.

"Tidak apa-apa aku mengambil waktumu?"

Mereka sedang berada di pantry sekolah. Memang bukan tempat yang wajar untuk seorang guru dan wali murid berdiskusi tentang murid atau anak mereka yang bermasalah. Tapi Namjoon butuh kopi paginya, dan Seokjin sendiri menyetujui dengan senyuman.

Jadi Namjoon masih disibukkan membuat dua cangkir kopi saat Seokjin yang duduk di kursi dekat meja besar sana mulai membuka obrolan.

"Tidak masalah, kelasku ada di jam kedua nanti. Jadi kita punya waktu bicara sampai jam setengah sepuluh. Tambah gula?"

Sedikit menengok ke belakang untuk melihat respon Seokjin berupa anggukan disertai senyum kecil yang sepertinya permanen melekat di wajah manisnya. Ah, Namjoon jadi kasihan pada gula dalam toples yang pasti sedang merasa tersaingi.

"Apa kau mengajar di kelas salah satu adikku hari ini?" Tanyanya lagi, kali ini dengan keantusiasan yang meningkat dalam intonasi bicaranya.

Namjoon mengaduk perlahan cairan pekat di salah satu cangkir, menyibukkan diri agar tidak tergoda menengok ke belakang lagi atau ia akan semakin panas dingin. "Taehyung dan Jimin tepatnya."

"Bagaimana mereka menurutmu?"

Balasan yang Namjoon dapat terjadi dalam beberapa detik selanjutnya, seperti Seokjin sudah bersiap mengajukan pertanyaan lain tanpa menunggu jawabannya.

"Taehyung dan Jimin?" Gumaman kecil Namjoon.

Ia menarik nafas dalam-dalam sebelum mengeluarkannya perlahan, itu ia lakukan sebagai persiapan kembali menghadapi Kim Seokjin secara langsung. Serta mempersiapkan senyum terbaik yang semalam sempat ia latih di depan cermin kamar mandi.

"Yap. Dan Jungkook. Oh, terimakasih kopinya." Ucapan terimakasih dari Seokjin saat secangkir kopi Namjoon sajikan di atas meja di hadapannya. "Apa kau juga menganggap mereka sebagai pembuat onar?" Lanjutnya.

Namjoon dibuat gemetaran lagi, kali ini karena ekspresi bertanya yang Seokjin gunakan. Ia pun mendudukkan diri pada kursi di samping Seokjin bersama kopi miliknya. Memang wajarnya posisi mereka mengobrol adalah saling berhadapan. Tolong salahkan saja sang Kim tertua dan pesonanya yang membuat Namjoon melanggar kewajaran.

Omong-omong tentang jawabannya, jika Namjoon masih tipikal guru yang seperti dua hari lalu, ia akan jawab 'ya' tanpa ragu. Dilanjutkan dengan gerutuan soal bagaimana ketiganya menyia-nyiakan masa muda mereka, kelakuan yang merepotkan teman-teman serta guru-guru, dan berbagai komentar negatif lainnya.

Tapi jawaban Namjoon yang hari ini adalah, "Mereka punya cara tersendiri untuk menarik perhatian, jadi yang mereka butuhkan hanya seseorang yang benar-benar peduli. Justru kurasa mereka cukup cerdas. Meskipun begitu bukan bearti aku membenarkan sikap mereka."

Suatu saat nanti, Namjoon akan menghadiahkan Seokjin sebuah cerita dimana ia adalah seseorang yang menyadarkan Namjoon untuk akhirnya bisa memberi jawaban tadi.

"Terimakasih. Mereka beruntung memiliki guru sepertimu."

Namjoon ingin sekali membantah lalu mengatakan hal kebalikannya, bahwa mereka lah yang membawa keberuntungan datang padanya. Tapi lagi-lagi ia menyimpannya untuk di ceritakan suatu saat nanti.

Keheningan menyapa mereka di menit selanjutnya. Saat Seokjin sedikit terburu-buru menyesap cairan kopi dari gelasnya, saat itu juga Namjoon sadar kalau sejak tadi ia menatap Seokjin tanpa berkedip. Namjoon ikut menyesap kopinya. Menyembunyikan senyum karena sempat melihat pipi putih Seokjin yang berangsur-angsur merekah merah.

"Ah ya, ini." Seokjin kembali memecah keheningan, ia mengeluarkan sesuatu dari tas ranselnya.

"Apa ini?"

Sebuah kotak di dalam tas kecil yang manis. Segalanya tentang Seokjin memang selalu manis di mata Namjoon. Jatuh cinta mengirimnya balik ke masa remaja yang dulu tidak terlalu indah.

Namjoon menggeser gelasnya menjauh untuk bisa ia tarik mendekat bungkusan yang Seokjin berikan.

"Semalam Jimin mengirimiku pesan untuk membuatkanmu bekal sebagai tanda terimakasihnya."

Penjelasan dari Seokjin telak membungkam Namjoon. Secara tidak langsung dibuat merenungkan lagi alasan utamanya dua hari lalu ketika memutuskan untuk memberi sedikit perhatian pada ketiga Kim yang di kenal sebagai pembuat onar. Namjoon akui, jika itu bukan tentang Seokjin yang adalah kakak tertua mereka, mungkin Namjoon masih akan tetap pada prinsip ketidakpeduliannya dan mungkin selama hidup akan terus menggerutui pilihannya menjadi guru.

Mau bagaimana lagi, Namjoon memang bukan guru yang baik sejak awal. Jadi pertemuannya dengan keluarga Kim masih belum mampu membuatnya bangga terhadap pilihannya sebagai guru. Namjoon tetaplah guru yang buruk, hanya saja ia sedikit lebih bahagia sekarang.

"Ck, anak itu.." Sang guru matematika dibuat kehilangan kata-kata. Kehangatan yang akhir-akhir ini begitu familiar kembali ia rasakan. Pagi ini sudah menjadi yang kedua. Pertama saat ketiga Kim yang biasanya kurang ajar meneriakan ucapan terimakasih disertai honorific yang seharusnya.

Tadi itu rasanya jauh lebih baik dibanding ketika ia menerima gelar sarjana pendidikan dulu. Karena sepertinya, pengakuan otentik Namjoon sebagai guru baru saja di mulai pagi tadi.

"Sekali lagi terimakasih banyak telah peduli dengan mereka, Namjoon-ssi."

Hingga detik ini Namjoon masih belum terbiasa melihat senyum Seokjin tanpa degupan keras jantungnya. Terlebih ia dapat merasakan ketulusan disana, bahwa sang Kim tertua benar-benar sedang berterimakasih. Meski menurut Namjoon belum banyak hal yang ia lakukan untuk Kim bersaudara ini.

Namjoon baru akan membuka mulutnya sekedar menanggapi ucapan terimakasih barusan, namun dering ponsel milik Seokjin membuatnya menahan suara. Seokjin meraih ponsel yang sedari tad ia letakkan di atas meja, memperhatikan layarnya beberapa saat, lalu menatap Namjoon lagi, meminta izin menjauh untuk mengangkat panggilan yang masuk. Tentu Namjoon mengizinkan, ia belum jadi siapa-siapanya Seokjin yang punya hak untuk melarang kan?

Sementara Seokjin bicara dengan telepon di dekat pintu sana, Namjoon menyeruput kopi dalam gelasnya. Berusaha menetralisir rasa negatif yang mendadak muncul karena pertanyaan yang ia ajukan pada dirinya sendiri tadi. Ya, fakta dimana ia tidak punya hak apapun untuk mengatur Seokjin. Belum, lebih tepatnya. Dan Namjoon tersenyum tanpa sadar oleh pemikiran terakhirnya.

Tidak sampai lima menit Seokjin kembali menghampirinya, raut wajahnya berubah. Panik dan terburu-buru meraih kunci mobil yang juga ia letakkan di meja. "Ada apa?"

"Ah maaf, Namjoon-ssi, sepertinya obrolan kita sampai disini dulu. Senang bisa bicara denganmu."

Lagi, siapa Namjoon jika ingin menahan Seokjin lebih lama bersamanya? Bahkan sekedar menayakan alasan Seokjin terburu-buru seperti ini saja Namjoon tak mampu. Hanya bisa menatap sang Kim tertua yang tersenyum untuk terakhir kali sebelum membuka pintu pantry dan melangkah keluar.

Begitu saja akhir pertemuannya dengan sosok yang akhir-akhir ini sering mampir ke mimpi-mimpinya tiap malam. Ah, sial. Dalam hati Namjoon berjanji akan langsung mengajak Seokjin berkencan di pertemuan selanjutnya. Walaupun masih berstatus tunangan orang sekalipun.

.

.

.

.

Kelas pertamanya berjalan lancar. Hanya sedikit keanehan yang datang dari Jimin. Anak itu memperhatikan seluruh penjelasan Namjoon sepanjang kelas, bahkan sempat mengajukan pertanyaan di bagian yang ia masih belum mengerti. Jimin yang Namjoon ingat adalah yang terbiasa datang terlambat, lalu tidur sampai bel pelajaran berganti. Jadi walaupun senang, Jimin versi hari ini masih terasa aneh baginya.

Namjoon menutup pintu kelas lalu mulai berjalan menyusuri koridor menuju kelas selanjutnya.

"Saem!" Sebuah panggilan menghentikan langkahnya. Namjoon tak perlu berbalik untuk bisa tahu siapa si pemilik suara. Saat suara langkah kaki Jimin berhenti, barulah Namjoon memutar badan menghadapnya.

"Ada apa?" Tanyanya, entah kenapa berusaha bersikap dingin. Mungkin Namjoon ingin menjaga wibawanya sebagai seorang guru yang ia tahu hanya tersisa setengahnya jika di hadapan Jimin.

"Bagaimana Jin hyung?"

Yah, memang pertanyaan Jimin tidak akan jauh jauh dari sana sih.

"Dia hanya berterimakasih karena aku sudah membantu kalian."

"Hanya itu?" Respon dari Jimin membuat Namjoon mengernyit, memang apa lagi yang di harapkan dari pertemuan tadi?

"Ya, kau pikir apa lagi?"

Selanjutnya raut kekecewaan lah yang Jimin tunjukkan. "Bukan apa-apa."

Serius, Namjoon dibuat penasaran tentang apa sebenarnya yang Jimin harapkan dari pertemuan tadi. Firasatnya mengatakan hal itu tidak jauh dari harapan Namjoon sendiri mengingat Jimin secara tidak langsung telah memberikan persetujuan untuk Namjoon mendekati kakaknya.

"Baiklah, saya pamit. Terimakasih, saem." Dengan begitu Jimin mengambil langkah kembali ke kelasnya bersama aura suram yang masih melingkupinya.

Namjoon baru menyadari Jimin yang entah sejak kapan kembali menggunakan bahasa formal padanya. Ia dibuat menghela nafas, merasa dipermainkan sedemikian rupa oleh makhluk-makhluk tampan bermarga sama dengannya.

"Jimin!" Tanpa sadar ia sudah meneriakkan nama itu. Menggema di dalam lorong sekolah yang cukup sepi. Sang siswa menoleh, menunggu Namjoon melanjutkan kalimatnya. "Jangan lupa kerjakan pekerjaan rumahmu dan.." Namjoon berhenti untuk sekedar tersenyum. Bukan seringai menyebalkan yang dulu selalu membuat Jimin ingin meninjunya, yang kali ini lebih membuat Jimin semakin mengakuinya sebagai seorang guru. "Terimakasih untuk bekal makan siangnya."

.

.

Perjalanan menuju kelas selanjutnya jadi sedikit ringan. Senyum yang tak lepas dari sang guru matematika membuat heran beberapa murid yang berpapasan dengannya karena mereka terbiasa oleh aura dingin yang Namjoon keluarkan. Sesampainya di kelas, kegaduhan menyambutnya. Siapapun tahu bahwa murid-murid tahun kedua adalah yang paling parah. Hoseok sebagai guru teladan saja sering dibuat sakit kepala oleh mereka.

"YA! BISAKAH KALIAN DIAM?!"

Suasana mendadak sunyi. Para murid kembali ke tempat duduknya masing-masing dan fokus pada Namjoon yang berdiri di depan. Omong-omong, barusan bukan teriakan Namjoon, ia baru sekedar membuka mulut untuk melakukan itu. Lalu seseorang yang duduk di deretan belakang pojok kiri mendahuluinya, Kim Taehyung.

"Terimakasih, Taehyung-ah. Mari kita mulai pelajarannya."

Jujur saja, Namjoon juga di buat shock oleh teriakan Taehyung tadi. Ia merubah pikirannya tentang siapa Kim yang paling menakutkan, awalnya ia pilih Jimin, tapi sepertinya Taehyung ini memiliki emosi paling tidak stabil.

Setelahnya, kelas berjalan kondusif. Beberapa murid aktif bertanya tentang rumus-rumus matrix yang membingungkan. Namjoon tentu dengan kesabaran penuh menjelaskan lagi setiap detailnya. Namun, di dalam suasana kelas yang baik, Taehyung tetap menjadi titik perhatian sendiri bagi Namjoon. Anak itu terlihat sama sekali tidak memperhatikan Namjoon, ia justru fokus menatap ke luar sana lewat jendela. Mengingatkan Namjoon pada saat mengamati Jungkook kemarin.

"Kim Taehyung." Namjoon menahan tawa ketika sang pemilik nama sedikit terlonjak kaget di tempatnya. Perhatian Taehyung kini teralih, menatap Namjoon keherenan. "Bisa bantu saya mengerjakan soal di papan tulis?"

Ia terlihat beberapa kali mengedip, memproses suatu tindakan untuk pertanyaan barusan. Jika seperti ini, Taehyung jadi terlihat lebih muda dari usianya. Ck benar-benar, para berandalan Kim ini sebenarnya mempunyai sisi imutnya masing-masing.

"Baiklah."

Satu lagi hal mengejutkan Taehyung berikan ketika ia selesai mengerjakan soal-soal di papan tulis. Ya, bukan hanya satu, tapi kelima soal yang ada ia selesaikan lengkap dengan rumus masing-masing. Kelas benar-benar sunyi, menatap Taehyung seolah ia keturunan dewa yang baru saja turun dari langit dan di tugaskan menyelamatkan murid lainnya yang akan mendapat giliran maju mengerjakan soal.

Namjoon juga kehilangan kata-kata untuk beberapa saat. Mendapat terlalu banyak kejutan dari para keturunan Kim.

"Boleh saya kembali duduk, saem?"

Pertanyaan yang mendapat anggukan kepala dari Namjoon, entah dalam keadaan sadar atau tidak. Sepeninggal Taehyung, Namjoon berdiri di hadapan papan tulis. Sekedar memeriksa lagi dari dekat hasil pekerjaan anak didiknya dan ya, sempurna. Taehyung mengikuti dengan baik seluruh penjelasannya tadi. Disini Namjoon belajar untuk tak lagi menilai murid-muridnya hanya dari tampak luarnya saja. Lihat, satu pelajaran hidup lain sang Kim berikan pada Namjoon.

"Kita lanjutkan."

Saat pikiran bahwa kelasnya akan kembali berjalan normal, saat itulah sebuah dering ponsel menggagalkannya. Namjoon membuang kasar udaranya, berusaha menenangkan diri agar emosi negatifnya tidak terpancing. Lalu berbalik untuk menatap deretan muridnya untuk mencari tahu sang sumber masalah.

"Kim Taehyung, simpan ponselmu. Dilarang menggunakannya saat pelajaran."

Rasanya belum ada lima belas menit lalu Namjoon memuji anak itu, sekarang sudah membuat masalah lagi. Mungkin kepribadian anak muda zaman sekarang memang labil luar biasa. "Kim Taehyung!" Tingkah Taehyung semakin mengganggu jalannya kelas. Bukannya mematikan ponsel, kini ia justru terlibat percakapan melalui telepon yang menarik seluruh perhatian teman sekelasnya.

Dari posisinya sekarang, Namjoon tidak dapat mendengar apa yang anak itu bicarakan. Tapi ia tahu harus segera mengambil langkah demi keadaan kelas yang kembali kondusif.

"KIM TAEHYUNG!"

Bersamaan dengan bentakan Namjoon, sang Kim nomor tiga menutup sambungan teleponnya. Memasukkan asal ponsel ke dalam saku blazer seragamnya, lalu terburu-buru membereskan buku-buku di atas meja dan memasukkannya ke dalam ransel. Namjoon memperhatikan tiap gerak geriknya dalam diam, terlanjur emosi, ia berusaha mengontrol diri agar tidak semakin meledak.

Seakan kejutan-kejutan sebelumnya belum cukup, Taehyung memberikan satu lagi untuk guru matematikanya. Saat ia melangkah mendekati Namjoon bersama rasa panik yang jelas menguar dari tiap sel dirinya. Berbisik tajam, "Hyung, kumohon bantu kami." tepat di hadapan Namjoon yang berhasil ia buat kehilangan akal sehat selama hampir satu jam mengajar.

Contoh hilangnya akal sehat Kim Namjoon adalah meninggalkan kelas dengan resiko keluarnya surat peringatan demi membantu trio perusuh nomor satu di sekolah.

.

.

.

.

Ia berpikir bahwa hal-hal seperti ini hanya ada dalam film saja. Maksudnya, mengemudi dengan kecepatan di atas rata-rata untuk mengejar penjahat yang para bocah Kim menyebutnya 'si brengsek Shin'.

"Hyung, lebih cepat!" Jungkook, yang termuda memerintahnya. Namjoon perkirakan ia akan benar-benar mengambil alih kemudi jika sang guru tidak menambah laju kecepatannya. Hell, ini nyaris 60km/jam!

"Okay, boys. Sekarang waktunya kalian menjelaskan apa yang sedang terjadi."

Karena sejak awal Namjoon di seret ke dalam situasi kebut-kebutan ini, ia tak mendapat penjelasan apapun. Hanya tahu bahwa mereka harus secepat mungkin tiba di bandara dan 'tersangkanya' adalah si brengsek Shin tadi. Ya, anggap Namjoon sudah sungguhan kehilangan akal sehatnya hingga tanpa alasan yang jelas pun ia mau menuruti sang Kim bersaudara.

"Jimin, jelaskan padaku." Kali ini Namjoon yang memerintah, sekilas melirik tajam Kim tertua yang duduk di kursi samping kemudi. Kecepatan berusaha ia jaga tetap di atas rata-rata menghindari rentetan protes dari Jungkook dan Taehyung di kursi belakang sana.

"Dia membawa Jin hyung." Kentalnya amarah dapat Namjoon rasakan dari intonasi yang Jimin gunakan. Perlahan tapi pasti menular pada Namjoon sendiri. Nama Seokjin yang di bawa adalah penyebabnya.

"Lalu? Mereka bertunangan, wajar jika pergi bersama kan?" Sungguh, Namjoon yang mengucapkan itu adalah Namjoon yang tegar.

"Hyung, apa kau belum mengerti juga dengan penjelasan kami kemarin?! Shin itu benar-benar jahat! Dia bahkan berencana membunuh Jin hyung agar seluruh perusahaan kami jatuh padanya." Di belakang sana Taehyung berteriak dengan emosi yang tidak mau kalah dari sang kakak.

Jangan tanya reaksi Namjoon, lihat saja kepalan tangannya di stir kemudi yang siap melayang pada apapun, langsung pada si brengsek Shin lebih bagus. Dosa apa Seokjin dan keluarga kecilnya yang tersisa hingga harus berurusan dengan penjahat bermuka dua seperti dia.

"Beberapa hari ini dia sedang merencanakan sesuatu. Karena itu aku menemuinya, tapi Shin terlalu pengecut, ia justru mengirimkan anak buahnya." Jimin di sampingnya merengut. Kekesalan serta keputusasaan seolah menjadi satu baginya.

Meski begitu, Namjoon yakin sekian ratus persen bahwa Jimin dan adik-adiknga tak akan menyerah begitu saja demi kakak mereka.

"Itu kau saja yang bodoh, Jimin. Terbawa emosi dan tidak pakai rencana." Serius, ini cara Namjoon menghibur. Karena ia tahu anak seperti Jimin bukan tipe yang ingin mendengar motivasi-motivasi penuh pelangi. Ia butuh kritik tajam agar membuatnya lebih baik.

Mengabaikan teriakan protes dari penumpangnya, Namjoon putuskan menginjak rem dan berhenti, setelah tadi pikiran untuk menerobos lampu merah sempat terlintas. Ia tidak ingin ambil resiko satu penjara bersama Shin nanti. "Lalu, bagaimana kalian tahu saat ini ia memiliki niat Jahat pada Seokjin?"

"Sejak semalam aku sudah meminta beberapa kenalan orangtua kami untuk mencari tahu rencananya." Taehyung memulai, suara yang ia keluarkan lebih kecil dari yang tadi. Entah apa artinya.

"Dan kau tahu, hyung? Ia sungguh ingin melukai Jin hyung agar tidak bisa hadir di rapat direksi akhir minggu ini." Jungkook yang paling pendiam pun ikut melapor pada Namjoon yang memperhatikan mereka lewat kaca spion. "Di rapat itu akan resmi di tetapkan direktur perusahaan yang baru."

"Makanya semalam aku melarang keras Jin hyung bertemu dengannya. Tapi ternyata pagi ini aku kecolongan. Sialan."

"Harusnya tadi pagi kau menahannya lebih lama, hyung. Payah."

Lampu sudah kembali hijau, tanpa ragu Namjoon langsung menginjak dalam pedal gas untuk menaikan kecepatan. Mendapat klaksonan protes dari pengguna jalan lainnya. Sebenarnya itu karena ia terkejut dengan percakapan Jimin dan Taehyung barusan. Sempat mengira bahwa ia tadi salah dengar.

"Hey hey, jika kalian seperti ini aku akan salah paham menganggap kalian telah mengizinkanku berkencan dengan Seokjin."

"Memang, dasar Namjoon hyung bodoh." Jawaban menjurus kasar dari yang paling muda membantah perkiraan Namjoon.

"Izin sudah resmi berlaku sejak kami memanggilmu Seonsaengnim tadi pagi." Oh, yang barusan terdengar sejuk sekali dari Jimin.

"Jadi ayo selamatkan calon pacarmu, Seonsaengnim!"

Menanggapi teriakan antusias Taehyung, Namjoon kian melajukan kecepatan mobilnya. "Baiklah, kencangkan sabuk pengaman kalian."

Sepanjang perjalanan yang cukup menegangkan ini, Kim Namjoon tidak bisa berhenti tersenyum bersama tekad untuk membawa Seokjin kembali pada adik-adiknya yang manis.

.

.

.

"JIN HYUNG!"

Pekikan keras Jungkook terasa seperti suara dari malaikat surga setelah setengah jam lebih mereka mengelilingi bandara untuk mencari Seokjin. Salahkan mata-matanya tiga Kim ini yang tidak bisa menemukan kemana tepatnya Shin akan membawa Seokjin.

Sosok yang merasa namanya di teriakan bangkit berdiri dari duduknya, tampak terkejut melihat adik-adiknya yang masih mengenakan seragam sekolah berlari terburu-buru menghampirinya, di tambah sosok guru tampan yang baru tadi pagi mengobrol dengannya. "Hey, apa yang kalian lakukan disini?"

Bukan jawaban yang di dapat, justru terjangan pelukan dari ketiga adik remajanya. Bahkan Jungkook yang sampai pertama untuk memeluknya, kini menangis, Seokjin bisa merasakan kemejanya yang mulai basah. Lalu Taehyung yang meremas kuat bagian belakang kemejanya hingga kusut, seolah menolak melepaskan Seokjin lagi. Dan Jimin, sang adik tertua hanya memeluknya dalam diam. Walaupun masih belum mengerti situasi yang sedang terjadi, Seokjin tetap berusaha mengusap satu-satu punggung adiknya, seperti biasa memberi ketiganya ketenangan. "Sudah, sudah. Jangan menangis. Hyung disini."

Di sisi lain, Namjoon sebagai orang luar memilih menjaga jarak sementara. Memberi waktu bagi ketiga bocah Kim melepas ketakutan mereka akan kehilangan sang kakak tertua, sembari memperhatikan keramaian sekitar yang beberapa dari mereka menjadikan reuni kecil ini sebagai pusat perhatian. Namun, tujuan utama Namjoon bukanlah perhatian orang-orang, melainkan si pemeran antogonis di drama dalam keluarga Kim.

Ah, disana. Namjoon melihatnya sedang berlari kecil ke arah mereka, lengkap dengan setelan jas hitam mewahnya yang membuat Namjoon muak. Tampan sih.. tapi belum cukup pantas mendampingi Seokjin apalagi dengan segala sifat brengseknya.

"Jin, apa yang terjadi?! Mengapa mereka ada disini? Ahhn!"

Ups

Maafkan kepalan tangan Namjoon yang sudah terlalu gatal menunggu untuk di layangkan pada wajah Shin. "Tolong jauhi mereka mulai sekarang." sebuah geraman, pertanda Namjoon yang mati-matian menahan emosi.

Terdengar jeritan kecil Seokjin yang terkejut oleh apa yang barusan Namjoon lakukan. Hal itu juga membuat tiga bocah Kim melepas pelukannya, tapi menggenggam erat lengan sang kakak saat hendak menghampiri Shin yang terkapar. Mengundang lebih banyak perhatian pengguna bandara.

"Siapa kau, sialan?!"

"Aku.." calon tunangan Kim Seokjin yang baru. "Guru matematikanya Jimin, Taehyung, dan Jungkook." Tolong terbangkan Namjoon dengan pesawat apapun dan kemanapun, ke tengah gurun Afrika kalau perlu.

Shin tertawa dengan segala kebrengsekannya, membuang ludah beserta sedikit darah hasil melayangnya kepalan tangan Namjoon tadi. Perlahan tapi pasti ia kembali berdiri, tepat di hadapan Namjoon yang menghalangi aksesnya pada keluarga Kim di belakang sana.

"Hah! Guru matematika? Mau apa? Melaporkan nilai-nilai buruk mereka? Atau mau menyampaikan kalau sekolah sudah mengeluarkan mereka? Ya ya, mereka memang anak-anak nakal dan bodoh."

Buukkk!

Satu lagi tinju Namjoon yang melayang, kali ini lebih lemah, sehingga Shin mampu menahannya tanpa harus tersungkur lagi. Andai ada gunting disini, Namjoon ingin sekali merobek mulut busuknya itu. "Well, mereka masih jauh lebih baik di banding sampah seperti dirimu."

Seenaknya berbicara buruk tentang murid-muridnya. Hal seperti itu mungkin ada dalam pemikiran Namjoon dulu, tapi akhir-akhir ini, ia memahami bahwa para bocah Kim memiliki kecerdasan tersendiri dan sangat tidak pantas mendapat penghinaan apapun.

"JOO MYUNG SHIN!"

Satu pekikan lain menyusul, bukan dari Namjoon yang sedang perang tatapan dengan Shin, melainkan Seokjin di belakang sana yang mulai berontak minta di lepaskan. Wajah manisnya memerah dan Namjoon bisa mendengar bentakannya pada ketiga Kim yang lebih muda agar melepaskan dirinya. Namjoon juga melihat seringai Shin yang mengira bahwa Seokjin tetap berada di pihaknya.

Ironis sekali jika itu benar.

"Lepaskan aku!" Bentakan terakhir dari Seokjin membuat adik-adiknya menyerah. Menatap kecewa sang kakak yang melangkah menjauhi mereka. Lalu saat Seokjin melewati Namjoon, saat itulah Namjoon tahu perkiraan Shin salah total.

Plak

Tamparan dari Seokjin, tepat di tempat tadi Namjoon meninjunya dua kali. Namjoon dan tiga bocah Kim yang hanya menyaksikan ikut meringis nyeri. Ada alasan tersendiri mengapa Kim Seokjin menjadi orang yang paling di takuti ketiga berandalan sekolah.

"Aku sendiri yang akan membunuhmu jika kau menghina adik-adikku lagi." Geramnya. Aura kelam menguar dari tubuh Seokjin. "Aku mencoba percaya padamu selama ini. Tapi kau tetap tidak berubah dan berbuat jahat pada mereka."

"Hyung, paman Lee bilang ia berencana menculikmu agar kau tidak bisa hadir di pertemuan besok." Jimin memanasi dengan fakta dari belakang.

Seokjin menoleh, beberapa saat menatap Jimin mencoba mencari kejujuran yang dapat ia temukan dengan mudah. Dalam pelukan tadi juga Seokjin menyadari memar dan luka yang menghiasi wajah Jimin, lalu Jimin memberitahu alasannya, yang lagi-lagi ia yakini bukanlah sebuah kebohongan.

"Benar begitu, Shin?!"

"Sayang, kau mempercayai ucapan adik nakalmu itu? Aku hanya akan mengajakmu bertemu klien kita."

Terdengar decihan Namjoon disana. Geli sekaligus sakit hati dengan cara si brengsek memanggil Seokjin-nya.

"Baiklah, jelaskan hal itu pada para polisi." Seringai Seokjin mengiringi derap langkah para polisi yang datang dari arah belakang Shin. Terlihat juga paman Lee yang merupakan orang kepercayaan sekaligus pengacara dari keluarga Kim.

Namjoon merinding, bukan karena adegan penangkapan yang biasanya hanya ia lihat di dalam film action. Tapi Seokjin yang menyeringai adalah sebuah tindakan paling ilegal untuk hatinya.

"Kau di tangkap atas penipuan, kasus peniayaan anak di bawah umur, serta usaha penculikan. Silahkan ikut kami ke kantor."

.

Kekacauan berangsur mereda setelah Shin dengan tangan terborgol pasrah diseret polisi, keadaan bandara juga kembali normal. Paman Lee memutuskan untuk ikut sebagai saksi, Seokjin dan ketiga adiknya juga akan menyusul. Tapi untuk saat ini paman Lee menyuruh mereka menenangkan diri dan beristirahat di rumah. Dan.. menyuruh Namjoon mengantarkan mereka pulang, lalu berterimakasih dengan tulus atas bantuan dari sang guru.

Namjoon baru selesai mengambil koper Seokjin yang sudah terlanjur di kemas pihak bandar untuk ikut penerbangan, saat kembali ke ruang tunggu, ia melihat keempatnya berdiri berjajar seperti sedang menyambutnya.

"Aigoo, guru matematika kami~" senyum kotak Taehyung menyambutnya. Namjoon hanya bisa tersenyum malu-malu, sadar bahwa ucapannya pada Shin tadi di dengar oleh mereka.

"Serius, hyung, kau membuat perutku kram karena menahan tawa. Apa-apaan dengan caramu mengenalkan diri tadi." Jimin menimpali bersama tawa besarnya.

Namjoon menduga sang Kim nomor dua punya dendam tersendiri yang entah apa, mungkin karena memergokinya dicium oleh si ketua siswa.

Hah, Namjoon menundukan kepala, menghela nafas berat. Niatnya menjadi pahlawan malah menjadi bahan tawa oleh murid-muridnya. Tapi saat ia memberanikan diri menatap mereka lagi, pelukan bertubi-tubi ia dapatkan. Merasakan bagaimana berada di posisi Seokjin beberapa saat lalu. Di kelilingi para bocah Kim yang istimewa dan mendengar bisikan-bisikan manis mereka.

"Hyung, terimakasih banyak." -Jimin

"Terimakasih banyak sudah membantu kami, Namjoon hyung.. Ah bukan, Kim seonsaengnim." -Taehyung

"Kau tahu, hyung, kurasa kami mulai menyayangimu." -Jungkook

Meski terkenal sebagai guru killer, Namjoon itu sebenarnya orang yang sensitif. Kadang bisa lebih sensitif dari Hoseok yang berlebihan. Jadi ia rasa wajar jika sekarang menemukan dirinya menangis haru. Tapi, sekuat tenaga ia menahan aliran air matanya saat perlahan Seokjin juga mulai mendekat, sementara tiga Kim lainnya masih belum melepaskan pelukan mereka.

Seokjin berhenti tepat di hadapannya, di belakang Taehyung yang memeluknya dari depan. Tersenyum dengan cara teramat manis. Lalu semakin mendekat tanpa mengatakan apapun, sebuah kecupan menyapa pipi kiri Namjoon. Beserta bisikan lembut, "Terimakasih banyak, Namjoonie."

.

.

.

.

.

.

.


Teett teeettt teeettt

Bunyi bel berkali-kali mendominasi pagi Namjoon yang biasanya penuh ketenangan. Walaupun sebenarnya ini hampir jam sebelas siang, tapi bagi Namjoon batas pagi di hari minggunya adalah sampai jam dua siang.

"Ya sebentar sebentar!"

Namjoon berjalan sempoyongan keluar kamar, menuju pintu yang belnya terus berbunyi menjengkelkan. Masih mengenakan boxer hijau motif daun serta kaos singlet putih yang entah kapan terakhir kali ia cuci. Jika Hoseok yang di depan sana, Namjoon bersumpah akan menjodohkannya dengan Park Seonsaengnim, guru fisika yang sudah tiga kali menjanda.

Klik

"Hai, Namjoon hyuuuunnnggggg"

Sapaan kelewat semangat Namjoon terima setelah membuka pintu. Dalam keadaan setengah sadar dan mata yang nyaris tertutup, ia menganggukan kepala, membalas "Hai." Dengan suara serak baru bangun tidurnya.

"Kami disini untuk merayakan sesuatu!" Kedengarannya seperti suara Kim nomor dua yang kemarin menyelesaikan lima soal matrix dalam beberapa menit.

"Merayakan apa?"

"Pengangkatan Jin hyung sebagai direktur utama walaupun Jin hyung masih kuliah!" Yang ini.. Jimin? Dari suara menyebalkannya sih, benar.

"Dan Jin hyung akan memasak di rumahmu sebagai tempat perayaan. Yeaayy!" Ini sudah pasti si maknae Jungkook.

Tunggu

Jin hyung katanya?

"Hai, Namjoonie. Maafkan ide merepotkan mereka ya."

Namjoon membuka lebar-lebar matanya saat mendengar suara lembut barusan. Baru menyadari bahwa di hadapannya, keluarga Kim yang kemarin ia bantu kini berada di depan pintu rumahnya. Dan Kim Seokjin yang tersenyum mematikan sekaligus membangkitkan kembali urat-urat malu Namjoon.

"Hyung, boxermu lucu hihihi."

"Wajahmu tidak berbentuk, hyung."

"Ck, kalau begini caranya kami jadi ragu mengangkatmu menjadi tunangan Jin hyung yang baru."

Bagus, Namjoon ingin sekali membanting pintu dan kembali ke kamar untuk tidur selamanya.

Tapi lagi-lagi Kim Seokjin dan ucapannya sebagai penyelamat hidup Namjoon dari rasa malu.

"Biar bagaimanapun, Namjoonie tetap guru matematika paling tampan yang pernah kutemui."

Ya Tuhan, Namjoon benar-benar ingin menikahinya detik ini juga.

.

.

.

.

.

END

.

.

.

.


Fyuh panjangnya~ akhirnya selesai untuk The Kim ini. Maaf ga banyak romance NamJin-nya karna disini emang sengaja aku fokusin ke family dan brothership. Mungkin jika ada waktu lebih aku akan membuat semacam epilogue khusus NamJin. Sekali lagi, kalau ada waktu. Jadi tolong carikan waktu untukku hehe.

DAN TERIMAKASIH UNTUK STAR SHOW 360 YANG MEMBUAT VERSI NYATA DARI THE KIMS wkwk ga sama banget sih, tp setidaknya kalian jd tahu gambaran Kim Namjoon saem gimana, Hoseok saem yang ngajar bahasa, sweetnya VKook yang jd siswa meskipun disana mereka ga brandalan. Overall, inspirasi utama dalam pembuatan The Kims adalah dari photoshot BTS Festa kemarin, masih pada ingat kah?

Terimakasih banyak juga untuk segala support yang kalian berikan lewat review, itu sumber energi tersendiri buatku. Dan mari bertemu kembali di Second dan RMusic ^^