Being a cool man
Main Cast :
-Oh Sehun
-Luhan as girl
Other cast :
-Irene
-Chanyeol
-Kai
Summary : Luhan hanya ingin membantu nasib percintaan Sehun dengan cara mengubah pria itu menjadi pria yang tampan dan keren. Bukannya mendapat sebuah tamparan di pipinya sehingga ia harus kehilangan sahabatnya.
/"Tidak ada cinta sebagai sahabat antara laki-laki dan perempuan. Lebih baik kau menjauh dan jangan dekati Sehun lagi"- Irene / "Maafkan aku"- Sehun/ "Gwenchana"- Luhan.
Rate : T
Disclaimer : Cast dalam cerita ini sepenuhnya milik Tuhan. Terutama Sehun, setengahnya milik saya, hehe *plak* But, this story is Mine. FF ini murni asli pemikiran saya.
Warning : awas typo nyempil.
.
.
.
.
Happy reading
Ps. Doa dulu sebelum dibaca.
.
.
.
Chapter 4
.
.
Dua minggu setelah kepergian Luhan yang tak Sehun ketahui kemana, ia telah kembali seperti Sehun pada biasanya. Kembali berkumpul dan tertawa pada teman-teman disekolahnya. Berita Lab kimia yang terbakar telah sepenuhnya hilang walaupun masih ada sedikit murid yang masih menggosipkan tentang kejadian tersebut.
Di kantin, Sehun bersama Irene sedang menyantap makanan mereka dan diisi sedikit obrolan kecil. Tiba-tiba siswi yang duduk berseberangan sebelahnya berbicara topik yang paling ia benci.
"Aku merindukan Luhan sunbae-nim" ujar gadis berambut coklat
"Aku juga. Biasanya ia selalu ada diruang musik, bernyanyi sambil memainkan musik. Hh~ seandainya aku punya mesin waktu. Aku ingin memundurkan waktu dan mencari tahu penyebab kebakaran lab kimia itu terjadi"
"Aku juga sama. Tidakkah kau merasa jika ini aneh, bagaimana mungkin bisa pintu terkunci disaat tidak ada siapapun lagi disekolah"
"Kau benar. Dan anehnya kuncinya dibiarkan lengket di pintu. Jika memang penjaga sekolah yang mengunci pasti ia tidak akan meninggalkan kuncinya melengket di pintu bukan?"
Irene yang mendengarnya mendadak tegang. Sebelumnya Seulgi tak pernah cerita jika ia meninggalkan kunci pintu lab. Anak itu, kenapa ia sangat teledor
"Haruskah kita menyelidikinya?"
"Percuma saja, berita itu tidak lagi di ungkit"
Mereka berdua menghela nafas lalu beranjak pergi dari sana karena telah selesai makan.
Irene mengintip Sehun dari ujung matanya. Bohong jika Sehun tak mendengar, pria itu pasti juga mendengarnya. Tapi Irene tersenyum melihat Sehun yang tetap melanjutkan makannya dengan tenang.
Yaa, Irene yakin sepertinya Sehun tak terlalu mempermasalahkan lagi kejadian kemarin. Rencananya sangat berhasil.
.
.
.
Chanyeol dan Kai menyuruh Sehun untuk ke rooftop saat ini karena guru yang mengajar sedang halangan hadir. ada yang ingin dibicarakan oleh mereka berdua. Ini penting dan Sehun harus tahu semuanya.
Sehun dengan langkah pelan dan wajah datar mengikuti mereka dari belakang. Mereka melewati Lab kimia yang terbakar. Kaca Lab itu pecah, dindingnya sebagian rubuh. Atapnya sepenuhnya terbakar. Sehun memandangnya sedih, kembali teringat akan Luhan yang kesulitan keluar dari sana. Sementara dirinya sibuk berbahagia bersama Irene.
Manik matanya menyipit tatkala ia melihat sesuatu yang familiar tergeletak di lantai tepat depan pintu yang terlepas dari engselnya. Ia melangkah mendekat dan menemukan sebuah gelang perak berbandul bulan. Bukankah itu gelang yang pernah Sehun berikan pada Luhan sebagai hadiah ulang tahunnya.
Sehun mengambil gelang tersebut dan menggengamnya erat. Dilihat bagaimana bentuk gelang itu terjatuh sepertinya gelang itu memang disengaja dilepas oleh Luhan
Maafkan aku, Lu
.
.
.
Dirooftop
"Apa yang ingin kalian bicarakan?" Tanya Sehun langsung to the point.
"Putuskan Irene" ucap Kai singkat
Sehun mengernyitkan dahinya "Apa maksud mu?"
"Kau telah salah memilih Irene, ia perempuan jahat"
"Aku tak mengerti apa yang kau bicarakan Kai. Bagaimana mungkin bisa kau berpikiran jika irene itu jahat"
"Kejadian lab terbakar itu adalah ide Irene" sahut Chanyeol.
Sehun terdiam lalu tertawa geli "apa lagi ini? Apa kalian berusaha memisahkan aku dengan Irene? Kalian tak senang jika aku berpacaran dengannya?"
"Bukan begitu Sehun. Apa yang kami bicarakan itu benar. Memang kenyataannya seperti itu. Irene menyuruh Seulgi untuk menjebak Luhan dalam Lab"
Sehun masih tak percaya, tak mungkin Irene-nya berbuat seperti itu. Ia jelas mengenal Irene. perempuan itu sangat baik.
"Tidak mungkin. Ini pasti akal-akalan kalian bukan. Jika memang benar apa buktinya?"
Kai dan Chanyeol membeku. Masalah bukti mereka memang tak bisa memberikan pada Sehun. Karena bukti mereka adalah Seulgi.
Flashback
Chanyeol yang mengetahuinya duluan karena ia masih ada disekolah waktu itu. Ketika hendak pulang Chanyeol tak sengaja mendengar percakapan Seulgi dan seseorang di telfon membuatnya merasa curiga. Tapi sayangnya Chanyeol tak bisa menyeledikinya, tiba-tiba ia mendapat telfon dari wali kelasnya untuk mengambil buku absen yang tertinggal di kelasnya terpaksa ia harus berbalik dan kembali kekelasnya.
Sekembalinya Chanyeol dari kelas, matanya membulat melihat asap yang berterbangan. Ia mengikuti dari mana asal asap tersebut dan terkejut melihat lab kimia yang kini telah terbakar. Tangannya gemetar meraih ponsel dalam saku nya dan menelfon pihak pemadam kebakaran setelahnya ia menelfon wali kelasnya dengan suara yang gemetar. Di tempat Chanyeol tak tahu apa yang harus ia lakukan. Mata phoenix nya tak sengaja melihat sebuah gelang yang tergeletak disana.
Gelang itu?
Astaga, Luhan!
Memberanikan diri Chanyeol mendekati lab Kimia, pria itu menggedor pintu dan memanggil nama Luhan namun tak ada jawaban. Malah asap makin bertambah banyak. Ia berusaha membuka pintu namun sayang terkunci, ia baru tersadar jika kunci itu masih melengket dipintu. Dengan buru-buru ia memutar kunci pintu dan berhasil membuka pintu. Langsung saja kumpulan asap itu menerjang wajahnya membuatnya batuk. Matanya membola melihat Luhan yang tergeletak tak berdaya dilantai sementara Api semakin membesar.
Chanyeol segera mengangkat tubuh Luhan dan membawanya keluar. Ia membaringkan Luhan lumayan jauh dari sana dan mengecek denyut nadi Luhan yang mulai melemah. Chanyeol merogoh saku nya dan mengambil ponselnya dari sana. Ia segera menghubungi rumah sakit. Luhan dalam kondisi yang sekarat saat ini.
" Luhan kumohon bertahanlah" katanya
Beruntung tak membutuhkan waktu lama pemadam kebakaran dan wali kelasnya telah datang disusul dengan suara sirine ambulance.
Luhan telah dibawa ke rumah sakit dengan wali kelasnya yang ikut mengantar sementara dirinya masih di sekolah. Ia berusaha menelpon Sehun tapi panggilannya tak dijawab, jadinya Chanyeol menelpon Kai dan memberitahukan jika Luhan masuk rumah sakit dan menyuruh Kai mengabari orang tua Luhan.
Keesokannya,
Kai memberitahu Chanyeol jika Luhan dibawa ke Jerman dan menyuruhnya untuk tak memberitahu Sehun. Kai juga bercerita jika Sehun dirawat dirumah sakit karena pria itu tiba-tiba saja pingsan setelah berteriak menangisi Luhan yang pergi. Pria tan itu juga menjelaskan tentang penyakit Luhan yang telah lama ia derita.
Tanpa sadar tangan Chanyeol mengepal. Ia marah tentu saja, meski ia tak dekat dengan Luhan tapi perempuan itu adalah orang pertama yang dapat mengambil hatinya. Ia harus segera menemui Seulgi dan meminta penjelasan dari perempuan itu.
Tapi sayangnya Chanyeol yang keburu diliputi amarah tak sempat menyiapkan sesuatu sebagai bahan bukti. Ia terlanjur menyudutkan Seulgi dan membuat perempuan itu mengaku, hanya saja Chanyeol baru tersadar jika ia terlalu terburu-buru tanpa sempat menyiapkan bukti.
Dan semenjak hari itu Seulgi sulit ditemui Chanyeol. Perempuan itu selalu bersembunyi ketika di cari dan Irene selalu saja melindungi Seulgi
Flashback off
"Benarkan. Ini hanya akal-akalan kalian." Sehun berbalik dan pergi dari sana sebelum sempat Kai mencegahnya.
Pintu rooftop tertutup. Sehun masih berdiri di tangga dengan mata tertutup dan menghela nafas pelan. Baru setelah itu ia turun kebawah kembali ke kelasnya.
Perkataan Kai dan Chanyeol tadi masih terngiang dipikirannya. Ia berusaha untuk tak percaya tapi kenapa hati kecilnya mengatakan jika mereka tak bohong. Sorot mata mereka berdua pun terlihat jujur tak ada kebohongan ketika Sehun menatap mereka.
"Seulgi-ya, lain kali jangan tinggalkan kunci melengket di pintu"
Langkah Sehun berhenti. Bukankah itu suara Irene apa yang sedang dibicarakan olehnya.
"Maafkan aku. Aku sangat takut jika ketahuan"
"Gwenchana, yang terpenting rencana kita berhasil. Perempuan itu telah pergi dari kehidupan Sehun"
Sehun mengernyit
Perempuan itu?
"Kau yakin dia telah sepenuhnya pergi"
"Jika dia kembali, aku hanya perlu memusnahkannya. Luhan, wanita itu tak pantas berada didekat Sehun. Aku akan dengan senang hati memisahkannya dari Sehun jika perlu aku membunuhnya saja"
BRAKK
Kedua siswi itu menoleh kearah pintu yang dibuka keras dan terkejut melihat sosok yang ada didepan pintu. Irene menelan ludah payah melihat Sehun yang sangat berbeda dari biasanya. Mata pria itu menyalang merah kentara sekali jika ia sangat marah. Ketakutan mulai menghampiri Irene, perempuan itu tak dapat melakukan apapun selain diam terkaku ditempatnya.
"Kau! Benar kata Kai kau memang wanita jahat. Kita akhiri sampai sini dan jangan pernah menghubungi ku lagi" kata Sehun dingin sarat akan kemarahan. Tampak sekali jika ia sangat marah. Irene berusaha mengejar Sehun dan memberikan penjelasan tapi yang ada tangannya ditepis kasar oleh Sehun sehingga Irene terjatuh. Tapi Sehun tak memperdulikannya dan terus berjalan pergi dengan emosi penuh meliputinya.
.
.
.
Dan disinilah Sehun berakhir.
Di perpustakaan sekolah.
Ia merasa kecewa, marah, dan kesal. Perasaannya campur aduk hingga ia tak tahu lagi apa yang sedang dirasakannya saat ini. Ia terduduk disalah satu rak buku dalam perpustakaan. Sehun memang tak menangis tapi yakinlah hatinya sangat sakit saat ini. Tidak ada yang lebih menyakitkan ketika kau mengetahui semua kebohongan terbongkar didepan matamu sendiri.
Tangannya merogoh saku celananya dan mengambil gelang perak milik Luhan yang ia temui tadi.
"Saat kau tak jujur pada hati mu, rasa sakit akan memberi jawabannya. Saat kau tak sanggup menahan rasa sakit itu, menangislah. Kau tak bisa terus-terusan menyimpan rasa sakit itu dalam hati mu. Lagipula tak ada larangan bagi seorang pria untuk menangis bukan?"
Perkataan Luhan kembali terngiang dikepala Sehun. Perlahan air mata itu mulai turun. Ini kedua kalinya Sehun menangis seumur hidupnya dan yang ia tangisi adalah orang yang sama. Yaitu-
Sahabat terbaiknya.
Luhan
To be continue
Nah kan. Tuh makanya Hun
Gimana nih? Makin jelek ya? Makin ga jelas banget. Iyekan iyekan?
Maapkan daku huhu
Reviewnya jangan lupa ya
Thengseu thengseu (?) *hehe, itu bahasa baru dari planet sebelah*
ILY
