Nb : Al mohon maaf karena di chap sebelumnya alurnya banyak yang ga nyambung, tapi sebenarnya emg sengaja Al gituin. mohon pengertiannya ya. sebagai permintaan maaf di chap ini Al panjangin nyampe wordnya 4k+ Happy Reading~
.
1004
(Sacrifice)
.
Aerolee
.
Warning!
(Typo everywhere, EYD Failed)
.
BoyxBoy | Yaoi | Angst, Tragedy, Hurt, Romance | PG-15
.
Baekhyun, Jungkook, Daehyun, Junhong, Taehyung, and other.
.
Dont Like?
.
Dont read!
.
Dont Plagiarize please!
.
Semua cast milik agensi masing2, orang tua masing2 dan juga milik Tuhan.
Tapi fanfic ini asli milik saya, jika ada kesamaan alur, kata-kata, cast atau sebagainya, itu hanya unsur ketidak sengajaan.
.
Enjoy!
.
.
.
.
"Jika memang ini yang terbaik, aku rela mengorbankan nyawaku untuk menjagamu tetap hidup,"
.
.
.
Kini Jungkook dan Taehyung sudah berada di apartemen milik Baekhyun, yang tentu saja akan ditinggali oleh Baekhyun, Jungkook dan juga Taehyung sang penghuni baru.
Apartemen ini tidak begitu luas ataupun mewah, terkesan sederhana dan juga minimalis. Walaupun sederhana jika dilihat lebih seksama apartemen ini cukup terlihat luas dengan ruang tamu dan dapur yang berada di sebelah kiri ruangan, dan tiga buah kamar tidur disebelah kanan.
Setelah menunjukkan kamar yang akan ditinggali Taehyung, Jungkook langsung melenggang pergi tanpa sepatah katapun.
"Anak itu kenapa sih?"
Taehyung bergumam sambil memandangi punggung Jungkook yang mulai menghilang.
Dari pertama kali ia bertemu hingga sekarang mungkin tidak sampai 10 kata yang keluar dari mulut Jungkook hal itu yang membuat Taehyung tak enak hati dan bingung. Ada apa dengan dirinya?
Taehyung meletakkan kopernya dipinggiran ranjang, ia edarkan pandangannya kepenjuru ruangan. Bersih, rapi dan tidak berdebu sama sekali—
"apa baru dibersihkan?" Gumam Taehyung sembari berjalan mengelilingi kamar itu.
Langkahnya terhenti tepat disebuah kaca besar yang bertengger manis didinding. Ia melihat pantulan wajahnya disana. Sesekali ia berpose, mengubah tatanan rambutnya dan meneliti tubuhnya dari ujung kaki hingga ujung rambut.
"Tidak terlalu buruk, aku tetap tampan. Bajuku? Masih sangat sopan. Rambutku? Tentu saja sangat rapi," Ucap Taehyung bermonolog didepan kaca.
Ia menghentikan kegiatannya, lalu beberapa menit kemudian pemuda bernama Taehyung itu mengangkat sebelah alisnya.
"LALU APA YANG SALAH DENGANKU?!"
Taehyung mengacak –acak rambutnya frustasi. Wajah ketus Jungkook terus menghantui otaknya, selama ini belum ada orang yang berani mengacuhkannya. Dan bagaimana bisa ia diacuhkan oleh orang yang belum ada satu jam ia temui? Yang benar saja.
Tanpa berpikir panjang Taehyung langsung melesat keluar kamar berniat mencari Jungkook. Meminta penjelasan dari pria berwajah manis itu.
Namun saat ia baru selangkah keluar dari kamarnya, tiba-tiba Jungkook sudah berdiri tepat dihadapannya dengan memasang wajah datarnya yang khas.
Taehyung terbelalak kaget dan hampir terjatuh jika saja pintu kamarnya tidak ia tutup terlebih dahulu.
"Mau apa kau? Berteriak seperti orang gila," Desis Jungkook datar.
Taehyung masih tidak bergeming, pandangannya terkunci oleh iris kelam milik Jungkook yang menurut Taehyung sangat tajam dan dingin itu.
"K-kau bersekolah dimana?" Pertanyaan itu keluar begitu saja tanpa disadari oleh Taehyung.
Jungkook mengangkat sebelah alisnya tak mengerti, "Ck, yang benar saja,"
Jungkook melangkah pergi menuju dapur meninggalkan Taehyung yang masih merutuki ucapannya itu. Sadar bahwa Jungkook sudah pergi dari hadapannya dengan langkah cepat ia menarik tangan Jungkook yang dihadiahi tatapan tajam oleh pria bersurai kelam itu.
"Mau apa kau?"
"Kau belum menjawab pertanyaanku,"
"Apa itu penting?"
"Yah... kurasa itu penting,"
Taehyung menggaruk tengkuknya dengan kikuk, aneh sekali kata-kata yang ia susun rapi sebelumnya hilang begitu saja ketika iris kelamnya bertemu dengan iris tajam milik pria bernama Jungkook itu.
Sedangkan Jungkook memutar bola matanya malas, "Lepaskan tanganku,"
Taehyung mengalihkan pandangannya kegenggaman tangannya yang tengah mencengkram kuat pergelangan tangan Jungkook.
Ia melepaskan cengkramannya dan membebaskan pergelangan tangan Jungkook.
Otaknya seakan tidak sedang berkerja dengan baik sekarang, entah karena apa sekarang degupan jantungnya berkerja tidak normal. Lebih cepat dari biasanya—
"Menjauh 4 langkah dariku,"
"Kenap—"
"Tidak mau? Yasudah aku pergi—"
"Tunggu dulu, baiklah baiklah"
Taehyung melangkah 4 petak kebelakang lalu berbalik menatap Jungkook yang tengah memandanginya tanpa ekspresi. Tentu saja membuat Taehyung mati kutu sekarang.
"Kurasa kurang jauh, mundur 5 langkah lagi" Titah Jungkook sambil berkacak pinggang.
"Sebenarnya apa— baiklah," Taehyung mengalah, tatapan tajam Jungkook membuatnya harus mengikuti keinginan pria berwajah imut itu.
Taehyung melangkah mundur lagi hingga 5 petak kebelakang. Ia memandang Jungkook. Pria itu masih dalam tatapan datarnya, demi apapun Taehyung benci tatapan itu dan rasanya ia ingin membuangnya jauh-jauh.
"Jawab pertanyaanku,"
"Apa kau dapat dipercaya?" Ucap Jungkook cepat, memotong suara Taehyung.
Taehyung mengangkat sebelah alisnya tak mengerti, memangnya wajahnya terlihat seperti penjahat? Kurasa tidak.
"Kalau kau percaya padaku, kau dapat mempercayaiku," Tegas Taehyung.
"Kurasa begitu,"
Jungkook mendengus, "Jangan berbicara dengan posisi seperti ini, tidak menyenangkan. Ayo pergi keruang tengah." Ucap Jungkook yang dijawab anggukan oleh Taehyung.
Kini Taehyung tahu satu hal, Jungkook benar-benar tidak bisa ditebak.
"Jangan berpikir dengan ini aku sudah mulai menerimamu," Ujar Jungkook setelah mereka berdua berada diruang tengah dan menyamankan posisi duduk disebuah sofa yang terletak tepat didepan sebuah jendela besar.
Taehyung mengangguk malas. Jujur saja ia sudah hampir menjitak pria dihadapannya ini dengan gemas, tetapi ia masih sadar diri dan mengurungkan niatnya itu.
"Boleh aku bertanya sesuatu?"
"Apa?"
"Kenapa kau sangat terkejut saat pertama kali bertemu denganku ?"
Jungkook menundukkan kepalanya dan menghela napas perlahan lalu kembali menatap Taehyung. Kali ini tidak ada ekspresi datar ataupun ketus yang terpancar dari mimik wajahnya.
"Karena kau orang korea,"
Taehyung semakin mengerutkan keningnya tak mengerti. Memangnya masalah jika dia orang korea? Bahkan Jungkook 'pun juga orang korea bukan? Lalu apa masalahnya?
"Kau bisa merahasiakan hal ini dari orang lain? Aku akan sangat berterimakasih kepadamu,"
"Memangnya ada apa? Aku belum mengerti,"
"Aku dan juga kakakku adalah anak dari Jaksa Jeon Jungho, salah satu korban pengeboman Nehwham International Airport 15 tahun silam. Ayah dan juga Ibuku tewas ditempat, sedangkan aku dan kakakku selamat tanpa adanya luka sekalipun,"
Jungkook menghentikan ucapannya, ia mendongak menahan air mata jatuh dari pelupuk matanya. Bibirnya bergetar dan tangannya mendingin.
Taehyung yang melihat Jungkook dalam keadaan tidak baik langsung merengkuh tubuh mungil itu kedalam pelukannya, mengelus surai kelamnya dan menggumamkan sesuatu untuk menenangkannya.
"Tidak ada yang tahu jika kami masih hidup dan tumbuh dengan baik seperti ini, yang mereka tahu kami sudah tewas bersama dengan ayah dan ibu. Baekhyun-hyung mati-matian menghidupiku dan juga menutupi identitas kami yang dulu, aku kurang mengerti kenapa. Karena dari dulu Baekhyun-hyung sangat anti dengan orang korea. Namun anehnya ia bersikap lain kepadamu," Lanjut Jungkook panjang lebar.
Tubuhnya masih bergetar menahan isakan, ia sadar apa yang ia katakan barusan. Menceritakan masa lalunya yang seharusnya ia tutup rapat-rapat dari orang asing, namun entah perasaan apa yang mendorongnya untuk memberi tahu Taehyung soal ini. Ia sama sekali tidak mengerti.
"Tenanglah, kau akan aman bersamaku," Kata-kata itu keluar begitu saja tanpa Taehyung sadari.
Muncul perasaan aneh yang mendorongnya untuk melindungi pria dalam dekapannya kini. Entah apa yang ia rasakan, tapi yang pasti ia berniat untuk menjaga dan melindungi Jungkook untuk seterusnya. Ia berjanji—
.
.
.
.
.
Cahaya terang berwarna jingga kini telah menghiasi langit kota London, burung-burung gereja berterbangan kesana kemari untuk kembali kerumah.
Jalanan ramai akan orang-orang yang berlalu-lalang bergegas pulang dari kantor menuju rumah masing-masing.
Termasuk Baekhyun yang kini tengah menyesap americano-nya, ia sedang berada disebuah café yang terletak tepat didepan rumah sakit dimana ia berkerja. Sepertinya sedang menunggu seseorang—
Sesekali ia mendesah mengalihkan pandangannya keluar jendela, memandang langit sore kota persinggahannya itu. Dan sesekali tersenyum ketika melihat gerak-gerik orang-orang yang tengah terburu-buru pulang yang menurutnya lucu itu.
"Apa kau menunggu lama?"
Suara berat seseorang menginterupsi kegiatan singkat Baekhyun. Baekhyun menoleh lalu beberapa detik kemudian tersenyun sambil menggeleng pelan.
Ia mempersilahkan orang itu duduk kemudian memanggil pelayan, menyampaikan pesanannya dan diangguki oleh pelayan itu.
"Apa kau sudah bertemu dengannya? Kupikir kau menelfonku kesini untuk membicarakan soal itu,"
Baekhyun kembali menyesap americanonya, berdeham lalu kembali menatap orang dihadapannya kini.
"Kupikir iya," Ucapnya singkat. "Kau tahu Albert, dia sangat mudah dikenali," Lanjutnya.
Pria yang diyakini bernama Albert itu mengerutkan kening samar. Ia merebahkan punggungnya pada sandaran sofa lalu memandang lurus Baekhyun.
"Ayolah Ronald, kau tahu aku ini paling tidak bisa mengerti ucapanmu. Cepat katakan pada intinya," Grutu Albert.
Sahabatnya ini selalu saja berbicara dengan kata-kata yang susah ia mengerti, seperti dengan sebuah teka-teki kemudian ia menyuruhnya untuk menebak dengan cepat. Ayolah, dia ini tidak sedang dalam misi apapun.
Baekhyun tertawa lalu merogoh saku jasnya mengambil sesuatu dari dalam sana kemudian memberikannya pada Albert.
Ia memberikan sebuah foto.
"Bukankah ini orang yang kau maksud?"
Albert menyipitkan matanya, memandang lembar foto yang diberikan oleh Baekhyun lalu beberapa saat kemudian tersenyum puas.
"Benar, sangat benar... dan bagaimana kau bisa menemukan dia?"
"Tidak sengaja aku bertemu dengannya dicafé. Namanya Kim Taehyung bukan?"
Albert mengangguk pelan, "Dimana ia sekarang?"
"Diapartemenku,"
Albert tersedak lalu membelalakan matanya, "Bagaimana bisa kau mudah sekali menawarkan orang asing untuk tinggal bersamamu?"
Baekhyun memutar bola mata malas, "Oh ayolah, aku gampang mengenalinya. Dan kau sendiri yang menyuruhku untuk membiarkan dia tinggal bersamaku,"
Benar juga, dia sendiri yang meminta bantuan Baekhyun dan membiarkannya tinggal bersama Baekhyun.
Albert mendengus pelan lalu menepuk pundak Baekhyun pelan, "Aku mempercayakannya padamu, didik dia semampu yang kau bisa. Aku tahu kau orang yang hebat Ronald,"
Baekhyun yang mendengar ucapan sahabatnya itu hanya tersenyum tipis, "Aku tidak bisa berjanji,"
"Jika ia tidak bisa melakukannya, aku terpaksa melepaskannya," Lanjutnya.
"Kau pasti bisa, aku percaya padamu"—
.
.
.
.
.
Kini Junhong sedang berdiri tegap didepan sebuah kaca, terlihat ia sedang menelisik penampilannya malam ini.
Celana jeans putih dengan setelan kemeja abu-abu yang melekat di tubuhnya memberikan kesan simple namun sangat cocok dengan tubuhnya. Junhong terlihat sangat sempurna malam ini.
Entah apa yang mendorongnya untuk bedandan malam ini, sejak atasannya yang bernama Daehyun itu mengajaknya berkencan sikapnya berubah menjadi aneh.
"Kau mau kemana? Tumben sekali,"
Suara berat khas orang yang baru bangun tidur itu terdengar dari ambang pintu. Junhong memutar tubuhnya, senyumnya berkembang ketika ia tahu siapa pemilik suara itu. Park Jimin kakak tirinya—
"Kau kepo sekali hyung,"
Jimin yang menyadari ada yang tidak beres dari adiknya itu berjalan mendekati Junhong, ia mencium bau parfum yang sangat menyengat yang berasal dari tubuh adiknya itu. ia semakin curiga—
"Apa kau akan berkencan?" Tanya Jimin to the point. "Biar aku tebak...Jung Daehyun?"
"Hyung~"
Benar, tebakan Jimin kali ini benar. Bisa dilihat dari wajah Junhong yang mulai bersemu merah, dan juga nada merajuk Junhong. Jimin sangat tahu kebiasaan adik tirinya ini ketika jatuh cinta. Tapi bagaimana bisa dengan Daehyun?
"Kau tidak bisa membohongiku Junhong-ah, tapi bagaimana bisa kau berkencan dengan Daehyun? kau yang bercerita sendiri bahwa atasanmu itu sangat menyebalkan?"
"Entahlah hyung,"
Jimin menghembuskan napas beratnya lalu menepuk pundak Junhong, "Baiklah, jika itu membuatmu senang. Tapi, berhati-hatilah,"
Junhong menatap Jimin tak mengerti, "Maksudmu hyung?"
"Tidak, hanya saja kau itu terlalu polos. Jangan terlalu mencintai seseorang, ini pesanku,"
Junhong berpikir sejenak, lalu beberapa saat kemudian ia mengangguk seolah mengerti apa yang Jimin maksud. Walaupun tidak seluruhnya ia mengerti.
Jimin tersenyum kecil, adik kecilnya kini sudah beranjak dewasa. Ia sudah menjadi seorang detektif diumurnya yang masih muda itu, dan berkerja layaknya orang dewasa. Tetapi sifatnya masih seperti anak kecil.
"Sepertinya Daehyun datang," Ujar Jimin ketika indra pendengarannya menangkap bunyi klakson yang berasal dari pekarangan rumah mereka.
"Baiklah aku berangkat dulu hyung, makan malam sudah kubuatkan di meja makan. Jangan lupa minum obatmu dan lekas istirahat, Yoongi-hyung akan segera datang untuk menemanimu," Junhong mengecup pipi Jimin sekilas, Jimin tersenyum melihat sikap adik kecilnya itu.
Junhong bergegas pergi menuju halaman, dilihatnya Daehyun yang tengah melambaikan tangan kearahnya sambil tersenyum.
"Kau terlihat begitu senang, apa karena aku mengajakmu berkencan?" Tanya Daehyun saat Junhong sudah berdiri tepat dihadapannya.
"Jangan salah paham, aku mengajakmu pergi karena aku butuh hiburan. Bukan karena aku menyukaimu," lanjut Daehyun cepat.
Raut wajah Junhong berubah masam, tidak bisakah pria bernama Daehyun dihadapannya ini tidak menghancurkan moodnya? Menyebalkan.
"Tidak, aku senang karena aku bisa jalan-jalan dan sedikit melupakan pekerjaan," Jawab Junhong ketus.
Daehyun tersenyum miris, "Benarkah?"
"Hm"
"Udara semakin dingin, cepat masuk kedalam," Titah Daehyun yang direspon dengan anggukan oleh Junhong.
Daehyun memacu mobil sport miliknya dengan kecepatan sedang, memecah keheningan malam kota seoul dan membiarkan Junhong menikmati acara kencan mereka berdua.
Sesekali Daehyun melirik Junhong yang tengah menikmati angin malam dengan senyuman yang mengembang. Tanpa ia sadari sebuah lengkungan tipis membentuk sebuah senyuman.
"Kita mau kemana?"
"Diam dan ikuti saja kemana aku akan membawamu,"
"Awas saja kau jika berani macam-macam denganku,"
Daehyun tertawa renyah, macam-macam dengannya? Memangnya ia tipe pria yang suka bermain? Tidak, ia tidak pernah tertarik dalam hal itu. Mungkin belum—
"Pikiranmu pendek sekali," Daehyun mencibir.
"Terserah kau saja, aku malas bertengkar," Desis Junhong, ia merebahkan punggungnya pada sandaran kursi lalu memejamkan matanya perlahan menikmati semilir angin malam dari balik jendela mobil yang ia buka seperempat itu.
Daehyun mengangkat kedua bahunya tak peduli dan kembali fokus pada jalanan remang-remang dihadapannya.
Sebuah dering ponsel menghancurkan keheningan antara mereka berdua, Daehyun meraba-raba dasbor mobilnya berniat mengambil sesuatu disana. Setelah mendapatkannya dengan cepat ia letakkan benda itu ditelinga.
"Hallo,"
"..."
"Tidak mau,"
"..."
"Kau menyusahkanku saja pak tua!"
"..."
"Sudahku bilang tidak mau ya tidak mau,"
"..."
"Ya... ya.. okay baiklah aku kesana sekarang juga,"
"..."
"Jangan mengancamku dengan pemotongan gaji,"
"..."
"Iya.. iya aku kesana sekarang pak tua"
Daehyun membanting earphonenya kesegala arah, Junhong yang sebelumnya memperhatikan percakapan Daehyun dengan seseorang diseberang sana berniat menanyakan sesuatu kepada Daehyun.
"Ada apa?"
"Suho hyung menyuruh kita untuk keruangannya sekarang. Menyebalkan sekali pak tua itu," Gerutu Daehyun yang langsung membanting setirnya melajukan mobilnya berbalik arah.
"Mungkin ada sesuatu yang genting, tidak biasanya Suho hyung menyuruh seseorang untuk datang kekantor. Terlebih ini sudah lewat dari jam kerja,"
"Pasang sabuk pengamanmu dengan benar, kemudian pegangan yang erat,"
"Kau mau— YA JUNG DAEHYUN! JANGAN NGEBUT BODOH!"—
.
.
.
.
.
"Ini paspor dan juga tiket pesawat untuk kalian,"
"Hey pak tua, untuk apa semua ini?"
"Jangan banyak bicara dan cepat terima,"
"Apa kau berniat memberikan kami liburan gratis ke london?"
Junhong mengangkat suara, ia membolak balikkan secarik kertas yang ia ketahui sebagai tiket pesawat itu, dan membaca deretan huruf yang tertera didalamnya. London?
"Aku ada sebuah tugas untuk mu,"
"Jangan berbelit-belit dan cepat katakan apa maksudmu pak tua,"
Suho mengangkat tongkat yang sedari tadi digenggamnya lalu ia ayunkan tongkat itu kearah Daehyun.
Daehyun meringis, dirasakannya tangan kanannya berdenyut ngilu akibat ayunan tongkat Suho. "Kenapa kau memukulku,hah!"
"Kau itu perlu didikan tata krama yang lebih, sudah kubilang diam dan dengarkan kau masih saja menjawab,"
"Baiklah.. baiklah"
"Cari orang ini dan bawa kemari," Suho memberikan sebuah foto seseorang kepada Junhong.
"Dia adalah Ronald Cristof, salah satu dokter muda yang menjabat sebagai kepala psikiatri di London. Dia adalah alat yang bagus untuk membantu kasus kalian selanjutnya," Jelas Suho.
Daehyun memicingkan mata sipitnya, melihat dengan seksama foto yang diberikan oleh atasannya itu. "Kenapa harus menggunakan psikiater?"
Suho melangkah menuju jendela dan memandang tajam keluar, "Dia bukan sembarang psikiater, dia dapat membaca gerak gerik dan juga kata-kata seseorang. Tidak heran banyak orang yang memperebutkannya hanya untuk membantu suatu kasus,"
"Dan percayalah, dia sangat susah untuk diajak kerja sama. Karena ia benci bersosialisasi dengan penduduk korea," Lanjut Suho dengan nada pelan namun tegas.
"Benci bersosialisasi dengan penduduk korea? Kupikir dia orang korea," Timpal Junhong.
"Mata, hidung, bibir dan juga kulitnya hampir sama dengan keturunan korea. Bahkan jauh jika dibandingkan dengan keturunan asli Inggris," Lanjutnya lagi.
"Aku tidak mengetahui tentang Dokter itu lebih jelas, mungkin kalian bisa mengetahuinya jika kalian berhasil membawanya kemari."
"Hanya itu ?"
"Ya hanya itu, pastikan seminggu lagi kau datang keruanganku dengan membawanya kemari. Dan jangan lupa, ia bisa saja menolakmu mentah-mentah saat kalian pertama kali bertemu nanti,"
Daehyun memutar bola matanya, "Kupikir kau akan menyuruhku menyelidiki markas Zorus itu,"
"Bodoh, tentu saja aku menyuruhmu untuk membawa Ronald kemari untuk menyelesaikan kasus Zorus!"
Suho meninggikan volumenya, jika terlalu lama ia membiarkan bocah tengil ini dihadapannya bisa-bisa ia akan terkena darah tinggi. Kemampuannya bisa dibilang hebat tapi tata krama dan juga sikapnya sangat dibawah nol.
"Maafkan Daehyun yang terlalu bodoh ini sajangnim," Junhong membungkuk tiga kali. Sedangkan Daehyun terbelalak menatap tajam Junhong.
"Sudah tidak usah banyak bicara, kau ini selalu menyusahkan," Bisik Junhong, yang dibalas desisan oleh Daehyun.
"Kalian akan berangkat besok pagi, dan kembali menghadapku minggu depan. Tanpa ada alasan apapun, kalian harus membawanya kemari,"
"Baik sajangnim, kami permisi," Pamit Junhong, ia membungkukkan badan cukup lama kemudian menarik Daehyun keluar ruangan.
.
.
.
.
.
"Kau ini apa-apaan? Menghancurkan reputasiku saja!" Pekik Junhong saat mereka sudah berada dikoridor sebuah kantor kejaksaan Korea Selatan.
"apa peduliku?" Daehyun beranjak berjalan menyusuri koridor yang terlihat sangat sepi itu dan diikuti Junhong yang mengekor dibelakang.
Bisa terdengar jelas derap langkah yang diciptakan sendiri oleh Daehyun dan juga Junhong yang menggema dipenjuru koridor.
Hening. Tidak ada lagi suara-suara yang terdengar dari Daehyun maupun Junhong, mereka terlalu larut dalam pikiran masing-masing dan tak tahu harus melakukan apa.
"Kau kecewa karena kencan kita gagal?" Daehyun memulai pembicaraan.
Junhong sedikit berjengit mendengar ucapan Daehyun. Ia menoleh menatap Daehyun yang sedang tertunduk lesu.
"Kecewa? Haha.. sedikit, karena yah acara jalan-jalanku hancur, dan lagi-lagi harus bergelut dengan pekerjaan," Jawab Junhong asal tidak peduli respon apa yang akan Daehyun berikan. Spontan kata-kata itu keluar dali mulut cherrynya.
"Masuklah, akan kuantar kau pulang. Dan besok akan kujemput kau jam 6 pagi," Tawar Daehyun.
Junhong menggeleng, tangannya ia kibas-kibaskan "Tidak, tidak usah. Aku bisa menyuruh Jimin hyung untuk menjemputku,"
"Aku tidak yakin Park Jimin akan menjemputmu dengan kondisinya yang seperti itu,"
Junhong bungkam, Daehyun tahu ia sedang berbohong sekarang. otaknya terus berputa mencari alasan lain untuk menolak ajakan Daehyun, karena jujur saja ia sangat tidak enak membuat atasannya ini repot-repot mengantarnya yang jelas-jelas berbeda arah.
Sepertinya dewi fortuna sedang memihaknya kali ini, Junhong tersenyum lebar ketika ekor matanya menangkap sebuah taksi yang melaju tidak jauh dari tempatnya berdiri. Kali ini ia bisa kabur dari Daehyun, setidaknya untuk kali ini.
"Sepertinya memang kau tidak usah mengantarku, aku bisa naik taksi. Okay, sampai bertemu besok Jaksa-nim," Seru Junhong sembari melambaikan tangannya lalu berlari menuju taksi dan masuk kedalam taksi. Meninggalkan Daehyun yang semakin menekuk wajahnya.
Daehyun mengangkat tangan kirinya, melirik jam yang bertengger manis disana. "Pukul 12 malam, apa disana sudah pagi?" Gumam Daehyun, beberapa saat kemudian ia merogoh saku celananya mengambil ponsel.
Menekan beberapa nomor kemudian meletakkannya ditelinga.
"Hallo, apa kau masih di London?"
"..."
"Kau berisik sekali, apa disana sudah pagi?"
"..."
"Terdengar jelas kau baru bangun tidur bodoh!"
"..."
"Ya terserah kau saja. Eh— hey bisakah kau carikan aku sebuah hotel?"
"..."
"Sudah tidak usah banyak bertanya.. kalau bisa pesankan aku 2 kamar,"
"..."
"Baiklah sampai bertemu,"
Daehyun menarik napas dalam lalu menghembuskannya dengan kasar, diletakkannya lagi ponselnya kedalam saku celana.
Ia terlihat sesekali menguap lalu mendengus sebelum masuk kedalam mobil dan melajukannya.
.
.
.
.
.
"Aku tidak mau, sudah kukatakan tidak mau!"
"Persetan, aku tidak akan mau berurusan dengan kalian,"
"Kau bayar berapapun tetap saja aku tidak mau,"
"Dasar keras kepala!"
Baekhyun membanting ponselnya dengan napas terengah, beberapa kali ia mengumpat sambil terus menatap layar ponselnya.
Sudah beberapa hari ini ia terus dihubungi oleh orang-orang yang merengek memohon untuk ia dapat berkerja kepada mereka.
Bukan karena itu alasan mengapa Baekhyun bersikukuh menolak ajakan mereka, alasan sebenarnya adalah orang-orang yang meminta bantuannya berasal dari negara ginseng itu. Baekhyun sangat anti dan juga benci jika menyangkut hal-hal tentang negara itu.
Semua kebahagiannya direbut disana, semua kebebasannya direbut oleh komplotan itu. Baekhyun benar-benar tidak mau berurusan dengan warga Korea. Itu sudah hak paten yang Baekhyun ciptakan untuk dirinya sendiri.
Karena masa lalu tetaplah masa lalu, dan kini ia ingin menjalani hidupnya dengan masa depan yang tenang dan indah.
Baekhyun mendudukan tubuhnya dipinggiran ranjang king size miliknya, merogoh sesuatu yang berada dibawah ranjang kemudian mengangkatnya dan meletakkannya diatas paha.
Sebuah kotak mainan yang sedikit usang dan sebuah gembok yang terdapat ditengah kotak mainan tersebut. Gembok itu juga terlihat sangat usang, berkarat dan sudah terlepas dari engselnya.
Baekhyun mengusap kotak mainan itu dengan sebelah tangnnya, membersihkan sarang laba-laba yang hampir membungkus seluruh permukaan kotak itu.
Dibukanya kotak tersebut dan mengambil sesuatu yang ada didalamnya.
Secarik kertas dan sebuah flashdisk.
Baekhyun masih sangat ingat dimana almarhum ayahnya memberikan kotak ini kepadanya dimana sebelum kejadian naas itu terjadi, dan meminta Baekhyun untuk membukanya saat ia sudah menginjak umur 17 tahun.
.
Flashback.
Baekhyun kecil yang dulunya berumur 8 tahun dan masih sangat polos kini sudah beranjak dewasa dan menginjak umurnya yang ke 17 tahun.
Hidupnya dipenuhi oleh perjuangan, menghidupi dirinya dan juga adiknya Jungkook sejak umurnya berumur 8 tahun hingga sekarang bukanlah hal yang gampang.
Berulang kali ia harus berkerja membanting tulang untuk membiayai sekolah Jungkook yang tentu saja tidak murah. Dan juga biaya sekolahnya karena ia tidak mungkin terus-terusan menggantungkan hidupnya dengan kartu ATM peninggalan milik ayahnya itu.
Setiap hari ia selalu berkerja paruh waktu, siang sepulang sekolah ia berkerja sebagai pelayan disebuah café yang terletak tidak jauh dengan kawasan apartemennya. Malamnya ia berkerja sebagai bartender disebuah club terkenal dikota itu.
Hingga ia bisa menginjak bangku universitas dan masuk kedalam jurusan ilmi psikiatri dengan umurnya yang masih sangat muda itu. tentu ia bangga, sangat bangga.
Setelah kelulusannya dibangku Senior High School, Baekhyun teringat dengan pesan yang diberikan oleh Ayahnya dulu. Sebuah kotak mainan yang Baekhyun sangat hafal bentuknya, karena kotak mainan itu adalah kado natal pertama yang diberikan oleh Junho—ayahnya kepadanya.
Ia berjongkok mengintip kolong ranjang lalu sebelah tangannya ia gunakan untuk meraba kedalam kolong mengambil sesuatu dari dalam sana.
Dirasa ia mendapatkan sesuatu, ditariknya kotak mainan itu kemudian ia bawa kotak itu menuju balkon kamarnya.
Sedikit ada rasa takut yang menghampiri benaknya, takut jika sesuatu didalam kotak itu berisi hal-hal yang menyakitkan. Atau sesuatu yang membuat Baekhyun semakin menyesali perbuatannya yang lalu, mengikuti kata Ayahnya dan membiarkan kedua orangtuanya terbunuh disana—
Dengan keberanian yang tersisa Baekhyun membuka kotak itu dengan perlahan. Dan ia dikejutkan dengan benda yang berada didalam kotak itu. Sebuah flashdisk dan secarik kertas berwarna kuning.
Kertas itu berisi beberapa deret huruf yang tidak ia mengerti.
"Lantai 2, blok 5, baris 9. 300876"
Keningnya semakin berkerut melihat deretan huruf dan juga angka, apa sebenarnya yang Ayahnya ingin katakan? Mengapa ayahnya tidak langsung menulisnya saja? Kenapa harus menggunakan kode seperti ini?
Pandangannya beralih pada sebuah flashdisk berwarna silver yang ia genggam. Ia berinisiatif membuka dan melihat apa isi dari flashdisk itu.
Ia dengan cepat beranjak mengambil laptop lalu kembali ketempat semula. Baekhyun menelan ludahnya kasar sebelum ia memutar flashdisk itu.
Layar laptop menyala dan menampakkan pemandangan yang sangat tidak masuk akal dipikiran Baekhyun.
Kurang lebih terlihat 4 orang pria yang sedang mengepung seorang pria berpakaian tuxedo lengkap, terlihat wajah pria itu memucat dan keringat bercucuran dikeningnya.
Baekhyun menajamkan penglihatannya, sepertinya ia mengenal pria berpakaian tuxedo itu. Tidak, tidak mungkin—
"A-appa? Byun Baekbeom? A-abeoji..."
Nafas Baekhyun tercekat.. dia pria berpakaian tuxedo itu. Ayahnya, ayah kandungnya Byun Baek Beom—
"Serahkan dokumen itu, dan aku akan membiarkanmu tetap hidup," Bentak seorang pria berbadan kekar yang tengah menodongkan pistolnya kearah Baekbeom.
Dan 3 pria lain mengepung Baekbeom dari depan samping kiri dan kanan. Pergerakannya terkunci sekarang. sial.
"Tidak akan, dan tidak akan pernah"
"Jadi kau ingin mati?" ... " Atau kau ingin anak sematawayangmu yang mati?"
Baekbeom membelalakan matanya, ia menggeleng kuat, "Tidak! Jangan sentuh Baekhyun! Dia tidak tahu menahu soal ini. Jangan pernah menyentuh anakku keparat!"
Pria bertubuh kekar itu semakin mendekatkan pistolnya kearah pelipis Baekbeom, bibirnya terangkat sebelah. Tersenyum meremehkan—
"Jadi namanya Baekhyun? Nama yang bagus, dan akan lebih mudah untukku menemukannya,"—
"Bajingan kau! Keparat! Jangan sentuh anakku!"
Pria bertubuh kekar itu melontarkan pukulan yang tepat mengenai pipi dan juga perut Baekbeom.
Baekbeom meringis tertahan.
"Bunuh aku, dan jangan pernah kau usik kehidupan anakku!"
"ow..ow.. kekuatan seorang ayah yang sayang terhadap anak sulungnya.. drama keluarga..ckckck"
Pria berpostur jangkung dengan rambut kelam sedikit ia naikan muncul dari balik pintu gudang yang terbuka.
"J-jung Daehan?"
"Ya, aku Daehan"
"T-tolong aku, kumohon,"
"Menolongmu? Maksudmu menolongmu untuk segera pergi dari dunia ini? Dengan senang hati, wahai sahabatku,"
"Jangan bilang—"
"Ya! Aku yang telah menyuruh mereka membawamu dan mengambil paksa dokumen itu darimu. Ada apa? Pasti kau sangat terkejut bukan? Haha"
"Kepa—"
"Ssssttt... tidak tidak tidak, jangan berbicara. Aku ingin melihatmu disiksa disini." ... "John.. cepat habisi dia!"
Dorr...
Sebuah peluru melesat mengenai kaki kiri milik Baekbeom. Ia memekik tertahan karena cengkraman tangan yang ia dapatkan dari kedua pria lainnya.
"Mau lagi?" Tawar Daehan. "Mungkin aku akan memberimu satu penawaran lagi. Berikan dokumen itu atau mati?"
"Tidak!"
"Baiklah kau yang minta... John!"
Dorr...
Sebuah pluru lagi-lagi melesat, kali ini mengenai kaki kanan milik Baekbeom. Darah segar mulai mengalir deras dari kedua kakinya. Wajahnya mulai memucat,pandangannya mulai berkunang-kunang.
"Jadi? Serahkan atau mati?"
"Tidak akan pernah!"
"John!"
Dorr...
Sebuah peluru melesat lagi mengenai perut bagian kiri Baekbeom, darah segar kembali keluar dari perutnya dan juga mulutnya akibat terbatuk. Tubuhnya benar-benar tida berdaya sekarang.
"Penawaran terakhir sayang. Berikan atau mati?"
"Bajingan kau! Tidak akan pernah!"
"Selamat tinggal sahabatku... JOHN! BUNUH DIA!"
DORR.. DORR...
Dua buah peluru sukses bersarang di kepala milik Baekbeom, tubuh Baekbeom ambruk seketika. Darah mengalir deras, dan bau anyir darah menyeruak memenuhi gudang.
Daehan tertawa puas.. kemudian ia meninggalkan Baekbeom yang telah tergeletak bersimbah darah didalam gudang.
Layar laptop tiba-tiba berubah menjadi hitam, reflek Baekhyun berteriak histeris kemudian membanting laptopnya kesegala arah.
Ia menangis, menangis sejadi-jadinya. Berteriak memanggil nama ayahnya dan berulang kali mengumpat.
Jungkook yang mendengar teriakan Baekhyun dari luar mendelik panik, ia terus menggedor-gedor kamar Baekhyun. Namun tidak diindahkan oleh Baekhyun, ia terus menjerit dan terisak.
"Hyung, ada apa? Cepat buka pintunya! Hyung kau mendengarku?!"
Jungkook semakin panik, otaknya tidak bisa berkerja baik sekarang walaupun untuk sekedar mencari ide. Ia terlalu khawatir dan juga panik.
"Baehyun hyung! Buka pintunya! Kumohon!" Jungkook berteriak semampu yang ia bisa. Tanpa sengaja ia menemukan sebuah barbel 5kg yang terletak tidak jauh dari tempatnya.
Dengan cepat ia mengambil barbel itu lalu melemparnya kearah pintu kamar Baekhyun. Dan boom, pintu kamar Baekhyun terbuka sekaligus hancur.
Tanpa membuang-buang waktu Jungkook segera menerobos pintu lalu memeluk kakaknya yang tengah mengigil ketakutan dibalkon kamar.
"Hyung tenanglah, kau baik-baik saja. Jungkook disini, bersama hyung, menemani hyung"
Baekhyun menangis dalam pelukan Jungkook, begitu juga Jungkook menangis melihat kondisi Baekhyun yang berantakan dan juga ketakutan—
Flashback end.
.
Baekhyun tersenyum kecut mengingat isi dari falshdisk tersebut. Ia menggenggamnya kuat hingga kubu-kubu jarinya memutih.
"Aku akan membalaskan dendammu ayah... appa... akan kutemukan orang yang telah dengan lancang merebut nyawa kalian," Ucap Baekhyun mantap.
"Bagimanapun caranya, mau dia hidup atau mati. Akan kubawa mayatnya dan membuatnya berlutut kepadamu,"—
.
.
To be continued..
Hai, update kilat lagi nih.
Sekali lagi Al minta maaf krn chap sebelumnya ngecewain banget. sebagai permintaan maaf Al update chap ini cepet + panjang. apa masih kurang panjang? hehe
Rencana chap depan bakal ada DaeBaek moment, yang ditunggu-tunggu bentar lg nongol. ayo DaeBaek shipper merapat/?
Thanks to : Monie-Monie, ByunBerry, ChaYoung, darkhyuners shinning, HanDik, RealDe, Sapphire Amumuhoopla, hurufve, VampireDPS, Kyuminpu, Rapp-i, ibyeori, hazelzel, , Enjieee, and other.
Maaf gabisa bales review satu-satu krn kepentok waktu /ngeles/ hehe. Thankyou so much yang udah nyempatin baca, review, follow atau fav. much love buat kalian~ 3333
Akhir kata,
Mind to Review?
