Previous Chapter:
Syaoran meminta Sakura untuk kembali. Sakura bingung setengah mati. Masalah bertambah ketika Touya mulai menunjukkan kecemuburannya.
Ruang makan keluarga Kinomoto begitu hening. Satu sama lain di antara mereka tidak ada yang berani bertegur sapa. Sakura dan Touya yang biasanya terlihat akrab sama-sama menunjukkan ketidaknyamanan mereka satu sama lain. Sementara yang lainnya jadi ikut menerima imbas "perang dingin" antara Sakura dan Touya.
Sakura tidak menyelesaikan sarapannya. Setelah itu ia hanya pamit pada Nadeshiko dan Fujitaka. Lalu mencubit pipi Eriol, si bungsu Kinomoto yang sedang disuapi bubur. Sakura bahkan tidak berpamitan pada Touya. Padahal biasanya, meskipun tidak bisa mengantar Sakura sampai di tujuan, minimal Touya mengantarnya sampai gerbang perumahan mereka. Sekarang, Sakura lebih memilih untuk berangkat sendiri dan itu artinya dia harus berjalan sekitar 300 meter menuju gerbang perumahan. Dilanjutkan dengan ritual naik bisnya saat tidak diantar Touya.
Sakura terlihat hampir putus asa saat melihat mobil berwarna silver di dekat gerbang perumahan. Mobil Li Syaoran. Benar saja, saat Sakura melintasi mobil itu, Syaoran keluar dan mengejar langkah Sakura.
"Mau apa lagi sih?" tanya Sakura lemah. Ia sedang tidak dalam mood yang baik saat ini.
"Supir kamu mana? Dipecat?" Bukannya menjawab, Syaoran malah balik bertanya.
"Please, jangan mempersulit keadaanku. Paling nggak biarin aku selesaikan masa magangku," Sakura sama sekali tidak menanggapi pertanyaan Syaoran.
Syaoran heran sekaligus kaget dengan permintaan Sakura. "Kamu pikir aku bakalan mecat kamu?"
Sakura menggelengkan kepalanya pelan. "Bukan soal itu. Tapi soal pertanyaan kamu kemarin…"
Syaoran menegang, jujur perasaannya tidak karuan dan tidak sabaran ingin mendengar jawaban Sakura. "Jawabannya?"
"Aku nggak tau. Makanya…"
"Aku bakalan nunggu," potong Syaoran cepat, ia tidak ingin mendengar penolakan dari Sakura. Ia benci penolakan, apalagi jika penolakan itu keluar dari mulut Sakura.
Sakura merasa ritme jantungnya sungguh tidak menentu. Lebih cepat dari irama musik metal sekali pun. Tapi pertengkarannya semalam dengan Touya yang hampir mencelakakan mereka berdua membuat Sakura tidak yakin dengan perasaannya sendiri. Ia takut akan ada yang lebih terluka jika ia salah mengambil keputusan.
Syaoran memutuskan untuk tidak memaksakan kehendak dan perasaannya untuk dibalas oleh Sakura. Bisa dekat dengannya saat ini sudah cukup bagi Syaoran.
"Aku nggak mau terlambat sampai di kantor," ujar Sakura meninggalkan Syoran. Melanjutkan perjalanannya menuju halte terdekat.
Sementara Syaoran malah menghampiri petugas keamanan komplek perumahan yang tidak jauh dari tempat mobilnya diparkir. Setelah berbincang dengan beberapa orang yang ada di sana, Syaoran buru-buru menghampiri Sakura.
Tepat di saat itu bis umum yang ditunggu Sakura datang. Sakura menaikinya tanpa sadar Syaoran masih mengikutinya.
HUP!
Syaoran segera melompat ke dalam bis dan berdesakan dengan penumpang lain. Syaoran mendekati Sakura yang sedang berdiri di bagian depan.
"Maaf, Tuan. Anda harus membayar uang perjalanan Anda, atau bis ini tidak bisa jalan," ujar supir berbicara melalui spion tengah pada Syaoran. Syaoran terpaksa melupakan Sakura sejenak dan mendekati sebuah mesin otomatis yang dapat menunjukkan tempat yang ingin dicapainya dan ongkos perjalanannya. Syaoran tertegun beberapa saat, ia bingung, karena tidak tahu tujuan Sakura akan ke mana. Syaoran menatap melas pada Sakura. Supir dan penumpang lain yang mulai resah mengikuti pandangan Syaoran yang tertuju pada Sakura, seolah berkata 'Cepat bantu dia'.
Sakura yang merasa risih menghamipiri Syaoran, menekan satu tombol dengan tujuan yang sama dengan dirinya sendiri. Lalu keluarlah angka yang perlu dikeluarkan Syaoran. Syaoran mengeluarkan dompetnya, padahal angka yang tertera pada display mesin otomatis itu tidak terlalu besar, bahkan dapat dibayarkan dengan beberapa uang logam. Syaoran menatap dompetnya, hanya ada beberapa lembar uang dengan nilai satuan yang tinggi dan beberapa lembar uang asing. Sekali lagi Syaoran menatap Sakura, memohon bantuan Sakura sekali lagi. Sakura sudah sangat kesal, tapi ia hanya mengehembuskan napas. Ia tidak ingin ada keributan di bis yang banyak orang seperti ini. Sakura mengeluarkan beberapa uang logam dan memasukkannya dalam mesin otomatis itu.
Saat bis mulai melaju, Sakura menghindari Syaoran, tapi Syaoran bersikeras menempel pada Sakura. Karena kondisi bis yang cukup padat, mau tak mau mereka pun berdiri bersebelahan. Tiba-tiba saja bis mengerem mendadak. Beberapa penumpang yang berdiri mencoba mencari pegangan. Sakura yang memang sedang tidak konsentrasi pun limbung, tubuhnya hampir saja terhuyung ke depan, untung saja Syaoran segera menangkap Sakura. Syaoran melingkarkan tangannya di pinggang Sakura. Wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter.
Sakura tahu ia tidak seharusnya merasa jadi begini gugup melihat mata Syaoran yang warnanya sama dengan matanya sendiri. Tidak seharusnya pula jantung Sakura jadi berdetak tak menentu begini. Ia tidak seharusnya terjebak dalam keheningan yang tercipta dari pelukan Syaoran. Sulit dipungkiri ia nyaman dalam posisi seperti itu meskipun tubuhnya akhirnya meronta juga.
Syaoran melepaskan tangannya dari pinggang Sakura, keduanya lalu saling mengalihkan pandangan, salah tingkah.
Seharian ini selama di kantor, Sakura dan Syaoran tidak saling menegur. Selain Syaoran memang lebih banyak menerima tamu, mereka lebih memilih menghindari kontak agar tidak terlalu mencolok di hadapan karyawan lain.
Saat tiba jam pulang kantor, Sakura seperti biasa memilih pulang agak terlambat dari yang lain agar tidak terlalu berdesakan di dalam bis atau terkena macet di jalan. Jadilah ia sendirian di lantai 8 tempatnya bekerja.
Kriett…
Suara pintu terbuka terdengar dari salah satu ruangan di lantai 8. Sakura mendelik kaget. Bulu romanya berdiri tanpa dikomando. Sakura yakin ia sudah sendirian di lantai ini. Semua karyawan lain sudah pulang dari setengah jam yang lalu.
'Itu suara angin atau hantu ya?' Sakura membatin. Sakura yang ketakutan buru-buru mengambil tasnya dan berjalan ke arah elevator. Karena suasana kantor yang sudah agak gelap dan Sakura sedang panik, tanpa sengaja ia tersandung mesin fotokopi dan jatuh terjerembab.
"Aww…" Sakura terduduk dan meraba dengkulnya yang sedikit nyeri.
Sakura merasa ketegangan dua kali lipat dari sebelumnya. Suasana lantai 8 ini jadi jauh lebih seram. Suasananya mirip di kamar mayat. Sepi, dingin, dan tak berpenghuni.
Drap.. Drap..
Sakura mendengar suara langkah kaki. Semakin lama semakin cepat dan mengarah padanya. Sakura kaku. Selain kakinya yang memang terasa sedikit nyeri, ketakutan yang menyelimutinya membuat dirinya hanya bisa berdoa dalam hati dan pasrah.
"AAAAA…" Sakura teriak sekencang-kencangnya saat sesuatu menyentuh bahunya. Padahal ia sendiri tidak yakin akan ada yang mendengar teriakannya.
"Am-ampuun… Aku tidak mengganggumu, jadi jangan ganggau aku. Pergi ya kau, hantu. Tuhan, tolong aku. Aku hanya makhluk tak berdaya di hadapanmu. Bawa segera hantu ini kembali ke nerakamu. Ampuni aku." Sakura mulai meracau tidak jelas dengan mata yang masih terpejam.
"Hahaha… Hahaha… Hahaha…"
"Kok hantu tertawa sih?" tanya Sakura pelan, matanya sudah mulai terbuka. Ketakutannya bukan lagi ketakutan pada hantu, tetapi mungkin saja dia saat ini bersama perampok yang ingin merampok perusahaan. Sakura masih belum berani menolehkan wajahnya menghadap 'orang' itu.
"Ini aku, Sakura-chan," ujar Syaoran setelah berhasil menghentikan tawanya. Sakura membalikkan badannya dan melihat Syaoran sedang berjongkok di belakangnya.
"Kamu…" geram Sakura. Sakura memukul-mukul Syaoran dengan tasnya. "Kamu ini mau mempermainkan aku ya? Kamu nggak tau apa aku begitu ketakutan? Aku pikir kamu itu hantu atau rampok atau semacamnya. Kamu membuat jantungku hampir berhenti tau nggak!" Sakura masih menghujani Syaoran dengan pukulan tasnya.
"Aku memang ingin pulang dan kulihat kamu terjatuh. Aku hanya bermaksud membantumu, bukan menakutimu," Syaoran menjelaskan sambil berusaha menghentikan serangan Sakura.
Sakura menghentikan serangannya dan memandangi wajah Syaoran untuk mencari kebenaran di sana.
"Ayo, sini aku bantu," Syaoran mengulurkan tangannya untuk Sakura. Sakura teringat kejadian beberapa tahun yang lalu saat ia baru saja membakar rumah-rumahan miliknya. Mengingatnya membuat wajah Sakura memerah. Untung saja penerangan sudah agak redup, minimal bisa menyembunyikan wajah kemerahan Sakura.
Sakura menepis tangan Syaoran. "Aku bisa sendiri." Sakura lalu bangun dengan usahanya sendiri dan menekan tombol elevator.
-Syaoran POV-
Lagi. Ketika kamu kesakitan, kamu menolakku. Aku hanya ingin mengurangi rasa sakitmu. Apa aku begitu menakutkan untukmu?
"Nggak ada yang sakit?" tanyaku saat aku dan Sakura berada di dalam elevator.
Sakura hanya menggeleng, enggan melihatku. Dan kami hanya saling terdiam saat berada dalam jarak sedekat ini.
"Kamu mau ngapain lagi sih?" tanya Sakura padaku. Sekarang kami sudah ada di halte di dekat kantor.
"Pulang," jawabku singkat.
"Kamu nggak perlu naik bis dan menunggu di sini kan?" Sakura bertanya padaku. Heran? Sinis? Curiga? Entah, sulit untukku membaca apa arti dari kerutan di dahinya yang tertutup anak poni.
"Aku meninggalkan mobilku di dekat rumah kamu tadi pagi. Aku cuma mau mengambilnya."
"Ya kamu kan nggak harus naik bis. Naik taksi kek, naik ojek, atau apalah kendaraan yang lain," Sakura mengeluarkan jurus ngomel-ngomelnya yang justru membuatku gemas.
"Bukan hak kamu untuk ngelarang aku mau naik kendaraan apa, Nona," jawabku tetap 'keukeuh'.
Sakura tidak lagi membalas ucapanku. Ia hanya sedikit menggerutu dan tidak bisa kudengar. Saat itulah bis yang ditunggu datang. Refleks aku menarik tangan Sakura untuk masuk ke dalam bis.
Sakura mengibaskan tanganku saat kami sudah berada di dalam bis. Ia baru saja akan menekan tombol tujuan, aku menahan tangannya dan menunjuk ke arah dadaku sendiri sebagai tanda aku yang akan mengurusnya.
Sakura membuka tasnya dan baru akan mengeluarkan uangnya. Lagi-lagi aku menahan tangannya. Kuberi Sakura sedikit pelototan dan memberinya aba-aba, aku yang akan membayarnya.
Sakura tidak menanggapinya lalu memilih mencari tempat duduk karena kebetulan bis ini agak lengang. Sakura memilih tempat duduk yang sebelahnya sudah terisi penumpang lain. Padahal bangku di bagian belakang masih banyak yang kosong. Daripada duduk tapi berjauhan dengannya, aku memilih berdiri saja.
-Syaoran POV end-
Saepanjang perjalanan Sakura hanya melihat ke arah jalanan melalui jendela. Kenyamanannya justru terganggu saat penumpang cowok yang duduk di sebelahnya tertidur. Kepala cowok itu perlahan mulai mendekat ke pundak Sakura. Sakura menggeser duduknya merapat ke dinding bis.
Nyaris.
Syaoran segera menjauhkan kepala cowok itu dengan sedikit keras. Gerakannya cepat dan posesif. Ia tidak mengizinkan kepala cowok itu terkulai di pundak Sakura. Sadar kepalanya terhempas, cowok itu terbangun. Mengucek matanya dan menoleh ke arah Syaoran. Syaoran bersiul seakan tidak terjadi apa-apa. Sakura diam-diam menahan senyumnya.
Bukannya semakin sadar, cowok itu malah tertidur lagi. Dan seperti tadi, kepalanya lama-lama mendekat ke pundak Sakura. Sekali lagi Syaoran menjauhkannya, kali ini lebih kejam dari sebelumnya. Cowok itu terbangun dan menoleh ke arah Syaoran. Ia yakin pelakunya adalah Syaoran. Kali ini Syaoran tidak bersiul, ia malah melototi cowok itu dan mengisyaratkan bahwa yang di sebelahnya adalah tuan putri yang tidak boleh disentuh siapapun.
Cowok itu melihat Sakura sekilas, lalu menggaruk-garuk rambutnya yang ikal. Sadar keberadaannya di sini terganggu dan mengganggu, ia bangkit dan mencari tempat duduk yang lain untuk melanjutkan tidurnya yang tertunda. Syaoran tersenyum puas dan buru-buru menempati bangku kosong di sebelah Sakura.
Sakura hanya menggeleng pelan dan membuang muka ke jendela, ada yang berusaha disembunyikannya, yaitu senyumnya sendiri. Ia senang diperlakukan seperti itu, ia merasa dijaga dan dimiliki. Mungkin Touya juga akan melakukan hal yang sama jika… Ah, ya, jika saja Touya dan Sakura tidak sedang dalam perang-dingin.
"Tuh, mobil kamu," ujar Sakura saat dirinya dan Syaoran tiba di gerbang perumahan seperti saat pagi tadi ia bertemu Syaoran.
Syaoran mengangkat bahunya. "Nanti aku ambil. Aku mau nganterin kamu dulu sampai depan pagar."
"Nggak usah. Aku nggak bakalan nyasar, lagian di sini tuh aman," tolak Sakura.
Seperti bosan dengan penolakan Sakura, Syaoran bersikeras melanjutkan keinginannya. "Gimana kalo ada hantu? Kamu takut kan sama hantu? Coba liat, gelap, sepi dan… Hiiii…" Syaoran menakut-nakuti Sakura. Sakura tergugah, benar kata Syaoran. Kalau malam, memang perumahan ini lebih mirip pemakaman.
"Ehem.." Sakura berdeham untuk menjaga harga dirinya agar tidak terlihat seperti seorang yang penakut. Sakura tidak menolak, tapi juga tidak langsung mengizinkan Syaoran mengantarnya. Ia hanya berjalan dan ia tahu Syaoran mengikutinya, mengambil jarak beberapa langkah di belakang Sakura.
Cukup jauh berjalan, hanya tinggal satu tikungan lagi dekat rumah Sakura. Saat itulah Sakura sadar ia tidak mendengar lagi langkah Syaoran. Sejak kapan?
'Apa sejak Li-kun berpikir lebih baik membiarkanku pulang sendiri? Atau ia diculik ninja yang nggak keliatan? A-atau… ada hantu yang menyembunyikannya?'
Sakura yang sudah ketakutan memberanikan diri untuk membalikkan badannya perlahan. Kosong. Ke mana Syaoran?
TBC
Kak Tamu: makasih ya udah mau baca. Aku udah update nih. Semoga chap berikutnya cepet selesai ya. :-)
