Title : Song For Unbroken Soul
Main Cast : Kim Jongin, Do Kyungsoo, Other cast...
Author : Oh Hani
Rate : M
Warning : Genderswitch, DLDR, NO BASH ! REVIEW !
Disclaimer : REMAKE Novel karya Nureesh Vhalega yang judulnya 'Song For Unbroken Soul'. Hanya mengganti cast sesuai couple favorit. Dan ini bukan FFN milik saya pribadi. Hanya numpang dan ngehidupin FFN ini karena pemilik aslinya sedang HIATUS.
.
.
*Happy Reading*
.
.
BE FANS GOOD
Kim Jongin melangkah memasuki kantor Kyungsoo ketika jam menunjukkan waktu makan siang. Hari ini adalah pertemuan ke tiga mereka dalam minggu ini. Jongin merasa senang memiliki guru sebaik Kyungsoo. Bukan sikapnya—karena Kyungsoo sungguh gadis tanpa ekspresi terhebat yang pernah Jongin temui—namun kelugasannya dalam menyampaikan hal-hal penting dengan jelas.
Jongin memiliki perkembangan pesat hanya dalam waktu tiga hari setelah ia terjun dalam dunia bisnis konstruksi dan properti.
"Selamat siang, Kyungsoo" sapa Jongin seraya duduk di hadapan gadis itu. Seperti biasa, Kyungsoo tampil dalam balutan baju kerja yang sopan. Rok pensil putihnya hanya satu senti di atas lutut dan kemeja dengan motif bunga dandelion berwarna peach menyempurnakannya. Kyungsoo mengangguk sebagai balasan, bersikeras tetap menggeluti donat cokelatnya. Jongin tersenyum. Ia tahu Kyungsoo sungguh berbeda dengan gadis-gadis yang pernah ditemuinya. Meski sering kali tidak berekspresi, Kyungsoo selalu nampak hidup ketika makan. Kyungsoo bahkan tidak segan untuk mengatakan bahwa ia tidak mau membagi makanannya sejak awal pertemuan pertama mereka. Maka dari itu, meski ada tumpukan donat berwarna-warni di hadapannya, Jongin tidak menyentuhnya sama sekali.
Kyungsoo melangkah menuju lemari es di sudut kiri ruangannya, lalu meletakkan sekaleng minuman bersoda di hadapan Jongin. Satu lagi keunikan yang dimiliki Kyungsoo ; gadis itu hanya menyediakan minuman bersoda atau air mineral dan tanpa ragu mengatakan pada Jongin untuk jangan pernah membawa minuman beralkohol dalam bentuk apa pun ke kantornya.
"Apa yang akan kita pelajari hari ini?" tanya Jongin. "Aku ingin kau menganalisis proposal itu. Pusat perbelanjaan dibagian utara kota mengajukan renovasi besar-besaran dan pihak berwenang sudah menyutujuinya." jawab Kyungsoo. Jongin menyesap minumannya, lalu membaca dengan seksama.
"Mereka memiliki tujuan lain dari renovasi ini." ucap Jongin akhirnya. Kyungsoo mengangguk, diam-diam mengagumi kecerdasan juga ketepatan analisis Jongin. Sebelumnya Kyungsoo meragukan Jongin, karena dengan sikap ramah juga tampilan lahiriah yang mengindikasikan Tuhan sedang tersenyum ketika menciptakannya, Jongin akan bosan dengan pelajaran yang diberikannya. Bukan tidak mungkin Jongin akan berakhir seperti anak-anak para konglomerat itu; hidup dengan menghamburkan uang perusahaan.
Namun kini Kyungsoo harus mengakui bahwa apa yang dikatakan Tuan Kim Kangin mengenai putra sulungnya itu benar adanya. Kim Jongin adalah seorang pria pekerja keras yang pantang menyerah. Yah, selama Jongin tidak mencoba mengusiknya, maka Kyungsoo akan baik-baik saja. Kyungsoo tetap tidak akan terpengaruh oleh kehadiran pria itu dalam hidupnya.
Satu jam berikutnya dihabiskan Kyungsoo untuk menanyakan reaksi Jongin terhadap berbagai keadaan yang mungkin terjadi selama berlangsungnya suatu proyek. Jawaban Jongin selalu logis dan tepat sasaran.
"Apa yang akan kau sarankan untuk pembangunan yang dilakukan di atas tempat lain yang sebelumnya berpenghuni? Misalnya pembangunan apartemen di daerah yang dulunya merupakan pemukiman warga asli daerah tersebut. Apa yang akan kau lakukan untuk menguatkan citra yang diminta oleh klien?" tanya Kyungsoo.
"Aku akan berusaha menggagalkannya." jawab Jongin.
"Mwo?" balas Kyungsoo tak percaya.
"Aku tidak akan menyetujui proyek yang menghapus sesuatu dalam prosesnya. Aku bekerja dalam bidang ini untuk menciptakan sesuatu yang belum ada. Bukan untuk menggantinya." Sahut Jongin tanpa ragu.
"Bagaimana kau melakukan itu? Kita bekerja sebagai pembangun dan setiap kali kita membangun tentu akan ada hal yang harus dikorbankan."
"Aku tidak mengatakan bahwa kita tidak berkorban dalam proses dari pekerjaan ini. Setiap usaha yang kita lakukan tentu mengandung resiko semacam itu. Namun aku akan menggagalkannya dalam artian khusus, seperti yang kau katakan, ketika pembangunan itu dilakukan di atas tanah penduduk asli. Seperti di atas tanah penduduk asli Jung-du, bukan? Aku sempat membaca beritanya kemarin. Aku tidak akan menyetujui proyek itu —tak peduli seberapa besar kerugiannya— karena aku tidak bekerja untuk menghapus budaya." Kyungsoo terdiam. Perasaannya bercampur aduk. Ia tidak mempermasalahkan jawaban Jongin, namun alasan yang dikemukakan Jongin membuat pria itu nampak semakin berbeda di mata Kyungsoo. Jongin sungguh-sungguh mempelajari segala hal yang berhubungan dengan bidang ini, bahkan dalam waktu singkat, Jongin bisa mengenal budaya asli Korea . Kyungsoo tak lagi bisa menyamakan Jongin dengan pria lain dan itu terjadi hanya setelah tiga pertemuan. Kyungsoo tak bisa menerjemahkan isyarat hatinya. Kyungsoo merasa segala batas yang dibuatnya tidak berlaku terhadap Jongin. Kyungsoo takut.
Ponsel Jongin berdering dan setelah mengeceknya, Jongin bersiap pergi. "Aku harus pergi sekarang. Bisakah kita melanjutkan pelajaran besok? Di sini pada jam yang sama?" tanya Jongin. Kyungsoo mengangguk.
.
.
#Oh Hani#
.
.
Satu minggu kemudian
Kyungsoo menghentikan mobilnya di depan sebuah coffee shop. Ia masuk, memesan segelas cappucino latte dengan ekstra krim, lalu duduk di sudut kanan dekat jendela. Ia memerhatikan taman kanak-kanak di seberang sana dengan tatapan sarat kerinduan. Tiba-tiba saja hari ini Kyungsoo merasa lelah. Setelah menyelesaikan seluruh pekerjaannya, Kyungsoo segera menuju coffee shop ini. Kyungsoo bahkan membatalkan janji temunya dengan Jongin dan berbohong dengan mengatakan bahwa ia memiliki rapat mendadak. Kyungsoo larut dalam lamunannya, hingga seseorang menarik kursi dan duduk di hadapannya.
Kyungsoo mendongak dan terbelalak ketika menemukan Jongin tersenyum menatapnya dengan kedua alis terangkat.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Kyungsoo. Ia berusaha keras menutupi rasa terkejut juga malu karena tertangkap basah telah berbohong.
"Minum kopi." jawab Jongin tenang seraya menunjuk kopinya. Kyungsoo tidak tahu harus berkata apa lagi, sehingga ia menyuarakan pertanyaan pertama yang melintasi benaknya, "Di mana sopirmu? Tidakkah kau mengajaknya masuk?"
Jongin berdeham, terlihat keras menahan tawa, lalu menjawab, "Mungkin kau lupa, namun aku sudah mendapat izin untuk mengemudi di negara ini. Aku mendapatkannya tiga hari yang lalu, hari di mana kau bertemu denganku di depan gerbang masuk kantormu dan kau hampir menabrakku dari belakang."
Kyungsoo menunduk dan merutuki kebodohannya. Berapa kali ia harus mempermalukan diri di hadapan pria ini? Akhirnya Kyungsoo memilih diam dan kembali memandangi taman kanak-kanak di seberang sana.
Jongin meminum kopinya, masih tetap dengan mata tertuju pada Kyungsoo. Jongin memerhatikan Kyungsoo bahkan sejak ia belum memasuki coffee shop ini. Meski bingung karena Kyungsoo membohonginya, Jongin memutuskan untuk tidak bertanya demi melihat tatapan sendu dalam mata cokelat terang gadis itu. Jongin terus menatap Kyungsoo, hingga akhirnya mengerti alasan di balik tingkah laku Kyungsoo hari ini. Jongin berdiri, mengulurkan tangannya pada Kyungsoo.
"Ayo, kita pergi ke seberang." ajak Jongin.
"Untuk apa?" tanya Kyungsoo curiga.
"Aku ingin menunjukkan sesuatu. Tenang saja, aku tidak akan menggigitmu. Kau tahu aku tidak suka memakan gadis pecandu kopi manis." jawab Jongin dengan senyum geli. Kyungsoo mengabaikan uluran tangan Jongin, namun mengikuti pria itu menuju pintu keluar. Beberapa gadis memerhatikan Jongin, bahkan ada yang menghadang langkahnya dan menawarkan diri secara terang-terangan, namun Jongin hanya tersenyum sopan. Jongin menolak segala perhatian di sekitarnya tanpa terkesan angkuh, membuat para gadis itu semakin gemas melihatnya. Kyungsoo memutar mata pada gadis-gadis itu—yang kini memelototinya dengan terang-terangan. Namun Kyungsoo tidak bisa menyalahkan mereka, karena melihat Jongin yang begitu tampan dan maskulin, pastinya merusak pertahanan setiap makhluk hidup yang memiliki aset 'V' di tubuhnya.
Jongin merupakan penjelmaan sempurna setiap mimpi para gadis. Begitu sampai di depan gerbang taman kanak-kanak yang selalu menjadi perhatian Kyungsoo, mereka diam. Hanya berdiri menatap ke dalam melalui sela-sela jeruji bersama hembusan angin.
"Kau menyukai taman kanak-kanak?" tanya Jongin. Awalnya Kyungsoo hanya mematung, bahkan napasnya terasa berat. Namun perlahan ia mengangguk.
"Kau ingin masuk ke dalam?" tanya Jongin lagi. Kyungsoo menatap Jongin penuh keraguan. Meski samar, Jongin tahu fokus Kyungsoo saat ini bukan pada dirinya. Jongin menghampiri petugas keamanan di pos jaga sebelah kiri gerbang, mengucapkan beberapa kalimat bahasa Korea yang terpatah-patah, lalu dipersilakan masuk. Dalam hati Jongin membuat catatan untuk mengucapkan terima kasih pada adik kecilnya yang sudah mengajarinya bahasa Korea. Satu minggu yang lalu Henry datang ke Korea dan mengatakan akan menemani Jongin untuk menyesuaikan diri di negara ini. Hal itu adalah sebuah tindakan sederhana yang membuat Jongin bersyukur karena adiknya telah kembali seperti sedia kala.
Lagi-lagi Kyungsoo mengikuti langkah Jongin, membiarkan dirinya berada dalam ruang penuh gaya yang mengombang-ambing. Kyungsoo menyentuh ayunan dengan jemarinya yang terasa kebas. Setelah bertahun-tahun hanya melihat taman kanak-kanak ini dari jauh, akhirnya Kyungsoo dapat masuk ke dalamnya. Dapat melihat kembali bagian terpenting darinya, yang hidup menjadi kenangan berharganya.
Jongin memerhatikan Kyungsoo lekat-lekat. Segala ekspresi yang melintas di wajah gadis itu tak ada yang dilewatkannya. Bahkan terekam jelas. Pun ketika Kyungsoo duduk di ayunan, lalu seulas senyum tipis penuh kerinduan mengembang di bibir merah muda sempurnanya. Jongin merasa melihat sesuatu yang amat indah. Lebih indah dari matahari terbit yang selalu dipujanya.
"Kau hanya harus menghampirinya, Kyungsoo." ucap Jongin. Kyungsoo menatap Jongin. "Ketika kau melihat sesuatu yang kau inginkan, kau harus menghampirinya. Karena dengan itu kau akan bahagia." Jelas Jongin ringan.
Kyungsoo tercekat dan wajahnya memucat. Gadis itu segera bangkit berdiri. Lalu dengan langkah setengah berlari, Kyungsoo meninggalkan Jongin yang memanggilnya di belakang.
...
Hingar-bingar musik yang terdengar di klub malam itu tidak mampu menulikan Kyungsoo. Gelas ke tiga diet coke di tangannya pun sama sekali tidak mempengaruhi otaknya yang terus berpacu -tentu saja-, Kyungsoo tahu satu-satunya minuman yang bisa mematikan otaknya saat ini adalah minuman yang sampai kapan pun akan tetap dibencinya.
Otaknya masih terus memutar ulang pertemuannya dengan Jongin, juga perkataannya yang terasa menampar Kyungsoo. Seorang pria berusia awal tiga puluhan menghampiri Kyungsoo. Pria itu sudah memerhatikannya sejak Kyungsoo memasuki bar. Bahkan meski ada beberapa teman wanita Kyungsoo yang lain —dengan pakaian lebih berani pula— pria itu tetap hanya menumpukan pandangannya pada Kyungsoo.
"Halo, Cantik. Boleh aku bergabung denganmu?" tanya pria itu dengan senyum percaya diri. Seakan-akan Kyungsoo mustahil menolaknya. Jika saja dalam keadaan seperti biasa, Kyungsoo akan segera menolaknya mentah-mentah. Kyungsoo tidak suka pria asing. Bahkan saat ini pun, Kyungsoo merasakan keengganan yang begitu besar. Kyungsoo memerhatikan pria di hadapannya dengan pandangan penuh spekulasi. Mungkin kedatangan pria ini bisa membantunya untuk menghapus bayang-bayang Kim Jongin. Bayangan Jongin dengan mata sesegar daun di pagi buta yang tanpa diduga berhasil mengusiknya. Lagi pula, cepat atau lambat Kyungsoo harus bisa menghilangkan rasa enggannya itu. Kyungsoo harus bisa mengusir hantu yang menakutinya ketika bersentuhan dengan pria asing.
"Silakan." jawab Kyungsoo datar. Pria itu duduk di samping Kyungsoo, agak terlalu dekat hingga Kyungsoo dapat mencium aroma tembakau dari napasnya. Setidaknya bukan alkohol dan Kyungsoo bisa menolerirnya. Mereka berada di salah satu meja sudut bagian belakang, sehingga mata-mata penasaran hanya akan melihat kegelapan karena sumber cahaya hanya berasal dari lampu yang berputar di atas lantai dansa.
"Ravi." ucapnya seraya mengulurkan tangan.
Kyungsoo hanya membalas singkat, "Do Kyungsoo." Ravi memuji kecantikan Kyungsoo dan satu percakapan mengalir pada satu sesi ciuman panas. Setidaknya bagi Ravi, karena Kyungsoo tidak merasakan apa pun. Bibir Ravi menjepit bibir Kyungsoo dengan rakus. Gerakannya begitu kasar dan lapar, diiringi geraman penuh hasrat. Kyungsoo memejamkan mata demi menenangkan jantungnya yang berdetak dalam mode panik.
Meletakkan tangannya pada bahu Ravi, Kyungsoo membawa dirinya yang malam ini berbalut gaun hitam mini mengangkangi Ravi. Celana dalam sutranya bertumbukan dengan bagian depan celana jeans Ravi. Kyungsoo berusaha menelan rasa jijiknya, tetap membiarkan Ravi menciumnya. Ravi mengerang lebih keras, membiarkan Kyungsoo mengambil alih. Otaknya tak lagi bisa diandalkan dan satu-satunya hal yang ia mengerti adalah kebutuhannya untuk menyetubuhi Kyungsoo dengan kasar dan keras. Menyetubuhi atau disetubuhi, Ravi sudah tidak peduli. Yang terpenting ia bisa menemukan pelepasan dengan Kyungsoo.
Ini bukan sesuatu yang pernah dirasakannya. Ia adalah pria yang amat berpengalaman, namun gadis mungil di pangkuannya ini berbeda. Gadis itu mampu membuatnya tak berdaya. "Oh, sial. Kau benar-benar seksi." geram Ravi. Mata cokelat terang Kyungsoo menggelap melihat reaksi Ravi. Alarm tanda bahaya menggema jelas dalam benak Kyungsoo. Ia segera melepaskan pelukan Ravi di tubuhnya, lalu meloncat turun dari pangkuan Ravi dengan anggun. Ekspresi wajahnya sedatar permukaan es.
Ravi membuka mata protes, namun belum sempat ia mengatakan apa pun, seorang gadis bergaun ungu menyiramnya dari belakang dengan segelas penuh bir. Kericuhan segera terjadi karena gadis itu berteriak histeris. Ia bahkan mencoba memukul Kyungsoo, namun Ravi menahannya.
"Hentikan. Kau membuat kita menjadi pusat perhatian." desis Ravi.
"Bajingan! Kau mengkhianatiku tepat setelah melamarku! Keparat! Kau pria kotor!" jerit gadis bergaun ungu itu dengan air mata mengalir deras.
"Ini tidak seperti yang kau bayangkan. Kau salah paham." bujuk Ravi dengan nada menenangkan.
"Pembohong! Aku melihatmu sejak kau menghampiri pelacur ini! Kalian menjijikkan! Jika aku tidak datang, kalian pasti sudah melakukannya di sini!" balasnya kalut. Ravi mencoba menjelaskan, namun gadis itu tak mau mendengarnya dan terus memaki dengan segala kosakata kasar yang dimilikinya.
Kyungsoo tetap tidak menunjukkan reaksi apa pun. Ketika Minseok dan dua temannya yang lain menghampiri dengan mata terbelalak maksimal, barulah Kyungsoo tersenyum. Senyum yang tidak mengandung apa pun.
"Terima kasih untuk malam ini, Ravi-ssi. Ciumanmu buruk dan kau jauh dari harapanku. Kau bahkan tidak berhasil membuatku basah. Semoga kau bisa mendapat pelepasan yang hampir kau dapatkan tadi. Mungkin setelah kau menjinakkan calon istrimu itu. Selamat tinggal." ucap Kyungsoo tenang. Kyungsoo melangkah menjauhi jeritan gadis bergaun ungu masih dengan satu senyum itu. Senyum yang menjadi lambang kekosongan hatinya.
...
"Demi Tuhan, Do Kyungsoo! Apa yang sebenarnya kau pikirkan? Kau baru saja menghancurkan hidup seorang gadis demi kegundahan hatimu semata. Tidak bisakah kau memilih pria lain? Astaga, ada ratusan pria di bar itu, Kyungie!" jerit Minseok di seberang telepon. Kyungsoo tetap berkonsentrasi pada jalan di hadapannya.
Suara Minseok menggema jelas di telinganya, namun ia tidak peduli. Meski malas mendengar omelan Minseok, Kyungsoo tidak bisa mematikan sambungan telepon karena Minseok akan murka. Dan percayalah, Minseok yang murka jauh lebih berbahaya dari induk beruang yang mengamuk. Kyungsoo sudah pernah melihatnya.
"Berapa kali lagi harus kukatakan padamu bahwa aku tidak tahu ia telah bertunangan?" sahut Kyungsoo datar.
"Seharusnya kau bertanya sebelum mulai memperdaya pria itu di bawahmu! Jangan mencoba membela diri, Do Kyungsoo. Aku melihat apa yang kau lakukan. Memang pria itu yang menggodamu, namun kau memberinya kesempatan. Kau juga bersalah dalam hal ini, kau tahu?"
"Aku tahu, Minnie eonni. Sungguh. Lagi pula itu hanya sebuah ciuman. Tidak berarti apa-apa. Bisakah aku kembali menyetir dengan konsentrasi penuh? Kau bisa melanjutkan omelanmu besok." ucap Kyungsoo lelah.
"Mianhae Kyungie! Aku tidak bermaksud memarahimu. Kau tahu aku hanya terlalu mendramatisir. Hati-hati, Kyungie. Dan jangan berhenti di bar mana pun. Sampai jumpa." balas Minseok. Kyungsoo melepas earphone dengan helaan napas panjang. Titik-titik air mulai membasahi kaca mobilnya dan Kyungsoo mengeryitkan kening. Ini sudah tengah malam. Meski tahu bahwa negara beriklim subtropis ini suka menurunkan hujan seenaknya, Kyungsoo tidak berharap mendapatkan hujan ketika ia berada di jalan bebas hambatan seperti ini.
Ketika hujan turun semakin deras, Kyungsoo kesulitan melihat jalan di depannya. Seakan kesialan tak henti menghampirinya, mobil Kyungsoo berhenti secara tiba-tiba. Kyungsoo keluar dari mobil, melihat ke empat roda bannya yang baik-baik saja, lalu membuka kap mobil. Tidak ada yang nampak aneh bagi Kyungsoo, tentu saja, karena ia benar-benar buta mengenai mesin. Kyungsoo melihat sekelilingnya yang sepi. Hanya ada beberapa mobil yang melewatinya, itu pun dengan jangka waktu yang lama. Ketika melihat penunjuk jalan di atasnya, Kyungsoo ternganga. Teringat bahwa ia mengambil rute memutar di jalan bebas hambatan ini setelah keluar dari bar tadi. Ia hampir mencapai kota Incheon sementara apartemennya berada di Gangnam. Perjalanannya masih jauh dan hari sudah hampir menjelang pagi.
"Oh, tidak." bisik Kyungsoo. Air hujan kini membasahinya dengan sempurna. Gaun hitamnya melekat hingga menyerupai kulit kedua dan Kyungsoo memejamkan matanya. Ia harus bisa mencari cara untuk kembali ke apartemen secepatnya. Ia tidak boleh panik. Ia tidak akan panik. Namun Kyungsoo takut. Kegelapan adalah hal yang amat dibenci Kyungsoo. Bayang-bayang seakan bersiap memangsanya. Membawanya menuju mimpi buruk tak berkesudahan.
"Do Kyungsoo?" Kyungsoo membalikkan tubuh seketika. Membelalak ketika melihat sesosok tubuh tegap dengan wajah rupawan yang tadi siang ditinggalkannya.
Kim Jongin.
"Kau baik-baik saja?" tanya Jongin seraya menghampiri Kyungsoo. Payung hitam di tangannya kini terulur untuk memayungi Kyungsoo.
"Mobilku mogok." jawab Kyungsoo, tak peduli jika jawabannya tidak berhubungan dengan pertanyaan Jongin.
"Ambil barang-barangmu. Aku akan mengantarmu." ucap Jongin. Kyungsoo mengikuti perintah Jongin, lebih karena terpaksa. Kepalanya mulai berdenyut dan suka atau tidak suka, Kyungsoo harus mengakui bahwa hanya Jongin yang dapat menolongnya saat ini. Setidaknya Kyungsoo tahu Jongin tidak akan menyakitinya.
"Di mana rumahmu?" tanya Jongin seraya menyalakan pemanas mobil. Kyungsoo menggosok kedua telapak tangannya, menggumam terima kasih ketika Jongin menyampirkan jasnya, lalu memberitahu alamat apartemennya.
"Jaraknya hampir dua jam dari sini. Apa yang kau lakukan di daerah ini, Kyungsoo?" tanya Jongin bingung.
"Aku tidak tahu. Hanya menjalankan mobilku ke sembarang arah." jawab Kyungsoo datar. Jongin menggelengkan kepala. Gadis di sisinya ini sungguh tidak bisa ditebak. Siang tadi ia ditinggal begitu saja entah atas alasan apa dan kini gadis itu terdampar di sisi berseberangan dari tempat tinggalnya dengan alasan tidak tahu pula.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa kita ke sini?" tanya Kyungsoo bingung. Mobil Jongin memasuki gerbang perumahan mewah tak jauh dari pintu keluar tol. Desain rumah-rumah di dalamnya begitu mengagumkan dan tidak ada yang serupa, hingga tanpa sadar Kyungsoo terpesona dan hampir tidak mendengar jawaban Jongin.
"Aku tinggal di sini. Kau harus ganti baju. Aku tidak mau kau duduk dengan baju basah kuyup selama dua jam." jawab Jongin.
"Aku ingin pulang."
"Aku akan mengantarmu. Setelah kau berganti baju. Ayo turun." Kyungsoo tidak mendebat Jongin dan lagi-lagi mengikuti pria itu. Mereka melewati sebuah halaman depan sederhana berumput hijau. Begitu Jongin membuka pintu rumahnya, Kyungsoo mendapat suguhan berupa bagian ruang tamu yang terlihat maskulin.
"Kamar mandinya di sebelah sana. Aku akan mengambil baju ganti untukmu." ucap Jongin. Kyungsoo mengangguk. Tubuhnya mulai menggigil dan ia melangkah cepat memasuki kamar mandi. Begitu menyalakan air hangat dari shower, Kyungsoo mendesah lega. Ia melepas seluruh pakaiannya dan mulai meneliti kamar mandi itu. Hanya ada barang-barang kebutuhan dasar, yang kelihatan belum pernah tersentuh. Tentu saja, karena Jongin pasti menggunakan kamar mandi yang ada di kamarnya.
Ketukan di pintu menghentikan lamunan Kyungsoo. Dengan cepat ia mematikan shower dan mengenakan handuk yang terlipat rapi di samping wastafel. Kyungsoo membuka pintu kamar mandi sedikit, lalu mengintip dari celahnya.
"Maaf, hanya ini yang kumiliki. Berikan pakaianmu, aku akan mengeringkannya." kata Jongin seraya mengulurkan sebuah sweetshirt. Kyungsoo menerima sweetshirt itu, lalu menutup pintu.
"Terima kasih. Tapi tidak perlu. Aku akan mengeringkannya sendiri." sahut Kyungsoo.
"Aku tunggu di dapur." balas Jongin. Kyungsoo menatap bayangannya di cermin dan tersenyum. Ia tampak konyol dengan sweetshirt yang kebesaran dan hanya mencapai pertengahan pahanya. Namun Kyungsoo merasa hangat. Aroma yang menguar dari sweetshirt itu juga menenangkan Kyungsoo. Kyungsoo keluar dari kamar mandi dan mengeringkan pakaiannya di mesin cuci.
Setelah itu ia menghampiri Jongin yang sibuk membuat kopi di dapur. Pria itu sudah berganti pakaian dengan kaus dan jeans. Nampak sangat santai dan tetap membuatnya menawan.
"Terima kasih untuk pinjaman bajunya." ucap Kyungsoo seraya duduk di kursi pantry. Jongin meletakkan secangkir kopi hitam di hadapan Kyungsoo, mengangguk.
"Kau baru pulang dari kantor?" tanya Kyungsoo membuka percakapan. Tiba-tiba ia merasa tidak nyaman dengan keheningan. Itu bohong. Kyungsoo hanya ingin mendengar suara Jongin, untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa pria di hadapannya sungguh nyata.
"Tidak. Aku pergi untuk menemui adikku. Ia datang ke sini satu minggu yang lalu, namun menolak untuk tinggal bersamaku. Jadi setiap kali ingin bertemu dengannya, aku akan datang ke apartemen temannya tempat ia menginap." jawab Jongin. Melihat Kyungsoo dalam balutan sweetshirtnya membuat Jongin merasa geli. Gadis itu seakan tenggelam di dalamnya, dan nampak begitu menggemaskan. Bahkan meski wajahnya tetap tak terisi ekspresi, Jongin dapat menemukan ketenangan di sana. Kyungsoo merasa nyaman dengannya.
Segala pikiran Jongin hancur berantakan ketika Kyungsoo turun dari kursinya dan melangkah mendekatinya. Kaki jenjang Kyungsoo terekspos dalam cara yang seharusnya ilegal dan jemari mungilnya dicat biru muda. Jongin lupa bernapas selama beberapa detik, lalu menyadari bahwa Kyungsoo menanyakan sesuatu.
"Di mana krim dan gula?" ulang Kyungsoo.
"Di lemari itu. Biar aku ambilkan." jawab Jongin.
"Aku bisa mengambilnya sendiri." protes Kyungsoo. Ia bersikeras menjangkau lemari yang berada di atas kepalanya. Namun Kyungsoo terlalu pendek untuk bisa meraih stoples berisi gula, bahkan setelah ujung-ujung jemari kakinya berjinjit. Jongin memeluk tubuh Kyungsoo dari belakang dengan sigap, lalu meraih stoples itu dengan tangan kanannya. Jongin tidak menyadari gerakan yang telah dibuatnya, hingga ia mendengar napas tercekat Kyungsoo dan merasakan lekuk lembut tubuh Kyungsoo menempel padanya.
Telapak tangan kirinya berada tepat di bawah payudara Kyungsoo, membuat Jongin dapat merasakan dengan jelas bentuknya yang hanya tertutup sweetshirt. Secepat kilat Jongin menarik tangannya, namun ia justru menyentuh puncak payudara Kyungsoo. Erangan lembut bergetar di tenggorokan Kyungsoo dan Jongin mengatupkan rahangnya kuat-kuat. Kyungsoo berbalik dengan pipi bersemburat merah. Tangannya terkepal di sisi tubuhnya dan ia tidak sanggup menatap Jongin. Kyungsoo tahu dengan pasti Jongin mendengar erangannya.
Namun Jongin tetap melepasnya, bahkan mengambil satu langkah mundur. Ketika akhirnya memberanikan diri untuk menatap Jongin, Kyungsoo merasa mulutnya kering. Jongin sedang menatapnya lekat. Bukan dengan tatapan sopan seperti biasanya, namun murni tatapan seorang pria yang menginginkan gadisnya. Selama ini Jongin bahkan tidak pernah melirik bibirnya, selalu menatap matanya tanpa ragu ketika berbicara. Dan kini jantung Kyungsoo berdebar keras. Ia tidak tahu seorang pria bisa membuatnya merasa seperti ini hanya dengan tatapan. Jongin berdeham, lalu mengalihkan pandangannya dari Kyungsoo.
"Aku akan mengantarmu pulang." ucapnya dengan nada tenang yang dipaksakan. Kyungsoo mengangguk dan sekali lagi mengikuti Jongin.
.
.
.
.
.
TBC
Lanjut / Delete
Review juseyooo ^^
#Oh Hani#
.
.
Big Thanks For :
Teaser
MissPark92 | chocohazelnut07 | Kaisoo32 | anaknya chansoo |
reru95 | kysmpppprt | kaisoodyo
Chap 1
chocohazelnut07 | Kaisooship | 12154kaisoo | yixingcom | kim fany | dodyoleu | sehunsdeer | SweetyKamjong | fitri22exo
Chap 2
kim fany | Uchiha Annie | Kaisooship | fitriaulfa8896 | Anna401
| Lovesoo | overdyosoo | sushimakipark
Review juseyooo ^^
.
.
Many Silent Readers, FF will be DISCONTINUED and DELETE
