Warning: AU. Chara x Reader. School-life, Romance, Shounen-ai. Bahasa tidak baku, abal-abal, tidak sesuai EyD, typos.
Disclaimer : Kuroko no Basket milik Fujimaki Tadatoshi.
A/N : Minna, maafkan aku kemarin tidak bisa update ._. Profileku error tidak bisa dibuka, baru siang tadi bisa dibuka. Oh iya, Borru mengucapkan Merry Christmas yah bagi yang merayakannya \(´▽`)/ . Chapter 4 ini hasil diskusi dengan Shaun the Rabbit lagi (thanks yah Shaun-chan :3 /lempar wortel), terus aku kembangkan sendiri. BTW enjoy yah chapter 4 ini. Kritik dan saran masih aku perlukan untuk pengembangan cerita ini. Mohon kerjasamanya m(_ _)m
.
.
.
Chapter 4: First Kiss
September 2014, Minggu ke-1, Liburan musim panas telah berakhir. Kami masuk kembali seperti biasa.
Aku maju ke depan untuk memberikan tugas liburan musim panasku. Lalu, berjalan kembali ke tempat duduk. Entah mengapa, pandangan mataku ingin menuju pria bersurai biru tua itu. Namun aku mencoba melawannya dengan melihat kebawah hingga sampai di tempat dudukku.
"Baiklah anak-anak. Guru-guru sudah memutuskan bahwa mid semester akan dimulai minggu depan. Persiapkan diri kalian dengan baik sebelum menghadapi mid semester dan jagalah kesehatan kalian." Jelas Bu Aida sebelum mengakhiri sesi Homeroomnya.
Mid semester yah? Mengingat kalimat tersebut membuatku teringat akan mid semesterku sebelumnya di Indonesia dengan "sedikit" baik. Namun ada saja yang angka merah bahkan nilai mati. Aku bertekad agar mid semester pertama di Jepang ini, aku bisa mendapatkan setidaknya peringkat 5 besar di kelas.
Bicara tentang peringkat... Siapa orang terpintar di satu angkatan ya?
"Oi, Samuel." Aku langsung menatap sumber suara, "Apa kau pintar?" Tanya Aomine.
Terkejut dengan pertanyaan itu, aku agak sedikit salah tingkah entah kenapa, "A-aku lumayan menguasai pelajaran, meski aku belum berani mengatakan aku ini pintar." Jawabku.
Pemuda itu hanya meng-"oh"-kan jawabanku sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Bagaimana denganmu, Aomine-kun?" Aku pun balik bertanya.
Dia tertawa kecil. Aku langsung merasa tidak enak...
"Aku itu nomor 3!" Serius?! Dia nomor 3?! Dia terlihat tidak meyakinkan. "Dari belakang." Mendengar penyataannya itu aku agak sedikit memasang wajah datar seperti Tetsuya.
"Jadi Samuel." Sambil memukul pundakku. "Mau gak kamu mengajarkan aku?" Aku kaget dan bereaksi entah seperti apa hanya bisa menjawab "I-iya." Aduh, kenapa aku jawab 'iya'? Aku tidak akan fokus kalau aku melihat mukanya dia. Apalagi ini berdua. Berdua di kamar apartemenku!
"Oi, Samuel" Bagaimana kalau nanti terjadi sesuatu dikamar? Bagaimana kalau nanti dia melakukan hal-hal yang tidak seharusnya dilakukan?
"Oi, Samuel!" Bagaimana kalau nanti aku diikat di ranjang dan dia melakukan hal-hal diatas umur? Bagaimana kalau nanti... *buk*
"Oi, Samuel! Sadar oi!" Teriak Aomine ketika memukul kepalaku.
"Itai! Maaf, tadi kamu ngomong apa?" Tanyaku setengah malu.
"Jadi, kita mulai belajar ditempatmu kapan?" Tanya dia.
"Err, dua hari sebelum mid aja deh. Biar masih 'fresh' diotak. Eh, sekalian ajak teman basketmu yah. Jaga-jaga kalau aku ada yang tidak mengerti." Jawabku. Dengan muka sedikit kecewa, Aomine menjawab , "Baiklah..."
Huft, kalau ada mereka mungkin aku masih bisa terkendali.
Lusanya seusai pulang sekolah, mereka datang. Aku menyiapkan meja di ruang tamu berserta snack dan minuman. Sesi ini dibagi tiga kelompok. Aku mengajari Aomine, Akashi mengajari Kise dan Atsushi, Midorima mengajari Momoi dan Tetsuya. Aku memperhatikan Aomine mengerjakan soal-soal yang ada di buku cetak dan soal yang aku ambil dari internet.
"Yang ini salah, harusnya integral dari 5x^4 - 10x^3 = 5/4+1 x^4+1 - 10/3+1 x^3+1 = x^5 - 5/2 x^4."
"Yang ini caranya a(a.b) disubtitusikan menjadi a.a - a.b. Setelah itu yang sama diubah menjadi kuadrat sehingga menjadi |a|^2 - a.b. a.b itu rumusnya ab cos teta. Masukin a, b, dan tetanya maka |4|^2 - 4.3 cos 120 = 16 - 12x-1/2 = 16 -(-6) = 22."
"Yang ini salah, CH3COOH merupakan asam lemah."
"Yang ini salah, bentuk mineral dari besi itu hematit."
"Yang ini gunakan rumus G = T.I/96500 x Me"
"Nomor 10 salah, jawabannya profase"
"Nomor 14 salah, harusnya bentuk pasif dari 'My classmate gave this book to me' jadi 'This book was given to me by my classmate' "
Diluar dugaanku, hampir semua soal yang aku beri salah semua. Dia hanya menggaruk-garukan kepalanya kebingungan. Aku tidak berani melihat tatapannya secara langsung, takut aku kehilangan fokus.
Setelah cukup lama mengajari Aomine, aku menyuruh dia beristirahat. "Akhirnya, Samuel, nyalakan lagi playstationmu." Sahut Aomine.
Ya, aku memiliki playstation namun jarang aku gunakan. Dia kembali bermain balapan dengan Kise. Disaat sesi istirahat ini, aku menawartakan seiisi ruangan minuman.
"Teh saja." Jawab Akashi dan Momoi.
"Teh hijau. Menurut Oha-Asa, warna keberuntungan hari ini adalah warna hijau nanodayo." Jawab Midorima.
"Coca-cola yah!", "Eh, aku juga mau-ssu." Jawab Aomine dan Kise sambil bermain.
"Tetsuya dan Atsushi mau minum apa?"
"Aku teh hangat saja, panggil saja aku Kuroko."
"Aku sama seperti Kuro-chin, Samu-chin."
Akupun ke dapur dan menyiapkan minuman mereka. 2 coca-cola, 4 teh manis dan 1 teh hijau. Aku membawa minuman mereka ke ruang tamuku. Kemudian aku kembali ke dapurku untuk mengisi ulang snack mereka.
Setelah sesi istirahat selesai. Kami melanjutkan belajar. Pukul 6 sore, sesi belajar bersama selesai. Mereka berpamitan pulang.
"Jaa, Samuel-kun/Samuel/Samu-chin/Samuelcchi." Sahut mereka.
"Jaa, makasih yah sudah mau belajar bersama di apartemenku." Teriakku.
Aomine keluar paling akhir, tanpa ada peringatan tiba-tiba dia mencium keningku (karena tinggiku hanya selehernya.) dan mengucapkan "Jaa, Samuel. Terima kasih sudah mengajariku."
Aku terdiam, mukaku memerah seperti kepiting rebus. Dia menciumku! DIA MENCIUMKU! "A-Aku mengajarimu karena aku bisa, bukan karena aku tidak mau kamu di 3 bawah, a-aho!" Yap, tsundere-modeku keluar lagi. Dia tersenyum dan melambaikan tangannya kepadaku. Aku melambaikan tanganku meskipun malu-malu.
September 2014, minggu ke-2. Mid semester-pun dimulai. Hari pertama sastra jepang, hari kedua matematika, hari ketiga kimia, hari keempat biologi, hari kelima sejarah jepang, dan hari keenam bahasa inggris.
Sejauh ini dari hari pertama sampai hari keempat lancar. Sampai pada saat hari kelima, aku hanya bisa menjawab 20 dari 50 nomor soal sejarah jepang.
Aduh, masa ada nilai merah lagi? Aku tidak mau masa-masa suramku di SMA Indonesia terulang. Namun aku tidak ada ide untuk memilih jawaban soal-soal yang tersisa. Dengan pasrah aku mengelundungkan pensilku dan memilih nomor yang menghadap paling atas. Berharap jawaban tersebut benar.
3 hari sudah mid semester berlalu. Aku mendengar hasilnya sudah ditempelkan di papan pengumuman. Aku menuju kesana untuk melihat nilaiku. Dalam kerumunan orang banyak, aku menyelip dan sampai di depan papan tersebut. Aku melihat kertas tempelan tersebut.
1. Akashi Seeijuro: 9.8, 10, 10, 10, 10, 10
2. Donny Samuel : 10, 10, 10, 10, 9.8, 10
3. Murasakibara Atsushi: 9.8, 9.8, 9.6, 9.8, 9.0, 9.0
4. Midorima Shintarou: 9.8, 9.0, 9.0, 9.2, 9.4, 9.2
"A-a-aku peringkat 2?! Nilaiku sama dengan Akashi?!" Sahutku dalam hati. Meskipun senang bukan main, namun tetap aja aku sedikit kesal, hanya beda 1 huruf depan maka rangkingku dibawah Akashi. Namun yah rangking segitu sudah harus disyukuri. Apalagi nilai kelima hasil "gambling".
Oh iya, nilai-nilai Aomine dan teman-temannya. Aku mencari dan menemukan nama-nama mereka yang -letak peringkatnya masing-masing- cukup berjauhan.
20. Momoi Satsuki: 8.6, 7.8, 8.0, 9.4, 8.6, 8.4
.
.
.
46. Kuroko Tetsuya: 8.6, 6.4, 6.8, 5.8, 7.6, 5.4
.
.
.
77. Aomine Daiki: 6.0, 5.0 , 5.2, 5.4, 5.8, 6.6, 5.0
78. Kise Ryouta: 6.0, 5.0, 5.4, 5.2, 6.2, 5.0, 5.6
"Sepertinya dia tidak mendapatkan peringkat 3 kecil lagi." Senyumku kecil. Aku keluar dari kerumunan siswa-siswi dan tiba-tiba saja. "Selamat yah, Samuel. Kamu menyamai total nilai Akashi." Dari belakang Aomine merangkulku dengan kuat dan mengacak-acak rambutku.
"Ahhh! Aomine-kun! Jangan membuatku kaget." Teriakku dengan muka sedikit memerah.
"Oh iya, aku mau ngomong sama kamu." Dia menarikku entah kemana dalam rangkulannya, padahal tujuanku adalah ke kelasku untuk bermain di laptopku.
Aku dibawa ke atap sekolah. Disini sepi, hanya aku dan Aomine. "Kamu mau ngomong apa, Aomine? Dan kenapa harus di tempat sepi segala?" Tanyaku yang masih dirangkul oleh Aomine.
Tiba-tiba saja dia membalikkan badanku dan menciumku di mulut. Ya, bibirnya bertemu dengan bibirku. Aku bisa merasakan nafasnya, aku bisa merasakan sentuhan halus bibirnya ke bibirku, aku juga bisa merasakan perasaanya.
Tanpa terasa, mukaku memerah. Aku ingin melepaskan diriku dari rangkulannya dan juga ciumannya, namun entah kenapa aku juga merasa menikmatinya.
Setelah ciuman yang cukup lama itu, dia melepaskan ciumannya dan berbisik di dekat kupingku, "Terima kasih, karenamu aku bisa mengikuti Winter Cup."
Aku masih terdiam, aku menatap matanya yang berwarna biru laut itu. Beberapa detik kemudian, aku tersadar. Aku mundur sambil berkata, "A-aho! B-Bukan begitu caranya berterima kasih!"
Dia kembali tersenyum kepadaku. Aku berlari menuju kelas dengan muka memerah persis rambutnya Akashi. Ya, selain mendapatkan peringkat 3 besar di sekolahku, aku mendapatkan ciuman pertamaku di atap sekolah...
