Disclaimer:

Naruto © Masashi Kishimoto

Kissing License © liaprimadonna

Genre: Fluffy, Romance

Narusasu

.

.

.

"Teme, kau tidak bertanya, apa yang kuinginkan?"

Sasuke yang kala itu sedang memusatkan pikirannya pada sekotak rubik langsung mendongak. Sekilas. Hanya sekilas. "Hn. Apa yang kau inginkan?"

Naruto terkekeh, suara kikik kecilnya mengganggu telinga Sasuke.

"Kau harus menebaknya."

Sasuke sunyi, menatap Naruto dengan muka malas.

"Aku sedang ingin menciummu."

Sasuke mengernyit.

Detik berikutnya bibir Naruto menubruk bibirnya tanpa perhitungan.

"NARUTO!"

"Itu aku."


"Serius, kau marah karena aku menciummu? Aku ini pacarmu, bukan?"

"Berisik!"

"Ayolah, Teme. Bukankah kau senang karena aku menciummu?"

"Tidak!"

"Kau harus berkaca dan melihat seperti apa merahnya wajahmu tahu."

"Aku akan menyumpal mulutmu dengan sepatu!"

Tawa Naruto seketika itu pula meledak, ia buru-buru mencubit pipi Sasuke sebelum empunya kabur.

Lagi-lagi ia rela mendapat delikan ganas, yang sebenarnya malah terlihat sangat imut bagi Naruto.

Kalau boleh jujur, ia ingin sekali bilang pada dunia, kalau pacarnya benar-benar lucu dan menggemaskan—minta dianu-anu.

"Hentikan, Dobe. Sakit!" seru Sasuke tak beraturan karena pipinya ditarik, ia tak berhasil menarik jauh tangan Naruto. Jadi ia cuma bisa merengut.

"Katakan bahwa kau tidak marah karena aku menciummu," ancam Naruto.

Di sisi lain, wajah Sasuke tambah memerah seperti tomat matang. Buah yang sangat disukainya. Bahkan warnanya lebih merah dari buah itu.

"Kenapa wajahmu semakin memerah?" Naruto mencolek pipi Sasuke. "Ya ampun, kau manis sekali tahu."

Tidak hilang. Wajah porcelain Uchiha justru mengeluarkan suara seperti ketel uap. Telinganya tidak membantu. Panas. Gatal. Sasuke ingin tenggelam di laut es sekarang juga.

Sasuke menundukkan wajahnya. Tangan Naruto dengan mudah membuatnya kembali mendongak. Mereka kemudian bertatap-tatapan. Mengirim sinyal getaran di sana. Impuls syaraf keduanya meremang.

"Bagaimana kalau kita bertanding?"

Sasuke meronta melepas, namun ia tetap kalah. Mencoba melepaskan diri hanya akan membuat pipinya semakin ditarik. Naruto tidak pernah main-main dengan gerakannya.

Naruto mengerling. "Kita akan bermain adu tatap. Siapa yang berkedip terlebih dulu, dia yang kalah."

"Aku tidak mau!"

"Yang kalah akan siap ditusuk lima ronde," lanjut Naruto keras kepala, menaik turunkan alis.

"Naruto!"

"Aku."

Melihat Naruto tersenyum lebar, Sasuke memalingkan wajah.

"Kita mulai dari sekarang. Hitungan satu sampai sepuluh. Siap? Satu... sepuluh."

Sasuke gelagapan, sementara Naruto mulai membiarkan dirinya fokus. Matanya melotot besar-besar, kadang menyipit, lalu membesar lagi. Lalu begitu seterusnya. Sasuke ingin tertawa, tetapi takut jika ia
tiba-tiba berkedip.

Satu-satunya jalan untuk mengakhiri permainan ini adalah menurutinya.

"Suke, bagaimana wajahku dari dekat seperti ini?"

Sasuke mendelik. "Wajahmu sangat jelek."

"Ow, kau menyakitiku," kata Naruto kalem, ia mendekatkan wajahnya pada Sasuke dengan perlahan, matanya sudah sedikit perih. "Coba kau lihat lebih dekat lagi."

"K-Kau terlalu dekat!" kata Sasuke, melotot. Kepalanya mundur.

"Apa kau akan menyerah?"

Kepala Naruto terus mendekat dengan bola mata yang absolut menatap ke pupil mata hitam di depannya. Sasuke bisa merasakan wajahnya sangat panas saat napas Naruto meniup-niup pipinya. Juga senyum Naruto yang terpoles dengan tipis dan begitu menawan.

"Matamu tidak berkedip, Suke. Apakah kau baik-baik saja?"

Yang dilakukan Sasuke hanya melipat bibirnya ke dalam. Tangannya merayap di dada Naruto. Mendorongnya menjauh.

Sasuke meneguk ludahnya, ia sadar bahwa tubuhnya mundur sampai headboard ranjang milik Naruto. Posisi tubuhnya melengkung dengan Naruto berada di atasnya. Sementara kakinya berada di antara paha Naruto, menekuk menahan perut pria blonde itu dengan lututnya.

Lebih malangnya lagi adalah jantungnya yang berdentam-dentam dengan parah. Sasuke mengaku kalau dirinya ingin memalingkan wajah.

"Dobe."

"Itu aku."

Sasuke menggeram. Lebih tepatnya, ia mencoba sekuat tenaga menelan gelegak panas di dadanya. Ia ingin memalingkan wajah, tapi ia tidak sanggup.

"Aku—aku kalah." Ia mendesah.

Sebelum ada reaksi, Sasuke langsung meraup wajah Naruto dan mendorongnya menjauh. Naruto tergelincir dan jatuh di kasur dengan telak. Pria itu menoleh ke arah Sasuke.

"Ah, ini terlalu mudah, bukan? Kenapa kau menyerah secepat ini? Apa kau sudah mulai tegang?"

Katakan siapa yang lebih gila di dunia ini bagi Sasuke?

Tentu saja pacarnya itu.

"Berciuman denganku membuatmu tegang, bukan?" Ia mendekat lagi, menyorongkan wajah. Lidah panasnya menjilat butir-butir keringat di leher jejang Sasuke. Aroma pria itu serupa rempah-rempah. Naruto menggila.

Sasuke melenguh, memejam mata, tangannya mendorong-dorong bahu Naruto.

"Aku ingin menciummu, Suke."

Setelah mengatakan hal itu, Naruto langsung membungkam bibir kissable milik Sasuke dengan cukup lembut dan bertempo. Ia menghisap kecil, membiarkan Sasuke melenguh di saat yang sama dimana tangan Naruto meraba lehernya.

Tubuh mereka sepenuhnya jatuh. Naruto kembali mendominasi dengan berada di atas tubuh Sasuke. Gairah remaja seusianya memang masih sangat kuat. Ciuman itu makin dalam dan seduktif. Saat
mendapatkan celah, Naruto mulai memasukkan lidah panasnya ke dalam.

Selang beberapa saat, napasnya mulai menipis. Dengan lembut ia mulai menarik diri sembari melihat bagaimana wajah Sasuke sudah memerah sepenuhnya.

"Aku mencintaimu, Suke."

Sasuke memalingkan wajah, Naruto tidak perlu jawaban apapun, gestur itu sudah cukup untuknya.

"Aku saaaangat mencintaimu." Ia menjatuhkan beban tubuhnya di atas Sasuke dan memeluknya dengan erat. Berguling-guling di kasur ke kanan dan ke kiri.

"Dasar bodoh!"

"Hm~ You know me so well~"

"Bukan hanya itu saja. Kau itu serampangan, berisik, bodoh, pemaksa, jelek, playboy, mesum," kata Sasuke di balik bahu Naruto. "Aku akan lebih tegas padamu lain kali."

"Apa maksudmu?"

Sasuke memutar matanya. "Lain kali, jika kau ingin menciumku. Kau harus mendapatkan ijin."

"Kena—"

"Jangan protes, Dobe."

Naruto bangkit dari posisinya secara spontan. Mengerutkan dahi. "Kau adalah pacarku. Kenapa aku harus meminta ijin?"

Sasuke mengabaikan, selama ini ia sudah cukup bersabar karena kebiasaan Naruto yang menjengkelkan itu. Memangnya dirinya itu objek ciuman saja? "Hn. Agar kau mengerti kalau aku bukan pria murahan," katanya.

"Kau memang bukan pria murahan, Suke."

"Aku tidak peduli. Kau tidak boleh menciumku tiba-tiba seperti tadi."

Naruto melongo, gagal paham.

"Mulai hari ini kau harus meminta ijin tertulis sebelum menciumku."

"Aku tidak mengerti."

Bantal langsung melayang ke wajah Naruto.

"Well—peraturan itu dimulai dari sekarang," kata Sasuke final, ia menarik kepala Naruto dan mencium bibirnya sekilas. Kali ini membuat Naruto shock. "Aku ingin pulang. Tidak usah diantar. Bye."

"Teme! Yah! Tunggu! Kenapa, Teme? Kenapa?"

"Jangan mengejarku!"


END.


Well, abaikan saja. Gak bisa buat lemon, jadinya cuma ini. Ingatkan saya untuk membalas review kalian ya, soalnya suka lupa karena lewat hp kan gak bisa ;') /kecup satusatu/