Mind Gate
Author: memoryRy
Translator and Editor: Me
Main Cast:
Kim Jaejoong
Jung Yunho
Support Cast:
Kim Junsu
Park Yoochun
Shim Changmin
Genre: Romance, Fantasy, Humor(?)
Warning: Genderswitch! for uke
Disclaimer: Cerita ini bukan punya saya, tapi punya memoryRy, salah satu author di asianfanfics . com (hilangkan spasi). Alhamdulilah saya sudah mendapat izin dari memoryRy untuk menerjemahkannya dan mengubah genrenya menjadi genderswitch. Sekali lagi cerita ini BUKAN PUNYA SAYA. Oke, sekian dan terimakasih.
Credit: memoryRy AFF
DON'T LIKE? DON'T READ THEN!
LIKE? ENJOY READING^^
.
.
CHAPTER 4
.
.
.
Jaejoong berbaring di kasurnya, satu minggu berlalu sejak dia terbangun di rumah sakit. Saat dia tahu sebagian energi mind gate sudah masuk ke dalam tubuhnya, dia selalu takut untuk memikirkan Yunho, takut itu akan mengganggu keseimbangan dimensi seperti yang dikatakan Oguri.
Tapi dia ingat saat Yunho bilang mereka akan bertemu lagi. Dan masalahnya adalah Jaejoong hanya bisa melihatnya di TV atau majalah seperti yang sebelum-sebelumnya. Dia sangat ingin menggunakan mind gate. Kemudian Jaejoong menutup matanya perlahan, membayangkan Yunho dan...
Puff!
"Huwaaaaaaaaaa!" tiba-tiba terdengar teriakan Yunho dan saat Jaejoong membuka matanya, dia melotot melihat Yunho jatuh tepat ke atas tubuhnya.
"Ouuuch!" keduanya mengerang. Yunho menatap yeoja yang membeku di bawahnya dan melebarkan senyumnya.
"Hai, Jaejoong..."
Wajah Jaejoong memerah sempurna. "Ini, ini berat..."
"Ah, mianhae..." Yunho segera bangun dari atas tubuh Jaejoong dan duduk di kasur. Dia memandang sekeliling dan Jaejoong duduk di sebelahnya sambil menatapnya intens.
"Jadi.. ini kamarmu?" tanya Yunho balik menatap Jaejoong.
"N-ne.."
"Jadi begini caranya kau datang ke kamarku waktu itu?"
Jaejoong mengangguk.
"Bagaimana kau melakukannya?"
"Aku, aku hanya memikirkanmu dan puff! Itu terjadi..." Jaejoong tidak bisa menjelaskan lebih lanjut karena gugup dengan Yunho yang menatapnya dalam.
"Apa kau memikirkanku sampai begitunya? Apa yang kau pikirkan?" tanya Yunho dengan senyumnya. Jaejoong yang mendadak merasa sulit bernafas hanya menundukkan kepalanya.
"Aku, aku tidak bermaksud..."
"Jangan jadi pengecut begitu Kim Jaejoong, hadapi aku sekarang."
Jaejoong mendongak dan bertemu dengan mata yang tengah menatapnya nakal. "Kau..."
"Ketika temanmu memintaku untuk menulis itu, aku terus berpikir, apakah benar yeoja cantik itu penggemarku? Apa dia sungguh menyukaiku? Dan aku mecoba keberuntunganku dengan menambahkan nomor ponselku di sana. Tapi kau tidak pernah menghubungiku. Wae..?"
"Kau benar-benar ingin aku menghubungimu?"
"Tentu saja. Aku tidak memberi nomorku pada sembarang orang. Apa kau berpikir jika kau menghubungiku, aku tidak akan tahu itu kau?"
"Ani, bukan begitu.. hanya saja, aku takut.."
"Wae? Apa yang kau takutkan? Aku tidak akan menyakitimu... mmm, mungkin sedikit, tergantung pada situasi, maksudku aku tidak akan menyakitimu dalam artian negatif.. kalau kau paham apa yang kumaksud." Yunho tersenyum saat Jaejoong menutup wajah dengan kedua tangannya. Yunho menarik tangan Jaejoong dan mengangkat dagunya.
"So, please.. see me as your senior, not a star.."
Jaejoong mengangguk.
"Jadi, apa kau mau menceritakan tentang kekuatanmu padaku?"
"Tapi itu terdengar gila..."
"Tak apa, pikiranku sudah gila karenamu."
Jaejoong menutup wajahnya lagi. "Yunho-ssi, please stop it.." gumamnya.
"Stop what? Aku bahkan belum menyentuhmu, hehehe..." Yunho menarik tangan Jaejoong sekali lagi. "Ayolah.. jangan malu begitu. Aku hanya tidak tahan untuk menggodamu, you're too cute..."
"Aku.. aku tidak bisa percaya ini, kau berbicara padaku seperti itu.." Jaejoong menunduk.
"Jae, lihat aku."
Jaejoong mendongak perlahan, menatap Yunho yang tengah menatapnya hangat. "Kaulah yang memanggilku kemari, untuk apa? Supaya kau bisa melihatku kan? Jadi berhenti menunduk dan menutupi wajahmu. Tatap mataku, ambil nafas dalam-dalam dan ceritakan padaku..."
Jaejoong mengikuti intruksi Yunho. Dia mengambil nafas dalam, menenangkan detak jantungnya dan mulai menceritakan Yunho semuanya. Walaupun ceritanya terdengar sulit dipercaya tapi Yunho bisa menerimanya.
"Sekarang bolehkah, bolehkah aku bertanya sesuatu?" tanya Jaejoong memberanikan diri.
"Tentu, kau boleh menanyaiku apapun malam ini. Berhubung kau yang membawaku ke sini, then I'm yours."
Jaejoong merona.
"Aku.. hanya ingin mendengar hari-harimu sebagai idola. Maksudku pasti itu menyenangkan kan menjadi pusat perhatian?"
"Hmm, tidak juga... tapi berhubung aku mencintai dance jadi itu tidak masalah untukku." Yunho lalu melanjutkan ceritanya tentang debutnya sebagai idola, staff-staffnya, pekerjaannya, keluarganya, sampai Jaejoong menyamankan diri dengan berbaring di kasur, mendengarkan kisah Yunho.
"Saat aku berlari padamu hari itu, itu adalah pertama kalinya aku kabur dari pekerjaanku. Aku sangat lelah tapi entah kenapa aku masih bisa bertahan. Suatu hari nanti, aku akan berlari padamu lagi, tapi tanpa mind gate-mu." Yunho menatap yeoja yang tampak hening di sebelahnya dan mendesah mendapati yeoja itu telah tertidur.
"Aish... baru saja aku mau mengaku.." Yunho menyelimuti tubuh Jaejoong, menyingkap rambut hitamnya ke belakang telinga, mengusap pipinya, mengecup hidungnya dan menyentuh bibir merahnya dengan jari.
"You're really something, Kim Jaejoong..." Yunho terdiam begitu dia menyadari sesuatu. "Bagaimana aku pulang ke rumah? Aishh, aku tidak bisa membangunkannya atau keluar dari kamar ini."
Akhirnya setelah beberapa saat berpikir, dia memutuskan untuk berbaring di sebelah Jaejoong. Dia menarik tubuh Jaejoong ke dalam pelukannya sebelum jatuh tertidur.
Esok paginya, Jaejoong bangun dan merasakan beban berat di pinggangnya. Jaejoong membuka matanya, menangkap wajah Yunho yang hanya berjarak beberapa inci dari wajahnya.
"Oh my God..." Jaejoong menutupi wajahnya yang lagi-lagi memerah.
Yunho yang mendengar gumaman perlahan membuka matanya. Dia tersenyum melihat tingkah cute Jaejoong. "Morning, babe..."
Kemudian Yunho menarik tangan Jaejoong. "Bagaimana tidurmu? Mian aku tidur disini, aku tidak tahu bagaimana caranya kembali ke kamarku tanpa menimbulkan keributan."
"Oh! Mianhae.. aku ketiduran. Harusnya kau membangunkanku."
"It's okay, I was enjoying seeing your sleeping face."
"Aku, aku akan mengembalikanmu ke kamarmu!" Jaejoong memejamkan matanya dan Puff! Yunho menghilang dari pandangan begitu dia membuka mata. Suddenly, it feels empty.
.
.
.
Culture Park
Jaejoong dan Junsu berjalan di sepanjang jalan di antara pohon maple. Sekarang musim gugur dan beberapa daun berjatuhan tertiup angin. Jaejoong tersenyum lebar membuat Junsu ikut tersenyum.
Jaejoong memakai sweater biru tua dipadukan dengan syal baby blue dan topi rajutan merah yang membuatnya tampak cute. Sedangkan Junsu memakai sweater pink dan syal putih.
"Jadi kalian sedang dalam suatu hubungan sekarang?" tanya Junsu.
"Ani, Su.. tidak secepat itu. Kami cuma mengobrol dan dia hanya menggodaku."
"Tapi pernahkah kau berpikir kalau kau ingin dia mencintaimu?"
"Tidak, tidak pernah. Dia terlalu jauh untuk kuraih, jadi lebih baik aku tidak terlalu banyak berharap."
"Great.."
Jaejoong mengernyit mendengar ucapan Junsu. "Wae?"
"Karena jika suatu hari dia bilang dia mencintaimu, berarti itu benar-benar datang dari hatinya, bukan karena mind gate-mu memintanya untuk mengatakannya."
"Hahaha... kupikir tidak mungkin dia bisa mencintaiku."
"Kenapa tidak? Berapa kali dia bilang kalau kau itu cantik..."
"I'm nothing, just Kim Jaejoong. But he's Jung Yunho, a superstar."
"Yeah, seorang superstar yang sudah tidur di ranjangmu."
"Suu...!"
"Hahaha... hey, Jae lihat!" Junsu menunjuk sebuah kerumunan di belakang gereja tua. "Mungkinkah..?"
"Ayo mendekat!" Jaejoong menarik Junsu dan berlari menuju kerumunan.
Disana ada photo session beberapa artis dengan kostum dan tema berbeda.
"Omo! Lihat itu! Hyunbin and Han Hyojoo in autumn wedding dress... they're so gorgeous!" Junsu menunjuk dua artis yang tengah berpose di depan kamera. "Woah.. semua koleksi baju musim gugur kelihatan bagus. Aku ingin beli satu. Ayo shopping setelah ini Jae-"
Junsu mengkerut saat melihat Jaejoong terpaku pada sosok yang tengah berpose sendirian di depan sebuah air mancur. Ya, tak lain dan tak bukan adalah Jung Yunho yang mengenakan t-shirt putih dan jaket wool abu-abu, komplit dengan kacamata mins dan senyum lebar yang memperlihatkan deretan gigi putihnya.
"Sepertinya pikiranmu terhubung dengannya, makanya kau selalu mengajakku hang out ke tempat-tempat dimana dia berada."
Jaejoong tidak merespon.
"Jae! Aish.. hati-hati dengan pikiranmu," bisik Junsu. Jaejoong seolah tersadar mendengar kata-kata Junsu.
"Mian, aku hanya tidak bisa menahannya. Tapi pikiranku kosong sekarang, jadi tidak akan terjadi sesuatu. Aku sudah mengontrolnya."
"Bagus. Well, kau hanya perlu melihat yang lain oke.. untuk mengalihkan pikiranmu."
Jaejoong mengangguk dan mulai melihat Hyunbin, couple Han Hyojoo. Fotografer meminta mereka melakukan kiss scene dengan beberapa professional move. Mereka lalu berciuman layaknya sepasang pengantin baru. Jaejoong tenggelam dalam scene di depannya sampai dia terperanjat begitu menyadari sesuatu. Dia baru saja membayangkan...
"Oh, tidak... Su, ayo pergi dari sini!" panik Jaejoong kemudian berbalik dan beranjak pergi.
"Mwo? Tunggu... Jae, apa-" Junsu terdiam dan melebarkan mata sipitnya saat melihat langkah Jaejoong terhenti karena seseorang meraih syalnya dari belakang.
"Su, jangan menarik syal-" Jaejoong berbalik dan langsung shock melihat Yunho berdiri tak jauh darinya, memegang ujung syalnya.
Semua orang yang berada di tempat itu –terutama para yeoja berteriak histeris. Tapi Yunho tidak peduli dengan sekelilingnya. Suara manajernya pun ia abaikan. Dia melangkah mendekati Jaejoong. Fotografer yang melihat kecantikan Jaejoong berpikir ini mungkin akan menarik. Dia mengabadikan setiap pergerakan mereka.
Yunho tersenyum lebar saat dia tepat berada di depan Jaejoong. Yunho mendekat sampai tak ada jarak di antara mereka. "Kau, si kecil pervert..."
"Mianh-" ucapan Jaejoong terpotong saat bibir dingin Yunho menyentuh bibirnya. Perlahan Jaejoong memejamkan matanya, menikmati sentuhan Yunho di bibirnya. Mereka memperdalam ciuman mereka, menghangatkan bibir mereka yang tadinya dingin. Yunho meraih pinggang Jaejoong dan menariknya mendekat sementara Jaejoong mengalungkan lengannya pada leher Yunho.
Semuanya terpana melihat hot kissing scene di depan mereka. Para namja yang menatap mereka tak berkedip, para yeoja yang menangis dan bergumam tak terima walau ada yang mulai terlarut, para artis yang terlihat menikmati, dan Junsu yang hanya menganga.
Klik. Klik. Klik. Klik. Klik.
Jaejoong menyadari keheningan yang menyergap sekitarnya. Yang dia dengar hanyalah bisik-bisik lirih, hembusan angin yang lewat, dan suara jepretan kamera. Dengan cepat Jaejoong melepas ciumannya.
"Jeongmal mianhae..." dia membungkuk lalu berbalik dan berlari secepat mungkin. Junsu yang masih shock segera menyusul Jaejoong.
"Shit, ciuman mereka lebih hot daripada kita..." gerutu Hyunbin yang kemudian diikuti jitakkan Hyojoo di kepalanya.
Yunho tersenyum penuh arti saat dia menyentuh bibir tebalnya dengan jarinya. Sampai sebuah tepukan dari fotografer Lee di bahunya membuat Yunho terlonjak dan tersadar akan semuanya. Dia membuat kekacauan lagi.
"Thanks for the great poses.. ini akan menjadi gambar musim gugur terbaik tahun ini," senyum fotografer Lee kepadanya. "Bawalah yeojachingu-mu itu ke sesi foto selanjutnya, kalian berdua terlihat serasi saat bersama. Aku jadi ingin mengambil gambar kalian yang lain."
Yunho mengangkat kedua alisnya mendengar permintaan itu.
Sementara itu, Jaejoong berhenti berlari, terengah-engah.
"Oh, noooooo..." Jaejoong berseru dan menutupi kedua pipinya yang memerah.
"Suuuuu, I'm dead this timeeee..." Jaejoong menatap Junsu yang tengah mengatur nafas sambil balik menatapnya aneh.
"Haaahhh, haahh, kau takut atau bahagia haaah?"
"Kau bilang kau matiih, tapihh wajahmu tersenyum seperti orang bodohhh..."
Kemudian Jaejoong tersadar kalau dia tengah tersenyum lebar.
.
.
.
Jaejoong's house on next Saturday
Yunho berdiri di depan sebuah rumah sederhana bercat putih. Dia mengecek nomor rumah itu dengan secarik kertas di tangannya.
"Min, alangkah baiknya kalau memberiku alamat yang benar," ucap Yunho saat tangannya menekan bel.
Seorang namja tua yang Yunho yakini adalah ayah Jaejoong membuka pintu. Dengan cepat Yunho membungkuk.
"Selamat siang, Jung Yunho imnida, teman Jaejoong."
"Oh, Jung Yunho? Artis itu?" Yunho mengangguk. "Ah, silahkan masuk..."
Yunho mengucapkan terimakasih melangkah masuk, disambut dengan interior rumah yang didesain dengan tema kayu. Meskipun dia sudah masuk kamar Jaejoong, dia belum pernah melihat rumah Jaejoong secara keseluruhan.
"Jaejoong ada di dalam kamarnya. Ayo..." Mr. Kim menuntun Yunho ke kamar Jaejoong di lantai dua kemudian mengetuk pintu berwarna putih itu.
"Jae, temanmu datang!" panggilnya satu kali lalu dia menatap Yunho. "Aku akan melanjutkan waktu berkebunku. Anggap saja ini rumahmu sendiri, arra?"
"Ne, gomawo ahjussie," Yunho membungkuk saat Mr. Kim beranjak pergi.
Pintu terbuka. "Ya?" Kepala Jaejoong menyembul dari balik pintu dan seketika matanya membulat. "Yunho?"
Yunho tersenyum. "Bolehkah aku masuk?"
Jaejoong mengangguk dan melangkah mundur. Dia duduk di atas kasur sambil menatap Yunho tak percaya. Yunho memandang sekeliling.
"Tidak banyak berubah sejak terakhir kali aku kesini."
"Aku, aku tidak memikirkanmu..." Jaejoong tergagap.
"Owh, itu tidak bagus.. harusnya kau memikirkanku sepanjang waktu."
"Aku, maksudku aku tidak memikirkanmu untuk datang kemari."
Yunho menatapnya intens. "Ne, kau memang tidak melakukannya. Aku datang kesini sendiri. Ini lebih baik saat aku merasa sangat ingin menemuimu tanpa dikontrol oleh pikiranmu dan pergi ke sini dengan cara normal."
Yunho berjalan mendekat tanpa memutus tatapan mata mereka.
"Dan aku ingin meminta sesuatu darimu..."
"A-apa?" Jaejoong mendadak nervous.
"Bisakah aku menciummu? Aku ingin melakukannya sendiri sekarang."
Jaejoong terdiam dan menggigit bibir bawahnya, merasakan detak jantungnya menggila saat Yunho bergerak mendekat, meraup bibirnya dalam hitungan detik. Perlahan Yunho mendorong tubuh Jaejoong ke kasur tanpa melepaskan ciuman mereka. Kemudian dia berpindah ke leher Jaejoong, mengendus, mencium, dan menghisapnya kuat, membuat tubuh Jaejoong bergetar dan desahan keluar dari mulutnya.
"Mmhh... Saranghae..." gumam Yunho. Jaejoong membuka matanya, shock.
"M-mwo? Aku, aku tidak..."
Yunho menatapnya dengan matanya yang tulus dan hangat. "Tidak, kau tidak sedang mengontrol pikiranku sekarang. Aku mengatakannya dari dalam hatiku. Aku mencintaimu dan aku ingin menciummu lagi... Can I?"
"You can... do it, say it, more and more..." jawab Jaejoong sambil menggigit bibir bawahnya.
Keduanya tersenyum satu sama lain sebelum kehilangan kendali mereka dalam sebuah ciuman panas.
.
.
.
Jaejoong membuka matanya bersamaan dengan sinar matahari pagi yang menghujam matanya. Jaejoong mengerjap-ngerjapkan matanya lalu perlahan bangun dan meregangkan tubuhnya, menguap. Dia merasa tubuhnya sedikit menggigil dan baru sadar kalau dia tengah naked. Sesuatu menghantam memorinya. Dia menoleh ke samping, dimana ada sebuah gundukkan besar di bawah selimut.
"Oh, my..." Jaejoong menutupi wajahnya begitu mengingat malam panas dengan passionate kiss, erangan, dan desahan kenikmatan. "I had sex on my first date...? Ini pasti karena pikiran kotorku...ishh..."
Gerakan di sebelahnya membuat Jaejoong kaget. Dengan cepat dia kembali berbaring dan menutup matanya, berpura-pura tidur.
Yunho mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali untuk mendapatkan kesadarannya dan melihat sosok malaikat di sebelahnya. Yunho mendekat dan mencium pipi Jaejoong. "Berhenti berpura-pura tidur, aku ingin melihat doe eyes-mu..."
Jaejoong berusaha untuk tidak membuka matanya, tapi pipi merahnya tidak bisa disembunyikan dari pandangan Yunho.
"Please...?" Yunho memohon dengan suara sexy-nya. Dengan cepat Jaejoong membalikkan badannya dan menyembunyikan wajahnya di balik bantal. "Ini memalukan!" serunya di balik bantal.
Yunho terkekeh. "Wae...?"
"We had.. we had our.. our first.. so fast!"
"Yeah, kemungkinan ada sedikit bantuan kotor dari pikiranmu, kkkk..."
Wajah Jaejoong memerah begitu mengingat bahwa dialah yang membayangkan semua sentuhan Yunho saat mereka berciuman semalam.
Yunho membalikkan tubuh Jaejoong lalu menariknya ke dalam pelukannya. "Ayolah.. tak usah malu.. walaupun itu kau yang memintaku melakukannya, tapi kau harus tahu jika pada akhirannya itu adalah keinginanku sendiri untuk memilikimu."
Jaejoong mendongak dan menatap Yunho yang tengah tersenyum padanya. "Aku tidak bisa percaya ini... You're mine."
Yunho menciumnya sekilas. "Believe it, I'm yours."
Jaejoong tersenyum.
"Ngomong-ngomong, aku lapar... kita bercinta semalaman tanpa mengisi perut terlebih dulu."
Jaejoong bangun lalu dengan cepat memakainya pakaiannya yang berserakkan di lantai. "Aku akan membuatkanmu makanan, tunggu sebentar oke?"
"Ok, babe..."
Tapi kemudian Jaejoong berhenti di depan pintu lalu berbalik, menggigit bibir bawahnya. Yunho memberinya tatapan 'mwo?' dan Jaejoong lagi-lagi menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Bagaimana aku menjelaskan ini pada appa? Kau bahkan belum pernah keluar dan aku yakin dia mendengar semuanya..."
"Apakah itu masalah?"
"Molla..."
"Kau perlu bantuanku untuk menjelaskannya?"
"Tidak, tidak. Mandilah dan bersihkan dirimu. Aku bisa mengatasinya," kata Jaejoong seraya membuka knop pintu.
Dia menemukan ayahnya tengah duduk di ruang tamu dengan ibunya, menonton berita pagi. Mereka berdua melihat ke arah Jaejoong dengan mata penuh pertanyaan. Please, jangan bertanya apapun, pikir Jaejoong.
"Pagi Jae, sarapanmu ada di dapur," Mrs. Kim memberitahu. Jaejoong mengangguk dan baru saja akan berjalan ke dapur saat ayahnya tiba-tiba memanggilnya.
"Jae, apakah kau...?" Mr. Kim berhenti. "Ah, tidak apa-apa."
Jaejoong mengangguk dan segera berlari ke dapur.
"Aneh, sepertinya tadi aku ingin bertanya sesuatu tapi aku lupa apa yang ingin kutanyakan... mungkin aku memang sudah tua.." Mr. Kim bergumam.
.
.
.
To be continue...
Bagaimana yeorobun, terpuaskankah dengan chap ini?
next chap udah chap terakhir loh... *bocoran*
Buat yang masih penasaran ma hubungan yoosu, mereka udah jadian kok. Kan ada penjelasannya di chap 2, coba baca dengan teliti yah^^
Wah, wah, saking penasarannya ada yang baca versi aslinya ya.. Ga usah minta maaf dong chingu, itu kan hak kamu. Tapi moga jha terjemahannya selama ini muasin kamu iia^^
Dan buat para readers sekalian, berkenan review?
