Chapter 4: Gadis Akasuna

Soundless

»«

.

.

.

»«

Summary: Pria raven maniak musik itu akhirnya menemukan sesuatu yang menarik dalam hidupnya selain nada, melodi, dan ritme dalam lagu-lagu klasik-romantik. Hingga akhirnya gadis itu menjelaskan siapa dia yang sebenarnya./"Naruto, bantu aku."/"Uchiha Sasuke bisa jatuh cinta? Kau ingin aku percaya?"

»«

.

.

.

»«

Disclaimer © Masashi Kishimoto

Story © Uchiha Raighiluri

Rate: T

Genre: Friendship, romance, family

Warning: OOC, miss typo(s), etc.

Words: 2.240

»«

.

.

.

Happy Reading!

.

.

.

»«

Akasuna Sakura sudah pindah ke sekolah kami seminggu lalu.

Seperti biasa, di saat-saat jam istirahat seperti ini, aku dan Naruto makan siang bersama. Beberapa bisikan dari gadis-gadis di meja pojok samar-samar terdengar. Membicarakanku yang tatapannya terkunci pada sosok Akasuna berambut pink.

"Naruto, bantu aku," desisku pada pria berambut pirang yang sedang menikmati semangkuk ramennya.

Dia mengangkat wajahnya tanpa berhenti mengunyah. "Apa?"

"Bantu aku…" aku menatap lurus sepasang iris sapphire itu. "… mendekati seorang gadis."

"Uchiha Sasuke bisa jatuh cinta? Kau ingin aku percaya?" tanyanya sembari terbahak keras sekali.

Beberapa bisikan gadis semakin terdengar jelas. Beberapa terbelalak tak percaya, tak berusaha menyembunyikan ekspresi mereka.

"Jangan keras-keras," aku menatapnya tajam. "Kau membuat satu kantin tahu."

Naruto tidak mengacuhkan ucapanku. Ia masih saja tertawa. Kalau saja dia bukanlah temanku, sudah aku jahit mulutnya dari dulu. Dengan tatapan malas aku memutar bola mata. Selalu saja.

"Baik, baik, aku serius sekarang. Siapa gadis beruntung itu?" tanya Naruto.

Aku menutup separuh wajahku dengan sebelah tangan. "Akasuna Sakura," ucapku setengah berbisik.

"Akasu—" dia hampir saja berteriak andai saja aku tidak menginjak kakinya. Secara refleks dia langsung menutup mulutnya agar tidak melanjutkan teriakannya. "Hei, itu sakit!"

Aku menatapnya dingin dengan tatapan rasakan-itu. "Apa kau tidak bisa berhenti berteriak?"

Naruto hanya nyengir. "Bagaimana pula kau bisa menyukai gadis itu? Dia baru saja masuk minggu lalu."

"Kau bisa ke rumahku sepulang sekolah ini, Dobe?" tawarku. Seseorang mungkin saja mencuri dengar. Naruto kembali menyuapkan ramennya, sedangkan aku sudah selesai saat ini.

"Oke, nanti aku mampir," entah apa yang membuatnya senang sekali berbicara dengan mulut penuh seperti itu. Jika saja Uzumaki-baa-san tahu, ia pasti sudah memarahinya dan berteriak-teriak menyeramkan. Bisa dipastikan semua daftar table manner langsung Naruto praktekkan saat itu juga.

»«

.

.

.

»«

Saat perjalanan pulang, Naruto baru paham bahwa Uchiha memiliki tetangga baru. Keluarga Akasuna. Namun tentu saja Uchiha bukanlah sosok yang terlihat jatuh cinta denga seorang gadis hanya karena pernah melihat sosoknya, kan?

Ada puluhan gadis di sekolahnya yang lebih manis dari Sakura dan mereka tergila-gila akan Uchiha. Kenapa ia tidak memilih satu saja dari sekian banyak? Pasti ada alasan lain.

Dua gadis paling patah hati pasti Karin dan Ino, pikir Naruto.

Sebenarnya, Akasuna juga tidak terlihat sebagai sosok ramah dan banyak tersenyum. Ia banyak diam dan sama sekali tidak pernah berbicara dengan yang lain. Mungkin karena itu tidak ada yang mau menemaninya meskipun Sakura tergolong gadis cantik.

Setiap kali istirahat, gadis itu terbiasa pergi ke atap dan menghabiskan bekalnya sendirian.

"Jadi?" tanya Naruto tidak tahan dengan kesunyian yang Uchiha Sasuke ciptakan. Kini mereka sedang berada di ruang musik pribadi Uchiha.

Naruto duduk di dekat saxophone, sedangkan Uchiha Sasuke seperti biasa duduk di kursi pianonya, berharap bisa memainkan sebuah lagu kali ini dengan sama mengagumkannya dengan Akasuna Sakura.

"Jadi apa?" Sasuke malah bertanya balik.

"Kenapa Akasuna Sakura?" tanya Naruto geram. "Dia sudah lama pindah?"

"Yeah… satu bulan setengah yang lalu," jawab Uchiha Sasuke. Enggan menjawab pertanyaan pertama.

"Hei, Teme. Aku kenal kau sejak kau masih mengompol dulu. Kau tidak mungkin kan jatuh cinta dengan seorang gadis tanpa ada alasan yang jelas. Kecuali jika namanya Akasuna Mayor No. 25."

"Well… dia… bermain."

"Bermain?" tanya Naruto. Pernyataan tak jelas dari Uchiha akan mengacaukan kekerenannya yang telah terbangun semenjak lahir miliknya.

Perlahan pria berambut raven itu membuka penutup pianonya dan mulai memainkan lagu itu. Für Elise yang itu. Mungkin Naruto tidak akan mengerti.

"Dia bermain lagu Für Elise?" tanya Naruto memastikan. Sasuke mengangguk sembari bergumam kecil. "Lalu?"

"Dia… ah, lupakan! Bantu aku saja tidak bisa, apa?" tanya Sasuke kesal. Mungkin memang bukan gayanya mengungkapkan perasaan dengan kata-kata.

Naruto mendengus meremehkan. "Bagaimana bisa aku mengajarimu untuk mendekati gadis itu sementara kau sendiri saja tidak mau menceritakan padaku apa yang kau sukai darinya?"

Kini si bungsu itu bangkit dan membuka laptopnya di samping sebuah biola. Berpura-pura mencari sebuah pertitur musik di dalam jejaring internet.

"Ya… dia… berbeda," jelasnya. Namun bagi Naruto, penjelasan seperti itu masih belum cukup.

"Jadi intinya?"

"Permainan musiknya…" aku menatap ke luar jendela kamarku. Menatap bagunan dengan atas nama Akasuna yang nampak jelas dari jendela. "… mengagumkan."

Naruto tersenyum kecil di belakang punggung Sasuke.

Pria yang dikenal Naruto sudah sangat berubah. Ia sama sekali tidak pernah memuji siapa pun dalam waktu yang lama. Setahunya, orang yang dikagumi Sasuke hanyalah Itachi seorang. Syukurlah kini daftar itu bertambah. Jadi kata 'mengagumkan' yang ditujukan untuk Akasuna Sakura itu… sungguh pujian yang tulus.

"Kalau kau ingin dekat dengannya, kenapa kau tidak mampir saja ke rumahnya? Biasanya kaa-san-mu suka memberikan kue untuk tetangga baru, kan?" tanya Naruto.

Mungkin… mungkin saja, mereka sudah terlalu dekat. Sasuke sendiri saja tidak pernah ingat kalau okaa-san-nya suka memberi kue pada tetangga. Ia baru saja sadar saat Naruto berkata seperti itu.

"Kau bisa saja meminta untuk mengantarnya."

Sungguh sama sekali tidak terpikirkan oleh otak jenius seorang Uchiha Sasuke. Seberapa besarkah efek dari asupan dopamin yang lebih banyak dari biasanya ini? Ia bahkan berusaha mencari dopamin tambahan bagaimana pun caranya.

»«

.

.

.

»«

Thomas Alfa Edison, mari kita bertaruh siapa yang paling tahan menghadapi kegagalan. Aku siap melawan penemu bohlam lampu sepertimu.

I'm not failed, I just found 1000 ways that doesn't work.

Percobaan pertama.

Di akhir pekan ini, okaa-san ternyata benar-benar membuat kue. Aku terkejut, mungkin saja kaa-san agak sibuk akhir-akhir ini sehingga baru sempat memasak saat ini.

Saat aku melihat Itachi-nii membawa kotak kue, hendak memberikannya untuk diberikan pada keluarga Akasuna, aku langsung mencegatnya.

"Biar aku saja," ucapku sembari menyambar kotak kue dari tangan Itachi-nii.

Ia terlihat terkejut. "Ah, kau ini. Mau pendekatan saja sampai mengejutkan orang lain," keluh pria berumur itu. "Padahal kalau kau dari awal ingin datang menemui Akasuna itu, datang saja. Kita kan bertetangga," ia menggodaku. Lagi.

Aku mendelik ke arahnya. Kesal.

Setelah memastikan penampilanku baik-baik saja, aku keluar dari rumah dan mengetuk pintu. Terdengar sebuah sahutan dari dalam. Suara seorang pria. Ah, aku baru tahu Sakura punya saudara laki-laki.

"Ya?" tanya seseorang bersurai merah keluar.

"Eh, Hm… okaa-san membuat kue. Untuk… penyambutan," ucapku berusaha seramah mungkin. Ah, nilai aktingku sepertinya rendah sekali.

"Oh, hai… hm…"

"Uchiha Sasuke," jawabku sembari tersenyum tipis.

"Uchiha-san. Terima kasih. Aku Akasuna Sasori," ucapnya memperkenalkan diri. Aku tersenyum kecil dengan susah payah. Mungkin otot pipiku terlalu lama tidak digerakkan untuk tersenyum. "Mau masuk dulu?"

Masuk?

Berbagai macam pikiran di otakku melayang. Memangnya apa yang akan aku lakukan? Tapi jika aku tidak masuk, kemungkinan bertemu Sakura seharusnya semakin kecil, kan? Tapi kalau saja aku masuk, apa alasan untuk pulang nanti? Lagi pula kemungkinan bertemu dengannya masih di bawah 5%.

"Ah, tidak usah. Aku… masih ada tugas untuk dikerjakan," dustaku.

"Baiklah, sampaikan terima kasih kami pada ibumu, Uchiha-san."

Tanpa basa-basi lagi, aku berbalik dan pergi.

Di ruang tamu aku langsung duduk di sofa. Menutup wajahku dengan punggung tangan. Entah kenapa satu kali seumur hidupku segrogi itu hanya untuk memberikan sebuah kue. Astaga. Aku bahkan tidak bertemu dengan Sakura.

"Cepat sekali?" tanya Itachi. "Kupikir kau akan menemui sang putri."

Aku meremas rambutku frustasi. "Awalnya."

Itachi malah tertawa. Menertawakanku. "Uchiha Pengecut-san, kau mau keduluan harimau? Harimau itu, sekali target terkunci, langsung terkam."

"Jika kau lupa, Aniki, manusia diberi akal untuk berpikir, bukan sempurna menggunakan insting."

Aku bangkit dengan kesal. Itachi-nii masih saja terkikik senang.

Wah. Hebat sekali ucapanku tadi. Andai saja bisa kuucapkan di depan Sakura. Andai saja otakku bisa berjalan jika di dekatnya.

Percobaan pertamaku gagal.

»«

.

»«

"Hah?! Gagal?" tanya Naruto setengah berteriak.

Aku bisa sedikit tenang saat ini karena kami sedang berada di atap. Tidak ada siapa pun yang mendengarkan percakapan kami.

"Bagaimana bisa Uchiha jenius sepertimu bisa sebodoh itu?" keluhnya. "Astaga, berhentilah jual mahal, Tuan."

Apa dia lupa aku ini bukan orang yang suka bergaul dengan banyak orang? Tidak mudah bagiku memulai percakapan dengan kakak Sakura. Bisa-bisa kami hanya diam dan aku pun akan bingung bagaimana caranya pamit.

"Kau bisa bertanya tentang Tayuya atau apa pun. Kau sekelas dengan si kembar."

Ah… begitu. Dia benar. Aku sama sekali tidak berpikir seperti itu saat aku mengantarkan kue. Aku mengerang kesal.

Sial. Naruto bahkan terlihat lebih cerdas dariku kali ini.

"Baiklah, mari kita masuk ke tahap selanjutnya," ucap Naruto. Aku mengernyit. Tidak diduga, ia memiliki banyak rencana. Kami masuk ke plan B.

Naruto berbisik di telingaku sembari sesekali cengengesan.

"Apa?! Tidak mau," tolakku mentah-mentah.

"Baiklah, pikirkan saja rencana selanjutnya jika kau bisa," tantang Naruto sembari menyeringai.

Pintar sekali. Dia yakin jika aku sama sekali tidak memiliki ide untuk masalah seperti ini. Aku bukan spesialisnya.

»«

.

»«

Percobaan kedua.

Aku tidak tahu mengapa aku mau melakukan hal bodoh ini. Setelah gagal dengan rencana 'si pengantar kue', aku dipecat dan mulai melancarkan rencana 'pujangga'.

Si bodoh Naruto itu membuatku terpaksa melakukan hal bodoh kali ini. Dia menyuruhku menulis sebuah surat yang mungkin disampaikan untuk Akasuna Sakura. Bodoh sekali.

Dengan susah payah aku berusaha menulis sebuah surat. Setidaknya aku tidak ingin terlihat norak di sini. Jadi aku hanya menulis sebuah surat pendek yang sama sekali tidak kelihatan bodoh. Kulipat menjadi dua dan kutulis nama Akasuna Sakura.

Hai. Aku tahu kau suka musik. Aku punya dua buah tiket konser musik klasik. Berminat ikut?

Uchiha Sasuke.

Setelah selesai menuliskannya, aku berencana menggantungkannya di salah satu tanaman mawar di halaman mereka dekat dengan pagar agar ia bisa melihatnya saat pagi hari sebelum ia berangkat sekolah. Kali ini harus berhasil.

»«

.

»«

Pagi harinya aku memantau dari jendela-hitam-tembus-pandang-ku di depan rumah. Aku sudah menggantungkannya. Saat kulihat seseorang membuka pintu depan rumah, aku menarik gorden dan menyembunyikan separuh wajahku.

Namun aku kembali biasa saja saat itu adalah Karin. Kakak kedua Sakura setelah Sasori. Gadis itu terlihat mengecek keadaan beberapa tanaman. Mungkin ia tidak menyadari keberadaan suratku.

Sembari setengah bersiul, ia mulai menyiram tanaman-tanaman yang ada.

Sial.

Tubuhku lemas dan langsung terduduk di lantai. Hancur sudah. Tintanya pasti luntur. Kertasnya pasti rusak. Payah. Payah. Payah.

Gagal lagi.

»«

.

»«

Percobaan Ketiga.

Setelah pelaporan pada Naruto atas kegagalan keduaku, ia kembali memberikan sebuah solusi lainnya. Memainkan musik berjudul Sakura di halaman belakang. Rencana kali ini memiliki titel yang sama seperti sebelumnya—pujangga. Jadi menurutku, keduanya sama-sama menjijikan dan sulit untuk dilakukan.

Omong-omong, sudah lama juga aku tidak bermain musik.

Menurut Naruto, dengan memainkan lagu berjudul Sakura, gadis itu mungkin saja menoleh padaku. Mungkin saja. Dengan kemungkinannya masih di bawah 10%. Aku yakin itu. Jadi tidak ada alasan untuk menjadi optimis, kan?

»«

.

»«

Naruto meremas raambutnya.

"Kau ini jenius, Sasuke."

Baik. Sudah sepuluh kali aku mencoba berbagai rencana darinya. Dari meminjam buku ke rumahnya—yang berakhir dengan rumahnya yang sedang kosong hingga menaruh catatan di bawah mejanya—dan berakhir di tempat sampah saat piket kelas dilakukan.

Aku bahkan memberikan sekotak cokelat di percobaan ketujuh. Bagaimana hal romantis itu berakhir? Entah dari mana datangnya, kini kucing suka sekali makan cokelat. Kucing sialan. Sepertinya ia datang dari Mars.

Terakhir aku sempat berpikir untuk memberinya bunga yang langsung aku urungkan mengingat di halaman rumahnya sudah ada cukup bunga untuk dirinya sendiri.

Percobaan ketiga kemarin berakhir dengan teriakan Tayuya padaku dari kamar saudara kembarnya.

"Dia punya pengalaman buruk dengan lagu itu. Dia tidak suka lagunya."

Sial.

Ya. Aku tahu aku jenius. Aku Uchiha Sasuke. Siapa yang tidak tahu aku? Astaga, menyerah pun aku tak sanggup. Bagaimana bisa menyerah? Aku sudah menantang Thomas Alfa Edison.

"Ini bukan tentang aku tidak punya rencana lain, Sasuke. Ini tentang 'kenapa kau yang sejenius itu bisa gagal'? Segala ideku terkesan sederhana dan mudah."

Aku memutar bola mataku.

»«

.

»«

Baik. Baik. Baik. Aku menyerah!

Bahkan percobaan 15 yang terakhir itu juga gagal. Lupakan saja. Thomas Alfa Edison, aku mengaku kalah darimu. Andai saja kau masih hidup, aku sebaiknya berguru kesabaran padanya.

"Bagaimana kalau kau culik saja dia?" tanya Naruto sembari tertawa kecil. Sama putus asanya denganku. Kini ia sempurna kehabisan ide.

Hah. Ide bagus! Ini bisa jadi kesempatan besar untukku agar aku menjadi teroris. Percobaan ke-16 yang sempurna. Tapi sepertinya angka 15 adalah angka yang tepat untuk menyerah.

Daripada sama putus asanya denganku, mungkin dia kasihan pada seorang Uchiha Sasuke yang beru pertama kalinya terlihat putus asa tentang masalah romansa kehidupan. Romansa? Kau bisa bilang ini romantis? Ah, jangan bodoh. Aku tidak akan bisa kalian bodohi.

Akasuna Sakura bisa menyaingi tingkatan kedinginanku. Mungkin kini aku bisa berdiri dan memberikan gadis itu sebuah standing applause. Aku sudah beberapa kali memenangkan piala penghargaan manusia berhati paling dingin. Kini kalah dengan seorang gadis. Bagus sekali.

"Sudahlah, aku lapar sekarang. Tidak mau ke kantin?" tanya Naruto.

"Aku akan tidur saja di sini," tolakku. Sama sekali tidak sedang nafsu untuk makan. Hah. Ucapanku sudah seperti orang patah hati saja.

Aku berbaring di atap kali ini.

Pintu besi berderit membuatku mendengus kesal.

"Ada apa lagi? Kau bilang ingin menca—" ucapanku terhenti ketika melihat sosok musim semi itu. "Sakura?" tanyaku terkejut. Ia terlihat mengernyit. Tidak senang dengan panggilan nama depannya.

"Eh, Akasuna-san," aku segera mengoreksi ucapanku.

Lagi. Perjuanganku kembali berakhir sia-sia. Saat aku siap untuk menyerah, gadis itu kembali muncul membuatku enggan menyerah.

"Hai," sapaku kaku.

Akasuna itu hanya mengangguk tanpa membalas apa-apa. Aku menggaruk tengkukku. Grogi melandaku secara tiba-tiba.

"Akasuna-san, boleh aku minta id Garis-mu?" tanyaku.

Dia mengernyit. Seolah bertanya untuk apa.

"Kau tahu, aku hanya ingin memasukkanmu ke dalam grup kelas. Siapa tahu kau ketinggalan informasi."

Tanpa banyak berbicara, dia hanya menyodorkan ponselnya yang sudah menampilkan sebuah QR Code untuk di-scan oleh ponselku.

Dia mulai membuka bentonya seolah tidak terjadi apa-apa. Sedangkan aku berusaha untuk tidak mengeluarkan keringat dingin terlalu banyak. Hal yang akan membuatku terlihat bodoh.

"Ha'i. Arigatou. Aku ke kelas duluan," pamitku sembari berjalan dengan langkah lebar. Sebuah senyuman tertahan kini enggan pergi dari bibirku.

Terima kasih untuk kesempatan terakhirnya, Edison. Kau yang terbaik.

»«

.

.

.

»«

To Be Continued…

»«

.

.

.

»«

Author's Bacots Ceria:

Menurut kalian… ini termasuk cepat, kan? Hehehe… sorry, ya. Aku gamau kalian menunggu lebih dari ini. XD Yeah… sebenernya hape aku gatau kenapasekarang-sekarang ini jadi lelet kalau tethering ke laptop… dan itu membuatku males banget update.

Di sini SasuSaku gentian trademark, ya. XD Sakuranya yang tiis, Sasukenya yang ngejer-ngejer ngajak ngomong.

Oh iya, di sini agak panjang, ya, chapter-nya. Jadi jangan kecewa kalau selanjutnya berasa pendek. XD Soalnya udah aku rencanain di chap 4 itu isinya Sasu-chan pdkt sama Sakura, yang ternyata menghabiskan banyak scenes. Wkwkwk… Sasu sih gagal terus. XD

Untuk beberapa review yang kemaren… ada yang udah bener. Ehehehe… maaf ya kali ini gabisa bales review-nya satu-satu. Alasan utamanya adalah… nanti aku spoiler. Aku anti banget spoiler-in orang. Baik itu cerita atau pun film.

Oh iya, ada typo ga? Wkwkwk… lupa dicek ulang euy.

Nah, bagaimana menurut readers? Review-nya, ya…