Title : Monophobia
Part : 4
Rat / Genre : M / Romance & Friendship
A/ N : thanks buat sudah membaca n mengreview cerita ini ^_^\
Desc : Gotou Shinobu
-00START00- pov : Hayama Takumi
Waktu yang terus berjalan perlahan, tanpa terasa hari-hari liburanpun semakin menipis hingga akhirnya kamipun harus kembali ke aktivitas seharusnya. Kembali dalam aktivitas sekolah Shidou. Secara perlahan seluruh anak kelas satu maupun kelas dua mulai kembali ke asrama maupun perpustakaan untuk menghadapi ujian-ujian yang sudah berada di depan mata. Melihat situasi seperti ini, mengingatkanku kembali bagaimana perjuangan dan usaha anak kelas satu mendekati Gii agar mendapatkan kesempatan mendekati ayahnya.
Beruntung, kami yang duduk dikelas tiga ini akan menghadapi ujian akhir baik ujian sekolah maupun ujian universitas, sehingga waktu bebas maupun istirahatpun lebih diperketat oleh jadwal-jadwal latihan maupun ujian.
Akaike maupun Misu secara bergantian membantuku menjaga dan mengawasi Gii. Keberadaan mereka sungguh membantuku, terlebih mereka berada dalam satu kelas yang sama sehingga tidak menimbulkan banyak kecurigaan khususnya kepada anak kelas satu. Namun mereka tidak bisa mengawasi sepenuhnya karena pekerjaan maupun tugas yang harus mereka dijalankan.
Tidak hanya Misu dan Akaike, Toshihiza maupun Takabayashi ikut membantuku. Berkat mereka, keadaan Gii yang sebenarnya dapat tertutupi. Namun pandangan sinis tetap kurasakan ketika mereka melihatku bersama dengan Gii, walau hanya berpapasan maupun membahas ujian yang akan kami hadapi.
Keberadaanku semakin sulit ketika anak kelas satu mulai mengetahui kepindahan kamarku ke ruang utama Gii. Tatapan maupun perkataan kasar kembali terdengar di telingaku. Tidak ada reaksi ataupun sepatah kata keluar dari mulutku ketika teman sekelasku mulai kembali meledek maupun bertanya mengenai hubungan kami berdua. Aku tidak ingin suasana semakin memanas dan masalah semakin melebar luas.
Setelah jam makan siang, Akaike bersama dengan Gii berencana untuk menghabiskan waktu mereka di perpustakaan. Akaike meminta Gii untuk membantunya membuat proposal pencalonan anak kelas satu maupun kelas dua yang akan menggantikan posisinya nanti. Sedangkan Misu, Toshihiza dan diriku akan berada di ruang osis untuk menyelesaikan laporan tugas kelompok.
Tanpa terasa satu jam berlalu dan Toshihiza berpamitan kepada kami karena pekerjaan klubnya yang harus dia selesaikan. Bersama dengan Misu, kami kembali melanjutkan laporan yang tersisa. Selain itu, Misu juga mengizinkanku untuk melanjutkan sisa tugas di ruang osis seiring Akaike maupun Gii yang masih berada diperpustakaan.
"Hayama, apa kegiatanmu hari ini?," Misu merapikan buku-buku miliknya kedalam tas lalu menatapku sesaat. "...apa keadaannya sudah membaik?"
Kuletakan alat tulis yang kugunakan dan membalas menatapnya. "Untuk sementara ini semuanya berjalan dengan baik... Namun...," Misu menanyakan perkataanku yang terputus. "...tatapan sinis maupun benci tetap diberikan kepadaku..." aku menunduk sedih dan Misu hanya menghela nafas sebagai ganti jawaban untukku.
"Hayama...," Misu mengeluarkan sebuah kunci dari saku kemeja birunya lalu diletakan kunci tersebut di hadapanku. "...kamu boleh menggunakan ruangan ini sampai tugas-tugasmu selesai dan berikan kunci itu kepada Shingyouji jika aku belum kembali ke asrama sampai jam makan malam."
Kuterima kunci tersebut dan kembali bertanya kepadanya. Misu menjelaskan bahwa dia akan menghabiskan sisa waktunya di perpustakaan, mencari beberapa bahan untuk laporan yang harus dia selesaikan sebelum ujian akhir kelulusan. Aku mengangguk sebagai jawaban dan tidak lama kemudian, hanya suara gema anak-anak dari lapangan olahraga yang terdengar diruangan ini.
Jam sudah menunjukan pukul 5 sore dan sebentar lagi jam makan malam akan tiba. Tanpa membuang waktu, akupun segera merapikan dan memasukan seluruh bukuku kedalam tas hitamku. Ketika kututup ruang osis yang terletak di lantai 3 ini, baru pertama kali kurasakan dinginnya suasan koridor gedung sekolah ini. Tubuhku mulai terasa dingin dan dengan segera akupun bergegas menuju gedung asrama sebelum aku masuk kedalam ruang 'imajinasi'ku.
"Hayama!," panggil seseorang yang sudah tidak asing lagi ditelingaku. Kuhentikan langkah cepatkku dan kudapatkan Akaike bersama dengan Gii berjalan medekatiku. Sepertinya mereka sendiri baru saja kembali dari perpustakaan. Terlihat dari 3 buku tebal ditangan mereka dan sebuah tas plastik dengan beberapa potongan kertas yang sedikit keluar dari posisinya.
"Bagaimana dengan laporan kalian?," tanyaku memulai topik seiring kembali melangkahkan kaki menuju gedung asrama. Mendengar pertanyaanku, Akaike hanya menghela nafas dan melirik Gii yang terlihat santai. Aku semakin bertanya-tanya dan langsung menanyakan kembali kepada Akaike untuk menghilangkan rasa penasaranku.
"Gii sama sekali tidak membantuku. Dia malah menggangguku dan tertidur ketika aku mulai bertanya serius kepadanya," kesalnya dan tangan kanannya memukul punggung pundak Gii.
"Aku sudah katakan berkali-kali kalau suasana perpustakaan itu sangat membosankan. Aku mengajaknya untuk pindah di sebuah kafe atapun kantin, Takumi. Tapi dia tetap melanjutkan laporannya dan berbalik memarahiku."
Aku hanya dapat tersenyum dan tertawa kecil mendengar 'pertengkaran' mereka. "Tentu saja Akaike menolak, Gii. Kantin bukan tempat untuk mengerjakan tugas dan jika mengerjakan tugasnya di kafe, sudah pasti kamu akan menghabiskan uang jajanmu untuk membeli makanan ataupun minuman... atau meminta traktiran kepada Akaike...," ucapku dalam hati seiring mendengar pertengkaran mereka yang masih berlanjut dihadapanku ini.
Sesampainya didalam gedung asrama, secara kebetulan aku berpapasan dengan Shingyouji yang berjalan menuju lantai 2 dan dengan segera kuberikan kunci ruang osis kepadanya. Secara kebetulan, Shingyouji sendiri ingin mengunjungi Misu dikamarnya untuk menanyakan beberapa rumus yang dia tidak mengerti.
Sejak kejadian di hari Tanabata, Misu mengharuskan Shingyouji untuk menanyakan langsung tugas-tugasnya kepada Misu jika dia mengalami kesulitan. Walaupun Shingyouji pernah menolak, namun dia tetap melakukan 'perintah' yang Misu berikan kepadanya. Hubungan mereka berdua masih menjadi teka-teki namun aku ikut merasa senang dengan hubungan mereka yang berjalan lancar.
Setelah menyelesaikan urusanku dengan Shingyouji, kusadari bahwa Akaike dan Gii tidak berada didekatku. Kuperhatikan sekelilingku, mencoba mencari mereka dikamar Gii dan kudapatkan mereka disisi tangga sedang berbicara dengan Ouhai-Sensei. Tanpa ragu, akupun berjalan mendekati mereka tanpa merusak pembicaraan mereka.
"Benarkah itu, sensei?," ucap Gii yang terlihat serius namun perasaan senang maupun lega terlihat dari raut wajahnya.
Ouhai-sensei mengangguk lalu meletakan tangannya pada pundak Gii. "Seperti yang pernah Sensei katakan padamu, Sensei akan mencoba membantu dan berterimakasihlah pada keberuntunganmu. Ayahmu sudah menjelaskan alasan kemarahannya pada Sensei dan diapun sebenarnya ingin meminta maaf kepadamu. Tetapi seperti yang kamu ketahui, ayahmu sangat sibuk sehingga dia tidak bisa datang."
Akaike mengangguk dan menatap Ouhai-sensei. "Lalu, apakah ada perubahan ataupun situasi yang..."
Ouhai-sensei kali ini menggeleng. "Untuk masalah itu, maafkan Sensei, Saki-kun..." Perhatian Ouhai-sensei tiba-tiba saja tertuju kepadaku walau hanya sesaat lalu mengajak kami bertiga untuk membahas masalah ini diruangannya yang disudut gedung lantai 3 ini. Ruang kesehatan sekaligus tempat Ouhai-sensei beristirahat.
Ouhai-sensei mempersilahkan kami masuk terlebih dahulu setelah sampai didepan kamarnya lalu menyiapkan beberapa gelas yang terletak diatas sebuah meja ruang tengah ini. Gii yang duduk diantara diriku dan Akaike kembali menanyakan penjelasannya setelah Ouhai-sensei duduk dihadapan kami dengan bangku kerjanya. Kami yang duduk di bangku biru panjang ini hanya dapat menatapnya dengan penuh pertanyaan.
"...mengenai Hayama-san, sensei tidak dapat membantumu, Saki-kun..."
Kami semua terkejut, terlebih lagi raut wajah Gii yang terlihat bingung dan panik. "A-apa maksudnya, sensei? Apa maksud Sensei 'tidak dapat membantu'ku?"
Ouhai-sensei mengangguk dan kembali menepuk pundak Gii untuk menenangkannya. "Sebelumnya ada yang ingin Sensei tanyakan kepada kalian." Ouhai sensei menatapku dan Gii. "Sejauh manakah hubungan kalian sebenarnya?" Kami bertiga terhentak kaget namun Ouhai sensei hanya membalasnya dengan senyuman. "Tenang saja. Sensei tidak akan mengatakannya kepada siapapun. Kalian bisa menjamin itu."
Gii terdiam sesaat lalu menatapku dan Akaike secara bergantian. Akaike mengangguk dan kurasakan jari tangan kanannya dia eratkan pada tangan kiriku. "Hubunganku dengan Takumi hanyalah omong kosong didepan teman-teman maupun siswa lainnya. Hanya beberapa temanku saja yang mengetahui kebenaran bahwa semua itu hanyalah alasan untuk melindungi Takumi."
Ouhai sensei sempat terkejut dan diam sesaat namun senyuman kembali terukir diwajahnya. "Sensei sudah menduga demikian dan apakah itu berarti Akaike, Arata dan Katakura mengetahui rahasia kalian?" Kami mengangguk sebagai ganti jawaban.
"Bagaimana sensei bisa menduga Misu maupun Katakura mengetahui rahasia Saki?," ucap Akaike penasaran.
"Kamu sudah bersama dengan Gii sejak kelas satu, sedangkan Katakura bersama dengan Hayama-san berada dalam satu kamar, bukan? Kedekatan kalian semakin jelas ketika kalian mulai memasuki kelas dua. Arata sendiri mulai berubah kalian memasuki tahun terakhir. Walaupun dia sering menggunakan banyak alasan, tidak jarang pertanyaannya sering mengenai diri kalian berdua. Sudah pasti ada sesuatu diantara kalian walaupun pada awalnya Saki dan Arata adalah musuh, bukan?"
Kami bertiga hanya bisa terdiam kaget dengan seluruh penjelasan sensei yang sangat tepat! Mengingat banyak kejadian yang kami alami bersama selama di Shidou, tentu saja Ouhai sensei semakin mengenal kepribadian kami, terlebih lagi Sensei bersedia mambantu masalah ini.
Kembali pada topik pembicaraan, Gii meneguk minumannya sesaat lalu kembali bertanya pada Ouhai sensei. "Lalu sensei, apa maksud perkataan sensei sebelumnya?"
Senyum dan tawa kini menghilang dari wajah Sensei dan berganti dengan raut wajah seriusnya. Ouhai sensei menatap Gii sesaat lalu kembali mendukan kepalanya. "Benar jika dikatakan hubunganmu dengan ayahmu dapat berjalan baik namun saat itu sensei hanya dapat mejelaskan bahwa hubungan kalian hanyalah 'sahabat' semata. Tidak lebih."
"Sensei..." ucapku perlahan namun terdengar lemah dan sedih. Aku tidak dapat menyalahkan siapapun atas informasi ini karena Ouhai senseipun baru saja mendapatkan informasi ini dan sudah sewajarnya jawaban seperti itu yang kami dapatkan.
Sensei kembali melanjutkan dan menjelaskan bagaimana Ouhai sensei dapat menenangkan ayah Gii. Menjelaskan selogika mungkin dan menyangkal seluruh hubungan kami, bahwa hubungan kami ini hanya bertahan selama kami sekolah dan setelah itu akan menghilang secara perlahan seperti yang sudah banyak terjadi dalam sehari-harinya.
Keheningan terjadi diantaa kami berempat. "Terima kasih sensei atas informasi dan penjelasannya," ucapku tiba-tiba dan pandangan mereka semua kini diarahkan kepadaku. "Maaf sudah merepotkan sensei dengan masalah ini. Jika tidak keberatan, izinkan aku untuk kembali ke kamarku untuk beristirahat."
Kusadari bahwa ucapanku terdengar konyol dan kekanak-kanakan namun aku sudah tidak dapat menahan rasa kesal maupun sedih didalam diriku ini. Ketika aku bangun dari posisi dudukku, tiba-tiba saja Gii menahan tanganku dan ikut berpamitan kepada Ouhai-sensei yang diikuti oleh Akaike.
Sebelum kami bertiga melangkahkan kaki keluar dari ruangan putih ini, Sensei kembali memanggil nama kami bertiga. "Jagalah persahabatan kalian sebaik-baiknya dan saling terbukalah jika ada masalah diantara kalian..."
Langit semakin gelap dan waktu bebaspun semakin berkurang. Akaike memutuskan untuk kembali keruangannya sedangkan aku bersama Gii kembali ke kekamar untuk beristirahat. Sepanjang perjalanan hingga sampai didalam kamarpun, tidak ada sepatah kata keluar dari mulut kami berdua. Gii duduk di sofa sedangkan aku duduk disalah satu bangku yang berada disisi jendela. Keheningan mulai memenuhi seluruh ruangan ini, terkecuali suara binatang malam yang mulai beraktifitas.
"Takumi? Apa...kamu membenciku?," tubuhku terhentak dan pandanganku langsung tertuju pada sang nara sumber. Gii menunjukan wajahnya dan dari posisi tubuhnya, aku dapat memahami bahwa Giipun ikut merasa sedih dengan informasi yang baru saja kami dapatkan.
Aku bangkit dari posisi dudukku lalu berjalan perlahan mendekati Gii. Menundukan tubuhku lalu kedua tanganku memegang wajahnya dan akupun perlahan memanggil namanya untuk memfokuskan pandangannya kepadaku.
"Tidak mungkin aku membencimu, Gii. Aku hanya merasa sedih dan kesal saja. Tidak lebih."
"Takumi... Maafkan aku yang begitu lemah dan selalu menyusahkanmu seperti ini..."
Tanpa kata, kulingkarkan kedua tanganku pada lehernya dan kurasakan kedua tangannya memelukku dengan erat. Kami saling bersandar satu sama lain dan suara isak tangis mulai mengisi ruangan ini. Keheningan maupun ketenangan malam ikut membawa perasaan sedih kami secara perlahan. Waktu yang terus berjalan mengirig perasaan kami yang terus keluar dan berharap beban pada pundak kami ikut berkurang.
Setelah beberapa saat, kami saling menatap satu sama lain dan kuhapus air mata Gii dengan tangan kananku. "Takumi..."
Tangan hangat Gii perlahan ikut menghapus air mataku yang masih mengalir deras. Dengan terbatah-batah, akupun mulai mengeluarkan isi pikiran maupun perasaanku. "Gii, apa rencanamu sekarang? Apa...sebaiknya...kita...me-"
Gii menarik wajahku lalu menghentikan perkataanku dengan mendekatkan wajahnya lalu bibir kamipun saling bersentuhan dalam beberapa saat. Kututup kedua mataku untuk menenangkan pikiran maupun menikmati kedekatan dan kehangatan Gii pada diriku. Kuletakan tanganku pada bahunya seiring kurasakan tangannya memegang kepalaku lalu memposisikan diriku bersandar pada pinggir sisi sofa.
"Gii..." kurasakan panasnya pada wajah maupun seluruh tubuhku. Dengan tangan kirinya yang dia letakan pada sisi bahuku sebagai penopang tubuhnya, tangan kanannya kembali menyentuh wajahku dan menempelkan bibirnya padaku.
"Takumi...," panggil Gii sesaat. "...bukankah aku sudah berjanji akan selalu bersamamu seperti yang kamu katakan sebelumnya? Tentu saja aku tidak akan meninggalkanmu, Takumi. Justru akulah yang takut kamu akan meninggalkanku..."
Tubuhku terhentak namun aku segera menggeleng. "Tidak mungkin, Gii. Aku tidak mungkin meninggalkanmu... namun..."
"...namun..."
Aku terdiam sejenak dan memalingkan wajahku dari arah pandangannya. "Bagaimana dengan ayahmu? Bagaimana jika dia tidak merubah pikirannya itu?"
Gii menarik tanganku sesaat lalu membaringkan dirinya disisiku lalu memelukku. "Tentu saja aku tidak akan membiarkan itu, Takumi. Setelah kita lulus dari Shidou, aku berjanji akan membawamu untuk tinggal bersama diriku...walaupun aku harus menculikmu dari kedua orangtuamu..."
"Gii..."
Pelukannya semakin terasa erat dan kurasakan dengan jelas hangat tubuh serta detak jantungnya yang berdetak cepat. Kusandarkan kepalaku pada dadanya lalu kuletakan tangan kananku pada pinggangnya.
"Takumi, percayalah apa yang kukatakan saat ini adalah kebenaran. Bukanlah sebuah janji palsu yang sering kukatakan dihadapan anak-anak kelas satu itu," Tangan kanan Gii yang menjadi sandaran kepalaku, dengan tangan kirinya dia mengelus rambutku lalu mengarahkan pandanganku kearah kedua matanya. "..enam bulan lagi..."
"...enam bulan?"
Gii mengecup keningku sesaat. "Ya, kurang dari 4 bulan lagi kita akan lulus dari Shidou dan selama 2 bulan akan kupersiapkan segalanya untuk kehidupan kita berdua, termasuk mengakui hubungan ini didepan kedua orang tuamu."
Aku terdiam sesaat dan mencoba mencerna penjelasan yang baru saja dia berikan. "Tapi apa 2 bulan itu cukup, Gii? Aku tidak ingin menyusahkan dirimu dengan masalah keluargaku. Kamu harus mengutamakan hubunganmu dulu dengan ayahmu baru setelahnya ka-"
Gii mengecup bibirku untuk menghentikan perkataanku. Aku kembali mencoba untuk beragumen namun kini Gii menempelkan jarinya dibibirku lalu mengangguk perlahan dan tersenyum kepadaku. "Kamu tidak perlu khawatir, Takumi. Bukankah Ouhai-sensei sudah memberitahu kita bahwa ayahku sudah memaafkan diriku walau dia masih menyangkal mengenai hubungan kita berdua. Untuk sementara waktu, selama 1 bulan kedepan aku ingin meminta bantuanmu untuk membantu mengembalikan rasa 'percaya diri'ku. Bagaimana, Takumi?"
Aku mengangguk sebagai ganti jawaban untuknya. "...tentu saja aku akan membantumu, Gii. Tapi...bagaimana? Apa yang harus aku lakukan?"
Tiba-tiba saja senyuman menghilang dari raut wajahnya. Tatapannya terlihat serius sekaligus rasa khawatir dan gugup terlihat dengan jelas. "A-akhir pekan ini akan ada acara 'kebersamaan' untuk kelas satu. Acara yang diselenggarakan sebagai rasa terima kasih dari 'Shidou'... dan kepala sekolah memintaku untuk menjadi 'pembicara' di pembukaan kebersamaan tersebut."
'Akhir pekan ini... berarti tinggal 3 hari lagi jika dihitung dari hari ini.' Kutatap wajah khawatirnya dan menyentuhnya dengan tangan kananku. "Bukankah kamu sudah sering menjadi pembicara, Gii? Tentu saja kamu bisa, Gii."
Gii menggeleng lalu kembali memelukku dan menyandarkan kepalanya diatas kepalaku. Rasa takut maupun khawatir dirinya dapat kurasakan dan kumengerti dengan jelas. Tidak ada sepatah kata keluar dari mulutku selain membalas memeluknya dan menyandarkan kepalaku pada tubuhnya.
Tangan hangatnya mengelus punggungku seakan akulah yang butuh 'ketenangan', namun aku sangat mengerti bahwa dirinyalah yang sebenarnya membutuhkan ketenangan tersebut.
Kucoba untuk memanggil namanya dan diapun membalas dengan gumamannya. "Apa...kamu ragu...?"
"Apa maksudmu, Takumi?"
Kulepaskan pelukannya lalu menatap kedua matanya. "Apa secepat itu kamu melupakan janji kita berdua?" Raut wajah Gii menunjukan rasa bingungnya, namun aku membalasnya dengan senyuman untuknya. Kukeluarkan kalung rantai yang melingkar di leherku maupun dilehernya. "Ingatlah ini Gii, jika kamu sendirian dan pikiran 'aneh' mulai menguasai dirimu. Jangan biarkan rasa takut menguasai dirimu karena aku tahu bahwa kamu itu kuat dan pantang menyerah."
Senyuman lega terukir diwajahnya. Gii menggenggam kedua liontin kami dan mendekatkan keningnya pada kepalaku. "Terima kasih banyak, Takumi. Walau kamu tidak pernah mengakui ataupun menyadarinya, sebenarnya kamulah yang selalu menolong diriku."
Kedua tanganku menggenggam kepalan tangannya dan menatapnya. "Tidak, Gii. Aku hanya membalas apa yang selalu kamu berikan padaku. Perhatian maupun pertolongan darimu tidak sebanding dengan apa yang kulakukan padamu, Gii..."
Gii kembali tersenyum padaku dan keheningan memenuhi jarak antara kami berdua. Keheningan yang terasa menyenangkan dan menanngkan. Kurasakan deru nafas maupun detak jantung yang berdetak semakin teratur, tanda bahwa Gii sudah masuk kedalam dunia mimpinya.
"Gii, jangan menyerah. Walaupun 'rasa takutmu' tidak hilang, aku akan tetap mendukung dan membantu dirimu." Kuelus wajah putihnya sesaat lalu mengecupnya sebelum kututup kedua mataku untuk mengistirahatkan tubuh maupun pikiran. Berharap akan adanya seberkah cahaya didalam kegelapan pada dirinya.
-00EndPar400-
Review...?
