Crown © Ivera

Naruto © Masashi kishimoto

Rated : T

Genre : drama, family, tragedy, action, dkk.

Pair : You know :D

WARNING : OOC, typo, miss typo, ala Kerajaan dinasti Silla, bahasa amburadul, alur tak jelas, femNaru.

Don't like, don't read guys.

Ivera present

(Naruto : 15 tahun

Menma : 11 tahun

Kushina : 32 tahun

Nagato : 30 tahun

Konan : 25 tahun

Kakashi : 28 tahun

Ayame : 25 tahun

Chiyo : 40 tahun

Itachi : 18 tahun

Sasuke : 16 tahun

Mikoto : 32 tahun

Fugaku : 35 tahun

Yahiko : 35 tahun)

Prang. Brak.

Suara benda yang dilempar. Yahiko kini tengah marah. Dia marah pada dirinya sendiri. Harusnya Dia lebih dahulu menyingkiran Sang Puteri, Dia fikir Naruto hanya bisa protes tanpa melakukan perlawanan. Nyatanya Dia bahkan memiliki kewenangan melebihi Nagato yang notabene bukan keturunan sah. Harusnya Dia memperhitungkannya, Dia fikir segel itu menghilang bersamaan dengan Puteri Raja sebelum Minato berkuasa, yang menghilang setelah menghentikan pemberontakan. Harusnya Dia memikirkan skenario terburuk.

Rencananya gagal total. Dia padahal sudah berencana membunuh Menma dan Arashi di pengasingannya dengan menggunakan kecelakaan sebagai alasan, rencananya hancur oleh seorang gadis, "Kau yang akan kusingkirkan terlebih dahulu Puteri. Kau tidak tahu tengah berhadapan dengan siapa. Raja saja bisa kusingkirkan, Kau hanya gadis kecil yang beruntung. Kita lihat saat peringatan kematian Ayahmu, Kau akan mengikuti jejak Ayahmu." Gumam Yahiko meremas kertas yang ada digenggamannya.

"Naru..." Kushina datang menghampiri Puterinya, kini kediamannya tak lagi dijaga oleh prajurit, prajurit itu sudah ditarik oleh Nagato.

"Kaa-sama. Gomen, hanya ini yang bisa Naru lakukan." Ujar Naruto penuh penyesalan.

"Kau sudah berjuang sayang. Tenanglah semua akan kembali seperti semula." Kushina memeluk Puterinya, meski Dia jauh dari Sang Putera namun setidaknya Dia masih bisa memanggil Menma untuk berkunjung, atau Dia yang akan berkunjung.

"Kaa-sama,"

(1412)

Semua telah dipersiapkan, Menma hanya tinggal menetap disana. Kediaman yang akan ditempatinya. Beberapa penjaga dan juga dayang telah ada disana untuk melayaninya, meski hidup diluar Istana Menma tetaplah Pangeran. Kehidupan diluar Istana akan segera dimulainya.

"Jii-sama. Karena status Jii-sama diturunkan menjadi rakyat biasa, kumohon untuk tinggal bersamaku, temani Aku. Diluar Istana Aku bukanlah siapa-siapa." Ujar Menma menatap Kakeknya.

"Tentu Yang Mulia. Hamba akan mengikuti semua perintah Yang Mulia. Hamba akan mengajarkan semuanya kepada Anda. Baik itu ilmu militer maupun ilmu politik. Kelak Anda harus bisa berdiri dipuncak." Ujar Arashi, Arashi tak mengajarkan Menma untuk menjadi seorang pemberontak. Tidak karena dari awal tahta itu milik Menma. Karena kesiapan Menma saat itulah yang membuatnya tak bisa naik tahta. Tak ada yang bisa dilakukan bocah 3 tahun saat itu.

"Yang Mulia lewat sini." Ujar kasim yang kini akan melayani Menma, dulu Dia selalu dibantu Chiyo, namun sekarang tidak lagi. Dia harus terbiasa akan hal ini.

"Terima kasih Kimimaro. Aku berhutang pada Pejabat Orochimaru karena membiarkanmu disisiku." Menma tersenyum ramah pada kasim barunya, Kasim yang dulunya pelayan dari Orochimaru, salah satu petinggi Istana.

'Nee-sama, Kaa-sama perhatikan Aku. Aku akan berdiri, kini Aku tak akan bersembunyi dibalik jubah Kalian lagi, namun Aku akan membuat Kalian Bangga. Tou-sama, meski Aku tak terlalu mengingatmu , namun Aku tahu betapa sayangnya Kau padaku. Perhatikan Aku dialam sana bersama Raja terdahulu. Aku keturunan Kalian akan terus bangkit meski orang-orang mencoba menjatuhkanku.' Batin Menma mengeratkan kepalannya.

'Kali ini biarkan Mereka, namun saat Kau sudah memliki kekuatan. Kembalilah,'

Itu yang dikatakan Kakaknya.

(1412)

"Sasuke, Ayah ingin berbicara serius denganmu." Ujar Fugaku.

"Ya Ayah, Silahkan." Ujar Sasuke, mengikuti Ayahnya keruang pribadi milik Sang Ayah.

"Hubunganmu dengan Yang Mulia. Sekarang ini sudah sejauh mana?" tanya Fugaku tanpa basa-basi.

"Sejauh mana? Maksud Ayah?"

"Kau tahu. Hukum di Konoha, jika Kau menikahi seorang Puteri Raja maka Kau tak diizinkan mejadi pejabat Istana karena ditakutkannya ada kudeta. Itachi, Dia kini tengah mencoba memasuki lingkungan pejabat Istana. Ayah ingin Kau membuat keputusan. Kau menjalin hubungan dengan Yang Mulia namun Kau tak bisa menjadi pejabat Istana, atau Kau melepaskan Yang Mulia dan menjadi pejabat Istana."

"Ayah. Diketurunan Kita sudah ada Itachi yang berada dilingkup Istana. Kurasa Aku tak perlu mengikuti jejaknya. Dan juga, Aku tak akan pernah melepaskan Naru. Dia akan tetap disisiku. Aku akan disampingnya saat membutuhkan." Tegas Sasuke tanpa keraguan.

"Bagus. Aku mendukungmu. Namun Kau harus menunggu Yang Mulia berumur 17 tahun karena Yang Mulia Raja hanya mengizinkan Puteri Naruto menikah diumur 17 tahun, karenanya Ayah membuat rencana untuk Kalian. Kalian akan secepatnya bertunangan agar Kau bisa dengan mudah ada disamping Yang Mulia. Dia kini tengah membutuhkan sandaran."

"A-apa?"

"Dan semua ini sudah direncanakan Yang Mulia Ibu Suri. Karena kejadian ini Ibu Suri khawatir akan banyak orang yang mencoba menjatuhkan Puteri Naruto. Kini Dia lebih terancam dari Pangeran Agung."

"Kau tunggu saja kabar baiknya." Fugaku keluar dari ruangannya, meninggalkan Sasuke yang masih diam tak bergerak.

Apa Dia bermimpi? Dia dan Naruto? Oh Dewa yang Agung sepertinya Dia harus memberi persembahan untuk Dewanya ini.

(1412)

"Yang Mulia Raja tiba,"

Nagato masuk kedalam kediaman Naruto melihat keponakannya yang tengah berhias.

"Kau terlihat cantik Naru," puji Nagato.

"Arigatou Yang Mulia."

Nagato memerintahkan para dayang untuk keluar.

"Maafkan Paman. Paman mengingkari janji, seharusnya Paman bisa melindungi Menma. Maaf,"

"Paman, Kami bisa bertahan tanpa Paman. Jangan ragu saat membuat keputusan. Keputusan Paman adalah masa depan untuk Konoha. Paman tak usah mengurusi Kami, Paman seharusnya mengurusi rakyat Konoha yang lebih membutuhkan Paman." Ujar Naruto menggengam tangan Pamannya.

"Kau sudah Dewasa Naru. Dulu Kau mencari perlindungan. Sekarang lihat, Kau bahkan akan bertunangan. Meski Paman tak rela memberikanmu pada pemuda minim ekspresi itu." Ujar Nagato menatap Naruto yang memang kini sudah terlihat akan keDewasaannya.

"Paman, Jangan berkata seperti itu. Yang harus Paman lakukan adalah fokus pada Kerajaan."

"Jangan memaksakan diri untuk melindungi semuanya Naru, karena Paman selalu ada disisimu." Nagato mengecup kening Naruto.

"Do'aku selalu menyertaimu Yang Mulia," Nagato membungkuk hormat. Jika dilihat dari sisi orang biasa tak pantas memang seorang Raja membungkuk di depan seseorang, namun jika orang yang tahu akan silsilah Mereka akan mengatakan hal itu pantas, karena bagaimanapun Naruto adalah Puteri sah Raja yang sebelumnya.

"Paman jangan pernah melakukan hal itu lagi. Raja tak akan pernah membungkuk didepan orang lain, tegakan dirimu Paman."

"Kau tahu. Aku bangga padamu Naru. Kau memang mentari untuk Kami."

"Dan Aku senang Paman selalu ada dipihakku."

"Ayo, Paman akan mengantarkanmu pada calon tuanganmu," Naruto tersenyum senang, merangkul lengan sang Paman.

(1412)

Pertunangan Mereka diadakan cukup sederhana. Yang terpenting adalah ikatan Mereka yang kini sudah resmi, tinggal mengesahkanya 2 tahun lagi.

Naruto menatap cincin gioknya, dan tersenyum kecil. Jika Mereka resmi suami-isteri gioknya pasti akan bertambah satu, menandakan Dia sudah bersuami.

"Nee-sama, Selamat atas pertunanganya. Dan Sasuke Nii-sama, Aku menitipkan Nee-sama padamu. Jagalah Dia," ujar Menma menatap Sasuke yang terlihat senang meski wajahnya tetap datar.

"Ya. Yang Mulia," Sasuke membungkuk hormat.

(1412)

"Apa Anda serius akan melakukan ini Yahiko-dono?" tanya Mizuki tak yakin.

"Tentu. Puteri itu adalah batu sandungan yang merepotkan untuk kita. Kau lihat saja betapa Dia berkuasa saat menunjukan segel itu. Segel laknat yang dibuat Raja Pertama untuk melindungi cucu perempuanya. Segel yang bahkan bisa membungkam mulut Raja. Segel yang seharusnya tak ada didunia ini." Ujar Yahiko.

"Tapi jika gagal?"

"Ini adalah rencanaku yang paling semnpurna. Dia tak mungkin bisa diasingkan seperti rencana yang Kita buat untuk Pangeran Agung, namun jika Sang Puteri mati, tak akan ada protes lainnya. Segel itu tak ada artinya."

"Aku akan selalu ada disamping Anda Yahiko-dono."

(1412)

"Hey Sasu-teme. Kau tahu Aku menyukaimu saat pertama Kita bertemu." Ujar Naruto yang kini tengah bersandar di dada Sasuke, berromantis ria di taman teratai, tak memperdulikan dayang bahkan prajurit yang ada disana.

"Saaat Aku menolongmu menggambil caping saat festival? Itu konyol."

"Itu pertemuan Kita yang ketiga. Kubilang saat pertama kali Aku bertemu denganmu,"

"Saat perayaan hari kelahiranmu?" tanya Sasuke lagi.

"Bukan. Itu pertemuan kedua Kita."

"Lalu kapan?" tanya Sasuke penasaran.

"Ingat saat ada Ayah dan anak laki-laki berkunjung ke kediamanmu?"

Sasuke mengingat-ngingat kapan itu terjadi.

"Ah, Mereka yang berpakaian lusuh namun Ayah terlihat sangat hormat sekali?" tanya Sasuke memastikan.

"Ya. Itu Aku dan Ayah. Saat itu Aku ingin bermain dengan Ayah diluar tembok, dan kami akhirnya menyamar. Aku menggunakan pakaian pria, Kami melihat banyak hal, meski itu hanya 1 jam lamaya."

"Ya Tuhan. Pantas saja, Kupikir Kau laki-laki yang dilahirikan dengan wajah manis." Ujar Sasuke tertawa kecil.

"Hey itu tak lucu. Tapi Sasuke, saat Aku menyamar menjadi seorang pria, bisakah Kau mengenaliku?"

"Tentu. Meski Aku ragu itu Kau, namun Aku akan mencari buki bahwa itu dirimu."

"Baiklah. Baiklah, terserah Tuan Uchiha saja."

"Sasuke," panggil Naruto.

"Hn."

"Terima kasih atas segalanya, dan jangan pernah lupa jika Aku benar-benar mencintaimu. Aku tak pernah melupakan kenangan ini sampai mati."

"Apa yang Kau bicarakan? Seolah Kau akan pergi dariku." Ujar Sasuke tak menyukai percakapan ini.

"Aku memang akan pergi. Aku akan melakukan upacara peringatan kematian di kuil Naga,"

"Kuil Naga? Itu jauh Naru, Kau harus melewati hutan. Itu bahaya." Sasuke tak setuju.

"Jangan berlebihan. Aku ini anak sulung, dan hanya Aku yang diizinkan melakukan upacara, karena Menma sekarang ini tak bisa ikut. Jangan memasang wajah seperti itu, hanya 3 hari Aku kesana. Lagipula banyak prajurit yang akan ikut."

"Aku juga ikut." Putus Sasuke.

"Jangan bodoh. Itu mustahil, Kau tunggu saja Aku kembali." Naruto mengecup bibir pipi Sasuke.

"Yang Mulia, Silahkan Anda ke Istana timur. Anda harus bersiap-siap." Ujar Ayame.

"Jaa Sasuke. Sampai jumpa 3 hari lagi," Naruto tersenyum manis.

(1412)

Naruto memakai jubahnya, jubah asli keputeriannya, jubah yang hanya biasa digunakan saat acara tertentu. Memang sama saja dengan jubah lainnya jika dilihat sekilas. Namun jangan salah, jubah itu adalah jubah terbaiknya. Jubah yang terbuat dari sutera yang sangat halus, lambang Naga emasnya terbuat dari seart sutera yang dicampurkan emas asli. Dan yang paling tak bisa dibandingkan dengan jubah lainnya adalah lambang didada kiri, lambang klan namikaze, yang hanya diukir di baju milik para Puteri Namikaze, menandakan bahwa Dia adalah Puteri spesial, Puteri sang mendiang Raja. Baju itu juga memiliki legenda tersendiri. Judah itu pernah hilang bersama seorang Puteri Raja sebelum Minato adik dari Minato, namun keesokan harinya jubah itu terpajang manis di kediaman keputerian, namun Sang Puteri tetap hilang sampai sekarang, menurut legenda itu adalah jubah pemberian Sang Dewa pelindung.

Ayame terlihat mengerenyit saat melihat punggung polos Naruto, melihat bekas luka yang tak akan hilang, bekas sayatan pedang.

"Itu adalah luka kebanggaanku. Aku bisa melindungi Menma." Ujar Naruto saat melihat eksprsi Ayame.

"Ma-maafkan Saya Yang Mulia." Ayame membungkuk.

"Aku tak masalah kok Ayame." Naruto menghadap Ayame.

"Tetapi Yang Mulia. Aku masih tak menyangka Yang Mulia kuat saat diberi tanda dipinggang sebelah kiri Yang Mulia." Ujar lagi Ayame.

"Maksudmu lambang keluargaku? Itu menyakitkan Ayame, Aku harus menahan panasnya jarum agar ukiran lambang keluargaku diukir sempurna. Ini Menandakan bahwa Aku keturunan sah. Aku masih ingat itu, Saat itu Aku berumur 5 tahun. Dan yang mengukir ini adalah Tou-sama, lebih menyakitkan lagi Menma, Saat Dia masih berumur 1 tahun Ayah mengukirnya dibahu kirinya. Seakan Ayah tahu bahwa umurnya tak lama lagi. Namun ini hanya rahasia kita. Karena, hanya Ibu Suri, Menma, Paman Kakashi, dayang kepala, Kau, dan tabib Shizune saja yang tahu akan hal ini. Karenanya setiap Aku berganti pakaian hanya meminta bantuanmu, begitupula saat Aku terluka. Tabib Shizune dengan lihainya menutup tanda ini."

Ayame menutup mulutnya dan mengiyakan.

"Kita akan terlambat,"

"Aku tahu Kau tak akan ikut. Aku punya amanat Ayame. Rahasia yang selalu kubagikan padamu, jangan pernah bocor pada siapapun," Naruto mengedipkan sebelah matanya.

Dia keluar dari Istana timur menuju Istana utama.

"Yang Mulia Raja. Puteri Naruto Mohon pamit." Naruto memeberi izin.

Nagato, Konan, Kushina dan para pejabat mengantar kepergian Naruto yang menaiki tandu bersama rombongan prajurit. Para rakyat bersujud saat rombongan sang Puteri lewat. Sasuke dan Menma yang kebetulan bersama menatap kepergian Naruto.

'Lindungi Aku Tou-sama.'Naruto menggengam segel Naganya.

(1412)

Kakashi tengah membaca perkamen yang dipegangnya.

"Aku harus segera pulang secepatnya Yamato. Istana sedang kacau." Ujar Kakashi.

"Dan meninggalkan tugas disini? Jangan bercanda Jenderal. Aku tak biusa menanganinya sendiri." Ujar Yamato yang merupakan wakil Jenderal.

"Bersabarlah, Kita akan pulang sebentar lagi. Kita hanya harus bekerja lebih keras lagi." Yamato menepuk punggung kakashi yangmerupakan teman masa kecilnya.

"Semoga tak terjadi apa-apa pada Anda Yang Mulia," gumam Kakashi, meremas perkamen yang merupakan hasil laporan dari anak buahnya tentang Istana.

Ini semua gara-gara pejabat yang memaksa Raja menugaskannya ke perbatasan, seakan Mereka tahu Dia akan selalu ada disamping keduanya.

(1412)

Naruto melakukan upacara peringatan kematiannya dengan khidmat. Seharian Dia berdo'a di kuil tanpa ada yang berani mengganggu, Naruto memang harus 1 hari penuh berada dalam kuil, tanpa makan dan minum, konon Dewa Naga akan datang mengunjunginya, memberi berkah, dan kabar apa yang akan terjadi dimasa depan. Dewa Naga konon mewakili para Raja terdahulu untuk menyampaikan segala hal yang ingin disampaikan.

'Kau Naruto?'

'Kau peramal yang waktu itu.'

'Ya, Namaku Hikari, Cahaya yang menaungi Kerajaan ini, Kalian biasa memanggilku Dewa Naga. Aku dapat berbentuk seperti manusia, ataupun wujud Naga. Aku mitos untuk Kerajaan ini. Namun sebenarnya Aku nyata.'

'Naruto. Dalam generasimu Konoha dapat hancur jika Kau salah memilih. Naru, saat ini Kau tengah dikejar kematian. Namun Kau dapat selamat asal Kau berani mengambil resiko.'

Naruto terbelalak. Dia belum boleh mati. Dia harus melindungi Menma, Dia harus hidup.

'Apa itu resikonya?'

'Kau harus menjauhi Mereka. Semua orang yang berada didekatmu. Kau harus hidup sebagai orang lain.'

'Itu mustahil. Aku harus melindungi keluargaku. Mereka membutuhkanku.'

'Dan Kau akan mati sebelum berhasil melindungi Mereka, dan Konoha akan jatuh pada orang-orang yang tak layak. Konoha adalah Kerajaan yang diberkahi Kami-sama.'

'Apa ada jaminan keluargaku baik-baik saja saat Aku tak ada.'

'Mereka akan baik-baik saja. Menjatuhkan Pangeran Agung tak akan mudah lagi. Mereka tak mungkin melakukan hal yang mengatasnamakan pemberontakan untuk kedua kalinya.'

'Baiklah. Apa yang harus Aku lakukan?'

'Kau tak perlu melakukan apapun, Kau akan mengetahuinya saat ditengah perjalanan nanti,'

'Naru, Kau akan dianggap mati oleh semua orang'

'Jangan khawatir, Saat Kau harus muncul didepan semua orang sebagai Sang Puteri. Aku akan datang menemuimu.'

Naruto membuka matanya. Baru pertama kali Naruto bertemu Sang Dewa yang berwujud seorang wanita, karena tahun-tahun yang lalu Dia belum pernah bertemu dengannya.

"Maaf Kaa-sama, Menma, Paman, Sasuke. Aku tak bisa berada disamping Kalian." Gumam Naruto.

"Kita kembali ke Istana." Perintah Naruto yang keluar dari kuil.

(1412)

Perjalananmasih lancar. Naruto menatap banyaknya pohon yang dilewatinya. Terlihat menyeramkan. Tentu saja, Dia kini melewati hutan.

'Gerhana?' batin Naruto saat melihat perlahan gelap seperti malam.

Jleb. Cras. Bugh.

Suara gaduh diluar, "Yang Mulia. Silahkan Anda keluar tandu. Kita harus pergi. Kita diserang perampok."

"Bunuh semuanya. Jangan biarkan ada yang selamat!" teriak seseorang yang merupakan pemimpinnya.

"Ayo Yang Mulia, lewat sini." Naruto berlari mengikuti prajurit itu.

"Kita mau kemana?" tanya Naruto

"Ke tempat Ayahmu."

Jleb.

Naruto menatap prajurit itu, "Kau!"

"Selamat tinggal Yang Mulia."

Prajurit itu melemparkan Naruto kearah jurang.

'Kau tidak akan mati Puteri. Berpegang teguhlah pada keyakinanmu,'

(1412)

Sakit, Tentu. Naruto sudah siap menghantam tanah, namun anehnya rasanya tak sakit.

'Tenanglah. Semua baik-baik saja.'

Sebuah karavan melewati tempat Naruto. "Tunggu, Ada seseorang."

"Siapa Dia? Oh Dia terluka, bawa Dia."

Tak ada yang tahu jika disana ada seseorang lagi yang tergeletak. Wajahnya mirip Naruto bahkan jubahnyapun sama. Dan orang yang ditolong oleh rombongan karavan hanya memakai jubah dalam berwarna putih dan berambut merah.

(1412)

Kakashi bersiap untuk pulang ke Istana. Dia sudah mendengar bahwa Naruto bertunangan. Ahh Dia sudah tak sabar mengolok Puteri Konoha itu.

"Jenderal," panggil salah satu bawahannya membawa sebuah perkamen.

"Yamato, Jika Kau tak bisa mengikuti Aku tinggalkan." Kakashi menjalankan kudanya dengan cepat setelah membaca perkamen.,

"Apa ini? Surat undangan pemakaman Yang Mulia Puteri Naruto. Oh Kami-sama,"

(1412)

Jenazah Naruto kini ada dalam peti, Kushina sudah berkali-kali pingsan. Dihari peringatan kematian suaminya Dia harus berduka dengan kematian Puterinya. Kenapa hanya ada bencana yang menimpa keluarganya.

Jangan tanya Sasuke ataupun Menma. Mereka hanya bisa dfiam mematung tanpa bisa meneteskan air mata. Bukan karena Mereka berhati batu, Bukan. Mereka tak tahu harus berekspresi apa, menangis menyalahkan diri sendiri tak akan membuat pembunuh Naruto ditemukan.

Berbeda dengan Ayame. Ayame merasa aneh. Saat dirinya mengganti jubah Naruto Dia tak menemukan tato itu. Namun Dia tetap diam, tak akan pernah melanggar janji pada Sang Puteri untuk membongar rahasia Sang Puteri.

Brak.

Pintu gerbang dibuka paksa. Kakashi berlutut, melihat ekspresi Sang Puteri yang tenang seolah tertidur.

"Yang Mulia." Panggil Kakashi.

Kushina menghampiri Kakashi dan menamparnya, "Kemana Kau selama ini Jenderal? Jika Kau ada dan menjadi penjaga Puteriku saat ke kuil semua ini tak akan terjadi." Teriak Kushina.

Kakashi menunduk, tak kuasa menatap Sang Ibu Suri. Apanya yang kesetiaan darah. Dia bahkan tak ada saat Sang Puteri membutuhkan.

'Kakashi bisakah Kau sumpah setia?'

'Pada Anda?'

'Bukan, Pada Puteriku Naruto.'

'Ha'i. Saya akan bersumpah.'

'Bukan itu maksudku.' Ujar Minato tersenyum ramah.

'Bersumpah darah Kakashi. Kau tak akan pernah berkhianat, berbohong, bahkan meninggalkan Puteriku.'

'Ha'i' Kakashi menyayat jarinya dan ditempelkan pada jari Naruto yang juga disayat.

'Ini untuk apa Tou-sama?'

'Kau akan menjadi keluarga Jenderal Kakashi.'

"Keluarga?'

'Ya, seperti Nagato,'

'Yeyy. Naru punya Paman lagi.'

"Ha-hamba pantas mati Yang Mulia." Kakashi bersujud.

"Tidak Paman. Nee-sama tak akan senang jika Paman mati. Teruslah hidup." Ujar Menma. Meninggalakan Kakashi yang masih bersujud.

(1412)

Naruto membuka matanya perlahan, menatap kesekelilingnya, "Paman gadis itu siuman." Teriak gadis yang menunggui Naruto sedari tadi.

"Hey nak. Siapa namamu?" tanya pria yang menolong Naruto.

"Namaku Naru...

"Naru? Kau tinggal dimana?"

"Aku tak memiliki tempat tinggal." Jawab Naruto parau, mengingatkan Dia akan keluarganya.

"Begitu. Lalu apa Kau ingat saat Kau terluka?"

"Terluka?" Naruto pura-pura tak tahu.

"Benar. Kau tak ingat?"

"Maaf Aku tak tahu."

"Baiklah. Begini Naru, Kami adalah rombongan karavan yang biasa singgah dari Kerajaan lain ke Kerajaan lainnya. Kami adalah penghibur. Gadis-gadis disini memainkan alat musik untuk tengah dalam perjalanan menuju Kerajaan Suna, dan saat melewati hutan Konoha Kami menemukanmu dengan luka tusukan diperut. Jika Aku tak mengembalikamu ke rumahmu maka akan ada orang yang akan khawatir."

"Biarkan Aku ikut Kalian. Aku bisa memainkan alat musik." Ujar Naruto cepat.

"Tetapi...

"Kumohon." Naruto memelas.

"Biarkan Dia ikut Jiraya,"

"Tapi Mei-san,"

"Namaku Mei Terumi. Pemimpin karavan ini, dan ini Jiraya orang kepercayaanku. Selamat datang Naru, dan jangan menyesal telah memutuskan bergabung," Mei tersenyum misterius.

(1412)

Istana kini berduka. Semua orang bersedih, namun Yahiko, Dia tersenyum senang. Bukankah rencananya berhasil? Kamuflase dengan kedok perampokan dan Naruto yang ditusuk oleh bawahannya yang menyamar menjadi prajurit. Dan segel Naga kembali menghilang, tak ditemukan dimanapun. Mau hilang atau tidak segel itu tak akan berguna.

"Istana ini akan dikuasai oleh keturunan Kami. Itu akibat telah membuat keluargaku sengsara, Karena alasan pemberontakan saudaraku dibunuh. Sekarang lihat, Aku yang akan membunuh satu persatu keturunan sah." Teriak Yahiko didalam kediamannya. Dia tak mengikuti pemakaman dengan alasan kurang sehat, padahal Dia tengah mabuk-mabukan merayakan kematian Naruto.

(1412)

Sasuke menatap belati pemberian Naruto. Harusnya Dia memaksa, harusnya Dia tak membiarkan Naruto pergi. "Naru..."

"Sasuke! Apa yang Kau lakukan idiot?!" teriak Itachi melihat Sasuke yang tengah mencoba mengiris urat nadinya.

"Kau fikir Naruto ingin bertemu denganmu dengan keadaan menyedihkan?! Harusnya Kau cari pembunuh Naruto dan menghukumnya! Dasar bodoh."

Plak.

Itachi menampar adiknya yang seperti mayat hidup.

"Kami bertunangan agar Aku selalu ada untuk melindunginya , namun Aku gagal."

"Sadarlah Sasuke ini kehendak Kami-sama. Jika Aku melihatmu melakukan hal bodoh lagi, kupastikan Kau akan dipasung agar tak melakukan hal gila lainnya." Ancam Itachi dan berlalu pergi.

"Naru gomen..." Air mata Sasuke akhirnya tumpah.

(1412)

( 6 tahun kemudian)

"Ini adalah pertunjukan terakhir dari Kami. Permainan kecapi dari Hikari-san."

Seorang gadis berambut merah yang disanggul berjalan masuk, senyumnya terlihat mengikat, mata sapphire menatap satu per satu penonton,

"Selamat malam, nama Saya Hikari..."

TBC

A/N : Wahahaha ngakak Saya baca chapter ini. Alurnya amburadul. Maklum ini akibat tante valak. Semalem Saya nonton tuh setan fenomenal dan paginya nulis fanfic.. untung di fict ini tante valaknya ngga muncul :p Oke guys see you next time