Disclaimer:
Vocaloid yang bukan punya saya
Tokoh-tokoh yang terlibat di dalamnya bukan punya saya
Ceritanya punya saya, selalu
Warning:
OOC, OOT, bahasa gak baku, alur kecepetan, gajelas, typo, ancur, de el el
Fic ini dibuat untuk memenuhi keinginan pribadi Rey~
Tadinya Rey mau request cerita ini, tapi begitu sadar kalau ide ini terlalu 'gila' akhirnya Rey jadi pingin buat sendiri XD berhubung idenya rada gila, maaf aja kalo ceritanya juga jadi ikut-ikutan gila. Jujur, Rey tidak bermaksud seperti itu u_u
Judulnya mungkin gak nyambung, maaf ya~
Selamat membaca! XD
Are You The SheMale Killer?
A PikoxMiki story
by reynyah
Chapter IV – Kita
Miki POV
Aku menarik napas dalam-dalam. Bingung. Sejujur-jujurnya dari lubuk hatiku yang terdalam, aku tidak rela meninggalkan semua kehidupan normalku di kota yang telah menjadi bagian dari diriku ini. Namun... ya, Utatane Piko ini benar. Mau tidak mau, aku harus pergi meninggalkan semuanya kalau aku tidak mau membahayakan nyawa orang-orang yang ada di dekatku. Mau tidak mau, aku harus pergi dan memulai hidup baru sebagai bukan Furukawa Miki yang ini.
"Bagaimana?" tanya Piko dengan nada setengah mendesak. "Putuskan sekarang atau tidak sama sekali."
"Kalau aku bilang tidak, kau akan tetap memaksaku, bukan?"
Piko mengangguk. "Aku tidak akan membiarkanmu keluar dari gubuk ini sampai kau bilang iya."
"Andaikan aku tidak akan pernah berkata iya?"
"Aku yang akan membawamu sendiri."
Aku mendengus. "Itu namanya pemaksaan, Utatane!"
"Bilang iya dan semuanya selesai."
"Oke," ujarku sambil mengangkat tangan. "Aku menyerah. Aku akan mengikutimu kemanapun kau membawaku."
Piko tersenyum.
? POV
Gadis itu... gadis itu...
Aku menyelinap keluar gedung sambil memerhatikan sekitar. Aman. Waktunya beraksi lagi. Dan kali ini, aku tidak boleh ketahuan dan meninggalkan jejak sedikitpun. Polisi sudah hampir mencurigaiku, karena itu aku harus bergerak cepat dan ekstra hati-hati. Angin pun bisa mendengar dan melihatku. Aku tidak bisa sembarangan.
Ah, rumah kecil itu. Sudah berapa lama aku tidak memasukinya?
"Kediaman Shion" adalah tulisan yang kutemukan di depan pagar rumah. Tidak, aku tidak masuk melalui pintu depan. Yang benar saja, memangnya aku mau menyerahkan diri? Memangnya aku mau terlihat? Aku punya misi penting yang harus dilaksanakan dan tidak semudah itu melaksanakannya. Ditambah lagi, tidak semudah itu aku akan menyerahkan diri. Tapi tenang saja, setelah misiku selesai dan itu berhasil terbalas, aku akan membunuh nyawa sang pembunuh.
Bukan cerobong asap kali ini. Keluarga Shion selalu menutup perapian mereka saat tidak digunakan, jadi aku tidak bisa sembarangan masuk. Ditambah lagi, aku biasa membuat suara berisik saat membuka perapian. Percuma saja aku memaksa masuk jika pada akhirnya aku ketahuan. Aku bukan tipe orang yang berani mengambil risiko setinggi itu.
Terdengar suara tawa dari dalam rumah tersebut. Aku mengintip sedikit dan menemukan tiga sosok manusia dalam ruangan tersebut. Shion Kaito, Hatsune Miku, dan Shion Kaiko ada di dalam sana, sedang asyik bercanda ria tanpaku dan tanpa menyadari kehadiranku di atas mereka. Aku tersenyum sinis, menyadari bahwa malam itu adalah malam terakhir mereka dapat berkumpul bersama.
Mereka akan merasakan apa yang kurasakan selama ini.
Setelah berhasil masuk ke dalam, aku menunggu. Tidak lama setelahnya, Miku dan Kaito berjalan keluar ruangan, menuju balkon. Entah apa yang mereka akan lakukan, aku tidak begitu peduli. Kini, orang yang menjadi sasaranku tinggal sendirian dan akan lebih mudah bagiku untuk menyelesaikan urusan ini.
Kaiko sedang sibuk membereskan meja. Ya, mereka baru saja makan bersama. Teganya Kaito meninggalkan tugas beres-beres kepada adiknya yang manis itu hanya demi berpacaran dengan Miku. Apa salahnya membantu Kaiko sedikit?
Baiklah, waktunya beraksi.
"Hai, Shion."
Kaiko tersentak lalu menoleh. "H-hai," balasnya dengan wajah bingung. "Bagaimana kau bisa masuk?"
Aku mengangkat bahu. "Kau tahu, jendela terbuka pada malam hari itu berbahaya."
Kaiko tersenyum. "Ada apa?"
Aku hanya membalas pertanyaannya dengan senyum kecil.
"Oh, betapa tidak sopannya aku." Kaiko menepuk dahinya. "Silakan duduk di sini. Mau minum?"
Aku menggeleng lalu duduk. "Tidak, terima kasih."
"Aku harus membereskan meja ini dulu, tidak apa-apa, bukan?"
Aku tersenyum. Kaiko membalas senyumku lalu melanjutkan pekerjaannya, membereskan meja bekas makan tadi. Kaiko memunggungiku kemudian dengan cepat, aku menusukkan garpu dari meja mereka ke punggung Kaiko. Tanpa menghasilkan suara, aku membunuh Kaiko dan keluar dari ruangan itu. Kaito dan Miku tidak menyadari keadaan Kaiko hingga—
"KAIKO?!"
Bagus.
Normal POV
"Hei, Utatane," panggil Miki yang tengah membaca koran. "Ada berita aneh pagi ini. Apa kau yang melakukannya?"
Piko yang sedang sibuk dengan ritual membersihkan dirinya menoleh dari balik pintu kamar mandi. "Melakukan apa?"
Miki mendesah. "Selesaikan dulu urusanmu di dalam kamar mandi sebelum aku memberitahu ini, oke?"
Piko mendengus pelan kemudian keluar dalam keadaan rapi lima menit kemudian. "Jadi, ada apa?"
Miki menyodorkan koran yang tengah dibacanya. "Apa kau yang melakukan ini?"
Mata Piko melotot lebar.
.
.
MISTERI KEDIAMAN SHION
Lagi-lagi X, sang pembunuh berantai yang menghantui murid-murid Akademi Voca beraksi. Kali ini, X beraksi di kediaman Shion, tadi malam, sekitar pukul tujuh malam. Korban adalah Shion Kaiko, siswi kelas sepuluh. Kakaknya, Shion Kaito, mengaku tidak sedang bersama Kaiko pada waktu kejadian. Kaito mengaku sedang bersama kekasihnya, inisial HM, yang kini diisolasi oleh kepolisian setempat karena dicurigai sebagai X.
Motif pembunuhan ini diperkirakan adalah balas dendam terhadap Akademi Voca oleh salah seorang murid, guru, atau staff-nya. Saat ini, polisi sedang menyelidiki semua orang yang memiliki hubungan dengan Akademi Voca guna menemukan pembunuhnya. Inspektur Kamui yang mengepalai kasus ini belum memberi komentar apa-apa hingga mendapat jawaban pasti.
.
.
"Ini bukan aku!" seru Piko. Ia menatap Miki sinis. "Jangan-jangan... ini perbuatanmu, ya?"
Miki mendengus. "Aku telah difitnah oleh banyak orang dan kini, kau ikut memfitnahku padahal kau tahu aku tidak bersalah?" balasnya diiringi hembusan napas kesal. "Utatane, kau mengunciku di dalam kamar tidur. Aku baru saja keluar pagi ini, tahu?"
"Benar, dan tidak ada satu celahpun di dalam kamar itu yang dapat kau lewati." Piko manggut-manggut. "Baiklah, kau tidak bersalah dan tidak ada sangkut-pautnya dengan kasus ini."
"Jangan-jangan kau yang melakukannya?"
Piko menatap Miki kesal. "Tentu saja tidak, aku tidak mungkin membiarkanmu sendiri di sini, Furukawa."
"Huh, terus saja berkata begitu," balas Miki sambil melipat kedua tangannya di depan dada. "Padahal kenyataannya, kau bisa pergi meninggalkanku yang terkunci di dalam kamar. Aku tidak akan menyadarinya, ruangan itu cukup kedap suara. Ditambah lagi, kediaman Shion tidak begitu jauh dari sini. Kau hanya perlu menaiki taksi atau bus lalu kau akan tiba di sana. Kau dapat membunuh Shion dengan cepat lalu kembali ke sini juga dengan cepat. Apa kau ingat? Kau mengunciku mulai jam lima sore hingga jam setengah sembilan, hanya untuk makan malam. Setelah itu, kau mengunciku lagi."
"Lalu?"
"Kau punya banyak waktu untuk membunuh Shion."
"Aku tidak melakukannya."
"Oh ya? Buktikan!"
Bersambung...
Lagi-lagi Rey harus minta maaf untuk apdet yang lama... tapi, kalau kalian puas, Rey bakal seneng banget. Apalagi kalau ditambah review. Mungkin gak semua review isinya positif, tapi mau positif atau negatif, Rey akan tetap baca dan menerima. Buat Rey, kritik itu bukan masalah. Kalian bebas mengritik Rey asal gak dengan bahasa kasar. Kita ini punya moral kok, buat apa pake bahasa kasar kalau bahasa baiknya masih banyak?
Sekian! Review kalian ditunggu! ;)
