang berbaring diatasnya dengan wajahnya berlumuran darah. Eunhyuk masih terdiam menatap kasur dorong itu yang semakin menjauh. Butuh beberapa detik baginya untuk mengenali sosok yang mulai menghilang di balik pintu ruang bertuliskan ICU. Eunhyuk kenal orang itu. Seseorang yang begitu mencintainya. Seseorang yang merelakan segala hal demi kebahagiaannya. Seseorang yang terlampau sering ia sakiti hatinya.

Siwon.

.

xxOOxx_Love Between Them_xxOOxx

.

Eunhyuk terduduk di salah satu deret kursi yang bersandar di dinding porselen. Pandangan lelaki manis itu kosong menatap lantai dibawahnya, seakan menerawang ubin tempat kakinya berpijak. Ia termenung disana sejak satu jam yang lalu dengan perasaan menyesakan yang kini membelunggu hatinya. Menunggu siapa saja yang akan keluar dari ruang ICU itu, sekedar untuk menyampaikan kabar tentang Siwon yang berada di dalam sana. Hingga beberapa menit kemudian seorang dokter paruh baya keluar dari sana dan membuat Eunhyuk berlari mendekatinya.

"Bagaimana keadaan Siwon hyung, dokter? Apa dia baik - baik saja?"

Dokter itu menatap Eunhyuk dengan alis bertaut.

"Anda keluarga korban?"

"Ya, saya keluarganya!" jawab Eunhyuk cepat.

Lelaki paruh baya itu menghela nafas besar. Hal yang semakin membuat hati Eunhyuk berdetak tak tenang. 'Ya tuhan, apa yang sebenarnya terjadi?'

"Tuan Siwon mengalami benturan yang keras di kepalanya hingga mempengaruhi sistem saraf diotaknya. Kami masih belum bisa memastikan hal apa yang akan terjadi padanya. Untuk sekarang ini, ada kemungkinan besar ia akan mengalami koma untuk waktu yang tak bisa kami perkirakan,"

Tubuh kurus itu mendadak kaku. Bahkan sorot matanya tak lagi menatap pria paruh baya didepannya. Begitu banyak hal yang kini menyerang pikirannya. Dan dari semua hal yang menari indah dipikirannya, satu hal yang sanggup membuatnya merasakan kebas dihatinya. Fakta jika ia bahkan tidak mengetahiu jika seseorang yang selama ini begitu mencintainya, nyatanya baru saja hampir meregang nyawa. Kristal bening itu turun perlahan membasahi pipi putih Eunhyuk. Bahunya bergetar berusaha tetap tegar namun ia justru limbung dan bersandar pada dinding di belakangnya.

Dokter itu memberikan kalimat penenang sembari menepuk pelan pundak Eunhyuk dan berlalu. Meninggalkan lelaki manis itu yang kini sudah tidak bisa lagi membendung air matanya. Tubuhnya merosot jatuh. Membawanya untuk menyentuh dinginnya lantai rumah sakit. Isakannya kembali terdengar sayup – sayup membelah ketenangan lorong ICU. Sebelum tangisnya pecah semakin keras. Tubuhnya yang menyentuh dinding bergetar hebat. Ia butuh Siwon hyungnya. Ia butuh seseorang yang selalu bisa menenangkannya saat ia menangis. Ia butuh Siwon.

'Mianhe hyung. Jeongmal mianhe,'

.

.

Bunyi alat – alat pendeteksi jantung adalah hal pertama yang tertangkap pendengaran Eunyuk saat pemuda manis itu memasuki ruangan dimana kekasih yang begitu mencintainya tengah terbaring tak sadarkan diri. Onyx beningnya kembali terlapisi kristal saat ia melihat tubuh kekar yang selama ini sering merengkuhnya hangat tengah tergolek lemah dengan banyak kabel yang menempel di dadanya. Alat bantu pernafasan yang melingkupi hidung bangir dan bibir sang rupawan itu membuat hati Eunhyuk berdenyut ngilu.

"Hyung,"

Suara serak itu bahkan terdengar seperti sebait bisikan di telinga Eunhyuk sendiri. Langkahnya bak terseret menuju kursi di samping ranjang pasien. Keadaan Siwon terlalu menguras perih di hatinya. Ada lebam disisi kiri sang terkasih. Ditambah perban yang melingkari keningnya – menutup bekas jahitan di dalamnya. Leher jenjangnya telapisi gips tebal di tambah dengan beberapa memar di dada bidang Siwon.

Rasa bersalah Eunhyuk semakin membuncah saat ia menatap wajah kalem Siwon yang terpejam. Kemana saja ia, hingga harus menemukan Siwon seperti ini. Dengan bodohnya ia lebih mengkhawatirkan seseorang yang kini ia tahu adalah kekasih orang lain – Donghae.

"Hyung. . . Ireonnayyeo,"

Paras manis itu tengah berusaha membendung buncahan emosi yang meledak di dadanya. Suaranya parau, mencoba menahan tangis yang berusaha ia tahan. Hingga pada akhirnya ia lebih memilih kalah dan membiarkan air matanya kembali menuruni paras putihnya.

"-ireonna hyung. Jebal,"

Isakan itu terdengar samar beriring bunyi alat yang menempel di tubuh Siwon. Jemarinya masih menggenggam erat jemari kekar Siwon yang tergolek lemah. Eunhyuk merasa sesak. Merasa sakit melihat betapa Siwon yang ia kenal begitu kuat dan tegar, kini tengah terpejam lemah. Seakan menyerah dengan rasa sakit di hatinya yang terlalu sering ia rasa.

"Mianhe hyung, jeongmal mianheyyeo. Maafkan atas segala hal bodoh yang aku perbuat," Eunhyuk terisak hingga tubuh kurusnya bergetar

"-aku yang salah, hyung. Aku yang bodoh telah menyakiti lelaki berhati malaikat sepertimu. Jeongmal, mianhe hyung,"

Tubuh kurus itu bergetar menahan sesak di dadanya. Terlukis jelas betapa ringkih dan rapuhnya Eunhyuk saat ini. Seseorang yang biasa memeluknya kala menangis kini tengah berbaring tak berdaya di hadapannya. Seseorang yang selalu ia acuhkan dan ia tampik keberadaannya. Dan sekarang dengan semua penyesalan yang membuncah di dada, ia menginginkan Siwon sadar dan kembali menemani hari - harinya. Betapa egois sang lelaki manis itu.

Perlahan ia mengecup jemari kekar Siwon. Menyalurkan seluruh rasa sesal dan sesak yang membelenggu hatinya. Ia menyesal. Menyesal dengan semua sikap acuh yang menyia-nyiakan Siwon - lelaki yang tak pernah menyerah untuk mencintai lelaki egois macam dirinya.

'Sadarlah, hyung. Kumohon. . .'

.

xxOOxx_Love Between Them_xxOOxx

.

Sore itu masih sama. Sang mentari mulai terlingkupi gumpalan awan yang menuntunnya ke ufuk barat. Meninggalkan sinarnya yang terbias anggun membingkai senja di musim gugur yang mulai menyapa kota padat penduduk itu. Lelaki manis kita tengah berjalan cepat membelah trotoar yang mulai sepi. Melangkah lurus menuju gedung tinggi tempat banyak orang berobat di dalamnya.

"Hyukkie,"

Langkah kaki jenjang itu terhenti kala sebuah frasa namanya terdengar. Ia menoleh kearah seseorang yang memanggilnya. Dan detik berikutnya ia menyesali tindakannya.

"Kenapa kau kemari, Hyuk?"

Donghae, lelaki brunette itu nampak tengah bersandar pada pilar bangunan rumah sakit dengan kepala masih terbalut perban. Eunhyuk masih belum siap untuk bertemu lelaki yang dulu pernah ia yakini ia cintai. Senyum kikuk itu terlukis di bibir sensualnya.

"Oh Hae, apa kabar?"

Sebuah kalimat tak begitu jelas terucap begitu saja. Membuat sosok lawan bicaranya menggerinyit heran.

"Kau kemari untuk mencariku?" tanya Donghae sembari berjalan mendekati Eunhyuk pelan.

"Nope," Eunhyuk menghindari tatapan sendu Donghae yang selalu berhasil mempengaruhi hatinya.

"-aku sedang ada urusan di sini,"

"Urusan? Di rumah sakit?" tanya Donghae lagi.

Eunhyuk memejamkan mata. Sejenak menenangkan gemuruh hatinya. Berusaha meyakinkan diri bahwa ia tak lagi mencintai sosok di depannya.

'Semua hanya obsesi belaka,' ulang batin Eunhyuk bagai mantra.

"Kau kemari untuk bertemu denganku, bukan?" tanya Donghae - dengan sebuah senyum playful kali ini.

Eunhyuk menunduk dan perlahan menarik sudut bibirnya,

"It's over, Hae."

"Huh?"

Lelaki brunette itu memasang raut bingung saat kalimat pelan itu menembus telinganya. Di lain sisi Eunhyuk melukis senyum lembut di wajah ayu nya dan menatap lurus obsidan Donghae. Membuat hati Donghae berdebar saat melihat senyum menawan itu.

"Everything between us it's over, Hae. Nothing left," senyum itu masih menghipnotis hati Donghae,

"-dan aku rasa kau sudah tahu alasannya,"

Keduanya terdiam. Hanya hembusan angin dan beberapa suara tapak lalu lalang orang di sekitar mereka yang bergemerisik. Donghae masih belum bisa terlepas dari kelamnya manik Eunhyuk. Berusaha menyelami pikiran lelaki manis itu. Mencari sepercik keraguan - yang entah mengapa Donghae harapkan. Namun sayang tak ia temukan.

"Hae," seorang wanita berjalan menghampiri Donghae

"-dia siapa?"

Eunhyuk tersenyum lembut kala Sandara menatap bingung eksistensinya di dekat Donghae. Tangan kanannya terulur sembari melukis senyum ramah.

"Eunhyuk. Aku teman Donghae, noona," ucap Eunhyuk ramah.

Sandara membalas uluran Eunhyuk dan menjabat lembut jemarinya. Senyum ramah itu juga terlukis di wajah kecilnya.

"Senang berkenalan denganmu, Eunhyuk-sshi. Kau kemari untuk menjenguk Donghae?" tanya Sandara - ragu.

"Aniyo noona. Aku tak sengaja kemari untuk menjenguk kekasih ku," Donghae menatap Eunhyuk dengan alis bertaut.

"-dan aku tak sengaja bertemu Donghae," Eunhyuk tak sepenuhnya berbohong karena dia kemari untuk menjenguk kekasihnya - Siwon.

"Kekasihmu sakit?" tanya Sandara - lugu.

"Ya noona," Eunhyuk menatap lurus obsidan Donghae.

"-dia sedang koma saat ini,"

Ada ekspresi terkejut di wajah Donghae. Namun lelaki brunette itu mencoba tetap tenang.

'Siwon koma?' tanya Donghae dalam hati.

"Koma? Astaga, aku turut bersedih untuk kekasihmu, Eunhyuk-sshi," tutur Sandara.

"Terima kasih, noona," Eunhyuk menatap jam di pergelangan tangannya,

"-senang berkenalan denganmu, Dara noona. Dan cepat sembuh untuk mu, Hae. Aku permisi terlebih dahulu,"

Eunhyuk mengangguk dan tersenyum tipis saat mengakhiri percakapan ringannya. Lelaki manis itu melangkah masuk ke dalam rumah sakit, meninggalkan sepasang kekasih yang menatap kepergiannya dengan pikiran berbeda. Ia sudah tak lagi peduli dengan jerit hatinya yang seakan masih terobsesi dengan lelaki brunette itu. Sudut hatinya yang penuh sesal dan kecewa lebih memenangkan dirinya.

Donghae kini akan menjadi sepenggal kisah masa lalu yang akan ia kubur jauh dalam pikirannya.

.

xxOOxx_Love Between Them_xxOOxx

.

Penyesalan. Itulah yang tengah menggelayuti hati dan pikiran Eunhyuk. Benar memang jika penyesalan tak pernah datang di awal. Eunhyuk terlalu terbuai dengan hasrat dan obsesinya akan cinta lama yang sebenarnya tak pernah ia inginkan kembali.

Kini yang ia tahu hanya Siwon. Siwon yang tak menyambutnya kala memasuki kamar rumah sakit. Siwon yang masih terbaring dengan jiwa yang tersekat di antara hidup dan mati. Dan disini lah Eunhyuk sekarang. Di samping ranjang tempat Siwon terbaring dengan tangan yang bertaut erat pada jemari sang pria tampan.

"Kau tahu hyung, Sungmin hyung begitu heboh karena besok akan mulai Sidang. Dia begitu gugup karena ia masih kurang yakin dengan skripsinya. Bahkan ia sampai tidak bisa tidur. Bukankah itu lucu, hyung? Dia sudah selesai membuat skripsi dan tidak yakin dengan apa yang ia buat saat hendak sidang," tutur Eunhyuk antisias - seakan Siwon mendengar dan mengerti ucapannya.

Begitulah hari - hari Eunhyuk berlalu. Hampir 4 minggu sudah lelaki manis itu bolak - balik ke rumah sakit untuk menjaga Siwon. Ayah ibu Siwon memang kemari. Tapi tak lama karena mereka juga harus mengurusi masalah kedutaan di Paris. Karena mereka memang duta besar di negara fashion itu. Mereka mempercayakan anak sulung mereka pada Eunhyuk. Ya, mereka memang mengenal Eunhyuk sebagai kekasih Siwon. Namun mereka tak pernah tahu, apa saja yang telah Eunhyuk lakukan pada putra pertama mereka.

Eunhyuk masih setia menatap wajah rupawan yang terpejam hampir sebulan terakhir. Eunhyuk merindukan obsidan kelam yang biasa berbinar teduh untuknya. Ia rindu dengan belaian kasih yang selalu Siwon berikan padanya. Ie rindu saat mereka masih bisa tertawa bersama jauh sebelum semua keegoisan hatinya membuat hubungan mereka kaku tak sehangat dahulu.

"Kau tahu hyung, aku rindu dengan hamparan pantai yang mengagumkan di pulau jeju," Eunhyuk menerawang dalam genggaman jemarinya di jari Siwon,

"-aku masih ingat saat kau menyiapkan sebuah kejutan makan malam romantis di tepi pantai berhias matahari tenggelam kala itu,"

Air mata itu perlahan turun membelah hamparan putih pipinya. Seperti inilah Eunhyuk. Hampir setiap hari kala menjaga Siwon ia menangis. Tangis penyesalan itu seakan tak berkesudahan. Ia selalu mengajak bicara Siwon yang tak sadarkan diri. Mungkin terlihat konyol, namun hanya itu yang bisa Eunhyuk lakukan. Ia ingin lelaki rupawan itu segera sadar dari koma nya. Mendekapnya hangat seperti dulu saat mereka bersama.

"Sadarlah hyung. Apa kau tak merindukanku? Merindukan kekasih tengilmu ini?" Eunhyuk terisak pelan

"-aku rindu kelembutan dan hangat dekapanmu. Aku merindukanmu, hyung. Sadarlah, ku mohon,"

Eunhyuk tertunduk seiring isakan yang membuat tubuh kecilnya bergetar. Bermacam rasa bergejolak di hatinya. Rindu, sesal dan marah pada dirinya sendiri. Membuat lelaki manis itu tak menyadari sepasang obsidan yang terbuka perlahan.

Siwon sadar.

Obsidan kelamnya masih menyesuaikan cahaya yang masuk menembus rentinanya. Rasa sakit di kepalanya lumayan membuat alisnya berjengit pelan. Namun arah pandangnya langsung terpusat pada seseorang yang tengah duduk dan menggenggam jemarinya di sebelah ranjang. Sosok cantik yang selalu ia puja yang kini tengah terisak dengan tubuh bergetar.

"Hy-hyuk,"

Tubuh kurus itu menegang sesaat. Sebelum orbs kelamnya menatap sosok yang jemarinya tengah ia genggam. Sosok rupawan itu telah membuka mata. Menatapnya teduh namun lemah. Kristal bening itu semakin mengalir tak terkendali karena buncahan bahagia dalam hatinya.

"Hyung. . Hyung sudah sadar," Eunhyuk memeluk Siwon tanpa berpikir dua kali,

"-aku harus panggil dokter. Biar ia memeriksa kondisi mu, hyung,"

Eunhyuk melepas pelukannya dan sudah akan melangkah sebelum tangan lemah itu menahannya. Eunhyuk diam dan menatap bingung Siwon.

"Kau tak perlu kemana - mana," ucap Siwon pelan.

"Tapi hyung, aku harus panggil dokter untuk memeriksa mu," tungkas Eunhyuk.

Siwon tersenyum pelan. Ia meraih jemari Eunhyuk dan menggenggamnya perlahan.

"Sebegitu khawatir kah dirimu?" Eunhyuk menaikan sebelah alisnya tak paham,

"-tidakkah tombol itu lebih efisien?" ujar Siwon sembari menunjuk tombol di sebelah ranjangnya melalui gestur matanya.

Eunhyuk sempat tertegun untuk beberapa detik. Sebelum ia tersenyum kikuk karena tingkahnya. Siwon benar. Untuk apa ada tombol itu jika ia harus repot - repot berlari memanggil dokter.

"Tekanlah tombol itu dan duduklah dengan tenang, baby,"

Ada gurat merah jambu yang terbias tipis di pipi Eunhyuk. Inilah yang ia rindukan dari sosok Siwon. Tutur lembutnya selalu mampu membuat hati Eunhyuk menghangat. Dulu ia berusaha menampik kenyataan itu. Namun kini, tak ada alasan baginya untuk menampik kehangatan yang perlahan menyelubungi hatinya.

.

xxOOxx_Love Between Them_xxOOxx

.

Senyum itu masih terkembang di bibir Eunhyuk. Pandangannya menyapu hamparan biru bergumpal putih dari balik kaca jendela. Raut itu masih tersenyum lembut bahkan ketika jemarinya tergenggam oleh sosok lain di sampingnya. Ia mengalihkan pandang dan menatap lekat sosok yang juga tengah memandangnya lembut.

"Apa kau bahagia, baby?"

"Tentu saja, hyung. Aku sangat bahagia,"

Rona bahagia itu tergambar jelas di wajah Eunhyuk. Membuat sesimpul senyum terlukis di bibir Siwon. Ia dan Eunhyuk tengah berada di dalam pesawat. Perjalanan ke pulau Jeju yang di nanti Eunhyuk di saat liburan semesternya. Siwon memang sudah pulih sepenuhnya semenjak sadar dari komanya 3 bulan lalu.

Jika bertanya tentang hubungan mereka, maka Siwon akan menjawab semua baik - baik saja. Tak ada satu pun dari mereka yang mencoba mengungkit kembali kejadian sebelum Siwon terkapar dalam koma. Mereka tak terbiasa berucap dalam kata. Buraian air mata Eunhyuk di malam setelah ia sadar sudah cukup baginya menggambar seberapa besar penyesalan lelaki manis itu. Dan bagi Siwon itu sudah lebih dari cukup melukis permohonan maaf yang baginya tak perlu.

"Hyung?"

Suara Eunhyuk membuyarkan lamunan Siwon. Lelaki manis itu tengah memandangnya dengan wajah termiringkan - manis. Dan dengan gemas Siwon mencubit hidung bangir sosok bak porselen itu.

"Kenapa kau begitu menggemaskan sih, baby?"

"Ish hyung, sakit," rajuk Eunhyuk sembari mempout bibir - sesuatu yang lama tak Siwon lihat.

Siwon menyandarkan kepalanya dan mulai memejam mata. Membuat Eunhyuk merasa sedikit khawatir. Perlahan lelaki manis itu beringsut mendekatkan diri pada sang terkasih.

"Hyung? Waeyyo?" tanya Eunhyuk memastikan kondisi Siwon.

"Aniyo. Gwenchana,"

Siwon meraih kepala Eunhyuk dan menyandarkannya di bahu kekarnya. Perlahan menggenggam jemari lentik lelaki ayu itu. Membuat seburat merah itu terbias manis di hamparan pipi sang submissive. Mereka tak pernah melakukan skinship yang berlebihan.

Siwon benar - benar menjaga hubungan mereka menjadi hubungan yang sehat. Mereka tak pernah bersentuhan lebih dari ciuman atau pelukan. Siwon sangat menghargai Eunhyuk. Lelaki manis itu memang belum pernah tersentuh. Mungkin dulu dalam masa lalunya dengan Donghae ia nyaris tersentuh.

"Huwaaa. . ."

Seruan kagum itu menjadi hal pertama yang Eunhyuk suarakan saat memasuki kamar penginapan mereka. Penginapan bernuansa sederhana namun elegan dengan hamparan pantai biru berkilau yang luar biasa indah menjadi preview utama dari balkon kamar.

Siwon sangat memahami apa yang di inginkan lelaki manis itu. Natural scent. Hal yang selalu Eunhyuk idamkan dari kecil. Eunhyuk memang bukan orang yang asli berasal dari kota. Oleh sebab itu, segala hal berbau nature adalah kebahagian tersendiri baginya.

"Hyung,"

Sepasangan lengan melingkar manis di pinggang Eunhyuk.

"-ini benar - benar menakjubkan,"

"Mau jalan - jalan?" tawar Siwon dengan alis terangkat sebelah.

Dan tentu saja di sambut dengan pekikan riang serta seretan tangan Eunhyuk yang melangkah girang. Mereka berjalan menapaki pasir putih yang terasa begitu halus di kulit kaki. Eunhyuk lebih suka menikmati pantai dengan bertelanjang kaki. Menikmati sepoi angin sore musim semi yang memanja siapapun.

Siwon berjalan di belakang lelaki manis yang masih asyik menendang pelan pasir di pijakannya. Sesekali tertawa ringan saat menemukan beberapa kerang yang berbentuk unik nan lucu. Siwob tak mampu menahan senyum kala memandang setiap gerik energik lelaki manis di depannya.

Eunhyuk berbalik dan menatap Siwon lurus seakan menembus obsidan kelam itu. Sesimpul senyum manis itu terukir indah membuat hangat menyelubungi hati Siwon. Sosok Eunhyuk terlihat begitu mengagumkan dengan buraian surai dark chocolatenya yang terhembus angin.

"Gomawo hyung,"

Frasa itu terdengar sederhana namun memiliki arti yang besar bagi diri Siwon. Sekelebat ingatan membuat lelaki tampan itu tersenyum simpul. 'Mungkin ini waktu yang tepat,'

"Hyukkie,"

Alis Eunhyuk bertaut kala sang kekasih meraih tangan kanannya dan mulai bersimpu di hadapannya. Kebingungan masih melanda lelaki manis itu hingga tak mampu berujar dan menatap polos pada sang rupawan.

"-aku tahu mungkin aku bukan yang sempurna. Aku memang bukan orang yang pandai merangkai untaian bait romantis nan indah. Aku memang terkadang terlalu banyak mengeluh dan gila bekerja. Namun yang aku tahu, aku memiliki niat kuat untuk membuatmu bahagia,"

Siwon merogoh saku celananya dan mengeluarkan kotak beludru kecil bewarna maroon yang kini di genggamannya. Ia membuka kotak itu dan menampilkan sebuah cincin indah yang tersemat di tengag kotak.

"Aku tak mampu menjanjikanmu apapun. Aku hanya mampu menawarkan masa depan yang bisa kita rajut bersama kelak dalam ikatan suci pernikahan. Would you marry me, Lee Hyukjae ?"

Eunhyuk masih disana. Menatap dengan binar keterkejutan yang mutlak terbias di orbs kelamnya. Ia hanya mampu membawa tangannya menutup bibir sensualnya dengan mata yang mulai terlapisi kristal bening. Siwon yang menyadari hal itu sontak berdiri dan meraih lelaki bertubuh lebih kecil itu dalam dekapan hangatnya.

"Aku tak akan memaksa, baby. Jika kau memang belum siap, tak apa," tutur Siwon lembut sembari membelai pelan surai dan punggung Eunhyuk yang bergetar.

"Pabbo,"

"Huh?"

Siwon berjengit bingung saat Eunhyuk melepas dekapannya dan menatapnya dengan mata yang masih teraliri kristal bening dan ujung hidung yang memerah.

"Hyung pabbo,"

Isakan halus itu menjadi jeda kalimat Eunhyuk.

"-siapa bilang aku tak siap? Siapa bilang aku tak mau menjadi pendampingmu?" lanjutnya dengan bersendekap lucu.

Siwon masih berkedip masif hingga otaknya bisa memproses dengan benar, ia kembali membawa Eunhyuk ke dalam dekapannya. Kali ini lebih erat akibat buncahan bahagia dalam relung hatinya. Mereka tertawa bersama dan perlahan memisah diri. Siwon menangkup wajah Eunhyuk dan menghapus jejak air mata di hamparan pipi sang lelaki manis.

"So, your answer ?"

Seutas senyum manis itu tertoreh di wajah ayu lelaki manis itu.

"I do, hyung. I do marry you,"

Dan dengan itu Siwon membawa bibirnya terpaut dengan bibir sang pujaan hati. Bias senja di ufuk pantai,menawa bagai background menawan yang menjadi saksi kedua insan yang tengah terbuai buih cinta yang selama ini tertampik sebelah pihak.

Eunhyuk terlah sepenuhnya membuka hati bagi Siwon. Menutup segala kelam di masa lalu yang akan ia gunakan sebagai cambuk di kehidupannya di masa mendatang. Ia akan mulai merajut asa indah bersama pria yang selama ini tak pernah menyerah untuk terus mencintai dan membahagiakannya. Pria yang tak pernah lelah mencintai ia yang dulu buta akan obsesi masa lalunya.

Yang di depan mata seolah tak kasat - itulah cinta.

.

The End

.

Hallo para reader yang budiman. . . :)

Lama menunggu kelanjutan projek kami.?

Sungguh arti kata 'sabar' sangatlah penting dalam penantian kelanjutan FF ini. #dibakar

Cerita ini sebenarnya sudah selesai jika di lihat dari bagian patner sy - NoonaRyeo. Namun karna dia berpatner dengan sy yg memang sudah dari cetakannya(?) hobby sekali 'ngaret' jadi ya begini lah. FF pun tertunda lama pempublish'annya. :v

Kalau nantinya banyak yang menganggap cerita ini terlalu fluffy maka BENAR adanya.

Karena memang itu salah satu unsur mendalam cerita ini. #ApaanIni #plok

Sy tak ingin banyak berkicau. Karena memang sy sudah lelah(?) dan berusaha tetap terjaga dengan kejenuhan pikiran akan kertas-kertas yang bertebaran di kamar sy. #TakAdaYgTanya :v

Jadi sy cukup dan patner sy NoonaRyeo, mengucapkan terima kasih yg sebanyak - banyaknya bagi kalian para readers yg sudah berkenan mengapresiasi karya kami di kota Review. #hug

Selebihnya kami ingin meminta maaf jika ada banyak typo yg bertebaran. Sy sudah edit ulang. Jika masih ada, anggap saja ke khilafan sy. #plok

Salam,

Meyla Rahma & NoonaRyeo

June 18, 2015