Chain of Blood
Chapter 4: Break The Chain (Way To The Aftermath)
Disclaimer: Bleach © Tite Kubo. Capek dah harus nulis ginian terus!
WAAARRGH! FINAL CHAPTER IZ OUT! GOMENASAI MINNA-SAN, UPDATE NGARET LAGI! Gara-gara sempet lemot, DarkTigrex baru bisa update sekarang! GOMENASAI! Yap, fanfic pertama sekaligus multichapter abal-abal DarkTigrex akan segera selesai! Bener-bener ga kerasa banyak waktu tersita (cielah bahasanya...) buat fanfic abal-abal ini dan bentar lagi bakal selesai. Ngomong-ngomong, actionnya kurang kerasa ya? DarkTigrex bener-bener minta maaf soal ini, DarkTigrex ga jago buat action pake pistol. Karena ini adalah ending dari sebuah kisah yang epik *dilempar kaleng rombeng*, DarkTigrex berharap chapter akan menutup fanfic ini dengan keren! Please read and review untuk menutup kisah ini dengan makin keren!
So, enjoy the (last) chapter guys!XD
WARNING!: TYPO(S) lagi, character death!
XXXXX
Summary chapter sebelumnya: Ulquiorra menyerang mendadak dari dalam, jauh dari perkiraan Ichigo dan Rukia! Untungnya mereka masih sempat melindungi Orihime. Di tengah tembakan pistol yang bersahut-sahutan, muncul seseorang yang tak terduga...
"GRIMMJOW!"
XXXXX
Ichigo dan Rukia masih terpaku menatap sosok yang tak diundang itu. Ulquiorra hanya diam saja. Orihime masih membeku setelah semua kejadian yang barusan dilihatnya.
"Cih, ternyata kalian juga berada disini ya?" dengus Grimmjow. "Merepotkan saja. Padahal aku hanya butuh membunuh gadis itu..." Belum menyelesaikan kallimatnya, dia menghilang daripandangan mereka. Tiba-tiba saja, dia sudah berada disamping Ichigo dengan moncong pistol mengarah ke kepala sang detektif.
"...tapi jika kalian menganggu, berarti aku juga harus membunuh kalian!"
Tepat sebelum pistolnya memuntahkan peluru,Ichigo langsung menghindar dan melancarkan tendangan rendah ke kaki Grimmjow. Dengan cepat Grimmjow melompat mundur dan menembak lagi.
"Rukia, terus lindungi Inoue! Biar aku yang urus Grimmjow!" seru Ichigo sambil menghindari tembakan Grimmjow.
"Aku tahu!" jawab Rukia tanpa basa-basi.
Ulquiorra yang dari tadi diam saja mulai bergerak. Dia mulai menembaki Orihime yang membeku di tempatnya. Entah karena refleks atau insting untuk menjauhi kematian, Orihime bergerak secepat kilat dari tempatnya. Rukia menembak cepat untuk menghalau Ulquiorra.
Masih menghalau Ulquiorra, Rukia memperingatkan Orihime, "berlindunglah di tempat yang aman!" Peringatannya dibalas dengan anggukan kecil Orihime, yang langsung beringsut meninggalkan tempat itu.
Ulquiorra menembak lagi dari sudut ruangan. Rukia berlindung di bawah meja sambil menyerang balik. Secepat kilat Ulquiorra berlindung di balik tembok dan melancarkan serangan balik.
"Aku hanya buth membunuh gadis itu. Tapi jika menghalangi, kau juga akan mati."
Rukia berguling dari bawah meja, menghindar dari logam panas yang melesat kearahnya. "Coba saja kalau bisa!" Kali ia hampir melubangi kepala Ulquiorra dengan peluru, memaksa sang pembunuh unntuk keluar dari persembunyiannya. Dengan cepat ia mengambil alih, menyudutkan Ulquiorra dengan satu tembakan mendadak. Mengetahui pistolnya akan kosong, Rukia memasukkan peluru dengan cepat dan mulai menghadang Ulquiorra lagi.
Di saat yang sama, Ichigo menghindari tembakan demi tembakan dari Grimmjow yang lihai. Menahan rasa sakit yang berdenyut-denyut di tangan kirinya, Ichigo merapat ke dinding dan mulai menembak balik. Tanpa susah payah, Grimmjow menghindari tembakan Ichigo dan mulai membidiknya. Namun posisi Ichigo menyulitkannya unutuk membidik dengan tepat.
"Cih, apa kemampuanmu sudah melemah?" cibirnya kesal. "Ayo keluar dan hadapi aku, Kurosaki!"
Tanpa, ba-bi-bu, Ichigo melesat keluar dan meyerang mendadak. Grimmjow tak sempat bereaksi, namun untungnya tembakan itu meleset beberapa senti atau timah panas itu akan menembus kakinya.
"Wah, aku baru tahu ternyata kau banyak omong juga, Grimmjow..." seringai Ichigo penuh kemenangan.
Terbakar oleh rasa amarah, Grimmjow mulai menembak membabi buta. Walaupun tak terarah, Ichigo masih kesusahan menghindari serangan Grimmjow yang teramat ahli dalam menggunakn senjata api. Kesempatan sempit menghampirinya, ia menemukan celah sempit untuk menyerang dan menembak Grimmjow dengan tepat. Pistol terpental dari genggamannya. Dengan in, dia takkan bisa menyerang! Batin Ichigo. Yang mengejutkan, Grimmjow malah menerjang maju dan menendang Ichigo tepat di perutnya.
"Terimakasih telah membantuku meghemat peluru!" desisnya senang. "aku memang harus menyisakan peluru untuk membunuh gadis itu!" Ia menghadiahi Ichigo sebuah pukulan keras di wajahnya, membuatnya terhuyung-huyung mundur. Dengan pandangan berkunang-kunang, Ia berusaha mengelak dari hujan pukulan Grimmjow. Menghindari tendangan tinggi Grimmjow, Ichigo melayangkan tinjunya dengan cepat ke dagu Grimmjow. Pukulannya berhasil membuat Grimmjow terlempar dengan keras. Kesempatan inni tentu tak disia-siakan Ichigo. Dia langsung menjauh darinya, mencari posisi strategis untuk menyerang balik.
"Mengapa kau sebegitunya ingin membunuh Inoue, hah?" teriak Ichigo, mulai menembaki Grimmjow yang merunduk ditengah di tengah ruangan, menghindari serangan Ichigo.
"Kau ingin tahu?" Grimmjow balik bertanya. Ichigo mengerutkan keningnya Lebih dalam. Reaksinya membuat Grimmjow tertawa. "Aku menemukan kalu membunuh teman-temanmu satu persatu..." dia berguling mengambil pistolnya yang tergeletak di lantai, lalu mendadak menembak Ichigo. "...akan lebih membuatmu menderita daripada langsung membunuhmu!"
Perkataan Grimmjow dan tembakannya yang hampir mengenai kepala Ichigo menjelaskan semuanya. Ternyata sejak awal dia hanya mengincarku! Ichigo tentu saja tak terima nyawa teman-temannya dipermainkan hanya untuk mengincar dirinya! "Grimmjow, kau akan membayar semua ini!"
Rukia terus mendesak Ulquiorra, memaksanya untuk terus menghindari timah-timah panas yang berterbangan kearahnya. Ia terus berlari sambil merunduk, sesekali membalas tembakan Rukia. Kalau begini terus, aku takkan menemukan gadis itu, pikir Ulquiorra. Secara spontan, Ulquiorra membidik kepala Rukia. Dalam sepersekian detik, sesaat perhatian Rukia teralihkan menuju peluru yang melesat kearahnya. Dengan sigap ia mengelak kesamping. Sesaat sebelum ia menembak, dia menyadari bahwa Ulquiorra telah lenyap dari pandangannya.
"Sial! kemana dia pergi?" rutuk Rukia.
Ternyata Ulquiorra bersembunyi dibalik meja di ruangan sebelah. Ia mencoba mengatur napasnya yang memburu sambil menyusun strategi. Kemudian dia memeriksa peluru dalam pistolnya yang mulai menipis. Ulquiorra menggeram pelan. Dia memang tak membawa banyak peluru karena dia tak menyangka akan begini jadinya. Sial! Aku harus cepat menemukan dan membunuhnya! Tapi...apa benar aku ingin membunuhnya?Kenapa aku harus membunuhnya? Tanpa sadar, genggaman melemah. Badannya terasa mati. Hatinya takkan pernah tega untuk melukai Orihime, apalagi membunuhnya. Bagaimana bisa dia, Ulquiorra Schiffer, pembunuh tanpa perasaan, hatinya dapat mencair karena seorang gadis?
"Sial, sekarang bukan saatnya untuk ragu!" desisnya pelan. Dia kembali memperkuat genggaman pistolnya. Sekuat tenaga dia memaksa tubuhnya untuk bergerak, mengabaikan hatinya yang menjerit-jerit untuk berhenti. Akutak tahu dimana dia bersembunyi, tapi perasaanku mengatakan bahwa dia berada di dekat sini... Pelan-pelan dia mulai melangkah sambil merunduk menjelajahi ruangan itu. Samar-samar ia mendengar suara, seperti sesuatu yang gemetaran. Ulquiorra mendekati sumber suara itu. Terlihat sebuah bayangan gemetar penuh ketakutan. Dia langsung tahu siapa itu.
Bayangan itu adalah Orihime Inoue.
Itu adalah kesempatan yang sempurna untuk menghabisi nyawanya. Namun, yang terjadi adalah Ulquiorra terpaku di tempatnya, tangannya yang kaku menggenggam erat pistolnya tanpa bergerak sesenti pun. Tidak seperti sebelumnya, dia benar-benar tak bisa mengontrol tubuhnya. Badannya sudah tak merespons semua perintah yang diberikan otaknya. Aku benar-benar tak bisa melakukannya... Kemudian, mataya yang dingin bertemu dengan sesuatu yang membuat seakan jantungnya berhenti.
Bulu kuduk Orihime yang sedari tadi berdiri ketakutan bertambah tegang, entah kenapa bertambah tegang seiring dengan berjalannya waktu. Aku dapat merasakannya...Hawa membunuh yang sangat dingin... Ia memeluk lututnya semakin erat. Ini bukan Ulquiorra...Tiba-tiba, perasaan dingin yang menusuk tulang terasa sangat dekat dengannya. Dengan ragu, ia memalingkan wajahnya dan matanya menatap sesuatu yang membuat darahnya seolah membeku.
Ketika mata emerald dingin sang pembunuh bertemu dengan hangatnya iris gelap sang gadis.
Namun perasaan itu langsung ditepisnya tanpa mempedulikan hatinya yang terluka. Spontan Ulquiorra menembak Orihime. Tembakannya jauh meleset menumbuk lantai.
Sebagian dirinya bersyukur tembakannya meleset, dimana bagian lainnya mengutuk betapa bodohnya dia bahkan tembakannya meleset di saat seperti itu.
Tak disangka, tembakan dari seberang ruangan tepat mengenai kaki kanan Ulquiorra. Menahan rasa sakit dari lukanya, ia berusaha mengelak sebisa mungkin dari kserangan sang inspektur.
"Inoue! Kau tak terluka?" seru Rukia sambil menghampiri Orihime yang masih membeku di tempatnya. Tanpa menunggu pertanyaannya terjawab, Rukia kembali berhadapan dengan sang pembunuh. "Kakimu sudah tertembak. Lebih baik kau menyerah atau aku akan menggunakan cara kasar."
Ulquiorra tak menggerakkan alisnya sama sekali. "Seperti kau bisa melakukannya saja."
Mungkin menurut Rukia semua akan selesai begitu Ulquiorra dibekuk, tapi ia melupakan satu hal yang penting.
Grimmjow juga mengincar Orihime.
Dan sialnya, dia dan Ichigo ternyata hanya berjarak beberapa meter dari mereka.
Melihat kesempatan emas, senyum licik Grimmjow langsung terkembang. "Kelihatannya aku tak perlu bermain denganmu lagi."
"Apa maksudmu?" jawab Ichigo tegang dan bingung.
"Karena..." Grimmjow memutar badannya, "...gadis itu akan mati! Kau memang benar-benar payah Ulquiorra!" Tembakan super cepat melesat tepat menuju Orihime. Saking cepatnya, Ichigo dan Rukia tak mampu mengikuti gerkan Grimmjow. Mereka hanya bisa menunggu peluru panas itu menembus Orihime...
...tapi sesosok bayangan pucat menghalangi laju peluru itu...
Tembakan itu mengenai Ulquiorra tepat di jantungnya.
"Ulquiorra!" Orihime menangkap tubuh Ulquiorra yang lemas. Air matanya meleleh menuruni pipinya.
"Ahh...sudah kuduga, cepat atau lambat dia juga akan mati..." cibir Grimmjow. "Tenang saja gadis kecil, kau juga akan menyusulnya!"
Grimmjow pun menarik pelatuk pistolnya sekali lagi. Orihime mempererat dekapannya, mencoba melindungi Ulquiorra. Namun, pistolnya tak mengeluarkan ledakan bubuk mesiu di ujungnya. Terkejut, Grimmjow menarik pelatuknya lagi, kali ini lebih keras. Tak terjadi apa-apa.
"Sialan! Tidak mungkin pelurunya habis!" raung Grimmjow melepaskan kemarahannya.
Ini kesempatan bagus! Tanpa pikir panjang Ichigo melepaskan tembakan ke arah kaki Grimmjow. Tak sempat menghindar, Grimmjow hanya bisa merasakan logam panas menembus kakinya. Ia jatuh berlutut di lantai mencoba menyeimbangkan badannya sebisa mungkin. "Brengsek..."
"Rukia! Cepat bekuk Grimmjow!" teriak Ichigo. Dengan cepat Rukia memlintir tangan Grimmjow dan memborgolnya. "Kau akan dihukum berat atas semua ini..." bisik Rukia sambil memborgol pemuda berambut biru itu. Grimmjow hanya mampu mendesis.
Napas Ulquiorra semakin sesak. Ia tahu waktunya sudahbtak lama lagi. Dengan sisa tenaganyanya, ia mengangkat tangannya. "Inoue..."
Orihime dengan lembut menggenggam tangan pucat Ulquiorra. "Jangan mati, Ulquiorra..." bisik Orihime lirih. Air matanya yang bening bagaikan kristal jatuh mengenai wajah pucat bagaikan salju Ulquiorra. Mengapa disaat dia menemukan sedikit kehangatan di dalam hidupnya, kehangatan itu harus pergi?
"...maafkan aku..." bisik Ulquiorra. Untuk pertama dan terakhir dalam hidupnya, hatinya yang dingin itu mencair sepenuhnya. Ia tersenyum sekaligus menangis, hal yang tak pernah terjadi dalam hidupnya. Mata emeraldnya semakin redup. Tangan pucatnya lemas seiring dengan tertutupnya mata emerald itu untuk selamanya.
Ichigo dan Rukia hanya terdiam. Hujan di luar semakin deras, mengiringi hari gelap yang penuh dengan kesedihan...
"ULQUIORRA...!"
XXXXX
Keesokan harinya, pemakaman Ulquiorra pun dilaksanakan. Tak banyak yang datang menghadiri pemakamannya. Menurut sebagian besar orang, dia hanyalah pembunuh berdarah dingin yang pantas mati. Kematiannya hanya dianggap angin lalu. Namun hal itu tak sama untuk Orihime. Baginya, Ulquiorra adalah orang yang sangat berharga untuknya.
Orihime meletakkan bunga daisy putih di depan nisan makam Ulquiorra. Sebuah tanda selamat jalannya yang terakhir kali untukknya. Walaupuun sebentar, ia merasa bahagia dapat bertemu Ulquiorra. "Selamat jalan Ulquiorra..."
Ichigo dan Rukia menghampiri Orihime yang masih terdiam memandang batu nisan. Ichigo mulai memecah keheningan,"Inoue, kami turut berduka cita atas kematian Ulquiorra ..." Ia berhenti sebentar. "Aku tahu kau merasa sangat kehilangannya..."
Orihime tersenyum tipis. "Terimakasih Kurosaki-kun, Kuchiki-san..."
Terimakasih Ulquiorra...kau telah menemaniku walaupun sangat singkat. Aku sangat bersyukur dapat bertemu denganmu...Air mata mulai turun menuruni pipinya. Selamat jalan, Ulquiorra...
Ichigo dan Rukia meninggalkan pemekaman dengan tenang.
"Hei Rukia..."
"Hmm?"
"Apa tidak semua pembunuh itu benar-benar jahat dan kejam?"
Rukia mengerutkan keningnya tak mengerti. "Apa maksudmu..?"
"Ulquiorra sebetulnya tak mau membunuh Inoue kan?" desah Ichigo. "Walaupun ia terkenal sebagai pembunuh berdarah dingin, dia tetap tidak bisa membuang seluruh perasaannya..."
"Manusia takkan pernah bisa membuang perasaannya," jawab Rukia lirih,"itulah yang tetap menjaga kita sebagai manusia."
"Hmm, kau benar..."
Tiba-tiba, ponsel Rukia berbunyi. "Halo, Inspektur Rukia Kuchiki. Ada apa? Kasus lagi? " Lawan bicaranya berbicara panjang lebar. "Oh, baiklah. Aku akan segera kesana."
"Ada apa ?" tanya Ichigo penasaran.
Rukia membuka pintu mobilnya. "Ada perampokan bank. Kasus kecil sih, tapi apa kamu tertarik?"
Ichigo tersenyum lebar. "Boleh juga. Lagipula aku juga sedang butuh hiburan!"
Tanpa basa-basi, mereka langsung meninggalkan tempat itu.
-THE END-
Sekali lagi puji syukur ke hadirat Allah SWT, yang terus berbaik hati memperbolehkan DarkTigrex nyelesain fanfict perdana DarkTigrex!*jungkir balik nungging-nugging ga jelas* Ya, karena ini yang pertama, jelas ini cuma uji coba dan main-main, jadi maklumlah kalo aneh banget dan...yang pasti jelek lah... DarkTigrex minta maaf karena update selalu ngaret dan ternyata malah makin jelek...:'((
Oke, sekarang DarkTigrex berterimakasih kepada author-author dan anonymous yang sudi meninggalkan pesan kesan kritik dan saran buat DarkTigrex!*nangis terharu biru* Maaf ga DarkTigrex bales reviewnya, soalnya DarkTigrex baru tau cara ngereply review 3 bulan setelah fict ini dipublish, jadi telat banget deh...
Jadi, special thanks to:
-Nana-chan Kuchisaki
-Aizawa Ayumu Oz Vessalius
-Nana-chan Kurochiki
-Reiji Mitsurugi- makasih banyak senpai sampai mau repot-repot nge-alert fict ini! DarkTigrex baru tau kalo senpai suka banget ama cerita detektif, jadi DarkTigrex bener-bner minta maaf kalo fict nin mengecewakan senpai!
-Ayano646cweety-Senpai bahkan mau repot-repot jadi constant reviewer! Bahkan sampe ngefave dan nge-alert fict ini dan DarkTigrex! ARIGATO GOZAIMASU!*sujud di kaki senpai*
-Ruki Yagami
-Ryosuke Michi626
-Silent Reader (anonymous)
-Kurosaki Miyuki- thanks a lot udah ngefave fict ini!:D
DarkTigrex bener-bener berterimakasih kepada sobat-sobat yang mau meluangkan waktunya untuk membaca fict ini, apalagi yang sudi mereview! DarkTigrex minta maaf (lagi) kalau terlalu banyak kekurangan, TYPO(S) yang mengganggu dan cerita yang dibawah harapan. Seperti kata pepatah, tak ada gading yang tak retak, manusia tak ada yang sempurna. Tapi DarkTigrex akan selau berusaha untuk menjadi lebih baik!
Last but not the least, silahkan mereview untuk menutup fict ini...
