Chapter 4
"Aku mau tahu siapa di antara kalian yang menjadi pacar Anezaki-san."
Mamori tersentak dan menahan napasnya beberapa saat. Dia menoleh cepat menatap Ichiro yang duduk di sebelah. Lelaki itu bahkan sangat santai menanyakan hal yang membuat Mamori hampir tercekat.
Semua orang berhenti dari aktivitasnya dan memandang ke Ichiro. Beberapa bahkan memasang tampang bertanya 'siapa orang ini?'. Seketika itu juga mereka langsung ramai berbicara satu sama lain menanyakan hal yang sama.
"Eeh!? Sejak kapan Mamori-san punya pacar?" tanya Monta terdengar sakit hati.
"Orang secantik miss Anezaki tentu saja sudah punya pacar, Monta-kun." sahut Taki, menyisir rambut depannya ke belakang dengan jari.
"Wah, aku tidak tahu kalau Mamo-nee sudah punya pacar." ujar Sena menimpali.
"Siapa orangnya Mamori-chan?" tanya Kurita dengan mulut penuh makanan.
"Kalian ini. Tentu saja Mamo-nee sudah punya pacar. Bukan begitu, You-nii?" timpal Suzuna tersenyum puas seolah menumpahkan bensin ke gumpalan api. Wajah Mamori bertampah panas dan semua orang mengalihkan pandangan ke mantan kapten mereka. Hiruma sendiri masih tetap tenang dan mengerti situasi yang telah terjadi di sini. Hiruma menatap Mamori yang sudah menatapnya. Mereka saling menatap selama beberapa saat seolah bebicara dengan mata mereka.
"Oh aku ingat. Seingatku, Anezaki-san memanggil pacarnya dengan nama Youichi, Yochi, Yuushi, atau semacam itu." sahut Ichiro lalu menambahkan dan melihat lurus ke arah Hiruma, "Apakah kau orangnya?"
Seperti ada petir di belakang mamori, dia menatap Ichiro tidak percaya. Hiruma memasang tatapan tajamnya ke Ichiro. Hiruma dan mamori tidak tahu harus berkata apa untuk meredakan situasi ini. Lelaki benama Ichiro ini tidak kenal takut, bahkan saat berhadapan dengan iblis dari neraka sekalipun. Atau mungkin, dia terlalu bodoh untuk mengetahui situasi apa yang dia hadapi.
"Ichiro-kun," ujar Mamori menarik lengan baju Ichiro agar dia mengalihkan tatapannya dari Hiruma. "Aku rasa kamu salah paham."
"Aku tidak mungkin salah Anezaki-san. Sore tadi di telepon kau bilang, kau punya pacar yang saat itu sedang bersamamu. Di mini market tadi kau juga bilang kalau pacarmu ada di dalam sini." jelas Ichiro, "dan kamu membeli permen karet yang sama seperti yang dimakan lelaki itu. Aku yakin kau membelikan untuknya." tambahnya sambil menunjuk bungkus permen karet yang tergeletak di depan meja Hiruma. Lelaki ini ternyata memiliki mata yang tajam juga.
Mamori melihat permen karet di atas meja yang tadi dibelinya. Dia memang membelikannya untuk Hiruma karena tadi dia menitip dan belum sempat Mamori berikan kepadanya. "Kau salah, aku membelinya untukku sendiri."
Ichiro tersenyum, "Tidak mungkin. Sara-san bilang kamu suka makanan manis, creampuff ini buktinya." Ichiro menunjuk kotak Kariya creampuff yang tadi di beli Mamori. "Kamu tidak mungkin membeli permen karet sugar free. Ya 'kan?" Ichiro tersenyum lagi dan Mamori makin tersudut. Dia tidak bisa berkata-kata lagi. "Lagipula, memangnya kalian semua tidak tahu mereka berpacaran?" tanya Ichiro lugu kepada setiap pasang mata yang menatapnya.
"Waaaa... Sejak kapan Mamori-san pacaran dengan Hiruma-san ?" tanya Monta Histeris. "Aku tidak bisa terima!"
"Monta, tenanglah." ujar Sena menenangkan Monta.
"Kyaaa! Aku sudah menduganya. Kenapa kamu tidak pernah cerita kepadaku Mamo-nee?"
Kali ini Jumonji yang berada di ujung meja mulai bersuara. "Itu sudah menjadi gosip lama Taki-san. Semua murid Saikyoudai sudah pada tahu." tambahnya jahil lagi-lagi memanaskan suasana.
Hiruma sudah tidak peduli dan dia mendengar Musashi berkata, "Kau tertangkap basah." ujarnya kepada Hiruma.
"Diamlah kau Pak Tua!" sergah Hiruma dan Mamori hanya berharap jantungnya mulai berdetak dengan normal kembali.
.
.
Saat suasana sudah kembali tenang bagi Mamori, dia melanjutkan makan sushi dan creampuff-nya. Ichiro terus mengajaknya mengobrol dan Mamori tidak keberatan. Menurut Mamori, Ichiro orang yang menyenangkan. Ada saja hal yang mereka bicarakan tanpa ada rasa canggung. Selama itu, Hiruma sama sekali tidak melihat ke arahnya, begitu juga dengan Mamori. Ichiro pun tidak bertanya banyak tentang Hiruma, yang dia ketahui sebagai pacar Mamori, dan Mamori sangat bersyukur dengan itu.
"Kau sama sekali tidak membantu." Hiruma mendengar Mamori di belakangnya saat mereka keluar dari kedai sushi. Sebagian mantan anggota klub Deimon sudah pulang, termasuk Ichiro. yang tersisa hanya, Sena, Suzuna, Monta, serta Kurita yang masih ada di dalam. Dia hanya melirik sekilas ke Mamori dan terus berjalan tidak peduli. "Kau tahu, mereka sudah salah paham."
"Kau yang memulai semuanya, dan sejak kapan kau peduli?" ujar Hiruma memberikan pertanyaan yang pernah Mamori tujukan kepadanya waktu itu.
"Itu dulu!" teriak Mamori dan memastikan hanya Hiruma yang mendengarnya berteriak. "dulu, kesalahpahaman mereka hanya berupa dugaan. Sekarang mereka salah paham pada hal yang sama sekali tidak benar!"
Hiruma berbalik menghadap Mamori, mereka sudah sampai di samping motor Hiruma."Lalu kau mau aku berbuat apa, heh? Kau mau aku membuatnya menjadi benar?" tanya Hiruma ketus menatap tajam ke mata Mamori dan membuat wajah mereka hanya berjarak lima belas senti.
Mamori terdiam, tidak berusaha untuk mundur sedikit pun, "Bukan begitu maksudku. Aku cuma tidak mau kau kepikiran."
"Oh ya? Tampaknya malah kau yang kepikiran." kesalnya. "Jadi, tetaplah bersikap tidak peduli dan berhentilah khawatir."
"Hiruma-san," suara seseorang mengganggu mereka, "Oh, maaf." tambah orang itu, yang ternyata adalah Sena, membuat mereka menolehkan kepalanya menatap Sena. "Aku ingin bicara dengan Hiruma-san, apa boleh Mamo-nee?"
Mamori tersenyum, "Tentu saja Sena. Kenapa kamu meminta izinku segala?" Mamori mendorong lengan Hiruma agar menghampiri Sena. "Aku akan tunggu di sini." katanya kepada Hiruma.
.
.
Hiruma dan Sena berjalan ke arah sisi lain pintu kedai menjauh dari tempat Hiruma memarkir motor. "Ada apa pendek?" tanya Hiruma, walaupun sekarang tubuh Sena tidak bisa dibilang pendek. Tingginya memang sudah lebih dari tinggi Mamori, tapi hanya beberapa senti lebih pendek dari Hiruma.
"Kau sudah memikirkannya?" tanya Sena.
"Aku tadi sudah berbicara dengan si rambut liar soal permintaanmu. Kalau si gendut, dia masih harus memikirkannya lagi. Kenapa tidak kau tanyakan saja?"
"Aku sudah menanyakannya. Tapi Kurita-san sepertinya masih bingung. Bagaimana denganmu dan Yamato-san?"
"Dia sepertinya tertarik. Kalau aku, kau tahu aku masih harus memikirkannya." jawab Hiruma kemudian melihat sekilas ke arah Mamori. "Kau belum bilang apa-apa ke manager sialan itu 'kan?"
Sena melirik menengok ke Mamori yang sedang bersandar di motor Hiruma. "Tadinya aku mau memberitahukannya malam ini. Karena itu pasti berita gembira untuknya." jawab Sena mulai ragu, "tapi kalau kamu tidak mau aku memberitahunya, aku akan diam."
"Kalau begitu, jangan bilang."
Sena mengangguk. "Pelatihku butuh jawaban cepat Hiruma-san. Aku akan senang sekali kalau kalian mau menerimanya."
"Aku tahu, sialan! Ini keputusan sulit." sekali lagi dia melihat ke arah Mamori.
Sena mengikuti pandangan Hiruma dan menghela napas panjang. "Aku tidak memaksamu Hiruma-san. Jadi pikirkanlah yang terbaik." ujarnya. "Aku akan ke Amerika seminggu lagi. Jadi aku harap kalian bertiga memberikan jawaban sebelum itu."
"Aku akan memberitahumu segera." ujar Hiruma sambil lalu meninggalkan Sena. Sena mengikutinya dari belakang dan kembali ke dalam kedai, sedangkan Hiruma berjalan menuju motornya.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Mamori kepada Hiruma.
"Bukan urusanmu." ujar Hiruma cepat menaiki motor membuat Mamori memasang wajah cemberutnya dan menaiki motor di belakang Hiruma.
.
.
Mamori datang ke klub jam dua siang setelah jam kuliahnya selesai. Khusus hari ini, memang dia yang selalu datang lebih awal karena anggota yang lain masih ada kuliah, tentunya termasuk dengan Hiruma. Mamori memasukan kunci ke lubang pintu dan terkejut saat ada tangan menepuk pundaknya, "Yo, Anezaki-san." sapa orang yang sekarang berdiri di belakang Mamori.
Mamori sontak melihat orang di belakangnya, "Yamato-kun! Kau membuatku kaget." sahut Mamori memasuki ruang klub bersama dengan Yamoto yang merangkul pundaknya. "Kamu tidak kuliah?" tanyanya duduk di kursi dan Yamoto duduk di seberang mejanya.
Yamato memamerkan senyum andalannya sambil menaruh tas di atas meja. "sudah. Dosenku ada urusan, jadi hanya memberikan tugas." jawabnya sambil merogoh sesuatu dari tasnya. Yamoto mengeluarkan beberapa lembar kertas dari tasnya dan mulai mengerjakan sesuatu dengan kertas itu di atas meja. Mamori pun mulai menganalis data untuk pertandingan dua minggu lagi.
Keduanya terdiam dalam urusannya masing-masing, sampai Mamori melihat ke arah kertas yang sedang dikerjakan Yamato. "Apa itu Yamato-kun?"
Yamato mendongakkan kepalanya melihat Mamori, "Apa?" tanyanya sambil mengikuti arah mata Mamori. "Oh ini. Ini surat izin untuk cuti kuliah."
"Cuti?" tanya Mamori mulai bingung, "memangnya kamu mau kemana Yamato-kun? Lalu klub kita?"
Yamato tertawa dan berkata, "Tenang saja Anezaki-san. Aku cuti ke Amerika masih sebulan lagi. Memangnya Hiruma tidak memberitahumu?"
Mamori bertambah bingung dan berpikir beberapa saat, "Maksudmu? Kau sudah memberitahu Hiruma kalau kau mau ke Amerika bulan depan, dan Hiruma mengizinkanmu saat pertandingan Rice Bowl tinggal dua bulan lagi?" tanya Mamori tidak karuan, "Apa yang kau pikirkan Yamato-kun?"
Yamato meletakan pulpennya dan tersenyum menenangkan menatap Mamori, "Anezaki-san, masih banyak junior kita yang bisa mengisi tempatku. Mereka cukup bisa diandalkan. Hiruma juga sudah menyerahkan semuanya ke Taka dan Jumonji. Tentunya kau juga pasti membantu merngurus semuanya."
Kerutan di dahi Mamori makin bertambah dan dia semakin tidak mengerti dengan situasi ini, "Aku sungguh tidak mengerti apa yang kau katakan. Kenapa Youichi, apa yang Youichi serahkan kepada Honjo-kun dan Jumon―" perkataan Mamori terputus akibat pintu yang didobrak tiba-tiba, "Youichi! Jangan menendang pintu seperti itu!" bentak Mamori saat melihat Hiruma diambang pintu diikuti oleh Banba, dan Taka.
"Kita akan mengadakan pertandingan dengan Enma hari ini." ujar Hiruma.
Mamori menaruh kedua tangannya di pinggang, "Kau tidak bisa seenaknya menentukan. Anggota kita belum siap, dan―" kali ini ucapan Mamori lagi-lagi dipotong.
"Melawan Enma tidak sesulit itu Anezaki-san. Mereka hanya Enma." sela Taka tenang merentangkan kedua tangannya saat duduk di sofa.
Hanya? Mamori mengerlingkan matanya tajam ke arah Taka, orang yang kelewat percaya diri itu. "Oke. Kapan?" tanyanya tegas, kembali kepada Hiruma.
"Sekarang."
"Aku tahu sekarang. Jam berapa?"
"Sekarang." dan Mamori mulai kesal dengan jawaban Hiruma sampai dia melihat orang datang di belakang Jumonji dan yang lainnya. "Sena?"
"Halo, Mamo-nee."
To Be Continue
Catatan Kecil:
Bagaimana? Maaf kalau ada yang tidak suka dengan karakter si Ichiro ini. Chapter ini mungkin kurang greget karena Hiruma yang tidak marah-marah kepada Ichiro. Mau gimana lagi, Kalau Hiruma marah-marah dan menyangkal, nanti si Ichiro jadi ngincer Mamori lagi. Lagian, kenapa juga sih si Ichiro pake nanya di depan mantan anggota Deimon !? (jitak kepala sendiri)
Well, aku harap kalian tidak kecewa. Keep calm and be patient XD
So please RnR ^o^
Salam: De
