Characters ;
- Lee Jeno of NCT
- Na Jaemin of NCT
- Huang Renjun of NCT
Note ; Ini adalah fanfict NCT Boyslove alias BxB alias Yaoi.
WARNING! Kalau tidak suka, tidak perlu membaca. Kalau suka, terimakasih banyak~
Selamat membaca!
.
Akhir-akhir ini, Na Jaemin tidak pernah berbicara denganku lagi.
Ia tidak menyapaku setiap pagi,
Dan dia tidak menungguku didepan gerbang rumahku.
Ketika aku tidak sengaja bertemu dengan Ibu Jaemin disuatu pagi,
Ucapannya membuatku terkejut—
"Loh? Jeno? Tante kira kau sudah berangkat dengan Jaemin dari tadi? Ah—atau yang berangkat dengan Jaemin bukan dirimu?"
Rasa sakit kembali menyerang hatiku.
Rasa ini—kembali menyerangku.
Perasaan apa ini? Perasaan cemburu?
Apakah aku cemburu dengan Na Jaemin?
Atau—
Aku cemburu dengan Huang Renjun?
.
.
Sudah hampir sebulan semenjak aku melihat Na Jaemin berbincang akrab dengan Huang Renjun.
Sudah hampir sebulan aku mengenali perasaan yang kurasakan saat itu,
Perasaan 'cemburu'.
Perasaan tidak suka ketika melihat Na Jaemin akrab dengan orang lain.
Perasaan tidak suka ketika mengetahui kalau Na Jaemin sudah tidak mengekoriku lagi—tidak berbicara denganku lagi,
Tidak menungguku saat pagi hari untuk pergi ke sekolah bersama.
Apakah karena tiba-tiba ia berhenti melakukan hal sia-sia itu aku akhirnya merasakan hal seperti ini?
Ini semua salah Na Jaemin.
Aku tidak suka melihat dia akrab dengan orang lain.
Aku tidak suka ia terlihat baik-baik saja tanpa diriku.
Aku tidak suka.
Aku ingin memonopoli Na Jaemin—
.
.
Jeno tercekat ditengah lamunannya.
Lelaki tersebut menepuk kedua pipinya cukup keras kemudian tersenyum getir,
"Lee Jeno—kau sudah kehilangan akal sehatmu." Gumamnya.
Tiba-tiba smartphone milik Jeno bergetar.
Ia pun meraih smartphone itu dari saku celananya.
Kedua matanya menatap nama Gong Hina yang tertera diatas layar,
"Apa—"
"LEE JENO! KAU KEMANA SAJA?! KENAPA KAU BARU MENGANGKAT PANGGILAN DARIKU?!"
Jeno menjauhkan smartphone tersebut dari telinganya begitu mendengar teriakan Hina,
"SETIAP AKU MENCARIMU DI KELAS KAU TIDAK ADA!"
Jeno mendengus. Ia benar-benar melupakan kehadiran Gong Hina karena sibuk memikirkan Na Jaemin.
"Gong Hina—kau ada dimana sekarang?" Tanya Jeno.
"Aku? Aku ada di cafetaria. Memangnya kenapa? Kau akhirnya ingin bertemu denganku?" Entah mengapa, nada suara Gong Hina mulai berubah menjadi girang.
"Ya—temui aku dibelakang gedung olahraga." Ucap Jeno sebelum mematikan panggilannya dengan Hina.
.
.
PLAK!
"Dasar manusia tidak punya perasaan!" Teriak Gong Hina setelah memberikan tamparan yang cukup keras di wajah Jeno.
Gadis tersebut berlari meninggalkan Jeno yang masih mematung dibelakang gedung olahraga.
Jeno meraba bekas tamparan Hina perlahan,
"Begini lebih baik." Ia menghela nafas panjang.
Ia memejamkan kedua mata. Kembali mengingat percakapannya dengan Hina barusan—
"Lee Jeno! Kau kenapa tidak pernah menghubungiku belakangan ini?"
"Kau tidak bisa kutemukan dimana-mana!"
"Kenapa kau tiba-tiba menghilang?"
Begitu banyak pertanyaan dilontarkan oleh Gong Hina.
Tetapi, Jeno tidak menjawab satupun pertanyaan dari pacarnya itu.
"Gong Hina, ayo kita putus."
Hina terkejut mendengar ucapan Jeno,
"A, apa? Aku tidak salah dengar, kan?"
Jeno menarik nafas sesaat,
"Gong Hina—kita akhiri saja hubungan ini."
"Kenapa?!"
Hina menarik lengan kanan Jeno, mengguncang tubuh lelaki tersebut.
"Kenapa?! Kenapa kau tiba-tiba muncul dan ingin mengakhiri semuanya?!"
Jeno tidak menjawab. Ia hanya menatap Hina dengan tatapan hampa.
Air mata jatuh membasahi pipi Hina.
"J, jangan bilang—kau berselingkuh dengan orang lain?!"
"Kau menyukai orang lain?!"
"Lee Jeno! Kau bertingkah aneh semenjak kau menanyakan pertanyaan itu—Em, pertanyaan tentang cemburu!"
"Lee Jeno—katakan padaku, apakah kau menyukai orang lain?!"
Jeno tidak menjawab, membuat Gong Hina semakin frustasi.
Jeno mengangkat tangan kirinya, melepas cengkraman Hina di lengannya.
"Maaf."
Gong Hina menganga lebar,
"Berarti benar kataku?! Kau menyukai orang lain?!"
Jeno membuang muka,
PLAK!
"Dasar manusia tidak punya perasaan!"
Jeno tersenyum miris, "Sepertinya aku harus membolos pelajaran setelah ini—pasti tamparan Hina akan membekas."
Lelaki itu pun memilih untuk duduk di sebuah bangku panjang yang terletak tidak jauh darinya.
Jeno menatap ke arah langit biru pada siang itu.
Cuaca cerah namun berawan.
Ia juga merasakan angin berhembus mengenai kulitnya.
"Seandainya setiap hari cuaca cerah seperti ini."
Perlahan ia memejamkan kedua mata.
Hingga akhirnya ia pun tertidur di bangku panjang tersebut.
.
.
"Lee Jeno, bangunlah."
Aku dapat mendengar suara lembut—
"Lee Jeno, kau harus bangun."
Perlahan, Jeno membuka kedua matanya.
Ia dapat merasakan sebuah tangan mengusap pipinya dengan lembut.
Rasanya ia ingin kembali memejamkan kedua mata.
"Lee Jeno."
Suara ini,
Jeno sangat mengenal suara ini.
"Na Jaemin?" Panggil Jeno dengan suara serak.
"Jeno, apa yang kau lakukan disini?"
Jeno tersentak begitu menyadari bahwa yang membangunkannya adalah Jaemin. Buru-buru ia membenarkan posisi tubuhnya.
"Na Jaemin, kenapa kau ada disini?" Tanya Jeno dengan wajah memerah.
Na Jaemin berkacak pinggang, "Seharusnya aku yang menanyakan itu—lagipula, kenapa pipimu bisa memar? Kau habis berkelahi, ya?"
Jaemin mengusap pipi Jeno yang sedikit memar.
Entah mengapa, Lee Jeno menyukai sentuhan Na Jaemin.
Jaemin menarik tangannya kembali, "Kita harus mengobati ini—sebentar, aku ambilkan sesuatu dari ruang kesehatan—" Jaemin pun beranjak dari tempat itu.
"Tunggu." Jeno menarik pergelangan tangan Jaemin, "Aku ikut."
.
.
"Dengan ini semuanya sudah selesai~"
Usai memberikan kompres dingin di pipi memar Jeno, Jaemin tersenyum puas.
Diam-diam Jeno memperhatikan senyuman Jaemin.
"Kalau begitu, aku pulang duluan—" Jaemin meraih tas punggungnya, tetapi lagi-lagi Jeno menahan lelaki tersebut.
"Kenapa kau berada dibelakang gedung olahraga?" Tanya Jeno.
Jaemin memerhatikan Jeno sesaat, lalu ia mengusap tengkuknya perlahan. "Er, aku lihat—kau tidak ada dikelas tadi, dan aku khawatir kalau kau kenapa-kenapa."
Entah mengapa, Jeno merasa senang mendengar ucapan Jaemin barusan.
Ia merasakan jantungnya berdebar cepat.
"Begitu." Gumam Jeno.
"Kau mengatakan sesuatu?"
Jeno menggeleng, "Kalau begitu—ayo pulang."
"Eh?" Jaemin terlihat bingung mendengar perkataan Jeno barusan.
"Ada apa?"
"Anu—aku sudah berjanji akan pulang bersama Renjun." Jawab Jaemin seraya mengalihkan pandangannya dari Jeno.
Jeno berdecak lalu mendorong tubuh Jaemin ke dinding ruang kesehatan.
Jaemin memekik kesakitan.
"Kau—kenapa kau selalu bersama Huang Renjun?!" Bentak Jeno.
Ia tidak suka. Ia tidak suka Na Jaemin akrab dengan orang lain.
Ia tidak suka Na Jaemin bersama orang lain.
Jaemin terkejut mendengar bentakan Jeno. Tubuh kurusnya pun bergetar.
Jeno mencengkram kedua bahu Jaemin kuat, "Apa kau sudah tidak peduli denganku? Apa kau ingin membuangku juga? Seperti Ayah?" Suara Jeno terdengar melemah.
Bicara apa kau, Lee Jeno?
Bukankah kau sebenarnya mengharapkan hari dimana Jaemin tidak lagi menganggumu?
Tetapi aku tidak bisa membayangkan apabila hari itu benar-benar terjadi
Apa yang akan kulakukan kalau kau memang membuangku?
Jaemin membulatkan kedua mata mendengar ucapan Jeno. Tubuhnya tidak lagi bergetar.
"T, tidak, Lee Jeno." Jaemin segera memeluk tubuh Jeno erat.
"Aku tidak mungkin membuangmu." Jaemin mengelus belakang rambut Jeno perlahan.
"Maafkan aku apabila aku membuatmu merasa seperti itu."
Hati Jeno terasa sesak dengan ucapan dan perlakukan lembut Jaemin.
Ah, bukan.
Aku baru menyadarinya.
Aku tidak mau Na Jaemin berhenti 'menggangguku'.
Aku ingin dia terus bersamaku.
Aku membutuhkannya.
Aku membutuhkan Na Jaemin,
Lebih dari apapun—
Ia pun membalas pelukan hangat Na Jaemin.
.
Tbc
.
[ Halo! ーーヽ(*'▽)ノ Part keempat dari fanfict 'love, pain, patience' akhirnya keluar! jangan lupa untuk review ya! Terimakasih banyak! (⁼̴̀ .̫ ⁼̴́ )✧ ]
