Keadaan apartment sangat sepi. Jelas saja, ini masih jam kerja dan tidak mungkin Jongin sudah dirumah. Mengingat kejadian di restoran tadi membuat hati Kyungsoo sesak. Jongin pun pernah mengatakan jika ia sudah memiliki kekasih dan dia bukan gay. Tapi, bagaimanapun Jongin tetap suaminya.

Kyungsoo segera menggelengkan kepala dan melakukan aktivitas lain agar pikiran itu bisa menjauh dari kepalanya. Ia mulai menata bahan makanan kedalam lemari es. Setelah itu, Kyungoo kembali berkutat dengan bahan makanannya.

Kyungsoo melihat jam sudah menunjukkan waktu pukul 5 sore. Itu pertanda suaminya akan segera tiba. Benar, tak lama kemudian terdengar sahutan dari ruang tamu. Kyungsoo segera menghampiri sang suami.

"Kau sudah pulang," kata Kyungsoo sembari mengambil alih tas kerja dan jas kantor Jongin.

"Hmm," kata Jongin menghirup napas dalam-dalam. "Kau memasak apa? Sepertinya enak. Baunya saja sudah enak begini," lanjut Jongin sembari melonggarkan dasinya.

"Aku memasak Samgyetang. Tunggulah di meja makan. Aku akan meletakkan ini di kamarmu," kata Kyungsoo sembari berjalan meninggalkan Jongin.

Seusai meletakkan barang milik Jongin, Kyungsoo melihat Jongin telah duduk manis menghadap masakan yang ada diatas kompor tengah meja. Kyungsoo mengulas senyumnya dan berjalan kearah Jongin yang merubah posisinyayang tadinya duduk tegak, sekarang meletakkan dagunya diatas meja.

"Ada yang sudah tidak sabar ingin mencicipi masakan ku rupanya,"kata Kyungsoo sembari menuangkan sup dan ia berikan pada Jongin. Tak lupa dengan semangkuk nasi.

"Aku hanya sedikit memiliki masalah di kantor tadi," kata Jongin dengan memasukkan makan kedalam mulutnya. "Wah! Rasanya benar-benar enak."

"Coba ceritakan padaku. Siapa tau kau sedikit merasa lega," kata Kyungsoo.

"Tadi investor dari China membatalkan kerja sama hanya karena seseorang yang aku utus telat menemuinya di Shanghai."

"Lalu?" tanya Kyungsoo.

"Aku memecat utusanku itu. Karena dia, perusahaan menderita kerugian yang tidak bisa dibilang kecil!" kata Jongin meluapkan emosinya sambil memasukkan makanan kedalam mulutnya.

"Kenapa kau langsung memecatnya? Setidaknya dengarkan dulu alasannya. Kasihan dia," kata Kyungsoo.

"Aku sudah terlalu emosi. Sebenarnya aku kasihan melihatnya. Dia sudah menikah dan memiliki 2 anak," kata Jongin merasa bersalah.

"Bicaralah dengannya, dan terimalah dia kembali. Dia pasti mendengarkan penjelasanmu," kata Kyungsoo.

"Hmm, aku akan berbiara dengannya besok. Terima kasih untuk makanannya. Aku suka," kata Jongin meninggalkan meja makan.

Kyungsoo hanya tersenyum sebagai balasan uapan Jongin. Ia segera membereskan peralatan makan dan membilasnya. Setelah seleai pekerjaannya, ia menghampiri Jongin yang sedang santai sembari menonton televisi di ruang keluarga. Kyungsoo duduk di ujung sofa sisi lain.

"Apa namja yang bersamamu di restoran tadi temanmu?" pertanyaan Jongin membuyarkan lamunan Kyungsoo.

"Hu'um. Lalu, apakah yeoja yang bersamamu tadi itu kekasih yang kau ceritakan padaku?" tanya Kyungsoo.

"Ne. Cantik bukan? Aku sangat beruntung memilikinya sebagai kekasihku."

Nyuttt..

Pernyataan Jongin membuat Kyungsoo merasakan jantungnya seperti dicubit. Kyungsoo sudah menduga hal ini, tapi kenapa begitu menyakitkan baginya. Tapi memang itu yang harus ia tanggung.

"Ne, dia sangat cantik."

Entah apa yang ada dalam pikiran Kyungsoo. Dia hanya mampu menjawab sedemikian. Setelah itu pandangan Kyungsoo kosong. Ia pun tidak mendengarkan Jongin yang berbicara padanya. Pandangannya menatap televisi. Tapi pikirannya berpetualang entah kemana.

"Hei, kau mendengarku?"

Perkataan Jongin membuyarkan lamunan Kyungsoo. Ia pun menatap jongin sembari bergumam.

"Hmm, apa yang kau katakan?" kata Kyungsoo.

"Aku bilang, karena kekasihku cantik, kau jangan pernah merebutnya dariku. Arra?" jelas Jongin.

"Tentu saja, aku tidak akan menculik kekasih temanku sendiri," kata Kyungsoo memaksakan senyumnya.

"Baguslah jika begitu," kata Jongin.

"Aku masuk kamar dulu, ne," pamit Kyungsoo langsung menghilang dari pandangan Jongin.

Dengan pandangan bingung, Jongin memperhatikan kepergian Kyungsoo. 'Tidak biasanya dia seperti ini, lagi pula ini masih sore,' batin Jongin yang kembali memfokuskan diri pada tayangan televisi.

Lain halnya dengan Kyungsoo yang masih bingung dengan perasaannya. Apakah ia mulai jatuh cinta pada Jongin? Entahlah, Kyungsoo juga belum yakin akan hal itu. Tapi jantungnya nyeri ketika mendengar Jongin bercerita tentang kekasihnya. Jika Kyungsoo jatuh cinta pada Jongin, lalu kenapa jantungnya berdetak lebih kencang ketika mendengar Chanyeol yang mengatakan jika ia menyukai Kyungsoo?

"ARGHHHHH, MOLLAAAA!" Kyungsoo berteriak frustasi sembari menggulingkan badannya diatas ranjang.

"Kyungsoo―ya! Neo, gwanchanha?" tanya Jongin khawatir dengan mengetuk pintu kamar Kyungsoo.

"Ah, nan gwachanha," balas Kyungsoo dengan membenarkan posisi tidurnya. 'Paboya,' batin Kyungsoo.

. . .

Sinar mentari menyelinap melalui celah-celah tirai jendela. Perlahan Kyungsoo membuka matanya. Sepertinya pagi ini Kyungsoo bangun terlambat. Terlihat dari jam dinding yang menunjukkan pukul 6 pagi. Dengan sigap, Kyungsoo bergegas ke kamar mandi dan memasak.

Masak sudah selesai dan Jongin belum juga menampakkan batang hidungnya. Setelah meletakkan makanan diatas meja, Kyungsoo beranjak ke kamar Jongin.

"Jongin―ah! Sarapannya sudah siap," kata Kyungsoo setelah satu ketukan pada pintu kamar Jongin.

Semua itu diulang sampai beberapa kali. Kyungsoo kembali melihat jam dinding yang ada didekatnya. Waktu berjalan dengan cepat, dan Jongin belum juga bangun tidur. Tanpa berpikir panjang, Kyungsoo masuk kedalam kamar Jongin dan melihat gundukan didalam bungkusan selimut yang ia yakini itu adalah Jongin.

Kyungsoo menepuk bahu Jongin dan memanggilnya, namun tidak ada hasil. Kyungsoo menggoyangkan tubuh Jongin dan sekarang hanya dengkuran keras yang terdengar. Ia kembali menggoyangkan tubuh Jongin lebih keras.

"Yak, Jongin―ah, ireona! Kau akan terlambat pergi ke kantor," kata Kyungsoo.

"Hmm, aku masih mengantuk. Aku baru tidur pukul 3 pagi―Krookk," kata Jongin diakhiri dengan dengkuran.

"Ireona! Kau akan terlambat nanti."

Kyungsoo berdiri dan menarik lengan Jongin sekuat tenaga. Namun, Jongin berhasil melepaskan diri dari Kyungsoo. Tak kenal lelah, Kyungsoo terus meraih lengan Jongin dan menariknya lebih kuat. Memang tenaga Jongin lebih kuat dari Kyungsoo, Jongin berhasil menarik lengannya dengan keras hingga membuat tubuh Kyungsoo ikut tertarik dan menimpa tubuh Jongin.

Kedua pasang bola mata itu saling menatap. Kini Kyungsoo merasakan detak jantungnya lebih cepat ketika memperhatikan Jongin dari dekat. Tanpa diketahui mereka berdua, tangan Jongin melingkar pada pinggang Kyungsoo. Beberapa saat kemudian mereka saling menyadari hal itu. Kyungsoo segera bangkit dengan wajah bersemu merah.

"Cepatlah berbenah dan keluar. Aku sudah menyiapkan sarapan," kata Kyungsoo sembari berlari kecil meninggalkan Jongin.

. . .

Jongin POV

Aku melihat Kyungsoo yang sudah duduk di meja makan. Aku terus saja menatap lekat Kyungsoo dari mengambil makanan sampai makan pun aku masih menatapnya. Kenapa sedari tadi Kyungsoo tidak melihatku? Apakah Kyungsoo marah? Kenapa juga aku seperti dari, padahal aku belum pernah seperti itu. Hash!

"Kyungsoo―ya!"

Ketika aku memanggilnya, ia melihatku. Entah kenapa aku sangat gugup ketika menatap kedua matanya. kenapa aku jadi begini? Kenapa semua sangat canggung?

"Apa kau marah padaku?"

Ya. Itu yang ingin aku tanyakan. Aku melihatnya mengunyah makan sembil menggelengkan kepalanya. Melihat itu, aku ingin sekali mencubit pipi tembam itu. Sebenarnya kenapa aku ini?

"Memangnya kau melakukan kesalahan?"

Oh tidak, mendengar suaranya saja sudah membuatku merinding. Ada apa denganku ini?

"Tidak. lanjutkan saja makanmu."

Aku tidak tahan jika terlalu lama menatapnya.

Jongin POV End

Waktu sarapan dilewati dengan khidmat. Bahkan sampai selesai makan mereka masih saja diam. Tak tahan dengan hal seperti ini, Kyungsoo kembali membuka pembicaraan.

"Jongin―ah, hari ini aku akan mulai bekerja paruh waktu," kata Kyungsoo.

"Wae?" tanya Jongin penasaran.

"Aku bosan berada dirumah terus. Aku ingin bekerja. Boleh kan?" tanya Kyungsoo. Tentu saja ia istri yang patuh. Kyungsoo harus mendapatkan izin dari sang suami terlebih dahulu.

"Baiklah," kata Jongin menyetujui.

"Terima kasih," kata Kyungsoo melebarkan senyumnya.

. . .

Hari ini, hari pertama Kyungsoo bekerja di sebuah Cafe. Jujur, ia sangat senang bisa bekerja. Setidaknya Kyungsoo tidak terus bergantung pada suaminya. Selama bekerja, Kyungsoo tak henti-hentinya mengulas senyum.

"Apa yang membuatmu bisa senyum begitu, heum?"

Ketika mendengar suara baritone itu, Kyungsoo menghentikan kegiatan mengelap meja pelanggan. Mata melebar mengetahui itu ialah Park Chanyeol. Kyungsoo mematung ditempat.

"Wae? Kau terkejut melihatku? Seharusnya aku yang terkejut melihatmu. Asal kau tahu ini ialah Cafe favoritku. Sepertinya kita akan sering bertemu Kyungsoo―ya," kata Chanyeol sembari mendudukkan pantat indahnya pada kursi kayu itu.

Kyungsoo masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat.

"Aku ingin memesan sesuatu. Apa kau tidak ingin melayaniku?" tanya Chanyeol menggoda Kyungsoo.

"Anda ingin pesan apa, tuan?" tanya Kyungsoo sopan. Hal itu membuat Chanyeol tertawa dalam hati.

"Americano iced saja sudah cukup," kata Chanyeol.

"Baiklah. Tunggu sebentar tuan," kata Kyungsoo.

Chanyeol terus memperhatikan pergerakan Kyungsoo. Terkadang mata mereka juga tidak sengaja bertemu. Chanyeol juga terkadang melambaikan tangannya pada Kyungsoo. Beberapa saat kemudian, Kyungsoo menghampiri Chanyeol dengan membawa pesanan Chanyeol.

"Bisakah kau menemaniku duduk disini?" tanya Chanyeol dengan memegang tangan Kyungsoo, menahannya agar tidak langsung pergi.

"Tidak bisakah kau lihat jika aku sedang bekerja?" sindir Kyungsoo.

Chanyeol melepaskan pegangannya dan berkata, "Maaf."

Kyungsoo kembali bekerja dan Chanyeol kembali memperhatikan Kyungsoo yang mengantar serta mencacat pesanan pelanggan. Chanyeol menghabiskan waktunya untuk memperhatika Kyungsoo.

"Kyungsoo, istirahatlah. Kau sedari tadi sudah banyak bekerja. Biarkan yang lain bekerja," kata bos Kyungsoo.

"Ne, sajangnim," teriak Kyungsoo.

Tanpa sengaja, telinga Chanyeol yang lebar menangkap pembicaraan antara bos dan karyawan itu. Chanyeol segera mengembangkan senyumnya. Ia menarik Kyungsoo yang berdiri tak jauh darinya.

"Apa lagi?" protes Kyungsoo.

"Bukankah ini saatnya kau untuk istirahat?" tanya Chanyeol.

"Lalu?" tanya Kyungsoo geram.

"Temani aku duduk disini," kata Chanyeol dengan wajah yang dibuat seimut mungkin hingga Kyungsoo ingin muntah jika melihatnya.

"Hentikan itu. Aku akan menemanimu," kata Kyungsoo.

Chanyeol tersenyum menang. Tangan Chanyeol menggenggam tangan Kyungsoo yang juga ada diatas meja. Hal itu membuat Kyungsoo terkejut dan ia mencoba melepaskan tangan Chanyeol. Hal itu tidak berhasil Kyungsoo lakukan.

"Kyungsoo―ya?"

Chanyeol memanggil Kyungsoo dengan nada berbeda. Membuat darah Kyungsoo berdesir cepat. "Apa yang kau lakukan Park?"

"Maukah kau menjadi kekasihku?" tanya Chanyeol.

"Apa yang sebenarnya kau lakukan Park?" tanya Kyungsoo sambil mencoba melepaskan tangan Chanyeol.

"Oh, Kyungsoo!"

Chanyeol dan Kyungsoo melihat darimana asal suara itu.

. . .

TBC

. . .

A/N: Semakin panjang gak nih? Gimana? Menarik kah? Bosan kah? Di Chap ini aku belum ngeluarin siapa kekasih Jongin ya. Masih secret yaaa. Mungkin, pairing akan bertambah seiring dengan berjalannya cerita.

Aku mau curhat dikit nih ya. Keyboard aku huruf C nya gabisa di pencet. Jadinya aku pake yang ada di symbol deh. Ampun deh… itu susahhh. Huwaaaaa! :'(

Btw, adakah yang Inspirit? Yang suka INFINITE?