The Key of the Locked Door

Semua tampak gelap. Tak ada sedikitpun cahaya yang dapat menerangi langkah Boboiboy. Gadis malang yang kebingungan dalam kegelapan kini hanya bisa memanggil-manggil kakeknya yang telah tiada dengan air mata di pipi. Dalam hatinya ia mulai bertanya-tanya dosa apa yang telah ia lakukan hingga ditinggalkan orang-orang yang begitu dicintainya.

Kaki bergetar, tangannya menggapai-gapai tak tentu arah, hanya rintihan dirinya sendirilah yang dapat ia dengar.

Perlahan sebuah cahaya kecil bersinar di hadapannya. Tangisan Boboiboy mulai mereda. Matanya mengikuti cahaya putih tersebut, kakinya mulai melangkah menuju arah yang sama dengan pandangannya. Semakin cepat ia melangkah, semakin terang pula cahaya yang bersinar di depannya.

Kini penglihatannya memburam seiring cahaya tersebut semakin terang membutakan mata. Perlahan Nampak ada wajah seseorang yang begitu dekat di hadapannya. Semakin jelas pandangannya, ada warna ungu menghias di antara mata orang tersebut, warna rambut langit malam nyaris menutupi sebagian mata yang kini jelas berwarna kecoklatan di balik beningnya kacamata berbingkai ungu.

Tak pernah Boboiboy lihat wajah setampan itu meski dalam mimpi.

Mimpikah ini...? Siapa yang ada di hadapanku...?

Sepasang telinga runcing berbulu di kedua sisi kepala orang yang berada di hadapannya kini menjadi pusat perhatian Boboiboy seiring kesadarannya terkumpul.

"Fang... kau akan mengejutkannya... Minggir dari situ..."

"Ah, ibu... aku hanya khawatir padanya... Lagipula dia sepertinya mulai sadar..."

Begitu wajah tampan itu menyingkir, wajah Elizabeth menggantikan di hadapan Boboiboy yang mulai sadar. Wanita itu mengelus lembut pipi Boboiboy.

Gadis yang masih terbaring demam tersebut tak bisa menggerakkan tubuhnya. Panas bagai mengalir di sekujur tubuh tak peduli pemilik tubuh tersebut merasa menderita karenanya.

Kini seorang pria tua dengan jenggot putih panjang terpasang di wajah tua penuh keriput mendampingi di samping Elizabeth. Mata pria tersebut begitu sipit karena terhimpit keriput yang muncul di sekitar matanya, begitu pula dengan alis putih tebal panjang yang nyaris menyaingi jenggotnya. Jubah oriental yang dikenakannya menutupi hingga tangan membuat pria tersebut harus menarik salah satu lengan bajunya dengan tangan kanan sementara tangan kirinya memeriksa denyut nadi Boboiboy.

"Bagaimana, tabib...?" Suara pria dewasa terdengar dari punggung dua orang yang ada di hadapan Boboiboy. Tabib yang memeriksa Boboiboy hanya mengangguk dan kini memandang Elizabeth yang ada di sampingnya.

"Berapa banyak darahmu yang kau berikan...?"

"Hanya lima tetes..."

"Hmm... Kau adalah vampir sejati, Elizabeth... Anak ini manusia murni dan tubuhnya begitu lemah setelah ia kehilangan banyak darah karena kecelakaan yang menimpanya... Tak heran ia mengalami demam tinggi karena darahmu mengalir dalam darahnya..."

Samar-samar pembicaraan orang-orang di hadapannya dapat didengar Boboiboy. Tubuhnya masih tak bisa bergerak dan kesadarannya belum terkumpul penuh dan mulutnya sama sekali tak bisa mengeluarkan suara.

Tabib berjenggot putih tersebut kini berjalan menuju ayah Fang yang berdiri di samping anaknya. Hao diam menunggu tabib yang ia panggil ke rumahnya itu melanjutkan kata-katanya.

"Manusia yang meminum darah vampir sejati akan berubah menjadi vampir apabila pikiran dan tubuhnya menerima. Tidak jika pikiran dan tubuhnya menolak. Dalam keadaan menolak itu manusia biasa akan menderita seumur hidup dengan kesakitan luar biasa pada tubuhnya... Gadis ini, tentu menolak kenyataan yang kau ceritakan padanya, maka darah dan tubuhnya menolak darahmu, Elizabeth..."

Fang dan kedua orang tuanya mulai khawatir. Elizabeth tak tega melihat gadis yang ditolong Fang itu menderita sedemikian rupa "Apa yang bisa kami lakukan?"

Tabib tua itu hanya menghela napas "Meminta dia mempercayai kalian dan kondisinya sekarang ini saja dulu sudah cukup... Hao telah menceritakan apa yang sudah dialami gadis ini... Bisa kupastikan akan berat baginya menerima kenyataan yang tiba-tiba seperti ini... aku tak punya obat yang bisa menyembuhkan kepercayaan seseorang, baik itu ras vampir, werewolf, manusia, atau apapun... Hanya kalianlah yang bisa menolongnya..."

Fang menggerutu "Bahkan tabib terbaik segala ras tak bisa menyembuhkannya?"

Sebuah ketokan tongkat kayu mendarat di kepala Fang membuat cowok itu meringis kesakitan. Hao menghela napas menghadapi ketidak sabaran anaknya sehingga membuat tabib gurunya menghukum dengan ketokan di kepala.

"Kau pikir aku ini Tuhan? Dunia para halfter dan manusia bukanlah dunia yang dapat bersatu dengan mudah... Akan banyak konflik terjadi jika kita bertemu. Seperti sekarang ini. Pertemuan darah yang berbeda dalam satu tubuh secara tiba-tiba dan bukan dikarenakan sejak dari lahir adalah hal yang berbahaya..."

Elizabeth menunduk penuh sesal. Darahnyalah yang mengalir dalam tubuh gadis yang kini tengah berbaring malang. Namun Fang lebih menyesal lagi karena dirinyalah yang meminta sang ibunda memberikan darahnya meski hanya lima tetes.

Kembali menghela napas, sang tabib tua berjalan menuju pintu didampingi Hao "Saranku tak berubah seperti yang sudah kukatakan tadi... Tumbuhkanlah kepercayaan diri gadis itu pada dunianya yang baru dahulu... Kalau tidak, dia akan seperti ini terus menerus..."

Hao Lang melihat wajah anaknya yang masih menunduk. Ia tahu Fang sangat menunggu-nunggu saat seperti ini, di mana ia bisa menyentuh dan berbicara secara langsung dengan cintanya sejak kecil. Namun tak seperti apa yang ia harapkan, kini Boboiboy hanya bisa terbaring lemah. Hao menepuk bahu Fang sebelum pada akhirnya keluar mengantar tabib gurunya menuju pintu depan.

Tabib tua yang tingginya hanya sepinggang Hao berjalan menuruni tangga mendahului sang kepala keluarga Lang. Sebelum membuka pintu depan, Hao membungkuk dalam berterima kasih pada gurunya karena ia mau datang sebagai tabib memeriksa keadaan Boboiboy "Tabib guru, terima kasih sudah mau datang dari jauh kemari... Terimalah hormatku..." Sang tabib menutup mata dan kembali membukanya setelah beberapa saat "Hao... kau tahu jelas perangai Fang... Aku tahu dia tak sabar ingin memperkenalkan dunianya pada gadis manusia itu... namun dari apa yang kulihat melalui raut wajah gadis itu, ia memiliki hati yang begitu lembut, dan bisa dikatakan sedang rapuh karena apa yang terjadi padanya hari ini... Mintalah Fang untuk memperlakukannya dengan hati-hati..."

Begitu daun pintu depan terbuka, tubuh mungil tabib tua di hadapan Hao kini dikelilingi asap yang semakin tebal. Perlahan, sebuah kepala naga yang semakin membesar muncul dari balik asap menuju pintu yang terbuka lebar diikuti tubuhnya yang memanjang semakin besar melayang menuju langit luas menembus hujan yang deras.

Hao terdiam sambil menutup pintu setelah gurunya pergi. Ia kembali berjalan menaiki tangga dan menemukan istrinya belum bergerak dari sisi gadis yang sedang bertarung dengan rasa sakit dan demam di tubuhnya.

"Elizabeth... janganlah bersedih seperti ini terus... Ini bukan salahmu... Kau hanya berusaha menyelamatkannya atas permintaan Fang... Ini juga bukan salah Fang, dia hanya ingin gadis ini selamat..." Hao menggenggam erat tangan istrinya. Elizabeth hanya bisa mengangguk. Dari bibirnya yang merah merekah bagai kelopak mawar tak sedikitpun suara keluar menjawab kata-kata suaminya. Dalam hati sang nyonya vampir hanya ada kesedihan dan kekhawatiran pada anak manusia yang tengah terbaring lemah di sampingnya. Hati seorang ibu yang begitu tulus penuh kasih sayang dari Elizabeth kini tertuang pada Boboiboy.

Hao memberi ciuman pada dahi istrinya sebelum ia berjalan mendekati Fang yang berdiri memandangi keluar jendela di dekat perapian dalam kamar tersebut. Hao tahu, Fang lah yang paling merasa bersalah. Ia hanya menginginkan pujaan hatinya selamat dari maut dan hidup bahagia bersamanya, tapi kini ia merasa semua yang dilakukannya hanyalah kekacauan belaka.

Hao merangkul anaknya yang tingginya hanya seleher sang kepala keluarga, berusaha menghibur anaknya. Tapi pandangan Fang sama sekali tak bergerak dari pemandangan hujan deras di luar jendela sana. Wajah tampannya hanya bisa menunjukkan kesedihan dan penyesalan luar biasa. Udara dingin mulai membuat gelas di kacamatanya berembun.

"Fang... sebentar lagi malam... kau bersiaplah ke sekolah..." Hao menepuk bahu Fang berulang-ulang dan mengelusnya sebelum ia mencium pelipis anaknya yang menghela napas panjang. Dirinya begitu malas meninggalkan rumah. Ia hanya ingin berada di sisi gadis pujaannya sejak kecil itu. Namun sang ayah tersenyum kecil memberikan semangat pada Fang yang pada akhirnya menurut.

Fang merasa begitu bersalah. Ia sudah merepotkan kedua orang tuanya. Sang ibunda yang menuruti kemauannya untuk memberikan tetesan darah vampir pada Boboiboy. Dan ayahnya yang sudah membela dirinya menghadapi para petinggi kedutaan dan kementerian dari ras manusia serta ras halfter ketika Fang mendapat teguran atas apa yang sudah dilakukannya.

Ia sudah melanggar undang-undang dan peraturan yang ada. Melewati batas dunia manusia dengan wujud asli tanpa izin pada waktu yang telah mendapat perundangan penentuan di mana adanya larangan ras halfter berkeliaran di dunia manusia, menunjukkan wujud aslinya pada manusia biasa yang tidak berhubungan dengan ras halfter, serta turut campur dalam urusan ras manusia. Demikian dari peraturan-peraturan yang dilanggar Fang, sang ayah berusaha membela, bahwa Fang hanya berusaha menolong gadis yang sudah menyelamatkannya lima tahun lalu.

Nama keluarga bermarga Lang yang tersohor di dunia para halfter bukan berarti membuat mereka bisa lolos perundangan begitu saja. Kementerian dan kedutaan begitu ketat pada perundangan yang ada agar tidak adanya konflik yang terjadi di antara dua dunia berbeda.

Hao Lang akhirnya mendapat teguran untuk mengawasi anaknya yang terkenal temperamental, dan Fang mendapat hukuman tidak boleh keluar rumah selama sebulan selain ke sekolah dan daerah tertentu. Itu pun mendapat pengawasan dari para penjaga yang disebar oleh kementerian demi menjaga keamanan para ras halfter yang tersebar. Fang sempat mengamuk di ruang sidang. Tapi ayahnya berhasil menenangkan dirinya.

Mengingat perjuangan sang ayah yang membelanya, membuat Fang semakin merasa bersalah. Maka ia tak memiliki jalan lain selain menuruti perintah ayahnya. Fang mulai bersiap mengenakan kemeja dan jas hitam serta membawa tas sebelum ia berangkat menuju sekolah dalam derasnya hujan yang belum berhenti.

Hao mengantar anak semata wayangnya sampai ke depan pintu. Fang terhenti sebelum ia melangkah keluar "Tolong kabari aku kalau ia sudah siuman..." Hao menepuk punggung anaknya sambil mengangguk lalu membiarkan Fang merubah wujudnya menjadi seekor serigala hitam besar dan mulai berlari menuju gang depan rumah hingga ia menghilang dari pandangan ditutupi tirai hujan yang lebat meninggalkan sang ayah yang menutup kedua daun pintu kayu yang tebal nan megah.


Boboiboy akhirnya berhasil mengumpulkan kesadarannya setelah berusaha menahan rasa sakit dan panas luar biasa yang masih bisa ia rasakan sejak mencoba keluar dari rumah itu. Kepalanya menengok kecil dari pembaringannya melihat Elizabeth yang masih menggenggam tangan gadis itu sambil membaringkan kepalanya di samping Boboiboy.

Sejak ia terbangun dari pingsannya, Boboiboy sudah mendengar segala pembicaraan antara kedua orang tua Fang dengan tabib tua yang memeriksanya. Ia tak tahu lagi apa yang harus dipercayainya. Seakan sebuah dunia baru dan asing yang tak pernah ia jamah dan tak pernah bisa ia mengerti, bahkan ketidak tahuan sang gadis terhadap keberadaan dunia yang ia masuki kini.

Di manakah aku sekarang ini? Siapakah sebenarnya orang-orang ini? Apa yang sebenarnya terjadi?

Sedikit gerakan dari tangan Boboiboy membuat Elizabeth tersentak dan mengangkat wajahnya. Tampak raut wajah keibuan yang begitu khawatir. Perlahan ia mengelus dan menyisir poni rambut Boboiboy dari wajahnya yang kemerahan karena demam.

"Kau sudah siuman, sayang...? Maaf kami telah membuatmu terkejut... Seharusnya... aku menjelaskan apa yang terjadi padamu secara perlahan..."

Boboiboy tak lagi berusaha menolak, meski hatinya masih bimbang. Tapi ekspresi seorang ibu dari wajah Elizabeth membuat dirinya tak ingin membuat nyonya vampir tersebut lebih sedih lagi. Dari bibir mungil yang merekah berwarna merah muda, Boboiboy berusaha mengeluarkan suara.

"A, air... aku... haus..." Elizabeth menuangkan air dari cawan air ke gelas di atas meja jauh dari tempat di mana ia duduk dengan kekuatannya, sambil membantu Boboiboy duduk bersandar pada bantal di tempat tidur.

Boboiboy dapat melihat semua itu dengan jelas dari tempatnya berbaring. Begitu magis, begitu ajaib. Perlahan dalam pikiran gadis tersebut, ia mulai merasakan bahwa dirinya disambut oleh dunia baru yang tak pernah ia kenal sebelumnya. Dunia yang hanya pernah didengarnya melalui dongeng-dongeng buku cerita dan mulut orang-orang serta para pendongeng dan penyair yang memiliki impian serta imajinasi tinggi.

Hal-hal yang ia percayai ketika masih kecil...

Dengan bantuan Elizabeth, Boboiboy duduk dengan tenang sambil meminum segelas air penuh hati-hati. Elizabeth tersenyum hangat melihat kondisi Boboiboy membaik. Tinggi harapan sang vampir agar gadis tersebut dapat mempercayainya meski hanya sedikit.

"Boboiboy... aku tahu, kau akan sulit mepercayai hal-hal yang kau dengar sebelumnya... tapi, kumohon... berikan aku kesempatan sekali lagi... setidaknya kau hanya perlu mendengar... tak perlu mempercayaiku..." wajah sedih sang nyonya membuat Boboiboy tak sampai hati menolaknya. Ia hanya mengangguk kecil, membiarkan Elizabeth memeluk tubuhnya sambil menyandarkan kepalanya pada rambut Boboiboy. Bagai seorang ibu yang sedang menenangkan anaknya sebelum tidur.

"Dunia ini... begitu luas... Begitu banyak manusia dan makhluk lain yang tinggal tanpa mengenal satu sama lain, seperti kita... kita tinggal dibatasi dengan kondisi, tempat, dan segala kepercayaan yang kita miliki. Banyak perbedaan yang tak pernah kita sadari keindahannya..." alunan nada bicara Elizabeth yang lembut membuat Boboiboy menjadi lebih tenang mendengarkan.

"Kau adalah gadis yang lahir dari ras manusia sejati... Kau gadis paling luar biasa yang kukenal, sejak anakku pulang ke rumah dan menceritakan ada seorang anak manusia menyelamatkan dirinya dari jalanan raya. Lima tahun lalu di mana Fang penasaran dengan dunia asing yang ingin sekali diketahuinya, dunia di mana kau tinggal. Pertama kali Fang keluar menjelajahi dunia manusia dengan wujud serigalanya yang masih begitu mungil..."

Boboiboy mulai mengingat peristiwa lima tahun lalu, di mana ia nyaris tertabrak truk ketika menyelamatkan seekor anak anjing. Di mana ia mulai merasakan ada keajaiban yang mengelilinginya sejak ia melihat seekor serigala besar yang diketahuinya sebagai induk dari anak anjing yang dipeluknya.

"Fang pulang dan bercerita penuh semangat bagaimana kau menyelamatkannya... sejak saat itu, Fang memutuskan untuk menjaga dan mengawasimu dari jauh... Aku dan Hao, suamiku, tentu saja penasaran dengan seorang anak perempuan manusia yang telah membuat anak kami jatuh cinta pada pertemuan pertama kalian... anak manusia yang dengan gagah berani menyelamatkan seekor serigala mungil di tengah jalan... Maka kami mulai mengawasimu..."

Boboiboy kini ingat jelas, segala keajaiban yang ia alami ketika kecil.

Sejak pertemuannya dengan anak anjing kecil yang ia selamatkan, banyak keanehan yang muncul. Terutama di malam hari.

Ia selalu mendengar adanya gemerisik daun sebelum tidur. Boboiboy kecil melongokkan kepala mengintip melalui jendela kamarnya. Seekor serigala tengah duduk santai di antara rerumputan maupun semak di halaman rumahnya. Meski berbulu hitam dan mata menyala, sama sekali tak ada rasa takut dalam hati Boboiboy kecil. Serigala tersebut bagaikan penggambaran malam hari berwujud hewan yang anggun. Bagai hitam gelap malam dengan bintang kejora yang menyala sebagai matanya. Begitu indah dan tenang penuh kekaguman. Terkadang Boboiboy mendapati serigala yang sama sedang duduk di sebuah dahan besar di pepohonan ataupun di atap rumah.

Sejak kedua orang tua Boboiboy meninggal dalam kecelakaan, tak ada lagi alunan nada pengantar tidur bagi sang anak. Kesedihan mendalam membuat Boboiboy kerap terjaga setiap malam sejak ia tinggal diasuh kakeknya. Setiap Boboiboy hendak tidur di kamarnya yang gelap namun ia tak bisa membuat matanya terpejam, ada bisikan dan melodi kecil terdengar begitu lembut. Bagai melodi para ibu yang menidurkan anaknya. Entah dari mana datangnya alunan surgawi tersebut.

Kini mendengar Elizabeth bercerita padanya, Boboiboy mulai menyadari bahwa suara dari sang nyonya vampir tersebut sama dengan bisikan dan alunan yang ia dengar ketika masih kecil dahulu.

"Rasa cinta Fang padamu semakin membesar seiring bertambahnya umur kalian... Besar harapan anak itu untuk bisa bertemu muka dan berbicara denganmu... Setiap malam, ia sempatkan untuk menengokmu sebelum berangkat ke sekolahnya. Tak kuduga, suamiku dan diriku sendiri pun merasa bahwa rasa sayang kami padamu turut membesar... Hao selalu mengawasimu dari jauh dengan wujud serigalanya setiap malam, menjagamu seperti anaknya sendiri... Sama denganku yang tak sanggup melihatmu bersedih setelah kehilangan kedua orang tuamu... Aku tak bisa menahan diriku untuk mengalunkan lagu agar kau bisa menutup matamu dengan tenang hingga pagi menjelang... Kami sudah menganggapmu sebagai anak kami sendiri..."

Boboiboy merasakan ada yang mengalir membasahi pipinya. Bukan dari matanya, tapi air tersebut keluar dari mata biru kobalt milik Elizabeth.

Tanpa terasa, demam dan rasa sakit di tubuh Boboiboy perlahan menghilang. Kisah yang diceritakan penuh kelemah lembutan oleh sang vampir justru menumbuhkan kepercayaan dalam diri Boboiboy.

Elizabeth melepaskan pelukannya untuk menghapus air mata yang mengalir di pipi pucatnya. Boboiboy terdiam memandang wanita tersebut dengan hati gelisah. Tak sampai hati ia melihat penolongnya bersedih. Dengan ujung selimut yang digenggamnya, Boboiboy menghapus air mata sang vampir. Elizabeth terpukau dan memasang senyum tercantiknya sambil menggenggam tangan Boboiboy. Tak bisa menahan diri, vampir yang dipenuhi rasa keibuan tersebut kembali memeluk erat Boboiboy.

"Banyak sekali hal yang ingin kukenalkan padamu... tapi mari kita jalani bersama perlahan-lahan... Apa kau mau mendengarkan lebih mengenai dunia yang kau baru saja kenal ini, sayang?" Elizabeth menempelkan dahinya pada Boboiboy. Gadis itu tersenyum kecil mengangguk.

Ia merasa segala keajaiban yang dialaminya ketika kecil kini bagai pintu besar dengan lukisan indah di depannya menghias. Dan kini ia telah memegang kuncinya untuk membuka dan menjelajahinya lebih dalam.

TBC...