I Hope You Like My Fanfict...
* MAAF. Maaf karena baru bisa Update sekarang (Sekitar satu bulan lebih). Aku mencari ide tentang Trik-trik dalam kasus pembunuhan kali ini. dan saat masih memikirkannya, aku dioperasi lantaran kena penyakit yang bernama Osteochondromatosis (Namanya hafal tapi masih kurang yakin akan tulisannya). Bahkan Ide dari Triknya dapat di rumah sakit saat aku melihat tempat tidur yang bisa dibengkok-bengkokkan.
* Aku sudah mendapatkan struktur cerita untuk File selanjutnya. Dan aku akan memberi sedikit tentang ceritanya. Spoiler : Ai / Shiho Miyano Special.
***Romance Detective : Seeing is Believing***
Yakinlah!, Gosho Aoyama adalah Creator Detective Conan.
'Menyatakan sebuah kebenaran adalah tugas seorang detektif.' Kogoro Mouri.
" … Apa yang terjadi jika BO tak pernah ada, memasuki dunia yang kini telah menjadi sebuah sejarah yang tak akan bisa terjadi, peristiwa lenyapnya sejarah BO disaksikan oleh Conan sendiri! …"
"Memiliki pemikiran tentang kebenaran selalu ada satu,
walaupun memiliki tubuh anak kecil,
tapi juga memiliki kepintaran orang dewasa…
namanya adalah Detektif Conan!."
Apa yang terjadi jika peristiwa Shinichi menjadi Conan tak pernah ada…..
Apa yang terjadi kalau Gin & Vodka saat itu tak muncul di Tropical Land…..
Apa yang terjadi jika Black Organization tak pernah ada…..
Gelap, sangat gelap saat itu entah dimana ini pastinya tapi yang pasti tempat itu sangat gelap. "SRIIING!" , tiba-tiba ada cahaya yang muncul dari depan. Conan terus maju hingga dia tahu kalau tujuannya menuju ke sebuah sungai, BYUUURR!.
"Wuahh, dimana ini?" Conan berusaha berenang tapi dia tak mampu lantaran kepalanya masih pusing dikarenakan perjalanan mesin waktu itu, 'Hah, hah, hah sungai ini, saat pulang sekolah dulu aku sering lewat sini bersama Ran, aku juga sering bermain disini waktu kecil bersama Ran.' Kata Conan dalam hati.
"Eh, ada orang tenggelam … hei bantu aku!. Ah anak itu akan tenggelam!." Seseorang gadis berteriak lantaran Conan saat itu memang sudah tenggelam semuanya kecuali separuh badannya. Saat seluruh badannya sudah tenggelam semua. Gadis tersebut berusaha menolongnya, dia berenang menuju arah Conan berada.
"Hei, hei, kenapa kau yang berenang? biar aku saja yang berenang. Sebagai laki-laki aku merasa memalukan karena membiarkanmu berenang menuju ke tengah sungai " kata temannya memperingatkan namun gadis itu tak peduli.
Gadis itu memegang tangan Conan dan membawanya ke tepi sungai.
"Hei, dik kamu gak apa-apa?." Tanya gadis tersebut khawatir.
"Tenang saja dia hanya tenggelam. Dan kelihatannya tak ada luka yang serius. " Kata teman gadis itu menenangkan.
"Tapi, anak ini masih kecil. Bagaimana kalau dia koma nantinya. "
Walaupun mendengarkan percakapan mereka berdua. Conan masih tak mampu untuk membuka matanya. Lalu perlahan demi perlahan Conan berusaha membuka matanya. Perlahan-perlahan dengan pastinya. Tapi setelah dia membuka matanya dengan lebar Conan kaget bukan main. Gadis yang menyelamatkannya ternyata orang yang dia kenal.
"Kamu tak apa-apa, dik?" Tanya gadis itu.
"RAN!?"
"Eh, kamu tahu aku?" Tanya gadis itu yang tak lain adalah Ran Mouri.
Conan tak tahu mau jawab apa. Ran, gadis yang dia sukai tiba-tiba tak mengenal dia. Masih dalam kagetnya, tiba-tiba kagetnya bertambah 2 kali lipat. Dia melihat teman gadis tersebut. Ternyata dia juga adalah orang yang dikenalnya. Sangat malah!, orang itu tak lain Shinichi Kudo.
"Apa kamu kenal dia, Ran?" Tanya temannya yang tak lain adalan Shinichi Kudo.
"SHINICHI?! KOK BISA?!" Teriak Conan yang tak bisa menyembunyikan rasa kagetnya itu. Tiba-tiba dia teringat kata ANOKATA sebelumnya kalau dunia yang ditempatinya sekarang hanyalah sejarah yang tak nyata & tak akan terjadi. Jadi bisa dikatakan dunia tersebut adalah sebuah cerita ANOKATA yg berasal dari dunia ini hingga dia pergi ke masa lalu dan mebuat masa ini menjadi sejarah yg tak akan terjadi serta membuat sebuah organisasi yang bahkan namanya pun tak tahu sehingga membuat DC Fans hanya bisa menjulukinya Black Organization (BO). Conan memang menyelidiki siapa sebenarnya ANOKATA tersebut. Dan walaupun jika Conan mengetahui siapa identitas ANOKATA & berusaha menghentikannya, ANOKATA yang berada di dunia nyata tidak akan kenapa-napa.
"Hei kenapa kau juga tahu aku? Dan wajahmu terlihat familiar. Jangan-jangan kau…." Ucap Shinichi bersambung, sementara Conan gugup bukan main lantaran awal-awal bertemu saja Shinichi sudah curiga padanya, ".…penggemarku."
"Hah?"
"Sudahlah Shinichi, untung saja anak ini tidak koma." Kata Ran bersyukur.
"Bodoh, mana ada anak yang koma hanya gara-gara tenggelam di sungai selama ½ detik. Coba kau lihat dengan jelas, dia terlihat SANGAT sehat, iyakan? Dan yang lebih penting kau mungkin boleh mengenaliku karena kau bisa saja melihatku di koran. Tapi kau tak mungkin mengenali Ran yang baru saja kau temui ini. Jadi bisa di spekulasikan kalau kau mungkin mata-mata."
"Mata-mata? Bodoh, dia kan masih anak-anak mana mungkin mata-mata." Kata Ran yang masih memangku Conan dan membuat Shinichi sangat cemburu. Oh, dan soal mata-mata, sayangnya Shinichi benar, sekarang dia memang menjabat sebagai mata-mata sementara.
"Ya ya ya, kalau begitu bisakah kau melepaskan anak itu, Ran?."
"Memangnya kenapa?." Tanya Ran kepada Shinichi.
"Sudah kubilang Ran, anak ini sangat misterius. Dan mungkin dia sengaja jatuh dari sungai ini. Karena waktu dia jatuh dari sungai ini pas bersamaan kita datang di dekat sini. Seolah-olah dia ingin memperlihatkan kita kalau dia benar-benar jatuh dari sungai ini." Jawab Shinichi beralasan. Conan tau betul kalau Shinichi agak cemburu dengan dirinya sendiri. Walaupun hanya alasan, alasan Shinichi memang cukup logis.
Conan mencari. Mencari alasan yang cocok kenapa dia tahu Ran & Shinichi. Dalam waktu yang sangat singkat, dia melihat langit-langit, tanah, rerumputan & air sungai tuk mencari sebuah alasan yang sama logisnya dengan alasan Shinichi tadi. Lalu dia melihat Ran, Shinichi & ! (Lambang ini maksudnya kalau Conan sedang sadar akan sesuatu. Di komik & anime biasanya seperti gambar kaget putih berlanjut. Kuberi tanda !, soalnya setiap Conan dapat gambar kaget putih berlanjut tersebut pasti ada tanda serunya).
"A, aku tau nama Kak Ran & Kak Shinichi karena namanya tertera di baju kakak." Jawab Conan dengan nada kekanakan.
"Begitu ya ... dan siapa namamu, dik?." Tanya Ran.
"nama ... namaku..." Jawab Conan bersambung. Awalnya Conan ingin mencari nama baru. Tapi karena sudah terbiasa dengan nama Conan Edogawa, maka lebih baik ya nama itu saja. "Conan, Conan Edogawa."
"Conan?..nama yang aneh." Ran menilai.
"It, itu karena ayahku penggemar Conan Doyle. Jadi namanya begini."
"Oh, kau seperti Shinichi, penggila misteri. Lalu dimana rumahmu?." Tanya Ran lagi.
"Eh?" Kaget Conan.
"dimana rumahmu, dik? Apa kamu minggat dari rumah?" Tanya Shinichi agak cuek.
"Eh, minggat? Apa itu benar, Conan?"
"I, itu … rumahku, dimana ya? Aku lupa rumah orang tuaku dimana tapi yang pasti sangat jauuuuh sekali." Jawab Conan berbohong dengan bahasa anak-anaknya. Dalam hati Conan berkata. 'Sebenarnya rumahku ada di sebelah rumah Profesor Agasa tapi kalau yang bertanya Ran & Shinichi sendiri, jadi jawabnya begitu aja.'
"Ha, ha, haaaa ... Chiii!" Bersin Conan.
"Ah, kedinginan ya Conan-kun. Kalau begitu kita ke rumah Kak Shinichi ya. Buat ganti bajumu yang basah." Kata Ran ramah.
"Hah! kenapa rumahku?" Tanya Shinichi sedikit protes.
"Sudah tentu kan! rumahmu kan dekat dari sini. Lagipula kita butuh bajumu waktu kecil untuk anak ini. Dan, ... kalau dilihat sepertinya baju ini sama dengan bajumu waktu kecil." Jelas Ran.
"Oh ... begitu ya." Jawab Shinichi malas.
Di perjalanan menuju rumah Shinichi. Ran terus memegang tangan Conan seperti adiknya sendiri dan tak peduli kecemburuan Shinichi. Conan yang melihat begitu merasa ingin menggoda Shinichi sedikit.
"Anō sa, Kak Ran."
"Ya, ada apa, Conan-kun?"
"Dari tadi aku penasaran soal ini, tapi kalau boleh bertanya ... apakah Kak Ran pacaran dengan Kak Shinichi?" Tanya Conan dengan nada anak-anaknya sehingga membuat wajah kedua remaja itu merah.
"Eh, Shinichi! Ti-tidak kami cuma teman sejak kecil aja kok. Tak ada yang istimewa, iya kan Shinichi?"
"Oh, ... Y-yeah." Jawab Shinichi malas, mengharapkan Ran menjawab sebaliknya.
"Begitu, ... padahal Kak Ran kelihatan cocok sekali dengan Kak Shinichi." Kata Conan masih menggoda. Ran terdiam walaupun begitu wajahnya masih memerah. Shinichi melihat cahaya matahari, berusaha menyembunyikan wajahnya yang merah.
Di Rumah Shinichi,
Setelah Conan selesai memakai pakaiannya Shinichi,
"Sudah kuduga..." Kata Shinichi tiba-tiba sambil memegang tas Conan yang dia bawa buat menghadapi ANOKATA sebelumya itu. Mata Ran menuju ke Shinichi lantaran penasaran apa maksudnya Shinichi tadi. Conan yang masih menata pakaiannya melihat ke Shinichi juga. Mencoba menerka apa maksud dari Shinichi itu. Tas?, Jangan-jangan Shinichi sudah melihat isi tas itu.
"...Ternyata kau kabur dari rumah, ya?" Lanjut Shinichi.
"Eh?" Kaget Conan dengan wajah Oi Oi nya itu.
"Memang apa isi tas itu Shinichi? Pakaian? Makanan?" Tanya Ran.
"Tidak, ini bukan makanan. Dan kurasa kau tak perlu tau Ran." Jawab Shinichi seraya menatap tajam Conan.
"Ehm, ae, anō sa, Kak Ran, boleh nggak aku bicara sama Kak Shinichi?, Eeee, Secara empat mata?." Kata Conan meminta.
"Eh, oh gak apa-apa. Aku juga mau belanja di pasar buat makan malam nanti. Kalau gitu, Shinichi aku pulang dulu ya."
"Hm, ya."
Ran pulang, meninggalkan Shinichi & Conan. Setelah Ran benar-benar keluar dari rumah, Conan & Shinichi memulai pembicaraan mereka.
"Aku ingin bicara denganmu sebentar, ... Shinichi Kudo." Kata Conan memulai.
"Apa maksudnya ini?" Sambung Shinichi seraya menunjukkan isi dari tas Conan kepada pemiliknya itu.
"Dengarkan dulu yang ingin kuucapkan. Lalu, kujawab pertanyaanmu itu." Balas Conan.
"..." Shinichi diam.
"Aku menyukai Ran."
"!"
"'..." Kini Conan yang terdiam.
"Oh, begitu. Lalu...?"
"Aku menyukai Ran, karena … aku adalah Shinichi Kudo."
"!"
"Kini, duniamu hanyalah sebuah ilusi, duniamu hanyalah sebuah sejarah. Karena ulah Profesor yang gila...". Conan menjelaskan panjang lebar ke Shinichi. Seperti bagaimana dia bisa ke sini. Bagaimana ada 2 Shinichi secara bersamaan. Semuanya, termasuk Organisasi yang mengecilkannya menjadi Conan, "... Jadi, apa kau percaya?."
"Heh,Ya..." Jawab Shinichi yang membuat Conan senang mendengarnya, "... Kaya' aku percaya kata-katamu." Lanjut Shinichi membuat Conan bersedih.
"Jadi kamu gak percaya."
"Tidak, bukan begitu. Maksudku kau memang sudah memperlihatkan beberapa bukti. Tapi itu masih belum cukup kuat."
"Jadi, kau butuh bukti yang kuat?" Tanya Conan.
"Tepat!"
"ZzzzBrzzz!" Tiba-tiba terdapat suara handphone berdering di HP Shinichi & Conan. Atau lebih tepatnya HP Conan yang digunakan untuk menelpon Ran dalam identitas Shinichi.
"Aku rasa ini bukti yang sudah cukup kuat." Kata Conan seraya memperlihatkan HP nya ke Shinichi. Disitu tertulis kalau Ran menelpon di HP Shinichi versi Conan. Sementara Shinichi yang dewasa inipun juga ditelpon oleh Ran.
Shinichi tersenyum & mengatakan, "Jangan kau jawab."
"Ya, iya."
"Halo."
"Ah, halo Shinichi. Maukah kau ke Pasar sebentar?"
"Hah? Memangnya ada apa?"
"Kau tahu Ibu Nohara yang biasanya jual ikan cumi-cumi?"
"Oh, ya. Aku pernah mengantarkanmu kesana, kan?"
"Iya betul. Di sebelah rumahnya ada orang meninggal."
"APA!."Jawab Shinichi & Conan berbarengan.
"Kata Inspektur Megure sih itu bunuh diri. Tapi menurut Opsir Takagi ada yang aneh. Entah apa itu. Jadi Opsir Takagi meminta kamu untuk datang ke sini. Apa kau mau Shinichi?."
"Heh, Hey KIDDO kurasa bukti ini sudah cukup kuat untukmu … Ya, jika kau memecahkan kasusnya." Seru Shinichi tiba-tiba ke Conan.
"Eh, Shinichi kenapa? Jadi kesini, gak? "
"Ya, aku akan kesana. Bersama tamu yang tak disangka," Kata Shinichi seraya memutuskan telponnya. "Jadi bagaimana?, apa kau ingin ikut?" Tanya Shinichi ke Conan.
"Dengan senang hati."
!
!
!
"Shinichi!" Teriak Ran.
"Oh, jadi di mana lokasi kejadiannya?" Tanya Shinichi setiba sampai.
"Kata Opsir Takagi ada di Gudang. Eh, Conan-kun kau juga ikut kesini?"
"Ya, aku mau lihat-lihat." Kata Conan dengan nada anak-anaknya.
"EEh, kamu gak boleh Conan-kun. Ada orang mati di sana. Kalau kamu nanti lihat mayatnya, maka pada malamnya kamu akan dihantui oleh mayat itu, mengerti Conan-kun."
"Heeeh!" Teriak Conan pura-pura. Dan dalam hati dia berbicara, 'Jangan khawatir, aku bukan orang yang takut sama hantu seperti kamu.'
"Santai saja. Toh, hantu itu tidak ada. Dan Ran kamu kan sudah pernah liat mayat berkali-kali." Kata Shinichi.
"I-itu masalahnya. Gara-gara itu malamnya aku lihat hantu. Hantu itu selalu menghantuiku di dalam mimpi. Lalu saat dia mendekatiku, tiba-tiba matanya keluar. KYAAAAA!"
"Itukan karena kamu terlalu takut sama hantu, sampai-sampai terbawa mimpi. Dan walaupun kau ingin menghentikan anak berkacamata itu, justru kini dia sudah menuju ke TKP duluan."
"Eeeh! Tak mungkin!" Teriak Ran tak percaya.
Di Gudang,
"Korban bernama Take Orochi. Diperkirakan waktu meninggalnya 1 jam yang lalu, jadi pada jam 1 siang. Meninggal karena gantung diri. Memakai benang yang tajam dan tipis. Ah, dan Korban punya kebiasaan tidur di Sofa yang tinggi ini, oleh sebab itu sebelum kematian korban, para teman korban melihat korban tiduran di sofa ini, dan menganggapnya itu hal yang biasa, tak menduga bahwa korban nantinya akan tewas," kata Opsir Takagi mulai menjelaskan. Saat dia mengatakan Sofa, dia menunjuk sebuah Sofa yang sengaja ditaruh di atas lemari. "alasannya dia senang tidur di atas sofa tersebut adalah untuk dapat tidur dengan nyenyak karena udara dari luar."
"Lalu, kenapa Opsir Takagi merasa ada yang ganjil?" Tanya Shinichi.
"A, a, itu karena..." Jawab Takagi bersambung karena seseorang sudah mendahului jawaban yang may di jawab Takagi itu.
"Di tempat sandar Sofa ini terdapat bekas seperti orang yang ingin bertahan agar tidak jatuh. Seolah-olah sejak awal dia memang tak ingin mati." Kata orang yang ternyata itu Conan.
"Oh, hati-hati, BOYYA!" Kata Takagi setelah dia melihat Conan sudah di atas Sofa, "Kudo-kun, kenapa kamu bawa anak kecil kesini?"
"Jangan khawatir, Opsir Takagi. Dia itu asistenku."
"Ha, asisten!, sekecil ini!"
"Sudah, sudah. kalau begitu kita lanjutkan investigasinya," Kata Shinichi seraya melihat foto- foto korban yang sedang gantung diri ini. "lalu, siapa yang melihat korban tiduran di sofa itu?"
"Se, sebenarnya semua teman korban melihatnya."
"Bisakah beritahukan ciri-ciri teman korban itu, Opsir Takagi?"
"Ah, tentu. Yang pertama bernama Shogi Sinyo. Dia mahasiswa kedokteran. Aku juga mendapatkan informasi bahwa Shogi sangat ahli membuat layangan. Entah informasi itu berguna atau tidak." Kata Opsir Takagi mulai menjelaskan. Ah, aku lupa akan sesuatu. Rumah yang ditempati korban & temannya ini adalah rumah kos bagi para mahasiswa. "yang kedua bernama Tanama Ryozuki, dia mahasiswa jurusan perakitan elektronik. Tanama bahkan mampu memperbaiki TV yang kerusakannya sudah parah. Lalu yang ketiga adalah Rhico Spinx. Anak berdarah campuran. Ibunya orang jepang & ayahnya orang amerika. Rhico sedang mendalami kuliah jurusan ekonomi bagian perbisnis-san."
"Dari cerita Opsir Takagi aku rasa semuanya mencurigakan. Lalu, alasan apa Inspektur Megure menyatakan kalau ini bunuh diri?" Tanya Conan.
"Eh, a, it-itu karena semua teman korban memiliki alibi yang sempurna dan disaksikan saksi yang dapat dipercaya. Di waktu korban meninggal, para teman korban saat itu sedang berada di museum binatang purba. Dan lagipula, saat teman-teman korban melihat korban yang sedang tiduran sebelum pergi ke museum, dia mengatakan sesuatu yang aneh."
"Apa yang aneh itu?" Tanya Shinichi.
"Saat itu korban mengatakan kalau dia ingin tidur selamanya. Sebenarnya aku merasa Shogi Shinyo lah pelakunya. Tapi karena alibinya juga cukup kuat aku tak bisa memutuskannya dengan pasti. Jadi Kudo aku butuh bantuanmu."
"Ya, santai saja Opsir Takagi."
"Ah-le-le!, Opsir Takagi, Kak Shinichi bicara soal aneh, kurasa jahitan yang sobek di Sofa ini juga aneh. Memang kalau dilihat terlihat sama, tapi kalau dipegang dan diteliti lebih lanjut akan terasa berbeda. Jahitan ini berbeda dengan yang lain dan jahitan ini jahitan baru." Kata Conan yang memberitahu dengan nada anak-anaknya. Oh, dan saat ini dia masih di Sofa. Shinichi pun melompat menuju Sofa.
"Kau benar. Hm, kurasa ada sesuatu di dalamnya. Dan sekarang telah diambil oleh pelaku."
"Pelaku?" Kata Opsir Takagi bersambung "jadi maksudmu ini bukan bunuh diri ya, Kudo-kun?"
"Ya, ini pembunuhan. Opsir Takagi, bisakah anda mengantarkan kami ke para tersangka itu?"
"Ya!"
Di Ruang Tamu,
"Oh, Kudo-kun, tak kusangka kau memang benar-benar datang. Takagi merasa ada yang tak benar di lokasi kejadian. Tapi buktinya belum cukup kuat. Ya, itu bisa menjelaskannya, karena ini memang kasus bunuh diri. Kau juga bersependapat kan Kudo-kun."
"Maaf, Inspektur Megure ... kurasa ini pembunuhan." Jawab Conan tiba-tiba.
"Si, siapa kau, anak kecil?"
"Co, Conan-kun jadi kau benar-benar lihat mayatnya, ya?" Tanya Ran setelah melihat Conan yang sedang tersenyum ini.
"I, itu aku cuma lihat gambarnya aja, kok."
"Ta, tapi kan..."
"Siapa anak ini, Ran-kun?" Tanya Megure.
"Dia Conan Edogawa. Sayangnya rumah & asal-usulnya, saya masih belum..." kata Ran menjelaskan berasmbung lantaran Shinichi tiba-tiba memutus pembicaraan Ran.
"DIA adik sepupuku. Orang tuanya akhir-akhir ini sedang sibuk jadi dia menitipkannya dirumahku, hehe." Kata Shinichi berbohong. Inspektur Megure percaya begitu saja. Lalu saat Inspektur mulai bercakap dengan Opsir Takagi, Ran bertanya.
"Kenapa kau berbohong?" Tanya Ran kepada Shinichi.
"Biar nanti kujelaskan, sekarang diam saja dulu," bisik Shinichi ke Ran, lalu berbicara ke Opsir Takagi "Opsir Takagi, sekarang giliran anda berbicara."
"Oh, ya baiklah ... sa-saya ada pertanyaan buat kalian bertiga. Apa Sofa itu cacat? Maksud saya terdapat lubang-lubang?"
"Tidak, kurasa tidak, iyakan, Tanama?" Kata Rhico
"Ya, setahuku Take selalu merawatnya baik-baik. Jadi sangat tak mungkin Sofa itu ada sobekan sedikit pun." Jawab Tanama.
"Ya itu benar." Shogi membenarkan.
"Jadi, bisakah kalian memperlihatkan benda apa saja yang kalian bawa saat ke museum?"
"Apa maksudmu, Takagi?" Tanya Megure.
"Ah, tidak, hanya saja menurut kami, mungkin saja setelah melihat korban tewas mungkin pelaku menyuruh kedua teman lainnya untuk menelpon polisi. & ambulan untuk mengambil benda yang ada di dalam sofa, dan itulah sebab sofa itu sobek."
"Hei, hei, apa maksudmu, Pak Polisi? Aku merasa gak terima ini. Karena akulah orang yang menyuruh kedua temanku ini untuk menelpon polisi & ambulan. Bahkan aku juga orang pertama yang melihat korban tewas. Dan lagipula mereka menelpon saat berada di TKP. Jadi jika salah satu dari kami melakukukan gerakan yang mencurigakan aku rasa akan langsung ketahuan." Protes Tanama.
"Ya, itu benar." Shogi membenarkan.
"Baiklah, jika anda masih belum percaya bagaimana jika kau interogasi kami saja sekarang." Saran Rhico, Takagi mengangguk.
Saat memasuki ruang interogasi. Ketiga wajah orang ini terlihat santai, kecuali satu orang. Yaitu Shogi.
Interrogation Start,
Shogi Sinyo,
Diruang interogasi terdapat Inspektor Megure, Opsir Takagi, Shinichi, & pastinya Conan.
"Sejujurnya aku sudah menganggap ini adalah bunuh diri. Tapi jika ada 3 orang sekaligus yang bilang ini adalah pembunuhan aku harus mengulang interogasiku mulai dari nol." Komen pembukaan Inspektur Megure.
",,,,,,,,," Shogi terdiam gugup.
"Loh, apa ini Shogi? Benang ini kan benang yang dipakai korban untuk gantung diri."
"Bu, bukan! Itu benang buat layanganku! Aku tak membunuh Take! SUNGGUH!" Jawab Shogi berkeringat.
"Inspektur, kami sudah pastikan kalau benang yang dibawa Shogi & benang yang dipakai korban gantung diri 100% sama."
"Tunggu dulu! Aku bukan pembunuhnya. Kalian harus percaya padaku!" Protes Shogi dengan gugup.
"Maaf, Shogi-kun kami tak bisa mempercayai tersangka tanpa adanya bukti yang membenarkan kalau kau memang benar-benar tak bersalah." Takagi mmberitahukan.
Sementara mereka berbicara, Shinichi & Conan memperhatikan korban secara terperinci. Dan akhirnya mata mereka tertuju ke tangan Shogi yang memang terlihat mencurigakan.
"Tangannya? bekas lilitan benang? Dan terlihat jelas." Pikir Shinichi & Conan yang relatif sama.
"Maaf, Shogi-san bolehkah saya bertanya?" Kata Shinichi memulai interogasinya.
"Y-ya apa itu?"
"Jika kau ahli buat layangan itu berarti kau seorang maniak layangan, bukan?"
"Te-tentu saja."
"Jadi, apa kau pernah membuat layangan yang besar?"
"Ya, aku pernah membuatnya. Dengan plastik 100 buah aku merangkainya menjadi layangan raksasa. Aku mulai menjahit satu persatu dan menggabungkannya. Aku juga meminta bantuan teman-teman karena aku terlalu capek kalau sendiri. Dan mereka semua sangat ahli menjahit."
"Hm, begitu... terima kasih."
"Memangnya, apa pertanyaan tadi ada hubungannya dengan kasus?" Komen Megure
"Sepertinya tidak." Jawab Takagi gugup.
Tanama Ryozuki,
Tidak ada hal yang mencurigakan di dalam tas Tanama. Disana hanya ada buku-buku pembelajaran tentang elektronik.
"Hm, tak ada yang mencurigakan."
"Apa sudah selesai?" Tanya Tanama.
"Paman Tanama kok membawa buku pembelajaran tentang elektronik saat ke museum? Bukankah museum itu tentang binatang purba?" Tanya Conan ke Tanama.
"Eh, ah, aku sering sekali malas mengambil buku yang ada di dalam tas. Apalagi kalau buku itu cuma hanya satu. Besok juga mata kuliahnya tentang elektronik. Jadi lebih baik bukunya taruh di dalam tas saja. Dan lagipula bisa saja buku itu nantinya dibutuhkan dalam perjalanan."
"Apa maksudnya?" Tanya Conan.
"Begini dik, aku punya kebiasaan kalau sebelum merakit aku harus lihat buku. Karena sering sekali awalnya lupa harus lakuin apa."
"Oh, begitu. Dapat dimaklumi. Soalnya aku juga pernah merasakannya waktu masa UAN. Haha." Canda Takagi yang artinya disaat pelajaran MTK dia lupa awal caranya maka dia diam-diam lihat buku, mungkin.
"Apakah kau sudah puas dengan jawabanku, dik?" Tanya Tanama.
"Ya, terima kasih." Senyum Conan penuh misteri.
"Haah." Lega Tanama.
"Ada apa Paman Tanama?" Tanya Conan.
"Ah, tidak. Sebenarnya kami semua sangat suka pergi ke Museum. Dan dari kita semua, Take lah orang yang sangat senang pergi ke museum. Jadi saat kami melihat Take masih tiduran di Sofa saat itu, kupikir ada yang aneh dari Take saat itu karena dia tidur nyenyak sekali dan tak terlihat bergerak. Aku bahkan tak menyangka kalau Take hari ini sudah jadi mayat."
Rhico Spinx,
Sama seperti Tanama, tak ada barang yg mencurigakan. Yang ada hanyalah 3 pulpen & kertas yang sudah bertuliskan sejarah binatang purba. Mungkin ia menulis info-info tentang binatang purba saat di museum.
"Ehhh, Opsir suka menulis, ya?" Tanya Conan.
"Ah, tidak, bukan begitu hanya saja jika kau masuk ke dalam dunia bisnis, kau harus pandai dalam bicara. Jadi karena aku masih pemula, saya mulai dalam bentuk tulisan sehingga nanti bisa dihafalkan."
"Oooh, begitu, ya." Kata Conan dengan wajah serius.
Interrogation End.
Kembali ke Ruang Tamu,
"Jadi, kelihatannya Shogi lah yang paling mencurigakan." Kata Inspektur Megure.
"Ya, sepertinya begitu." Kata Opsir Takagi.
"Jangan memberi kesimpulan dulu, Inspektur. Seorang pembunuh tidak mungkin masih membawa senjata membunuh itu jika sebenarnya dia memiliki banyak kesempatan." Kali ini Shinichi yang berbicara.
"Apa maksudmu, Shinichi?" Tanya Inspektur Megure.
"Maksud saya. Bukankah di museum yang para tersangka tuju itu disekitarnya ada sebuah sungai yang mengalir ke arah laut dengan cepat. Jika aku jadi pelaku, aku akan membuangnya di sungai tersebut."
"Hmmm, kau betul juga." Inspektur Megure membetulkan.
"Sebenarnya dari awal kami bukan mencari senjata pembunuhnya. Tetapi kenapa sebelum korban tewas, dia mengatakan hal yang aneh." Shinichi memberitahu.
"Dan dengan adanya sobekan di sofa, maka ini menjelaskan, kalau yang mengatakannya bukanlah Take sendiri." Sahut Conan.
"Bu, bukan Take?!" Megure & Takagi kaget bersama.
"Ya, itulah yang sejak awal kami cari. Kenyataanya, mereka bertiga seperti menyembunyikan sesuatu." Shinichi berbicara dengan nada malas.
Lalu Shinichi & Conan melihat ke-3 korban sedang berjalan keluar dari dapur. Dan tiba-tiba Tanama terjatuh lantaran kakinya terhalangi oleh kakinya Shogi secara tak sengaja.
"Ma, maafkan aku, Tanama-kun." Kata Shogi seraya membantu untuk membangunkan Tanama. Disitu kita dapat melihat kalau di sekitar dadanya terdapat cetakan berbentuk tabung di dalam bajunya.
"Tak apa-apa, kok." Kata Tanama. Bukan hanya Shogi, Tanama pun terdapat tanda cetakan. Tanda cetakan itu berbentuk persegi panjang yang kecil tapi tebal, dan ada di sekitar di atas bagian bawah celana kanan, disekitar kakinya.
"Haha, dasar kau ini, Tanama. Sudah besar masih saja jatuh dengan gaya begitu." Kata Rhico yang juga ikut membantu Shogi untuk membantu membangunkan Tanama. Disitu terlihat sesuatu, meskipun terasa cepat. Sebuah tanda cetakan yang berbentuk setengah lingkaran.
"Sudahlah, Rhico. Haha." Kata Tanama dengan tertawa sebentar.
"Maafkan aku, Tanama-kun." Kata Shogi sekali lagi minta maaf.
"Santai saja, Shogi."
Salah satu dari 3 orang itu tak sadar menjatuhkan sebuah remote kecil dari sakunya. Melihat kejadian yang beruntung itu, Shinichi & Conan tersenyum bersamaan, senyuman yang punya arti penuh dengan kemenangan.
"Hei, apa kau tahu pelakunya?" Tanya Shinichi tiba-tiba.
"Ya, setelah Tanama-san jatuh, aku sudah tahu pasti siapa pembunuhnya. Si pelaku memperlihatkan bukti solidnya. Terima kasih buat Tanama karena itu."
"Kalau begitu beritahukan analisismu itu."
"Eh, apa jangan-jangan kau tak tahu siapa pelakunya, lalu menanyakannya ke aku."
"Bukan itu, bodoh. Bukankah kau ingin membuktikan kalau kau itu benar-benar Shinichi. Aku sih sudah tahu siapa pelakunya. Jadi aku ingin tahu apa analisismu itu benar."
"Baiklah kalau begitu, ini analisisku..." Kata Conan seraya memberitahu analisisnya tersebut kepada Shinichi dengan berbisik. Shinichi mendengarkan dengan teliti, "... Jadi, bagaimana?" Tanya Conan yang telah selesai memberitahukan analisisnya itu.
"Sulit dipercaya..." Kata Shinichi melihat wajah Conan dalam-dalam, "analisa-mu sama persis denganku."
"Jadi, kau sudah percaya."
"Tidak, aku masih belum percaya." Kata Shinichi lalu pergi menuju ke arah Inspektur Megure.
Conan melihat jauh Shinichi yang berbicara dengan Inspektur Megure dan berkata pelan, "Sebenarnya kau butuh bukti seperti apa sih?"
!
!
!
Saat ini semuanya sudah berkumpul di ruang tamu. Guna memberitahukan keputusan polisi tersebut.
"Jadi, kami telah memutuskan siapa sebenarnya pelaku yang membunuh Take," kata Megure terputus, mencoba mendramatisir setiap perkataannya, "Shogi Shinyo, kaulah pelakunya."
"Ehhh!" Shogi benar-benar kaget atas tuduhan itu.
"Buktinya adalah benang yang kau bawa itu. Kami, para polisi, memeriksa kalau benang milikmu dan benang yang dipakai korban buat bunuh diri identik sama," Kata Megure melanjutkan, "sekarang maukah kau ke kantor polisi untuk diinterogasi lebih lanjut."
"Shogi, apa kau benar-benar..." Kata Rhico terputus di akhirannya. Tapi kalian pasti tahu apa maksudnya itu.
"Tak mungkin." Lanjut Tanama.
"Maaf, Inspektur, aku rasa Shogi-san bukanlah pelakunya."
"A-apa maksudmu, Kudo-kun?" Tanya Megure.
"Sebelumnya, aku mau kau memperlihatkan sesuatu yang ada di kalungmu itu, Shogi-san"
"A-ah, maksudmu ini?" Tanya Shogi sambil melepas kalung yang tersambung dengan gulungan benang yang langka yang sama seperti benang di tas Shogi saat interogasi tersebut & benang yang dipakai pelaku untuk membunuh Take, "Ini benang yang paling kusukai. Aku menaruhnya di kalungku agar tak hilang tapi karena aku menggulungnya dengan batas maksimal, jadi sisanya kutaruh di dalam tas. 1 minggu yang lalu benang kesayanganku ini menghilang. Makanya aku takut kalau hilang lagi." Jelas Shogi, sementara 2 detektif kita ini tersenyum.
"Ap-apa? Kenapa kau tidak mengatakannya dari tadi?" Protes Megure.
"Aku tak memikirkannya."
"Seorang maniak layangan seperti Shogi-san tak mungkin membuat benang kesenangannya & sangat langka ini untuk membunuh." Lanjut Shinichi.
"Huh, begitu ya. karena Shogi-kun sudah dicoret dari daftar tersangka, jadi ... ini bunuh diri, ya?"
"Bukan, Inspektur. Ini bukan bunuh diri, melainkan..." Kata Shinichi bersambung.
"...Pembunuhan." Jelas & lanjut Conan.
"Co, Conan-kun, jangan mengganggu Shinichi." Kata Ran tibah-tiba menggendong Conan, membuat Shinichi agak kesal. "Saat ini Shinichi sedang memperlihatkan deduksi analisisnya itu. Dan yang paling ingin kulihat adalah bagaimana jika dia salah. Aku sangat ingin lihat wajah konyolnya disaat dia salah akan hipotesanya itu. Haha."
"Apa maksudmu itu?" Protes Shinichi & Conan bersamaan. Hanya saja Conan mengatakannya dalam hati.
"Hehe, bercanda-bercanda," Kata Ran tersenyum manis dan berkata di dalam hati, "sebenarnya, yang ingin kulihat adalah kebalikannya, Shinichi."
"Seperti Shogi-san, kalian berdua, bisakah kalian memperlihatkan benda yang kalian sembunyikan. Tidak seperti Shogi yang sejak awal sudah ada di kalungnya, kalian berdua menyembunyikannya sebelum interogasi dimulai, kan? Tanama-san kau yang ada di celana bagian bawahmu, dan Rhico-san ada di pinggangmu." kata Shinichi memulai pencarian tersangka tersebut.
Kedua tersangka, yakni, Tanama Ryozuki & Rhico Spinx, gemetar lantaran memang dari awal menyembunyikan sesuatu. Lalu salah satu dari dua pelaku tersebut memperlihatkan apa yang ingin disembunyikannya itu. Dia memperlihatkan sebuah buku gambar. Buku gambar itu terdapat Gambar tulang dinosaurus, hanya saja gambarnya sangat jelek. Jadi, dia tak ingin karyanya nanti dilihat & ditertawakan polisi. Lain lagi tersangka yang lain, dia diam seperti batu, dan wajahnya berkeringat.
"Kenapa? Kenapa Kau hanya diam saja? Tanganmu pun terlihat gemetar." Kata Shinichi mulai beranalisa, "Tanda cetakan yg ada pada dada Shogi-san terlihat berbentuk seperti tabung. Dan melihat kegemaran Shogi-san dalam layang-layang, maka bisa dipastikan kalau itu adalah sebuah benang layang-layang. Benang itu dibuat menjadi kalung karena benang itu tak bisa menempel sendiri di tubuh Shogi-san….
"Lalu, seperti yg kita lihat tadi, tanda cetakan yg ada pada pinggangnya berbentuk persegi panjang yg sangat lebar. Ya, awalnya akan terlihat seperti berbentuk separuh lingkaran, lantaran benda itu bisa ditekuk. Dan Rhico-san, kau adalah orang yg mencatat di museum. Dan biasanya selain mencatat, aku rasa orang yang seperti Rhico-san juga akan senang membuat sketsa. Buku yg sangat cocok buat sketsa adalah buku gambar, kan?...
"Dan kenapa? Kenapa kau masih saja tak membiarkan kami melihat barang yg anda sembunyikan itu? Ya, kau tak bisa memperlihatkannya. Karena itu adalah alat yang dibuat untuk membunuh Take sekaligus membuat alibi yang sempurna. Bukankah begitu, … Tanama Ryozuki!" Teriak Shinichi menuju tersangka.
"Tanama Ryozuki!" Kaget Inspektur Megure & Opsir Takagi, sementara Conan tersenyum dengan kedua tangan di kantong celananya.
"Ka-kau ngomong apa sih, Tuan Detektif? Aku tak mungkin membunuh. Bukankah aku punya alibi yang kuat." Elak Tanama.
"Eeee, Kudo-kun, jadi maksudmu saat Shogi, Tanama, & juga Rhico melihat Take tiduran di sofa sebelum berangkat ke museum itu dia sebenarnya sudah meninggal." Tanya Opsir Takagi.
"Tidak, dia memang tidur di sofa. Tapi Tanama-san membiusnya dan membuatnya tidur."
"Ti-tidur? Apa maksudmu, hah? Jika itu memang benar, buat apa aku membiusnya jika setelahnya aku malah membunuhnya, hah? Dan lagipula, jika saat itu dia tidur, Lalu kenapa korban berbicara saat itu? Take bukanlah orang yang sering ngigau?!" Protes Tanama penuh marah.
"Oh, suara itu, ya. Mungkin kalian bertiga mengenal suara ini."
"CLICK"
"Ah, enaknya tidur sini. Rasanya aku mau tidur selamanya disini. Hehe, bercanda. Jangan membangunkan aku dulu, ya."
"Su-suara itu!" Kaget Shogi & Rhico.
'Tidak mungkin!' Gumam Tanama dalam hati sambil melihat kantong celananya.
"Apakah itu suara Take?" Tanya Megure.
"Ya, tidak diragukan lagi." Kata Rhico membenarkan.
"Paman Tanama, ini punyamu kan," Celoteh Conan ke arah Tanama, "remote ini?"
"I-itu kan…." Shogi menunjuk remote yang dibawa Conan itu.
"Remote? Ada apa dengan Remote?" Tanya Megure.
"Ah, tidak tadi sebelum kami sampai ke museum, Tanama salah membawa HP dan malah membawa remote. Karena sudah jauh dari rumah, maka Tanama membiarkannya saja dan membawanya di museum." Jelas Shogi.
Di tengah Deduction Show, Para petugas asisten polisi ini pun datang sambil membawa sebuah sofa yang biasa dipakai oleh korban untuk tidur.
"Hm, apa itu?" Tanya Megure.
"Ah, anak ini mengatakan kalau kita membawanya kesini, nanti bisa membuat alibi pelaku itu terpatahkan." Kata salah satu petugas itu sambil menunjuk Conan.
"Ah-le-le, Paman Tanama. Remote ini sangat keren. Saat aku menekan tombol 1, tiba-tiba ada suara yang baru saja kita dengarkan tadi," kata Conan berhenti. Dan benar, suara Take terdengar kembali dan membuat Ran berteriak ketakutan, "dan saat aku menekan tombol 2, tiba-tiba sandaran yang ada di sofa turun kebawah," Click, dan sandaran sofa itu tiba tiba turun dan membuat sofa itu kini malah terlihat seperti tempat tidur, "lalu jika aku tekan tombol 3, maka…." Kata Conan bersambung dan sandaran sofa itu ke atas " akan kembali seperti semula. Kenapa bisa begitu, Paman Tanama?"
"Ya, dengan remote itu kau membunuh Take sekaligus membuat alibi. Kami juga sudah memeriksa kalau Remote ini dilengkapi dengan sebuah Wireless Network. Sehingga membunuh dari museum bisa dilakukan." Lanjut Shinichi.
Shogi yang mendengar itupun sedikit agak marah, "Tu-tunggu dulu! Hei kau anak SD & SMA, aku senang kalau aku sudah bukan menjadi tersangka lagi. Tapi apa kau tak berlebihan! Hoi! Mungkin saja kalau remote ini sengaja dibuat mirip agar Pelaku membuat kalau Tanama menjadi tersangka. Dan hei KIDDO! Dimana sebenarnya kau menemukan remote itu."
"Ah, kalau itu, sebelumnya aku mengambilnya di lantai dekat dapur."
"Tuh, kan! Pelakunya bukan kami bertiga, kan!"
"Tapi sebelumnya, remote ini ada di saku celana Paman Tanama." Senyum Conan.
"A-APA!"
"Apakah kalian ingat? Kalau dekat dapur tadi Tanama tersandung dan jatuh. Ya, Tanama tak sengaja menjatuhkan Remotenya itu. Saat diinterogasi pihak kepolisian menganggap biasa saja lantaran itu hanyalah sebuah remote. Tapi yg membingungkan adalah kenapa setelah remote itu dikembalikan oleh polisi, dia tetap membawanya dan menaruh di saku celananya." Ucap Shinichi.
"….." Tanama hanya bisa terdiam.
"Opsir Takagi, bisakah anda mengambil benda yang ada di bawah celana bagian kanan yang ada pada Tanama-san itu. Jika deduksiku benar, mungkin benda itu terjepit di antara kaos kaki. Aku rasa itu adalah Recorder suara dari Take-san." Takagi mengikuti perkataan Shinichi dan akhirnya benar-benar menemukan sebuah recorder dan memang benar, saat dicoba kembali, suara yang kita dengar sebelumnya itu muncul lagi.
"Ya, kau menggunakan Recorder itu untuk menciptakan sebuah alibi. Kau merobek bagian kulit sofa dan memasukkan Recorder dan menjahitnya dengan hati-hati. Aku mendapat info dari Shogi-san kalau kalian berempat termasuk korban, sangat ahli dalam menjahit, terbukti dalam pembuatan layang-layang raksasa itu….
"Seperti yang kukatakan sebelumnya, kau membuat tidur Take-san dengan obat tidur yang kuat dan mengalungkan sebuah benang langka dari Shogi itu. Lalu kau memulai rencana pembuatan alibi dengan membawa kedua temannya yang lain. Kau menekan tombol nomor 1 di remote itu sehingga suara Take yang kita dengar tadi muncul seolah-olah dia berbicara….
"Sebelum sampai ke museum, kau secara sengaja memperlihatkan remotemu ke kedua temanmu itu dengan alasan ingin menelpon seseorang dan beralasan kalau kau salah membawa HP dengan Remote ini….
"Di museum, kau mulai rencanamu membunuh Take-san. Kau menekan tombol 2 hingga membuat sandaran sofa itu bergerak menurun. Sehingga Take-san yang tertidur itu terseret kebawah dan gantung diri akibat benang yg sudah kau kalungkan sebelumnya itu. Sebelum dia dalam posisi gantung diri, Take-san sempat bangun dan memberontak. Namun karena sandaran sofa ini masih dalam posisi seperti tempat tidur, maka Take-san tak kuat. Dan jika analisisku benar, saat itu Take-san menahannya dengan kakinya."
"Oh, begitu rupanya. Lalu kau menunggu saat-saat pulang untuk menekan tombol nomor 3 agar kau yakin kalau Take sudah benar-benar jatuh dari sofa dan tewas. Tanama-san, kau membuat rencana ini agar terlihat oleh kami, para polisi mengira kalau saat waktu kalian di museum Take bunuh diri dengan melompat dari Sofa. Apakah itu benar, Kudo-kun." Lanjut Opsir Takagi.
"Ya, benar. Lalu, saat kau pulang kau segera pergi ke gudang dan merobek kembali kulit sofa yang kau robek sebelumnya. Kau mengambil kembali recorder yang kau taruh di dalam sofa itu dan menaruhnya dengan cara menjepitkannya di kaos kakimu. Setelah selesai, kaupun memulai sandiwaramu sebagai orang pertama yang melihat korban. Apa ada yang salah dari analisaku ini, Tanama-san?" Analisa Shinichi panjang lebar.
"Heh, analisa yang bagus. Tapi jika itu benar…." Protes Tanama terputus lantaran Conan memulai berbicara.
"Paman Tanama, apakah Paman ingat buku elektronik yang aku lihat waktu interogasi tadi?"
"Oh, ya. Itu buku kuliahku, memangnya kenapa?"
"Walaupun waktu itu aku membacanya dengan cepat. Aku tahu pasti isi dari buku itu. Buku itu berisi tentang cara pemasangan Wireless Network di dalam sebuah alat elektronik. Bukankah sofa itu Sofa bermesin."
"Ta-tapi, bisa saja itu kebetulan pelajaran buat kuliah, kan." Elak Tanama.
"Bisa? Apa maksudnya Bisa? Bukankah lebih baik jika kata 'bisa' tak perlu dibicarakan jika itu memang benar-benar pelajaran kuliah." Kata Shinichi penuh kemenangan, "Tanama-san, lebih baik kau tak usah terus mengelak. Saat sidik jarimu ada di Recorder suara Take-san itu, kau sudah tak akan bisa mengelak lagi. Jadi, hentikan dan menyerahlah, Tanama-san."
Tanama tersungkur, menunduk seperti kuda.
"Heh, baiklah aku mengaku kalah. Aku merekam suara Take 2 minggu sebelumnya dan 1 minggu kemudian aku mencuri benang langkanya Shogi." Jelas Tanama, "BOYYA, saat aku melihat senyummu saat diinterogasi aku sudah merasa kalau kau sudah tahu aku pelakunya, kan."
"I-itu Cuma kebetulan. Soalnya aku kan masih anak-anak, hehe." Elak Conan.
"Heh, begitu ya. Kau membuat hidupku hancur, BOYYA. Jadi sebelum aku ke penjara aku akan membuatmu ke TEMPAT DI MANA TAKE BERADA, HAHH!, BOYYAAA!" Teriak Tanama menuju Conan. Tiba-tiba dia membawa pisau dan berencana untuk menusukkannya ke arah Conan.
"Pi-pisau!? Darimana kau dapatkan itu?!" Kaget Megure.
Walaupun Tanama menuju Conan & berusaha membunuhnya, Conan tak merasa takut. Toh dia punya Jam Stun Gun-nya itu dan lalu menembaknya ke jidatnya itu. Namun sebelum rencana itu dilaksanakan, tiba-tiba!
"Conan-kun!" Ran berlari menuju Conan. Membuat pikiran Conan kacau sesaat. Ya, Ran berusaha menolong Conan. Saat itu dia berada jauh dari Conan dan Tanama. Sehingga dia tak bisa menggunakan karatenya itu kepada Tanama dan hanya bisa menolongnya dengan cara Ran memeluk Conan dan membelakangi Tanama.
"Ran!" Teriak Shinichi penuh khawatir.
'Ran!' Teriak Conan namun dalam hati. Conan tak mungkin membiarkan Ran terluka karenanya. Maka sebelumnya dia berbalik dari Ran yang membelakangi Tanama menjadi Conan yang membelakangi Tanama (~Cara memutar ini hamper sama seperti cerita Kazuha & Heiji di cerita pulau duyung atau episode 222-224 dengan judul And Then There Were No Mermaids saat Heiji mau jatuh dari jurang namun dia ditolong Kazuha dengan cara berputar dan akhirnya Heiji juga jatuh untuk menolong Kazuha yang telah menolongnya itu)
"ZLEBBB!"
"Co, CONAN-KUN!" Histeris Ran.
"Ja-jangan khawatir, Cuma keserempet aja, kok. Hehe. UGGH!"
"Heh, tak berhasil, ya. Sebelum kesini, aku mengambil pisau di dapur." Jelas Tanama.
"Ran! Kau tak apa-apa?" Tanya Shinichi khawatir.
"Ya, tapi Conan-kun…." Kata Ran membuat Shinichi melihat Conan.
"Harus cepat dikasih perban agar pendarahannya berhenti. Sepertinya cuma terkena sedikit. Maaf, apakah di rumah ini ada perban."
"Ah, ada. tunggu sebentar." Jawab Rhico seraya berlari mencari perban.
"Ta, Tanama-kun! Ke-kenapa kau membunuh Take? Bukankah dia selalu baik kepada kita. Dia bahkan sering meminjamkan kita uang. Tapi, KENAPA KAU MEMBUNUHNYA, TANAMA-KUN?!" Tanya Shogi.
"YA! ITULAH ALASANNYA! Dia sering sekali meminjam uang kepadanya. Dan saat aku menanyakan alasannya, dia bilang 'Emm, entahlah aku tak tahu. Tapi bukankah suatu kewajiban bagi kita untuk meminjamkan uang kepada orang yang jarang dikasih uang kuliah dari orang tuanya. Ya maksudku orang yang lemah.' Begitu katanya dengan nada yang mengejek. Dan semenjak aku bertanya begitu, dia jadi sering sekali mengejekku. Aku sangat benci diejek. Dan saat melihat kalian berdua diejek oleh dia juga, itu membuat aku sadar satu hal. Alasan dia sering meminjamkan uang ke kita hanyalah untuk membuat kita sebagai bahan ejekan."
"I, itu. Memang benar dia sering mengejek kita. Tapi itu hanyalah kebiasaan buruknya semata."
"Tapi! TETAP SAJA ALASANNYA ITU!..."
"Hehh" Senyum Conan, "Apakah itu perlu," Kata Conan bersambung. Ran & Shinichi yang merasa tahu kata-kata ini sedikit kaget, "aku tak tahu pasti alasan seseorang membunuh. Tapi untuk menolong, alasan logis tak dibutuhkan, bukan?"
Tanama sudah tak bisa berkata lagi. Kata-kata Conan membuatnya terdiam. 'Benar, Heh, Kenapa aku tidak menyadarinya dari awal.' Itulah yang dikatakan Tanama dalam hati. Sementara Ran & Shinichi masih memikirkan kata-kata yang dikatakan oleh Conan sebelumnya. Shinichi mulai melupakannya akan tetapi Ran masih memikirkannya.
"I-ini. Perbannya." Kata Rhico menyerahkannya ke Ran, "Jadi, benar itu, kalau orang yang membunuh Take adalah Tanama?"
"Ya, dia membunuhnya." Shogi membenarkan.
"Heh, tak dapat dipercaya."
Dilain tempat, rasa penasaran Ran tak dapat ditahan. Jadi, setelah dia mengobati Conan, dia pun bertanya, "Ehm, Conan aku ingin bertanya. Sebenarnya, dari mana kamu tahu 'kata-kata' itu?"
'Huh, kata-kata?' Kata Conan dalam hati bingung apa maksudnya.
"Wah, terima kasih Kudo-kun. Mungkin jika tak ada kau, kasus ini nanti akan menjadi bunuh diri." Ucap Inspektur Megure.
"Haha, tak apa-apa, kok, Inspektur Megure." Kata Shinichi seraya menuju ke arah Ran, "Bagaimana, Ran? Apa dia tak merasa sakit?"
"Oh, dia sudah baik-baik saja, sepertinya."
"Syukurlah. Bolehkah kami pulang duluan. Aku ingin berbicara dengannya. Secara empat mata. Boleh, kan?"
"Eh, gak apa-apa, kok"
!
!
!
Disaat perjalanan, percakapan antar Shinichi pun dimulai lagi.
"Jadi, kau sudah percaya, kalau aku ini Shinichi?" Tanya Conan memulai percakapan.
"Ya, aku percaya."
"Sejak kapan?"
"Heh, jadi kau menyadarinya, ya? Kalau aku sudah menduga kau Shinichi sebelum acara deduksi itu."
"Tentu saja. Bukankah sebelumnya aku sudah menunjukkan bukti yang sangat kuat."
"Baiklah, kuberitahu. Aku mengetahuinya saat kau menyebut namaku dan Ran. Waktu itu kau belum melihat nama dibaju kami. Dan rasa kaget dari tidak percayamu kepadaku ini membuktikan kalau sebenarnya aku seharusnya tak ada, ya karena Shinichi memang seharusnya hanya ada satu. Sebenarnya, aku ingin mengerjaimu terus. Tapi, saat kau menolong Ran waktu itu aku jadi tak bisa berbohong kalau aku masih belum percaya."
"Oh, itu. Santai saja. Aku juga tak akan membiarkan Ran bahaya."
"Dan itu juga menjelaskan kalau kau tahu 'kata-kata' itu karena kau memang dari awal adalah Shinichi. Jadi, kurasa memang sudah sewajarnya."
"Kata-kata? Apa maksudmu?" Tanya Conan bingung tak tahu maksudnya. Ran tadi juga mengatakan 'kata-kata'. 'Apa mungkin...' pikir Conan.
"Kata-kata yang kau ucapkan tadi. Bukankah itu kata-kata yang kau & aku ucapkan waktu di New York saat sedang mengejar pembunuh berdarah dingin."
"Eh, kau mengalaminya juga?" Tanya Conan.
"Apa maksudmu?"
"Aku pikir karena dunia ini dunia sejarah maka kejadian yang ada di duniaku dan kejadian yang ada diduniamu itu berbeda. Dan lagipula, pembunuh berdarah dingin itukan Vermouth, anggota BO. Dan bukankah di dunia ini tak ada Black Organization. Lantaran saat itu ANOKATA masih belum memikirkan membangun sebuah organisasi."
"Mungkin orang yang menyerangku dan orang yang menyerangmu saat itu adalah orang yang berbeda." Jelas Shinichi.
"Apakah orang yang menyerangmu waktu itu adalah seorang Pria dengan rambut perak?"
"Ya. Berarti orang yang menyerang kita adalah orang yang sama."
"ANOKATA saat itu memberikan beberapa HINT kalau awal dari rencana pembentukan BO adalah kematian istrinya. Jadi dengan mencari data tentang Profesor hebat yang baru-baru ini istrinya meninggal. Walaupun terlihat mudah, aku rasa itu membutuhkan banyak waktu."
"Hei." Panggil Shinichi.
"Hm."
"Bagaimana kalau aku membantumu. 2 orang lebih baik dari satu orang, kan?"
Conan tersenyum dan berkata, "Ya, aku setuju. Jika kita bekerja sama maka pemikiran kita akan bertambah menjadi 2 kali lipatkan." Canda Conan.
"Haha, kau bisa saja." Kata Shinichi seraya bersalaman dengan Conan.
Conan pun membalasanya. Tapi tiba-tiba, disaat Conan & Shinichi bersalaman, tiba-tiba Shinichi & Conan merasa di dimensi lain dan keduanya merasa tertarik. Lalu, dengan cepat Shinichi & Conan menarik tangannya.
"Hah ... hah ... a-apa itu?" Tanya Shinichi.
"Hah... mu ... mungkin, karena .. hah .. sejatinya kita ini adalah ... hah... satu orang. Kau dari masa lalu sementara aku dari masa depan. Maka, jika kita bersentuhan antar kulit maka kita akan saling menarik hingga akan membuat Shinichi menjadi satu orang. Dengan kata lain salah satu dari kita akan menghilang. Fuuh, untung tadi cepat."
"Haha, jika tahu begini sebelumnya, mungkin kau bisa membuatku yakin dengan bersalaman seperti tadi."
"Heh, aku rasa tak ada pilihan lain." Kata Conan seraya mengambil sesuatu di dalam tasnya. Dan disitu kita tahu kalau Conan mengambil sebuah sarung tangan.
"Oh, sarung tangan, ya."
"Ini, Sarung Tangan Anti Barang Tajam. Profesor Agasa membuatnya. Untuk membuat kita menahan maupun menghindar dari serangan pedang atau benda tajam lainnya. Ya, dengan memanfaatkan tenaga listrik."
"Oh, Profesor Agasa, ya."
"Jadi," Kata Conan serata tangannya seperti memulai untuk berjabat tangan.
"Hm, aku akan bekerja sama denganmu untuk mencari ANOKATA itu." Shinichi pun berjabat tangan dengan Conan. Kini dia bisa memegang tangan Conan lantaran dia memakai sarung tangan.
Yeah, ini adalah awal Conan & Shinichi berpetualang mencari siapa identitas ANOKATA sebenarnya. Tapi jangan terlalu buru-buru. Karena cerita selanjutnya akan bercerita tentang Keluarga & Teman di Detective Conan. Ya, disetiap cerita mungkin akan ada CLUE tentang ANOKATA itu. Walaupun tak ada BO. Tapi di dunia inilah Bos BO lahir & hidup.
*To Be Continued*
Next File :
Di Rumah Profesor Agasa,
"Haah, rasanya ada yang kurang di rumah ini."
"Apa maksudmu?"
...
"Haibara? kalau Haibara aku tak tahu itu, tapi kalau Shiho Miyano aku kenal. Soalnya dia sekelas denganku di SMA Teitan."
"Apa?!"
