Disclaimer : Uta no Prince-sama © Broccoli

Rate : T

Main Chara : Otoya Ittoki

AN : WAHAHAHA Author lagi niat makanya selang waktu berapa hari udah update mihihihi. Btw NaRin RinRin : Thanks reviewnya desuyo :3 Happy End? Sad End? Just check them out later! *ketawa jahat* #eh Mori Kousuke18 : Kalo TBC nya gak pas yang greget ntar gaada motivasi buat baca lanjutannya dong (?) #okesip. Yak sudah bales"annya, mari dibaca~ cekidot and enjoy guys!


Am I Wrong?

Chapter 4. Another Winter Tragedy

24 Desember. Pagi yang dingin. Musim yang dingin. Tahun yang dingin. Kenapa dunia begitu kejam kepadanya setiap musim dingin tiba? Tahun lalu ia terbaring sakit dan membohongi rasa sukanya kepada pangeran pujaan wanita itu. Ketika ia akhirnya memutuskan untuk berkencan dengan seorang wanita, ia harus merasakan pahitnya di selingkuhi saat musim dingin ini. Apa yang akan menunggunya di musim dingin tahun depan? Hanya Tuhan yang tahu.

Ia tak ingat jelas apa yang terjadi setelah ia bercerita kepada Tokiya soal Tomo yang mengkhianatinya. Tapi ia ingat, ia menangis di hadapan Tokiya, di dadanya. Saat itu ia bisa mendengar detak jantung sang pangeran dingin itu berdegup kencang. Ia tak tau mengapa. Setelah itu ia memejamkan matanya dan saat tersadar kembali, ia sudah terbaring di kasurnya. Sendirian.

Sepertinya Tokiya memang benar-benar pergi ke rumah keluarganya. Tentu saja, tahun lalu sang pangeran es itu menjaganya sehingga ia tak sempat pulang. Ia melirik ke meja kecil di sebelahnya. Terlihat ada sebuah bungkusan hadiah dan secarik kertas—sebuah surat? Ia menggapainya dan membuka hadiahnya. Sebuah headphone. Tokiya benar-benar tahu apa yang ia butuhkan. Terlihat senyuman kecil terukir di wajahnya saat ini. Ia menaruh headphone itu disebelahnya dan membuka surat kecil tadi.

"Maaf aku meninggalkanmu sendirian. Aku ingin saja tinggal dan menemanimu karena tragedi kemarin, tapi orang tuaku sudah pasti tak mengizinkan karena tahun lalu aku tak datang. Ambil saja hadiah yang ada di meja. Aku tak berani mengambil hadiahku darimu tanpa izinmu. Hadiahmu untukku masih ada di atas meja belajarku. Merry Christmas.

Tokiya Ichinose."

Tokiya terkadang bisa berlaku manis juga, batinnya. Ia menaruh surat tadi di mejanya dan mengetes headphonenya. Berfungsi dengan baik. Ia beranjak dari kasurnya menuju meja belajar Tokiya. Ia melihatnya sesaat. Meja yang tertata dengan rapi dan bersih. Jarang sekali bukan seorang laki-laki mempunyai meja yang tertata rapi?

Ia mengambil kantung hadiahnya. Ia menghela nafas. Tak terfikir olehnya untuk membelikan hadiah yang spesial. Sulit untuk mengetahui apa yang disukai seorang pangeran es. Tokiya bukan orang yang terbuka kepada seseorang, kepada dirinya yang teman sekamarnya saja tidak, bagaimana kepada orang lain? Mungkin hanya Nanami. Ya, tapi gadis manis yang membuat lagu untuknya dan anggota STARISH lainnya itu berada di rumah neneknya yang berada di desa yang jarang ada sinyal telepon genggam. Jadi percuma saja jika ia mencoba mengirim pesan kepada Nanami soal apa yang disukai Tokiya.

Terdiam sebentar. Ia mencoba duduk di tempat duduk Tokiya dan melihat-lihat mejanya. Sebuah foto menarik perhatiannya, foto keluarga Tokiya. Oh, ada satu lagi yang tertutup. Ketika mencoba mengambilnya ia tak sengaja menyenggol tumpukan buku pelajaran Tokiya.

"Ah,sial—"

Ia beranjak dari tempatnya, mengambil dan merapihkan buku-buku itu. Sebuah amplop tak sengaja keluar dari selipan buku-buku pelajaran tadi. Amplop itu menarik perhatiannya karena bertulisan 'For Otoya Ittoki'. Tangannya ingin mengambil amplop itu tapi ragu. Setelah beberapa lama terdiam akhirnya ia memutuskan mengambilnya dan membacanya.

Ia terdiam sesaat saat membacanya. Surat ini dibuat saat Valentine tahun ini. Dengan seksama ia membacanya. Wajahnya seperti terbakar membaca surat itu, terutama saat kalimat terakhir.

'Kalau kau bukan kekasih Shibuya-san, maukah kau jadi kekasihku?'

Tokiya Ichinose. Seorang pangeran yang terkenal karena sifat dingin sedingin es itu. Seorang pangeran yang dihujani banyak fans karena dia sebenarnya adalah Hayato itu. Seorang teman sekamar yang pernah ia sukai itu. Ternyata, memendam perasaan yang sama dengannya selama 1 tahun ini.

Ia tak tahu harus bagaimana setelah membaca ini. Ia sekarang tahu kalau orang yang ia coba hindari ternyata menyukainya juga. Perasaan itu tiba-tiba kembali. Memang benar ia sudah mencoba menghilangkan perasaanya ini, tapi pertanyaannya adalah, apakah ia berhasil? Jawabannya adalah tidak. Ia sekarang tahu kalau dirinya memang menyukai Tokiya. Ia tak bisa menolak perasaannya sendiri. Ia harus berhenti membohongi dirinya sendiri. Ia harus menyampaikan perasaan ini secepatnya.

Kembali ia membereskan buku-buku itu dan menyimpan surat yang ia baca diatas mejanya. Ia duduk di kursi belajarnya dan mengambil secarik kertas dan pulpen. Seketika ia menulis semuanya diatas kertas itu. Tentang surat untuknya. Tentang Tokiya. Tentang perasaannya.

Ia tak mempedulikan seberapa panjang ia menulis surat itu. Ia harus mengungkapkan semuanya. 30 menit berlalu dan akhirnya ia selesai menulis. Ia mengambil sebuah amplop disisi mejanya dan memasukan surat itu. Tidak sabar rasanya, ia ingin sekali cepat-cepat memberikan surat itu. Bisa saja ia mengirimnya lewat pesan singkat, tapi ia ingin membalas surat Tokiya dengan cara yang sama. Ia harus menunggu, kantor pos buka pada tanggal 27 Desember. Sampai saat itu tiba ia hanya berada di kamarnya sambil membayangkan respon Tokiya.

27 Desember. Pagi itu ia terbangun karena Hpnya bergetar. Ia lihat nama di layar itu. Tomochika Shibuya. Ya, Tomo masih menghubunginya walau setelah kejadian hari itu. Gadis itu masih mengirimkan pesan walau sekedar menyapa dan minta maaf. Ia memutuskan untuk tidak pernah membalasnya dan berakhir menaruh kembali hpnya itu.

Akhirnya hari ini tiba, ia dengan semangat pergi ke kantor pos siang itu. Dengan jaket tebalnya dan memakai headphone pemberian Tokiya, ia pergi keluar asrama membawa sebuah kantung hadiah natal untuk Tokiya dan suratnya di dalam kantung tersebut. Hawa dingin hari itu tak mempengaruhi niatnya. Ia bahkan seperti tak merasa dingin sama sekali karena bersemangat.

Selama berjalan ia bersenandung pelan dengan senyumnya. Sampai tiba-tiba seseorang membuat ia setengah pingsan dan ambruk di pinggir jalan. Ia samar-samar bisa melihat wajah laki-laki itu sebelum di buat pingsan oleh stunt gun. Orang itu—

"Ini yang kau dapatkan karena masih mendekati tunanganku, bodoh!"

-Tunangannya Tomo.

.

.

.

30 Desember. Akhirnya ia membuka matanya. Cahaya sangat terang mengenai matanya. Seketika ia merasa seperti ia buta sesaat. Setelah beberapa lama akhirnya pandangannya kembali normal. Ia melihat tirai putih besar didepannya, selimut putih yang menutupi tubuhnya, infus ditancapkan di tangan kanannya, dan masih banyak selang lainnya. Tapi ia melihat sosok seseorang. Seseorang yang ingin sekali ia temui.

Tokiya. Tokiya Ichinose.

"Akhirnya kau sadar."

"Kenapa... kau bisa... ada di-"

"Sesorang meneleponku dengan Hpmu. Mereka bilang kau kritis dan juga—" perkataan pangeran itu terhenti. Ia melihat tatapan Tokiya seperti tak tega melanjutkan perkataannya, tapi perlahan ia melihat sang pangeran membuka mulutnya "...ginjalmu diambil." Matanya terbuka lebar. Tokiya... bercanda bukan?

"kau... bercanda... kan?" ia mencoba tersenyum kecil tapi tak berhasil. Tatapan Tokiya terlihat kalau ia serius dengan perkataannya. Ia merasa tetesan air mata mulai menetes dari pelupuk matanya. Kenapa. Kenapa ia harus menanggung semua ini?

"Tapi kau tak usah khawatir." Sang pangeran itu menggengam tangan kirinya "Aku berusaha menangkap pelakunya dan mencarikan pendonor. Tadinya, aku sendiri yang ingin mendonorkan ginjalku, tapi dokter tak mengizinkan."

"Ah, benarkah?" ia memaksakan senyuman kecil "Terima kasih... Tokiya"

"Tentu, tidak usah bererima kasih. Sekarang lebih baik kau tak banyak berbicara atau bergerak."

"Baiklah... Aku ingin istirahat... sebentar."

"Istirahatlah."

Ia melemparkan senyumnya yang bahagia untuk sesaat sebelum memejamkan matanya. Sebelum ia benar-benar tertidur ia memanggil sang pangeran itu.

"Tokiya..."

"Ya?"

"Aku... Menyukaimu..."

"...Otoya..."

Ia merasa ia sudah tertidur saat itu tapi ia samar-samar bisa mendengarkan apa yang Tokiya katakan sebelum ia tertidur.

"Aku menyukaimu juga."


TBC!

Next Chapter will be the last one! MUAHAHAHA. #heh

A bit spoiler : Tokiya menemukannya, menemukan surat Otoya untuknya.

...dah itu aja #benerandikit #okesip

Review? :3