o. organ. [au]

soonyoung dan jihoon itu seperti dory dan marlin. kalau tidak tahu siapa marlin, itu ayahnya nemo. soonyoung seperti dory yang suka kemana-mana, berisik, dan jihoon seperti marlin, yang suka menggerutu. apalagi kalau soonyoung mulai tebar pesona kemana-mana. tidak tahu kenapa sih, tapi suasana hati jihoon suka buruk kalau melihatnya.

selain itu, soonyoung juga sering mengolok-olok hal sensitif dari jihoon—tingginya. kalau mereka ada pelajaran renang, yang lain berada di kolam 1,6 meter dengan santai, sementara jihoon harus berpegangan di sisi kolam. lalu soonyoung akan terbahak-bahak dengan kejam dan jihoon akan jadi olokan sekelas.

"kau bisa apa?" soonyoung suka bilang begitu kalau jihoon tidak bisa menangkap operan bola sepak darinya. jihoon kesal, ia melempar bola itu sampai kena soonyoung. pemuda dengan mata yang ujungnya naik itu berakhir di uks karena setengah wajahnya merah dan panas dan harus diberi salep.

suatu hari yang panas. soonyoung jalan, menggigit es krim tangkainya yang dibeli di kantin—lebih ke mengutang dulu karena ia lupa bawa uang. ia melihat seseorang yang membawa kertas-kertas berjalan. walaupun dari belakang, ia tahu itu jihoon. siapa lagi lelaki yang pendek dan berambut merah muda seperti itu?

"jihoon!" panggilnya. si pendek itu menoleh, mengernyit. "apa itu?"

"ini?" jihoon mengangkat kertasnya. "partitur."

"oh?" soonyoung menarik es krim dari mulutnya. "partitur? untuk apa?"

"untuk…" jihoon menatap soonyoung, ragu-ragu. "pentingnya apa memberitahumu?"

"aih! jihoon lucu sekali!" soonyoung menjewer pipi jihoon dengan tangan kirinya yang kosong, sebenarnya ia agak kesal karena jihoon tidak mau menjawab. setelah jihoon memekik seperti perempuan, barulah soonyoung kabur untuk menghindari pukulan sakit dari jihoon.

beberapa hari kemudian, soonyoung baru selesai main sepak bola dengan mingyu dan timnya. soonyoung yang menyimpan alat mandi di lokernya memutuskan untuk mandi. jadi begitu sampai rumah, ia bisa langsung tidur. setelah mandi, ia harus melewati ruang musik untuk kembali ke loker. tapi dari ruang musik terdengar denting organ, jadi soonyoung memutuskan untuk duduk di bangku depan ruang musik untuk melipat baju kotornya dulu dan menikmati organ itu.

ternyata ada suara juga yang mengiringi si organ. soonyoung tersenyum, lagi latihan rupanya.

suara nyanyian. soonyoung tahu ini lagu winter child. soonyoung juga suka lagu ini.

ia menyenandung juga, pelan sih.

setelah itu, ia baru sadar suara siapa itu.

"suara jihoon?" bisiknya. ia berdiri, mengalungkan tasnya di satu lengan. mengintip dari luar pintu ruang musik yang, klisenya, terbuka sedikit. ada kilasan rambut merah muda yang terlihat. soonyoung mendorong pintu itu agar terbuka lebih lebar, dan jihoon yang sedang bermain organ—langsung terlihat dalam matanya.

jihoon, selalu merasakan kehadiran orang lain, langsung menghentikan permainannya dan menatap ke belakang, pandangannya bersirobok dengan milik soonyoung yang berdiri di pintu seperti orang bodoh.

"apa?"

soonyoung mendesah tanpa sadar—jihoon masih saja galak.

"aku baru tahu, kau bisa main organ sampai seperti itu." kata soonyoung, mendekat. jihoon bisa melihat sepatu bolanya lalu menyimpulkan kalau soonyoung habis berlatih.

"aku baru tahu kau bisa membedakan organ dan piano."

"apa? jahat sekali," soonyoung memelas. jihoon hanya mengangkat bahu, menekan tuts organ sehingga bunyi nada yang sama terdengar beberapa kali.

"habisnya orang suka bilang ini piano. dan lagi… memangnya kau tahu tadi lagu apa?"

"winter child. kau sering menyanyikannya." jawab soonyoung. "aku sudah diluar lama, tapi baru masuk. ternyata jihoon yang main."

"iya." setelah itu, jihoon terdiam merasa canggung. biasanya soonyoung tidak bicara dengan nada lembut seperti itu, kalau sekarang ia berkata dengan nada itu, rasanya jadi aneh. jihoon lebih bisa berteriak pada soonyoung daripada menjawab sesuatu yang seperti ini.

"jihoon, kau kelihatan sangat mengagumkan tadi."

jihoon mengernyit. "biasanya tidak?"

"'kan tadi 'sangat' mengagumkan. kalau biasanya sih, mengagumkan saja cukup."

jihoon ingin memukulnya karena telah mengatakan hal-hal yang tidak masuk akal dan membuat pipinya panas. soonyoung menyeret kursi agar bisa duduk di dekat jihoon. "ayo main lagi, aku ingin dengar."

"kenapa aku harus memainkan untukmu?"

soonyoung tertawa. "kau tidak sadar? suasana di antara kita jadi begini. damai sekali. aku suka. jihoon juga mengagumkan. makanya, ayo, main lagi."

jihoon, baru kali itu, bisa mengulum senyum dengan manis sekali.

"aku juga suka." katanya pelan. berharap-harap soonyoung tidak mendengar, tapi nyatanya mereka hanya berdua, jadi senyap sekali.

"apa? suka aku?"

jihoon malah menjawab, "aku akan memainkan winter child untukmu."

soonyoung menyadari sesuatu, lalu ia berkata. "kupikir kau pernah bilang mau menyanyikan winter child untuk orang yang kau suka."

jihoon tersenyum, ternyata soonyoung masih ingat.

"kalau kau tahu begitu, syukurlah, aku jadi tidak perlu mengatakannya lagi."


n. nangis. [au]

jihoon harus merespon keras sekali melebihi seungkwan ketika wonwoo mengatakan padanya hal-hal seperti ini; "kata soonyoung, kau seperti tidak peduli padanya."

"apa?!"

wonwoo mengangkat bahu. "tidak tahu. kata soonyoung sih seperti itu. apa kalian sedang ada masalah?"

jihoon menggeleng-geleng, malas menceritakan kalau sebenarnya ia dan soonyoung sudah tidak bicara selama tiga hari karena ia terlalu sibuk dengan keadaan di studio—yah, ada yang mau debut—dan soonyoung yang sibuk dengan pekerjaannya di kantor baru. "kami sama-sama sibuk."

lalu wonwoo tahu apa yang jadi masalah. kalau sudah sibuk, jihoon jarang bisa diganggu. kalau bisa pun, ia akan marah karena diganggu. "kau pasti tidak menjawab pesan-pesan dari soonyoung."

jihoon menghela nafas keras. "aku sib—"

"hei," wonwoo mendekat. "yang namanya sibuk itu tidak ada, tahu? adanya prioritas. sesibuk apapun kau, kalau soonyoung ada di prioritas atas, pasti kau mendahulukan ia daripada yang lain."

jihoon benci karena wonwoo masuk akal sekali. ia tidak punya argumen apa-apa dan sedang malas membuat argumen karena lelah. kalau saja wonwoo tidak memaksanya untuk datang ke kafe, pasti sekarang jihoon sudah tidur di atas kasurnya.

"soonyoung tidak selamanya bisa sabar lho." wonwoo menggumam. "sepertinya aku juga agak dengar kalau ia akan melepasmu jika kau—"

jihoon mengernyit, merasa terganggu. "apa?! hanya karena aku sibuk?!"

"justru karena kau sibuk melulu." wonwoo memutar bola matanya malas. "pokoknya kalau kau sibuk terus, ia akan pasrah saja."

"ah, sesukanya! aku tidak peduli!"

jihoon berdiri dari tempat duduknya dan wonwoo hanya melihat ia melenggang keluar. tidak ada gunanya mengejar jihoon kalau keadaan hatinya sudah kacau seperti ini. tapi jihoon sebenarnya tidak seperti ini. mungkin ini efek kelelahan, dan wonwoo memberitahu di timing yang tidak tepat.

begitu jihoon sampai apartemennya, ia tidak langsung tidur tapi ingin berendam dulu.

ternyata berendam beberapa menit mampu membuat jihoon kembali merasa rileks. ah, jika soonyoung ada di sini, pasti ia akan menawarkan pijatan di bahunya yang tegang. jihoon mau tidak mau merasa rindu juga. mungkin ia merasa melankolis begini karena apartemennya sepi, lepas dari suara-suara berisik soonyoung.

jihoon selesai berendam dan ia pakai baju lagi, khas longgar-longgar. bersandar pada bed-rest dan mengambil ponselnya. ia tidak benar-benar serius saat tadi bilang tidak peduli.

ia mengirimkan pesan pada wonwoo; apa yang harus kulakukan. aku tidak mau lepas dari soonyoung.

butuh enam menit bagi wonwoo untuk membalas; prioritaskan ia, hoon.

jihoon mengirim pesan lagi; apa yang harus kulakukan…

wonwoo berkata; mungkin kau bisa membelikannya kue dan ini dan itu.

wonwoo menulis lagi; aku mau tidur. semangat, hoon!

jihoon hanya mengirim emoticon menangis karena tidak tahu harus berbuat apa.

selama beberapa menit, ia masih belum bisa tidur. rasanya jihoon ingin menangis. suara wonwoo terngiang di otaknya. apa benar soonyoung akan menyerah padanya saja? apa benar semudah itu?

jihoon merasakan kepalanya mulai sakit karena kurang tidur, jadi ia memutuskan untuk tidur saja walaupun hatinya seperti tinggal setengah.

paginya, ia mengirim pesan pada bumzu, minta izin ambil cuti sehari. seharusnya, tanpa jihoon, bumzu bisa mengurusnya. untunglah bumzu menyetujui, jadi jihoon bisa tidur lagi selama beberapa waktu. ketika sudah dua jam, ia bangun dan memutuskan untuk mandi. jihoon tidak berendam jadi ia hanya mandi saja.

setelah itu ia mengirim pesan pada mingyu untuk mengirimkan resep seafood. mingyu mengirimkannya.

jihoon memakai kemeja putihnya yang longgar dan celana hitam. ia membawa tas selempang yang terisi oleh barang-barang seperti dompet dan ponsel. jihoon keluar dari gedung apartemennya dan berjalan menuju supermarket dekat tempatnya. ia membeli bahan-bahan sup seafood. setelah itu, jihoon naik bis, menuju apartemen soonyoung.

ia mengirim pesan pada soonyoung, mencoba mengalahkan gengsinya; soonyoung, pulang jam berapa?

soonyoung baru membalasnya saat jihoon sudah di depan pintu apartemen soonyoung, menekan password yang merupakan tanggal lahir pemuda dari namyang-ju itu; halo, jihoon-ie. pulang sekitar jam tiga. kenapa?

jihoon tidak membalasnya. ia menatap apartemen soonyoung yang isinya seperti biasa, berantakan. masih ada lima jam lagi sebelum soonyoung pulang. jihoon menggunakan tiga jam pertama untuk mengganti seprai dan mencuci baju. lalu menyedot debu, mengepel. merapikan ini itu. jihoon memang tipe yang telaten, sih.

setelah itu, ia mandi dan memakai baju milik soonyoung yang, tentunya, kebesaran. jihoon suka bau soonyoung dan ini membuatnya merasa sedih lagi karena rindu. satu jam berikutnya, ia berkutat dengan sup seafood. ia selesai dengan cepat dan menggunakan sisa waktunya untuk beristirahat hingga tertidur di kasur soonyoung.

jihoon tertidur sampai ada yang menggugahnya.

"hoon, hoon,"

jihoon bangun, dan soonyoung ada sedang duduk di tepi kasur. rasa rindu begitu membuncah di dada jihoon sehingga ia langsung memeluk soonyoung erat padahal pemuda yang satunya masih pakai kemeja dan jas.

"ji—?"

"maaf…"

soonyoung seperti disambar petir. padahal biasanya kalau mereka ada masalah berat begini, yang harus minta maaf duluan itu soonyoung. jihoon punya gengsi yang sangat tinggi dan soonyoung tahu benar akan hal itu. tapi, apa yang terjadi?

"maaf ya… soonyoung…" jihoon mulai nangis dan soonyoung diam saja, ia masih bingung. "maaf karena aku sibuk terus, dan kau jadi tidak kupedulikan. maafkan aku yang egois, soonyoung…"

jihoon menangis sehingga soonyoung bisa merasakan bahunya basah. ia akhirnya memeluk jihoon dengan sama eratnya sehingga lelaki yang lebih muda seperti tenggelam. "hei, jihoon, jangan nangis. aku juga minta maaf, ya?"

"aku dengar dari wonwoo, kalau… kau akan melepasku…" jihoon makin menangis.

"apa? hei, jihoon, aku tidak bilang begitu!" soonyoung mengelus-elus rambutnya. "aku tidak pernah berpikir untuk melepasmu! dasar jeon wonwoo…" soonyoung menghela nafas dan ia memegang sisi kepala jihoon.

ia masih sesenggukan sampai beberapa menit setelahnya dan soonyoung mengulang-ulang kata seperti; "ssshh, tidak apa-apa," dan "jihoon-ie, jihoon-ie-ku sayang,"

"jadi… kau memaafkanku?"

aih, soonyoung rasanya ingin membingkai wajah itu selamanya. 'kan jarang-jarang jihoon begini—wajahnya merah dan air mata mengalir di pipinya. ujung hidungnya merah, dan ia sayu, seperti sedang demam. lucu sekali, soonyoung jadi geli. apalagi jihoon sekarang menatapnya seperti anak kucing minta makan.

"tentu, jihoon, astaga." soonyoung menempelkan dahi mereka berdua. "jangan berpikir bahwa aku akan meninggalkanmu."

jihoon mengelap ingusnya dengan punggung tangan.

"terimakasih ya, sudah sabar." bisik jihoon. soonyoung menatapnya dengan tatapan yang bisa membuat detak jantung jihoon berantakan.

"tidak masalah. aku sayang jihoon."

jihoon tersenyum manis. "aku juga sayang soonyoung."

lalu soonyoung menciumnya seperti ciuman yang mengatakan 'selamat datang kembali' dan jihoon membalasnya sambil mengalungkan tangan di leher soonyoung.

soonyoung menghentikannya. "ayo makan dulu. sup seafood itu kau kan yang buat?"

jihoon mau turun untuk berjalan ke ruang makan tapi soonyoung malah menggendongnya seperti ia putri raja. "iya, aku yang buat. mungkin tidak seenak buatan mingyu."

"ih, tidak perlu berkata begitu." soonyoung menciumi sisi wajah jihoon yang dekat dengan bibirnya, membuat jihoon tertawa-tawa karena geli. lalu ia mendudukkan jihoon di kursi sebelah meja makan dan ia mengerling. "nanti habis makan mau lanjut?"

jihoon mengangkat alis, polos sekali. "apanya?"

"kenapa kau sok polos begitu, jihoon." soonyoung menatapnya. "kalau mau lanjut, makan sedikit dulu saja."

tapi jihoon tahu apa arti dari tatapan soonyoung. ia segera memerah, tapi menjawab. "bo—boleh…"

soonyoung berteriak dan melompat—kembali menghujaninya dengan kecupan-kecupan lain. jihoon mungkin bisa sibuk atau apa, tapi asal ia kembali seperti ini, soonyoung bisa menerimanya. asal ia tahu mana yang harus diprioritaskan, maka semua akan kembali baik.


karena soonhoon itu adalah rangkaian cerita yang tak terduga, eh?


end


special thanks to : Hell-O buat ide 'organ'-nya

akhirnya soonhoon ini selesai jugaaaaa!
btw ini fanfic cepat sekali ya selesainya. habis kalo fluff-fluff gini nyari idenya nggak begitu susah, sih. intinya aku gembira!
btw juga, aku mulai mikir buat fanfic selanjutnya.
(aku pengen jadi author super produktif)
ayo kita ngobrol! tapi aku agak awkward, siapa yang mau ngobrol sama aku? aku pengen ngobrol sama kalian, entah di pm atau di line, entah fangirlingin seventeen sampai gila atau curhat-curhat /eh~
tapi mungkin buat fanfic-fanfic berikutnya, aku bakal update lebih lama karena harus mulai ngurusin anak-anak yang mos, juga karena aku mulai naik kelas duabelas yang repot, uh.

terimakasih semuanya atas dukungan kalian!
terimakasih buat orang-orang yang sudah memberi ide, ada Hell-O, zarrazr, HyeRain, shmnlv, kayshone, eunhaezha, terimakasih!


balasan review :

A Y P : aku lihatnya sih di instagram! hehe. tapi kayanya ada di mcountdown atau acara semacamnya, sih… terimakasih!

Hell-O : mau nyelip, tarung dulu sama semenya xD IYA aku juga mengira begitu sihhhh. abisnya ambigu banget itu tangan soonyoung kaya udah nggak sabar pengen anu. (apa?) btw makasih yaaa.

Kayshone : soonyoung demennya sama jihoon. udah. itu konklusinya xD oke, sip. makasih yaa!

Uhee : iya soonyoung. nggak sabaran :'v okee makasih!

HyeRain : mingyu kan sahabat jihoon, seungkwan juga. makanya mereka tahu kelemahan jihoon. ah aku juga iri mereka berduaan remang-remang begitu. pikachu itu panggilan soonyoung buat jihoon! lucu kan? hihi. wahh aku berhasil bikin moodmu naik! senangnyaaa~ terimakasih! (kenapa kamu nggak login ffn aja? hihi)

sunhunaena : fanfic yang ini nggak berubah rating :'v mungkin aku akan buat yang rated m. tapi entah kapan. ayo mengobrol!