PLEASE NOTICE: Entire plot of 'Pelangi Biru' until it's ending is not engineering.
If there are similarities groove, then you realize that plagiarism has occurred. Thank you. :)


Chasing the sensation. Whether it was drugs or sex or whatever. Those things had become my main focus in life."

—Rick Allen 」

.

.

.


Chapter 03 : Shattered Memory


Hari berikutnya aku meminta ijin tidak masuk sekolah dengan alasan kurang enak badan.

Bohong, memang. Tapi aku sedang tidak berminat untuk bertemu dengan siapapun hari ini. Sementara Yuuta pergi bersama Shun menjenguk Ibu, aku dengan sangat terpaksa absen dan meminta mereka berhati-hati di jalan—juga jangan mengatakan keadaanku yang sebenarnya pada beliau karena tidak mau membuatnya cemas.

Seusai memberikan jepit rambut―yang akhirnya kudapat dari kakak beradik keparat itu―pada Yuuta, aku melambaikan tangan dari jendela hingga sosok keduanya menghilang. Untuk beberapa saat, kucoba rileks sejenak dengan membiarkan angin mengacak lembut rambutku sementara pasang lenganku beristirahat di ambang jendela. Merasakan udara dingin yang cukup menusuk sambil melamun tidak tentu arah.

Mengarahkan pandangan ke bawah, terlihat sebuah mobil mewah berwarna silver terparkir tidak jauh, merasakan tatapan orang di dalam mobilnya tertuju intens kepadaku. Karena curiga, aku cekatan menutup jendela rapat.

Cukup.

Saat ini aku tidak mau bertemu atau berurusan dengan siapapun. Aku ingin bebas khusus hari ini saja.

Memantapkan niat, aku buru-buru meraih ponsel model lama yang selama ini selalu membantu menjadi penghubungku dengan para klien. Mematikannya total lalu kulempar sembarangan di atas meja.

Aku berjalan menuju keran untuk mengisi penuh gelas dengan air putih lalu menenggak beberapa butir benzo, salah satu jenis pil penenang. Bisa dibilang aku memang termasuk orang yang sulit tidur, dan akhir-akhir ini menjadi lebih parah. Untunglah pil-pil di tanganku selalu berhasil membantu.

Kutambah dua butir dari dosis biasa agar lebih cepat terlelap. Aku tahu kebiasaan ini tidak baik untuk tubuhku. Dokter pernah menyarankan berhenti karena cepat atau lambat aku akan menghadapi withdrawal yang memiliki efek setara dengan psikotropika, tapi aku tidak peduli. Setiap hari dalam hidupku aku merasa sangat tertekan sehingga perlu tidur lebih lama. Semua memori yang tidak pantas disebut kenangan selalu menghantuiku, menghancurkanku di hari kemudian. Lagipula lebih lama terjaga artinya otakku akan terbebani banyak pikiran.

Belum selesai di sana, kuambil cutter dari dalam tempat pensil untuk kupandang sejenak.

Tidak, aku tidak akan bunuh diri. Aku hanya mengangkat tinggi-tinggi benda berujung tajam itu dan mengamatinya sebelum menorehkan sedikit di sekitar pergelangan tangan. Tidak dalam, tapi cukup―sehingga ada merah kental keluar perlahan. Cantik dan membuai mata.

Meskipun hanya sebuah bentuk pelarian, mengiris pergelangan seperti ini sangat menyenangkan sehingga aku cukup sering melakukannya kalau pikiranku sedang kacau. Kutelusuri cairan menawan itu saat mengalir lembut mengitari permukaan kulit hingga jatuh ke atas permukaan tatami.

Merasakan celanaku mulai sesak, tubuhku terduduk sembarangan. Buru-buru aku memasukkan jari-jari ke dalamnya―mencoba menstimulasi bagian dari tubuhku yang terlalu cepat peka, menggerakkannya naik dan turun. Entah sejak kapan kebiasaanku melukai diri membuatku lebih puas saat mencapai orgasme. Aku mulai ingin meralat kata-kataku sebelumnya, jangan-jangan aku memang benar-benar masokis.

Kugerakkan tanganku semakin cepat seiring darah yang menetes dari pergelangan, memainkannya sesuai dengan irama yang kuinginkan. Aku melenguh panjang saat melepaskan kenikmatan yang sedari tadi tertahan akhirnya. Kubuka celanaku yang terlanjur kotor dan menggantinya dengan yang baru.

Hormon seksual di usia labil memang menyulitkan. Aku masih belum merasa puas sehingga kutoreh pergelanganku sekali lagi untuk membuat muara merah baru.

Aku memuaskan diriku sendiri di hari itu untuk kedua kalinya.

Setelah merasa cukup, kucuci bersih lenganku lalu membubuhinya antiseptik. Memang perih tapi rasa itu sebentar lagi akan hilang karena benzo dalam tubuhku mulai aktif, ditandai dengan kepalaku menjadi berat dan pemandangan seolah berputar. Karena tidak memiliki celana lain, aku mengambil celana seragam yang langsung bisa kupakai sebelum menggelar futon supaya kembali beristirahat.

Tok. Tok. Tok.

Sebuah ketukan di pintu menahan kantukku.

"Siapa?!" tanyaku spontan tanpa beranjak. Mungkin sikapku tidak bisa dibilang sopan, tapi aku merasa berhak karena ini rumahku dan aku sedang tidak ingin jam istirahatku terusik.

"Kau Matatagi Hayato?" ucap suara yang ternyata laki-laki itu―berat dan terdengar tidak berekspresi. Aku menarik napas cepat. Siapapun dia, kalau memiliki urusan dengan tubuhku aku harap mereka mau menelan kecewa karena sudah melanggar perjanjian dengan berani menyatroni rumahku.

"Aku sedang tidak ingin diganggu. Kalau ada urusan, lebih baik lain kali saja."

"Kita harus bicara." desaknya meski suara itu masih terdengar tenang. Emosiku naik beberapa level, kontras dengan tubuhku yang semakin lama kehilangan tenaga.

"Tidak mau… ukh..." pandanganku mulai kabur. Sepertinya obat penenangnya mulai bekerja penuh, "Pergi…! Jangan menggangguku…!"

"Aku akan membuka pintunya."

"Hei… apa ya…ng…" aku tidak ingat apa-apa lagi. Yang kulihat terakhir, laki-laki itu sudah membuka pintu rumahku. Sial. Ternyata aku lupa menguncinya semenjak Shun dan Yuuta pergi.

Aku penasaran dengan lengan berbalut jas putih yang berhasil meraih pinggangku sebelum tubuhku terhempas, tapi pandanganku sudah terlanjur gelap.


.

.

.

"Hayato, apa warna kesukaanmu?"

Netraku mengerjap cepat untuk menanggapi. Aku tidak tahu siapa yang bertanya padahal aku yakin fisiknya hadir dan begitu dekat saat ini. Mungkin tepat di hadapanku.

Aku mematung di tempat, mencoba memicingkan mata hingga hampir sedatar garis. Sekeras apapun usahaku, visualnya terlihat kacau sehingga sosok itu tetap tak terlihat―lebih tepatnya aku tidak bisa mengingatnya.

Dengan hanya dituntun oleh suara yang ada aku berusaha membalas, "Biru!"

"Kau menyukai warna biru?"

"Karena ayah menyukai warna biru jadi aku juga menyukainya!" ucapku riang.

Sosok itu membelai surai coklatku lembut. Aku menunjukkan barisan gigiku yang masih sepenuhnya gigi susu. Mungkin usiaku belum tujuh tahun saat itu.

Aku memandangi sosok kecilku saat itu begitu polos dan ceria. Bukan seperti diriku sekarang, yang dikuasai spekulasi buruk mengenai dunia dan orang-orang. Yang wajib tampil menggunakan topeng kebohongan dibalik rasa tidak percaya akan segala sesuatu yang hidup dan bernyawa.

Sederhana untukmu tapi tidak bagiku. Terutama ketika mengingat ibuku terus menerus menangis saat biru di dalam keluarga kecilku lenyap tak bersisa. Titik balik itu mengubah segalanya, bahkan menjadi salah satu alasan kenapa akhirnya aku terjerumus di dalam dunia yang begtu kotor.

Muak.

Muak.

MUAK.

Kukepalkan tangan sekuat tenaga. Merapatkan kedua rahang hingga gigiku berderak menahan amarah.

"KAU TIDAK AKAN PERNAH SUKA WARNA BIRU!" pekikku pada bocah yang sangat mirip denganku, kulihat dia terkejut, "Kau tidak akan pernah suka warna dari orang yang pernah mengkhianatimu dan ibumu, juga kedua adik-adikmu. Seumur hidup tidak akan pernah, KAU DENGAR?!"

Dia―aku―anak kecil itu menangis ketakutan. Berlari meraih sosok bercahaya yang dia yakin sedari tadi sempat bersamanya, namun sia-sia. Cahaya itu meredup total, meninggalkan ruangan kosong yang semakin gelap.

Hatiku.

Benar, hatiku sedang menangis. Aku sudah berusaha menjerit, ingin seseorang menyelamatkanku—siapapun. Tapi tidak ada satupun dari mereka yang mau mengerti. Tidak ada yang membawaku pergi ketika tangan-tangan yang menjamahku, menanggalkan seluruh pakaianku, bahkan meninggalkan bekas tercela di tubuhku.

Kakiku melangkah pendek menghadap satu lawan satu sosok kecilku sekali lagi. Perlahan berlutut di depannya yang masih gencar mengeluarkan air mata.

"Aku membencimu…" ucapku getir.

"—sangat membencimu…"

Tanganku terjulur untuk mencekik lehernya yang rapuh, tapi bukannya memintaku berhenti, dia hanya terus menangis—membuatku malah ingin muntah.

Kuremas seluruh jariku, membuat dia yang kucekik berhenti bernapas sepenuhnya.

Aku baru saja berhasil membunuh diriku sendiri.


.

.

.

Sayup-sayup suara dari hembusan angin via jendela membuatku terjaga. Kelopak mataku yang masih terlalu berat kubuka paksa, memberi fokus penglihatan yang masih membias di langit-langit. Secepatnya aku terduduk dengan tubuh bermandi peluh.

Kupandang pintu rumahku yang bergeming sempurna.

Mimpikah aku? Apa pria dengan jas putih tadi nyata atau sebagian dari ilusi?

Kuraba leher, pundak, dan beberapa bagian tubuhku untuk memastikan tidak ada sesuatu yang salah. Semuanya baik-baik saja. Bahkan tanganku sudah terbalut perban dengan rapi—yang aku tidak ingat kapan melakukannya. Aku sampai mencubit pipiku sendiri untuk meyakinkan kalau fisikku sudah kembali ke alam sadar.

Benar-benar mimpi yang menyebalkan.

Bukan kali pertama aku bermimpi seperti itu. Bahkan aku sering berdelusi seakan benar-benar bertemu dengan masa laluku sendiri. Yang terlihat masih polos dan bahagia, seakan menertawakan seluruh penderitaan yang sudah kualami.

Saat hendak bangkit, mataku menyapu sebuah kantong plastik berisi paket makanan dengan aroma menggugah selera. Aku tidak merasa sempat berbelanja ke luar sebelumnya sementara aku tidak yakin adik-adikku sempat pulang untuk membelikanku makanan.

Cacing perutku sudah mulai meronta jadi aku tidak begitu peduli dari mana makanan itu berasal. Kuperiksa isi bento di dalam plastik tersebut yang berjumlah tiga, kuambil satu dari yang tersedia lalu meraih sumpit—memakan seluruh isinya hingga habis. Aku sadar belum makan sejak pagi, sehingga bertindak seperti orang kelaparan. Memalukan.

Kuperhatikan langit sedang mengisi senja dan masih tidak bersahabat seperti hari-hari sebelumnya. Tanah juga terlihat lembab. Mungkin hujan sempat turun saat aku terlelap tadi.

Yang lebih kucemaskan, kedua adikku belum juga kembali. Aku takut mereka mengalami masalah sehingga terlambat pulang ke rumah karena sekolah harusnya sudah berakhir sejak lama.

Aku mengatupkan tangan merapal sebuah doa yang masih kuingat. Tidak peduli kalau Tuhan sudah tidak ingin mendengarnya dariku, tapi aku hanya memohon agar Shun dan Yuuta kembali dengan selamat dan utuh.

Sambil membunuh waktu, aku mengerjakan pekerjaan rumah yang menjadi kewajibanku. Setelahnya aku hanya membuang sampah rumah tangga dan membersihkan sedikit perabotan yang mengganggu, mengingat rumahku jauh dari kata luas.

Petir di langit mendadak menyambar cukup keras dan hujan kembali turun sementara adik-adikku belum juga terlihat, kali ini aku benar-benar cemas. Kuputuskan untuk menyusul di manapun mereka berada.

"Kakak!"

Baru saja hendak mengambil payung, tiba-tiba pintu terbuka dan salah satu kepala adikku menyembul dari baliknya.

"SHUN!" pekikku sembari berlari ke arahnya lalu memeluknya cemas, "Mana Yuuta?" tanyaku terburu-buru.

"Ada apa, kak?" tanya Yuuta yang menyusul masuk kemudian melihat ke arahku yang seakan baru melihat hantu.

"Kalian ke mana saja!? Kakak dari tadi terus menunggu kalian sampai di rumah, jangan lakukan lagi!" bentakanku membuat mereka ketakutan dan menunduk. Ada rasa takut terpancar dari bola mata keduanya, membuatku diliputi perasaan bersalah.

"Ma-maaf… kami baru dari tempat ibu…" Yuuta menahan getir. Aku melemaskan bahu, menghembus banyak udara untuk membuat urat bahuku longgar.

"Maafkan kakak juga sudah membentakmu. Kakak… cuma khawatir…"

Shun seketika memelukku sambil menahan isak tangis, "Maaf, kak. Kami tidak ingat waktu, maaf ya…"

"Maafkan kakak juga, Shun. Yang penting kalian selamat." legaku sambil membelai surainya yang serupa biji kokoa, "Kalian sudah makan?"

Keduanya mengangguk kompak.

"Kalau begitu bento ini disimpan di kulkas untuk sarapan besok pagi saja. Ayo kalian mandi setelah itu membuat PR. Akan kakak periksa nanti."

Mereka mengangguk lagi, aku tersenyum khas-ku untuk memberitahu mereka bahwa keadaan sudah baik-baik saja. Kuberi keduanya pelukan singkat sebelum melepas mereka melakukan kegiatan selanjutnya.

Selama Shun dan Yuuta mandi, aku hanya menerawang ke arah langit luar melalui jendela.

Akhir-akhir ini pelangi sering tercipta, mungkin karena hujan turun hampir setiap hari, pertanda akan memasuki musim dingin. Atau mungkin juga karena arah pemandangan dari rumahku cukup strategis untuk melihat fenomena prisma tersebut.

Ada percik iri ketika ketujuh warna itu membentuk harmoni dalam satu kesatuan agung. Rasanya tangan ini ingin mengoyak seluruhnya, meninggalkan salah satu sisa warnanya hingga dia sendiri. Sama seperti aku yang sekarang.

"Kakak."

Yuuta mencairkan lamunanku, membawa pandangku sekarang tertuju ke arahnya.

"Sudah selesai mandinya?"

"Iya!"

Aku membantunya mengeringkan rambut dengan ujung handuk, kemudian menaburkan sedikit minyak agar tubuhnya tetap hangat hingga malam menjelang.

Dengan sikap sok dewasanya, Yuuta berucap lagi, "Kak, tadi setelah kupaksa akhirnya ibu mau memakai jepit rambut yang kubelikan. Ibu cantik sekali."

Aku tersenyum padanya, meremas bagian kantung celana kiri seragamku yang masih menyimpan pecahan hadiah Yuuta sesungguhnya. Mengetahui kenyataan bahwa jepit rambut yang kudapat dengan pertaruhan harga diri itu sudah sampai di akhir tujuannya, dadaku seketika lega. Aku ingin menangis tapi sangat tidak mungkin untuk melakukannya di depan adikku.

Prinsipku berkata, aku harus bisa menjadi contoh dan kakak yang hebat agar kedua adikku bisa menjalani hidup lebih baik dariku kelak.

"—ayo besok kita jenguk ibu bersama." imbuhnya yang langsung membuatku refleks memeluknya.

"Iya. Besok kita bertiga akan pergi bersama."

Di luar, hujan sudah berhenti sepenuhnya dan pelangi tadi semakin bersinar.

Terutama di bagian biru.


To be continued...