FATE

"Sauriva Angelast"

Disclaimer : SUJU adalah milik Tuhan, Elfs dan diri mereka sendiri…. Hehehehe

Warning : AU, OOC, Alur mungkin sulit dimengerti, banyak typo(s) dan miss typo(s). Saya membuat banyak sekali perbedaan. Hehehe… Ini Yaoi! BXB! BOY'S LOVE! Sehingga yang tidak suka, sudah saya peringatkan dan segera menekan tombol back.

Don't like don't read …

Summary : Kini jarak sudah berhasil memisahkan cinta mereka, namun bukan berarti cinta itu akan mati. Cinta mereka bagai sebuah benang merah, tidak bisa putus. Menyatukan setiap perasaan mereka yang sedang sakit. Walau kini mereka menderita, namun mereka tetaplah mendamba kebahagiaan, mereka hanya berharap agar setiap orang dapat mengerti. Hai, malaikat tanpa sayap? Mampukah kini kau terbang? Karena akan ada seseorang yang merajut kembali sayapmu.

Rate : T

HAPPY READING ^^


Keluarga kecil tersebut duduk berhadapan di ruang tamu tanpa ada satupun yang ingin membuka suara. Hangkyung selaku kepala keluarga melihat kedua anaknya yang tengah menunduk dengan pandangan kecewa, marah dan menyesal. Tangannya terlipat di dada. Bibirnya mengatup dan sesekali terdengar geraman. Bukti bahwa sang kepala keluarga tersebut tengah menahan marah. Berbeda dengan istrinya yang duduk di sampingnya, Heechul tidak setenang suaminya. Sejak awal tubuh wanita cantik tersebut bergetar hebat dengan air mata yang terus mengalir dari kedua sudut matanya. Dia kecewa, dua buah hatinya yang selama ini dia sayangi dan kasihi ternyata malah membuat mereka terjerumus ke dalam sebuah hubungan terlarang.

Yesung dan Leeteuk tak ada yang berani menatap kedua orang tuanya tersebut. Kakak beradik itu hanya menunduk, merasa jika lantai tempat mereka berpijak jauh lebih menarik untuk ditatap dari pada orang tua mereka yang tengah marah. Bagaimana tidak marah? Orang tua mana yang tidak akan marah jika kedua buah hatinya saling menyimpan perasaan terlarang itu? Yesung adalah orang pertama yang berani mengangkat wajahnya dan memandang langsung ke arah Omma dan Appanya. Dia merasa sangat bersalah saat melihat Ommanya yang menangis sangat keras di pelukan sang Appa. Dia merasa sangat miris saat Appanya juga menatap dirinya dengan pandangan kecewa. Lalu mata Yesung mengarah kepada Teukie. Dia menyesal telah membawa Teukie pada keadaan seperti ini. Pelan tapi pasti, dia menepuk pundak Leeteuk dengan lembut. Berusaha memberikan keberanian pada sang adik.

"Kim Yesung! Jelaskan semua ini."

Suara berat dan keras, penuh dengan rasa ingin tahu bercampur marah dari sang Appa membuat Yesung sedikit terlunjak kaget, namun dia tetap berusaha untuk tenang. Dia telah berjanji pada Teukie untuk tidak akan pernah menyerah meski dunia menentang mereka. Dan benar. Yesung tak akan menyerah begitu saja. Cintanya pada Teukie memang begitu besar. Melebihi apapun.

"Aku mencintai Teukie, Appa." Sahut Yesung dengan jujur. Dia menunduk, dan tak berani memandang Appanya yang saat ini pasti menjadi sangat murka.

Plak!

Sebuah tamparan yang lumayan keras mendarat di pipi kiri Yesung. Tamparan penuh dengan kekecewaan dari Ommanya. Yesung tidak bisa melawan, dia tidak mungkin mau menyakiti orang tuanya. Yesung juga dapat melihat jika Ommanya tersebut semakin terisak sebelum kembali menangkupkan kedua tangan di wajah dan kembali menangis. Hati Yesung menjadi miris saat melihat Teukie juga mulai terisak. Dia tidak bisa melakukan apa-apa.

"Kim Leeteuk! Benar apa yang dikatakan hyungmu!?" Bentak Hangkyung kepada putra bungsunya yang masih menunduk. Leeteuk yang mendengar bentakan Appanya hanya diam. Tidak berani menjawab.

"KIM LEETEUK!"

"Appa! Ku mohon! Jangan sakiti Teukie. Ini salahku." Sahut Yesung menengahi. Dia tidak akan membiarkan Teukie tertekan seperti ini. Dia dia tidak sanggup melihatnya. Biarkan saja kesalahan ini dia yang tanggung, asal selalu bersama dengan Teukie, maka dia tidak apa-apa.

"Diam Kim Yesung! Kau tahu betapa Appa sangat kecewa dengan kalian? Apa kalian tidak mengerti jika Appa sangat marah kepada kalian?" Hangkyung meninggikan satu oktaf suaranya. Tangan kanannya merangkul sang istri dengan lembut dan sesekali membisikkan kata-kata untuk menenangkan Heechul. Sedangkan tangan kirinya menunjuk tepat ke arah Yesung. Membuat orang yang ditunjuk menunduk, merasa bersalah.

"Mianhae…" Ucap Yesung dengan lirih. Dia menunduk. Air mata juga mulai merembes keluar dari kedua sudut matanya. Tak sanggup lagi dia bendung.

Leeteuk mengangkat wajahnya, memberanikan diri untuk menatap kemarahan kedua orang tuanya. Dia tidak akan membiarkan hyungnya berjuang sendiri demi dirinya. Namja berwajah manis tersebut meraih tangan kanan Yesung dan menggenggamnya erat. Memberikan sebuah isyarat bahwa dirinya masih berada di samping hyungnya tersebut untuk mendukung sang hyung. Untuk mendukung hubungan mereka. Dia juga tidak ingin menyerah begitu saja. Dia juga sudah berjanji tak akan menyerah meski apapun yang terjadi. Dan Leeteuk tak akan menarik kata-katanya tersebut.

"Appa, aku juga mencintai Yesung hyung. Tolong Appa. Jebal, mengertilah kami Appa…" Leeteuk memberanikan diri bersuara, nada suaranya sedikit bergetar bahkan air matapun masih saja keluar dari sudut matanya. Dia juga dapat merasakan jika genggaman tangan hyungnya mengerat. Membuat Leeteuk sedikit lebih kuat. Dia tahu jika hyungnya tak akan meninggalkannya walau apapun yang terjadi.

"Teukie. Hentikan hubungan kalian itu. Akhiri saja, kalian adalah saudara kandung. Tidak sepantasnya memiliki hubungan seperti ini. Jebal, Omma mohon…" Heechul membuka suaranya lalu menatap putri bungsunya dengan pandangan penuh harap. Dia tidak ingin kedua buah hatinya memiliki jalan yang salah dengan saling mencinta. Mereka memang saudara, jika hanya sebatas saling mengasihi itu wajar. Namun jika sampai mencinta? Heechul tidak akan bisa memberi restu. Ini adalah aib bagi keluarga mereka.

"Mianhae, Omma. Mianhae, Appa… Aku tidak bisa… hiks…"Leeteuk terisak semakin keras, tangan Yesung langsung merangkul tubuh ringkih Leeteuk dan membawanya dalam sebuah pelukan hangat. Berusaha menenangkan sang adik.

"TIDAK! KALIAN HARUS BERPISAH! Teukie, Appa akan mengirimmu ke tempat sepupumu Kim Kibum di Amerika. Dan kau Kim Yesung! Akan tetap di sini, renungkan kesalahanmu!" Bentak Hangkyung dengan nada sangat marah. Matanya berkilat tajam menandakan betapa sangat marah dirinya, betapa kecewanya dirinya dan betapa menyesal dirinya yang tidak mampu mendidik buah hati sendiri.

Hangkyung berdiri dari kursinya, membawa Heechul dalam pelukannya dan mulai beranjak meninggalkan kedua buah hatinya yang menatap dirinya dengan shock. Keputusannya sudah final, dan dia tak akan menariknya lagi. Sebelum benar-benar pergi, Hangkyung menatap kembali kedua putranya yang sama-sama tengah meneteskan air mata dan terisak keras dengan tangan yang saling merangkul, dengan kepala yang saling bersandar. Hati Hangkyung menjerit sakit. Sebenarnya dia berharap, dengan diancam seperti itu, kedua putranya tersebut akan memenuhi keinginannya dan mengakhiri hubungan mereka. Ternyata salah, ternyata kedua putranya tersebut memang saling mencinta. Cinta yang sangat kuat dan akan saling menjaga. Kenyataan itu membuat Hangkyung tidak terima. Dia mengepalkan tangannya erat. Dia memang harus memisahkan kedua putranya tersebut. Namun apakah keputusannya sudah benar?

Yesung sudah berhenti terisak walau air mata belum mau berhenti keluar dari matanya. Dia tidak tahu akan seperti akhirnya. Dia tidak ingin mengecewakan orang tuanya namun dia tidak ingin melepaskan Teukie. Tidakkah kedua orang tuanya sadar jika dia sangat mencintai Leeteuk. Apakah perasaannya memang harus dibunuh secara paksa dengan memisahkan mereka berdua. Demi Tuhan, Yesung tidak sanggup. Dia tidak akan sanggup hidup tanpa Teukie. Adiknya tersebut adalah cahaya hidupnya. Penyemangat hidupnya. Orang yang bahkan mampu membuatnya melakukan apa saja yang diminta. Memangnya siapa yang selama ini memberinya kasih sayang saat kedua orang tuanya tidak ada. Leeteuklah orangnya. Malaikatnya. Dan kini mereka disuruh berpisah? Tidak akan.

"Hyung… Aku tidak mau pergi…" Suara Teukie menyadarkan Yesung dari lamunannya. Iris matanya yang hitam memandang ke arah adiknya tersebut dengan pandangan sangat lembut. Dia mengusap puncak kepala Leeteuk dengan sangat lembut. Membawa sang adik semakin erat salam pelukannya. Dia juga tidak akan membiarkan Teukie menjauh dari sisinya. Dia tidak akan membiarkannya. Tapi apa dia sanggup mengubah keputusan Appanya? Dia tidak mungkin mau mengakhiri hubungannya dengan Teukie.

"Aku juga tidak ingin kau pergi, Chagiya. Aku tidak bisa hidup tanpamu." Ucap Yesung dengan pasti. Walau matanya saat ini basah dengan air mata yang mencoba untuk keluar, namun kilat matanya terlihat sangat yakin.

"Hyung, Saranghae…"

"Nado saranghae, Teukie…"

Pelukan itu semakin mengerat. Mereka berdua saling menautkan tangan mereka. Saling menyalurkan perasaan yang hanya mereka berdua yang mampu memahaminya. Saling menguatkan walau keduanya kini sama-sama rapuh. Walau demikian jika selalu bersama mereka pasti akan mampu melewati itu. Namun apakah bisa jika gerbang takdir itu menyuguhkan pintu yang akan membuat mereka berpisah. Sanggupkah mereka melewatinya?

# # #

Heechul mengelus lengan suaminya yang saat ini terlihat sangat marah. Dia mencoba menenangkan suaminya tersebut walau wanita itu juga sebenarnya merasa sangat kecewa. Namun dia tidak ingin keluarganya berakhir dengan cara seperti ini. Pasti ada jalan yang tepat untuk masalah ini tanpa harus membiarkan Teukie pergi. Heechul tidak ingin satupun dari putranya yang pergi. Dia sangat menyayangi kedua putranya tersebut. Semarah apapun dirinya, dia tidak akan sanggup membenci kedua putranya tersebut. Kedua putra yang selama ini dia besarkan dengan penuh kasih sayang.

"Apakah ini tepat, Chagi? Maksudku-"

"Jangan membela mereka, Heenim." Ucap Hangkyung dengan nada dingin. Dia memandang ke depan dengan tatapan kosong. Dia hiraukan isak tangis yang mulai terdengar dari istrinya tersebut.

"Aku tidak mau kehilangan putraku, Chagi…" Isak Heechul makin terdengar. Namun Hangkyung seakan menulikan kedua telinganya. Dia berjalan keluar kamar dan menuju kamar putra bungsunya. Memastikan jika putranya tersebut sudah berkemas.

# # #

"Kau sudah berkemas, Teukie?" Tanya Hangkyung dengan dingin dan datar. Dia dapat melihat jika putra bungsunya tersebut tengah menunduk dengan satu koper berwarna cokat yang berada di atas kasurnya. Yesung berada di sisi putranya tersebut. Wajah keduanya tampak sama-sama berduka dan tak ingin lepas.

"Appa… Appa ingin membunuh kami, ya?" Ucap Teukie dengan suara yang bergetar. Putra bungsunya tersebut sudah menangis lagi rupanya.

"Appa tidak mengerti kami, ya?" Kali ini Yesung yang bersuara. Suaranya terdengar tenang namun penuh dengan luka.

"Ini untuk kebaikan kalian. Kalian melakukan ini sama saja mempermalukan keluarga! Ayo Teukie." Ucap Hangkyung dengan tenang pula. Matanya berkilat marah.

Hangkyung menarik tangan kanan Teukie dengan cepat, membuat putra bungsunya tersebut tersentak. Namun hal tersebut tidak berjalan mulus kala Yesung menahan tangan kiri Leeteuk. Membuat Hangkyung menatap datar kepada Yesung. Namun bukannya takut, putra sulungnya tersebut malah menatapnya dengan pandangan berkilat marah. Apakah Yesung tidak sadar jika yang dia tatap seperti itu adalah ayahnya sendiri?

Hangkyung kembali menarik tangan Leeteuk dengan keras hingga sang pemilik meringis pelan, air mata tetap mengalir di kedua mata sang putra bungsu sedikit banyak juga telah mengukir luka di hati Hangkyung. Namun dia tidak ingin berhenti di sini. Dia harus menjauhkan kedua putranya agar mereka mengakhiri hubungan mereka tersebut. Namun Yesung kembali menahan tangan Teukie.

"Appa… Jangan biarkan aku pergi…" Leeteuk berucap dengan suara serak akibat tangisnya tersebut. Dia menatap Hangkyung dengan pandangan memohon. Namun Appanya tersebut seakan buta dan tuli dengan apa yang dikatakan oleh Teukie. Apaanya tersebut masih saja berusaha menariknya.

"Ini yang terbaik untuk kalian. Appa tidak ingin melakukan ini tapi tak ada pilihan. Apa kalian tidak sadar dengan cinta kalian itu akan menghancurkan keluarga kita? Apa kalian tidak sadar betapa malunya Appa? Betapa kecewanya Appa? Appa sangat menyayangi kalian…" Sahut Hangkyung. Runtuh sudah pertahanan terakhir Hangkyung. Air mata berhasil tembus dan mengalir dari kedua sudut mata sosok ayah yang sangat tegar tersebut. Dia terisak pelan, namun itu hanya sebentar sebelum dia menghapus air matanya tersebut dan kembali menarik tangan Leeteuk.

"Appa…"

Hangkyung menoleh ke arah Yesung. Putranya tersebut menunduk dengan dalam. Hingga Hangkyung tidak bisa melihat bagaimana raut wajah putranya tersebut. Namun mata Hangkyung terbelalak saat melihat tubuh Yesung merosot dan terduduk dengan menghadap kepadanya. Hatinya Hangkyung menjerit untuk segera menghentikan apa yang dilakukan putra sulungnya tersebut.

"Appa! Ku mohon… Jangan bawa Teukie pergi. Jika Appa marah, marahlah padaku saja. Jangan seret Teukie. Jangan pisahkan kami, Appa… Aku tidak bisa hidup tanpa Teukie…" Yesung berujar sambil menunduk, berlutut di depan Hangkyung sambil memohon dengan sepenuh hatinya. Sorot matanya penuh keyakinan namun entah kenapa Hangkyung juga melihat sebuah kerapuhan di mata putra sulungnya tersebut, sorot yang selama ini belum pernah dia lihat.

"Kumohon, Appa… Aku sangat mencintai Teukie, Aku tak bisa hidup tanpanya…" Lagi. Yesung berujar dengan pelan, suaranya mulai bertegar namun dia mati-matian menahan air matanya yang akan mengalir. Dia harus kuat dan tegar. Dia harus mempertahankan Teukie.

Grep!

Isak tangis Teukie terdengar. Leeteuk melepaskan cengkraman ayahnya tersebut dan langsung memeluk tubuh hyungnya tersebut dengan sangat erat. Dia tahu hyungnya tersebut sangat mencintainya, begitu juga dengan dirinya. Mereka berdua seperi satu kesatuan yang tidak bisa saling berpisah. Jika salah satu pergi, maka berdua akan sama-sama menderita. Sama-sama sakit, sama-sama akan hancur. Karena hanya dengan bersama mereka bisa lewati apapun. Namun jika hanya sendiri? Semangat hidup saja akan segera terkikis dari keduanya. Begitulah cinta mereka. Lengkap dengan segala kasih sayang dan penuh dengan segala macam emosi. Namun sangat rapuh jika genggaman tangan terlepas. Karena mereka kuat hanya dengan bersama.

"Saranghae, hyung…"

Leeteuk semakin mengeratkan pelukannya kepada sang hyung, mencoba untuk saling menguatkan meski itu mustahil karena keduanya sama-sama rapuh sekarang. Sama-sama dalam dilemma karena perpisahan berada di depan mereka. Perpisahan yang nyata.

"Saranghae, Teukie…"

Yesung mengeleminasi jarak antara keduanya. Saling menempelkan dahi mereka berdua, membuat mata mereka saling bertemu dan mencoba memahami apa yang tersembunyi di balik emosi mereka. Di sana hanya ada cinta. Mereka tulus saling mencinta. Yesung meraup wajah adiknya dengan kedua tangannnya, membingkau wajah sempurna adiknya yang sangat manis tersebut walau kini sudah penuh dengan air mata. Sedangkan Leeteuk menggenggam salah satu pergelangan Yesung yang membingkai wajahnya. Saling menguatkan walau hal tersebut mustahil karena mereka akan sama-sama terluka.

"Aku pergi tidak untuk selamanya… Buat aku bisa kembali hyung… Karena hanya hyung satu-satunya alasan aku bisa menjadi kuat… Buat Omma dan Appa mengerti kita hyung… Karena hyung satu-satunya orang yang bisa lakukan itu. Aku sangat mencintai hyung. Aku tidak ingin pisah dari hyung karena hyung adalah orang yang dapat menguatkan aku. Aku juga tidak bisa hidup tanpa hyung. Tapi Amerika tidak sejauh itu hyung… hiks… tidak sejauh itu hingga kita tidak bisa berhubungan… hiks…" Isak Teukie semakin terdengar saat dia mengatakan hal tersebut.

"Aku tidak bisa jauh darimu…"

"Amerika tidak sejauh itu hyung…"

Hangkyung tidak bisa lagi melihat kedua putranya yang saling berpelukan dengan mengucap kata yang benar-benar sangat menyakitkan untuk didengar oleh Hangkyung. Hangkyung menarik tanga Teukie dengan pelan namun kuat. Membuat pelukan kakak beradik itu terlepas. Dia lalu membawa Teukie keluar dari kamar tersebut dan meninggalkan Yesung yang masih menunduk.

Sedangkan Heechul yang melihat semua itu dari luar kamar hanya dapat menangis tanpa suara sambil mencengkram kedua sisi kepalanya dengan kuat. Mencoba untuk tetap tegar namun tidak bisa. Dia memang sangat menyayangi kedua putranya dia tidak ingin kedua putranya tersebut meninggalkannya. Dia ingin kedua putranya tersebut tersenyum dan berbagi cerita lagi dengannya. Betapa sangat menyenangkannya saat keluarga kecil mereka dihiasi oleh tawa dari kedua buah hati mereka. Ibu mana yang tidak akan senang jika melihat anak-anaknya senang. Heechul kembali menangis.

# # #

Pemandangan matahari terbenam menarik perhatian seorang Cho Kyuhyun. Membuat namja tersebut betah berada di balkon kamarnya hanya sekedar untuk melihat kuning kejinggaan dari matahari terbenam tersebut. Namja tersebut menghela nafas sambil menatap lurus ke depan. Jika melihat matahari terbenam dia jadi ingat akan Teukie. Sosok namja yang sampai kini belum jua pergi dari hatinya. Betapa Kyuhyun merindukan namja tersebut padahal dia baru saja bertemu dengan namja tadi pagi hingga siang hari. Namun entah kenapa perasaannya tetap menjerit rindu.

Tiba-tiba pikirannya melayang kepada Sungmin. Dia tentu merasa bersalah dengan namja manis tersebut. Namun dia tidak bisa memaksakan perasaannya. Dia tidak memiliki perasaan seperti itu kepada Sungmin. Selama ini dia hanya menganggap Sungmin seperti hyungnya sendiri, walaupun pada kenyatannya dia tidak pernah memanggil Sungmin dengan sebutan hyung. Kyuhyun kembali menghela nafas berat. Pikirannya terasa penuh saat ini. perasaanya tidak enak entah karena apa dan bayangan Teukie selalu timbul di pikirannya saat perasaan tak enak itu datang. Sedikit banyak dia merasa resah. Dia hanya dapat berharap tak ada yang terjadi dengan malaikatnya.

Bunyi dering ponsel membuat Kyuhyun mengarah ke dalam kamarnya, ke atas tempat tidurnya di mana ponselnya berada dalam keadaan bordering lumayan heboh. Dengan gerakan lambat dia masuk ke dalam kamar dan mengambil ponselnya tersebut. Alisnya sedikit bertaut saat yang terpampang di layar ponsel adalah nomor asing, tak dikenal. Dengan ragu Kyuhyun menerima panggilan tersebut.

"Yoeboseyo?" Ucap Kyuhyun dengan tenang, dia menajamkan indera pendengarannya untuk mendengar suara orang di seberang sana.

"Kyuhyun…" Suara orang di seberang sana terdengar serak. Kyuhyun membelalak. Dia merasa kenal dengan suara tersebut.

"Nu, nugu?" Sahut Kyuhyun sekedar untuk memastikan siapa yang ada di seberang sana.

"Yesung…"

"Ada apa, Yesung Hyung?" Ucap Kyuhyun lagi saat terdiam cukup lama. Dia memang sudah menduga bahwa orang yang berada di seberang sana adalah Yesung. Namun buat apa namja yang sedikit dia benci itu menghubunginya? Bukankah mereka sama-sama sudah saling menunjukkan jika mereka tidak membutuhkan satu sama lain. Hal tersebut membuat Kyuhyun tidak nyaman. Dia takut terjadi sesuatu.

"Tolong jaga Teukie untukku… Dia menuju Amerika ke tempat sepupu kami, Kim Kibum. Susul dia. Aku mohon padamu…"

Sambungan terputus. Kyuhyun terdiam, mencerna apa yang terjadi. Saat otaknya sudah selesai menelaah apa yang terjadi, ponselnya langsung jatuh ke lantai yang dingin dan Kyuhyun berlari membonglar isi lemarinya. Memasukkan baju ganti dengan tergesa-gesa. Wajahnya mengisyaratkan sebuah kecemasan yang amat sangat. Kenapa Teukie pergi ke Amerika. Sendirian kah? Apa dia bertengkar dengan Yesung atau yang ada sesuatu yang terjadi pada keduanya? Kyuhyun tidak bisa berpikir dengan jernih.

Selesai dengan memasukkan beberapa baju ganti ke dalam koper besar berwarna hitam, Kyuhyun langsung berlari ke luar kamar, tidak lupa mengambil ponselnya dan memasukkan ke dalam saku celananya. Saat hendak membuka pintu utama rumah besarnya, dia bertemu dengan Sungmin. Namun Kyuhyun tidak menggumbris, pikirannya penuh dengan Teukie. Hanya Teukie, hingga dia mengabaikan Sungmin dan terus berjalan keluar dari pintu tersebut. Membiarkan Sungmin membantu di tempat.

"YA! Cho Kyuhyun! Mau kemana kau?" Teriak Sungmin saat Kyuhyun sudah hampir memasuki mobil biru mudanya yang sudah terparkir di hadapannya.

"Aku mau pulang ke Amerika." Mobil itupun melaju dengan sangat cepat keluar dari kediaman keluarga Cho. Meninggalkan Sungmin yang terbelalak kaget.

Tubuh Sungmin merosot dan dia menunduk. Bibirnya terkatup rapat. Poni menutupi sebagian wajahnya. Lalu tetes demi tetes air bening jatuh ke lantai. Isak mulai terdengar.

"Apa sekarang kau akan meninggalkanku lagi, Kyuhyun-ah?"

# # #

Dingin. Dingin. Dingin. Leeteuk hanya dapat mengeluh. Perjalanan setengah hari dengan bantuan pesawat dan mobil membuatnya lelah. Musim dingin sudah tiba di Amerika. Membuat salju yang putih bersih tersebut menutupi permukaan jalanan dan pekarangan rumah-rumah. Begitu pula dengan sebuah rumah yang saat ini Leeteuk tempati. Putih bersih, dia suka. Namun entah kenapa Leeteuk tidak suka suasana dingin ini. Rumah sepupunya tersebut berada dekat dengan alun-alun kota, berada di kawasan elite. Leeteuk tidak mengerti, bagaimana saudaranya yang bernama Kim Kibum itu hidup sendirian di Amerika untuk melanjutkan kuliahnya. Tanpa sanak saudara. Teukie kagum. Dirinya tidak akan sanggup seperti itu.

"Teukie, tutup jendelanya. Nanti kau sakit."

Suara lembut seorang namja menyadarkannya. Dengan pelan Teukie menutup jendela dan berbalik untuk mendapati seorang namja tampan tengah tersenyum kepadanya. Hal tersebut berhasil membuat Leeteuk juga tersenyum, namun bukan senyuman seperti biasanya, melainkan senyuman terpaksa dan Kim Kibum bukanlah orang bodoh yang tidak menyadari hal tersebut. Namun tak ada yang dapat dia lakukan untuk membantu sepupunya tersebut. Dia hanya dapat menjaga Leeteuk tetap baik-baik saja untuk Yesung. Dia sudah berjanji.

"Tolong jangan cemaskan aku, Kibum hyung." Sahut Leeteuk pelan. Dia tersenyum kecil dan beranjak dari tempatnya semula berdiri. Dia melewati Kibum dengan tenang dan ringan.

"Jangan tahan dirimu, Teukie. Aku mengerti apa yang kamu rasakan…" Kibum menahan tangan Teukie lalu membawa tubuh ringkih sepupunya tersebut dalam pelukannya. Dia menepuk punggung Teukie saat tahu sepupunya tersebut terisak pelan dalam pelukannya. Membuat Kibum merasa sangat simpati. Dia memang sudah menyayangi Teukie seperti adiknya sendiri. Dia tidak suka jika adiknya tersebut bersedih hati.

"Aku tidak bisa hidup tanpa Yesung hyung… Aku tidak bisa tanpanya. Aku mencintainya, Kibum hyung…" Suara Teukie sangat menyayat hati Kibum. Ini bukan salah kedua sepupunya tersebut. Tidak ada yang salah dalam hal ini. Tidak ada yang dapat menahan cinta jika cinta tersebut sudah tumbuh. Kibum sangat tahu hal tersebut.

"Tenanglah… Semuanya akan baik-baik saja…" Hanya itu yang dapat Kibum ucapkan. Dia tidak yakin jika perkataannya tersebut akan membuat Leeteuk tenang. Namun setidaknya dia sudah mencoba.

Tubuh Leeteuk yang berada di pelukan Kibum limbung, membuat Kibum kaget. Dengan cepat dia menahan tubuh Leeteuk dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya memegang dahi Teukie yang ternyata panas. Demam. Dengan sigap Kibum mengangkat tubuh Leeteuk yang ternyata sangat ringan tersebut pada sofa terdekat. Mengambil bantal dan selimut untuk Teukie. Tidak lupa menyalakan penghangat ruangan dan membuat kompres untuk Leeteuk. Kibum cemas, tentu saja.

"Yesung hyung…"

Leeteuk mengigau nama Yesung berulang-ulang, membuat Kibum yang setia di sampingnya tersenyum miris. Yesung dan Leeteuk memang saling mencintai. Pamannya mungkin mengambil sebuah keputusan yang salah dengan mengirim Teukie kemari. Hal tersebut hanya akan membuat keduanya semakin menderita. Jika sampai terjadi sesuatu dengan Leeteuk ataupun Yesung, mungkin Kibum tak akan memaafkan pamannya tersebut. Namun satu sisi, Kibum juga mengerti dengan perasaan pamannya, dia tahu pasti pamannya tersebut gelap mata. Semua fakta tersebut membuat kepala Kibum menjadi sakit sehingga dia memutuskan untuk tidak memikirkannya. Yang harus dia lakukan saat ini hanyalah menjaga Teukie tetap baik-baik saja. Cuma itu yang dapat dia lakukan.

Setelah beberapa puluh menit kemudian. Leeteuk membuka matanya. Tubuhnya sudah mendingan, demamnya sudah turun. Dia menatap kepada Kibum yang terduduk di lantai dengan kepala yang berada di sisi sofa tempatnya berbaring. Kasihan sepupunya ini. Leeteuk menyingkap selimutnya dan menutupkannya pada tubuh Kibum. Dia tidak ingin merepotkan. Dengan sedikit gontai, Teukie menuju dapur. Membuat dua cangkir teh hangat untuk mereka.

"Yesung hyung…" Pandangan Leeteuk hampa. Pikirannya sudah melayang membayangkan keadaan hyungnya tersebut. Baru kali ini dia merasa teramat sangat merindukan hyungnya tersebut. Teramat sangat ingin memeluk hyungnya tersebut. Dia sangat rindu.

"Sedang apa kau? Biar aku saja yang membawa teh ini, kau kembalilah ke depan. Istirahat." Kibum ternyata sudah bangun dan menyusulnya ke dapur. Leeteuk hanya mengangguk dan berjalan menuju ruang tamu. Tempat awal dirinya berbaring.

Suara bel membuat Leeteuk tidak jadi mendudukkan dirinya di sofa empuk tersebut. Dia melihat ke arah dapur, Kibum sedang sibuk membuat sesuatu mungkin hingga tidak mendengar suara bel. Dengan pelan, Leeteuk berjalan ke arah pintu depan. Tanpa melihat siapa yang berada di balik pintu, Leeteuk langsung membukanya.

Sepasang tangan kekar membawa Leeteuk ke dalam sebuah pelukan hangat. Membuat pemilik surai pirang kecoklatan tersebut kaget. Dengan ragu dia membalas pelukan seorang namja yang dia belum melihat wajahnya. Namun dia merasa hangat. Aroma parfume yang sangat mudah diingat ini. Cho Kyuhyun.

"Bagaimana kau sampai berada di sini, Kyuhyun?" Tanya Leeteuk tanpa melepas pelukan mereka karena tangan Kyuhyun tak juga lepas dari tubuhnya. Seakan-akan Teukie adalah barang kesayangan Kyuhyun hingga Kyuhyun tak ingin melepaskannya barang hanya sebentar.

"Yesung hyung menyuruhku untuk menyusulmu dan menjagamu. Aku menjadi cemas dan langsung terbang ke Amerika. Mencari rumah sepupumu ini juga memakan waktu." Sahut Kyuhyun. Dia ingin melepas pelukannya namun sekarang Leeteuk yang menahannya. Membuat Kyuhyun mengernyit tak mengerti. Namun dia tidak protes, dia hanya menepuk punggung Leeteuk.

Pelukan itu lepas saat Kibum menegur mereka. Leeteuk menuntun Kyuhyun ke ruang tengah. Dia mempersilahkan namja berambut hitam legam tersebut duduk, koper hitam menyertai sang namja. Tahulah Leeteuk jika Kyuhyun mungkin saja belum istirahat sejak dia tiba.

"Jadi kau Cho Kyuhyun?" Kibum buka suara yang hanya ditanggapi dengan anggukan dari Kyuhyun. Sejak duduk di sofa ruang tengah namja tersebut hanya menatap ke arah Leeteuk yang duduk di samping Kibum. Hal tersebut membuat Kibum sedikit jengkel.

"Kibum hyung. Aku ingin tinggal di sini, bolehkah? Kedua orang tuaku masih berada di Korea. Aku tidak mau tinggal sendirian." Dan betapa sok akrabnya Cho Kyuhyun itu. Sudah mengabaikannya dan kini dengan seenaknya memanggilnya dengan sebutan hyung. Dasar orang kaya, tidak sopan. Umpat Kibum dalam hati.

"Tentu saja, iyakan, hyung?" Kim Leeteuk malah mendahuluinya untuk menjawab. Dan apa-apaan wajah Teukie itu. Penuh dengan aura memohon. Membuat Kibum tidak ada pilihan lain selain mengangguk. Dia hanya berharap jika hal ini tidak berdampak buruk.

# # #

Seminggu adalah waktu yang singkat namun terasa seabad bagi Kim Yesung. Selama seminggu tidak bertemu Teukie. Selama seminggu tidak melihat senyuman kekasihnya tersebut membuat hati Yesung menjadi hampa. Selama tiga hari dia terpuruk, dan saat merasa sudah mendiangan baru dia masuk sekolah lagi. Namun bukan berarti dia akan dengan senang hati menerima pelajaran seperti Kim Yesung yang sebelum-sebelumnya. Yesung menjadi pendiam dan tidak banyak bicara. Dia bahkan sering menghilang saat istirahat telah tiba, dan dia akan menghilang lagi saat jam pulang sekolah. Selama beberapa hari Yesung pun melakukan interaksi dengan teman-temannya. Termasuk Sungmin.

Sungmin menatap Yesung dengan pandangan bingung. Dia tidak mengerti kenapa sahabatnya tersebut menjadi murung. Dia sudah sangat cemas saat Yesung tidak masuk selama beberapa hari. Dan setelah Yesung masuk sekolahpun mereka tak sedikitpun saling sapa. Ini membuat Sungmin sedikit terpuruk. Kyuhyun pergi ke Amerika. Yesung mengacuhkannya. Apalagi sekarang dia hanya sendirian. Menjengkelkan. Dengan langkah pelan, Sungmin mendekati Yesung. Dia harus memiliki keberanian untuk mengetahui apa yang telah terjadi dengan Yesung.

"Sungie… Kau kenapa?" Tanya Sungmin. Dia duduk di kursi yang berada di depan Yesung. Matanya memandang dengan penuh khawatir kepada Yesung yang masih memandag hampa keluar jendela.

"Sungie!" Panggil Sungmin lagi. Dia meninggikan suaranya agar menarik perhatian Yesung. Tubuh namja di depan Sungmin tersebut terlihat kurus dengan garis-garis hitam yang samar di bawah matanya. Seakan kurang tidur.

Kesabaran Sungmin meledak. Dia mencengkram bahu Yesung lalu membingkaikan kedua tangannya ke wajah namja tampan tersebut. Memutar wajah namja tersebut untuk menatapnya.

"Sungie!"

Yesung menyerah. Dia menatap Sungmin dengan pandangan hampa tanpa cahaya di kedua bola matanya yang kini terlihat sangat redup. Hati Sungmin terasa teriris melihat hal tersebut. Dia tidak bisa melihat Yesung seperti ini.

"Sungmin, kumohon. Tinggalkan aku…" Yesung menggenggam pergelangan tangan Sungmin yang masih berada di wajahnya. Dengan wajah yang tanpa ekspresi, dengan nada yang datar dia berujar kepada Sungmin.

"Sungie aku-"

"Kumohon…"

Sungmin menunduk, dia melepaskan tangannya dari pipi Yesung. Membuat pemuda yang berada di hadapannya kembali memalingkan wajahnya ke luar jendela dengan pandangan hampa. Tubuh Sungmin bergetar sebelum dia menjauh dari tempat duduk Yesung menuju tempat duduknya sendiri. Hatinya berdenyut sakit.

# # #

Jika Yesung tengah gundah karena hilangnya Leeteuk, maka Leeteukpun merasakan hal yang sama. Dari dasar hatinya dia teramat sangat merindukan kakaknya tersebut. Dia menatap makanan yang ada di depannya dengan pandangan tidak berminat. Kibum sudah selesai makan sepuluh menit yang lalu dan sepupunya tersebut sudah pergi ke kampusnya dengan buru-buru. Kini hanya ada dirinya dan Kyuhyun.

Kyuhyun menatap Teukie dengan pandangan cemas. Namja manis tersebut bahkan tidak memakan makanannya sejak awal. Dia hanya memainkan makanan yang ada di piringnya dengan sendok makan, hal tersebut membuat Kyuhyun mau tak mau harus merasa cemas.

"Teukie, apa perlu aku yang memasukkan makanan tersebut ke mulutmu?" Ucap Kyuhyun dengan nada jahil, namun terselip sebuah kecemasan di sana.

"Tidak. Aku kenyang."

"Tidak makan sedikitpun kau bilang kenyang?" Sahut Kyuhyun tidak terima. Dia memandang Teukie dengan pandangan gundah.

Namun Teukie tidak menjawabnya. Namja manis berambut pirang kecoklatan tersebut hanya menunduk dengan tangan yang mengepal, sendok sudah terlepas dari tangan kanannya. Poni menutup hampir sebagian wajahnya yang menunduk hingga Kyuhyun tidak bisa melihat bagaimana raut wajah namja berparas malaikat tersebut. Namun dia tahu dengan pasti. Ada raut kesedihan di mata itu.

"Kyuhyunnie… Aku merindukan Yesung hyung…"

Suara Teukie yang bergetar membuat Kyuhyun tersentak. Tangannya mengepal kuat hingga memutih. Dia menggigit bibir bawahnya untuk menahan emosinya yang akan menguap kapan saja. Yesung. Yesung. Yesung dan Yesung! Apa hanya namja tersebut yang berada di kepala Teukie. Apakah tidak ada yang dapat dia lakukan untuk merebut hati namja manis yang ada di hadapannya ini?

"Teukie, aku mencintaimu…"

Terungkap sudah apa yang dirasakan Kyuhyun kepada Leeteuk. Membuat namja manis tersebut terbelalak kaget. Kyuhyun menyukainya? Demi segala kenikmatan Tuhan yang diberikan kepadanya, Leeteuk sama sekali tidak menyangkanya. Selama ini dia hanya tahu jika Sungmin menyukai Kyuhyun sehingga dirinya tidak berani berpikiran jauh. Lagipula dirinya sudah memiliki Yesung. Dia tidak boleh serakah dengan ingin memiliki Kyuhyun juga, bukan?

"Tapi aku milik Yesung hyung…" Ucap Teukie dengan tenang, suaranya bergetar. Dia tidak berani menatap Kyuhyun yang kini tengah menatapnya dengan pandangan mengintimidasi.

"Aku mencintaimu melebihi apapun yang aku miliki. Jika kau mengijinkan, aku bisa saja merebutmu dari Yesung…" Ucapan Kyuhyun terdengar sangat tegas dan nyata dalam indera pendengaran Leeteuk. Dia tahu jika namja tampan tersebut benar-benar mencintainya dari lubuk hati yang terdalam. Namun tidak boleh begini. Jalan Kyuhyun masih panjang, bukan dirinya yang terbaik untuk namja itu.

"Tidak, Kyuhyunnie… Ada seseorang yang akan mencintaimu dengan tulus dan sepenuh hati. Bukan aku," Ucap Teukie. Dia memberanikan dirinya untuk menatap langsung ke arah mata Kyuhyun. Dan setelahnya dia langsung menyesali itu. Mata Kyuhyun terlihat terluka.

"Siapa orang yang kau maksud?" Tanya Kyuhyun. Matanya berkilat.

"Sung-"

"Aku tidak mencintainya…" Kyuhyun memotong perkataan Teukie. Dia tahu jika yang dimaksud Teukie adalah Sungmin. Namun dirinya memang tidak memiliki perasaan apapun kepada Sungmin. Tidak sedikitpun, karena hatinya sudah penuh dengan Teukie saja.

"Kau bisa belajar mencintainya."

Brak!

Kyuhyun menggebrak meja dengan kedua tangannya. Dia memandang Teukie dengan pandangan terluka membuat Teukie merasa tidak enak. Dia egois juga menyuruh Kyuhyun demikian. Namun yang dia pikirkan itu benar, bukan? Sungmin adalah namja yang tepat untuk Kyuhyun, karena namja itu benar-benar mencintai Kyuhyun dengan sepenuh hatinya.

"Ani! Kau mudah mengatakan untuk belajar mencintainya! Kenapa bukan kau saja yang belajar mencintaiku!"

"Karena aku tidak menyukaimu!" Balas Teukie. Dan detik selanjutnya dia menyesali ucapannya sendiri.

"Kau…tidak menyukai…ku?"

Suara Kyuhyun terdengar sangat lirih dan terbata-bata. Tubuhnya bergetar dengan tawa kecil keluar dari mulutnya. Tangan kanannya menutup sebagian wajahnya dan tangan kirinya bertumpu pada sandaran kursi makan. Dia tertawa kecil, membuat Teukie merasa bersalah. Dia tahu betapa Kyuhyun mencintainya, namun dia sudah memilih Yesung.

"Kyu-"

Belum sempat Teukie melanjutkan perkataanya, Kyuhyun sudah keluar dengan penuh emosi dari ruang makan. Selanjutnya yang terdengar hanyalah bunyi pintu kamar yang dibanting dengan cukup keras disusul dengan teriakan penuh amarah dari Kyuhyun. Teukie yang mendengar itu segera merosot. Dia mencengkram dadanya dengan erat, untuk mengurangi rasa sakit yang dia rasakan. Kenapa sekarang menjadi serumit ini? Yesung hyung…

TBC


Akhirnya saya dapat update juga ,,,

Terimakasih untuk yang mau baca …

Balasan Review :

Angelika Park : Terima kasih, senang anda bisa datang mereview chp ini. hehe …

Hehehe … ia, saya membuat alurnya sedikit kecepatan ya, Oenni?

Boleh saya panggil anda seperti itu?

Ini udah update, maaf lama ya. Saya banyak ulangan akhir-akhir ini. tapi sekarang udah enggak. Hehehe … sekali lagi, terima kasih udah review ya … jgn jera … xD

Teuk TeukTeukie : Ah ternyata itu anda, Oenni! xD terima kasih sudah review ya Oenni … XD

Iya, saya 14 tahun. Apakah segitu tidak terlihatnya ya? Hehehe, Oennie masih muda kok. Saya saja ingin cepat 16 tahun. Hehe …

Iya, saya memang sangat suka adegan yeteuk yang so sweet itu. Entah kenapa sll ingin membuat yang seperti itu … XD

Sekali lagi terima kasih sudah review. Jgn jera ya …

PuPuput Teukie : Mana mungkin saya jera mendpat review dari anda … iya, saya juga mendapat inspirasi adegan di meja makan tersebut …

Iya, ini sudah update. Ditunggu reviewmu lagi ya … xD

TeukieAngelElf Fanya : Bagus jika anda sudah paham. Saya senang … terima kasih sudah review ya …

Iya, saya juga merasa jika saya membuat alurnya sedikit kecepatan …

Apakah kurang baik, ya Fanya-ssi? Hehe, sekali lagi terima kasih sudah review …

ElfAngel Teukie2 : Jangan bilang seperti itu. Saya jadi malu. :D terima kasih sudah review ya …

Iya, saya memang sangat memperhatikan typo(s) tersebut. Saya berharap memang tidak ada typo seperti yang anda bilang tadi … hehe

Terima kasih udah review ya. Jangan jera dtg lagi.

Nisca31tm-emerald : Terima kasih sudah review, Nisca-ssi … XD anda senang, saya juga senang …

Iya, hem ternyata saya membuat alurnya jd kecepatan ya?

Iya, tapi saya memiliki jalan tersendiri nanti untuk Sungmin.

Just reader : Iya, terima kasih udah review ya … XD

Ini udah update. Jgn jera datang lgi ya …

Elf : terima kasih udh review, ini udh lanjut …. XD

"Sauriva Angelast"