Wow, bersyukur bisa kembali ke FFn setelah sebulan menghilang karena gak ada ide.
Oke, sampai manakah ceritanya -loh?-.
Udah deh, langsung saja kita lanjutkan.
api sebelumnya saya mau ngasi hadiah kepada reviewer yang berhasil menjawab pertanyaan saya dengan benar. Hadiahnya adalah ucapan selamat dari saya. -lari sebelum di mutilasi oleh reviewer-.
Disclaimer: Naruto milik Guru saya, Masashi Kishimoto-sensei.
Broken milik Hikari no Kyori.
Pairing: Naruhina.
Warning: OOC, gaje, typo, de le le. Don't like, don't read.
Oh ya, ada sedikit percikan-percikan lagu disini, maksudnya, ada beberapa lagu yang saya tambahkan dalam fic ini supaya reader dapat menyelami perasaan chara-chara disini. dalam chapter ini saya pakai lagunya Acha Septriasa: Sampai menutup mata. hope you like it. #halah.
BROKEN chapter 4.
...Menunggu, mungkin akan menjadi sangat menyebalkan bila sesuatu yang kita tunggu tak kunjung datang dan tak memberi kepastian ia akan datang atau tidak...
I'm still waiting for You.
Hinata's POV
Langit terlihat sangat indah pagi ini. Warna jingga yang dipancarkan oleh sang mentari, memberikan suatu keindahan tersendiri bagi langit biru. Hari memang Belum terlalu siang, namun aktivitas warga tak dapat ditunda. Jalanan Konoha kini mulai ramai oleh Penduduk Konoha. Kebanyakan dari mereka tentunya ibu rumah tangga yang harus bangun pagi untuk perut keluarganya.
Satu hari lagi telah kulewati, sudah sebulan aku menunggu kepulangan kekasihku, tepatnya tunanganku. Aku menghawatirkan kepergiannya yang terasa begitu lama. Sehari tanpa dirinya, serasa hidup ini hampa. Bayangkan saja, sudah satu bulan aku sendirian, hidupku sepertinya telah dibawa pergi olehnya. Walaupun begitu, masih ada harapan untuk mengembalikan hidupku. Saat ia kembali, aku yakin kehidupanku yang menyenangkan juga akan kembali. Untuk alasan itulah, aku tak lelah menunggu. Aku tak akan lelah menanti hingga kapanpun, karena aku sangat menyayanginya.
Walau rindu ini serasa mengiris hatiku, tapi tetap saja, demi dia aku akan bertahan. Demi Naruto, aku akan tetap tersenyum menantinya
Kakiku melangkah memasuki keramaian Konoha pada pagi yang cerah tak berawan ini, berbaur dengan penduduk lain yang sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Begitu banyak suara yang masuk ke gendang telingaku saat melewati tempat ini.
Satu hal menarik perhatianku, seorang anak kecil yang kira-kira berusia lima tahunan, tengah menangis. Namun anehnya, dari sekian banyak warga yang berada di sekitarnya, tak ada satupun yang mendekatinya, menghibur maupun menenangkannya. Tak tega aku membiarkan anak itu menangis tanpa ada yang peduli. Tanpa kukehendaki pun, kaki ku telah melangkah mendekati anak itu. "Adik kecil, kenapa menangis?" tanyaku dengan suara yang sehalus mungkin agar tak membuatnya terkejut.
Ia mendongak, menatapku dengan matanya yang basah. "Ibuku... Hilang." ia mengadu.
Langsung saja aku mengerti apa masalahnya. Ia pasti datang bersama ibunya, dan terpisah di dalam keramaian.
"Sudahlah, jangan menangis, kakak akan membantumu mencari ibumu." ucapku berusaha menenangkannya. Ia gunakan punggung tangannya untuk menghapus air matanya. "Benar kak?" tanyanya.
Aku menangguk, anak ini tersenyum lebar, menunjukan deretan giginya yang masih kosong di beberapa tempat. "Ayo, ikut kakak." aku menggenggam tangan kecilnya.
Aku melangkah bersama anak kecil yang entah siapa namanya, aku enggan bertanya. Yang kupikirkan saat ini adalah bagaimana cara menemukan ibu dari gadis kecil ini. Tak sengaja, aku lihat Shikamaru berjalan didepanku, tak begitu jauh dari tempatku berdiri saat ini. "Shikamaru." Aku memanggil, spontan pemuda berambut nanas itu menoleh kearahku.
Dengan langkahnya yang terlihat setengah hati, ia berjalan mendekatiku.
"Apa aku boleh minta tolong." pintaku dengan nada memelas, berusaha mencari bantuan, karena aku juga sebenarnya bingung kemana harus mencari ibu dari anak ini.
"Apa?" tanyanya enggan.
"Tolong bantu aku menemukan ibu dari anak ini." aku menyentuh puncak kepala gadis kecil yang tingginya hanya selututku. Mata Shikamaru melebar "Anak ini kehilangan ibunya? Kebetulan sekali." aku mengernyitkan dahi
"Kebetulan?."
Sikamaru mengangguk. "Ada seorang ibu yang melapor bahwa ia kehilangan anaknya. Ayo, ikut aku."
Danau, tempat yang sangat indah bagiku. Tempat yang mejadi saksi bisu dari janji yang diucapkan oleh Naruto.
Flashback
"Kemana kau akan membawaku?" pertanyaan itu terlontar dari bibirku sebanyak beberapa kali hari ini. Bagaimana tidak? Naruto membuatku penasaran. Ia menutup mataku dengan kedua tangannya dan membimbingku untuk melangkah bersamanya. "Sudah, ikuti saja." hanya kalimat itu yang ia ucapkan berulang kali.
Akhirnya aku membisu, bertanya seratus kali pun, jawaban Naruto pasti tetap sama.
"Nah, sudah sampai." bisiknya di telingaku. Ia menjauhkan jemarinya secara perlahan-lahan dari mataku. Silau, itulah kesan pertama yang kudapatkan saat kucoba untuk membuka mata. Aku mengerjapkan mataku berkali-kali, untuk menyesuaikan diri dengan keadaan sekitarku yang cukup terang. Hal yang pertama kali kulihat adalah Naruto, ia tersenyum lebar, senyum khasnya, yang hanya dimiliki olehnya.
Ia bergeser beberapa langkah kesamping, seperti memberi kesempatan padaku untuk melihat hal apa yang berada dibelakangnya. Mataku melebar saat melihat hal indah yang dimaksud oleh Naruto.
Sebuah Danau yang berada tepat di pinggiran desa Konoha. tempat ini adalah salah satu tempat yang belum pernah kudatangi, aku terkesima karena keindahan yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Air yang tenang, dari tempatku berdiri, sepertinya air itu berwarna biru, ditambah lagi dengan pantulan langit biru tak berawan. Sempurna, biru yang sempurna.
"Bagus tidak?" Naruto bertanya dengan bangga. Seolah tanpa aku jawab pertanyaannya pun, ia sudah tahu bahwa aku akan menjawab iya. Akhirnya yang dapat kulakukan hanyalah mengangguk. Naruto menunjukan cengiran khasnya. "Ayo duduk." ia mengajak ku untuk duduk disebelahnya, di pinggir danau.
"Kenapa kau mengajakku ke tempat ini?" Aku mulai penasaran.
"Tidak ada." sahutnya tanpa melepaskan pandangannya dari air tenang yang terhampar luas di hadapan kami. Aku mengangkat bahu, kemudian ikut memandangi danau yang menurutku begitu indah.
Lama tak ada suara diantara kami, mungkin ketenangan air danau ini mampu menghanyutkan kami kedalam ketenangan yang sama. "Hinata." panggilan lembut dari Naruto memecah keheningan diantara kami. Aku menoleh kearahnya, memberikan tatapan mata yang seorang bertanya 'ada apa?'.
"Menurutmu apa kita sudah pantas untuk menikah?" pertanyaan yang terlontar dari bibirnya spontan membuatku terkejut. Entah mengapa tiba-tiba saja jantungku berdetak tak karuan sama seperti saat-saat pertama aku bertemu Naruto.
"Maksud...mu?" aku berubah gagap lagi, ini selalu terjadi disaat aku merasa gugup. Ia menatapku, mata biru langitnya seolah ingin mencabut jantung dari rongga dadaku. Aku tertunduk malu.
"Maukah kau menjadi istriku?" ia menggenggam tanganku.
Lagi, gerakan jantungku semakin lama semakin cepat. Tak ada satu katapun yang kuucapkan untuk menyahuti pertanyaannya. Namun entah mengapa, kepalaku mengangguk dengan sendirinya. Naruto mengacak-acak rambutku. "Hahaa, tidak usah gugup begitu." ujarnya.
Aku mulai berani menatap wajahnya lagi. Aku mendapati sebuah senyum manis menghiasi wajahnya. "Aku berjanji seminggu setelah aku kembali ke Konoha, aku akan menikah denganmu." sebuah janji terlontar dari bibirnya. Merajut kata demi kata menjadi sebuah kalimat bermakna indah dan suci. Ia mengecup keningku, seperti tengah meyakinkan diriku bahwa ia bersungguh-sungguh.
End of flashback.
Angin bertiup lembut, membangunkanku dari lamunan singkatku. Membawaku kembali ke dunia nyata setelah lama tenggelam dalam masa lalu. Ujung-ujung bibirku seperti tertarik untuk melengkung membentuk sebuah senyuman. Naruto, aku sangat merindukanmu. Cepatlah kembali Naruto, aku mohon.
^.^
Gelisah, mengapa aku merasa tak nyaman seperti ini? Hati kecilku berkata, ada sesuatu yang tengah atau akan terjadi. Sesuatu yang tak baik.
Oh Tuhan, tolong katakan bahwa firasatku ini tidak benar. Semuanya baik-baik saja. Benar begitu kan, Tuhan?.
Tidak, aku harus memastikannya dengan mata kepalaku sendiri. Tak mungkin aku bisa tenang jika hatiku terus menjerit dan meneriakan nama Naruto. Aku melangkahkan kaki keluar rumahku, sebenarnya aku berniat mencari dimana keberadaan Naruto. Namun bagaimana aku bisa mencarinya? Tempatnya berada saat ini saja aku tak tahu. Bertanya kepada Hokage? Tak mungkin. Ia tak akan memberi tahu keberadaan Naruto, begitulah menurutku.
Niat jahat terbersit di pikiranku saat aku melihat burung pengantar pesan sedang terbang diatas kepalaku dan menuju kantor Hokage. Aku ambil sebuah kunai lalu kulemparkan kearah burung itu. Tepat, kunaiku menusuk perutnya sehingga burung itu kehilangan keseimbangan dan jatuh dihadapanku. Maafkan aku, Tuhan, aku telah membunuh salah satu makhluk ciptaan-Mu.
Aku mengambil surat yang terikat erat di kaki kiri hewan berlumuran darah ini. Dengan penasaran aku membaca isi pesan ini.
Nenek Tsunade, jangan kirim bantuan untukku. Aku berada di hutan perbatasan antara Honoha dengan Iwa, jangan biarkan satupun penduduk Konoha datang ke tempat ini. Pertarungan ini akan semakin berbahaya.
-Naruto-
aku tersentak saat membaca isi pesan yang tenyata di kirimkan oleh Naruto. Jangan biarkan siapapun ke tempat itu? Pertarungan berbahaya? Apa maksudnya?
Tidak, aku tidak boleh berdiam diri di tempat ini, aku harus menyusulnya.
Aku berlari, terus berlari, entah sampai kapan aku akan tetap melakukan hal ini. Tetapi aku tak peduli. Naruto harus selamat, ia tak boleh terluka sedikitpun.
(^.^)
Normal POV
"Sial, tak akan kubiarkan kau menyentuh Konoha!" teriakan itu menggema di hutan luas yang sangat sepi. Naruto, dengan seluruh tubuh yang telah berlumuran darah, tetap kokoh berdiri. Demi Konoha, demi desa yang teramat disayanginya, ia rela jika harus berjuang seorang diri. Ia bisa untuk tetap berdiri dengan kondisi tubuh yang demikian menyedihkan.
"Habiskanlah waktumu yang tersisa untuk meminta maaf padaku." Madara yang kini menggenggam kemenangan ditangannya, semakin melemahkan posisi Naruto.
Sulit memang jika harus melawan makhluk jahat ini seorang diri. Naruto, ia tak menginginkan bala bantuan dari Konoha, bukan untuk menyombongkan diri jika seandainya ia mengalahkan Madara seorang diri. Satu-satunya alasan ia tak mengizinkan Tsunade mengirim bantuan adalah agar tak ada siapapun lagi yang terluka. Cukup dirinya. Walau harus mati di tempat ini, ia rela. Asalkan Madara juga ikut lenyap dari dunia ini.
"Aku tak akan menyerah. Aku tak akan membiarkanmu menyakiti orang-orang yang kusayangi." dengan nafas yang memburu, Naruto tetap berusaha mematahkan semangat Madara. Tetap berharap laki-laki iblis itu mengurungkan niatnya untuk menghancurkan Konoha.
"Lebih baik, kau mati sekarang juga." mata merah tajam menatap mata biru Naruto. Sesaat setelahnya, Naruto merasa kakinya tak dapat digerakan. Lumpuh, mati rasa, ia merasa kakinya benar-benar terlepas dari anggota tubuh yang lain. Padahal sebenarnya itu tak terjadi, kakinya masih utuh dan masih berfungsi, namun Madara memberi sugesti ke saraf-saraf Otak Naruto bahwa kakinya tak dapat digerakan.
Madara mengeluarkan sebilah pedang, ia siap mendaratkan pedang itu di tubuh Naruto.
SLEEB
Darah memercik menodai wajah Naruto, matanya terbuka lebar, mulutnya setengah terbuka. Pedang yang semula bersih kini dipenuhi oleh darah yang menembus tubuh. Mereka sama-sama tersentak. Jantung Naruto serasa berhenti berdetak saat itu juga.
Tubuh dengan pedang yang masih menempel itu merosot perlahan-lahan hingga akhirnya tergeletak begitu saja di tanah.
Melihat Madara masih terdiam akan keterkejutannya, Naruto menusukan kunai yang sedari tadi tergenggam di tangannya, ke dada Madara. Madara baru terbangun dari rasa terkejutnya ketika rasa perih menjalar di daerah dada yang kini memerah oleh darah. Tubuh itu ambruk, tergeletak begitu saja.
"Hinata!" Naruto berteriak memanggil nama itu. Nama dari gadis yang terkapar tak berdaya di hadapannya, dengan pedang yang menembus tubuhnya.
"Na. . .Naruto." suaranya terdengar parau.
Naruto meletakan kepala Hinata diatas pangkuannya. "Kenapa kau datang kesini? Kenapa kau melakukan ini?" mata Naruto berkaca saat melihat darah mengalir deras dari tubuh Hinata,gadis yang tiba-tiba datang menghadang pedang Madara yang sukses menembus raganya.
Embun di pagi buta
menebarkan bau asa
Hinata tersenyum pahit akibat rasa sakit yang luar biasa menjalar ke seluruh bagian dirinya. "untung saja. . .a-aku tidak ter-lambat." ucapnya terbata-bata, diiringi dengan nafas yang berlomba.
Detik demi detik kuhitung
inikah saatku pergi
Apa sampai disini saja perjuangan cinta mereka? Apa Tuhan mentakdirkan mereka untuk tak bersama.
"Ayo kita ke Konoha." Naruto mengambil posisi untuk menggendong Hinata namun Hinata menolak. Digenggamnya erat tangan pria yang dicintainya itu. "Tidak. Waktuku tak lama lagi, izinkan aku bicara denganmu." bukannya Naruto menurut pada ucapan Hinata, entah mengapa tiba-tiba Naruto tak memiliki kemampuan untuk berdiri ataupun berjalan. Seluruh tubuhnya lemas oleh rasa takut.
Oh Tuhan kucinta dia
Berikanlah aku hidup
"Kenapa? Ke-napa?" Naruto menundukan kepalanya, penyesalan yang kuat menghantui dirinya. Dua kali gadis itu datang untuk menyelamatkannya. Dua kali gadis itu hampir meregang nyawa demi dirinya. Sedangkan Naruto, ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa membiarkan hal itu terjadi untuk yang kedua kalinya.
Jika boleh, Hinata ingin hidup lebih lama.
Jika Tuhan mengizinkan, Hinata ingin hidup berdua dengan Naruto.
Tak kan kusakiti dia
Hukum aku bila terjadi
"Naruto, jangan menangis." Hinata mengerahkan seluruh tenaganya yang tersisa untuk menghapus air mata yang mengalir begitu saja di pipi Naruto. "Calon Hokage tidak boleh Cengeng ya." lanjutnya.
Aku tak mudah untuk mencintai
Aku tak mudah mengaku kucinta
Naruto adalah laki-laki yang beruntung karena ada seorang gadis yang mencintainya sedemikian dalam, sedemikian besar. Bahkan ia rela mengorbankan jiwanya, raganya, hanya untuk Naruto seorang.
Ungkapan cinta dan rasa sayang dari Hinata hanya ia persembahkan untuk Naruto.
Tangisnya, tawanya, jiwanya, raganya, dan nafasnya, semua untuk Naruto.
Tuhan menciptakan gadis yang sedemikian sempurna hanya untuk Naruto. Namun mengapa takdir seperti mempermainkan mereka, sepasang kekasih yang sebentar lagi akan menikah, kini harus dihadapkan dengan ujian yang sedemikian sulit.
Aku tak mudah mengatakan aku jatuh cinta
Senandungku hanya untuk cinta
Tirakatku hanya untuk engkau.
Tak ada kata yang mampu terucap lagi dari bibir Naruto, ia tak memiliki daya untuk itu. Ia takut, terlalu takut bahkan. Rasa takut itu membuatnya lumpuh, jiwanya seolah ingin memeluk jiwa Hinata yang sebentar lagi akan pergi dari raganya.
"Sampai disini saja Naruto." ucapan Hinata membangunkan Naruto dari kehampaannya. Mendorong air matanya untuk terjatuh lagi.
Menginginkan dirinya untuk berteriak sekencang-kencangnya. Mata Hinata perlahan-lahan menutup. Senyum manis di bibirnya menipis. Ia merasa tenang, ketenangan yang tak pernah ia rasakan selama ini. Yang ia rasakan kini adalah sebuah rasa cinta, kasih sayang, takdir, dan pengorbanan.
Tiada dusta, sumpah kucinta
sampai kumenutup mata
"Selamat tinggal."
Cintaku, sampai ku menutup mata.
TBC
huwee, #nangis karena ficnya gaje banget.
MAaf pendek dan sangat gaje ya.
Nah, bisa nebak kan siapa yang mati? Hiks.
Eiits, jangan senang dulu. Karena fic ini masih TBC, jadi nantikan chapter 5. Di Chapter itu ada sebuah kejutan besar untuk kalian. Ngwehehee. Sekian, Review please :)
REVIEW
