Chapter 4

Salju turun dengan deras. Hari itu adalah hari terakhir bulan Januari dan musim dingin sedang berada di atas puncaknya. Disebelahku duduk Mrs. Murrue dengan muka yang menahan marah dan kesal. Ia menggengam tangan kananku dengan erat dan sekali-sekali berbisik bahwa semua akan baik-baik saja. Aku terus menangis padahal aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Yang kutahu hanyalah sesuatu sedang berjalan dengan tidak semestinya saat melihat ibuku mengepak barang-barangnya ke sebuah koper besar. Mrs. Murrue kembali berteriak dan memaki ibuku, ibuku juga membalas dengan makian yang sama. Mrs. Murrue akhirnya melepas genggaman tanganku dan berdiri, ia menghampiri ibuku dan menamparnya. Pertengkaran ini terus berlanjut hingga akhirnya yang waktu itu kebetulan berkunjung ke rumah melerai mereka.

Aku hanya bisa duduk dan menangis. Suaraku tertahan padahal aku ingin menangis sekencang-kencangnya. Aku takut dengan semua ini. Mrs. Murrue kembali menghampiriku dan memelukku. Ia mengatakan sesuatu yang tidak bisa kucerna. Kulihat ibuku menatapku dengan pandangan mata yang kabur karena air mata. Tangannya menggengam erat pegangan koper.

"Kau akan meninggalkannya? Cagalli seharusnya menyesal dilahirkan oleh ibu sepertimu!" Mrs. Murrue kembali berteriak

"Kau tidak mengerti Murrue!" balas ibuku tidak kalah kencangnya.

"Benar, aku tidak mengerti. Aku hanya mengerti bahwa kau bukanlah kakakku yang kukenal" balas Mrs. Murrue.

Ibuku hanya menatap marah. Keinginannya untuk pergi meninggalkan kami disini semakin besar. Ia mendorong kopernya dengan kesal sambil berjalan kearah pintu keluar.

"Jika kau keluar, jangan pernah kembali lagi untuk menemui anakmu" kata-kata Mrs. Murrue membuat langkah ibuku terhenti. Ia menoleh ke belakang untuk menatapku.

Aku balas menatapnya dan mengumpulkan seluruh kekuatanku untuk memanggilnya tapi tak ada suara yang keluar dari mulutku.

Matanya melembut dan kembali meneteskan air mata. Kemudian ia berbalik dan berjalan keluar pintu tanpa menoleh ke belakang lagi. Tangisanku semakin kencang dan Mrs. Murrue kembali memelukku dengan erat.


Wajah cemas Mrs. Murrue menyambut kedatanganku ke rumah. Dibelakang berdiri suaminya,mr. mwu. Hanya saja wajah tidak sekerut istrinya,ia tetap tenang walaupun sorot matanya menunjukkan ada sesuatu yang tidak beres.

Aku bergegas masuk ke dalam rumah dan langsung bertanya apa yang terjadi selama aku tidak ada di rumah.

"Ayahmu Cagalli.. ia muntah darah tadi siang" jelas mrs. Murrue

Aku tidak tahu bagaimana raut wajahku sekarang,berbagai rasa cemas,khawatir,dan takut tersirat dari seluruh tubuhku.

"Jangan cemas,Cagalli. Kata dokter ayahmu akan baik2 saja" timpal mr. mwu .

"Kenapa.. Kenapa tidak ada yang memberitahuku?" Aku bersusah payah menahan tangis

Mrs. Murrue dan mr. Mwu saling berpandangan,"ayahmu melarangnya... Itu yang pertama kali ia lakukan,melarang kami menelponmu karena ia kira.. Kau tahu itu kan.."

Aku hanya menatap dua orang didepanku dengan pandangan kosong

"Terima kasih,mrs murrue dan mr mwu. Aku akan menemui ayahku. Terima kasih banyak" aku tak bisa berkata apapun lagi selain ini.

Sepertinya mereka mengerti. Sesaat setelah aku masuk ke kamar ayahku,terdengar bunyi suara pintu ditutup dari arah luar. Mereka membiarkanku sendirian.

Tapi tidak ada yang bisa kulakukan. Ayahku terbaring lemah diatas tempat tidurnya. Wajahnya pucat,lebih pucat dari biasanya,mulutnya terbuka setengah untuk membantunya bernafas. Aku menutup kedua mataku sambil menarik nafas panjang.

Aku takut.

Untuk sekali dalam seumur hidupku,aku berharap ada orang lain disisiku sekarang ini.


Aku terbangun karena ketukan pelan dari arah luar. Sebenarnya aku sendiri terkejut karena masih bisa tidur disaat pikiranku gelisah. Aku membuka pintu dan menemukan Madame Jasmine. Ia tersenyum sambil membawa bouquet yang dihiasi dengan bunga carnation dan yarrow. Keduanya melambangkan kesehatan dan kesembuhan.

Aku menganggap kedatangan Madame Jasmine ke rumahku adalah sesuatu yang wajar. Sepertinya ia selalu berhubungan dengan sehingga dia tahu semua yang terjadi padaku dan kami semua yang ada disini. Ia dan sudah menjadi sahabat.

"Bagaimana keadaan ayahmu?" Tanya Madame Jasmine setelah melihat kondisi ayahku.

"Dokter tidak berkata banyak—paling tidak itu yang dikatakan kepadaku. Dokter hanya menyarankan untuk merawat ayahku di rumah sakit karena komplikasi penyakitnya sudah semakin parah"

Madame Jasmine mengangguk, "Lalu bagaimana dengan keadaanmu?"

Aku terdiam sejenak,"Aku tidak tahu" jawabku datar

Madame Jasmine tersenyum tipis,ia datang kepadaku lalu memelukku, "Masalah seperti ini, jangan kamu tanggung sendirian. Tidak ada yang merasa direpotkan olehmu"

Aku ingat aku tidak pernah menangis sejak aku berjanji untuk tidak melakukannya. Tapi kali ini aku bersumpah aku tidak sengaja melanggarnya. Saat air mataku mengalir deras, Madame Jasmine tersenyum sambil mengatakan, "akhirnya kamu menangis, anakku…"


Another chapter from me~

maaf jika ada nama orang yang lagi-lagi menghilang, ada yang tahu bagaimana mengatasi masalah ini? :(

review please ^0^